a). Rasio Kewajiban Terhadap Asset
BELANJA LANGSUNG 71,69 69,03 69,65 65,48 55,41 66,25
2006 2007 2008 2009 2010
TOTAL BELANJA 340.272 472.861 550.954 641.737 637.447 - BELANJA TIDAK LANGSUNG 28,31 30,97 30,35 34,52 44,59 33,75
Belanja Pegawai Belanja Subsidi Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Pemt desa Belanja Bantuan Keu Pmt Desa Belanja Tidak Terduga
26,08 0,00 0,00 2,11 0,00 0,00 0,12 27,25 0,55 0,18 1,58 0,00 1,32 0,09 24,57 0,54 1,66 1,63 0,09 1,85 0,01 29,28 0,49 1,53 1,73 0,07 1,36 0,05 37,19 0,35 4,36 1,01 0,04 1,54 0,11 28,87 0,48 1,93 1,61 0,07 1,52 0,08 BELANJA LANGSUNG 71,69 69,03 69,65 65,48 55,41 66,25 Belanja Pegawai
Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal 0,00 19,05 52,64 0,00 16,71 52,32 6,25 15,35 48,05 4,96 13,49 47,03 4,51 12,94 37,96 5,24 15,51 47,60 JUMLAH 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber : Dinas PPAKD Kab.Tanjab Barat (data diolah)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 3 Hal - 27
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
Belanja bantuan keuangan kepada pemerintahan desa memperlihatkan kecenderung yang meningkat dari 1.32 persen pada tahun 2007 meningkat menjadi 1,52 persen pada tahun 2010. Peningkatan bantuan keuangan ini menujukkan tanggungjawab Pemerintah Kabupaten Tanjung Jaung Barat dalam usaha percepatan pembangunan di pedesaan. Namun dalam hal ini yang perlu dicermati adalah bagimana mengarahkan bantuan keuangan kabupaten pada pemerintahan desa tepat sasaran.
Dari sisi belanja langsung selama kurun waktu 2006-2010 menunjukan kecenderungan yang menurun yaitu dari 71,69 persen tahun 2006 turun menjadi 55,41 persen tahun 2010. Namun secara rata-rata kontribusinya masih cukup dominan (66,25 %) pertahun terhadap total belanja pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Penurunan belanja langsung ini terutana didorong oleh belanja modal yang cenderung turun dari 2006-2010 dari 52,64 persen pada tahun 2006 menurun menjadi 37,96 persen. Sementara kondisi yang sama terlihat pada pada belanja pegawai yang juga menunjukkan kecenderungan yang menurun dari 6,25 persen pada tahun 2008 turun menjadi 4,51 persen pada tahun 2010.
Belanja barang dan jasa yang merupakan salah satu komponen belanja dalam Belanja Langsung menunjukkan kecenderunga yang sama, dimana selama kurun waktu 2006-2010 cenderung menurun dari 19,05 persen pada tahun 2006, kemudian turun terus hingga mencapai 12,94 persen pada tahun 2010. Namun secara rata-rata masih mampu memberikan konteribusi sebesar 15,51 persen pertahun terhadap total belanja daerah atau 23,41 persen terhadap total belanja langsung. Penurunan proporsi belanja barang dan jasa bukan berarti terjadi pengurangan anggaran, tetapi sebaliknya secara absolut proporsi anggaran belanja barang dan jasa meningkat dari Rp 73,346 milyar pada tahun 2006 meningkat menjadi Rp 82,465 milyar pada tahun 2010 atau terjadi peningkatan sekitar 12,43 persen
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 3 Hal - 28
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
Secara persentase, tanpak bahwa semua komponen belanja langsung menunjukkan penurunan (lihat Tabel 3.11), namun secara absolut cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap tahunnya, yaitu dari Rp 340,272 milyar pada tahun 2006 dan terus meningkat hingga mencapai Rp 637,447 milyar pada tahun 2010. Suatu hal yang patut mendapat apresiasi adalah dalam hal proporsi penggunaan anggaran, selama tahun 2006-2010 proporsi belanja Langsung selalu lebih besar dan secara rata-rata mencapai 66,25 persen. Sementara belanja tidak langsung sebesar 33,75 persen. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja APBD Kabupaten Tanjung Jabung Barat selama tahun 2006-2010 dari sisi realisasi belanja sudah menunjukkan arah keberpihakan pada masyarakat dengan fokus perhatian diarahkan pada peningkatan pelayanan dasar sesuai dengan amanat UU No.32 tahun 2004.
Gambar 3.1
Proporsi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung Kabupaten Tanjung Jabung Barat 2006-2010
28 ,31 71 ,69 30 ,37 60 ,63 30 ,35 69 ,65 34 ,52 60 ,48 44 ,59 55 ,41 2006 2007 2008 2009 2010 BTL BL
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 3 Hal - 29
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
3.2.2. Analisis Pembiayaan
Pembiayaan daerah secara substansial meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali atau semua pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Tabel 3.12 menunjukkan bahwa pembiayaan daerah yang termuat dalam APBD Kabupaten Tanjung Jabung Barat terdiri atas penerimaan pembiayaan daerah dan pengeluaran pembiayaan daerah.
Pada sisi penerimaan pembiayaan daerah terdiri dari SiLPA Tahun lalu, penerimaan kembali penyertaan modal, penerimaan kembali piutang dan penerimaan hutang. Sedangkan sisi pengeluaran pembiayaan terdiri dari SiLPA Tahun berkenaan, pembentukan dana cadangan dan penyertaan modal/investasi, pembayarab pokok utang dan pemberian pinjaman. Sementara selisih antara Penerimaan pembiayaan dengan pengeluaran pembiayaan merupakan pembiayaan Netto.
Defisit anggaran sebesar Rp 29,86 milyar untuk tahun 2008 dan sebesar Rp 68,80 milyar pada tahun 2009 dapat dipenuhi dari Penerimaan pembiayaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya masing-masing sebesar Rp 199.73 milyar dan Rp 169,92 milyar. Sumber penerimaan pembangunan selama tahun 2006-2010 sebagian besar berasal dari SiLPA tahun anggaran sbselumnya, hanya tahun 2008 diperoleh penerimaan pembangunannya yang berasal dari Penerimaan Kembali Penyertaan Modal sebesar Rp 54,317 juta.
Pada tahun 2006, tahun 2007, tahun 2009 dan tahun 2010 semua penerimaan pembiayaan daerah masing-masing sebesar Rp 64,03 milyar, sebesar Rp 167,55 milyar, sebesar Rp 169,92 milyar dan sebesar Rp 101,12 milyar berasal dari SiLPA tahun anggaran sebelumnya. Kondisi ini memberi informasi sumber pembiayaan sangat ditentukan oleh SiLPA. Sementara penghasilan dari penyertaan modal/investasi yang dilakukan oleh pemerintah melalui BUMD belum dapat memberikan kontribusi yang berarti. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja BUMD.
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 3 Hal - 30
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
Tabel 3.12
Perkembangan Pembiayaan APBD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Selama Tahun 2005-2009 (Rp Ribuan)
PEMBIAYAAN DAERAH REALISASI TAHUN ANGGARAN
2006 2007 2008 2009 2010
PENERIMAAN PEMBIAYAAN DAERAH 64.027.228 167.551.561 199.781.452 169,921,531 101,122.689
SiLPA Tahun lalu 64.027.228 167.551.561 199.727.135 169,921,531 101.122.689
Pengembalian Penyertaan Modal 0,00 0,00 54.317 0,00 0,00
Penerimaan Kembali Piutang 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Penerimaan Pinjaman (hutang) 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
PENGELUARAN PEMBIAYAAN 175.459.341 204.905.933 169,921,531 101.122.689 104.896.460
SiLPA Tahun Berkenaan 167.551.561 199.727.135 169,921,531 101.122.689 103.896.460 Penyertaan Modal ( Investasi ) Pemerintah Daerah 7,600,000 3,500,000 0,00 0,00 1,000,000
Pembentukan Dana cadangan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Pembayan Utang Pokok 307.780 1.678.798 0,00 0,00 0,00
PEMBIAYAAN NETTO (111.432.113) (37.354.372) 29.859.921 68.798.842 (3.773.771)
SURPLUS/DEFISIT BELANJA 111.432.113 37.354.372 (29.859.921) (68.798.842) 3.773.771
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 3 Hal - 31
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
Selanjutnya Tabel 3.12 menunjukkan bahwa realisasi pengeluaran pembiayaan selama tahun 2006-2010 juga sebagian besar berasal dari SiLPA tahun anggaran berkenaan, sebagian lagi berasal dari penyertaan modal atau investasi pemerintah daerah dan pembanyaran utang pokok. Selisih dari penerimaan pembiayaan daerah dengan pengeluaran pembiayaan adalah pembiayaan netto. Realisasi pembiayaan netto pada tahun 2006 mengalami defisit sebesar Rp 111,432 milyar, tahun 2007 sebesar Rp 37,354 milyar dan tahun 2010 sebesar Rp 3,774 milyar, hanya tahun 2008 dan tahun 2009 pembiayaan netto mengalami surplus masing-masing sebesar Rp 29,860 milyar dan Rp 68,799 milyar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembiyaan APBD Kabupaten Tanjung Jabung Barat selama kurun waktu 2006-2010 sangat tergantung pada SiLPA, baik SiLPA tahun anggaran sebelumnya maupun tahun berkenaan. Oleh karena itu kedepan perlu dikembangkan sumber pembiayaan pembangunan melalui penyertaan modal perusahaan yang mempunyai prospek yang baik melalui BUMD atau pembentukan dana cadangan ataupun investasi pada sector-sektor ekonomi yang menguntungkan, sehingga sumber pembiayaan pembangunan menjadi lebih variatif. Adapun kebijakan penerimaan dan pengeluaran pembiayan pada 5 tahun kedepan (tahun 2011-2016) adalah sebagai berikut:
1. Kebijakan Pembiayaan Daerah
Pembiayaan ditetapkan untuk menutup defisit yang disebabkan oleh lebih besarnya belanja daerah dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh. Penyebab utama terjadinya defisit anggaran adalah adanya kebutuhan pembangunan daerah yang semakin meningkat dan relative kurang diimbangi dengan sumber-sumber pembiayaan yang beragam dan pasti. Untuk Kebijakan diarahkan pada Pembiayaan Daerah yang meliputi penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 3 Hal - 32
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
2. Kebijakan Penerimaan Pembiayaan
Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya, mencakup : sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA); pencairan dana cadangan; hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; penerimaan pinjaman daerah; penerimaan kembali pemberian pinjaman; dan penerimaan piutang daerah.
Pengeluaran pembiayaan adalah pengeluaran yang akan diterima kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya, mencakup : pembentukan dana cadangan; penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah; pembayaran pokok utang; dan pemberian pinjaman daerah. Adapun Kebijakan pengeluaran pembiayaan Kabupaten Tanjung Jabung Barat selama tahun 2011-2016 sbb :
1. Pengeluaran pembiayaan direncanakan untuk pembayaran hutang pokok yang jatuh tempo, penyertaan modal pada BUMD, Bank Jambi, BPR Tanggo Rajo dan sektor-sektor ekonomi yang menguntungkan
2. Penyertaan modal dan pemberian pinjaman akan dilakukan, bila kondisi keuangan memungkinkan (terjadi surplus anggaran).
3. Penyertaan modal pada BUMD harus dibarengi dengan revitalisasi dan restrukturisasi kinerja BUMD dan pendayagunaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan dalam rangka efisiensi pengeluaran pembiayaan termasuk kajian terhadap kelayakan usaha BUMD Jabung Sakti.
Selain itu, arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat terhadap dana masyarakat dan mitra yang merupakan potensi daerah perlu terus dikembangkan dan didorong untuk mendukung proses pembangunan Kabupaten diarahkan melalui upaya menjalin kerjasama yang lebih luas dan meningkatkan partisipasi swasta/masyarakat untuk menarik investor yang ke daerah. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan investasi daerah adalah:
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 3 Hal - 33
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
1. Deregulasi peraturan daerah yang lebih kondusif untuk meningkatkan minat berinvestasi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat;
2. Melakukan kerjasama antara Pemerintah Kabupaten dengan pihak swasta atau dengan pemerintah kabupaten tetangga (Inhil-Riau) yang sangat potensial melalui MoU yang saling menguntungkan.
3. Menyehatkan BUMD Jabung Sakti melalui revitalisasi dan restrukturisasi kinerja BUMD, kemudian memfasilitas kerjasama antara BUMD dengan pihak swasta.
4. Kegiatan investasi lebih diarahkan pada meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, dimana investasi ditujukan pada kegiatan yang dapat melibatkan masyarakat luas (sektor tanaman pangan, kehutanan, perkebunan, peternakan, dan perikanan/kelautan) yang disertai dengan pengembangan industri hilir dan pengolahan yang berbasis potensi lokal.
5. Mendorong peningkatan investasi langsung dari negara lain melalui skema FDI (forein direct investment). Hal ini sangat dimungkinkan mengingat Kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki Sumberdaya alam (migas dan batu bara) dan sumbedaya kelautan yang belum tergarap secara maksimal, terutama batu bara dan kelautan.
6. Mendorong investasi swasta melalui skema investasi fasilitas untuk PMA (Penanaman Modal Asing) dan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negri) dengan berbagai kemudahan dengan pelayanan yang prima. Bahkan bila memungkinkan akan diterapkan taxe holiday.
7. Mendorong investasi masyarakat local di berbagai sector, terutama pada upaya pengembangan potensi lokal yang berbasis ketahanan pangan dan mempunyai nilai tambah yang tinggi.
8. Khusus pengembangan ekonomi kerakyatan, investasi lebih diarahkan pada pemberdayaan masyarakat melalui pemanfataan sumber pendanaan yang murah (KUR dan KUPEM dan CSR).
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 3 Hal - 34