Analisis Isu-Isu Strategis Analisa isu-isu strategis Rencana Pembangunan Jangka Menengah
4.1. Permasalahan Pembangunan
4.1.1. Bidang Infrastruktur Daerah
4.1.3.1. Keuangan Daerah
Permasalahan pokok yang dihadapi bidang keungan daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat antara lain :
1. Penerimaan PAD Kabupaten Tanjung Jabung Barat selama lima tahun terakhir (2005-2010) masih didominasi oleh penerimaan yang bersumber dari Lain-Lain Pendapatan Asli daerah. Sementara komponen ini bersifat temporer (penjualan asset, jasa giro, pendapatan bunga dll). Sedangkan yang bersumber dari potensi daerah dan bersifat permanen seperti pajak dan retribusi daerah kontribusinya relatif masih kecil, yaitu masing-masing 11,17 % dan 24,86 % pada tahun 2010.
2. Secara umum Pendapatan Asli Daerah (PAD) selama lima tahun terakhir mengalami peningkatan dari Rp 15,037 milyar pada tahun 2005 meningkat menjadi Rp 23,574 milyar pada tahun 2010. Namun bila dibandingkan dengan realisasi penerimaan dari dana perimbangan masih jauh lebih
kecil (rata-rata kontribunsinya 3.76 %). Kondisi ini mengindikasikan bahwa
tingkat ketergantungan daerah terhadap pemerintah pusat masih sangat tinggi (rata-rata 95 % pertahun) dan secara absolut dana perimbangan yang diterima terus meningkat. Hal ini mencerminkan bahwa sumber pembiayaan daerah ini masih mengharapkan dari pemerintah pusat.
3. Masing-masing SKPD yang mempunyai sumber pendapatan (RSUD, Dinas pertanian, perkebunan, Dinas pekerjaan umum, Dinas perhubungan pariwisata dll) belum mampu menggali potensi secara maksimal sehingga kontribusinya relatif masih kecil terhadap total PAD.
4. Masih rendahnya kesadaran masyarakat wajib pajak dalam membayar kewajibannya, terutama untuk Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan BBN-KB sebagi salah satu sumber pembiayaan pembangunan daerah.
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 4 Hal - 8
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
5. Masih rendahnya kualitas SDM di bidang keuangan daerah, sehingga kurang inovasi dan relatif lemah dalam mengimplementasikan suatu kebijakan ataupun peraturan yang baru.
6. Salah satu potensi pendapatan daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah bersumber dari BUMD dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR Tanggo Rajo). Bahkan Kabupaten Tanjung Jabung Barat telah selangkah lebih maju, terutama dalam pemanfaatan energi gas buang menjadi energi listrik (PT. Jabung Power) yang mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Gas, dimana Pemda sebagai pemegang saham sebesar 20 %. Namun semua badan usaha tersebut belum mampu memberikan kontribusi yang berarti terhadap peningkatan Pendapatan Asi Daerah.
4.1.3.2. Pertanian
Permasalahan pokok yang dihadapi di bidang Pertanian dalam arti luas di Kabupaten Tanjung Jabung Barat antara lain :
1. Masih belum berkembangnya sektor hilir (agroindustri) sehingga nilai tambah sektor pertanian relatif masih rendah, terutama untuk komoditas unggulan (sawit, kelapa dalam, kopi, pinang dan hasil periakanan laut). 2. Rendahnya pendapatan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani
(NTP) masih dibawah 100 (98,54) tahun 2009. Angka ini menunjukkan bahwa kemampuan daya beli petani di Kabupaten Tanjung Jabung Barat masih rendah, karena rendahnya pendapatan.
3. Setiap tahun lahan–lahan potensi tanaman pangan dan hortikultura terjadi alih fungsi (konversi) ke subsektor lain seperti perkebunan sawit, sehingga luas lahan pertanian pangan dan hortikultura cenderung berkurang.
4. Rendahnya produktivitas di subsektor tanaman pangan dan holtikultura, terutama di daerah rawa/ pasang surut yang disertai dengan kualitas produksi yang rendah, terutama beras. Hal ini disebabkan belum
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 4 Hal - 9
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
optimalnya penggunaan teknologi dan terbatasnya mesin perontok gabah dan lantai jemur.
5. Adanya kecenderungan stagnan kinerja penyuluh pertanian yang disertai dengan belum optimalnya pemanfaatan teknologi pertanian dan alokasi kredit (petani dan nelayan) untuk mendukung usaha relatif masih kecil. 6. Masih rendahnya pertambahan populasi ternak setiap tahun, yaitu hanya
sekitar 300 ekor. Sementara kapasitas tampung mencapai 1000 ekor. 7. Menyempitnya areal wilayah tangkapan nelayan tradisional, karena
peralatan/kapal dan teknologi yang dimiliki nelayan bermodal jauh lebih modern, sehingga sangat mempengaruhi jumlah tangkapan nelayan. 8. Pengelolaan sumberdaya perikanan laut belum dilakukan secara optimal
dibanding potensi lestarinya., sehingga produksinya masih rendah.
9. Rendahnya kualitas SDM nelayan dan penguasaan teknologi serta terbatasnya akses nelayan terhadap sumber permodalan sehingga usaha pembudidayaan ikan belum mencapai skala usaha.
10. Tingginya tingkat kerusakan dari produksi perikanan, karena belum tersedianya coldstroge untuk penyimpanan dan angkutan perikanan tersebut ke daerah pemasaran.
11. Terbatasnya sarana dan prasarana penunjang usaha perikanan, seperti armada penangkapan, cold storge, jenis alat tangkap.
12. Merebaknya pencurian ikan dan terjadinya over fishing, serta pola penangkapan yang merusak ekosistem pesisir dan laut.
13. Masih ada oknum masyarakat yang menggunakan alat tangkap ikan terlarang seperti menggunakan tuba/setrum dan pencurian ikan di laut oleh Kapal Asing, sehingga merusak ekosistem dan biota laut.
14. Aplikasi teknologi budidaya ikan belum merata, sehingga produksi budidaya belum memenuhi standar ekspor dari segi kualitas, kuantitas dan kontinuitas.
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 4 Hal - 10
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
15. Pengembangan usaha budidaya sebagian masih berpencar, belum menerapkan konsep kawasan sehingga sangat menyulitkan dalam pembinaan dan pengawasan.
16. Terbatasnya tenaga penyuluh teknologi perikanan, khususnya tenaga pendamping teknologi yang berada di lapangan.
17. Tingkat keterampilan dan pendidikan nelayan dan pembudidaya ikan, terutama budidaya air payau masih rendah, pengetahuan secara umum diperoleh dari pengalaman menbantu orang tua yang tidak tersentuh dengan kemajuan teknologi.
18. Produksi dan kelestarian perikanan laut menghadapi tantangan adanya penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan terutama untuk jenis-jenis ikan langka yang mempunyai harga jual tinggi.
19. Masih cukup tingginya keluarga miskin dan termasuk dalam keluarga petani miskin dengan kategori mempunyai pendapatan yang rendah dari hasil usaha pertanian, perikanan dan perkebunan
20. Rendahnya efisiensi usaha, masih sangat terbatasnya permodalan akan mempangaruhi daya saing produk-produk pertanian di pasaran.
21. Jaminan penyediaan dan aksesibilitas masyarakat pertanian, perikanan, dan kehutanan terhadap input produksi (pakan, pupuk, dan benih).
4.1.3.3. Agroindustri
Permasalahan pokok yang dihadapi di bidang Agroindustri Kabupaten Tanjung Jabung Barat antara lain :
1. Belum berkembangnya industri hilirnya (agroindustri), sehinga nilai tambah dan daya saingnya di pasaran relatif rendah
2. Rendahnya nilai tukar produk pertanian karena dijual dalam bentuk bahan primer seperti pengolahan sawit yang baru hanya sebatas menjadi minyak sawit mentah (Crude Palm Oil), karet hanya menjadi lateks, kopi dalam bentuk biji demikian juga terhadap komoditi pinang dan kelapa dalam.
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 4 Hal - 11
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
3. Keterbatasan informasi tentang teknologi dan perhatian pemerintah terhadap peningkatan nilai tambah relatif kecil jika dibandingkan dengan upaya produksi hasil pertanian.
4. Tingginya tingkat kehilangan hasil pascapanen, mutu hasil olahan yang masih rendah, tingkat efisiensi dan efektifitas hasil yang masih rendah nilai jual yang kurang kompetitif dan penampakan hasil (keragaan hasil) yang belum memuaskan (terutama masalah pengkemasan, pewarnaan, pengawetan dan pelabelan).
5. Dari segi teknis tidak berkembangnya agroindustri dikarenakan (a) Tingkat pengetahuan penerapan teknologi pengolahan hasil masih sangat terbatas (b) Kurangnya tenaga yang terampil (Techknical Skill) dalam mengoperasikan alat mesin pengolahan (c) Dukungan perbengkelan untuk perbaikan, perawatan dan penyediaan suku cadang alat mesin masih rendah (d) Introduksi beberapa teknologi belum sesuai dengan kebutuhan petani.
6. Secara sosial tidak berkembangnya agroindustri karena (a) Kebiasaan petani mengolah secara tradisional dan menyulitkan penerapan teknologi yang baik dan benar (b) Teknologinya diterima secara turun temurun dan sulit menerima teknologi baru dan (c) Terbatasnya akses informasi masyarakat tentang teknologi pengolahan
7. Dari aspek ekonomi tidak berkembangnya agroindustri dikarenakan (a) Daya beli petani terhadap teknologi pengolahan rendah (2) Harga alsin pengolahan relatif mahal, sehingga kurang efisien (3) Belum tersedianya skim kredit khusus untuk pengadaan alsin.
8. Belum terbentuknya jejaring pemasaran produk-produk olahan, sementara daerah tetangga yang menjadi pesaing sudah memiliki pasar yang permanen produk olahan tertentu.
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2011 - 2016
BAB 4 Hal - 12
Kabupaten Tanjung Jabung Barat
9. Rendahnya kapasitas petani (pelaku agroindustri), kurangnya pembinaan dan terbatasnya akses terhadap lembaga keuangan untuk mendapatkan permodalan.