• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENTUK ADAPTASI NELAYAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

PERUBAHAN IKLIM

BENTUK ADAPTASI NELAYAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

Sebagai upaya dalam menghadapi perubahan iklim yang terjadi di Pantai Lebih, para nelayan memiliki cara beradaptasi yang beragam. Adaptasi tersebut dilihat dari kebiasaan yang dilakukan oleh nelayan dalam melaut serta penyesuaian yang dilakukan oleh nelayan dalam menghadapi perubahan iklim yang terjadi di Pantai Lebih. Beberapa bentuk adaptasi yang dilakukan oleh nelayan dapat dilihat pada tabel 26 berikut ini:

Tabel 26 Jumlah dan persentase responden berdasarkan bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim

Bentuk adaptasi n %

Diferensiasi Pekerjaan 44 73.33

Pembatasan bahan bakar 43 71.67

Perubahan pola konsumsi 26 43.33

Penyesuaian pekerjaan 41 68.33

Tabel 26 menunjukkan bentuk-bentuk adaptasi yang dilakukan oleh nelayan dalam menghadapi perubahan iklim. Bentuk adaptasi yang banyak dilakukan oleh nelayan dalam menghadapi perubahan iklim adalah diferensiasi pekerjaan (73.33 %) dan pembatasan bahan bakar (71.67 %). Diferensiasi pekerjaan yang dilakukan oleh sebagian besar nelayan adalah mencari pekerjaan lain, seperti menjadi buruh angkut, pemecah batu untuk bangunan (batu split), dan sebagai pedagang ikan segar atau hasil olahan ikan. Sementara itu, nelayan- nelayan yang memiliki modal cukup melakukan pekerjaan alternatif dengan membuka warung makan di pinggir Pantai Lebih. Bentuk adaptasi berikutnya yang dilakukan oleh sebagian besar nelayan adalah dengan melakukan pembatasan jumlah bahan bakar. Pembatasan bahan bakar dilakukan untuk menentukan lama melaut. Beberapa tahun lalu, bahan bakar yang digunakan oleh nelayan dapat membawa mereka untuk melaut selama 6 jam, kini mereka hanya dapat melaut selama 3-4 jam. Dengan membatasi bahan bakar yang digunakan, nelayan dapat menghemat pengeluarannya.

Bentuk adaptasi lainnya yang dilakukan oleh nelayan adalah dengan melakukan penyesuaian pekerjaan. Sebagian besar nelayan (68.33 %) melakukan penyesuaian pekerjaan dengan memanfaatkan waktu menunggu keadaan laut hingga saat yang tepat untuk melaut. Cuaca yang sering tidak jelas membuat nelayan menjadi kesulitan untuk menentukan waktu melaut yang tepat bagi mereka. Apabila mereka tidak melaut tentunya mereka tidak mendapatkan penghasilan dan akhirnya tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal itulah yang membuat nelayan akhirnya mencoba untuk melakukan beberapa penyesuaian diri dengan mencari aktivitas sementara yang bermanfaat pada saat mereka tidak melaut. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah dengan membantu istri mereka dalam mengolah ikan atau menjual ikan, memeriksa keadaan perahu, atau memperbaiki jaring. Ada pula nelayan yang hanya menunggu waktu yang tepat untuk melaut dengan beristirahat atau sekedar mengobrol dengan nelayan lainnya di Pantai Lebih.

Bentuk adaptasi lainnya adalah perubahan pola konsumsi. Tidak seperti bentuk adaptasi lainnya, bentuk adaptasi ini hanya dilakukan oleh sebagian kecil

! 40

nelayan (43.33 %). Para nelayan cenderung untuk mempertahankan pola konsumsinya tersebut. Pola konsumsi terkait dengan jumlah dan waktu mereka makan. Biasanya, seorang nelayan makan sebanyak 3 kali dalam sehari menggunakan nasi dan lauk-pauk. Untuk sarapan, para nelayan biasanya bisa menggantinya dengan jajanan bali, yaitu kue-kue khas dari Provinsi Bali, kecuali apabila mereka akan melaut, mereka akan makan menggunakan nasi dan lauk- pauk agar mereka memiliki tenaga yang cukup pada saat melaut. Menurut mereka, apabila tidak memiliki tenaga yang cukup, mereka akan kesulitan untuk mengarungi laut dan mengangkat jaring yang berisi ikan banyak.

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK NELAYAN DAN ADAPTASI NELAYAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

Terdapat 4 bentuk adaptasi yang dianalisis serta dihubungkan dengan 4 variabel karakteristik nelayan. Bentuk-bentuk adaptasi yang dilakukan nelayan dalam menghadapi perubahan iklim adalah diferensiasi pekerjaan, pembatasan bahan bakar, perubahan pola konsumsi, dan penyesuaian pekerjaan. Sementara itu, variabel karakteristik yang dianalisis adalah umur, tingkat pendidikan, pengalaman melaut, dan status ekonomi. Analisis dilakukan dengan menggunakan tabulasi silang. Setelah itu, untuk mengetahui signifikansi hubungan antara adaptasi dengan karakteristik maka digunakan analisis Rank Spearman.

Hubungan Antara Umur dan Bentuk Adaptasi

Tabel 27 menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan yang berusia 31-50 tahun (86.4 %) dan berumur lebih dari 50 tahun (76.0 %) cenderung melakukan diferensiasi pekerjaan. Sementara itu, hanya sebagian kecil nelayan umur 18-30 tahun (46.2 %) yang melakukan diferensiasi pekerjaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa nelayan dengan umur 18-30 tahun tidak terlalu memerlukan pekerjaan yang baru, sementara nelayan dengan umur 31-50 sudah sangat membutuhkan pemasukan untuk membiayai keluarganya, disamping itu mereka juga masih memiliki tenaga yang kuat untuk melakukan pekerjaan lainnya. Berdasarkan analisis Rank Spearman dapat diketahui bahwa hubungan antara umur dan diferensiasi pekerjaan termasuk pada hubungan yang lemah. Nilai probabilitas yang didapatkan adalah 0.166 atau lebih besar dari batas yang digunakan (α 0.05). Hal tersebut menunjukkan bahwa umur nelayan tidak berhubungan dengan tindakan nelayan untuk melakukan berbagai alternatif pekerjaan.

Tabel 27 Jumlah dan persentase responden berdasarkan umur dan diferensiasi pekerjaan Umur (tahun) Diferensiasi pekerjaan Jumlah Ya Tidak n % n % n % 18-30 6 46.2 7 53.8 13 100 31-50 19 86.4 3 13.6 22 100 > 50 19 76.0 6 24.0 25 100

Bentuk adapatasi kedua yang dihubungkan dengan umur adalah pembatasan bahan bakar. Pada tabel 28 dapat terlihat bahwa nelayan yang paling

! 41

banyak melakukan pembatasan bahan bakar adalah nelayan yang berada pada kelompok umur 18-30 tahun (92.3 %). Kemudian, cukup banyak pula nelayan yang yang berumur 31-50 tahun (68.2 %), dan lebih dari 50 tahun (64.0 %) yang turut melakukan adaptasi berupa pembatasan bahan bakar. Berdasarkan data-data tersebut dapat dilihat bahwa semakin muda umur seorang nelayan maka nelayan semakin memungkinkan untuk melakukan pembatasan bahan bakar. Berdasarkan hasil analisis Rank Spearman menyatakan bahwa hubungan antara umur dan pembatasan bahan bakar merupakan hubungan yang lemah. Nilai probabilitas yang didapatkan adalah 0.106, nilai tersebut lebih besar dari tingkat kesalahan yang digunakan (α 0.05).

Tabel 28 Jumlah dan persentase responden berdasarkan umur dan pembatasan bahan bakar

Umur (tahun)

Pembatasan bahan bakar

Jumlah Ya Tidak n % n % n % 18-30 12 92.3 1 7.7 13 100 31-50 15 68.2 7 31.8 22 100 > 50 16 64.0 9 36.0 25 100

Bentuk adaptasi ketiga yang dihubungkan dengan karakteristik umur nelayan adalah perubahan pola konsumsi. Tabel 29 menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan yang berada pada kategori umur 18-30 tahun (84.6 %) adalah nelayan yang cenderung untuk tidak mengubah pola konsumsinya serupa dengan yang dilakukan oleh cukup sebagian besar nelayan berumur 31-50 tahun (59.1 %). Namun, hal tersebut berbeda dengan yang ditunjukkan oleh nelayan dengan umur lebih dari 50 tahun. Sebagian besar dari mereka (60.0 %) cenderung melakukan perubahan pola konsumsi.

Tabel 29 Jumlah dan persentase responden berdasarkan umur dan perubahan pola konsumsi

Umur (tahun)

Perubahan pola konsumsi

Jumlah Ya Tidak n % n % n % 18-30 2 15.4 11 84.6 13 100 31-50 9 40.9 13 59.1 22 100 > 50 15 60.0 10 40.0 25 100

Berdasarkan hasil analisis Rank Spearman yang menyatakan bahwa hubungan antara umur dan perubahan pola konsumsi adalah hubungan yang nyata dan signifikan. Nilai probabilitas yang dimiliki oleh hubungan tersebut adalah 0.009 atau lebih kecil dari batas yang digunakan (α 0.01). Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tua umur seorang nelayan, maka nelayan cenderung untuk melakukan perubahan pola konsumsi. Dengan mengubah pola konsumsi, mereka dapat menyesuaikan pemasukan yang dimilikinya.

! 42

Tabel 30 Jumlah dan persentase responden berdasarkan umur dan penyesuaian pekerjaan Umur (tahun) Penyesuaian pekerjaan Jumlah Ya Tidak n % n % n % 18-30 12 92.3 1 7.7 13 100 31-50 18 81.8 4 18.2 22 100 > 50 11 44.0 14 56.0 25 100

Selanjutnya, bentuk adaptasi keempat yang dihubungkan dengan karakteristik umur nelayan adalah penyesuaian pekerjaan. Pada tabel 30 tampak bahwa sebagian besar nelayan pada kategori umur 18-30 tahun (92.3 %) melakukan penyesuaian pekerjaan. Hal yang sama juga dilakukan oleh sebagian besar nelayan dengan umur 31-50 tahun (81.8 %). Perbedaan terlihat pada nelayan dengan umur lebih dari 50 tahun, hanya sebagian kecil dari mereka (44.0%) yang melakukan penyesuaian pekerjaan. Nelayan yang berumur 18-30 tahun dan 31-50 tahun masih ingin berusaha untuk bisa memanfaatkan waktunya pada saat menunggu kegiatan melaut dimulai kembali dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat, sedangkan nelayan yang berumur lebih dari 50 tahun cenderung untuk pasrah terhadap keadaan alam yang ada di Pantai Lebih. Mereka hanya berdiam diri dan menunggu sampai kondisi laut normal kembali. Hal tersebut sesuai dengan hasil analisis Rank Spearman yang menyebutkan bahwa umur memiliki hubungan yang signifikan. Nilai probabilitas yang didapatkan adalah 0.000, artinya lebih kecil dari batas kesalahan yang digunakan (α 0.01). Data tersebut memperlihatkan bahwa semakin tua umur nelayan, maka mereka cenderung untuk tidak melakukan penyesuaian pekerjaan.

Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dan Bentuk Adaptasi

Pada tabel 31, tampak bahwa sebagian besar nelayan dengan tingkat pendidikan SMA (84.2%) merupakan nelayan yang cenderung melakukan diferensiasi pekerjaan sama seperti yang dimiliki oleh cukup banyak nelayan yang berpendidikan SD-SMP (68.6 %) dan nelayan yang tidak bersekolah (66.7 %). Dengan memiliki pendidikan yang tinggi, nelayan memiliki kemampuan lebih untuk dapat melakukan berbagai pekerjaan lainnya, selain menjadi seorang nelayan.

Tabel 31 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan dan diferensiasi pekerjaan Tingkat pendidikan Diferensiasi pekerjaan Jumlah Ya Tidak n % n % n % Tidak sekolah 4 66.7 2 33.3 6 100 SD-SMP 24 68.6 11 31.4 35 100 SMA 16 84.2 3 15.8 19 100

Berdasarkan analisis Rank Spearman pun diperoleh hasil yang menyatakan bahwa hubungan antara tingkat pendidikan dan diferensiasi pekerjaan

! 43

memiliki hubungan yang lemah. Nilai probabilitas yang didapatkan adalah 0.225, lebih besar dari tingkat kesalahan yang digunakan (α 0.05).

Tabel 32 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan dan pembatasan bahan bakar

Tingkat pendidikan

Pembatasan bahan bakar

Jumlah Ya Tidak n % n % n % Tidak sekolah 4 66.7 2 33.3 6 100 SD-SMP 24 68.6 11 31.4 35 100 SMA 15 78.9 4 21.1 19 100

Bentuk adaptasi kedua yang dihubungkan dengan tingkat pendidikan nelayan adalah pembatasan bahan bakar. Tabel 32 memperlihatkan bahwa sebagian besar nelayan yang mengenyam pendidikan terakhir di jenjang SMA (78.9 %) melakukan pembatasan bahan bakar. Hal serupa juga turut dilakukan oleh sebagian besar nelayan berpendidikan SD-SMP (68.6 %) dan nelayan yang tidak bersekolah (66.7 %). Hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh nelayan dari berbagai tingkat pendidikan melakukan pembatasan bahan bakar. Nelayan yang tidak bersekolah cenderung nelayan yang tidak melakukan pembatasan bahan bakar karena mereka harus melaut pada setiap harinya. Berdasarkan analisis Rank Spearman pun dapat diketahui bahwa hubungan antara tingkat pendidikan dan pembatasan bahan bakar termasuk pada hubungan yang lemah. Nilai probabilitas yang didapatkan adalah 0.420 atau lebih besar dari ambang batas yang digunakan (α 0.05).

Tabel 33 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan dan perubahan pola konsumsi

Tingkat pendidikan

Perubahan pola konsumsi

Jumlah Ya Tidak n % n % n % Tidak sekolah 4 66.7 2 33.3 6 100 SD-SMP 15 42.8 20 57.2 35 100 SMA 7 36.8 12 63.2 19 100

Bentuk adaptasi berikutnya yang dihubungkan dengan tingkat pendidikan terakhir dari nelayan adalah perubahan pola konsumsi. Pada tabel 33 tampak bahwa sebagian besar nelayan yang tidak bersekolah (66.7 %) cenderung melakukan perubahan pola konsumsi. Hal tersebut berbeda dengan sebagian besar nelayan yang berpendidikan SD-SMP (57.2 %) dan SMA (63.2 %) yang cenderung memilih untuk tidak mengubah pola konsumsi mereka. Nelayan yang tidak bersekolah tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mencari pekerjaan alternatif yang dapat menguntungkan, sehingga salah satu cara mereka untuk menyesuaikan diri dengan pemasukan yang dimilikinya adalah dengan mengubah pola konsumsi. Data pada tabel 33 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang semakin tinggi dapat membuat nelayan untuk tidak mengubah pola konsumsinya, walaupun demikian berdasarkan analisis Rank Spearman dapat diketahui bahwa hubungan tersebut termasuk pada hubungan yang lemah. Nilai probabilitas yang

! 44

didapatkan adalah 0.295 atau lebih besar dari ambang batas yang digunakan (α 0.05).

Tabel 34 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan dan penyesuaian pekerjaan Tingkat pendidikan Penyesuaian pekerjaan Jumlah Ya Tidak n % n % n % Tidak sekolah 2 33.3 4 66.7 6 100 SD-SMP 22 62.8 13 37.2 35 100 SMA 17 89.5 2 10.5 19 100

Selanjutnya, bentuk adaptasi keempat yang dihubungkan dengan tingkat pendidikan terakhir nelayan adalah penyesuaian pekerjaan. Pada tabel 34 tampak bahwa hampir seluruh nelayan dengan pendidikan terakhir SMA (89.5 %) adalah nelayan yang cenderung melakukan penyesuaian pekerjaan serupa dengan sebagian besar nelayan dengan tingkat pendidikan SD-SMP (62.8 %). Sementara itu, sebagian besar nelayan yang tidak bersekolah (66.7 %) cenderung untuk tidak melakukan penyesuaian pekerjaan. Dengan pendidikan yang lebih tinggi maka mereka dapat menyesuaikan pekerjaan dengan mencari kegiatan bermanfaat yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Berdasarkan analisis Rank Spearman pun diperoleh hasil bahwa hubungan yang terbentuk antara tingkat pendidikan dan penyesuaian pekerjaan termasuk dalam hubungan yang nyata dan signifikan. Nilai probabilitas yang didapatkan oleh kedua hubungan ini adalah 0.005. Nilai tersebut lebih kecil dari batas yang digunakan (α 0.05). Data tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan seorang nelayan maka mereka cenderung untuk melakukan penyesuaian pekerjaan yang lebih bermanfaat.

Hubungan Antara Pengalaman Melaut dan Bentuk Adaptasi

Tabel 35 menunjukkan bahwa seluruh nelayan yang memiliki pengalaman melaut kurang dari 10 tahun (100.0 %) kompak untuk melakukan diferensiasi pekerjaan. Begitu pula dengan sebagian besar nelayan yang memiliki pengalaman melaut 10-15 tahun (70.6 %) dan nelayan berpengalaman lebih dari 15 tahun (70.3 %). Dari data tersebut tampak bahwa nelayan yang memiliki pengalaman melaut kurang dari 10 tahun merupakan nelayan berpendidikan SMA, sehingga dengan keadaan laut yang tidak jelas mereka akan mencari pekerjaan lain untuk menambah pemasukan mereka.

Tabel 35 Jumlah dan persentase responden berdasarkan pengalaman melaut dan diferensiasi pekerjaan Pengalaman melaut (tahun) Diferensiasi pekerjaan Jumlah Ya Tidak n % n % n % < 10 6 100.0 0 0 6 100 10-15 12 70.6 5 29.4 17 100 > 15 26 70.3 11 29.7 37 100

! 45

Berdasarkan analisis Rank Spearman pun dapat diketahui bahwa

hubungan antara pengalaman melaut dengan diferensiasi pekerjaan memiliki hubungan yang lemah. Nilai probabilitas yang dimiliki oleh kedua hubungan

tersebut adalah 0.346, lebih besar dari batas yang digunakan (α 0.05).

Tabel 36 Jumlah dan persentase responden berdasarkan pengalaman melaut dan pembatasan bahan bakar

Pengalaman melaut (tahun)

Pembatasan bahan bakar

Jumlah Ya Tidak n % n % n % < 10 6 100.0 0 0 6 100 10-15 13 76.5 4 23.5 17 100 > 15 24 64.8 13 35.2 37 100

Selanjutnya, bentuk adaptasi kedua yang dihubungkan dengan lamanya pengalaman melaut nelayan adalah pembatasan bahan bakar. Tabel 36 memperlihatkan bahwa seluruh nelayan dengan pengalaman melaut kurang dari 10 tahun (100.0 %) cenderung melakukan pembatasan bahan bakar. Sementara itu, nelayan dengan penglaman melaut 10-15 tahun (76.5 %) juga turut melakukan pembatasan pekerjaan. Hal yang serupa juga dilakukan oleh sebagian besar nelayan dengan pengalaman lebih dari 15 tahun (64.8 %). Nelayan yang memiliki pengalaman melaut lebih dari 15 tahun merupakan nelayan yang sudah tua. Mereka tidak akan kesulitan melaut apabila tidak menggunakan mesin perahu, sehingga memerlukan bahan bakar yang cukup untuk menjalankan mesinnya.

Berdasarkan analisis Rank Spearman dapat diketahui bahwa hubungan

antara pengalaman melaut dengan pembatasan bahan bakar tergolong pada hubungan yang moderat. Adapun nilai probabilitas yang didapatkan yaitu 0.096.

Nilai tersebut masih sedikit diatas batas yang digunakan (α 0.05). Dengan begitu,

terdapat kemungkinan bahwa semakin sedikit pengalaman melaut nelayan maka mereka semakin cenderung untuk membatasi bahan bakar.

Tabel 37 Jumlah dan persentase responden berdasarkan pengalaman melaut dan perubahan pola konsumsi

Pengalaman melaut

Perubahan pola konsumsi

Jumlah Ya Tidak n % n % n % < 10 1 16.7 5 83.3 6 100 10-15 4 23.5 13 76.5 17 100 > 15 21 56.7 16 43.3 37 100

Bentuk adaptasi ketiga yang dihubungkan dengan lamanya pengalaman melaut nelayan adalah perubahan pola konsumsi. Pada tabel 37 tampak bahwa nelayan yang tidak melakukan perubahan pola konsumsi adalah sebagian besar nelayan yang memiliki pengalaman melaut kurang dari 10 tahun (83.3 %) dan 10- 15 tahun (76.5 %). Sementara itu, sebagian besar nelayan dengan pengalaman melaut lebih dari 15 tahun (56.7 %) cenderung melakukan perubahan konsumsi. Hal ini menunjukkan bahwa nelayan yang memiliki pengalaman melaut tinggi adalah nelayan yang sudah senior atau dengan kata lain nelayan yang sudah tua.

! 46

Sebagian besar dari mereka hanya memiliki pendapatan dari menangkap ikan, sehingga pola konsumsinya harus menyesuaikan dengan pendapatan yang mereka miliki.

Berdasarkan analisis Rank Spearman dapat ditunjukkan bahwa hubungan yang terjadi antara pengalaman melaut yang dimiliki nelayan dengan perubahan pola konsumsi termasuk dalam hubungan yang nyata dan signifikan. Nilai probabilitas yang didapatkan kedua hubungan terebut adalah 0.007, lebih kecil dari batas yang digunakan (α 0.05). Data tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi pengalaman melaut yang dimiliki nelayan, maka nelayan cenderung untuk mengubah pola konsumsinya.

Tabel 38 Jumlah dan persentase responden berdasarkan pengalaman melaut dan penyesuaian pekerjaan Pengalaman melaut Penyesuaian pekerjaan Jumlah Ya Tidak n % n % n % < 10 5 83.3 1 16.7 6 100 10-15 15 88.2 2 11.8 17 100 > 15 21 56.7 16 43.3 37 100

Bentuk adaptasi keempat yang dihubungkan dengan lamanya pengalaman melaut seorang nelayan adalah penyesuaian pekerjaan. Tabel 38 memperlihatkan bahwa nelayan yang melakukan penyesuaian pekerjaan adalah sebagian besar nelayan berpengalaman melaut kurang dari 10 tahun (83.3 %), cukup banyak nelayan berpengalaman 10-15 tahun (88.2 %), dan sebagian besar nelayan berpengalaman lebih dari 15 tahun (56.7 %). Hal tersebut menunjukkan bahwa nelayan berpengalaman melaut kurang dari 15 tahun lebih cenderung melakukan penyesuaian pekerjaan karena mereka masih memiliki tenaga yang kuat sehingga mereka dapat melakukan berbagai kegiatan selagi menunggu keadaan laut menjadi lebih baik.

Berdasarkan analisis Rank Spearman dapat diketahui bahwa hubungan antara pengalaman melaut dan penyesuaian pekerjaan termasuk pada hubungan yang kuat. Nilai probabilitas yang didapatkan adalah 0.019 atau lebih rendah dari tingkat kesalahan (α 0.05). Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak pengalaman nelayan, maka semakin tinggi pula kemungkinan nelayan melakukan penyesuaian pekerjaan.

Hubungan Antara Status Ekonomi dan Bentuk Adaptasi

Tabel 39 menunjukkan bahwa cukup banyak nelayan dengan status ekonomi tinggi (77.1 %) memilih untuk melakukan diferensiasi pekerjaan. Hal yang serupa juga dilakukan oleh sebagian besar nelayan dengan status ekonomi rendah (58.3 %). Nelayan yang berasal dari kedua lapisan status ekonomi tersebut sama-sama melakukan diferensiasi pekerjaan. Akan tetapi, nelayan yang memiliki status ekonomi tinggi lebih cenderung untuk melakukan diferensiasi pekerjaan karena mereka memiliki modal yang lebih banyak untuk melakukan pekerjaan lainnya.

! 47

Tabel 39 Jumlah dan persentase responden berdasarkan pengalaman melaut dan penyesuaian pekerjaan Status ekonomi Diferensiasi pekerjaan Jumlah Ya Tidak n % n % n % Tinggi 37 77.1 11 22.9 48 100 Rendah 7 58.3 5 41.7 12 100

. Hal tersebut menyatakan bahwa semakin tinggi status ekonomi nelayan maka semakin tinggi kemungkinan mereka untuk melakukan diferensiasi

pekerjaan, walaupun demikian, berdasarkan analisis Rank Spearman yang

menyatakan bahwa hubungan antara status ekonomi nelayan dengan status ekonomi memiliki hubungan yang lemah. Nilai probabilitas yang didapatkan adalah 0.195, lebih besar dari tingkat kesalahan yang digunakan (α 0.05).

Tabel 40 Jumlah dan persentase responden berdasarkan status ekonomi dan penyesuaian bahan bakar

Status ekonomi

Pembatasan bahan bakar

Jumlah

Ya Tidak

n % n % n %

Tinggi 33 68.7 15 31.3 48 100

Rendah 10 83.3 2 16.7 12 100

Bentuk adaptasi kedua yang dihubungkan dengan status ekonomi dari nelayan adalah penyesuaian bahan bakar. Berdasarkan informasi pada tabel 40 di atas, diketahui bahwa sebagian besar nelayan dengan status ekonomi tinggi (68.7 %) cenderung untuk membatasi jumlah bahan bakar sama seperti cukup banyak nelayan dengan status ekonomi rendah (83.3 %). Hal tersebut menunjukkan bahwa nelayan dengan status ekonomi rendah tidak memiliki modal yang cukup untuk membeli bahan bakar, sehingga mereka harus membatasi penggunaan bahan bakar yang mereka gunakan untuk melaut.

Berdasarkan analisis Rank Spearman, nilai probabilitas yang didapatkan adalah 0.088 atau berada sedikit diatas tingkat kesalahan (α 0.05). Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan yang memperlihatkan semakin tinggi status ekonomi nelayan maka semakin kecil kemungkinan untuk membatasi bahan bakarnya adalah termasuk pada hubungan yang lemah.

Tabel 41 Jumlah dan persentase responden berdasarkan status ekonomi dan perubahan pola konsumsi

Status ekonomi

Perubahan pola konsumsi

Jumlah

Ya Tidak

n % n % n %

Tinggi 21 43.7 27 56.3 48 100

Rendah 5 41.7 7 58.3 12 100

Bentuk adaptasi ketiga yang akan dihubungkan dengan status ekonomi nelayan adalah perubahan pola konsumsi. Tabel 41 di atas memperlihatkan bahwa sebagian besar nelayan dengan status ekonomi tinggi (56.3 %) serta sebagian

! 48

besar nelayan dengan status ekonomi rendah (58.3 %) memiliki kesamaan dalam hal perubahan pola konsumsi. Oleh karena itu, dapat terlihat bahwa nelayan yang memiliki status ekonomi rendah cenderung untuk tidak mengubah pola konsumsinya karena mereka harus mencari banyak ikan. Untuk mendapatkan banyak ikan mereka membutuhkan banyak tenaga, sehingga mereka cenderung untuk tidak mengubah pola konsumsinya. Berdasarkan analisis Rank Spearman pun dipeoleh hasil bahwa bahwa hubungan antara status ekonomi dangen perubahan pola konsumsi termasuk pada hubungan yang lemah. Nilai probabilitas yang didapatkan adalah 0.899 atau lebih besar dari tingkat kesalahan (α 0.05). Tabel 42 Jumlah dan persentase responden berdasarkan status ekonomi dan

penyesuaian pekerjaan Status ekonomi Penyesuaian pekerjaan Jumlah Ya Tidak n % n % n % Tinggi 35 72.9 13 27.1 48 100 Rendah 6 50.0 6 50.0 12 100

Hubungan keempat pada tabel 42 di bawah ini, menunjukkan bahwa penyesuaian pekerjaan cenderung dilakukan oleh sebagian besar nelayan dengan status ekonomi tinggi (72.9 %). Sebagian nelayan dengan status ekonomi rendah (50 %) memilih untuk melakukan penyesuaian pekerjaan dan sebagian lainnya memilih untuk tidak melakukan penyesuaian pekerjaan.Nelayan yang memiliki status ekonomi lebih tinggi dapat melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat karena mereka memiliki modal yang dapat mereka gunakan selama mereka menunggu waktu melaut tiba.

Berdasarkan hasil analisis Rank Spearman pun dapat diketahui bahwa terdapat hubungan antara status ekonomi dan penyesuaian pekerjaan yang dilakukan oleh nelayan. Meskipun hubungannya tergolong sebagai hubungan yang lemah. Nilai probabilitas yang dimiliki hubungan tersebut adalah 0.131. Nilai tersebut lebih besar dari batas yang digunakan (α 0.05). Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan semakin tinggi status ekonomi nelayan maka nelayan semakin cenderung untuk melakukan penyesuaian pekerjaan.

Ikhtisar

Adaptasi yang dilakukan oleh nelayan terbagi menjadi 4 bentuk, yaitu diferensiasi pekerjaan, pembatasan bahan bakar, perubahan pola konsumsi, dan penyesuaian pekerjaan. Adapun hubungan adaptasi dengan karakteristik nelayan dianalisis dengan menggunakan Rank Spearman dan tabulasi silang. Berdasarkan tabulasi silang dapat diketahui bahwa beberapa karakteristik berhubungan dengan bentuk adaptasi yang dilakukan oleh nelayan. Adapun hasil analisis Rank Spearman ditampilkan dalam tabel berikut ini:

! 49

Tabel 43 Nilai probabilitas hubungan antara karakteristik nelayan dengan adaptasi nelayan terhadap perubahan iklim berdasarkan analisis Rank Spearman Bentuk adaptasi Karakteristik Umur Tingkat pendidikan Pengalaman melaut Status ekonomi Diferensiasi pekerjaan 0.166 0.225 0.346 0.195 Pembatasan bahan bakar 0.106 0.420 0.096 0.088 Perubahan pola konsumsi 0.009** 0.295 0.007** 0.899 Penyesuaian pekerjaan 0.000** 0.005** 0.019* 0.131

*Hubungan signifikan pada batas α 0.05

** Hubungan signifikan pada batas α 0.01

Pada tabel 43 tampak bahwa terdapat beberapa hubungan yang nyata dan signifikan. Hubungan yang paling signifikan terlihat pada hubungan antara umur dengan penyesuaian pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin muda umur seorang nelayan maka kecenderungan mereka untuk melakukan penyesuaian pekerjaan semakin tinggi. Umur nelayan yang masih muda ingin berusaha untuk