• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V BENTUK KOHESI SOSIAL SANRO – GURU DALAM

A. Bentuk Dampak Peran Sanro – Guru Terhadap Masyarakat

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan mengenai kohesi sosisal sanro–guru dalam memaksimalkan fungsi adat di masyarakat Ballaparang desa Biringala kecamatan Barombong kabupaten Gowa. Maka menimbulkan dampak sosial bagi masyarakat. Dampak tersebut terbagi dua yaitu dampak positif dan negative diantaranya :

a). Dampak positif, yakni :

1. Semakin menguatkan persatuan dan kekompakan masing-masing pihak warga masyarakat, saling bekerja sama dan bersatu dalam mempertahankan adat atau tradisi yang ada di kampung Ballaparang. menjaga nilai-nilai moral dan adat istiadat yang berlaku dan dianut oleh masyarakat Ballaparang khususnya dan masyarakat suku Makassar umumnya selama ini yakni siri’ na pace.

2. dampak positif peran sanro ini buat masyarakat yaitu sangat membantu masyarakat ballaparang maupun masyarakat luar dalam penyembuhan berbagai penyakit tanpa harus dibawah kedokter, pengobatan yang dilakukan sanro ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Ballaparang mereka beranggapan bahwa sanro ini adalah perantara tuhan untuk penyebuhan penyakit mereka.

76

3. Dampak positif puang guru (kepala adat) yaitu menjadi panutan dan memberi ajaran-ajaran keagamaan buat masyarakat dan keberadaan puang guru ini dapat tetap mempertahankan tradisi yang dulunya ada sampai sekarang ini.

b. Dampak negatif, yakni meliputi :

. Banyak masyarakat luar juga yang menanggap bahwa keberadaan sanro-guru ini adalah suatu aliran sesat, yang masih mempercayai kepercayaan animisme, tanpa mereka tau kebenaran yang sesungguhnya bahwa dalam penyembuhan sanro ini adalah tak lepas dari ajaran agama islam karena dalam pengobatan sanro ini menggunakan bacaan suci al-qur’an dan sanro juga ini pun meminta bantuan kepada sang maha pencipta yaitu Allah swt dalam membantu menyembuhkan penyakit orang. Sanro hanya lah pentarantara Allah dalam penyembuhan penyakit orang.

Dapat kita lihat bagaimana peran sanro sebenarnya apakah memang musyrik dalam pengobatannya atau cuman tudingan-tudingan miring dari masyarakat luar. kita dapat lihat dari beberapa pendapat informan.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Hj. Saturi dg. ngalang (P, 62) selaku informan dan beliau merupakan salah satu warga Ballparang yang datang berobat ke Sanro dengan jelas mengatakan bahwa:

“ itu sanro banyak sekali na bantukangi masyrakatka ka bisaki na obati orang, saya mi ini contohnya datangka ke sonro berobat ka sering sekali sakit-sakit badanku ka dikampung ini nu taumi to bilang pekerja keras karena rata-rata kerja disawa semuaki. datangka ke sanro karena buat

apa kedokter kalau cocok jaki juga sama pengobatannya kalau pegal-pegal beginika nakasihka kayu terus itu kayu direbus kemudian diminum airnya nha alhamdulillah dengan minum air rebusan kayu itu hilangki rasa pegal-pegalku . tidak musyrik ji keberadaan sanro dan paung guru ka membantu ji masyarakat bukan ji juga ilmu hitam na pakai’’

Berdasarkan pendapat Hj. Saturi dg.ngalang selaku informan yang datang berobat ke sanro ( dukung ) “Keberadaan Sanro (dukung) di desa Ballaparang sangat banyak membantu warga desanya dalam penyembuhan berbagai penyakit tanpa harus dibawah kedokter, meskipun banyak masyarakat luar yang menganggap bahwa sanro ini dalam penyembuhannya sering kali memakai ilmu hitam akan tetapi masyarakat meyakini bahwa sanro ini adalah perantara tuhan dalam mengobati penyakit warga setempat. kita ketahui bahwa masyarakat Ballparang dominan pekerja keras yang sering bekerja disawah Hj. saturi dg.ngalang ini adalah salah satu orang yang datang berobat ke sanro ( dukung) dengan keluhan sakit badan akibat terlalu kerja berat disawah dalam penyembuhannya sanro (dukun) ini memberikan obat berupa kayu yang harus direbus terlebih dahulu kemudian air rebusan tersebut diminum, menurut warga setempat obat rebusan kayu ini sangat manjur dalam mengobati badan pegal – pegal, jadi hj. saturi dg.ngalang menegaskan bahwa pengobatan sanro ini bukan lah musyrik maupun ilmu hitam.

kedua Syamsiah dg.saga (P 50) selaku warga masyarakat Ballaparang Beranggapan bahwa :

“Bersyukurki orang-orang disini karena keberadaan sanro dan guru ka itu sanro banyak sekali na bantu orang-orang yang datang berobat baru tidak pasang tarif ji bedahki kalau kedokter orang mahalki ini taua tidak pasang harga ji se iklasta ji berapa mau dikasikanki, nah itu puang guru (kepala adat) sangat dihormati itu disini ka dia diajdiakan sebagai orang yang tuakan dikampung ini”.

Syamsiah dg.saga Selaku warga masyarakat Ballparang beranggapan Bahwa : Warga Ballaparang patut untuk bersyukur atas keberadaan Sanro dan guru ini karena tugasnya yang banyak membantu orang-orang yang datang berobat, dalam pengobatannya pun tidak memasang harga bedah apabilah kerumah sakit yang biayanya sangat mahal,orang-orang yang datang berobat kesanro cukup dengan membayar se ikhlasnya saja. dikampung Ballparang ini ke dudukan puang guru pun sangat dihormati oleh warga setempat karena meraka menganmggap bahwa puang guru ini adalah panutan atau oarang yang dituakan dikampung Ballparang ini.

ke tiga Hamsinah (P 37) warga Ballaparang yang datang berobat ke sanro ( dukun ) mengatakan bahwa :

“ Saya datang Kesanro bahwahki ini anak ku berobat ka dari maka bawahki dipuskesmaska tapi tidak sembuh ji na bilang orang-orangka coba mako dulu bawahki ke sanro ka ini penyakitnya anakmu sintakangi biasa itu tidak na dapatki dokterka, ini mi saya coba bawahki ke sanro berobat dulu ka ada juga anaknya iparku sering juga sakit begini tapi

sembuhmi tawa tidak pernah mi kambuh lagi penyakitnya nah di sanro ja juga na obati. ini mi di kasihki air yang sudah di bacai-bacai sama sikko aya’.

Informan ke tiga atas nama Hamsinah (P 37) selaku warga Ballparang yang datang membawah anaknya berobat ke sanro ( dukung) mengatakan bahwa : Niat saya ke sanro (dukun) ini bertujuan untuk datang mengobati anak saya karena saya sudah bawah berobat kerumah sakit namun belum sembuh juga, pendapat dari orang-orang bahwa penyakit anak saya ini kalau ditim medis kedokteran di sebut kejang-kejang, karena sering tiba-tiba pingsan terus kejang-kejang orang-orang mengatakan bahwa penyakit seperti ini biasanya lebih baik dibawah berobat ke sanro ( dukung). mungkin orang-orang itu ada benarnya karena dulu anak ipar saya juga punya penyakit seperti itu berkat penyembuhan dari sanro (dukun) akhirnya penyakitnya sembuh dan tidak pernah kambuh lagi. Maka dari itu lah saya juga tertarik bawah anak saya datang berobat kesini dalam pengobatan sanro ini anak saya diberikan ikat pinggang sebagai obat dan sebotol air putih yang sudah diberikan doa oleh sanro tersebut.

informan ke empat Almunawwarah (P 20) Mahasiswa selaku masyarakat Ballaparang Berpendapat bahwa :

“ Pendapatku ia banyak tawa membantu masyarakat tidak aneh-aneh ji juga cara pengobatannya karena kalau na obati orang biasa na kasih ji juga ramuan-ramuan, tapi tergantung mami bagaimana pendapat masing-masing orang toh.”

Almunawwarah (P 20) berpendapat bahwa dukun ini sangat banyak membantu masyarakat karena dalam pengobatannya pun tidak aneh-aneh hanya memberikan ramuan-ramuan kepada orang yang datang berobat, namun pendapat orang-orang pun berbedah-bedah tergantung bagaimana anggapan masing-masing orang terhadap sanro.

Informan yang ke lima bernama Erni wahyuni (P 18) seorang mahasiswa dan juga warga Ballaparang mengemukakan bahwa :

“Tidak pernahka saya kesanro tapi orang-orang disini kebanyakan sering datang berobat kesitu mungkin cocok ji juga atau seringji juga na sembuhkan penyakitnya orang-orang disinia makanya tarus ji orang datang berobat ke sanro, masih tetap juga itu na pertahankan tradisinya orang kampung disini kaya guru toh sangat dihormati dikampung ini ka dia yang sering memberikan nasehat kepada orang-orang pokoknya dia dihormati disini sama dengan sanro dihormati juga disini.

Erni wahyuni (P 18) “ Saya sebenarnya belum pernah datang berobat ke sanro (dukun) akan tetapi orang-orang disini banyak yang datang berobat kesanro, karena kepercayaan masyarakat disini masih sangat kuat tentang pengobatan sanro dapat menyembuhkan penyakit tanpa harus dibawah ke rumah sakit dan orang-orang disini pun cocok dengan pengobatan sanro kebanyakan orang-orang yang datang berobat bisa sembuh. kampung Ballaparang ini masih menjaga tradisinya seperti tradisi Kaddo” minyak yang setiap tahunnya dilaksanakan, disini Guru (kepala adat) sangat dihormati oleh masyarakat karena selain sering memberikan nasehat

kepada orang-orang dia juga merupakan panutan dimasyarakat, Sama halnya dengan Sanro dia juga sangat di hormati dikampung Ballaparang ini.

B. Pembahasan

Dari hasil penelitian di atas maka peneliti dapat mengetahui bahwa Hubungan sanro – guru dan dampaknya yaitu :

Sanro dan guru adalah tokoh terpenting dalam masyarakat Ballaparang desa Biringala kec. barombong Kab. Gowa, keduanya memiliki fungsi yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk memaksimalkan fungsi adat yang ada pada masyarkat, setiap kegiatan yang ada dalam masyarakat pasti melibatkan sanro dan guru. tugas sanro disini yaitu menangani masalah kesehatan dan membantu tugas guru sedangkan guru disini bertugas melaksanakan ritual-ritual tata tradisi atau kebiasaan yang ada di masyarakat Ballaparang atau memberikan nasehat-nasehat kepada warga dan juga mengajar mengaji para anak-anak.

Kohesi sosial adalah hubungan sosial terdapat berbagai macam konsep kohesi sosial yang sangat beragam tergantung kepada waktu budaya dll.

Istilah sanro atau dukun adalah orang yang sering mengobati penyakit secara tradisional pada masyarakat bugis Makassar biasa dipanggil sanro yang juga berarti dukun ( Rahman, 2006 : 48 dan said, 1996 :2 )

Kemajuan ilmu kesehatan dan pola pikir masyarakat Ballaparang desa biringala ternyata tidak menggeser kepercayaan kepada dukun yang sering disebut sanro. umumnya sanro adalah laki-laki, terdapat sanro perempuan, namun jarang.

usia sanro rata-rata diatas empat puluh tahun, sedikit sekali sanro yang berumur

dibawah empat puluh tahun. Metode pengobatan sanro, sanro adalah seseorang yang memiliki ilmu penyembuhan penyakit secara gaib. maka metode pengobatan sanro adalah metode gaib yang didukung dengan penggunaan ramuan tradisional, metode dalam praktek pengobatan sanro tercermin pada penerapan, doa atau mantra, lelaku khusus seperti sholat dan memujat kepada Allah.

Guru adalah seseorang yang dituakan dalam lingkungan masyarakat adat, tidak berarti usianya tetapi pemahaman, penalaran dan kemampuan memecahkan masalah adatdi masyarakat lingkungan adatnya.

Bila mana membahas tentang fungsi Kepala Adat dalam masyarakat, maka tidak jauh berbeda dengan fungsi hukum adat, karena fungsi Kepala Adat yang ada dalam masyarakat adalah sebagai berikut:(Soleman Biasane Taneko,1981:54).

a) memberikan pedoman kepada anggota masyarakat, bagaimana seharusnya bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, dan merupakan dasar dari tingkah laku tersebut adalah kebiasaan yang bersifat normatif yaitu adat dan hukum adat.

b) menjaga keutuhan persekutuan dalam masyarakat, supaya persekutuan tersebut tetap terpelihara dan dapat dirasakan oleh berbagai tindakan anggota masyarakat yang tidak sesuai dengan adat dan hukum adat.

c) memberikan pegangan kepada anggota masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial. Pengendalian sosial tersebut lebih bersifat pengawasan terhadap tingkah laku masyarakat sehingga hidup persekutuan dapat dipertahankan dengan sebaik-baiknya.

d) memperhatikan setiap keputusan-keputusan yang telah ditetapkan oleh hukum adat, sehingga keputusan tersebut mempunyai wibawa dan dapat memberikan kepastian hukum yang mengikat semua anggota masyarakat.

e) merupakan tempat bersandarnya anggota masyarakat untuk menyelesaikan, melindungi dan menjamin ketentraman, maka Kepala Adat adalah satu-satunya tempat anggota masyarakat bersandar untuk menyelesaikan masalahnya.

f) sebagai tempat anggota masyarakat menanyakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengetahuan adat dan hukum adat. Hal ini sangat penting sebab tidak semua anggota masyarakat mengetahui, mengerti dan memahami tentang seluk-beluk adat dan hukum adat. Dengan fungsi yang demikian maka Kepala Adat boleh dikatakan sebagai media informasi adat dan hukum adat dalam masyarakat

g) sebagai tempat anggota masyarakat menyelesaikan segala masalah, baik yang menyangkut urusan hidup maupun urusan yang berkaitan dengan kematian.

Fungsi tesebut sangat penting karena anggota masyarakat tidak semua dapat menyelesaikan masalahnya sendiri kecuali meminta keterlibatan Kepala Adat ikut serta menyelesaikannya.

h) sebagai bapak masyarakat yang mengepalai persekutuan. Fungsi tersebut lebih memperlihatkan kepemimpinan yang dapat menjadi teladan dalam pergaulan hidup di tengah masyarakat.

Dari penelitian diatas sangat jelas bagaimna hungan sanro-guru ini dalam memaksimalkan fungsi adat masyarakat Ballaparang desa Biringala kec.

Barombong Kab. gowa, seperti yang sudah dibahas diatas bahwa setiap tugas guru

pasti diawali dulu oleh sanro sebagaimna dalam adat atau tradisi yang sampai sekarang ini di laksanakan, setiap kegiatan guru pasti ada sangkut pautnya juga dengan sanro dapat kita dilihat dalam tradisi koddo minyak sebelum dilaksanakan prosesi kaddo minyak sanro lah yang menentukan hari atau tanggal apa yang tepat untuk melaksanakan tradisi ini, guru sebagai ketua adat lah yang menjalangkan prosesi ritual adat.

Masyarakat Ballaparang masih sangat mempercayai yang namanya sanro dan guru dan masih ada kebiasaan yang sering dilakukan yang berhubungan dengan animisme, kepercayaan masyarakat Ballaprang masih sangat kuat mengenai pengobatan tradisional maupun tradisi atau kebiasaan yang sampai sekarang dilakukan di kampung Ballaparang.

Meskipun sering kali mendapat pandangan buruk dari masyarakat luar akan tetapi masyarakat Ballparang tidak peduli tentang pandangan-pandangan negatif dari orang luar, masyarakat ballaparang yakin dengan kepercayaan yang masih dipertahankan sampai sekarang ini, mesyarakat Ballaparang mengatakan kalau kebiasaan ataupun tradisi itu harus dipertahankan karena itu adalah salah satu kekayaan tersendiri yang dimiliki oleh kampung itu.

Pengobatan sanro pun dianggap musyrik oleh orang-orang luar mereka mengatakan bahwa sanro itu memiliki kekuatan gaib ataupun ilmu hitam, akan tetapi masyarakat Ballaparang sangat mempercayai pengobatan tradisional yang dilakukan oleh sanro, mereka beranggapan bahwa sanro adalah perantara tuhan untuk menyembuhkan penyakit mereka, dan dari beberapan pendapat informan yang saya wawancarai menurut mereka sanro adalah sang penolong buat mereka,

mereka berpendapat bahwa pengobatan sanro tidaklah musyrik dan tidak melanggar ajaran agama islam karena dalam pengobatan sanro pun menggunakan do-doa dari surat-surat alquran dan dalam pengobatan sanro pun bemancam-macam dan meman tidak mellanggar aturan agama islam, tergantung bagaimna pendapat masyarakat masing-masing dan tergantung bagaimna kepercayaan masing-msing orang.

Dampak dari sanro-guru ini yaitu memberikan dampak positif bagi masyarakat karena sanro guru ini bertujuan untuk tetap memaksimalkan fungsi adat masyarakat yang ada di Ballaparang, adapun dampak negatifnya yaitu selalu mendapat pandangan negatif dari orang luar tanpa mereka ketahui bagaimna peran sanro dan guru yang sebenarnya.

Adapun Hasil Penelitian yang relevan atau kajian Teori yang relevan yaitu:

Alimuddin joni : 2015 “ Sanro sang penyelamat yang ikhlas di kabupaten sumbawa” Seperti dukun di daerah-daerah lain Sanro adalah seseorang yang memiliki ilmu penyembuhan penyakit secara gaib. maka metode pengobatan Sanro adalah metode gaib yang di dukung dengan penggunaan berbagai macam ramuan tradisional. Metode gaib dalam praktek pengobatan sanro tercermin pada penerapan Doa atau mantra, dan lelaku khusus seperti sholat dan memujat kepada Allah swt.

Ijhal Tamaona 2003 : “Sanro Kontestasi Perempuan Tradisi Karampuang”

Tentunya posisi dan peran Sanro yang merupakan simbol dan arena kontestasi perempuan di Karampuang ini tidak hanya berhenti di situ. Jika ditilik melalui

struktur yang ada di Karampuang, Sanro ini sendiri masuk dalam jabatan struktural adat empat (ade eppa) yang ada di sana, yaitu: Arung atau To Matoa (raja atau yang dituakan), Gella(pelaksana tugas raja), Sanro (dianggap sebagai orang pintar dan mereka berjenis kelamin perempuan), dan Guru(orang yang melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam). Sekalipun yang menjadi pimpinan adatnya adalah Tomatoa yang kemudian dilaksanakan oleh Gella, tetapi keberadaan Sanro dalam struktur adat itu bukanlah sekunder atau pelengkap.Eksistensinya dianggap sebagai bagian dari penopang keutuhan negeri. Maka di sana terkenal sebutan Eppa allian Tottonna Anuae (Empat tiang penopang keutuhan negeri). Masing-masing saling memiliki “kesejatian” dan tidak akan membahayakan keberlangsungan daerah ini. Mereka sendiri yakin bahwa keempat pemangku adat itu menyimbolkan empat anasir dari kehidupan dunia. Seperti yang terungkap dalam sebuah ujaran: Api tottong arung api, tanah tudang Gella tanah, anging rokko Sanro, dan wae suju Guru (tegaknya api adalah Arung, duduknya tanah ibarat Gella, rukuknya angin ibarat Sanro, dan sujudnya air ibarat Guru). Bagi masyarakat adat semacam Karampuang ini, keempat unsur berupa api, tanah, angin, dan air merupakan unsur yang ada dalam diri manusia dan disimbolkan pada keempat pemimpin adat mereka. Representasi simbolik Sanro sebagai angin yang rukuk lebih berkaitan dengan persolan posisi Sanro yang bukan hanya sebagai orang yang ahli mengobati, tetapi juga sebagai ahli spiritual masyarakat lokal yang mampu meramalkan tentang hari dan kejadian-kejadian alam.Dalam fungsinya yang seperti itu maka Sanro ini diibaratkan sebagai angin yang memberikan kehidupan bagi masyarakat.

BAB VII PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari rumusan masalah yang penulis kemukakan serta pembahasannya baik yang berdasarkan atas teori maupun data-data yang penulis dapatkan selama mengadakan penelitian, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:

Masyarakat Ballaparang desa biringala kecamatan barombong kab.Gowa masih tetap mempertahankan adat atau tradsi yang setiap tahun di laksanakan dikampung itu, bahkan sifat gotong royongnya masih sangat terjaga dan terjalin dengan baik. Hubungan sanro guru ini dalam memaksimalkan fungsi adat di masyarakat Ballaparang sangat menyatuh dilihat dari kerja sama mereka, didalam menjaga tatanan adat yang ada, masyarakat Ballaparang masih mempercayai yang namanya pengobatan tradisional, dan masih sangat menghormati nenek moyong mereka yaitu dengan bentuk masih tetap manjaga tradisi-tradisi yang dulunya sering dilakukan hingga saat ini.

Pengobatan yang di lakukan oleh Sanro itu sebenarnya tidak musyrik karena dalam pengobatannya juga hanya meminta kepada allah dan tidak melanggar ajaran agama islam karena dalam pembacaan doa-doanya sanro juga menggunakan bacaan ayat suci al-quran, sanro ini sangat mengutamakan kesehatan masyarakatnya.

88

Peran sanro dan guru ini saling terikat keduanya memiliki fungsi yang sangat penting dalam masyarakat, keduanya bertujuan untuk memaksimalkan fungsi adat yang ada.

B. SARAN-SARAN

Setelah melakukan penelitian dan menganalisis data yang diperoleh, beberapa hal yang dapat disarankan adalah :

1. Sanro (Dukun) diharapkan tetap menjaga prinsip hidup sederhana (kamase-mase) agar tetap melestarikan pengobatan tradisionalnya guna agar dapat membantu masyarakat dalam mengobati penyakit-penyakit masyarakat tanpa harus kedokter.

2. Guru sebagai ketua adat diharapkan mampu menjalankan perannya secara maksimal dengan dibantu oleh sanro dan para tokoh masyarakat agar tetap menjaga kelestarian budaya adat atau tradisi yang senantiasa setiap tahunnya dilakukan guna untuk tetap menjaga kerukunan hidup maupun ke akrapan masyarakat Ballparang desa Biringala kecamatan Barombong kabupaten Gowa.

3. Pemerintah diharapkan mampu berperan aktif dalam menjaga eksistensi kearifan lokal budaya-budaya atau kebiasaan-kebiasaan yang masih sering dilakukan masyarakat Ballaparang desa biringala yang dipimpin oleh sanro-guru (dukun dan ketua adat) agar tidak tergeser oleh perubahan era moderen .

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous.(1995). Kamus bahasa bahasa Indonesia.Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Jakarta: Balai Pustaka

Afifatun.(2012). Rana-rana kohesi sosial dan nilai-nilai budaya warga. yoyakarta pustaka Widytma.

Bungin, Bungin.(2001). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Bungin, Burhan.(2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Endraswara, Suwardi.(2006). Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan.

Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Endraswara, Suwardi.(2006a). Metode Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.

Kamanto, sunarto. (2004). Pengantar Sosiologi. Jakarta: Fakultas Ekonomi UI Mardalis.(2009). Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi

Aksara

Muhammad Irfan (dkk), (2012), Dalam Jurnal, Etnografi Dukun. Studi Antropologi Tentang Praktek Pengobatan Dukun di Kota makassar Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makasar. Universitas Hasanudin Muhammad irfan syuhudi (2015) penyembuhan penyakit didalam sebuah

masyrakat.balai penelitian dan pengeambangan agama makassar.

Universitas Hasanuddin.

Sutopo,(1998), Metodologi Penelitian Hukum Kualitatif Bagian II, UNS Press, Surakarta, Copyright ©2016. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan

Sianipar. T Alwisol, dan Yusuf Munawir. (1992), Dukun Mantra dan Kepercayaan Masyarakat.PT Gratikatama Jaya.

Syuhudi, M.I, (2015). Sanro Makassar: Mekanisme Pengobatan dan Strategi Mempertahankan Pasien, Walassuji, 6 (1), 61-72.

90

A M P

I R A

N

No Nama

Informan Umur Pekerjaan Keterangan

1. Jamaluddin daeng.serang

53 Sanro

(dukun)

kemampuanku ini mengobati asal mulanya dulu pernakah mati suri karang lebih 1 jam belumpi ada istriku masih mudahka dulu pergika pasar na tibah-tibah muntah-muntah darahka itu darah ya banyak sekali keluar itu baskon ka penuhki tidak tau bilang darah dari mana kaya tong darah dipaturun, dibawah maka pergi berobat di orang pintarka, kurang lebih setengah jam ka dirumahnya itu orang pintarka meninggalka disitu, singkat cerita toh dibawah maka pulang kerumahku na bilang orang-orang kurang lebih 1 jam dirumah itu mayatku tiba-tiba

yang menginginkanku untuk bisa

yang menginginkanku untuk bisa