Setiap kabupaten dapat menentukan kawasan strategis daerah untuk kepentingan ekonomi, lingkungan hidup, dan lain-lain sebagaimana dinyatakan dalam UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Wilayah Kabupaten TTU memiliki beberapa keunikan yang belum dikembangkan. Keunikan tersebut berkaitan dengan letak kota Kefamenanu yang strategis, Kabupaten TTU berbatasan dengan Timor Leste, wilayah pesisir yang cukup potensial untuk dikembangkan sesuai potensi unggulan yang tersedia. Selain itu, suaka alam pegunungan Mutis dan DAS Banain sebagaimana ditetapkan dalam PERDA Kabupaten TTU Nomor 19 tahun 2008 tentang RTRW Kabupaten TTU tahun 2008-2028.
a) Lemahnya Penataan Ruang Kota Kefamenanu
Kota Kefamenanu yang berada tepat di tengah pulau Timor, namun belum dikembangkan dengan baik sehingga belum menjadi salah satu kota terkemuka yang dapat menjadi tempat yang nyaman dan menarik bagi orang untuk transit. Kondisi tersebut terjadi karena belum tertatanya aspek fisik perkotaan yang meliputi pemukiman penduduk, dan belum optimalnya utilitas lingkungan perkotaan.
Aspek sosial yang belum tersentuh adalah adanya polarisasi penduduk berdasarkan etnis sehingga mudah menyulut konflik sosial. Selain itu, perekonomian di kota kefamenanu yang dikuasai oleh etnis tertentu mengakibatkan masyarakat TTU dan juga masyarakat pendatang tidak nyaman untuk transit di Kota Kefamenanu. Kondisi lain yang semakin membuat Kota Kefamenanu kurang nyaman adalah karena tidak adanya ruang publik untuk berekspresi sehingga masyarakat memilih berekspresi pada berbagai tempat sesuai dengan keinginan.
b) Lemahnya Pengembangan Kawasan Pesisir
Kabupaten TTU memiliki garis pantai sepanjang 50 Km yang berada di pantai utara. Kawasan pesisir tersebut berbatasan dengan Kabupaten Belu dan wilayah Timor Leste. Kawasan pesisir memiliki kekhasan tersendiri karena merupakan pertemuan antara ekosistem laut dan ekosistem darat sehingga memiliki potensi pertanian dan perikanan dengan segala kompleksitas yang ada. Apalagi wilayah pesisir tersebut selalu dilintasi oleh masyarakat Timor Leste baik melalui darat, laut, maupun udara.
Namun, belum ada perencanaan secara terpadu yang dapat mengoptimalkan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir. Perencanan terpadu selama ini, dilakukan khusus Wini sebagai kota satelit, padahal wilayah pesisir di Kabupaten TTU terdiri dari tiga kecamatan, yakni: Kecamatan Insana Utara, Kecamatan Biboki Moenleu, Kecamatan Biboki Anleu.
c) Lemahnya Akses di Wilayah Perbatasan
Batas darat wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Timor Leste secara keseluruhan sepanjang 268,8 km. Perbatasan darat ini terdiri atas batas sektor timur yakni Kabupaten Belu dengan district Covalima (149,1 Km) sedangkan sektor barat yang berbatasan antara Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Kupang dengan district Oekusi (119,7 km) yang merupakan wilayah enclave karena berada diantara wilayah Indonesia. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste terdapat pada 8 kecamatan yang berbatasan darat, yakni: Kecamatan Insana Utara, Kecamatan Naibenu, Kecamatan Bikomi Utara, Kecamatan Bikomi Tengah, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kecamatan Mutis, Kecamatan Musi dan Kecamatan Miomaffo Barat. Panjang lintas batas antara Kabupaten TTU dengan Timor Leste adalah sepanjang 104,5 km.
Pada garis perbatasan darat tersebut, terdapat 6 (enam) titik bermasalah yang belum terselesaikan. Sedangkan dampak negatif dalam bidang ekonomi Kabupaten TTU adalah terjadinya high cost economic apabila masyarakat ingin berinteraksi dengan masyarakat district enclave Oekusi (misalnya: pemasaran produk) karena harus melalui perizinan sesuai ketentuan hukum internasional. Hal ini selanjutnya menimbulkan black market di wilayah perbatasan yang dilakukan oleh pelaku ekonomi wilayah perbatasan, baik oleh rumahtangga petani, pedagang di kota maupun pihak lainnya untuk saling memenuhi kebutuhan hidup maupun dengan alasan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan memperdagangkan produknya ke tempat lainnya di dalam negeri. Oleh karena itu, pengelolaan wilayah perbatasan menjadi isu strategis yang menjadi perhatian untuk dapat mengatur pergerakan arus (lalulintas) orang dan barang antar negara yang dapat menguntungkan kedua negara tanpa mengabaikan hukum internasional dan budaya lokal.
d) Lemahnya Pengelolaan Keseimbangan Ekosistem Secara Terpadu Pegunungan Mutis merupakan kawasan yang ditetapkan sebagai suaka alam karena pegunungan tersebut memiliki keanekaragaman plasmanutfah dan tersedia sumber air dengan debit besar dan mengairi
DAS Benenain, Kabupaten TTS, TTU, Belu dan DAS Noelmina yang mengairi Kabupaten Kupang, dan juga mengairi wilayah District Enclave Oekusi. Apabila Suaka Alam Pegunungan Mutis tidak dikelola secara terpadu maka akan menyebabkan kelimpahan air pada wilayah DAS pada musim hujan yang selanjutnya akan mengakibatkan banjir baik di wilayah hulu, tengah, maupun hilir. Oleh karena itu, pengelolaan secara terpadu terhadap Suaka Alam Mutis perlu dipadukan dengan wilayah DAS Banain yang melintasi Kabupaten TTS (hilir), Kabupaten TTU (tengah), Kabupaten Belu (hilir).
Isu-isu strategi pada level internasional, nasional, provinsi, regional dan lokal tersebut secara ringkas dapat direkap pada tabel berikut.
Tabel 4.7. Rekapitulasi Isu-Isu Strategis
N
o Internasional Nasional Provinsi Regional Lokal 1 Menanggulang i kemiskinan dan kelaparan Pembanguna n wilayah perbatasan dan kerja sama dengan negara-negara yang berbatasan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kualitas Sumberdaya Manusia Pengelolaan Lingkungan Hidup Tingginya angka kemiskinan 2 Mencapai pendidikan dasar untuk semua Kualitas sumberdaya manusia dan tingkat kemiskinan Pemberdayaa n Ekonomi Rakyat Pemberdayaa n Ekonomi Melemahnya ekonomi berbasis pertanian
N
o Internasional Nasional Provinsi Regional Lokal 3 mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan Jaringan transportasi dan akses yang terbatas Keterbatasan Jaringan Transpotasi dan Akses Rendahnya kualitas sumberdaya manusia Rendahnya pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup 4 Menurunkan angka kematian anak Produktivitas ekonomi yang rendah Pembangunan Kawasan Perbatasan Pembangunan wilayah perbatasan Rendahnya kualitas sumberdaya manusia 5 Meningkatkan kesehatan ibu Pemanfaatan ruang yang berwawasan lingkungan Minimnya pelayanan Infrastruktur 6 Memerangi penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya Penegakan hukum Pelanggaran HAM dan ketimpangan gender 7 Kelestarian lingkungan hidup Rendahnya pelayanan publik 8 Membangun kemitraan global dalam pembangunan Permasalahan olahraga dan kepemudaan 9 Belum berkembangny a kawasan strategis daerah
Sumber Data: Hasil Olahan Dari Data Primer
Setelah melakukan inventaris terhadap Isu-isu tersebut, dapat dikatakan bahwa umumnya terdapat beberapa kesamaan isu strategis pada berbagai level. Namun terdapat perbedaan penekanan penanganan isu-isu strategis tersebut pada berbagai level dan wilayah disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembobotan terhadap isu-isu strategis tersebut agar pemerintah Kabupaten TTU mengetahui dengan pasti prioritas isu strategis di kabupaten TTU.
Berdasarkan penilaian isu strategis sesuai kriteria yang telah ditetapkan dalam Permendagri Nomor 54 tahun 2010, maka diperoleh prioritas isu-isu strategis daerah Kabupaten Timor Tengah Utara adalah sebagai berikut:
1. Pemasalahan kemiskinan
2. Pembangunan ekonomi belum berbasis ekonomi kerakyatan
3. Rendahnya Kualitas Sumberdaya manusia
4. Minimnya pembangunan infrastruktur
5. Rendahnya Kualitas Pelayanan Publik
6. Rendahnya pembangunan yang berwawasan lingkungan
7. Pelanggaran HAM dan ketimpangan gender
8. Belum berkembangnya kawasan strategis daerah
Sebagian penduduk Kabupaten TTU berada pada kategori miskin, kemiskinan tersebut diakibatkan oleh kurang tersedianya lapangan kerja yang dapat memberikan penghidupan yang layak. Meskipun sekitar 90 % tenaga kerja di Kabupaten TTU merupakan tenaga kerja yang terserap pada lapangan kerja, namun terjadi pengangguran terselubung, dimana terdapat sekitar 70 % merupakan pekerja yang tidak diupah. Kondisi tersebut selanjutnya mengakibatkan tingginya angka kemiskinan karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok. Selain itu, rendahnya produksi dan produktivitas hasil pertanian serta rendahnya posisi tawar petani dalam penentuan harga produk pertanian juga turut memberikan kontribusi terhadap tingginya angka
Sejak tahun 2008 terjadi konversi lahan pertanian menjadi lahan pertambangan karena banyaknya investor yang menanamkan modalnya pada sektor pertambangan. Padahal sekitar 70 % masyarakat TTU berprofesi sebagai petani. Meskipun terjadi migrasi tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor pertambangan, namun tidak mensejahterakan masyarakat. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kebijakan ekonomi tidak pro terhadap ekonomi kerakyatan. Padahal kegiatan pertambangan, meskipun dikelola dengan baik sekalipun tidak akan mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Apalagi, bila kegiatan pertambangan tidak memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan sebagaimana dilakukan selama ini.
Akumulasi dari kedua kondisi tersebut bersumber dari rendahnya kualitas sumberdaya manusia masyarakat TTU sehingga tidak mampu melakukan usahatani dengan tepat dan juga melakukan usaha-usaha produktif lain yang dapat meningkatkan pendapatan. Selain itu, status gizi masyarakat TTU yang tergolong rendah karena pola hidup sehat dan kualitas lingkungan yang diperparah oleh minimnya prasarana dan sarana serta minimnya kuantitas dan kualitas paramedis yang berdampak pada rendahnya kuantitas dan kualitas output yang dihasilkan oleh masyarakat TTU pada setiap sektor ekonomi.
Kondisi tersebut berdampak pada lemahnya partisipasi masyarakat, khususnya pemuda dalam pembangunan di Kabupaten TTU. Padahal pemuda merupakan tulang punggung pembangunan bangsa yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan, antara lain dalam aspek olahraga yang biasa dipartisipasi oleh pemuda. Melalui penyelenggaraan event-event olahraga berskala lokal, regional, nasional bahkan internasional di Kabupaten TTU diharapkan dapat melahirkan olahragawan berprestasi yang dapat mengharumkan nama Kabupaten TTU. Sebagaimana, saat ini ditunjukkan oleh beberapa pemuda TTU yang mengharumkan nama daerah lain yang lebih sering menyelenggarakan event dan pembinaan olahraga.
Masyarakat TTU tidak akan keluar dari lingkaran kemiskinan tersebut bila ternyata masyarakat memiliki akses yang terbatas terhadap prasarana dan sarana kesehatan dan pendidikan. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan kurang tersedianya prasarana dan sarana transportasi yang mengakibatkan masyarakat mengalami kesulitan dalam mengakses prasarana dan sarana kesehatan, pendidikan, dan lainnya.Masalah kemiskinan ini dapat berdampak pada
munculnya kriminalitas di sekitar masyarakat, seperti pencurian, pembunuhan, kekerasan dalam rumahtangga yang umumnya mengorbankan wanita dan anak-anak, dan sebagainya. Selain itu, masalah sosial pun dapat muncul bahkan di tingkat keluarga, seperti eksploitasi anak-anak untuk membantu rumahtangga memenuhi kebutuhan rumahtangga. Hal ini dapat berupa putusnya sekolah anak-anak untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Berbagai permasalahan tersebut membuktikan bahwa penegakan hukum di Kabupaten TTU belum menunjukkan perhatian yang cukup serius terhadap penegakan hak asasi manusia (HAM).
Lingkaran kemiskinan dan berbagai dampak yang ditimbulkan tersebut, diperparah oleh tidak optimalnya peran pemerintah sebagai regulator dan fasilitator dalam memberikan pelayanan publik. Kinerja pemerintah yang kurang optimal tersebut terjadi karena secara kelembagaan masih terdapat tumpang-tindih tugas, ditambah lagi sumberdaya aparatur masih tergolong rendah, serta lemahnya reward and punishment.
Pembangunan pada berbagai tingkatan wilayah dapat berkembang baik bila dapat menentukan dan mengembangkan kawasan strategis yang dapat menjadi penggerak ekonomi bagi wilayah pusat dan hinterland. Oleh karena itu, Kabupaten TTU perlu menetapkan dan mengembangkan kawasan strategis daerah yang dapat menggerakkan perekonomian di Kabupaten TTU. Kota Kefamenanu sebagai pusat pelayanan selama ini, hanya ditata dari aspek fisiknya, meskipun demikian masih menyisakan berbagai masalah fisik perkotaan, misalnya masih terdapat daerah kumuh di perkotaan, serta minimnya utilitas lingkungan yang dapat mengurangi fungsi sebuah kota. Aspek lain dari pengembangan Kota Kefamenau yang luput dari perhatian adalah aspek sosial dan ekonomi. Kondisi tersebut mengakibatkan masyarakat TTU maupun pendatang tidak merasa nyaman untuk beraktivitas di Kota Kefamenanu. Dampak selanjutnya terjadinya kebocoran wilayah karena sumberdaya finansial yang dimiliki oleh masyarakat TTU lebih banyak dibelanjakan di daerah lain sehingga multiplier efeect lebih dirasakan oleh masyarakat pada daerah lain dibanding oleh masyarakat TTU. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan terpadu Kota Kefamenanu beserta daerah hinterland yang mencakup aspek fisik, ekonomi dan sosial.
Wilayah lain di Kabupaten TTU yang dapat dikembangkan sebagai kawasan strategis karena pertimbangan ekonomi adalah kawasan pesisir pantai
utara. Ekosistem yang unik karena merupakan pertemuan antara ekosistem laut dan ekosistem darat menjadi suatu alasan mendasar. Lokasi yang cukup strategis karena dapat dijangkau dari Kota Kefamenanu, Kota Atambua (Kabupaten Belu), District Oekusi (Timor Leste) juga merupakan suatu dasar betapa pentingnya perencanaan terpadu terhadap wilayah ini. Perencanaan terpadu yang selama ini dilakukan, khusus pada Wini sebagai Kota Satelit, namun belum berfungsi baik sebagai penyangga bagi Kota Kefamenanu karena wilayah-wilayah sekitar yang memiliki ekosistem (potensi) sama belum direncanakan secara terpadu. Oleh karena itu, bila wilayah pesisir pantai utara di Kabupaten TTU direncanakan secara terpadu akan memberikan effect yang lebih besar terhadap pengembangan ekonomi masyarakat TTU.
Kawasan strategis daerah dapat juga ditetapkan dengan pertimbangan berdasarkan kesamaan aspek sosial, budaya sebagaimana dinyatakan dalam UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Wilayah perbatasan sebagai wilayah yang memenuhi kriteria tersebut, dimana masyarakat TTU dan Masyarakat District Oekusi (Timor Leste) merupakan masyarakat satu suku (dawan) sehingga memiliki budaya yang sama sehingga selalu beinteraksi meskipun dipisahkan oleh batas negara. Meskipun bersaudara, namun persoalan batas negara menyisakan 6 (enam) titik yang belum disepakati sehingga kadang menimbulkan konflik pada titik-titik tersebut. Oleh karena kompleksnya permasalahan wilayah perbatasan disertai dengan keunikan wilayah perbatasan di Kabupaten TTU, dimana terdapat District Oekusi (Timor Leste) yang enclave di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka perlu perencanaan wilayah perbatasan Kabupaten TTU dengan district enclave Oekusi secara terpadu. Wilayah strategis lainnya yang menjadi prioritas adalah kawasan suaka alam pegunungan Mutis disertai dengan DAS yang melintasi wilayah TTU (DAS Banain), dimana sumber airnya pun berasal dari pegunungan Mutis. Apabila pengelolaan tidak dilakukan secara terpadu, akan menyebabkan rusaknya ekosistem yang berfungsi sebagai penjaga keseimbangan lingkungan di TTU, bahkan Pulau Timor secara keseluruhan.