BAB X MODAL SOSIAL
BENTUK-BENTUK PEMBERDAYAAN
Model pemberdayaan masyarakat dapat dibedakan melalui tiga tingkat, yaitu mikro, meso, dan makro. Pada tingkat mikro, pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individual melalui bimbingan, konseling, stress management, serta crisis intervention. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut sebagai pendekatan yang berpusat pada tugas (task centered approach). Pada tingkat meso, pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan peperlatihan, dinamika kelompok, biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap klien agar memiliki kemampuan dalam memecahkan permasalahan yang diahadapinya. Terakhir, pada tingkat makro, pemberdayaan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobbying,
LKPP
pengorganisasian masyarakat, dan manajemen konflik merupakan beberapa strategi dalam pendekatan ini.
Program pemberdayaan masyarakat perlu memperhatikan konsep pemberdayaan berbasis masyarakat (community-based). Prospek pendekatan community-based menyimpan sejumlah konteks formal maupun informal yang berpotensi menjadi tantangan yang menghambat pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat. Ketiadaan dukungan pemerintah dalam bentuk kejelasan hak-hak pengelolaan sumber daya alam berpotensi melahirkan praktik-praktik degradasi dan pencurian yang dikendalikan oleh jaringan pencurian (oknum aparat, cukon, dan pencuri). Meskipun secara normatif pelibatan dan partisipasi masyarakat diakui oleh berbagai kebijakan, dalam tataran implementasi kebijakan-kebijakan pusat tersebut perlu didukung oleh kebijakan daerah untuk menguatkan posisi masyarakat, misalnya dalam pengelolaan sumber daya alam.
Unsur-unsur pemberdayaan masyarakat pada umumnya adalah : 1. Inklusi dan partisipasi
Inklusi berfokus pada pertanyaan siapa yang diberdayakan, sedangkan partisipasi berfokus pada bagaimana mereka diberdayakan dan peran apa yang mereka mainkan setelah mereka menjadi bagian dari kelompok yang diberdayakan. Menyediakan ruang partisipasi bagi masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dalam pembangunan adalah memberi mereka otoritas dan kontrol atas keputusan mengenai sumber-sumber pembangunan. Partisipasi masyarakat miskin dalam menetapkan prioritas pembangunan pada tingkat nasional maupun daerah diperlukan guna menjamin bahwa sumber daya pembangunan (dana, prasarana/sarana, tenaga ahli, dll) yang terbatas secara nasional maupun pada tingkat daerah dialokasikan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masyarakat miskin tersebut. Ada berbagai bentuk partisipasi, yaitu :
LKPP
a. Secara langsung,
b. Dengan perwakilan (yaitu memilih wakil dari kelompok-kelompok masyarakat),
c. Secara politis (yaitu melalui pemilihan terhadap mereka yang mencalonkan diri untuk mewakili mereka),
d. Berbasis informasi (yaitu dengan data yang diolah dan dilaporkan kepada pengambil keputusan),
e. Berbasis mekanisme pasar yang kompetitif (misalnya dengan pembayaran terhadap jasa yang diterima).
Partisipasi secara langsung oleh masing-masing anggota masyarakat adalah tidak realistik, kecuali pada masyarakat yang jumlah penduduknya sedikit, atau untuk mengambil keputusan-keputusan kenegaraan yang mendasar melalui referendum. Yang umum dilakukan adalah partisipasi secara tidak langsung, oleh wakil-wakil masyarakat atau berdasarkan informasi dan mekanisme pasar. Organisasi berbasis masyarakat seperti lembaga riset, LSM, organisasi keagamaan, dll. mempunyai peran yang penting dalam membawa suara masyarakat miskin untuk didengar oleh pengambil keputusan tingkat nasional dan daerah.
2. Akses pada informasi
Akses pada informasi, adalah aliran informasi yang tidak tersumbat antara masyarakat dengan masyarakat lain dan antara masyarakat dengan pemerintah. Informasi meliputi ilmu pengetahuan, program dan kinerja pemerintah, hak dan kewajiban dalam bermasyarakat, ketentuan pelayanan umum, perkembangan permintaan dan penawaran pasar, dsb. Masyarakat pedesaan terpencil tidak mempunyai akses terhadap semua informasi tersebut, karena hambatan bahasa, budaya dan jarak fisik. Masyarakat yang informed,
LKPP
mempunyai posisi yang baik untuk memperoleh manfaat dari peluang yang ada, memanfaatkan akses terhadap pelayanan umum, menggunakan hak-haknya, dan membuat pemerintah dan pihak-pihak lain yang terlibat bersikap akuntabel atas kebijakan dan tindakan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.
3. Kapasitas organisasi lokal
Kapasitas organisasi lokal adalah kemampuan masyarakat untuk bekerja bersama, mengorganisasikan perorangan dan kelompok-kelompok yang ada di dalamnya, memobilisasi sumber-sumber daya yang ada untuk menyelesaikan masalah bersama. Masyarakat yang organized, lebih mampu membuat suaranya terdengar dan kebutuhannya terpenuhi.
4. Profesionalitas pelaku pemberdaya.
Profesionalitas pelaku pemberdaya adalah kemampuan pelaku pemberdaya, yaitu aparat pemerintah atau LSM, untuk mendengarkan, memahami, mendampingi dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk melayani kepentingan masyarakat. Pelaku pemberdaya juga harus mampu mempertanggungjawabkan kebijakan dan tindakannya yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Memberdayakan masyarakat berarti melakukan investasi pada masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dan organisasi mereka, sehingga asset dan kemampuan mereka bertambah, baik kapabilitas perorangan maupun kapasitas kelompok. Agar pemberdayaan masyarakat dapat berlangsung secara efektif, maka reformasi kenegaraan, state reform, harus dilakukan pada tingkat nasional maupun daerah. Berbagai peraturan, ketentuan, mekanisme kelembagaan, nilai-nilai dan perilaku harus disesuaikan untuk memungkinkan masyarakat miskin berinteraksi secara efektif dengan pemerintah. Berbagai ketentuan perlu disiapkan untuk memungkinkan masyarakat miskin dapat
LKPP
memantau kebijakan, keputusan dan tindakan pemerintah dan pihak-pihak lain yang terlibat. Tanpa pemantauan yang efektif dari masyarakat miskin, maka kepentingan mereka dapat terlampaui oleh kepentingan-kepentingan lain. Adanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan akan menghasilkan wujud yang berbeda jika pembangunan tidak melalui proses yang partisipatif. Pembangunan yang partisipatif menghasilkan tata pemerintahan yang lebih baik, kemakmuran yang lebih adil, pelayanan dasar yang lebih bermanfaat bagi masyarakat banyak, akses ke pasar dan jasa bisnis yang lebih merata, organisasi masyarakat yang lebih kuat, dan kebebasan memilih yang lebih terbuka.
Pendidikan alternatif dapat dijadikan sebagai strategi pemberdayaan masyarakat. Proses pendidikan pada dasarnya merupakan sebuah proses penyadaran, ada juga yang menyebut pendidikan sebagai upaya yang dilakukan individu atau kelompok untuk memperoleh ilmu, memperoleh suatu pencerahan untuk mencapai derajat kehidupan yang lebih baik. Pendidikan pada hakikatnya adalah sebuah proses, yaitu proses panjang tiada akhir untuk mencapai kebaikan dalam upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia. Jika pendidikan dimaknai sesuai defenisi tersebut, maka tidak ada lagi “pemaksaan” bagi individu untuk memilih jalur pendidikan yang diinginkan, atau tidak ada lagi pemaksaan terhadap diri individu untuk menentukan apa yang akan ia pelajari, mengenai bebagai ilmu pengetahuan, dan tidak ada lagi pemaksaan “dengan siapa ia akan belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan”. Untuk itu, mewujudkan pendidikan alternatif merupakan suatu keharusan.
Pendidikan alternatif dapat dimaknai sebuah praktik pendidikan yang berbasis pada kepentingan masyarakat. Pemaknaan ini lebih didasarkan pada asumsi bahwa orang (subjek) yang membutuhkan pendidikan adalah masyarakat, untuk itu, masyarakatlah yang paling tahu mengenai apa yang ia
LKPP
butuhkan untuk kehidupannya. Pendidikan adalah untuk kepentingan individu, bukan untuk kepentingan negara, guru atau pihak lain, sehingga pendidikan seharusnya merupakan proses dari, oleh, dan untuk individu. Jika pendidikan dilakukan dalam sebuah proses yang penuh dengan “pemaksaan”, maka yang terjadi adalah pendidikan hanyalah sebuah belenggu yang membatasi kesempatan individu untuk mengembangkan potensi dan kreativitas individu, tidak ada proses berpikir di dalamnya. Padahal seharusnya pendidikan harus melibatkan proses berpikir aktif, proses ini harus menyatu dengan perkataan dan tindakan.
Praktik pendidikan modern seperti praktik pendidikan yang banyak dianut masyarakat kapitalis, adalah praktik pendidikan yang sarat dengan pemaksaan. Proses pendidikan yang sering dijumpai dalam praktik pendidikan di sekolah adalah sebuah alat yang mengekang kebebasan individu. Dalam tataran ini, mustahil proses pendidikan dapat digunakan untuk mengubah individu, yang terjadi justru pendidikan menjadi mekanisme reproduksi sosial. Substansi pendidikan yang tidak dirasakan pada kebutuhan masyarakat adalah proses pendidikan yang percuma, tidak banyak memberi manfaat bagi masyarakat, kemudian pendidikan yang dimanifestasikan dalam institusi sekolah hanyalah sebuah candu. Masyarakat dipaksa mengenyam pendidikan di sekolah, yang sebenarnya ilmu yang dipelajari di sekolah dapat dengan mudah diperoleh di lingkungan di sekitar. Inilah yang kemudian memunculkan komersialisasi pendidikan. Pola pikir masyarakat dibentuk bahwa untuk dapat mencapai kesuksesan, manusia harusn sekolah.
Pendidikan yang diterapkan haruslah berbasis pada proses pendidikan kritis yang membebaskan, yang pada akhirnya mampu menghasilkan manusia kritis, sadar mengenai realitas soail yang ada di sekitarnya. Pendidikan kritis tidak akan menghasilkan manusia bodoh, tidak ada dikotomi bodoh dan pintar,
LKPP
yang ada adalah manusia yang unik, tidak ada manusia yang sama, setiap manusia pasti memiliki keunikan tersendiri. Keunikan inilah yang menyebabkan setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, tugas institusi pendidikan seharusnya memfasilitasi berkembangnya keunikan tersebut. Pendidikan kita akan menghasilkan manusia kritis yang mampu mengubah dirinya menuju keadaan yang lebih baik. Pendidikan alternatif merupakan pendidikan kritis yang membebaskan.
a. Pendidikan alternatif bagi masyarakat pesisir
Indonesia merupakan salah satu negara yang sebagian besar wilayahnya berupa wilayah perairan. Indonesia kemudian disebut dengan istilah negara maritim. Indonesia juga merupakan Negara dengan jumlah pulau terbanyak di dunia, ada sekitar 17.000 pulau yang ada. Kondisi ini membawa keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Wilayah pantai hampir selalu menjadi daya tarik tersendiri dan selalu digunakan sebagai kawasan wisata bahari. Selain itu, banyak sumber daya alam yang dihasilkan dari laut. Jika dilihat dari kaca mata ini, Indonesia adalah negara yang sangat kaya, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir pantai.
Pandangan ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Masyarakat pesisir pantai, sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar dari mereka memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Kondisi ini turut memperparah kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir. Hal ini adalah sebuah ironi. Banyak investor yang datang untuk mengembangkan kawasan pesisir pantai, namun masyarakat setempat tidak banyak mangalami perubahan, bahkan kondisi mereka semakin terpuruk. Pengembangan kawasan wisata sering kali bersifat tidak ramah lingkungan. Kondisi ini diperparah dengan adanya kerusakan lingkungan di wilayah pantai, yang notabene menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir.
LKPP
Masyarakat pesisir juga selalu hidup dalam ketidakpastian. Kenyamanan mereka sangat tergantung pada kondisi cuaca, iklim atau kondisi permukaan ait laut, di kala air laut pasang, tidak jarang banjir rob menggenangi tempat tinggal mereka. Akhir-akhir ini, ancaman tsunami juga sering menghantui mereka. Bagi mereka, laut adalah sahabat sekaligus sebagai ancaman. Singkatnya, keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir berada di ujung tanduk.
Program-program pembangunan di wilayah pesisir tidak begitu banyak memberikan kontribusi dalam mengangkat kondisi ekonomi masyarakat pesisir. Sering kali, program pembangunan tidak memperhatikan aspirasi dari bawah, sehingga apa yang menjadi kebutuhan masyarakat pesisir menjadi terabaikan. Kegagalam program tersebut lebih disebabkan karena proyek-proyek pembangunan dalam konteks masyarakat pesisir di Indonesia tidak didasari pada inisiatif local. Karakter masyarakat pesisir sebenarnya cukup terbuka, hanya sering kali introduksi berbagai program atau proyek pembangunan lebih sarat dengan muatan pendekatan birokratis daripada berupaya membangkitkan inisiatif lokal. Padahal inisiatif lokal dapat memberikan kontribusi yang besar khususnya dalam mendorong proses pembelajaran sosial sehingga terjadi pengintegrasian misi proyek atau program dengan nilai, pengetahuan, kemampuan, kebutuhan dan pemanfaatan sumber daya lokal lainnya.
Sebagai upaya memberdayakan masyarakat pesisir dapat ditempu melalui pendidikan alternatif yang mampu membawa mereka pada proses kemandirian, tidak tergantung pada penentu kebijakan. Melalui pendidikan alternatif ini, mereka tidak selalu menjadi objek berbagai proyek pembangunan wilayah pantai.
LKPP
b. Masyarakat pesisir dan kemiskinan
Masalah kemiskinan adalah masalah klasik yang dihadapi masyarakat pesisir. Profesi sebagai nelayan sering kali menjadi satu-satunya pilihan masyarakat pesisir. Profesi ini bukanlah profesi yang menjanjikan bagi nelayan, namun mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas akan kebutuhan untuk mengonsumsi hasil laut. Kompleksitas masalah kemiskinan masyarakat pesisir lebih disebabkan masyarakat pesisir hidup dalam suasana alam yang keras yang diliputi ketidakpastian dalam menjalankan usahanya. Kondisi inilah yang kemudian menjadikan mereka dijauhi oleh lembaga-lembaga perbankan atau perusahaan asuransi, misalnya masyarakat pesisir sulit mendapatkan modal, baik modal kerja ataupun untuk kebutuhan konsumtif. Untuk itu, masyarakat pesisir dituntut untuk dapat hidup secara mandiri. Salah satu upaya untuk mengangkat mereka dari lubang kemiskinan adalah melalui pendidikan alternatif.
Pendidikan alternatif menjadi salah satu mekanisme sosial untuk mengangkat derajat sosial ekonomi masyarakat pesisir. Hal ini lebih disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, melalui pendidikan, masyarakat akan dibawa menuju pemikiran baru yang nantinya akan membantu mereka mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik. Kedua, pendidikan adalah aset jangka panjang yang tidak ternilai harganya. Produk pendidikan tidak dapat dinikmati seketika, namun memerlukan waktu yang sangat panjang. Ketiga, kondisi ekonomi masyarakat pesisir memiliki kemungkinan kecil untuk mengenyam pendidikan di sekolah formal. Selain biaya yang cukup mahal, jeratan ekonomi keluarga tidak memungkinkan mereka untuk mengikuti berbagai ”aturan main” dalam sekolah formal, misalnya untuk usia sekolah harus membantu orang tuanya, sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk belajar secara maksimal. Keempat, pendidikan alternatif lebih fleksibel dalam arti waktu dan amteri
LKPP
pembelajaran, tidak seperti pendidikan formal. Pendidikan alternatif adalah sebuah sistem pendidikan yang berakar pada kebutuhan komunitas, misalnya adalah komunitas (masyarakat) peisisr. Melalui pendidikan alternatif ini, masyarakat pesisir akan dibawa menuju pada proses pembebasan dan kemandirian.
Pemberdayaan masyarakat melalui penguatan modal sosial (berbasis penguatan nilai-nilai budaya komunitas setempat) harus dipandang sebagai bagian utama dari pengelolaan energi listrik pedesaan. Sebab, pada gilirannya keberdaaan pembangkit-pembangkit listrik ini dapat menjadi media bagi proses pembelajaran masyarakat lantaran mereka harus mengelola dan mengoperasikannya sendiri. Modal sosial adalah nilai budaya yang dianut oleh suatu komunitas. Penguatan modal sosial selalu berawal dari penguatan nilai-nilai budaya setempat. Elemen modal sosial umumnya terdiri atas tata nilai-nilai, kompetensi SDM, manajemen sosial, organisasi masyarakat formal atau informal (civil society), struktur sosial yang tidak timpang, local leadership (kepemimpinan lokal), sistem moral dan hukum yang kuat, serta penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Pemberdayaan masyarakat menekankan pada pentingnya keberdaan organisasi masyarakat formal dan informal (civil society), local leadership, serta sistem moral dan hukum yang kuat dan penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
Pelaku pemberdaya perlu mempunyai kemampuan profesional yang tinggi agar dapat melakukan pendampingan secara baik. Pelaku pemberdaya yang potensial adalah organ pemerintah daerah atau organisasi berbasis masyarakat lokal, yang mempunyai perhatian, komitmen, dan kemampuan untuk membangun masyarakat miskin dan terbelakang. Upaya pemberdayaan masyarakat pedesaan terpencil, baik masyarakat adat maupun masyarakat lokal, menuntut pola kerja yang fleksibel, tidak terhambat oleh sistem administrasi
LKPP
penganggaran yang ketat. Agar pelaku pemberdaya masyarakat dapat bekerja secara profesional, maka mereka perlu mendapat peperlatihan dan pendidikan yang memadai.
Pemberdayaan masyarakat pedesaan terpencil merupakan salah satu rstrategi mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera. Strategi lain yang perlu dilakukan adalah pemberian peluang (creating opportunity), pengembangan kapasitas dan modal manusia (capacity building and human capital development), dan perlindungan sosial (social protection).
Pemberian peluang dilakukan dengan penyediaan prasarana dan sarana umum khususnya transportasi, listik, komunikasi, dan pasar. Pengembangan kapasitas dan modal manusia dilakukan dengan menyediakan pelayanan pendidikan dan kesehatan sesuai kondisi lokal. Penyediaan prasarana dan sarana umum serta pelayanan sosial bagi masyarakat pedesaan terpencil, akan menghadapi kendala keterpencilan wilayah, jumlah penduduk yang sedikit, lokasi yang tersebar. Untuk itu berbagai teknik dan bentuk-bentuk prasarana dan sarana serta pola-pola pelayanan khusus perlu diciptakan. Perlindungan sosial dilakukan antara lain dengan membuat peraturan yang menjamin kepastian hukum terhadap hak ulayat masyarakat adat, atau hak milik masyarakat umum, disertai dengan ketentuan batas-batas tanah yang selanjutnya diakomodasikan dalam peraturan daerah mengenai rencana tata ruang wilayah. Perlindungan hukum juga diberikan pada produk-produk budaya masyarakat.
LKPP
PENUTUP Soal Perlatihan
1. Apa yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat ? 2. Mengapa pemberdayaan masyarakat perlu dikembangkan ? 3. Bagaimana bentuk-bentuk pemberdayaan masyarakat ?
4. Jelaskan hubungan antara pemberdayaan masyarakat dengan kesejahteraan masyarakat ?
Daftar Bacaan
Buletin Kawasan. Direktorat PKKT Bappenas, Edisi 8 Tahun 2003.
Direktorat Kerjasama Pembangunan Sektoral dan Daerah, Bappenas. 2003. Kebijakan Strategis Pemberdayaan Masyarakat.
Martono, N. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada.
Narayan, D. 2002. Empowerment and Poverty Reduction. World Bank.
Wrihatnolo, R.R dan Riant N.D. 2007. Manajemen Pemberdayaan sebuah Pengantar dan Panduan untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta :
PT. Elex Media Komputindo.
LKPP
BAB XII
SOSIOLOGI DALAM PENELITIAN