• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk-bentuk Dating Violence

KAJIAN PUSTAKA

D. Bentuk-bentuk Dating Violence

Menurut Murray (2007) KDP memiliki tiga bentuk diantaranya adalah sebagai berikut (Naafi', 2015):

a. Kekerasan Fisik: tindakan kekerasan yang membuat korban sakit fisik, terluka fisik, atau cedera. Kekerasan berupa fisik seperti, menampar, memukul, menendang, menonjok, mencubit dan lain-lain. Menurut Murray kekerasan fisik adalah sebagai berikut:

1. Membenturkan, memukul, mendorong: kerasan ini bisa dikatakan

abuse yang nampak atau dapat dilihat. Contoh perilaku yang lain

adalah mencakar, menginggit, mendorong dan dapat membuat korban memar, cedera dan terluka lainnya.

2. Menahan, mengontrol atau mengendalikan: perilaku ini dilakuakn untuk menahan pasangan supaya tidak pergi meninggalkan pelaku, seperti memegang tangan pasangan teralu kencang atau kuat sehingga pasangan tidak bisa lepas dari pelaku.

b. Kekerasan Verbal/ Emosional: kekerasan yang dilakukan melalui verbal atau perkataan dengan maksud mengancam, menakut-nakuti dan ekspresi wajah oleh pelaku, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Name Calling: mengatakan pasangan gendut, malas, bodoh, jelek, mau

munta melihat penampilannya atau wajahnya, tidak ada yang mau dengan pasangannya.

2. Intimidating Looks: memberikan ekspresi yang tidak mengenakan

atau sedih sehingga, korban akan merasa bersalah atau pun bingung dengan ekspresi pacarnya.

3. Use of pagers and call pnones: pasangan yang membawa hp atau

mensadap beberapa akun media sosial pacarnya sehingga sang pacar akan dengan mudah memeriksa keadaan pacarnya sesering pacar mau. Dan pacar akan membatasi hubungan pasangannya dengan orang lain karena dianggap menganggu kebersamaan mereka. Intinya sang pacar harus tau siapa saja yang menghubungi pasangannya dan mengapa orang tersebut menghubungi pasangannya.

4. Making a boy or girl wait by the phone: seorang pacar yang telah

berjanji akan menelpon pasangannya pada jam sekian, tetapi si pacar belum juga menelpon, sehingga pasangannya terus menerus menunggu telepon dari pacarnya, melihat hp terus menerus, membawa hp kemana saja. Dan ini membuat pasangan tidak fokus dengan lingkungannya karena fokus dengan hp yang dibawanya kemana-mana

5. Monopolizing a girl’s or boy’s time: korban tidak memiliki waktu

yang banyak untuk berkumpul dengan temannya atau melakukan aktivitas lainnya dengan teman-temannya, karena korban selalu diminta untuk menghabiskan waktu dengan pacarnya.

6. Making a girl’s or boy’s feel insecure: mengkritik pacarnya sehingga

7. Blaming: kesalahan yang terjadi dianggap kesalahan dari pasangannya,

bahkan mereka mencurigai pasangannya sendiri atas perbuatan yang belum tentu dilihatnya sendiri seperti menuduh selingkuh.

8. Manipulation / making himself look pathetic: pasangan yang suka

membohogi pasangannya sendiri sehingga membuat rasa sakit terhadap pasangannya

9. Making threats: pacar yang mengatakan jika kamu melakukan ini,

maka aku akan melakukan sesuatu padamu.

10. Interrogating: pacar yang pencemburu, posesif, suka mengatur,

cenderung mengintrograsi pacarnya, menanyakan keberadaan pasangannya.

11. Humiliating her or him in public: mempermalukan pasangannya

didepan umum dengan mengatakan hal-hal yang memalukan atau mengolok-olok sesuatu yang tak pantas didepan umum.

12. Breaking treasured items: tidak memperdulikan barang-barang milik

pasangannya, jika pasangan menangis maka sang pacar hal tersebut adalah memalukan atau kebodohan.

c. Kekerasan seksual: Tindakan pemaksaan yang dilakuakn oleh pasangan untuk melakukan hubungan seksual atau kontak seksual yang tidak diinginkan oleh pacarnya. Seperti:

1. Pemerkosaan: melakukan hubungna layaknya suami istri tanpa meminta izin kepada pasangannya. Biasanya pasangan tidak tahu kalau pacarnya melakukan hal tersbeut.

2. Sentuhan dibagian tertentu yang ditak diinginkan oleh pasangannya seperti, sentuhan di dada, atau bagian lainnya yang dianggap sensitif.

3. ciuman atau seks oral yang tidak diinginkan bisa dilakukan di tempat umum atau tersembunyi.

Dari penjelasan bentuk-bentuk dating violence diatas dapat diketahui bahwa perilaku kekerasan yang dimaksud adalah berupa baik fisik yang dapat mebuat luka fisik pada anggota badan, psikis atau emosional yang membuat perasaaan tidak nyaman atau tertekan selama menjalin hubungan, verbal seperti mencaci atau mengatain dengan perkataan yang melukai hati pacar, bahkan seksual yaitu menyentuh anggota badan yang tidak diinginkan oleh salah satu pihak bahkan memaksa melakukan hubungan seks.

Ada dua pola hubungan yang dialami oleh pasangan yang mengalami kekerasan dalam pacaran. Pola yang pertama yaitu pasangan yang tetap mempertahankan hubungan meskipun mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dan membuat sakit hati, dan pola yang kedua adalah pasangan yang tidak mampu bertahan lagi dengan perilaku kasar pacar (get out of

dating violence). Namun, tidak sedikit pul yang masih memilih untuk

mempertahankan hubungan pacaran (maintenance behavior). E. Maintenance Behavior = Pola 1 Dating Violence

Menurut Rusbult et al (2001) maintenance behavior adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang untuk mempertahankan hubungan yang sedang dijalani dalam jangka panjang sehingga mampu berfungsi dengan

baik. Adapun komponen yang membentuk perilaku mempertahankan ini adalah sebagai berikut: Accomodation, sacrifice, forgiveness. Accomodation adalah seseorang yang memilih untuk tidak terlibat dengan tindakan yang menimbulkan potensi merusak hubungan seperti, pasangan yang mengalami kekerasan lebih memilih mengalah untuk menghindari situasi yang lebih parah. Dalam akomodasi terdiri berbagai respon diantaranya adalah exit yaitu seseorang berespon secara aktif-deskrutif yakni mengakhiri hubungan secara aktif seperti, bersikeras sesama pasangan atau melawan pasangan namun mereka sadar bahwa tindakan tersebut hanya memperburuk suasana sehingga mereka saling mengalah.

Reaksi voice yaitu seseorang merespon secara aktif-konstruktif yakni seseorang yang berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan cara membicarakan dengan pasangan secara baik-baik. Selanjutnya respon loyality yaitu pasif-konstruktif yakni dimana seseorang hanya diam berharap akan terdapat perubahan yang lebih baik dengan selalu berpikir postif terhadap pasangan. Respon yang terkahir adalah neglect yaitu pasif-deskrutif yakni seseorang yang membiarkan apapun terjadi, respon ini seseorang lebih pasif seperti pasangan yang diam karena mereka tidak begitu mengambil pusing terhadap tindakan pacar dan menyerahkan semua keputusan kepada pacar. Adapun komponen yang kedua adalah sacrifice, dimana individu lebih memilih mengorbankan waktu yang dimiliki untuk dapat menghabiskan waktu bersama pacar, jadi dalam komponen kedua ini lebih mengorbankan kepentingan pribadi untuk melanggengkan hubungan yang dijalani, hal ini

biasanya terjadi pada mereka yang memiliki pendapat yang berbeda tetapi lebih memilih pilihan pacar meskipun mereka kurang cocok.

Kemudian komponen forgiveness dimana pasangan lebih cenderung memaafkan setiap tindakan pasangan dan mempercayai bahwa pasangan pasti akan berubah, dalam komponen ini seseorang memiliki toleransi terhadap tindakan pacar dan berpikir bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan adalah hal yang wajar karena pacar sedang emosi. Komponen ini pula akan semakin tinggi jika didukung perilaku pacar yang meminta maaf. Namun hal inilah yang membuat kekerasan akan terulang kembali dan akhirnya korban akan masuk kedalam lingkaran kekerasan.

Adapun lingkaran kekerasan memiliki 3 tahap yakni: Tahap ketegangan, tahap pemukulan dan tahap bulan madu. Tahap ketegangan muncul karena adanya konflik yang terus menerus terjadi namun, dalam tahap ini dianggap sebagai hal biasa dalam suatu hubungan, kemudian tahap pemukulan akut dimana dalam tahap ini kekerasan berupa fisik terjadi dalam setiap menyelesaikan konflik yang sering terjadi seperti mendorong, meninju, mencekik dan lain lain, kekerasan yang terjadi dapat berhenti apabila korban pergi dalam hubungan tersebut. Dan tahap yang terkahir yaitu bulan madu, dimana pelaku memiliki penyesalan dan meminta maaf pada korban dibarengi dengan kata kata manis sampai dengan berjanji. Setelah itu perempuan mulai luluh dan memaafkan karena berharap bahwa tindakan tersebut tidak terjadi kembali. Inilah alasan kenapa perempuan sering masuk dalam lingkaran

kekerasan yaitu karena mempertahankan hubungan yang jelas-jelas mengandung unsur kekerasan (Saraswati, 2006).