• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belanda dan Perkebunan Kelapa Sawit Padang Halaban

BAB II. SEJARAH PERKEBUNAN PADANG HALABAN

2.2. Sejarah Perkebunan Padang Halaban

2.2.2. Belanda dan Perkebunan Kelapa Sawit Padang Halaban

2.2.2. Belanda dan Perkebunan Kelapa Sawit Padang Halaban

42

Dalam perkembangan selanjutnya, Pemerintah Kolonial Belanda secara yuridis formal menetapkan Gouverment Bisluit Nomor 2 Tahun 1867 tertanggal 30 September 1867 tentang pembentukan Afdeling Asahan yang meliputi 3 (tiga) Onder Afdeling

. Tetapi yang jelas kedatangan Belanda ke Labuhanbatu memang sangat erat hubungannya dengan asal mula keberadaan perkebunan kelapa sawit di daerah ini tidak terkecuali Perkebunan Padang Halaban.

43

1. Onder Afdeling Batu Bara dengan Ibukota Labuhan Ruku. yaitu: 41 Agustus 2011) 43 http://www.depdagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/12/name/sumatera

2. Onder Afdeling Asahan dengan Ibu Kota Tanjung Balai.

3. Onder Afdeling Labuhanbatu dengan Ibukota Kampung Labuhanbatu. Kemudian pada 1 Maret 1887 Afdeling Asahan disatukan ke dalam Karesidenan Sumatera Timur oleh Pemerintah Hindia Belanda44. Tentu apa yang dilakukan Belanda ini bukan tanpa tujuan dan kenyataannya pada saat terjadi peningkatan permintaan minyak nabati akibat dari terjadinya Revolusi Industri pada abad ke-19, kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit oleh pemerintah Hindia Belanda dan tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt45

Pihak Belanda kemudian mendatangkan tenaga kerja dari pulau Jawa yang dipekerjakan sebagai kuli kontrak perkebunan. Pada saat dibukanya lahan-lahan hutan menjadi lahan perkebunan merupakan awal masuknya orang Jawa ke

. Lahan-lahan hutan dibuka Belanda menjadi perkebunan. Seiring dengan perkembangan zaman dan makin meluasnya wilayah kekuasaan pihak Belanda maka mereka terus memperluas lahan perkebunan dan tanaman komoditinya di Karesidenan Sumatera Timur termasuklah wilayah Labuhanbatu yang sekarang telah dimekarkan menjadi Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

44

45

Perkebunan Padang Halaban46 dan sekitarnya yang saat ini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara. Menurut masyarakat Padang Halaban kuli kontrak adalah buruh lepas yang dipekerjakan pada lahan pertanian yang telah diatur sedemikian rupa terutama terhadap masalah kerja yang berakhir pada masa tertentu yang telah disepakati. Masih menurut mereka, Belanda banyak mendatangkan tenaga kerja dari wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang kemudian disebar di beberapa wilayah kawasan Sumatera Utara termasuk Labuhanbatu. Migrasi ke Sumatera Timur ini dilakukan secara besar-besaran yang telah diatur dan direncanakan oleh pihak Kolonial Belanda. Migrasi besar-besaran ini dilakukan agar daerah-daerah perkebunan yang telah dibuat pihak kolonial Belanda ada yang mengerjakan karena mereka beranggapan orang-orang Karo dan Melayu malas serta melawan sehingga tidak dapat dijadikan kuli47. Kuli kontrak yang didatangkan dari Pulau Jawa sebenarnya didatangkan dengan masa kerja yang telah ditetapkan namun, yang terjadi adalah malah orang-orang dari Pulau Jawa inilah yang menjadi mayoritas penduduk di Sumatera Utara sampai saat ini48

Terjadinya arus migrasi penduduk yang deras dari pulau Jawa untuk menjadi kuli kontrak di Sumatera berlangsung menjelang terjadinya depresi

.

46

Nama Padang Halaban sendiri memang sudah ada sejak Belanda mendirikan perkebunan kelapa sawit di daerah itu. Namun, sejauh yang saya dapat di lapangan tidak ada yang tahu pasti mengenai asal-usul dari nama Padang Halaban apakah nama itu dari pihak Belanda atau tidak.

47

48

Di tahun 2000 penduduk Jawa mencapai 33,03 % di Sumatera Utara dan merupakan suku mayoritas di Sumatera Utara

ekonomi dunia49. Para penduduk miskin di Jawa yang terutama berada di desa-desa terpencil, dibawa ke Sumatera Timur dan dijadikan pekerja di sejumlah perkebunan di wilayah tersebut. Selain itu pemerintah kolonial Belanda mengubah kebijakan kolonisasi, dengan menciptakan koloni penduduk asal Jawa di perkebunan-perkebunan yang telah mereka buat. Kebijakan kolonisasi penduduk dari pulau Jawa ke luar Jawa dilatarbelakangi oleh50

1. Melaksanakan salah satu program politik etis :

51

2. Pemilikan tanah yang makin sempit dipulau Jawa akibat pertambahan penduduk yang cepat telah menyebabkan taraf hidup masyarakat di pulau Jawa semakin menurun.

, yaitu emigrasi untuk mengurangi jumlah penduduk pulau Jawa dan memperbaiki taraf kehidupan yang masih rendah.

3. Adanya kebutuhan pemerintah kolonial Belanda dan perusahaan swasta akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan dan pertambangan di luar pulau Jawa. Politik etis yang mulai diterapkan pada tahun 1900 bertujuan mensejahterakan masyarakat petani yang telah dieksploitasi selama dilaksanakannya culture stelsel (sistem tanam paksa).

Namun, tetap saja terjadi penyimpangan-penyimpangan di dalam pelaksanaan politik etis ini yaitu52

49 : 50 51

Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan kritik terhadap politi

1. Irigasi

Pengairan hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk perkebunan swasta Belanda. Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi.

2. Edukasi

Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan murah. Pendidikan yang dibuka untuk seluruh rakyat, hanya diperuntukkan kepada anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang mampu. Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di sekolah kelas I untuk anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang berharta, dan di sekolah kelas II kepada anak-anak pribumi dan pada umumnya.

3. Migrasi

Migrasi ke daerah luar Jawa hanya ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini karena adanya permintaan yang besar akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatera Utara, khususnya di Deli, Suriname, dan lain-lain. Mereka dijadikan kuli kontrak. Migrasi ke Lampung mempunyai tujuan menetap. Karena migrasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja, maka tidak jarang banyak yang melarikan diri. Untuk mencegah agar pekerja tidak melarikan diri, pemerintah Belanda mengeluarkan Poenale Sanctie, yaitu peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri

akan dicari dan ditangkap polisi, kemudian dikembalikan kepada mandor/pengawasnya.

Kebjakan-kebijakan dalam politik etis yang disusun oleh van Deventer pada dasarnya adalah baik namun, dalam penerapannya tetap hanya berpihak pada kepentingan Belanda pada waktu itu. Dapat kita lihat sendiri pada uraian penyimpangan dalam politik etis di atas yang hanya bertujuan untuk memenuhi kepentingan Belanda semata.

Istilah “koeli” sendiri diperkirakan berasal dari bahasa Inggris coolie yang mengadopsi kata kuli dari bahsa Tamil yang artinya upahan untuk pekerjaan kasar. Perkelahian pemberontakan sampai dengan pembunuhan, merupakan cerita sehari-hari di perkebunan. Jadi kuli kontrak adalah sebutan bagi mereka yang hidup sengsara di Jawa, kemudian mengikatkan diri pada perjanjian kerja yang akhirnya tetap membuat mereka sengsara di negeri seberang, yaitu Sumatera.

Dalam perkembangan selanjutnya di masa pendudukan Belanda, perkebunan kelapa sawit memang mengalami perkembangan yang cukup pesat. Indonesia menggeser dominasi ekspor negara Afrika pada waktu itu53

53

. Namun, kemajuan pesat yang dialami oleh Indonesia tidak diikuti dengan peningkatan perekonomian nasional. Hasil perolehan ekspor minyak sawit hanya meningkatkan perekonomian negara asing termasuk Belanda. Berhasilnya Hindia Belanda menjadi pemasok utama minyak sawit dunia inilah yang menurut saya membuat para pengusaha asing seperti dari Inggris dan Belgia menanamkan modalnya di perkebunan-perkebunan kelapa sawit yang ada di Sumatera Timur.

Pembukaan Onderneming (perkebunan besar) yang dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan asing (orang-orang Eropa) baik Hindia Belanda maupun perusahaan asing lainnya dilindungi oleh Pemenritah Hindia Belanda. Perkembangan yang pesat dalam pembangunan perkebunan ini terjadi karena pada masa itu Belanda sudah mulai memasuki era imperialisme modern dengan memberlakukan Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) tahun 187054

Di Padang Halaban sendiri menurut keterangan yang diperoleh dari masyarakat setempat, terdapat beberapa perusahaan perkebunan. Pada saat itu luas Perkebunan Padang Halaban yang telah dibentuk Belanda adalah sekitar 8000 Ha

bagi seluruh wilayah Hindia Belanda, yang menciptakan iklim kemantapan berusaha bagi para pengusaha Belanda dan pengusaha-pengusaha dari negara Eropa lainnya pada waktu itu.

55

terdiri dari 3 maskape yaitu NV. Sumcama (dikuasai sepenuhnya oleh Belanda), Gatri (Belanda bekerja sama dengan pengusaha asal Inggris), dan Brussel56 (Belanda bekerja sama dengan pengusaha asal Belgia). Tiga maskape

perkebunan ini57

54

UU ini memperbolehkan perusahaan-perusahaan perkebunan swasta menyewa lahan-lahan yang luas dengan jangka waktu paling lama 75 tahun, untuk ditanami

terdiri dari enam divisi perkebunan dan satu divisi pabrik. Di setiap divisi didirikan pondok untuk tempat tinggal para karyawan perkebunan dan para kuli kontrak yang didatangkan dari Jawa. Yang mengisi jabatan-jabatan

bentuk sewa jangka pende September 2011)

55

Data luas 8000 Ha ini diperoleh dari bekas mandor ukur PT. Plantagen AG, yaitu Kasiman (73 tahun).

56

Brussel akhirnya dijadikan nama salah satu desa di perkampungan yang dibuat oleh masyarakat pada tahun 1945 sebelum penggusuran.

57

penting di perkebunan pada waktu itu semuanya adalah orang Belanda sementara kuli kontrak yang didatangkan dari Jawa sebagian ada yang dipercaya menjadi

mandor. Perkebunan kelapa sawit ini terus diusahai oleh perusahaan-perusahaan tersebut sampai tahun 1942. Terhenti di tahun 1942 dikarenakan pada tahun tersebut terjadi penjajahan Jepang di hampir semua wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia.

BAB II

SEJARAH PERKEBUNAN PADANG HALABAN

2.1. Kondisi Ekologi Perkebunan Padang Halaban

Perkebunan Padang Halaban termasuk dalam wilayah Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Propinsi Sumatera Utara. Perkebunan Padang Halaban merupakan wilayah bentukan Belanda pada masa kolonial Belanda di Indonesia. Perkebunan Padang Halaban dibuka Belanda sekitar tahun 1900-an dan merupakan perkebunan yang khusus ditanami kelapa sawit pada waktu itu. Sebagian besar lahan di wilayah yang sekarang menjadi Kecamatan Aek Kuo itu digunakan sebagai perkebunan kelapa sawit oleh Belanda. Hal ini dikuatkan dengan adanya Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Perkebunan Padang Halaban yang berdiri tahun 1928 dan sampai sekarang masih aktif dan saat ini diusahai dan dikelola oleh PT. SMART Tbk. Padang Halaban. Selain itu, bisa juga dilihat dari luas perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Aek Kuo saat ini yang mencapai 21.975 Ha dari total luas wilayah 25.020Ha32

Tanah di perkebunan Padang Halaban sangat cocok ditanami kelapa sawit. Alasannya antara lain karena wilayah Perkebunan Padang Halaban memiliki kondisi ekologi yang sesuai untuk perkebunan kelapa sawit yaitu wilayah tropis dengan curah hujan yang tinggi. Di samping itu tanahnya juga gembur, subur, . Hal ini menandakan bahwa perkebunan kelapa sawit memang telah menjadi basis di wilayah ini sejak masa kolonial Belanda di Indonesia.

datar, berdrainase baik33 dan memiliki lapisan solum34 yang dalam tanpa lapisan padas atau dengan kata lain tidak berbatu. Selain itu kecocokan tanah di Padang Halaban untuk perkebunan kelapa sawit dapat dibuktikan dengan produksi 16,19% dari total 819.363 Ton seluruh wilayah Labuhanbatu Utara dan merupakan penghasil kelapa sawit terbesar ke-3 setelah Kecamatan Aek Natas dan Kecamatan Kualuh Hulu35

1. Jenis tanah di atas bahan induk tersier, kesuburan tanah ini sangat rendah. .

Dalam penelitian Druif yang menggunakan metode analisis mineralogi secara sistematis membedakan lima jenis tanah di Sumatera Timur:

2. Jenis tanah yang berasal dari tanah gembur riolitik-lipatik, tanah ini asam dan cenderung sangat mudah kena erosi karena sangat sifatnya seperti pasir.

3. Jenis tanah yang terdapat di atas gembur dasitik-liparitik.

4. Jenis tanah yang terjadi di atas tanah gembur dasitik. Tanah gembur dasitik mengandung mineral seperti gelas vulkanik, kuartz albit, sanidin, oligoklas, biotit, amfibole hijau, magnetik, ilemit, sirkon, apatit dan spinel. Selain itu

33

Pada tanah yang berdrainase baik, air lebih segera keluar dari tanah tetapi tidak terlalu cepat; pada tanah yang berdrainase buruk air lebih tidak segera keluar akan tetapi tetap menjenuhi tanah pada daerah perakaran untuk waktu yang lama sehingga akar tidak dapat mengambil oksigen tanggal 10 Agustus 2011).

34

Solum tanah adalah kedalaman lapisan tanah dari permukaan hingga bahan induk tanah. Kegunaan mengetahui solum tanah adalah bahwa ketebalan solum tanah sangat menentukan perkembangan akar, bila solum tanah tipis makan perkembangan akar akan terhambat dan sebaliknya Agustus 2011)

35

juga mengandung mineral-mineral seperti batu akik berwarna merah tua, amfibol berwarna coklat, perowskit, sedikit andesin dan piroksin hijau.

5. Jenis tanah yang terjadi di atas aliran lahar yang terbaru, sifatnya adalah andesitik.

Jika mengacu pada jenis-jenis tanah yang dikemukakan Druif ini, maka tanah di perkebunan Padang Halaban termasuk jenis tanah gembur dasitik yang memang sangat cocok untuk perkebunan kelapa sawit karena tanah gembur dasitik memiliki lapisan tanah yang berdrainase baik dan lapisan solum yang dalam36

Ekspansi kekuasaan kolonial Belanda ditandai dengan perjanjian dengan Kerajaan Siak yang pada saat itu berkuasa di Sumatera Timur yang dikenal dengan sebutan Traktat Siak yang ditandatangani pada 1858. Isi dari perjanjian ini antara lain

.

2.2. Sejarah Perkebunan Padang Halaban

2.2.1. Sekilas tentang Penjajahan Belanda di Sumatera Timur

37

1. Raja Siak menyatakan bahwa kerajaan menjadi bagian dari pemerintahan Hindia Belanda di bawah kedaulatan Belanda yaitu menyerahkan Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan kepada Belanda.

:

2. Pemerintah Belanda diizinkan mendirikan pos di Bengkalis.

36

37

3. Pengganti Raja atau Raja Muda harus bersumpah setia kepada Jenderal.

4. Tanpa izin dari Residen Riau, Sultan tidak dibolehkan berhubungan dengan pemerintah asing dan melarang orang asing menetap di wilayah kekuasaannya.

5. Pemerintah Hindia Belanda jika berkeinginan dapat mengambil pajak atau pendapatan Sultan dengan diberi ganti rugi.

Traktat Siak inilah oleh Belanda dipakai sebagai langkah persiapan menaklukkan Sumatera Timur38. Pada tahun 1861, Elisa Netscher diangkat menjadi Residen Wilayah Riau dan sejak itu pula dia mengangkat dirinya menjadi pembela Sultan Ismail yang berkuasa di kerajaan Siak. Tujuan Netscher itu adalah dengan duduknya dia sebagai pembela Sultan Ismail secara politis tentunya akan mudah bagi Netscher menguasai daerah taklukan kerajaan Siak39

Dalam perkembangan selanjutnya, raja-raja yang berada di bawah kekuasaan Siak mengakui kedaulatan pemerintah Hindia Belanda atas kerajaan mereka masing-masing sesuai isi Traktat Siak. Belanda menaklukkan Sumatera Timur bukan lewat peperangan, tetapi melalui kontrak politik atau akta perjanjian yang disodorkan secara paksa kepada kesultanan. Setiap kali menandatangani Akta Perjanjian kepada Sultan, Belanda memaksakan kehendak politiknya.

dan tentunya seluruh wilayah Sumatera Timur yang memang dijadikan target untuk dijadikan perkebunan selanjutnya setelah Pulau Jawa.

38

Dengan Akta Perjanjian itu pula Belanda semakin mudah mengontrol dan mendiktekan kemauan politiknya.

Kemudian untuk menguatkan eksistensinya di Sumatera Timur, Belanda membentuk Karesidenan Sumatera Timur. Karesidenan Sumatera Timur adalah wilayah administrasi Hindia Belanda di kawasan pesisir timur Sumatera bagian utara yang berdiri pada 1 Maret 1887, dikendalikan oleh seorang Residen di Medan, dan terdiri atas beberapa Afdeling, yang sekarang menjadi daerah kabupaten40

1. Afdeling Asahan yang berasal dari Kesultanan Asahan dan kini menjadi Kabupaten Asahan, Kabupaten Batubara, Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

yaitu:

2. Afdeling Deli en Serdang yang berasal dari Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang dan kini menjadi Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai.

3. Afdeling Langkat yang berasal dari Kesultanan Langkat dan kini menjadi Kabupaten Langkat.

4. Afdeling Simelungun en Karolanden yang kini menjadi Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun dan Kota Pematang Siantar.

Pada masa masuknya Belanda ke daerah Sumatera Timur, mulai saat itu juga daerah ini berkembang menjadi daerah perkebunan. Belanda membuat daerah ini menjadi daerah yang berpenghasilan dari perkebunan sampai sekarang.

Ini dibuktikan dengan hasil perkebunan kelapa sawit yang memang menjadi komoditi utama Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara) sampai saat ini dengan luas yang sudah mencapai 1.017.570 Ha dan hasil yang menyentuh angka 3.230.488 Ton41

Secara pasti tidak diketahui kapan Belanda masuk ke Labuhanbatu, dari berbagai keterangan yang dihimpun menyatakan bahwa Belanda masuk ke Labuhanbatu berkisar tahun 1825, namun ada pula keterangan yang mengatakan bahwa kedatangan Belanda ke Labuhanbatu setelah selesai Perang Paderi di Sumatera Barat (sekitar tahun 1831)

.

2.2.2. Belanda dan Perkebunan Kelapa Sawit Padang Halaban

42

Dalam perkembangan selanjutnya, Pemerintah Kolonial Belanda secara yuridis formal menetapkan Gouverment Bisluit Nomor 2 Tahun 1867 tertanggal 30 September 1867 tentang pembentukan Afdeling Asahan yang meliputi 3 (tiga) Onder Afdeling

. Tetapi yang jelas kedatangan Belanda ke Labuhanbatu memang sangat erat hubungannya dengan asal mula keberadaan perkebunan kelapa sawit di daerah ini tidak terkecuali Perkebunan Padang Halaban.

43

1. Onder Afdeling Batu Bara dengan Ibukota Labuhan Ruku. yaitu: 41 Agustus 2011) 43 http://www.depdagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/12/name/sumatera

2. Onder Afdeling Asahan dengan Ibu Kota Tanjung Balai.

3. Onder Afdeling Labuhanbatu dengan Ibukota Kampung Labuhanbatu. Kemudian pada 1 Maret 1887 Afdeling Asahan disatukan ke dalam Karesidenan Sumatera Timur oleh Pemerintah Hindia Belanda44. Tentu apa yang dilakukan Belanda ini bukan tanpa tujuan dan kenyataannya pada saat terjadi peningkatan permintaan minyak nabati akibat dari terjadinya Revolusi Industri pada abad ke-19, kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit oleh pemerintah Hindia Belanda dan tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt45

Pihak Belanda kemudian mendatangkan tenaga kerja dari pulau Jawa yang dipekerjakan sebagai kuli kontrak perkebunan. Pada saat dibukanya lahan-lahan hutan menjadi lahan perkebunan merupakan awal masuknya orang Jawa ke

. Lahan-lahan hutan dibuka Belanda menjadi perkebunan. Seiring dengan perkembangan zaman dan makin meluasnya wilayah kekuasaan pihak Belanda maka mereka terus memperluas lahan perkebunan dan tanaman komoditinya di Karesidenan Sumatera Timur termasuklah wilayah Labuhanbatu yang sekarang telah dimekarkan menjadi Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

44

45

Perkebunan Padang Halaban46 dan sekitarnya yang saat ini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara. Menurut masyarakat Padang Halaban kuli kontrak adalah buruh lepas yang dipekerjakan pada lahan pertanian yang telah diatur sedemikian rupa terutama terhadap masalah kerja yang berakhir pada masa tertentu yang telah disepakati. Masih menurut mereka, Belanda banyak mendatangkan tenaga kerja dari wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang kemudian disebar di beberapa wilayah kawasan Sumatera Utara termasuk Labuhanbatu. Migrasi ke Sumatera Timur ini dilakukan secara besar-besaran yang telah diatur dan direncanakan oleh pihak Kolonial Belanda. Migrasi besar-besaran ini dilakukan agar daerah-daerah perkebunan yang telah dibuat pihak kolonial Belanda ada yang mengerjakan karena mereka beranggapan orang-orang Karo dan Melayu malas serta melawan sehingga tidak dapat dijadikan kuli47. Kuli kontrak yang didatangkan dari Pulau Jawa sebenarnya didatangkan dengan masa kerja yang telah ditetapkan namun, yang terjadi adalah malah orang-orang dari Pulau Jawa inilah yang menjadi mayoritas penduduk di Sumatera Utara sampai saat ini48

Terjadinya arus migrasi penduduk yang deras dari pulau Jawa untuk menjadi kuli kontrak di Sumatera berlangsung menjelang terjadinya depresi

.

46

Nama Padang Halaban sendiri memang sudah ada sejak Belanda mendirikan perkebunan kelapa sawit di daerah itu. Namun, sejauh yang saya dapat di lapangan tidak ada yang tahu pasti mengenai asal-usul dari nama Padang Halaban apakah nama itu dari pihak Belanda atau tidak.

47

48

Di tahun 2000 penduduk Jawa mencapai 33,03 % di Sumatera Utara dan merupakan suku mayoritas di Sumatera Utara

ekonomi dunia49. Para penduduk miskin di Jawa yang terutama berada di desa-desa terpencil, dibawa ke Sumatera Timur dan dijadikan pekerja di sejumlah perkebunan di wilayah tersebut. Selain itu pemerintah kolonial Belanda mengubah kebijakan kolonisasi, dengan menciptakan koloni penduduk asal Jawa di perkebunan-perkebunan yang telah mereka buat. Kebijakan kolonisasi penduduk dari pulau Jawa ke luar Jawa dilatarbelakangi oleh50

1. Melaksanakan salah satu program politik etis :

51

2. Pemilikan tanah yang makin sempit dipulau Jawa akibat pertambahan penduduk yang cepat telah menyebabkan taraf hidup masyarakat di pulau Jawa semakin menurun.

, yaitu emigrasi untuk mengurangi jumlah penduduk pulau Jawa dan memperbaiki taraf kehidupan yang masih rendah.

3. Adanya kebutuhan pemerintah kolonial Belanda dan perusahaan swasta akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan dan pertambangan di luar pulau Jawa. Politik etis yang mulai diterapkan pada tahun 1900 bertujuan mensejahterakan masyarakat petani yang telah dieksploitasi selama dilaksanakannya culture stelsel (sistem tanam paksa).

Namun, tetap saja terjadi penyimpangan-penyimpangan di dalam pelaksanaan politik etis ini yaitu52

49 : 50 51

Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan kritik terhadap politi

1. Irigasi

Pengairan hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk perkebunan swasta Belanda. Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi.

2. Edukasi

Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan murah. Pendidikan yang

Dokumen terkait