TINJAUAN PUSTAKA
2. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama, persaingan, dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian. Pertikaian mungkin akan mendapatkan suatu penyelesaian, namun penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi.
Menurut Philipus dan Aini (2006: 63) bahwa bentuk-bentuk interaksi sosial antara lain sebagai berikut:
a. Proses Asosiatif 1) Kerjasama
Munurut Santoso (2004:22) kerjasama adalah sebuah proses dimana terjadi sebuah kesadaran adanya kepentingan dan tujuan yang sama, didalamnya yang kemudian melakukan sebuah tindakan guna memenuhi kebutuhannya tersebut. Dalam bentuk kerjasama ada kesediaan dari anggota kelompok untuk mengganti kegiatan anggota kelompok lainnya karena kegiatan yang dilaksanakan saling bergantung dengan kegiatan yang lain dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan bersama dalam organisasi.
Suatu usaha yang sama untuk mencapai tujuan yang sama. Bentuk-bentuk kerjasama yaitu kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong menolong, Bargaining yaitu pelaksaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih, kooptasi (cooptation) yaitu suatu proses penerimaan unsur-unsur dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan dalam stabilitas organisasi bersangkutan, koalisi (coalition) yakni kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sarna,
Joint venture yaitu kerjasama dalam pengusahaan proyek proyek tertentu, misalnya pengoboran minyak, dan lain-lain.
2) Akomodasi
Munurut Santoso (2004:69) akomodasi merupakan sebuah bentuk usaha untuk mengurangi pertentangan antara orang perorangan atau antar kelompok-kelompok di dalam masyarakat akibat perbedaan paham atau pandangan. Mencegah timbulnya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau temporer dalam organisasi.
Akomodasi menunjukan pada dua arti yaitu yang menunjuk pada suatu keadaan dan menunjuk pada suatu proses. Akomodasi yang menunjukan suatu keadaan, berarti adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara individu atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma- norma sosial dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat.
Sebagai suatu proses, akomodasi menunjukan pada usaha-usaha manusia untuk menyelesaikan suatu pertentangan, yaitu usaha-usaha untuk mencapai suatu kestabilan. Akomodasi sebenarnya suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehinga pihak lawan tidak kehilangan kepribadiannya. Adapun tujuan dari akomodasi yaitu untuk mengurangi pertentangan antara individu atau kelompok-kelompok sebagai akibat dari perbedaan paham, mencegah meledaknya suatu
pertentangan untuk sementara waktu atau secara temporer, untuk memungkinkan terjadinya kerjasama antara kelompok-kelompok sosial yang hidupnya terpisah sebagai akibat faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan seperti dalam masyarakat yang mengenal sistem kasta, mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah, misalnya lewat perkawinan campur atau asimilasi dalam arti luas.
3) Asimilasi
Munurut Santoso (2004:81) asimilasi merupakan suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan, yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara individu atau kelompok dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan bersama dakam organisasi.
b. Proses Disosiatif
Proses disosiatif sering disebut dengan oppositional process. Oposisi atau proses-proses yang disosiatif dibedakan dalam tiga bentuk yaitu persaingan adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidang kehidupan yang menjadi perhatian umum, kontroversi adalah Satu proses yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian, Pertentangan terjadi karena menyadari adanya
perbedaan-perbedaan tertentu antara suatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain.
1) Persaingan
Munurut Santoso (2004:87) Persaingan merupakan suatu proses sosial, dimana individu atau kelompok yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa jadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan kekerasan atau ancaman. Persaingan dalam hal ini meliputi berbagai hal yaitu persaingan ekonomi, budaya, kedudukan atau peran, dan juga kesukuan/ras. Adapun fungsi dari persaingan salah satunya adalah untuk menyalurkan sebuah keinginan individu yang bersifat kompetitif dalam masyarakat, yang kemudian secara output dengan adanya persaingan timbul sebuah perubahan sosial dimana akan merujuk pada sebuah kemajuan masyarakat.
2) Kontravensi (contravention)
Munurut Santoso (2004:90) Kontravensi yaitu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian kontraversi merupakan sikap mental yang tersembunyi terhadap orangorang lain atau terhadap orang-orang lain atau terhadap unsurunsur kebudayaan golongan tertentu. Kontravensi ini identik dengan sebuah perbuatan penolakan dan perlawanan yang
memungkinkan terjadinya sebuah penghasutan untuk menjatuhkan lawan-lawanya. Menurut von Wiese dan Backer dalam (Soekanto, 2005:88) terdapat tiga tipe umum dalam kontravensi, yaitu kontravensi parlementer, kontravensi yang menyangkut seks dan kontravensi generasi masyarakat.
3) Pertentangan (Conflict)
Menurut Muchlas (2005;449) Pertentangan atau pertikain yaitu suatu proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan atau tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan dengan sebuah acmanan atau kekerasan. Di dalam diri seseorang biasanya terdapat sejumlah kebutuhan dan peran yang saling berkompetisi, berbagai macam cara untuk mengekspresikan usaha dan peran, berbagai macam halangan yang terjadi antara usaha dan tujuan, dan juga adanya aspek-aspek positif dan negatif yang terkait dengan tujuan yang diinginkan.
Secara umum terjadinya pertentangan dikarenakan adanya sebuah perbedaan yang sangat mencolok, mulai dari perbedaan individu, kepentingan hingga perbedaan sosial. Konflik dalam kelompok pun sering disebabkan oleh tidak sesuainya tujuan, perbedaan-perbedaan imterpretasi dari berbagai fakta, ketidasetujuan yang didasarkan pada bermacam ekspetasi perilaku. Pertentangan dalam hal ini tidak serta merta bersifat negatif, namun juga bersifat positif. Dalam hal ini dijelaskan mengenai akibat-akibat dari bentuk
pertentangan yaitu yang bersifat positif adalah terjadi sebuah solidaritas dalam suatu kelompok dan kemudian memungkinkan terjadinya perubahan kepribadian, sedangkan yang bersifat negatif adalah goyah atau retaknya kesatuan sosial masyarakat yang memungkinkan terjadinya perpecahan atau disorganisasi. kelompok dan kemudian memungkinkan terjadinya perubahan kepribadian, sedangkan yang bersifat negatif adalah goyah atau retaknya kesatuan sosial masyarakat yang memungkinkan terjadinya perpecahan atau disorganisasi.
Masalah sosial tidak muncul secara alami, namum masalah sosial ada karena social creation, yang tercipta sebagai hasil dari pemikiran manusia dalam kebudayaan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri yang terwujud dari peranan-perenannya yang terwujud karena interaksi sosial dalam suatu arena tertentu. Perwujudan interaksi sosial tidak hanya bersifat positif saja, melainkan juga bersifat negatif berupa masalah-masalah sosial. Bentuk interaksi sosial yang bersifat disasosiatif merupakan bagian di dalamnya yang pembahasannya adalah, dimana setiap kerangka perubahan yang terjadi pasti terdapat proses yang kadang kala dimulai dengan adanya benturan-benturan satu sama lain, yang mana kondisi ini dapat berupa kontravensi bahkan pertentangan.
Secara umum hal tersebut sangat wajar karena untuk membentuk sebuah keseimbangan atau equibilirium. Proses interaksi
disasositif ini juga menjadi tinjauan konsep dalam menganalisis interaksi sosial Himpunan Mahasiswa Lampung yang berada di Yogyakarta dimana proses yang terjadi di dalamnya juga terdapat unsur yang bersifat pro kontra diantara anggotanya, serta perbedaan pendapat bahkan pertentangan turut menjadi bentuk interaksinya. 3. Faktor-Faktor Pendorong Interaksi Sosial
Proses interaksi sosial di masyarakat dapat terjadi karena ada faktor pendorong terjadinya interaksi sosial. Menurut Mardianto (2007, 70-72) ada beberapa faktor pendorong dalam interaksi sosial yaitu:
a. Imitasi
Imitasi adalah suatu tindakan meniru orang lain. Imitasi dilakukan dalam bermacam-macam bentuk. Misalnya, gaya bicara atau tingkah laku.
b. Sugesti
Sugesti berlangsung apabila seseorang memberi pandangan atau sikap yang dianutnya, lalu diterima oleh orang lain. Contohnya nasehat orangtua.
c. Identifikasi
Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Contohnya seorang anak yang mengidolakan ayahnya.
Empati merupakan simpati mendalam yang dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang.