• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belanja Daerah

Dalam dokumen RANCANGAN KEBIJAKAN UMUM APBD (KUA) TAHUN (Halaman 61-76)

KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

C. Lain-lain Pendapatan Yang Sah

4.2. Belanja Daerah

Belanja Daerah merupakan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk mendanai seluruh program/kegiatan yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap pelayanan publik di daerah. Program/kegiatan yang dimaksud dilaksanakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, pemerataan pendapatan, serta pembangunan di berbagai sektor. Komponen yang mengindikasikan aktivitas dalam struktur APBD adalah Belanja Daerah. Komponen ini merupakan pengeluaran dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan kepentingan pelaksanaan pembangunan daerah yang diklasifikasikan menurut organisasi, fungsi, program dan kegiatan, serta jenis belanja yang pengeluarannya disesuaikan dengan kemampuan dan potensi fiskal daerah.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa belanja daerah digunakan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan daerah yang terdiri atas urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan.

Belanja daerah tersebut diprioritaskan untuk mendanai urusan pemerintahan wajib terkait pelayanan dasar yang ditetapkan dengan standar pelayanan minimal serta berpedoman pada standar teknis dan harga satuan regional sesuai dengan

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-17

ketentuan peraturan perundang-undangan. Belanja daerah untuk urusan pemerintahan wajib yang tidak terkait dengan pelayanan dasar dan urusan pemerintahan pilihan berpedoman pada analisis standar belanja dan standar harga satuan regional.

Urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar meliputi: (a) pendidikan, (b) kesehatan, (c) pekerjaan umum dan penataan ruang, (d) perumahan rakyat dan kawasan permukiman, (e) ketentraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat, dan (f) sosial. Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar meliputi: (a) tenaga kerja, (b) pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, (c) pangan, (d) pertanahan, (e) lingkungan hidup, (f) administrasi kependudukan dan pencatatan sipil, (g) pemberdayaan masyarakat dan desa, (h) pengendalian penduduk dan keluarga berencana, (i) perhubungan, (j) komunikasi dan informatika, (k) koperasi, usaha kecil, dan menengah, (l) penanaman modal, (m) kepemudaan dan olahraga, (n) statistik, (o) persandian, (p) kebudayaan, (q) perpustakaan, dan (r) kearsipan. Urusan pemerintahan pilihan meliputi: (a) kelautan dan perikanan, (b) pariwisata, (c) pertanian, (d) kehutanan, (e) energi dan sumber daya mineral, (f) perdagangan, (g) perindustrian, dan (h) transmigrasi.

Pemerintah daerah menetapkan target capaian kinerja setiap belanja, baik dalam konteks daerah, satuan kerja perangkat daerah, maupun program dan kegiatan, yang bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran dan memperjelas efektifitas dan efisiensi penggunaan anggaran. Program dan kegiatan harus memberikan informasi yang jelas dan terukur serta memiliki korelasi langsung dengan keluaran yang diharapkan dari program dan kegiatan dimaksud ditinjau dari aspek indikator, tolok ukur dan target kinerjanya.

Belanja Daerah terdiri dari Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. Kebijakan Belanja Daerah secara deskriptif dapat diuraikan dan dijelaskan sebagai berikut: 1) Belanja Tidak Langsung yang merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan; 2) Belanja Langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-18 4.2.1 Kebijakan Terkait Dengan Perencanaan Belanja Daerah Meliputi Total

Perkiraan Belanja Daerah

Sebagaimana penyusunan RKP tahun 2017 yang menyatakan bahwa kebijakan anggaran belanja harus berdasarkan money follows program dengan cara memastikan hanya program yang benar-benar bermanfaat dan bukan sekedar karena tugas fungsi Kementerian/Lembaga yang bersangkutan. Dengan demikian kebijakan anggaran belanja di Kabupaten Kutai Timur juga harus menerapkan konsep money

follows program. Alokasi anggaran belanja untuk program/kegiatan di setiap SKPD

tidak hanya sekedar menjalankan tugas pokok dan fungsi SKPD yang bersangkutan. Hal ini berarti, alokasi anggaran belanja untuk program/kegiatan prioritas lebih penting dibandingkan dengan tugas pokok dan fungsi SKPD. Perwujudan pelayanan publik di Kabupaten Kutai Timur harus terkait dengan kebijakan belanja daerah. Anggaran Belanja Daerah yang efektif akan berperan secara riil dalam peningkatan kualitas layanan publik dan sekaligus menjadi penggerak perekonomian daerah.

Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar yang terdiri atas pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Pelaksanaan urusan wajib harus memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan.

Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menetapkan target capaian kinerja setiap belanja, baik dalam konteks daerah, SKPD, maupun program dan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan dan pelaksanaan anggaran. Setiap Program dan kegiatan dalam penganggaran harus ada indikator, tolok ukur dan target kinerjanya.

Besaran anggaran belanja harus mempertimbangkan besaran anggaran pendapatan. Oleh karena itu, dalam menghitung perkiraan anggaran belanja masih berpedoman pada perkiraan perolehan anggaran pendapatan. Namun demikian dalam APBD dimungkinkan adanya anggaran defisit atau anggaran surplus. Apabila anggaran surplus maka akan dimanfaatkan sebagai pengeluaran pembiayaan.

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-19 Sebaliknya jika anggaran defisit maka akan ditutup dengan penerimaan pembiayaan melalui Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Sebelumnya (SiLPA).

Kebijakan perencanaan belanja daerah Pemerintah Kabupaten Kutai Timur seperti tersebut di atas harus didukung adanya kepastian tersedianya pendapatan daerah yang cukup dan dasar hukum yang jelas. Selanjutnya dapat disusun proyeksi belanja yang proporsional dengan berpegang pada prinsip efisiensi dan efektif. Dengan demikian, setiap peningkatan alokasi belanja yang direncanakan oleh setiap SKPD harus diikuti dengan peningkatan kinerja pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pengeluaran Belanja Daerah Kabupaten Kutai Timur Tahun 2017 dialokasikan sebesar Rp 3.389.042.650.68,00 atau mengalami penurunan sebesar Rp571.411.914.479,00 (turun sebesar 14,43 persen) dibandingkan tahun 2016 sebesar Rp 3.960.454.565.161,00. Penurunan ini disebabkan adanya pos pendapatan yang sifatnya terarah yang belum diproyeksikan seperti DAU, DAK, hibah, bantuan provinsi dan sebagainya karena belum ada dasar hukumnya serta pendapatan bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak yang diproyeksikan secara konservatif. Hal tersebut menyebabkan pos belanja dari sumber pos pendapatan tersebut juga tidak dituangkan sehingga menyebabkan menurunnya alokasi belanja daerah.

Alokasi Belanja Daerah Kabupaten Kutai Timur Tahun 2017 terdiri dari Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung.

1. Belanja Tidak Langsung

Belanja Tidak Langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Alokasi Belanja Tidak Langsung di Kabupaten Kutai Timur pada Tahun 2017 dialokasikan sebesar Rp 1.059.741.109.845,00 naik sebesar Rp 28.841.109.845,00 (naik 2,80 persen) dari alokasi tahun 2016 sebesar Rp1.030.900.000.000,00. Belanja Tidak Langsung dialokasikan meliputi: belanja pegawai (gaji) PNS termasuk tambahan penghasilan PNS berupa TPP, serta bea pungut pajak daerah, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil kepada pemerintah desa, belanja bantuan keuangan kepada pemerintahan desa dan partai politik, serta belanja tidak terduga.

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-20

2. Belanja Langsung

Belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Belanja Langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa serta belanja modal. Pada tahun 2017 dialokasikan sebesar Rp 2.329.301.540.837,00 turun sebesar Rp600.253.024.324,00 (turun 20,49 persen) dibandingkan dengan tahun 2016 sebesar Rp 2.929.554.565.161,00.

Perkembangan realisasi dan proyeksi Belanja Daerah tahun 2013-2017 dapat dijabarkan lebih lanjut pada Tabel 4.3.

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-21 Tabel 4.3

Realisasi dan Proyeksi Belanja Daerah Kabupaten Kutai Timur

Tahun 2013-2017

NO Uraian Realisasi* Target/Proyeksi

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016** Tahun 2017***

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

2 BELANJA DAERAH

2.1 Belanja Tidak Langsung 680,248,037,191.00 879.908.883.540,26 1.037.514.391.535,00 1.059.741.109.845,00

2.1.1 Belanja Pegawai 460,655,568,802.00 602.251.365.584,66 940.695.194.256,38 712.102.524.000,00 798.882.780.310,00

2.1.3 Belanja Subsidi 6,437,564,000.00 9.929.628.750,00 18.224.983.000,00 10.660.853.535,00

2.1.4 Belanja Hibah 62,931,600,000.00 105.610.218.100,00 142.353.875.710,00 58.553.538.000,00

2.1.5 Belanja Bantuan Sosial 3.708.900,000.00 7.225.860.000,00 5.852.100.000,00 3.500.000.000,00

2.1.7 Belanja Bantuan Keuangan kepada Pemerintahan Desa dan Partai Politik

144,020,723,889.00 154.166.756.105,60 192.839.392.562,06 249.697.476.000,00

2.1.8 Belanja Tidak Terduga 2,493,680,500.00 725.055.000,00 2.018.045.794,00 3.000.000.000,00

2.2 Belanja Langsung 1,912,803,949,815.00 2.399.467.977.961,90 2.922.940.173.626,00 2.329.301.540.837,00

2.2.1 Belanja Pegawai 181,640,602,247.00 229.310.887.571,90 246.207.168.683,00

2.2.2 Belanja Barang dan Jasa 571,861,921,049.00 711.468.725.268,00 909.257.629.595,20 964.706.468.855,00

2.2.3 Belanja Modal 1,159,301,426,519.00 1.458.688.365.122.00 1.400.114.626.067,27 1.712.026.536.088,00

2.2.4 Belanja Program Untuk SKPD - - 2.2.5 Belanja Multi Years - -

JUMLAH BELANJA DAERAH 2,593,051,987,006.00 3.279.376.861.502,16 3.611.355.846.984,91 3.960.454.565.161,00 3.389.042.650.682,00 Sumber: - RPJMD Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016-2021

- Bagian Keuangan Setda Kabupaten Kutai Timur *) LRA Tahun 2013,2014, dan 2016

**) Perda APBD Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016 ***) Proyeksi Tahun 2017

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-22

Berdasarkan Tabel 4.3 di atas diketahui bahwa belanja tidak langsung tahun anggaran 2017 sebesar Rp1.059.741.109.845,00 mengalami kenaikan sebesar Rp28.841.109.845,00 (naik 2,80 persen). Perincian Belanja Tidak langsung dijelaskan sebagai berikut :

- Belanja Pegawai berupa penganggaran gaji dan tunjangan PNS, tambahan penghasilan PNSD, dan lain sebagainya, pada tahun 2017 dialokasikan sebesar Rp 798.882.780.310,00 mengalami kenaikan sebesar Rp86.780.256.310,00 (naik 12,19 persen) dibanding dengan tahun 2016. - Belanja Subsidi dialokasikan pada tahun 2017 tidak mengalami perubahan

sebagaimana tahun 2016 yakni sebesar Rp16.250.000.000,00.

- Belanja Hibah pada tahun 2017 dialokasikan sebesar Rp70.800.000.000,00 tetap sebagaimana tahun 2016.

- Belanja Bantuan Sosial pada tahun 2017 tidak mengalami perubahan sebagaimana tahun 2016 yakni sebesar Rp 10.845.000.000,00.

- Belanja Bantuan Keuangan Kepada Pemerintahan Desa dan Partai Politik pada tahun 2017 tidak mengalami perubahan sebagaimana tahun 2016 yakni sebesar Rp 182.315.644.301,00.

- Belanja Tidak Terduga tahun 2017 diproyeksikan tetap sebagaimana tahun 2016 yaitu sebesar Rp 3.000.000.000,00.

Sedangkan Belanja Langsung tahun anggaran 2017 dialokasikan sebesar Rp2.329.301.540.837,00 mengalami penurunan sebesar Rp600.253.024.324,00 (turun 20,49 persen) dibanding tahun 2016 yang dialokasikan sebesar Rp2.929.554.565.161,00. Penurunan ini terjadi karena, diantaranya proyeksi pendapatan yang berasal dari pos dana bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak mengalami penurunan signifikan dengan mengambil kebijakan proyeksi yang konservatif. Hal ini didasarkan adanya perkembangan kondisi ekonomi dunia yang berpengaruh terhadap Indonesia dan kondisi makro lainnya khususnya tahun 2017.

Secara ringkas komposisi Belanja Daerah tahun 2017 yang meliputi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut:

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-23

Tabel 4.4

Proyeksi dan Komposisi Belanja Daerah Kabupaten Kutai Timur Tahun 2017

No Uraian Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2017

(1) (2) (3)

1 Belanja Tidak Langsung Rp1.059.741.109.845,00

komposisi (%) 31,27

kenaikan/(penurunan) dari tahun 2016 (%) 2,80

a Belanja Pegawai Rp798.882.780.310,00

komposisi (%) 23,57

kenaikan/penurunan dari tahun 2016 (%) 12,19

b Belanja Subsidi

komposisi (%)

kenaikan/penurunan dari tahun 2016 (%)

c Belanja Bantuan Hibah

komposisi (%)

kenaikan/penurunan dari tahun 2016 (%)

c Belanja Bantuan Sosial

komposisi (%)

kenaikan/penurunan dari tahun 2016 (%)

e Belanja Bantuan Keuangan

komposisi (%)

kenaikan/penurunan dari tahun 2016 (%)

f Belanja Tidak Terduga

komposisi (%)

kenaikan/penurunan dari tahun 2016 (%)

2 Belanja Langsung Rp2.329.301.540.837,00

komposisi (%) 68,73

kenaikan/(penurunan) dari tahun 2016 (%) (20,49)

Jumlah Rp3.389.042.650.682,00 kenaikan/(penurunan) dari tahun 2016 (%) (14,43)

Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Kab. Kutai Timur Tahun 2016 (diolah)

Komposisi Belanja Daerah yang meliputi Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung Tahun Anggaran 2017 dapat digambarkan dalam Gambar 4.1 berikut:

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-24 Gambar 4.1. Komposisi Belanja Langsung dan Tidak Langsung Tahun 2017

4.2.2 Kebijakan Belanja Pegawai, Bunga, Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial, Belanja Bagi Hasil, Bantuan Keuangan, Dan Belanja Tidak Terduga

Pada Tahun 2017 proyeksi total belanja tidak langsung dialokasikan sebesar Rp 1.059.741.109.845,00 dialokasikan menurut jenis belanjanya dengan rincian sebagai berikut:

Belanja Pegawai Rp 798.882.780.310,00

Belanja Subsidi Belanja Hibah

Belanja Bantuan Sosial

Belanja Bantuan Keuangan Kepada Pemerintahan Desa dan Partai Politik

Rp 0,00 Rp 0,00 Rp 0,00 Rp 0,00

Belanja Tidak Terduga Rp 0,00

Kebijakan Belanja Tidak Langsung Pemerintah Kabupaten Kutai Timur Tahun 2017 meliputi belanja pegawai, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bantuan keuangan kepada pemerintahan desa dan partai politik serta belanja tidak terduga dapat dijelaskan sebagai berikut:

Belanja Langsung 68,73% Belanja Tidak Langsung 31,27%

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-25

1) Belanja Pegawai

Kebijakan berkaitan dengan belanja pegawai pada tahun 2017 sebagaimana dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2016 Tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017 adalah sebagai berikut:

a) Penganggaran untuk gaji pokok dan tunjangan Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan serta memperhitungkan rencana kenaikan gaji pokok dan tunjangan PNSD serta pemberian gaji ketiga belas dan gaji keempat belas.

b) Penganggaran belanja pegawai untuk kebutuhan pengangkatan Calon PNSD sesuai formasi pegawai tahun 2017.

c) Penganggaran belanja pegawai untuk kebutuhan kenaikan gaji berkala, kenaikan pangkat, tunjangan keluarga dan mutasi pegawai dengan memperhitungkan acress yang besarnya maksimum 2,5 persen dari jumlah belanja pegawai untuk gaji pokok dan tunjangan.

d) Penganggaran penyelenggaraan jaminan kesehatan bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, Pimpinan dan Anggota DPRD serta PNSD dibebankan pada APBD Tahun Anggaran 2017 dengan mempedomani Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan.

Terkait dengan hal tersebut, penyediaan anggaran untuk pengembangan cakupan penyelenggaraan jaminan kesehatan bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, Pimpinan dan Anggota DPRD serta PNSD di luar cakupan penyelenggaraan jaminan kesehatan yang disediakan oleh BPJS, tidak diperkenankan dianggarkan dalam APBD.

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-26

e) Penganggaran Tambahan Penghasilan PNSD harus memperhatikan kemampuan keuangan daerah dengan persetujuan DPRD sesuai amanat Pasal 63 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005. Kebijakan dan penentuan kriterianya ditetapkan terlebih dahulu dengan peraturan kepala daerah sebagaimana diatur Pasal 39 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011. Pada alokasi tunjangan penghasilan pegawai, dalam meningkatkan kesejahteraan pegawai yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja pegawai.

f) Penganggaran Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Oleh karena itu, dengan berbagai pertimbangan di atas maka pada tahun 2017 Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mengalokasikan Belanja Pegawai sebesar Rp 798.882.780.310,00.

2) Belanja Subsidi

Pemerintah daerah dapat menganggarkan belanja subsidi kepada perusahaan/lembaga tertentu yang menyelenggarakan pelayanan publik, antara lain dalam bentuk penugasan pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation). Belanja Subsidi tersebut hanya diberikan kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual dari hasil produksinya terjangkau oleh masyarakat yang daya belinya terbatas. Perusahaan/lembaga tertentu yang diberi subsidi tersebut menghasilkan produk yang merupakan kebutuhan dasar dan menyangkut hajat hidup orang banyak.

Sebelum belanja subsidi tersebut dianggarkan dalam APBD Tahun Anggaran 2017, perusahaan/lembaga penerima subsidi harus terlebih dahulu dilakukan audit sesuai dengan ketentuan pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-27

keuangan negara sebagaimana diatur dalam Pasal 41 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011.

Belanja Subsidi Kabupaten Kutai Timur diberikan diantaranya kepada PDAM Kabupaten Kutai Timur agar harga jual dari hasil produksi terjangkau oleh masyarakat yang daya belinya terbatas, dan subsidi ongkos angkut distribusi beras masyarakat miskin dari ibukota kecamatan menuju rumah tangga sasaran.

Pada tahun 2017 Belanja Subsidi di Kabupaten Kutai Timur dialokasikan sebagaimana tahun 2016 yakni sebesar Rp 16.250.000.000,00.

3) Belanja Hibah

Penganggaran belanja hibah yang bersumber dari APBD mempedomani peraturan kepala daerah yang mengatur tata cara penganggaran, pelaksanaan dan penatausahaan, pertanggungjawaban dan pelaporan serta monitoring dan evaluasi hibah yang telah disesuaikan dengan Pasal 298 ayat (4) dan ayat (5) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber dari APBD, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber dari APBD, serta peraturan perundang-undangan lain di bidang hibah dan bantuan sosial.

Kebijakan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dalam pemberian hibah dengan berpedoman pada Peraturan Bupati Kutai Timur Nomor 46 tahun 2011 tentang Tata Cara Penganggaran, Pertanggungjawaban, Monitoring dan Evaluasi Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial dan ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 tahun 2011 tentang Hibah dan Bantuan Sosial.

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-28 Pada tahun 2016 Belanja Hibah sebesar Rp 70.800.000.000,00 sama dengan tahun 2016, dimana kebijakan sebagaimana yang sudah dijalankan pada tahun sebelumnya yakni salah satunya diarahkan untuk pembangunan human capital dimulai dengan pemenuhan kebutuhan dasar, salah satunya dengan pembangunan infrastruktur dasar seperti rumah layak huni.

4) Belanja Bantuan Sosial

Penganggaran belanja bantuan sosial yang bersumber dari APBD mempedomani peraturan kepala daerah yang mengatur tata cara penganggaran, pelaksanaan dan penatausahaan, pertanggungjawaban dan pelaporan serta monitoring dan evaluasi belanja bantuan sosial yang telah disesuaikan dengan Pasal 298 ayat (4) dan ayat (5) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber dari APBD, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber dari APBD, serta peraturan perundang-undangan lain di bidang hibah dan bantuan sosial.

Pada tahun 2017, Belanja Bantuan Sosial dialokasikan sebagaimana tahun 2016 sebesar Rp 10.845.000.000,00.

5) Belanja Bantuan Keuangan kepada Pemerintahan Desa dan Partai Politik

a) Dalam rangka pelaksanaan Pasal 72 ayat (1) huruf b dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 dan Pasal 95 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015, pemerintah kabupaten harus menganggarkan alokasi dana untuk desa dan desa adat yang diterima dari APBN dalam jenis belanja bantuan keuangan kepada pemerintah desa dalam APBD kabupaten Tahun Anggaran 2017 untuk membiayai penyelenggaraan

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-29

pemerintahan, pembangunan serta pemberdayaan masyarakat, dan kemasyarakatan.

Selain itu, pemerintah kabupaten harus menganggarkan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk pemerintah desa dalam jenis belanja bantuan keuangan kepada pemerintah desa paling sedikit 10 persen dari dana perimbangan yang diterima oleh kabupaten dalam APBD Tahun Anggaran 2017 setelah dikurangi DAK sebagaimana diatur dalam Pasal 72 ayat (4) dan ayat (6) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 dan Pasal 96 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.

b) Bantuan keuangan kepada partai politik harus dialokasikan dalam APBD Tahun Anggaran 2017 dan dianggarkan pada jenis belanja bantuan keuangan, obyek belanja bantuan keuangan kepada partai politik dan rincian obyek belanja nama partai politik penerima bantuan keuangan. Besaran penganggaran bantuan keuangan kepada partai politik berpedoman kepada Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2014 tentang Pedoman Tatacara Perhitungan, Penganggaran dalam APBD dan Tertib Administrasi Pengajuan, Penyaluran dan Laporan Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Partai Politik.

Belanja Bantuan Keuangan kepada Pemerintahan Desa dan Partai Politik pada tahun 2017 dialokasikan sebagaimana tahun 2016 yaitu sebesar Rp182.315.644.301,00.

6) Belanja Tidak Terduga

Penganggaran belanja tidak terduga dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan realisasi Tahun Anggaran 2016 dan kemungkinan adanya

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-30

kegiatan-kegiatan yang sifatnya tidak dapat diprediksi sebelumnya, diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk mendanai kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan terjadi berulang, seperti kebutuhan tanggap darurat bencana, penanggulangan bencana alam dan bencana sosial, kebutuhan mendesak lainnya yang tidak tertampung dalam bentuk program dan kegiatan pada Tahun Anggaran 2017, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2017 Belanja Tidak Terduga dialokasikan tetap sebagaimana tahun 2016 yaitu sebesar Rp 3.000.000.000,00.

Bab IV Kebijakan Pendapatan, Belanja

Dan Pembiayaan Daerah IV-31 4.2.3. Kebijakan Pembangunan Daerah, Kendala Yang Dihadapi, Strategi Dan

Prioritas Pembangunan Daerah Yang Disusun Secara Terintegrasi Dengan Kebijakan Dan Prioritas Pembangunan Nasional Yang Akan Dilaksanakan Di Daerah

4.2.3.1 Kebijakan Pembangunan Daerah

Tahun 2017 merupakan tahun kedua pelaksanaan RPJMD 2016-2021. Adapun visi Pembangunan Kabupaten Kutai Timur Tahun 2016-2021 adalah

“Terwujudnya Kemandirian Kutai Timur Melalui Pembangunan

Dalam dokumen RANCANGAN KEBIJAKAN UMUM APBD (KUA) TAHUN (Halaman 61-76)

Dokumen terkait