• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. GAMBARAN UMUM PENGHAYATAN DEVOSI JALAN

A. Gambaran Umum Situasi Paroki Boyolali

4. Bentuk-bentuk Kegiatan Devosi di Paroki Boyolali

Berelasi dengan Allah melalui doa akan membantu setiap pribadi dalam pertumbuhan iman. Pertumbuhan iman berakibat pada tumbuhnya kedewasaan iman yang akan membawa pribadi dalam mencapai kebahagiaan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Hidup tanpa menjalin relasi dengan Allah akan menjadi kehampaan semata pada sebuah pribadi. Kejenuhan, kelelahan, dan keputusasaan

menjadi akibat dari terputusnya relasi dengan Allah. Bagi sebagian orang beriman, relasi dengan Allah menjadi sebuah hubungan yang terus dijalin tanpa ada putus-putusnya. Menjalin relasi dengan Allah sama dengan melakukan relasi dengan sesama. Ketika melakukan relasi dengan sesama melalui fisik, maka menjalin relasi dengan Allah melalui batin. Doa menjadi salah satu bentuk untuk memperkuat relasi bersama dengan Allah.

Doa dilaksanakan dalam bentuk perayaan ekaristi dan dalam bentuk devosi. Devosi yang didoakan oleh umat secara bersama antara lain adalah devosi Roh Kudus, devosi kepada Sakramen Mahakudus, devosi kepada Hati Yesus yang Maha Kudus, devosi kepada Bunda Maria, devosi kepada Jiwa-jiwa di Api Pencucian yang terpusat pada doa Santa Mathilda, devosi kepada Para Malaikat atau lebih dikenal dengan doa Angelus, devosi Sengsara Yesus yang dilaksanakan dalam praksis devosi jalan salib, dan devosi Kerahiman Ilahi [Lampiran 2: (2)].

a. Devosi kepada Roh Kudus

Devosi kepada Roh Kudus biasanya dilaksanakan umat satu tahun sekali selama 9 hari menjelang hari Raya Pentakosta. Umat melaksanakan devosi ini dimulai dari hari Kenaikan Tuhan sampai satu hari sebelum hari Pentakosta. Di paroki Boyolali, umat memadukan devosi ini dengan perayaan Ekaristi harian pagi yang berlokasi di gereja induk. Antusias umat untuk mengikuti devosi ini terlihat dari jumlah umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi harian pagi yaitu 80- 100 umat (Gereja Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali, 2013: 5). Devosi dilaksanakan dalam bentuk doa novena Roh Kudus yang dipadukan

dengan perayaan Ekaristi ini biasanya berlangsung selama 30 menit, dimulai pukul 5.30 WIB sampai 6.00 WIB. Bagi umat mendoakan devosi ini bersama- sama lebih terasa mendalam daripada harus melaksanakannya sendirian. Kehadiran Roh Kudus selalu diimani sebagai Allah yang hadir dalam hidup manusia, dalam ciptaan dan jiwa manusia [Lampiran 2: (3)].

b. Devosi kepada Sakramen Maha Kudus

Devosi kepada Sakramen Maha Kudus merupakan pengungkapan iman cinta Yesus kepada Bapa. Cinta Hati Yesus kepada manusia menjadi wujud nyata dari cinta kepada Bapa. Umat melaksanakan devosi ini dalam bentuk Adorasi Ekaristi. Adorasi Ekaristi dilaksanakan pada setiap hari Minggu sore jam 18.00 di gedung gereja dan biasanya diikuti oleh 30-50 umat (Gereja Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali, 2013: 5). Adorasi Ekaristi yang dipimpin oleh prodiakon ini biasanya berlangsung selama 60 menit dilanjutkan dengan Ibadat Penutup selama 15 menit yang dipimpin oleh seorang suster Fransiskan yang bertempat di gedung gereja paroki. Suasana yang tercipta dari ibadat ini sungguh menyentuh hati, khusyuk, tenang, dan damai menjadi ciri khas dari ibadat Adorasi yang dilaksanakan umat di Paroki Boyolali [Lampiran 2 : (4)].

c. Devosi kepada Hati Yesus Yang Maha Kudus

Devosi Kepada Sakramen Maha Kudus di Paroki Boyolali, oleh umat dilaksanakan setiap Jumat Pertama pada awal bulan. Berlokasi di gedung gereja Paroki, devosi berlangsung kurang lebih 30 menit dilaksanakan setelah merayakan

sakramen Ekaristi. Devosi dipimpin langsung oleh imam yang merayakan perayaan Ekaristi. Devosi berpusat pada kehadiran Allah dalam rupa roti dan anggur merupakan bentuk devosi kepada Sakramen Maha Kudus. 150-200 umat hadir dalam devosi ini. Umat terlihat antusias dalam mengikuti devosi, terlihat dari kehadiran umat yang tetap bertahan setelah perayaan sakramen Ekaristi.

d. Devosi kepada Bunda Maria

Devosi kepada Bunda Maria merupakan salah satu devosi terpenting dalam Gereja Katolik ditujukan kepada perawan Maria, karena peran khasnya dalam penyelamatan. Devosi kepada Bunda Maria yang dilaksanakan oleh umat Paroki Boyolali merupakan salah satu ciri khas kepada spiritualitas Gereja yang berlindung pada santa Maria Immaculata. Di Paroki Boyolali, umat melaksanakan devosi ini khusus pada bulan Mei sebagai bulan Maria dan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Bulan Maria yang jatuh pada setiap bulan Mei, dimanfaatkan oleh Gereja Boyolali berdevosi kepada Bunda Maria melalui doa rosario dan litani kepada Bunda Maria. Selama 31 hari diadakan doa rosario secara rutin di depan gua Maria yang terletak di samping gereja yang dimulai pukul 18.00-19.00 WIB. Peserta yang mengikuti kegiatan ini merupakan umat yang bertempat tinggal di sekitar gedung gereja dan beberapa umat yang bersedia datang untuk mengikuti doa ini, sedangkan umat yang lokasinya jauh dari gedung gereja melaksanakan di Wilayah maupun Lingkungan masing-masing. 30-50 umat hadir setiap harinya dalam kegiatan ini. Suasana sunyi, tenang, dan khusyuk tercipta selama berlangsungnya devosi ini [Lampiran 2: (4)].

Tidak jauh berbeda dengan bulan Mei, pada bulan Oktober pun Gereja memperingatinya sebagai bulan Rosario. Di gereja Boyolali, doa rosario bersama di depan gua maria menjadi agenda rutin umat dalam memperingati bulan ini. Selain itu devosi kepada Bunda Maria oleh umat juga dilaksanakan sebelum misa harian pagi yang dimulai pukul 4.30 WIB. Devosi yang dilaksanakan dalam bentuk doa rosario dipimpin oleh umat yang datang lebih awal dan diikuti oleh seluruh umat yang hendak mengikuti misa. Doa rosario dilaksanakan secara rutin sebagai penghormatan akan Bunda Maria sebagai pelindung Gereja Paroki Boyolali [Lampiran 2: (4)].

e. Devosi kepada Jiwa-jiwa di Api Pencuciaan

Orang yang sudah meninggal merupakan bagian dalam kehidupan devosi Gereja. Doa untuk para jiwa di api penyucian merupakan tradisi yang sudah lama berjalan dalam Gereja Katolik. Doa dimaksudkan untuk membantu jiwa-jiwa yang sedang berada di api penyucian untuk dapat segera menghadap Bapa di Surga. Pelaksanaan devosi kepada Jiwa-jiwa di Api Pencucian oleh umat Paroki Boyolali dipadukan dengan perayaan Ekaristi untuk memperingati arwah semua orang beriman, tepatnya didaraskan setelah homili berlangsung. Umat Paroki Boyolali melaksanakan devosi ini satu tahun sekali terkhusus pada bulan November, doa ditujukan kepada arwah-arwah semua orang beriman. Paroki Boyolali melaksanakan devosi ini tepat pada 2 November sebagai peringatan mulia arwah semua orang beriman, yang secara khusus dilaksanakan di pemakaman Katolik Sonolayu. 150-200 umat hadir dalam perayaan ini untuk mendoakan arwah-arwah

keluarga yang dimakamkan di pemakaman Sonolayu. Suasana haru selalu mewarnai perayaan ini setiap tahunnya [Lampiran 2: (4)].

f. Devosi kepada Para Malaikat

Devosi kepada Para Malaikat atau lebih dikenal sebagai doa Malaikat Tuhan oleh umat paroki Boyolali, selalu didoakan setiap pagi di luar masa paskah. Tepat pukul 6.00 WIB di gedung gereja setelah perayaan misa harian pagi, dengan dipandu oleh seorang suster Fransiskan umat mendoakan doa ini bersama. Umat yang mengikuti doa ini berjumlah 80-100 orang setiap pagi (Gereja Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali, 2013: 5). Tenang, damai, dan khusyuk menjadi suasana khas yang mengiringi doa ini [Lampiran 2: (4)].

g. Devosi Jalan Salib

Devosi kepada Sengsara Yesus merupakan doa harian yang disesuaikan dengan peristiwa sengsara Yesus. Tradisi dari devosi ini yang dilaksanakan oleh Paroki Boyolali adalah devosi jalan salib. Devosi jalan salib dilaksanakan di gedung gereja Paroki selama masa prapaskah setiap Jumat pukul 17.00-18.00 WIB. Devosi ini berlangsung selama masa prapaskah setiap Jumat dengan dipimpin oleh seorang prodiakon. Umat yang menghadiri devosi ini ada 100-150 orang. Selain itu, jalan salib juga dilaksanakan oleh umat dalam bentuk tablo atau drama penyaliban Yesus yang dilaksanakan Jumat pagi sebelum Ibadat Jumat Agung. Suasana haru selalu hadir dalam devosi jalan salib, terlebih bagi umat yang menyaksikan drama penyaliban Yesus [Lampiran 2: (4)].

Dokumen terkait