HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Hasil Penelitian
1. Persepsi guru terhadap peristiwa alih kode pada peristiwa diskusi.
a. Guru berpendapat bahwa pengunaan alih kode dan campur kode bahasa yang dilakukan oleh siswa adalah sikap yang salah.
Dari hasil wawancara dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia, berkaitan dengan hasil penelitian yang memibuktikan bahwa siswa-siswa SMP Negeri 2 Kepil, Kaibupaten Wonosobo masih sering melakukan alih kode saat proses diskusi berlangsung. Guru mengungkapkan sebenarnya mereka tidak setuju dengan penggunaan alh kode dan campur kode yang masih sering dilakukan siswa saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, ontohnya saat diskusi, beliau menganggal hal terseibut ada;lah sikap yang salah dan harus segera dibenahi.
Guru sudah berusaha dengan keras untuk membiasakan siswa agar memakai bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan teman atau guru saat jam pelajaran berlangsung, beliau juga sudah sering menjelaskan bahwa di saat kegiatan belajar mengajar berlangsung itu situasinya formal, jadi siswa harus belajar berbicara menggunakan bahasa Indonesia, karena
commit to user
belajar bahasa Indonesia tidak hanya belajar menulis tetapi juga belajar menyimak, membaca, dan juga berbicara.
b. Guru berpendapat bahwa siswa masih kesulitan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sehingga guru berusaha selalu mengarahkan siswa agar terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Peristiwa alih kode dan campur kode yang dilakukan siswa itu sebenarnya ibukan arahan dari guru, salama guru mengajar guru selalu mengarahkan siswa agar siswa belajar mencintai bahasa Indonesia dan berusaha menguasainya agar dapan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Guru juga menyadari bahwa penguasaan bahasa Indonesia sangat penting bagi siswa, termasuk untuk masa depan siswa, contohnya setelah siswa lulus dari SMP siswa akan melanjutkan sekolah atau bekerja di luar daerah, dan mereka harus menguasai bahasa nasional, karena bahasa di daerah lain akan berbeda dengan bahasa daerah yang dipakai di lingkungan tempat siswa tinggal sekarang, jadi bisa disimpulkan bahwa penguasaan bahasa Indonesia sangat penting bagi siswa agar untuk masa depan yang lebih maju dan lebih berkembang. Akan tetapi dengan kondisi lingkungan yang kurang mendukung memibuat siswa masih merasa asing dngan bahasa Indonesia, sebagian dari mereka juga jarang yang bisa belajar bahasa Indonesia dari internet atau televisi karena sebagan siswa yang bersekolah di SMP terseibut adalah dari kalangan keluarga menengah ke bawah, masih jarang dari mereka yang dapat hidup berkecukupan dengan fasilitas canggih yang dapat mendukung sarana belajar mereka,
c. Guru masih kesulitan dalam membiasakan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Guru masih merasa kesulitan dalam mengarahkan siswa agar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonsia, walau pun
commit to user
berbagai cara dilakukan seperti, mewajibkan siswa menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan guru maupun siswa lain saat pelajaran berlangsung. Namun siswa masih sering melakukan alih kode dan campur kode bahasa, baik disengaja atau tidak. Contohnya terkadang siswa masih melakukan campur kode bahasa Jawa ke dalam percakapan yang mnggunakan kode dasar bahasa Indonesia tanpa disengaja, yaitu dialek-dialek daerah mereka yang sulit untuk dihilangkan, seperti ealah, walah, dan ungkapan lain saat siswa terkejut. Hal terseibut sulit dihilangkan karena siswa sudah terbiasa menggunakannya saat berkomunikasi dengan orang tua dan teman-temannya di rumah. Selain itu, siswa juga masih kurang menguasai kosa kata bahasa Indonesia, jadi masih banyak istilah-istilah yang belum mereka mengerti saat ingin berbicara atau mengungkapkan ide mereka, dan mereka akan menggunakan istilah-istilah bahasa jawa. Contohnya kunduran, nyaruk, dan beberapa contoh lain yang mesih sering digunakan siswa.
Seperti yang disampaikan ibu Sayekti Laras Supayaningsih, S.Pd selaku guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang berpendapat bahwa siswa SMP Negeri 2 Kepil belum bisa juka disuruh memakai bahasa Indonesia dengan baik dan benar termasuk saat jam pelajaran bahasa Indonesia berlangsung. Siswa masih kesulitan dalam memahami istilah-istilah bahasa Indonesia yang jarang mereka dengar, jadi kebanyakan dari mereka masih bertahan dengan istilah-istilah yang mereka mengerti dalam bahasa Jawa. Ibukan hanya istilah asing, kata-kata yang mudah pun banyak siswa yang tidak mengerti, jadi akhirnya guru pun menjelaskan menggunakan bahasa Jawa.
Kendala yang dihadapi di sekolah yang termasuk daerah pedesaan ini tentu lingkungan masyarakat siswa yang memakai bahasa daerah (bahasa Jawa) sebagai bahasa ibu. Jadi siswa tidak terbiasa memakai bahasa Indonesia dalam berkomunikasi termasuk saat
commit to user
berdiskusi di dalam kelas. Melihat kondisi terseibut menjadikan ibukti bahwa guru yang mengajar di SMP kawasan pedesaan seperti SMP Negeri 2 Kepil mempunyai tugas yang lebih berat daripada guru yang mengajar di sekolaha perkotaan, dimana guru harus berusaha lebih keras mengenalkan bahasa Indonesia kepada siswa karena siswa memeang masih merasa canggung dalam memraktikkan berbicara memakai bahasa Indonesia dengan bak dan benar, sedangkan siswa di sekolah perkotaan sudah terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, bahasa iibu yang mereka miliki juga bahasa Indonesia.
Dengan kondisi lingkungan yang kurang mendukung siswa untuk lancar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, menyebabkan siswa masih sering melakukan alih kode dan campur kode bahasa Jawa saat berbicara menggunakan kode dasar bhasa inonesia.
Akhinya guru juga harus memaklumi keterbatasan siswa-siswa mereka, walau pun guru sebenarnya juga tidak setuju dengan alih kode dan campur kode yang dilakukan siswa saat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Jawaban senada juga diungkapkan oleh guru kelas VII SMP Negeri 2 Kepil yaitu ibu Yusephine Sumarjilah, beliau juga sudah berusaha membiasakan siswa memakai bahasa Indonesia saat berbicara di dalam kelas atau saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Akan tetapisiswa sendiri memang sudah lebih terbiasa memakai bahasa daerah yaitu bahas Jawa sebagai bahasa komunikasi mereka sehari-hari, jadi walau pun sudah diarahkan agar belajar membiasakan diri memakai bahasa Indonesia namun realisasinya masih sulit. Walaupun sebenarnya dengan hal terseibut tidak terlalu berpengaruh dengan penyampaian materi kepada siswa, hanya saja mempraktikkan keterampilan berbicara pada siswa yang masih sulit, selain itu siswa masih sering gaduh sendiri di kelas.
commit to user
Sedikit berbeda dengan jawaban Ibu Laras, saat ditanya persepsinya tentang peristiwa alih kode dan campur kode yang masih sering terjadi saat siswa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, menurut ibu yusephine kejadian terseibut tidak menjadi masalah karena siswa-siswa yang bersekolah di SMP terseibut termasuk kawasan pedesaan yang daeri kecil sudah terbiasa menggunakan bahasa daerah (babasa Jawa). Karena itu siswa tidak dapat dipaksa untuk langsung lancar dalam keterampilan berbahasa Indonesia, walau sebenarnya ibu Yusephine juga sudah berusah mengarahkan siswa agar belajar berbahasa Indonsia dengan baik dan benar. Menurut beliau sedikit demi sedikit siswa akan terbiasa karena itu, siswa yang dipaksa melainkan diarahkan sedikit demi sedikit nanti lama-lama siswa menjadi terbiasa.
2. Bentuk alih kode dan campur kode yang terjadi dalam proses diskusi.
Dalam dialog diskusi kelompok siswa SMP Negeri 2 Kepil, Kaibupaten Wonosobo masih banyak ditelukan peristiwa alih kode dan campur kode. Alih kode dan campur kode terseibut muncul beberapa kali dalam beberapa macam, mempunyai faktor penyebab kemunculan, serta fungsi dan tujuan tertentu.
d. Alih Kode
Bentuk atau Macam-macam Alih Kode 1) Alih Kode Intern
Alih kode intern adalah pergantian atau peralihan pemakaian bahasa yang terjadi antardialek, antarragam, antargaya dalam lingkup satu bahasa. Apabila alih kode itu menjadi antar bahasa-bahasa daerah dalam satu bahasa nasional , atau dialek-dialek dalam satu daerah, atau antar beberapa ragam dan gaya yang terdapat dalam satu dialek alih kode seperti ini diseibut bersifat intern (Suwito, 1985: 68). Alih kode intern yang terjadi dalam proses diskusi kelompok pelajaran bahasa
commit to user
Indonesia siswa kelas VII-B, VII-C, VII-E, VIII-B, VIII-C, VIII-D SMP Negeri 2 Kepil sebagai berikut.
b) Alih kode ragam resmi dan ragam santai
Alih kode dari ragam resmi ke ragam santai atau sebaliknya yang muncul dalam proses diskusi kelompok pelajaran bahasa Indonesia kelas dapat dilihat dalam kalimat berikut.
Siswa 3: “Bagaimana cara-cara mengatasi menyontek