• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bengkel Fabrikasi

Dalam dokumen smk11 TeknikKonstruksiKapalBaja Indra (Halaman 159-163)

dengan jumlah penumpang cukup di dalam sekoci pada saat diluncurkan

BAB XVIII STABILITAS

A. Bengkel Fabrikasi

Fabrikasi merupakan tahap awal dari manufaktur. Proses fabrikasi dilakukan di bengkel fabrikasi yang memproduksi komponen-komponen untuk konstruksi lambung kapal (hull construction). Material pelat dan profil yang masuk ke bengkel fabrikasi terlebih dahulu diblasting untuk menghilangkan lapisan millscale yang ada pada lapisan material. Dalam proses blasting digunakan cast steel grit dengan ukuran HG 25 (mampu digunakan 20 kali blasting, harga mahal), selain dapat juga digunakan pasir silica atau pasir bangka (hanya mampu digunakan 2 kali blasting, harga murah). Setelah diblasting kemudian material dicat dasar (Shop primering) dengan ketebalan 18 – 25 micrometer agar tidak rusak dalam proses fabrikasi. Cat ini untuk melindungi material dari korosi mampu bertahan antara 3 – 12 bulan (bersifat sementara). Untuk proses pengerjaan blasting dan primering dibawah pengawasan bengkel cat. Setelah diblasting dan diprimering baru bisa diproses di bengkel fabrikasi. Proses fabrikasi terdiri dari Straightening, marking, cutting dan forming. Sebelum proses tersebut dilakukan terlebih dahulu mengidentifikasi material sudah diklasifikasikan atau belum (mengecek number pelate dengan daftar yang terdapat pada class tersebut). Setelah selesai diidentifikasi maka pihak klasifikasi tersebut akan menandatangani pemeriksaan pelat tersebut.

Teknik Konstruksi Kapal 377 Proses pengerjaan material :

1. Pelurusan ( Straightening )

Dalam proses pengangkutan material baik pelat ataupun profil dari pabrik maupun dari gudang penyimpanan material kadang terjadi deformasi ataupun bengkok karena benturan atau yang lainnya, hal ini akan mempersulit proses marking dan pemotongan yang dapat menyebabkan kurangnya akurasi dalam marking maupun pemotongan. Untuk meluruskan pelat digunakan mesin roll yang dapat memberikan tekanan pada bagian yang deformasi maupun tertekuk, sedangkan untuk profil digunakan mesin tekuk.

2. Penandaan ( Marking )

Setelah material tersebut siap diproses maka juru marking ( marker ) harus mencocokan pelat atau profil yang akan dimarking. Jika sesuai maka dapat dilakukan.

Peralatan yang biasa digunakan untuk marking adalah :

c)

Sipatan

d)

Working Pen

e)

Benang

f)

Penggaris siku

g)

Busur derajat

h)

Center punch (penitik)

i)

Dan alat bantu lainnya Langkah-langkah pengerjaan :

1)

Pelat diletakkan diatas lantai yang rata dan dicek apakah material itu sesuai dengan material yang ada (identifikasi material).

2)

Siapkan cutting plan. Cutting plan ini berguna untuk meminimalisir material sisa.

3)

Sebelum dimarking maka pelat tersebut dibersihkan dengan sapu agar kapur dapat melekat betul.

4)

Persiapan alat-alat kerja.

5)

Pelaksanaan marking

Setiap bagian material yang telah di marking harus diberi nama dengan jelas agar tidak tertukar atau keliru dengan material lain pada saat perakitan. Nama tersebut disesuaikan dengan kode yang tercantum di material list dan marking list, nama tersebut mencakup nomor kapal, nomor blok, posisi marking.

Teknik Konstruksi Kapal 378

3. Pemotongan ( Cutting )

Proses ini merupakan pemotongan material-material yang telah dimarking. Apabila marking tersebut telah disetujui oleh QA (Quality Assurance) maka pemotongan dapat dilakukan.

Dalam proses pemotongan banyak faktor yang mempengaruhi hasil pemotongan, misalnya :

1. Operator, keahlian operator sangat berperan penting dalam menentukan kualitas hasil potongan. Hal ini sangat terlihat sekali pada proses pemotongan dengan manual (brander). 2. Mesin pemotong yang digunakan yaitu mengenai akurasi

pemotongan pada mesin tersebut. Apabila hasil proses pemotongan kurang halus maka dilakukan penghalusan dengan gerinda.

Kebanyakan hasil dari setiap proses pemotongan digerinda agar dalam proses berikutnya lebih mudah dan cepat. Kemudian material hasil proses pemotongan jika memerlukan pembentukan (bagian yang lengkung) maka langsung dibending atau roll maupun fairing. Material yang tidak memerlukan pembentukan masuk ke bengkel assembly untuk diproses penggabungan dengan komponen lain, proses ini disebut proses sub assembly.

4. Pembentukan ( Forming)

Banyak bagian kapal yang berupa lengkungan, maka dari itu proses forming sangat diperlukan dalam pembuatan kapal. Berdasarkan proses pengerjaan, proses forming dibagi menjadi 2 jenis yaitu :

a. Mechanical Forming

Alat yang digunakan untuk mechanical forming ini terdiri dari mesin tekuk (Press dan Press Brake) dan mesin roll. Mesin tekuk digunankan untuk bending, Straightening dan membentuk flens pada pelat. Mesin roll digunakan untuk membuat bentuk curva silinder atau curva kerucut dengan radius tertentu. Selain itu dapat juga membuat lingkaran penuh untuk komponen berbentuk lingkaran seperti stern tube, mast dan boom. Untuk proses bending pelat akan diperoleh hasil yang lebih bagus dengan mesin roll daripada mesin tekuk, karena jika dilakukan dengan mesin tekuk maka bekas bagian yang ditekuk tersebut akan kelihatan sedangkan jika menggunakan mesin roll tidak kelihatan.

Mechanical forming disini hanya dalam bentuk 2 dimensi saja untuk hasil akhir (bentuk 3 dimensi) maka harus dilakukan

Teknik Konstruksi Kapal 379 proses lagi yang disebut fairing. Proses yang sering dilakukan adalah pembentukan kulit lambung dan pembentukan frame.

x Membending suatu pelat

Untuk membending suatu pelat digunakan mesin tekuk. Setiap pelat yang akan dibending harus disertai dengan rambu. Rambu ini digunakan sebagai acuan batas kelengkungan yang diinginkan. Setiap rambu dicocokkan dengan setiap frame kemudian dilakukan penandaan pada pelat dimana yang memerlukan bending. Setelah itu pelat dibending dengan menggunakan alat bending vertikal.

x Meluruskan atau membengkokkan frame

Frame yang ada pada kapal tidak semuanya lurus tetapi ada juga yang berbentuk lengkung, maka dari itu untuk membengkokkan frame tersebut dilakukan bending agar bentuk frame tersebut sesuai dengan bentuk kapal. Untuk membentuk frame tersebut dilakukan bending secara horizontal karena kekuatan bending secara horizontal mempunyai kekuatan yang lebih besar. Sebagai acuan dalam proses bending adalah bila garis marking yang pada awalnya berbentuk lengkung pada salah satu sisi frame tersebut akan menjadi garis lurus maka lengkungan tersebut telah sesuai dengan yang diinginkan.

b. Thermal Forming

Proses ini dilakukan untuk membuat bentuk-bentuk 3 dimensi atau penyempurnaan bentuk dari pelat yang telah dibending dengan mesin tekuk ataupun mesin roll. Fairing dilakukan jika bentuk yang diinginkan tidak bisa dikerjakan dengan mesin-mesin yang ada. Proses ini tidak hanya membuat lengkung 3 dimensi tetapi dapat juga meluruskan bagian pelat yang deformasi akibat pengelasan. Proses fairing sangat tergantung dengan type material, tebal pelat, proses panas yang terjadi dan proses pendinginan.

Proses pemanasan dan pendinginan yang terjadi sangat tergantung dari

x Type torch tip dan ukurannya

x Jarak antara torch tip dan pelat

x Kecepatan torch tip

x Metode pendinginan (air atau udara)

x Rata-rata pendinginan yang terjadi

Teknik Konstruksi Kapal 380 Pada proses ini dibutuhkan keahlian dan ketrampilan yang cukup karena tidak ada metode yang baku dalam proses pengerjaannya. Bengkel fabrikasi ini akan menghasilkan komponen-komponen yang digunakan dalam sub assembly pada bengkel assembly.

Dalam dokumen smk11 TeknikKonstruksiKapalBaja Indra (Halaman 159-163)