• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN JAMINAN DALAM LEMBAGA

A. Perjanjian Pembiayaan Konsumen

1. Bentuk dan Dasar Hukum Perjanjian Pembiayaan

Bentuk perjanjian pembiayaan konsumen yaitu perjanjian baku berasal dari terjemahan dari bahasa Inggris yaitu standart contract (perjanjian baku).

kontrak baku adalah suatu kontrak tertulis yang dibuat hanya oleh salah satu pihak dalam kontrak tersebut. Bahkan sering kali kontrak tersebut sudah tercetak dalam bentuk formulir-formulir tertentu oleh salah satu pihak, yang dalam hal ini ketika kontrak tersebut ditandatangani umumnya para pihak hanya mengisikan data-data informatif tertentu saja dengan sedikit atau tanpa perubahan dalam klausul-klausulnya. Pihak lain dalam kontrak tersebut tidak mempunyai kesempatan atau hanya sedikit kesempatan untuk menegosiasi atau mengubah klausula-klausula yang sudah dibuat oleh salah satu pihak tersebut, sehingga biasanya kontrak baki sangat berat sebelah.33

Kontrak baku sebagai kontrak yang baik isi, bentuk maupun cara penuntupannya dirancang, dibuat, ditetapkan, digandakan, serta disebarluaskan secara sepihak oleh salah satu pihak, biasanya pelaku usaha, tanpa kesepakatan dengan pihak lainnya, biasanya konsumen.34Praktik pembiayaan konsumen yang lazim di Indonesia, pada umumnya perjanjian pembiayaan konsumen yang

33 Munir Fuandy, Hukum Kontrak Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis, Buku Kedua, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2003, h 76 (selanjutnya disebut Munir Fuady 3)

34 Johannes Gunawan, “Reorientasi Hukum Kontrak di Indonesia”, Jurnal Hukum Bisnis Volume 22 Nomor 6, 2003, h.45

dipakai adalah perjanjian standar atau perjanjian baku yang klausul-klausulnya telah disusun sebelumnya oleh perusahaan pembiayaan. Dengan demikian konsumen sebagai calon debitur hanya mempunyai pilihan antara menerima seluruh isi atau klausul-klausul perjanjian itu atau tidak bersedia menerima klausul-klausul itu baik sebagian atau seluruhnya, yang berakibat konsumen tidak akan menerima pembiayaan tersebut.35

Bentuk perjanjian baku tersebut tidaklah menjadi suatu pengingkaran atas asas kebebasan berkontrak sepanjang tetap ditegakkannya asas-asas umum perjanjian, seperti syarat-syarat yang wajar dengan menjunjung keadilan dan adanya keseimbangan para pihak dengan menghilangkan suatu penekanan kepada pihak lainnya karena kekuatan yang dimiliki oleh salah satu pihak. Sehingga dengan demikian rumusan perjanjian baku tersebut harus terhindar dari kandungan unsur-unsur yang akan mengakibatkan kecurangan yang sangat berlebihan, dan terjadinya suatu pemaksaan karena adanya ketidakseimbangan kekuatan para pihak, juga harus diperbaiki pula syarat perjanjian yang hanya menguntungkan sepihak atau risiko yang hanya dibebankan kepada sepihak pula, serta pembatasan hak dalam menggunakan upaya hukum.36

Penggunaan perjanjian baku dalam kontrak-kontrak yang biasanya dilakukan oleh pihak yang banyak melakukan perjanjian yang sama terhadap pihak lain, diatur dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang

35 Rudyanti Dorotea Tobing, Hukum Lembaga Pembiayaan: Asas Keadilan dalam Perjanjian Pembiayaan, Surabaya, LaksBang Pressindo, 2017, h 107

36 Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2000, h 387

membuatnya. Kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata tersebut sangat ideal apabila para pihak yang terlibat dalam suatu kontrak posisi tawarnya seimbang antara satu dengan yang lain.

Pencantuman klausula baku dalam perjanjian pembiayaan kendaraan bermotor oleh perusahaan leasing jelas tidak sejalan dengan ketentuan Undang-Undang No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). Klausula baku dalam perjanjian pembiayaan berpihak pada pelaku usaha. UUPK dengan tegas telah mengatur bahwa pelaku usaha dalam menawarkan barang dan /atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/ atau perjanjian apabila menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran (Pasal 18 ayat (1) butir d UUPK). Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti (Pasal 18 ayat 2).37

Klausula baku dalam perjanjian pembiayaan kendaran bermotor yang berlaku dalam praktek jelas melanggar UUPK. Isi perjanjian seringkali tidak dijelaskan secara rinci, konsumen hanya diminta untuk menandatangani perjanjian saja. Isi perjanjian yang berpihak pada pelaku usaha hingga upaya paksa berupa penarikan unit kendaraan bermotor juga telah melanggar UUPK. Pasal 62 UUPK menyatakan bahwa pelaku usaha yang melanggar ketentuan Pasal 18 UUPK

37 Triwanto, Perlindungan Hukum Konsumen Leasing Terhadap Pencantuman Klausula Baku Dalam Perjanjian Kredit, Jurnal Hukum, Vol 3, Number 1, Januari 2019, h 363

diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak dua milyar rupiah.38

Perusahaan pembiayaan merupakan badan usaha yang melaksanakan kegiatan usaha dari lembaga pembiayaan. Selain perusahaan pembiayaan, bank dan lembaga keuangan bukan bank juga merupakan badan hukum yang melaksanakan aktivitas dari lembaga pembiayaan yaitu:

1) Sewa guna usaha. Sewa guna usaha (leasing) merupakan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh penyewa guna usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara angsuran. Kegiatan sewa guna usaha dilakukan dalam bentuk pengadaan barang modal bagi penyewa guna usaha, baik dengan maupun tanpa hak opsi untuk membeli barang tersebut.

Pengadaan barang modal dapat juga dilakukan dengan cara membeli barang penyewa guna usaha yang kemudian disewaguna-usahakan kembali.39 Sepanjang perjanjian sewa guna usaha (leasing) masih berlaku, hak milik atas barang modal objek transaksi sewa guna usaha berada pada perusahaan pembiayaan.

2) Modal ventura, merupakan badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan, yang menerima bantuan pembiayaan (investee company) untuk jangka waktu tertentu.

38 Ibid.

39 Abdulkadir Muhammad dan Rilda Mumiati, Op.Cit, h 201

3) Perdagangan surat berharga; merupakan badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk perdagangan surat-surat berharga\

4) Anjak piutang; anjak piutang (factoring) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dagang jangka pendek suatu perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut. Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan, dijelaskan bahwa kegiatan anjak piutang dilakukan dalam bentuk piutang dagang jangka pendek suatu perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut.

Kegiatan anjak piutang tersebut, dapat dilakukan dalam bentuk anjak piutang tanpa jaminan dari penjual piutang (without) dari penjual piutang (without recourse) merupakan kegiatan anjak piutang dimana perusahaan pembiayaan menanggung seluruh risiko tidak tertagihnya piutang. Sedangkan anjak piutang dengan jaminan dari penjual piutang (with recourse) merupakan kegiatan anjak piutang dimana penjual piutang menanggung risiko tidak tertagihnya sebagian atau seluruh piutang yang dijual kepada perusahaan pembiayaan.

5) Usaha kartu kredit. Usaha kartu kredit (credit card) merupakan kegiatan pembiayaan untuk pembelian barang dani/atau jasa dengan menggunakan kartu kredit. Kegiatan usaha kartu kredit dilakukan dalam bentuk penerbitan kartu kredit yang dapat dimanfaatkan oleh pemegangnya untuk pembelian barang dan/atau jasa.

Perusahaan pembiayaan yang melakukan kegiatan usaha kartu kredit, sepanjang berkaitan dengan sistem pembayaran wajib mengikuti ketentuan Bank Indonesia.

6) Pembiayaan konsumen. Pembiayaan konsumen (consumer finance) adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran. Kegiatan pembiayaan konsumen dilakukan dalam bentuk penyediaan dana untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran.40

Kebutuhan konsumen yang dimaksud meliputi antara lain :41 a) Pembiayaan kendaraan bermotor;

b) Pembiayaan alat-alat rumah tangga;

c) Pembiayaan barang-barang elektronika

d) Pembiayaan perumahan. Para pihak yang terkait dalam suatutransaksi pembiayaan konsumen yaitu;

1) Pihak perusahaan pembiayaan (kreditur) adalah perusahaan pembiayaan konsumen atau perusahaan yang telah mendapatkan izin usaha dari Menteri Keuangan.

2) Pihak konsumen (debitur) adalah perorangan atau individu yang mendapatkan fasilitas pembiayaan konsumen dari kreditur.

3) Pihak supplier/dealer/developer adalah perusahaan atau pihak-pihak yang menjual atau menyediakan barang kebutuhan konsumen dalam rangka pembiayaan konsumen. Hubungan antara pihak kreditur dengan konsumen

40 Ibid, h 22

41 Abdul R Saliman, Op.Cit, h 104

adalah hubungan kontraktual dalam hal ini kontrak pembiayaan konsumen.

Dimana pihak pemberi biaya sebagai kreditur dan pihak penerima biaya (debitur) sebagai pihak debitur. Pihak pemberi biaya berkewajiban utama untuk memberi sejumlah uang untuk pembelian suatu barang konsumsi, semenatara pihak penerima biaya (debitur) berkewajiban utama untuk membayar kembali uang tersebut secara cicilan kepada pihak pemberi biaya.'

Jadi hubungan kontraktual antara penyedia dana dengan pihak konsumen adalah sejenis perjanjian kredit. Sehingga kredit (dalam KUHPerdata) berlaku, sementara ketentuan perkreditan yang diatur dalam peraturan perbankan secara yuridis formal tidak berlaku berhubung pihak pemberi biaya bukan pihak bank sehingga tidak tunduk pada peraturan perbankan dan non bank. Dapat dijelaskan bahwa seluruh kontrak ditandatangani dan dana sudah dapat dicairkan serta barang sudah diserahkan pada supplier kepada konsumen, maka barang yang bersangkutan sudah langsung menj adi milik konsumen. Walaupun kemudian biasanya barang tersebut dijadikan jaminan hutang lewat perjanjian fidusia, dalam hal ini berbeda dengan kontrak leasing, dimana secara yuridis barang leasing tetap menjadi milik pihak kreditur untuk selama-lamanya atau sampai hak opsi dijalankan oleh pihak lessee.

Pranata hukum pembiayaan konsumen di indonesia di mulai pada tahun 1988, yaitu dengan dikeluarkannya Keppres No. 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan, dan Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK.031/1988 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan. Akibat dari dua

peraturan tersebut yang pada akhirnya mencetus istilah pembiayaan konsumen (consumer finance) sebagai sebuah lembaga resmi dalam bidang keuangan. Kedua peraturan itu merupakan titik awal sejarah perkembangan pengaturan tentang pembiayaan konsumen sebagai lembaga bisnis pembiayaan di Indonesia.42

Lembaga pembiayaan diatur dalam Peraturan Presiden No 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiyaanan. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 28/POJK.05/2014 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Pembiayaan. Menurut Pasal 1 angka Perpres No. 9 Tahun 2009 yang dimaksud dengan Lembaga Pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang konsumsi. Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 28/POJK.05/2014 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Pembiayaan Pasal 1 perusahaan pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang dan/atau jasa.

Dasar hukum bagi pembiayaan konsumen dapat di kelompokkan menjadi dua bagian, yaitu:

a. Dasar hukum substantive. Ketentuan dalam Buku III KUHPerdata tentang Perikatan. Kontrak pembiayaan merupakan hal yang substantif dalam melakukan transaksi pembiayaan dimana terlebih dahulu para pihak mengadakan perjanjian berdasarkan asas kebebasan berkontrak yang diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

42 Sunaryo, Op.Cit, h 96-97.

b. Dasar hukum administrative:

1) Peraturan Perundang-Undangan seperti UU No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, UU No.42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, UU No.40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dan UU No.21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan.

2) Peraturan-peraturan lainnya seperti :

a) Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Lembaga Pembiayaan.

b) Semua peraturan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Lembaga Pembiayaan.

c) Keputusan Menteri Keuangan RI No.448/KMK.017/2000 Tentang Perusahaan Pembiayaan dan terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.012/2006 Tentang Perusahaan Pembiayaan d) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan di bidang Lembaga Pembiayaan, misalnya: POJK No.29/POJK.05/2014 Tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan dan POJK No.28/POJK.05/2014 Tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Pembiayaan.

e) Yurisprudensi, yaitu putusan-putusan hakim yang memutuskan perkara yang berkenaan dengan pembiayaan.

f) Kebiasaan, terutama kebiasaan pembiayaan.43 2. Perjanjian Pembiayaan Konsumen

Pembiayaan konsumen terjemahan dari istilah “Consumer Finance”.

Pembiayaan konsumen ini tidak lain dari sejenis kredit konsumsi (Consumer Credit), jika pembiayaan konsumen dilakukan oleh perusahaan pembiayaan, sementara kredit konsumsi diberikan oleh bank.44Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009, tentang Lembaga Pembiayaan, Pembiayaan konsumen (Consumers Finance) merupakan kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran. Pengertian lainnya yakni, pembiayaan konsumen merupakan suatu kredit atau pinjaman yang diberikan oleh suatu perusahaan untuk debitur guna pembelian barang atau jasa yang akan langsung digunakan atau dikonsumsi oleh konsumen, dan bukan untuk tujuan distribusi atau produksi. Perusahaan yang memberikan pembiayaan seperti di atas, disebut dengan perusahaan pembiayaan konsumen (Customer Finance Company).45

Pembiayaan konsumen salah satu lembaga pembiayaan yang dilakukan oleh suatu perusahaan finansial (consumer finance company). Perusahaan pembiayaan konsumen adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran atau berkala oleh konsumen.46

43 Sunaryo, Op. Cit., h.103

44 Munir Fuady, (2) Op.Cit, h 162.

45 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta:Rajawali Pers. 2014), h.23

46 Sentosa Sembiring, Hukum Dagang, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2001, h 114.

Perjanjian pembiayaan konsumen (consumer finance agreement) merupakan dokumen hukum utama (main legal document) yang dibuat secara sah dengan memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Akibat hukum perjanjian yang dibuat secara sah, maka akan berlaku sebagai undang-undang bagi pihak-pihak yaitu perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen (Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata). Konsekuensi yuridis selanjutnya, perjanjian tersebut harus dilaksanakan dengan itikad baik dan tidak dapt dibatalkan secara sepihak. Perjanjian pembiayaan berfungsi sebagai dokumen bukti yang sah bagi perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen.47

Perjanjian pembiayaan konsumen (consumer finance agreement) merupakan dokumen (mail legal document) yang dibuat secara sah dengan memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1320 KUH Perdata.

Akibat hukum perjanjian yang dibuat secara sah, maka akan berlaku sebagi undang-Undang bagi pihak-pihak yaitu perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen (Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata). konsekuensi yuridis selanjutnya.

perjanjian tersebut harus dilaksanaka dengan iktikad baik (in good faith) dan tidak dapat dibatalkan secara sepihak (unilateral unvoidable). Perjanjian pembiayaan konsumen berfungsi sebagai dokumen bukti yang sah bagi perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen.48

Hubungan hukum yang terjadi dalam kegiatan pembiayaan konsumen selalu dibuat secara tertulis (kontrak) sebagai dokumen hukum yang menjadi dasar kepastian hukum (legal certainty). Perjanjian pembiayaan konsumen ini

47 Abdul Kadir Muhammad dan Rilda Muniarti, Op.Cit, h. 256.

48 Sunaryo, Hukum Lembaga Pembiayaan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h 99

dibuat berdasarkan asas kebebasan berkontrak para pihak yang memuat rumusan kehendak berupa hak dan kewajiban dari perusahaan pembiayaan konsumen sebagai pihak penyedia dana (fundlender), dan konsumen sebagai pihak pengguna dana (fund user). Penjanjian pembiayaan konsumen (consumer finance agreement) merupakan dokumen hukum utama (main legal document) yang dibuat secara sah dengan memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1320 KUHPendata.49

Akibat hukum penjanjian yang dibuat secara sah, maka akan berlaku sebagai undang-undang bagi pihakpihak, yaitu perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen (Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata). Konsekuensi yuridis selanjutnya, perjanjian tersebut harus dilaksanakan dengan iktikad baik (in good faith) dan tidak dapat dibatalkan secara sepihak (unilateral unvoidable).

Perjanjian pembiayaan konsumen berfungsi sebagai dokumen bukti yang sah bagi perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen.

Lembaga pembiayaan ini kegiatan usahanya lebih menekankan pada fungsi pembiayaan, yaitu dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat sedangkan lembaga keuangan menjalankan usahanya baik dalam penyediaan dana maupun jasa keuangan bukan pembiayaan.50

Pembiayaan konsumen (consumer finance) merupakan sebuah perjanjian antara pihak perusahaan pembiayaan dengan konsumen, antara konsumen dengan supplier dan antara supplier dengan lembaga pembiayaan, bahkan dalam

49 Ibid, h 98-99

50 Sunaryo, Op.Cit, h 1-2

perjanjian pembiayaan konsumen juga pada umumnya melibatkan pihak penanggung risiko (lembaga asuransi) untuk menanggung kerugian yang mungkin saja muncul pada masa pembayaran cicilan bagi barang yang menjadi jaminan bagi hubungan utang-piutang antara konsumen dengan pihak lembaga pembiayaan.

Dokumen terkait