• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Perilaku

4. Bentuk-Bentuk Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2007) dilihat dari bentuknya yaitu:

a. Perilaku tertutup (Introvert)

Introvert adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tertutup. Perilaku yang tertutup akan menyebabkan seseorang ini akan terbatas dalam hal persepsi, pengetahuan, san sikap yang terjadi pada orang tersebut sehingga oarang lain tidak dapat mengenal mengenal secara baik.

b. Perilaku Terbuka (Eksrovert)

Eksrovert adalah respon seseorang dalam bentuk nyata atau terbuka.

Perilaku pada seseorang ini sudah jelas responnya dalam bentuk tindakan nyata atau dapat dilihat oleh orang lain sengan terbuka sesuai apa yang dilakukannya.

D. Perilaku Seks Pranikah 1. Definisi

Perilaku seksual adalah tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, kutipan dari Sarwono (2010) dalam jurnal (Pratama et al., 2014).

Perilaku seksual adalah kegiatan seksual yang melibatkan dua orang yang saling menyukai atau saling mencintai, yang dilakukan sebelum perkawinan. Seks Bebas atau dalam bahasa populer disebut dengan ekstra-martial intercouse atau kinky seks adalah bentuk pembebasan seks yang dipandang tidak wajar (Banun, 2012).

Tjiptanigrum (2009) mengatakan bahwa perilaku seksual terbagi atas dua yaitu perilaku seksual ringan dan perilaku seksual berat yaitu:

a. Perilaku seksual ringan 1) Menghayal

2) Pergi berkencan 3) Berpegangan tangan

4) Berciuman ringan (pipi dan kening) 5) Saling memeluk

b. Perilaku seksual berat

1) Berciuman pada bibir/ mulut dan lidah 2) Meraba dan mencium area sensitif 3) Menempelkan alat kelamin

4) Berhubungan badan 2. Bentuk-bentuk seks

Ada beberapa bentuk seksual yang biasa dilakukan pada remaja dalam kutipan (Rahadi & Indarjo, 2017) yaitu sebagai berikut:

a. Kissing atau perilaku mencium

Ciuman yang dilakukan untuk menimbulkan ransangan seksual, seperti dibibir seperti rabaan pada bagian sensitif yang dapat menimbulkan ransangan.

b. Necking atau berciuman sekitar leher

Necking merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang mencuim disekitar leher dan pelukan yang erat.

c. Petting atau menggesekkan bagian tubuh

Petting merupakan perilaku yang menggesek-gesekan bagian tubuh yang sensitif, seperti bayudara dan alat kelamin. Perilaku ini adalah langkah yang paling mendalam dari necking. Termasuk merasakan dan

mengusap-gusap tubuh pasangan termasuk lengan, dada, kaki, dan kadang-kadang daerah kemaluan, baik itu dalam maupun diluar pakaian.

d. Intercourse atau persatuan dua organ

Intercourse adalah penyatuan penyatuan dua organ secara seksual yang dilakukan oleh pasangan pria dan wanita yang ditandai dengan penis pria yang ereksi masuk dalam vagina untuk mendapat kepuasan seksual untuk keduanya.

3. Faktor Perilaku Seks a. Peran Orang Tua

Keluarga adalah tempat pertama bagi remaja untuk mendapatkan pendidikan. Pengetahuan seks yang diberikan orang tua kepada remaja harus menggunakan komunikasi dengan tepat yang hanya dapat dilakukan apabila remaja tersebut melihat orang tua sebagai sahabatnya. Namun remaja biasanya telah mempunyai informasi seks sebelum orang tua mulai memberikan pendidikan mengenai seks, (Rahmawati & Ratnawati, 2015).

b. Paparan Pornografi

Di Era globalisasi sekarang ini, penyebaran informasi dilakukan dengan cepat dan mudah. Perkembangan tekhnologi tidak lepas dari kondisi tersebut. Pada remaja terkadang mengambil keuntungan dengan mencari informasi melalui media internet, smartphone, dan vidio porno untuk mencari informasi tentang seks seperti pornografi, (Nurmansyah et al., 2013)

c. Pengetahuan Seks Reproduksi

Pengetahuan dan perawatan yang baik merupakan faktor penentu dalam memelihara kesehatan reproduksi. Upaya menuju reproduksi sehat sudah harus dimulai paling tidak pada usia remaja, dimana remaja harus dipersiapkan baik pengetahuan, sikap dan perilakunya kearah pencapaian reproduksi yang sehat, Badriah&Wahyuni (2015) kesehatan reproduksi remaja dimana kondisi sistem yang sehat, fungsi dan proses reproduksi pada remaja yang termaksud kesehatan mental, sosial dan kultural. Ruang lingkup reproduksi remaja yaitu pencegahan penyakit infeksi menular seksual (IMS), infeksi saluran reproduksi (ISR), termasuk HIV/AIDS, pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi, (Irawan Aditia, 2016).

d. Pengetahuan Seks

Seks bebas atau free sex kini telah menjadi tren di beberapa kelompok remaja, serta menjadi budaya bagi masyarakat. Atas dasar fenomena tersebut segala peraturan dan tindakan telah dilakukan. Akan tetapi masih sulit untuk diatasi dan belum menemukan solusi yang terbaik.

Jika dilihat maraknya tindakan asusila dan pergaulan bebas yang ada dibeberapa kelompok remaja disebabkan oleh beberapa faktor yaitu karna kurangnya pengetahuan seks bebas melalui melalui pendidkan formal (sekolah) dan pendidkan non formal (orang tua) menurut (Mu’tadin.

2008).

Menurut Luthfie,R.E (2009) berpendapat bahwa pendidkan seks atau seks education adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar. Informasi ini meliputi proses terjadinya

pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, hubungan seksual, tingka laku seksual, serta dalam aspek kesehatan Dalam jurnal (Pratama et al., 2014) e. Pengetahuan Agama

Pengetahuan agama merupakan solusi untuk merubah etika, ahlak dan moral. Dalam hal tersebut pendidikan agama yang diajarkan oleh keluarga, guru disekolah, dan juga para ulama indonesia. Pengetahuan agama Islam disekolah pada umumnya memilki peranan yang penting terhadap pembentukan karakter dan kepribadian serta moralitas sosial remaja dan generasi muda, (Ninda Aulia, 2019).

Zakiah Daradjat, (2009) menulis bahwa persoalan anak-anak, remaja dan pemuda sangat banyak seiring dengan perubahan sosial dan perkembangan zaman. Memberikan pendidkan agama islam kepada remaja berumur 16-18 tahun merupakan umur dimana mereka sudah tidak mudah lagi untuk dididik, dinasihati dan diajarkan. Oleh karena itu saat ini terjadinya krisis moral yang merupakan pangkal dari akhlak, sedangkan pendidikan agama merupakan pendidikan yang mendalami sebuah karakter(akhlak) dalam penelitian (Ninda Aulia, 2019).

Dalam hal ini pengetahuan agama yang memilki kualitas agama yang baik yaitu memiliki moral dan ahlak yang baik maka kemungkinan kecil mencoba melakukan perilaku seksual dibandingkan dengan kualitas agama yang kurang (Nuandri & Widayat, 2014).

Nabi Muhammad Saw bersabda tentang ahlak yang artinya:“Tidak

ada sesuatu yang lebih berat pada timbangan (kebajikan) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi)

4. Dampak Perilaku Seks Pranikah

Ada beberapa akibat yang ditimbulkan pada remaja yang sering melakukan seks bebas diantaranya adalah:

1. Infeksi Menular Seksual (IMS)

Menurut Kemeskes RI (2013), mengatakan bahwa IMS juga disebut dengan penyakit kelamin, yaitu penyakit yang terjadi akibat hubungan seksual. Di indonesia penderita IMS saat ini cenderung meningkat, kerena itu IMS harus di beri prioritas yang tinggi kerena infeksi menular mempermudah penularan HIV/AISD

2. Menderita HIV/AIDS

Penderita HIV/AIDS sudah terdapat di 32 provinsi dari 300 kabupaten/kota. Penderita ditemukan pada usia produktif, yaitu 15-29 tahun, Depkes (2013).

3. Kehamilan Tidak Diinginkan

Dampak seks yang dialami oleh remaja perempuan adalah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Kehamilan ini dapat menyebabkan terjadinya kematian ibu dan bayi. Kematian ibu dan bayi disebabkan oleh 4 yaitu, terlalu tua, terlalu muda, terlalu dekat dan terlalu banyak. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, dalam kutipan (Ahiyanasari &

Nurmala, 2017).

4. Aborsi

Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) survai data secara online, sekarang ini terjadi setiap harinya kurang lebih 100 remaja yang melakukan aborsi karena hamil diluar nikah. Jika dihitung pertahun maka angka aborsi setiap tahun sekitar 36 ribu janin dibunuh oleh remaja akibat dari seks bebas. Ini menunjukkan bahwa pergaulan seks bebas pada remaja di Indonesia sangat memprihatinkan (Mardiya, 2013).

5. Penggunaan Narkoba

Menurut DP2KBP3A (2017), Seksual juga berkembang dari anak-anak, remaja dan dewasa. Terkadang seksualitas diekspresikan dalam bentuk perilaku seksual akibat pengaruh penggunaan NAPSA, dalam kutipan (Alfiyah et al., 2018)

5. Pencegahan Perilaku Seks Pranikah 1. Edukasi

Pendidikan seksual disekolah sangatlah bermanfaat oleh para siswa, dikarenakan, dengan adanya pendidikan sejak dini di bangku sekolah tentang pendidikan seksual dapat membantu perkembangan fisik dan kesehatan seksualitas pada remaja. Mereka lebih banyak membutuhkan informasi kesehatan seksual. Maka peran sekolah dalam menghadirkan konten kesehatan seksual bagi para siswa (Brewin, 2014).

2. Peningkatan Pengawasan Orang Tua

Adanya pengawasan dari orang tua tentang penggunaan ponsel ini ternyata dapat membantu pencegahan perilaku seks pada anak Psikolog Elly

mengungkapkan bahwa peran orang tua sangat lah penting, dimana mereka harus mampu menjelaskan kepada anak tentang sisi positif dan negatif dari teknologi yang digunakan (Marlita et al., 2019)

3. Kampaye Publik

Membuat kampaye publik seperti menonton film pendek “Megan Story” adalah kisah Megan yang merupakan tokoh kampaye publik dalam memberantas seks, mamberi manfaat sebagai titik awal untuk manganalisis pemahaman praktik seks saat ini oleh remaja (Crawford, 2016).

4. Menjaga Pergaulan

Pergaulan dengan teman sebaya yang memiliki sifat negatif yang menyimpang akan mempengaruhi kemungkinan perilaku seks lebih tinggi terjadi. Oleh karena itu pergaulan dengan teman sebaya harus bijak memilih untuk menghindari pergaulan bebas.

5. Pendidikan Keagamaan

Pendidikan agama sejak kecil bagi anak merupakan suatu keharusan bagi orang tua. Dimana, anak harus diajarkan mengenai ahlak yang baik sesuai dengan aturan Al-Quran dan hadits. Ahlak yang baik seperti halnya masalah kesopanan, benar dan salah, pandangan hidup antara baik dan buruk, etika dan moral, sopan santu pada sesama manusia, hubungan manusia dengan Allah AWT (Hannah, 2017).

E. Seks Pranikah Dalam perspektif Islam

Ahlak merupakan suatu perilaku manusia , baik atau buruk seseorang, ataupun salah atau benarnya seseorang itu disebut dengan ahlak. Dalam

Al-Quran, perilaku yang baik merupakan gabungan dari kesadaran moral dan kesucian jiwa. Kerena ini perilaku yang terpuji adalah hasil dari nilai-nilai agama dan moral pada diri seseorang yang ditandai oleh sikap dan perilaku positif.

Seks Pranikah adalah masalah sosial yang membutuhkan penanganan secara serius menyangkut masa depan bangsa dan negara. Hal ini bahwa remaja sebagai generasi penerus cita-cita perjuangan dan pembangunan harus memiliki pemahaman mengenani serangkaian perkembangan dan memperoleh banyak pengalaman tentang pengetahuan dampak seks bebas apabila dibiarkan akan membawa remaja turun bebas kedalam lembah perzinaan. Yang dimaksud dengan zina adalah perbuatan berseggama antara laki-laki dan perempuan yang belum resmi menjadi suami istri (Perkawinan).

Ada beberapa jenis-jenis zina yaitu zina hati (Qalbi), zina ucapan (Lisan), zina mata (Ain), zina tangan (Yadin) dan juga zina luar.

1. Zina Hati (qalbi) yaitu ketika memikirkan atan menghayalkan lawan jenis dengan perasaan senang dan bahagia.

2. Zina Ucapan (lisan) yaitu ketika membicarakan lawan jenis yang diikuti dengan perasaan senang.

3. Zina Mata (ain) yaitu ketika seseorang memandang lawan jenisnya dengan perasaan senang

4. Zina Tangan (yadin), Ketika dengan sengaja memegang bagian tubuh lawan jenis diikuti dengan perasaan senang dan bahagia terhadapnya.

5. Zina Luar adalah sebenarnya zina yang diperbuat antar lawan jenis yang bukan muhrim dengan melibatkan alat kelamin. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT QS. Al Isra Ayat 32 yang berbunyi:

ٗلٗيِبَس َءٓبَس َو ٗتَش ِحََٰف َىبَم ۥُهًَِّإ َٰٰٓۖٓىًَ ِّسلٱ ْاىُب َرۡقَت َلَ َو (

٢٣ )

Terjemahnya “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesunguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk

Tafsir Al-Mishbah mengemukakan bahwa faktor yang mendorong untuk mereka membunuh anak-anak perempuannya adalah karena kekhwatiran diperkosa atau berzina. Maka dari jauh ayat ini semua anggota masyarakat agar menghindar sebab-sebab yang dapat mengantar kearah tersebut. Ayat ini menegaskan bahwa : Dan janganlah kamu mendekati zina dengan melakukan hal-hal walau dalam bentuk menghayalkan sehingga dapat mengantarkan kamu terjerumus dalam keburukan itu; sesungguhnya zian itu adalah suatu perbuatan yang amat keji yang melampau batas dalam ukuran apapun dan sesuatu jalan yang buruk dalam menyalurkan kebutuhan biologis.

Sementara ulama menggarisbawahi membunuh anak karena takut miskin adalah tanda prasangka buruk kepada Allah swt. Sedang membunuh karena takut mereka berzina adalah upaya membinasakan keturunan. Sementara dalam sejumlah ulama Al-Quran atau ayat-ayat yang menggunakan kata”jangan mendekati” seperti ayat diatas biasanya merupakan larangan mendekati sesuatu yang dapat merangsang jiwa/nafsu untuk melakukannya.

Dengan demikian, larangan mendekati memiliki makna larangan untuk tidak terjerumus dalam sesuatu rayuan yang dapat berpotensi mengantar istri sedang haid, demikian pula harta secara batil, memiliki ransangangan yang sangat kuat, karena it Al-Quran melarang medekatinya. Memang, siapa yang berdiri disuatu jurang, ia akan khawatir tererumus didalamnya. Adapun pelanggaran yang tidak memiliki rangsangan yang kuat , maka biasanya larangan akan tertuju pada perbuatan itu, buka larangan mendekatinya.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia menjelaskan bahwa pada ayat 32 dan jauhilah perbuatan zina, serta jauhilah segala sesuatu yang bisa mengantarkan padanya, karena zina adalah amalan paling keji dan jalan yang sangat buruk lantaran akibatnya berupa ketidak jelasan nasab anak hasil zina dan azab Allah.

Tidak ada perbedaan dalama Al-Quran antara karasteristik seksual lai-laki dan perempuan, hal ini terbukti beberapa pasangan laki-laki dan perempuan dalam berbagai persoalan. Misalnya dalam Al-Quran An-Nur:26

ِِۚتََٰبِّيَّطلِل َىىُبِّيَّطلٱ َو َييِبِّيَّطلِل ُتََٰبِّيَّطلٱ َو ِٰٓۖتََٰثيِبَخۡلِل َىىُثيِبَخۡلٱ َو َييِثيِبَخۡلِل ُتََٰثيِبَخۡلٱ ُهَل َٰٓۖىىُلىُقَي بَّوِه َىوُء َّرَبُه َلِئََٰٓل ْوُأ ٞني ِرَم ٞق ۡز ِر َو ٞة َرِفۡغَّه ن

( . ٣٢ )

Terjemahnya: Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk lelaki- lelaki yang keji dan lelaki- lelaki yang keji adalah untuk perempuan -perempuan yang keji dan perempuan- perempuan yang baik adalah untuk lelaki- lelaki yang baik, dan lelaki-lelaki baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik.

Tafsir Al- Mishbah mengemukakan pada ayat ini kembali menguraikan sebab penegasan ayat 3 yang menyatakan bahwa pezina tidak wajar menikahi kecuali yang lawan seks peziana pula. Hal ini disebabkan karena telah terjadi sunnatullah bahwa seseorang yang cenderung kepada yang memiliki kesamaan dengannya. Ayat diatas mengatakan bahwa wanita-wanita yang keji jiwanya dan buruk ahlaknya adalah untuk laki-laki yang keji seperti wanita itu. Dan wanita-wanita yang buruk ahlaknya dan perangainya adalah untuk laki-laki yang keji seperti laki-laki itu pula.

Dan begitu juga sebaliknya laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik, dan begitu pula sebaliknya wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Ini disebabkan jiwa manusia selalu cenderung mencari temannya, dan tidak senang terhadap lawannya.

Jika demikian mana mungkin istri Rasulullah dituduh yang demikian buruk, padahal pasangannya adalah manusia teragung, tersuci dan terpuji. Mereka itulah yakni yang baik dan kedua jenis dan termaksud pula yang dituduh oleh kaum munafik yang bebas dan bersih dari apa yakni tuduhan dan keburukan yang dikatakan dan dituduhkan oleh mereka yang menuduh itu.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia ayat 26.

Setiap yang keji dari kalangan laki-laki, wanita, perbuatan dan perkataan akan cocok dan sesuai dengan kekejian yang semisalnya, sebaliknya setiap yang baik itu cocok dan sesuai dengan yang baik juga. Mereka yang baik-baik lagi bersih itu terjauhkan dari apa yang dituduhkan oleh laki-laki keji

dan wanita-wanita keji. Bagi mereka yang baik-baik dan bersih-bersih itu ampunan dari Tuhan mereka yang menghapus segala dosa mereka, dan bagi mereka juga rezeki yang mulia yaitu Surga.

Menurut al-Qur'an, kesucian dan kehormatan didasarkan pada perilaku, bukan pada identitas atau jenis kelamin, dan itulah sebabnya mengapa Alquran menerapkan konsep kesucian setara terhadap laki-laki dan perempuan. Hal ini dinyatakan dalam ayat lain:

ٌَي َلَ يًِا َّسلٱ ۡوَأ ٍىا َز َّلَِإ ٓبَهُحِنٌَي َلَ ُتَيًِا َّسلٱ َو ٗتَم ِر ۡشُه ۡوَأ ًتَيًِا َز َّلَِإ ُحِن

َييٌِِه ۡؤُوۡلٱ ىَلَع َلِلََٰذ َم ِّرُح َو ِۚٞك ِر ۡشُه

( . ٢ )

Terjemahnya: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan musyrik dan perempuan berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau orang laki-laki musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin (QS 24: 3).

Tafsir Al-Mishbah mengemukakan bahwa keharusan menghindari pezina, yakni yang kotor dan terbiasa berzina tidak wajar mengawini melaingkan perempuan pezina yang kotor dan terbiasa pula berzina, Atau perempuan musyrik yang demikian pula juga sebaliknya perempuan pezina yang tebiasa berzina tidak wajar dikawini melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik, dan demikian itu yaitu perkawinan dengan pezina diharamkan yakni tidak pantas terjadi atas orang-orang mukmin.

Banyak ulama yang memahami ayat diatas dalam arti: seorang yang cenderung dan senang berzina, enggan menikahi dengan taat beragama. Demikian juga wanita pezina tidak diminanti oleh laki-laki taat beragama. Ini karena tentu saja massing-masing ingin mencari pasangan

yang sejalan dengan sifat-sifatnya, sedang kesalehan dan perzinahan adalah dua hal yang bertolak berakang. Perkawinan antara lain bertujuan melahirkan ketenangan, kebahagiaan dan langgangnya cinta kasih antara suami dan istri bahkan semua keluarga.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 3.

Lantaran kejinya perbuatan zina ini, Allah menyebutkan bahwa laki-laki pezina yang terbiasa melakukannya tidak ingin menikah kecuali dengan seorang wanita pezina seperti dirinya, atau dengan seorang wanita musyrik yang tidak menjaga diri dari zina, padahal ia tidak boleh untuk dinikahi.

Demikian pula wanita pezina yang terbiasa melakukannya tidak ingin menikah kecuali dengan seorang laki pezina seperti dirinya atau laki-laki musyrik yang tidak menjaga diri dari zina, padahal ia tidak boleh untuk dinikahi. Menikah dengan wanita pezina atau menikahkan laki-laki pezina; diharamkan atas orang-orang mukmin.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Telaah literatur. Istilah dari Telaah Literatur ini merujuk pada metodologi penelitian atau riset tertentu dan perkembangan yang dilakukan untuk mengumpulkan serta mengevaluasi penelitian yang terkait pada fokus tertentu yang menjawab pertanyaan penelitian (Lusiana & suryani 2014).

B. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juni-juli 2020.

C. Strategi Pencarian Literatur

Pencarian literature ini diperoleh dengan cara melakukan penelusuran penelitian-penelitian ilmiah melalui data base mulai dari Google Scholar, Pubmed, Science Direct dan Springer Link. Dengan kata kunci “Religiuos Knowledge/Pengetahuan Agama, Behavior/Perilaku, Premiratal Sex/Seks Pranikah, dan Colluge Student/ Mahasiswa” dan kemudian digabungkan dalam beberapa bentuk kalimat alternatif dengan kata kunci.

Tabel 1 Kata Kunci

No Kata Kunci Bahasa Inggris Kata Kunci Bahasa Indonesia 1 Religiuos AND Behavior AND

Premiratal Sex OR College Student

Agama DAN Perilaku DAN Seks Pranikah ATAU Mahasiswa

2 Religiuos Knowledge AND Premiratal Sex

Pengetahuan Agama DAN Seks Pranikah

3 Behavior Sex AND College Student Perlaku Seks DAN Mahasiswa

4 Religiuos AND Sex Agama DAN Seks

5 Premiratak Sex AND College Student Seks Pranikah DAN Mahasiswa

D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Tabel 2 Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi Kriteria (PICOS) Kriteria Inklusi Kriteria Eksklusi Population (Populasi) Mahasiswa yang berusia

rata-rata 18-25 tahun (Remaja akhir)

Remaja berusia kurang dari 18 dan remaja lebih dari 25 tahun

Intervention (Intervensi) Edukasi -

Comparation (Komparasi) Tidak ada intervensi pembanding

- Outcome (hasil) Artikel yang di didapat

adalah artikel yang terdapat ISSN atau Doi

Bentuk skripsi dan tesis

Tahun Publikasi 2015-2020 -

Bahasa Indonesia dan Inggris -

E. Seleksi Studi dan Pernilaian Kualitas

Pengambilan dan pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan data sekunder dengan cara penelususran artikel ilmiah dalam rentan tahun 2015-2020 dengan berbagai link database dan diperoleh hasil pencarian penelitian yaitu Google Scholar, Pubmed, Science Direct dan Springer Link. Adapun hasil dari penyusuran artikel yang dimuat pada tabel dibawah ini:

Tabel 3 Hasil Penyususran Artikel

NO Database

Kata Kunci Bahasa Indonesia Total Artikel

Setelah dilakukan pengumpulan data melalui Google Scholar, Pubmed, Science Direct dan Springer Link, kemudian data diseleksi dengan menggunakan Flow Diagram yang meliputi Identification, Screening, dan Eliglibility, dengan kriteria inklusi dan eksklusi untuk menyeleksi penelitian.

Bardasarkan hasil yang ditemukan saat melakukan penyusuran artikel, terdapat 76054 aktikel yang teridentifikasi. Kemudian peneliti melakukan screening, yaitu artikel 5 tahun terakhir. Artikel yang berada pada 5 tahun terakhir

dihilangkan dengan banyaknya artikel 49713. Sehingga hasil screening sebanyak 26341 artikel. Setelah melakukan screening maka peneliti melakukan tahap eliglibility, pada tahap ini peneliti akan menghingkan artikel yang tidak sesuai dengan topik penelitian, tidak berbahasa indonesia atau bahasa inggris.

Artikel tersebut sebanyak 25937 dengan jumlah artikel yang tersisah adalah 404 artikel. Tahap selanjutnya dari seleksi artikel adalah dengan cara menghilangkan artikel yang tidak sejalan dengan apa yang akan diteliti yaitu dengan menghilangkan artikel yang mempunyai responden yang tidak sesuai dengan kriteria umur yaitu sebanyak 396. Sehingga peneliti dapat memenuhi kriteria dan layak untuk dijadikan studi literatur yang berjumlah 8.

Identification

Screening

Eliglibility

Bagan 1 Flow Diagram Pencarian Literatur

BAB IV

Research identified through database: Google Scholar, Pubmed, Science Direct, and Springer Link (76054)

Records Screened (n: 26341 Artikel)

Fulltext retrieved and assessed for eliglibility (n: 404 Artikel)

Study inkluded in synthesis (n:8 Artikel)

Excluded (n: 49713Artikel) Artikel 5 tahun terakhir

Excluded (n: 25937 Artikel) 1. Artikel tidak dalam bentuk

full text.

2. Artikel yang tidak sesuai dengan topik penelitian 3. Artikel yang bukan dalam

bahasa inggris dan indonesia

Excluded (n:396 Artikel) 1. Responden tidak

memenuhi kriteria usia

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

Berdasarkan hasil dari penyusuran artikel ilmiah melalui Google Scholar, pubmed, Science Direct dan Springer Link. Peneliti menemukan 8 artikel yang terkait dengan pertanyaan penelitian. Penelitian dari 8 artikel tersebut didapat kan dari hasil kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. dari 8 artikel tersebut 2 artikel menggunakan Kuantitatif Deskriptif, 1 artikel menggunakan mixe method (kuantitatif dan kualitatif), 1 artikel menggunakan observasi, wawancara dan dekumentasi, 2 aktikel menggunakan kualitatif dan wawancara, kemudian 2 arikel menggunakan metode survei. Hasil hipotesis dari keseluruhan artikel sebanyak 890 responden dengan rata-rata 111,2%. Usia rata-rata pada setiap artikel 18-24 tahun, status perkawinan” belum menikah”, jenis kelamin” laki-laki”.

dari 8 artikel tersebut 4 artikel yang membahas tentang agama dengan

dari 8 artikel tersebut 4 artikel yang membahas tentang agama dengan

Dokumen terkait