• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DIALEKTIKA TAFSIR WAKTU

B. Bentuk-bentuk Waktu

Al-Qur’an menggunakan beberapa kata untuk menunjukkan bentuk-bentuk waktu, seperti:

1.

رهد

Kata dahr (kurun waktu) terdiri dari dal, ha, ra (menimpa), di al-Qur’an diulang sebanyak 2 kali dalam surah al-Jāṡiyah: 24, dan al-Insān: 1. Kata dahr biasanya digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam raya dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan sampai punahnya alam semesta

ini.18 Allah subḥāna wa ta’ālā berfirman:

﴾١ ﴿ ا ًر ْوُكْذَم أًـْيَش ْنُكَي ْمَل ِرْهَدلا َن ِم ٌنْي ِح ِناَسْنِ ْلّا ىَلَع ىٰتَا ْلَه

“Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut.” (Qs. al-Insān/ 76: 1). Terdapat beberapa pendapat tentang pengertian al-dahr. Pendapat

pertama mengatakan bahwa al-dahr adalah masa sejak sebelum penciptaan.

Pendapat kedua, seperti yang dikatakan oleh Imam al-Aṣfaḥany, al-dahr pada asalnya berarti “masa yang dilalui oleh alam, mulai masa penciptaan hingga kehancuran”. Pendapat ketiga, seperti yang disebutkan oleh al-Ṭabarsi menyatakan bahwa kata ini berarti waktu berlangsungnya malam dan siang.

Bentuk jamaknya adhur

)رهدا(

atau duhūr

)روهد(.

19

17 Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, 497.

18 Fāris bin Zakariyā, Maqāyis al-Lugāh, 100.

19 M.Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an: kajian kosa kata, juz I, cet I (Jakarta: Lentera hati, 2007). 157.

Perbedaan pendapat tersebut dilatarbelakangi oleh siapa yang sebenarnya yang di maksud al-insān pada ayat diatas. Sebagian mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud itu adalah Nabi Adam a.s. oleh sebab itu, untuk mereka kata al-dahr adalah masa sejak sebelum penciptaan, ketika belum ada makhluk, karena ayat diatas menyebutkan, “ketika belum ada yang disebut”.Pendapat ini datang dari golongan al-Juba’I, tokoh Mu’tazilah, Qatadah, dan Sufyān. Dengan pengertian ini, mereka ingin menegaskan bahwa ada suatu masa ketika

Allah ada dengan sendirinya dan Allah menciptakan dari ketiadaan.20

Sebagian yang lain mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan kata al-insān adalah setiap manusia, anak cucu Adam as. Mereka beranggapan ayat tersebut di tafsirkan dengan ayat berikutnya yang berbunyi:

﴾٢ ﴿ ا ًرْي ِصَب ۢاًعْيِمَس ُهٰنْلَعَجَف ِهْيِلَتْبَن ٍۖ جاَشْمَا ةَفْطُّن ْنِم َناَسْنِ ْلّا اَنْقَلَخ اَنِا

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Qs. al-Insān/ 76: 2).

Dalam ayat ini jelas sekali bahwa yang dimaksud dengan al-insān bukan

Adam a.s, karena Nabi Adam tidak diciptakan dari setetes mani.21 Kemudian

pendapat yang ketiga mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-dahr itu masa pergantian siang dan malam, merujuk dari firman Allah subḥāna wa ta’ālā. Qs. al-Jāṡiyah/ 45: 24:

ُلاَق َو

َكِلٰذِب ْمُهَل اَم َو ُُۚرْهَدلا َلِّا ٓاَنُكِلْهُي اَم َو اَيْحَن َو ُت ْوُمَن اَيْنُّدلا اَنُتاَيَح َلِّا َيِه اَم ا ْو

﴿ َن ْوُّنُظَي َلِّا ْمُه ْنِا ُۚ مْلِع ْنِم

٢٤

“Dan mereka berkata, kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.” (Qs. al-Jāṡiyah/ 45: 24).

20 Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur’an: kajian kosa kata, 157. 21 Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur’an: kajian kosa kata. 157.

Ibnu Kaṣir dalam menafsirkan al-dahr dalam ayat di atas, mengungkapkan hadis Nabi saw. Diceritakan bahwa masyarakat Jahiliah beranggapan kalau sesungguhnya yang membinasakan mereka adalah malam dan siang kerena malam dan sianglah yang menghidupkan dan mematikan mereka.Dengan demikian, mereka lantas mencaci masa sebab membinasakan mereka. Sedangkan di dalam bahasa Arab sendiri memang dikenal penggunaan-penggunaan kata itu dengan pengertian yang lain, kalua kata itu disandingkan dengan manusia, sepeti dahru fulān maka al-dahr berarti “masa hayatnya”.22

2.

تقو

Kata waqt dalam al-Qur’an diulang sebanyak 13 kali.23 Waqt digunakan

dalam arti batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu

peristiwa.24 Karena al-Qur’an sering menggunakannya dalam konteks kadar

tertentu dari satu masa. Waktu adalah ukuran dari suatu masa dan saat ditentukannya segala sesuatu. Kata ini sering digunakan untuk masa lalu dan

masa yang akan datang.25

3.

لجا

Kata al-ajal disebut dalam al-Qur’an sebanyak 56 kali.26 Kata

لجا

terdiri dari huruf hamzah, jim, dan lam menunjukan pada lima makna yang berbeda dan tidak mungkin saling berkaitan satu sama lain, yaitu. Pertama, akhir dari sebuah waktu. Kedua, potongan badan dari sapi liar. Ketiga, sakit di leher.

22 Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur’an, 158. 23 Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Mu’jam al-Mufahras, 757.

24M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik atas Pelbagai

Persoalan Umat, cet, II (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007), 720.

25 Manẓūr al-Ifrīqī, Lisan al-‘Arab, juz XI, 107.

26 Fahmi Idris, Nilai dan Makna Kerja dalam Islam (Jakarta: Nuansa Madani, 1999), 149.

Keempat, pengganti atau penahanan. Kelima, karena/alasan.27 Adapun bentuk jamaknya adalah

ل اجآ

.28

Apabila diperhatikan dari 56 kali penyebutan, terdapat 55 kata yang menunjukan arti waktu berakhirnya sesuatu, hanya satu yang tidak menunjukan arti waktu, yakni Qs. al-Maidah/ 5: 32.

َنَا َلْي ِءۤا َرْسِا ْٓيِنَب ىٰلَع اَنْبَتَك ۛ َكِلٰذ ِلْجَا ْنِم

ىِف داَسَف ْوَا سْفَن ِرْيَغِب ۢاًسْفَن َلَتَق ْنَم ه

اًعْيِمَج َساَنلا اَيْحَا ٓاَمَنَاَكَف اَهاَيْحَا ْنَم َو ۗاًعْيِمَج َساَنلا َلَتَق اَمَنَاَكَف ِض ْرَ ْلّا

ْدَقَل َو

َكِلٰذ َدْعَب ْمُهْنِ م ا ًرْيِثَك َنِا َمُث ِتٰنِ يَبْلاِب اَنُلُس ُر ْمُهْتَءۤاَج

َن ْوُف ِرْسُمَل ِض ْرَ ْلّا ىِف

﴿

٢

٣

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.” (Qs. al-Maidah/ 5: 32).

Sedangkan 55 yang lain menunjukan arti waktu berakhirnya sesuatu, akhir dari kehidupan seseorang, seperti pada Qs. al-A’rāf/ 7: 34.

َن ْوُمِدْقَتْسَي َلّ َو ًةَعاَس َن ْو ُر ِخْأَتْسَي َلّ ْمُهُلَجَا َءۤاَج اَذِاَف ٌُۚلَجَا ةَمُا ِ لُكِل َو

﴾٣٤ ﴿

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba,

mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”

(Qs. al-A‘rāf/ 7: 34).

27 Fāris bin Zakariyā, Maqāyīs al-Lugāh, juz I, 84. 28 Manẓūr al-Ifrīqī, Lisān al-‘Arab, juz XI, 11.

Ibn Manzur memberikan pendapat bahwa al-ajal adalah akhir dari waktu

kematian, jatuh tempo dalam masalah hutang piutang dan masa sesuatu.29

Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata ajal diartikan sebagai batas waktu hidup atau batas janji, atau diartikan mati.30

4.

دبا

Kata al-Abad terdiri dari huruf hamzah, ba, dan dal memiliki arti waktu yang panjang. Di dalam al-Qur’an kata ini disebut sebanyak 28 kali. Umumnya kata al-abad digunakan sebagai taukid (penguat) terhadap lafal khulud, khususnya yang berhubungan dengan penghuni surga dan neraka dengan karakteristik masing-masing. Al-abad yang berhubungan dengan manusia dapat ditemui dalam kisah-kisah, seperti dalam Qs. al-Maidah/ 5: 24, kisah umat Nabi Musa a.s yang menginginkan untuk memasuki daerah Kota Syam setelah selamat dari Fir’aun Allah berfirman:

ٰه اَنِا ٓ َلَِتاَقَف َكُّب َر َو َتْنَا ْبَهْذاَفٍۖ اَهْيِف ا ْوُماَد اَم اًدَبَا ٓاَهَلُخْدَن ْنَل اَنِا ىٰٓس ْوُمٰي ا ْوُلاَق

اَنُه

َن ْوُدِعٰق

﴿

٢٤

“Mereka berkata, “Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.” (Qs. al-Maidah/ 5: 24).

Apabila ditelusuri penggunaan kata al-abad dalam al-Qur’an, maka dapat disimpulkan bahwa kata b tersebut digunakan dalam dua arti, Pertama, kekekalan yang permanen. Jika kata al-abad disandingkan dengan surga neraka. Kedua, kekekalan yang terbatas. Jika dihubungkan dengan selain surga dan neraka.31

29 Manẓūr al-Ifrīqī, Lisān al-‘Arab, Juz XI, 11.

30 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 24. 31 Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Mu’jam al-Mufahras li al-Fāẓ al-Qur’an al-Karīm, 1.

5.

دما

Dalam Mu’jam Maqāyīs al-Lugah kata amad diartikan sebagai al-goyah

(puncak akhir). Al-amad terdiri dari huruf hamzah, mim, dal.32 Secara

etimologi kata al-amad dapat diartikan masa, jarak, jangka waktu dan akhir dari sesuatu. Al-Qur’an menyebut kata al-amad sebanyak 4 kali dalam 4 surah, yaitu (Qs. al-Kahfi/ 18: 12), (Qs al-Jinn/ 72: 25), (Qs. ali-‘Imran/ 3: 30), dan

(Qs. al-Hadid/ 57: 16).33 Keempat kata al-amad tersebut, pada dasarnya

digunakan untuk waktu yang memiliki batas. Akan tetapi tidak diketahui

batasnya apabila tidak disandingkan dengan kata lain. Kata

دما

biasanya

disandingkan dengan kata

دعب

untuk menunjuk waktu yang terbatas meskipun

waktu itu sangat panjang. Firman Allah subḥāna wa ta’ālā Qs Ali-‘Imran/ 3: 30.

ء ْۤوُس ْنِم ْتَلِمَع اَم َوۛ ا ًرَضْحُّم رْيَخ ْنِم ْتَلِمَع اَم سْفَن ُّلُك ُد ِجَت َم ْوَي

َنَا ْوَل ُّد َوَت ۛ

﴾٣٠ ﴿ ِداَبِعْلاِب ٌۢف ْوُء َر ُ ّٰاللّٰ َو هَسْفَن ُ ّٰاللّٰ ُمُك ُرِ ذَحُي َو اًدْيِعَب ۢاًدَمَا هَنْيَب َو اَهَنْيَب

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ali-‘Imran/ 3: 30).

Muhammad ‘Abduh ketika menafsirkan ayat tersebut berpendapat bahwa kata al-amad dan al-abad sangat dekat maknanya, hanya saja al-abad adalah waktu yang tidak terbatas dan tidak terikat, sedangkan al-amad

32 Manẓūr al-Ifrīqī, Lisān al-‘Arab, juz III, 74. 33 Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Mu’jam al-Mufahras , 75.

digunakan untuk waktu yang terbatas tetapi tidak akan diketahui jika tidak dikaitkan dengan lafal lain.34

6.

رصع

Kata

رصع

terdiri dari tiga huruf, ain, shad, dan ra mempunyai tiga arti.

Pertama, zaman atau masa dan waktu atau saat. Kedua, memeras sesuatu sampai keluar air atau sarinya. Dan Ketiga, bergantung kepada sesuatu dan

bertahan dengannya.35 Adapun yang pertama bermakna zaman atau masa

terdapat pada firman Allah subḥāna wa ta’ālā Qs. al-‘Aṣr/ 103: 1-2.

﴾٢ ﴿ ۙ رْسُخ ْيِفَل َناَسْنِ ْلّا َنِا ﴾١ ﴿ ِرْصَعْلا َو

“Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian. (Qs. Al-‘Aṣr/ 103: 1-2).

Ibnu Abbas menyatakan bahwa kata

رصع

pada ayat ini berarti siang

hari menjelang maghrib, dan dengan kata inilah dinamakan shalat ashar karena

shalat ini berada di akhir siang

)رَصْعُت(

Kemudian pagi dan malam hari

disebut

)نيرصعل ا(

. Qatadah berkata bahwa waktu dari beberapa waktu di

siang hari. Amru al-Qays berkata, waktu uzur seseorang di saat kita tidak bisa lagi melakukan apa-apa. Sedangkan al-Khalil berkata bahwa jika seorang

perempuan telah haid, maka itu juga dinamakan

)ر ِصعُملا(

yakni telah

menginjak usia dewasa.36

Selanjutnya yang kedua, bermakna air perasaan atau sari buah, yakni apa yang bertetesan atau bercucuran dari sesuatu yang diperas. Orang-orang Arab biasanya menganalogikan hal ini dengan pemberian dan kebaikan. Sesuatu yang baik yang diperas akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Dinamakan 34 Muhammad Rasyid bin ‘Ali Rida, Tafsir Manār, juz III (Beirut: Haiat al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitāb, 1990), 232.

35 Fāris bin Zakariyā, Maqāyis al-Lugah, juz IV, 274. 36 Manẓūr al-Ifrīqī, Lisān al-‘Arab, juz IV, 575.

jus anggur jika memerasnya. Maka disebut

)راصْعِملا(

sesuatu seperti keranjang rumput yang ditempatkan di dalamnya buah anggur dan kemudian

diperas. Dan disebut juga dengan

)ت َر ِصْعُملا(

yaitu awan yang menurunkan

air hujan.37 Sebagaimana Allah subḥāna wa ta’ālā berfirman. Qs. Al-Nabā/ 78:

14.

﴾١٤ ﴿ ۙاًجاَجَث ًءۤاَم ِت ٰر ِصْعُمْلا َنِم اَنْل َزْنَا َو

“Dan Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya.” (Qs. Al-Nabā/ 78: 14).

Sebagaimana dikatakan "

موقلا َر ِصْعُأ

" jika kaum itu mendapatkan air

hujan.38 Firman Allah subḥāna wa ta’ālā. Qs. Yūsuf/ 12: 49.

﴾٤٩ ﴿ َن ْو ُر ِصْعَي ِهْيِف َو ُساَنلا ُثاَغُي ِهْيِف ٌماَع َكِلٰذ ِدْعَب ْۢنِم ْيِتْأَي َمُث

“Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi air hujan (dengan cukup) masa itu mereka memeras anggur.” (Qs. Yūsuf/ 12: 49).

Kemudian dengan kata

)راصعلْا(

“badai debu yang berterbangan”

dengan bentuk jamak

)ريصاعلأا(.

Firman Allah subḥāna wa ta’ālā. Qs.

Al-Baqarah/ 2: 266.

ُمُكَل ُ ّٰاللّٰ ُنِ يَبُي َكِلٰذَك ۗ ْتَق َرَتْحاَف ٌراَن ِهْيِف ٌراَصْعِا ٓاَهَباَصَاَف ...

﴾٢٦٦ ﴿ َن ْو ُرَكَفَتَت ْمُكَلَعَل ِتٰيٰ ْلّا

…….” Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya.” (Qs. Al-Baqarah/ 2: 266).

Kemudian yang ketiga bermakna banteng, tempat perlindungan, atau

kampung pengungsian. Dikatakan

ناكملاب رَصَتعا

“jika ia berlindung di

dalamnya.” Maka disebutlah dari kata tersebut "

رصاعملا

" yang berarti serban, 37 Fāris bin Zakariyā, Maqāyis al-Lugah, juz IV, 276

ada beberapa pendapat yang mengatakan kata tersebut bermakna pakaian berwarna hitam. Namun pendapat yang paling benar bahwa yang dimaksud dengan

" "رصاعملا

adalah baju besi atau zirah atau pakaian perang. Diambil dari kata "

رْصَعلا

" karena sesungguhnya ini dipakai berlindung dengannya.39

Menurut Ibn Faris apabila meninjau dari segi kebahasaan beliau menjelaskan

kata ‘Aṣr

)رصع(

memiliki tiga arti: Pertama, dahr (masa). Kedua,

al-‘uṣarah (perahan). Ketiga, al-malja‘ (tempat berlindung)40. Sedangkan

menurut al-Ashfahani mengatakan bahwa kata ‘aṣr

)رصع(

bentuk mashdar

dari kata ‘aṣṣara

)رَصَع(

al-ma‘ṣūr

)ر ْوُصْعَملا(

”sesuatu yang diringkas”, sedangkan al-‘uṣrah

)ة َرْصُعلا(

“sari dari sesuatu yang diperas.41 Sedangkan

kata al-i‘itiṣār

)راصتعلْا(

mempunyai arti “ditekan sampai keluar/tampak

yang paling dalam/tersembunyi.” Al-‘aṣr

)رصعلا(

dan al-I’iṣar

)رصعلا(

berarti dahr (masa) dan bentuk jamaknya al-‘usūr

)روصعلا(

.42 Kata‘Aṣr

dengan semua bentuknya digunakan dalam al-Qur’an sebanyak lima kali

terbagi dalam empat surah (tiga surah makkiyah dan satu surah madaniyah).43

Sedangkan waktu tertentu, adalah ketika perputaran matahari telah melampaui pertengahan dan telah menuju kepada terbenamnya dinamai‘aṣr

)رصع(

“waktu asar.” Makna terakhir ini diambil berdasarkan asumsi bahwa‘aṣr merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia. Kata‘aṣr sendiri berarti “perasan” seolah-olah masa itu harus digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan tenaganya, dan hal ini perlu dilakukan kapan saja

39 Fāris bin Zakariyā, Maqāyis al-Lugah, juz IV, 277.

40 Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur’an: kajian kosa kata, 34. 41 Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur’an: kajian kosa kata, 34. 42 Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur’an: kajian kosa kata, 34. 43 Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Mu’jam al-Mufahras, 463.

sepanjang masa.44 Maka demikian, ada tiga arti dari kata ‘aṣr, yaitu: perasan, masa, dan waktu sore.

Dalam pengertian-pengertian Bahasa Indonesia maka dapat diambil beberapa kesan terhadap pandangan al-Qur’an mengenai waktu, dari kata-kata yang telah disebutkan di atas. Yaitu:

a. Kata al-waqt digunakan dalam konteks yang berbeda-beda, dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan. Arti ini dapat dilihat dari wakstu-waktu shalat yansg memberikan kesan

tentang keharusan adanya pembagian teknis mengenai masa yang

dialami (seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan seterusnya), dan sekaligus keharusan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu-waktu tersebut, dan bukannya membiarkannya lewat begitu saja.

b. Kata al-dahr memberikan kesan bahwasanya segala sesuatu pernah tiada dan bahwa keberadaanya menjadikan ia terikat oleh waktu.

c. Kata al-ajal memberi kesan bahwa segala sesuatu ada batas waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang abadi kecuali Allah subḥāna wa ta’ālā .

d. Kata al-‘aṣr memberi kesan bahwasanya saat-saat yang dialami oleh

manusia haruslah diisi dengan kerja memeras keringat dan pikiran.45

e. Kata al-abad memberikan dua kesan mengenai kehidupan akhirat yang berlangsung sangat panjang dan kehidupan dunia yang batasannya tidak diketahui.

f. Kata al-amad memberikan kesan terhadap waktu yang yang terbatas akan tetapi tidak ketahui akan batasan tersebut.

44 Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, 723. 45 Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, 724.

Penulis hanya mengambil beberapa bagian saja tentang term-term dalam al-Qur’an yang digunakan untuk menunjukan pada waktu-waktu tertentu, bukan keseluruhan waktu, yaitu:

a. Al-lail dan al-nahār

Arti lail yaitu setelah siang dan permulaan dari terbenamnya matahari.46

Kata lail memiliki ragam arti yang berbeda dan beraneka ragam, seperti kata al-lail

)ليلا(

diartikan panjang dan hitam, amm al-lail

)ليلااما(

bermakna minuman keras yang berwarna hitam, sedangkan kata

)ىليل(

bermakna minuman keras pada tahap-tahap pemabukannya. Meninjau dari pengertian kata diatas kata lail dimaknai dengan kegelapan dan hitam pekatnya situasi ketika itu. Al-lail disebut dalam al-Qur’an sebanyak 92 kali.47 Allah berfirman dalam Qs. Al-Lail/ 92: 1-2, yang memakai term lail dan nahār:

﴾٢﴿ ىّٰلَجَت اَذِا ِراَهَنلا َو ﴾١﴿ ىٰشْغَي اَذِا ِلْيَلا َو

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang. (Qs. Al-Lail/ 92: 1-2).

Sedangkan al-nahār disebut 57 kali.48. Terdapat pembahasan tentang

penyataan Allah bahwa alam semesta beserta isinya milik Allah dan semua yang terjadi diwaktu malam dan siang. Dalam hal ini al-Biqāi menghubungkan surah tersebut dengan surah sebelumnya yaitu surah al-Syam yang menjelaskan keadaan siapa yang menyucikan dan mengembangkan jiwanya dan

memendam potensi positifnya dengan melakukan kedurhakaan.49

46 Manẓūr al-Ifrīqī, Lisān al-‘Arab, juz 11, 607. 47 Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Mu’jam al-Mufahras, 656-657. 48 Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Mu’jam al-Mufahras, 656-657. 49 Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, vol. 15, 311.

b. Yaum

Yaum dalam Mu’jam Lisān al-‘Arab diartikan terbitnya matahari sampai terbenam matahari. Yaum berasal dari kata aywāmun, jama’ dari kata ayyāmun, tetapi karena sulit untuk diucapkan maka iḍghomnya dibuang

maka menjadi al-yaum.50 Kata al-yaum dipakai dalam al-Qur’an untuk

menunjukkan arti perjalanan satu hari satu malam.51 yaum juga bisa untuk menunjukan saat atau waktu secara umum, panjang dan pendek, yang biasanya berhubungan dengan kejadian tertentu.52 Seperti firman Allah Qs. Ali-‘Imran/ 3: 77.

ْمُهَل َق َلََخ َلّ َكِٕىٰۤلوُا ًلَْيِلَق اًنَمَث ْمِهِناَمْيَاَو ِ ّٰاللّٰ ِدْهَعِب َن ْوُرَتْشَي َنْيِذَلا َنِا

َلّ َو ِة َر ِخٰ ْلّا ىِف

ْمِهْيِ ك َزُي َلّ َو ِةَمٰيِقْلا َم ْوَي ْمِهْيَلِا ُرُظْنَي َلّ َو ُ ّٰاللّٰ ُمُهُمِ لَكُي

﴾۷۷ ﴿ ٌمْيِلَا ٌباَذَع ْمُهَل َو

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya dengan Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak pula akan mensucikan mereka. Untuk mereka azab yang pedih. (Qs. Ali-‘Imran/ 3: 77).

Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Imam al-Bukhari yang bersumber dari ‘Abdullah Ibn Abi Afwa, bahwa ada seorang laki-laki berdagang di pasar menjual barang dagangannya, lalu orang itu bersumpah dengan nama Allah bahwa dia telah memberikan berangnya, padahal ia belum

memberikan. Perbuatan itu dilakukan kepada laki-laki muslim.53

50 Manẓūr al-Ifrīqī, Lisān al-‘Arab, juz XII, 649.

51Abu Muhammad al-Husayn Ibn Mas’ud al-fara’ al-Bagawi, Ma’alim al-Tanzil, fi

al-Tafsir wa al-Tanzil, jilid V (Beirut: Dar al-Fikr, 1992), 587.

52 Mas’ud al-Fara’ al-Bagawi, Ma’alim al-Tanzil, fi al-Tafsir wa al-Tanzil, jilid 4, 615.

53 Imam Jalaluddin Al-Ṣuyūṭi, Lubāb al-Nuqūl fī Asbāb al-Nuzūl (Riwayat Turunnya Ayat-ayat al-Qur’an) (Surabaya: Mutiara Ilmu, 1986), 109.

c. Sā’ah (saat/waktu)

Kata sā‘ah asal kata dari sā‘a, yaitu bagian dari waktu, jam juga disebut

dengan sā‘ah karena berkaitan dengan waktu.54 kemudian kata ini

meluas dengan arti hari kiamat.55 Sā‘ah dalam al-Qur’an disebut di beberapa tempat, yaitu: al-A‘rāf/ 7: 34, al-Taubah/ 9: 117, Yūnus/ 10: 45

dan 49, al-Naḥl/ 16: 61, Sabaʹ/ 34: 30 dan al-Aḥqāf/ 46: 35.Sā‘ah sudah

menjadi istilah al-Qur’an yang bermakna akhir masa kehidupan duniawi

serta kepunahan alam.56 Allah berfirman Qs. Al-A’rāf/ 7: 187.:

َدْنِع اَهُمْلِع اَمَنِا ْلُق ۗاَهى ٰس ْرُم َناَيَا ِةَعاَسلا ِنَع َكَن ْوُلَٔـْسَي

َلّ ۗ ِض ْرَ ْلّا َو ِت ٰو ٰمَسلا ىِف ْتَلُقَث ََۘوُه َلِّا ٓاَهِتْق َوِل اَهْيِ لَجُي َلّ ُْۚيِ ب َر

ِ ّٰاللّٰ َدْنِع اَهُمْلِع اَمَنِا ْلُق ۗاَهْنَع ٌّيِفَح َكَنَاَك َكَن ْوُل َٔـْسَيۗ ًةَتْغَب َلِّا ْمُكْيِتْأَت

﴾١۸۷ ﴿ َن ْوُمَلْعَي َلّ ِساَنلا َرَثْكَا َنِكٰل َو

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, kapan terjadi? Katakanlah, Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada Tuhanku, tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain dia. Kiamat itu sangat berat huru-haranya bagi makhluk yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara

tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau

mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Al-A‘rāf/ 7: 187).

Menurut Sayyid Quṭb, ayat di atas menggambarkan bahwa Rasulullah saw, selalu menjadi sasaran atas pertanyaan-pertanyaan orang-orang musyrik

mengenai hari kiamat seolah-oleh Nabi mengetahui kapan waktu terjadinya.57

d. Ḥīn

54 Quraish Shihab, Tafsir al-Misbahi, jilid 4, 10-11.

55 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 9 (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), 188.

56 Abu Fadl Syihab al-Din al-Sayyid Muhammad al-Alusi, Ruh al-Ma’ani Fī

Tafsir al-Qur’an al-‘Azim Wa al-Sab’I al-Masani, jilid 9 (Beirut: Dār al-Fikr, 1992), 19.

57 Sayyid Quṭb, Tafsir Fī Ẓīlal al-Qur’an, terj. As’ad Yasin, jilid 8 (Jakarta: Gema Insani,2000), 72.

Dalam Mu’jam Lisān al-‘Arab kata ḥīn diartikan waktu secara mutlak,

pendek atau panjang.58 Dalam Mu’jam al-Mufahras Li al-Faẓ al-Qur’an

al-Karim, kata ḥīn dengan bentuk isim ada 35. Seperti firman Allah Qs. al-Mu’minūn/ 23: 54.

﴾۵٤ ﴿ نْي ِح ىّٰتَح ْمِهِت َرْمَغ ْيِف ْمُه ْرَذَف

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai waktu yang ditentukan.” (Qs. al-Mu’minūn/ 23: 54).

Ayat di atas menggambarkan keadaan seseorang yang tenggelam dalam kenikmatan dunia, dan tidak memikirkan akibatnya, seperti keadaan orang yang diliputi air, tanpa sadar sedikit lagi air tersebut akan menghanyutkannya

dan meneggelamkannya.59

Dokumen terkait