Siswa 5: “njuk niko mencoba menanyakan materi yang belum dimengerti kepada guru atau teman yang sudah belajar.”
2. Bentuk alih kode dan campur kode yang terjadi dalam proses diskusi kelompok
Bentuk alih kode yang ditemukan dalam aktivitas diskusi siswa adalah alih kode intern: (1) alih kode ragam resmi ke ragam santai, (2) alih kode ragam santai ke ragam resmi, (3) alih kode ragam resmi ke ragam usaha, (4) alih kode ragam beku ke ragam santai, dan (5) alih kode ragam santai ke ragam usaha dan alih kode ekstern yaitu alih kode bahasa Indonesia ke bahasa jawa dan alih kode bahasa jawa ke bahasa Indonesia. Temuan ini didukung oleh penelitian relevan Sari (2009: 71) hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk alih kode yang terjadi dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas II SD Negeri Selokupang berupa alih kode intern, yaitu peralihan dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa.
Diperkuat dengan tepri dari Suwito (1985: 69) membedakan adanya dua macam alih kode, yaitu sebagai berikut.
a. Alih kode intern adalah pergantian atau peralihan pemakaian bahasa yang terjadi antardialek, antarragam, atau antargaya dalam lingkup satu bahasa.
b. Alih kode ekstern adalah perpindahan pemakaian bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain yang berbeda.
Campur kode yang ditemukan dalam penelitan ini adalah: (1) alih kode berdasarkan macam-macam bahasa seperti cempur kode bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, campur kode bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Indonesia diaek Jakarta, dan campur kode bahasa indonesia dan bahasa Indonesia dialek Jakarta, (2) campur kode wujud unsur kebahasaan yang terjadi yaitu campur kode wujud unsur kebahasaan kata dan campur kode wujud unsur kebahasaan frasa, dan (3) campur kode ragam yang terjadi yaitu campur kode ragam beku dan ragam santai, serta campur kode ragam resmi dan ragam santai. Temuan
commit to user
tersebut diperkuat dari hasil penelitian oleh Wulandari (2002: 79) hasil penelitian “Campur Kode dalam Tuturan Latihan Kepramukaan di SMU Negeri 1 Sentolo memibuktikan bahwa (1) adanya variasi campur kode bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, (2) campur kode ragam beku dan ragam resmi, ragam beku dan ragam santai, serta ragam resmi dan ragam santai, dan (3) campur kode wujud unsur kebahasaan, yaitu campur kode wujud kata dan campur kode wujud frasa.
3. Faktor penyebab pemakaian alih kode dan campur kode dalam diskusi.
Dari hasil observasi dan wawancara dengan siswa memibuktikan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode adalah: (1) penutur, alasan penutur yang meakukan alih kode dengan alasan mengimbangi lawan tutur, (2) perubahan situasi orang ketiga, (3) perubahan topik pembicaraan, (4) perubahan topic pembicaraan, (4) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya, dan (6) untuk membangkitkan rasa humor. Hal ini diperkuat dengan teori dari Chaer (1995: 143) menyeibutkan yang menjadi penyebab alih kode yaitu: (1) pembicara atau penutur, (2) pendengar atau lawan tutur, (3) perubahan situasi hadirnya orang ketiga, (4) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya, dan (5) perubahan topik pembicaraan.
Faktor penyebab terjadinya campur kode dalam bahasa aktivitas diskusi siswa adalah: (1) identitas peranan sosial, (2) identifikasi ragam, (3) keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan, (4) karena faktor lingkungan, (5) karena latar belakang pendidikan , (6) karena belum terbiasa, dan (7) karena faktor ekonomi keluarga. Faktor-faktor yang ditemukan dalam penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Rima Fatimah dengan judul “ Kajian Penggunaan Bahasa dalam Proses Belajar Mengajar Bahasa Indonesia di Sma Negeri 1 Magelang”, yang menyatakan bahwa faktor penyebab terjadinya alih kode adalah sebagai berikut: (1) penutur dan lawan tutur; (2) perubahan situasi hadirnya orang ketiga; (3)
commit to user
perubahan topik pembicaraan; (4) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya; dan (5) untuk membangkitkan rasa humor.
Fungsi penggunaan alih kode dan campur kode yang digunakan siswa dalam kegiatan diskusi kelompok mata pelajaran bahasa Indonesia ini adalah untuk: (1) menyantaikan, (2) managaskan, (3) menyegarkan, (4) menghormati, dan (5) menerangkan. Temuan ini diperkuat oleh teori dari Suwito (1985: 79)
Yang menyatakan bahwa fungsi campur kode hampir sama dengan fungsi alih kode sebagai berikut ini: (1) untuk menegaskan suatu hal atau untuk mengakhiri pertentangan yang sedang terjadi antara penuturnya, (2) untuk mengakrabkan atau menekankan solidaritas kelompok, (3) untuk mengutamakan yang disapa atau untuk menghormati, (4) untuk meningkatkan status, gengsi, kekuasaan, atau keahlian berbahasa, (5) untuk mengutip ucapan orang lain, misalnya ingin mengutip ucapan orang lain dengan bahasa lain.
commit to user BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan
Hasil penelitian yang telah dilakukan sebagai berikut.
1. Persepsi guru terhadap peristiwa alih kode pada aktivitas diskusi pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Kepil, Kabupaten Wonosobo.
a. Guru berpendapat bahwa pengunaan alih kode dan campur kode bahasa yang dilakukan oleh siswa adalah sikap yang salah.
b. Guru berpendapat bahwa siswa masih kesulitan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sehingga guru berusaha selalu mengarahkan siswa agar terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
c. Guru berpendapat bahwa untuk meningkatkan penguasaan bahasa Indonesia siswa dilakukan dengan pemberian contoh pemakaian bahasa yang benar.
2. Bentuk alih kode dan campur kode yang terjadi dalam proses diskusi pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Kepil, Kaibupaten Wonosobo sebagai berikut.
a. Alih Kode
1) Alih kode intern yang terjadi yaitu alih kode ragam resmi ke ragam santai, alih kode ragam resmi dan ragam usaha, alih kode ragam resmi dan ragam beku, serta alih kode ragam santai dan ragam usaha.
2) Alih kode ekstern yang terjadi yaitu laih kode bahasa Indonesia ke bahasa Jawa.
b. Campur Kode
1) Campur kode bahasa yang terjadi yaitu campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, campur kode bahasa Indonesia dan
commit to user
bahasa Indonesia dialek Jakarta, campur kode bahsa Indonesia, bahasa Jawa, dan dialek Jakarta.
2) Campur kode wujud unsur kebahasaan yang terjadi yaitu campur kode wujud unsur kebahasaan kata dan campur kode wujud unsur kebahasaan frasa.
3) Campur kode ragam yang terjadi yaitu campur kode ragam beku dan ragam santai, serta campur kode ragam resmi dan ragam santai.
3. Faktor penyebab pemakaian alih kode dan campur kode dalam proses diskusi kelompok Bahasa Indonesia di kelas SMP Negeri 2 Kepil, Kaibupaten Wonosobo.
a. Faktor penyebab terjadinya alih kode, adalah sebagai berikut.
1) Penutur, alasan penutur yang melakukan alih kode dengan maksud mengimbangi lawan tutur.
2) Lawan tutur, alasan lawan tutur seperti untuk mengimbangi bahasa yang digunakan oleh lawan tuturnya.
3) Perubahan situasi hadirnya orang ketiga.
4) Perubahan topik pembicaraan.
5) Perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya.
6) Untuk membangkitkan rasa humor.
b. Fungsi alih kode, sebagai berikut.
1) Menyantaikan.
2) Menegaskan.
3) Menyegarkan.
4) Menghormati.
5) Menerangkan.
c. Faktor penyebab terjadinya campur kode,sebagai berikut.
1) Identifikasi peranan sosial 2) Identifikasi ragam
3) Keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan
commit to user 4) Karena faktor lingkungan.
5) Karena latar belakang pendidikan.
6) Karena belum terbiasa.
7) Karena faktor ekonomi keluarga.
d. Fungsi campur kode, sebagai berikut.
1) Menyantaikan.
2) Menegaskan.
3) Menyegarkan.
4) Menghormati.
B. Implikasi
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui persepsi guru tentang peristiwa lih kode dan campur kode yang masih sering terjadi pada kegiatan balajar mengajar khususnya pada saat diskusi kelompok mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Kepil, kaibupaten Wonosobo. Tujuan berikutnya untuk mengetahui bentuk-bentuk alih kode dan campur kode yang masih sering muncul dalam kegiatan diskusi terseibut, selain hal terseibut penelitian ini juga meneliti faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode. untuk mendapatkan hasil terseibut peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif (studi kasus terpancang).
Diseibut terpancang karena permasalahan yang dibahas hanya mengangkat permasalahan yang terjadi di SMP kawasan pedesaan dalam masalah pemakaian bahasa Indonesia pada kegiatan belajar siswa khususnya kagiatan diskusi.
Dari hasil penelitian diperoleh data yang menunjukkan bahwa siswa masih sering menggunakan alih kode dan campur kode bahasa dalam diskusi kelompok, meski guru sudah mengatakan bahwa mereka menganggap kegiatan alih kode dan campur kode adalah sikap yang salah dan guru secara perlahan sudah membiasakan siswa agar bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar namun karena faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode seperti penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari siswa memibuat siswa kesulitan untuk
commit to user
berkomunikasi dengan bahasa Indonesia denagn baik dan benar. Dari hasil penelitian terseibut dapat dikemukakan hasil implikasi sebagai berikut.
1. Implikasi Teoritis
Dari hasil penelitian terbukti bahwa siswa masih kesulitan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dan masih sering melakukan alih kode dan campur kode bahasa, kebanyakan alih kode dan campur kode antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa yang. Hal terseibut harus diubah karena saat kegatan belajar mengajar berlangsung seharusnya siswa menggunakan bahasa Indonesia. Penggunaan alih kode dan campur kode bahasa yag digunakan siswa memibuat kerancuan interferensi bahasa jadi siswa harus lebih rajin belajar berbicara menggunakan bahasa indoneseia dengan baik dan benar, juga harus memperkaya diri dengan kosakata bahasa indonesia.
2. Implikasi Praktis
Penelitian ini menunjukkan bahwa siswa di sekolah kawasan pedesaan masih kesulitan dalam mempraktikan keterampilan berbicara menggunkan bahasa Indonesia karena faktor lingkungan yang menggunakan bahasa daerah (Jawa) sebagai bahasa iibu. Dengan demikian ssiwa-ssiwa terseibut harus lebih diperhatikan agar keterampilan berbicaraya tidak kalah jauh dari siswa di perkotaan. Guru yang mendapat tugas mengajar di sekolah kawasan pedesaan juga harus lebih serius mengajarkan bahasa Indonesia kepada siswa-siswanya.
C. Saran