BAB II PENGATURAN JAMINAN DALAM LEMBAGA
B. Jaminan dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen
3. Sumber Hukum Jaminan
Jaminan adalah menjamin dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum. KUHPerdata juga mengatur mengenai pemberian jaminan ini yang terdapat dalam Pasal 1131 KUHPerdata yang menyatakan bahwa “segala kebendaan si berutang (debitur), baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru aka nada di kemudian hari, menjadi jaminan suatu segala perikatan pribadi debitur tersebut.” Ketentuan dalam pasal tersebut merupakan suatu jaminan terhadap pembayaran hutang-hutang debitur, tanpa diperjanjikan dan tanpa menunjuk benda khusus dari si debitur.74
Disamping jaminan umum berdasarkan Pasal 1131 KUHPerdata, dalam ilmu hukum jaminan, dikenal juga jaminan yang bersifat khusus. Yang dimaksudkan dengan jaminan kebendaan yang khusus ini adalah penunjukan/penentuan atas benda tertentu milik debitur atau milik pihak ketiga, yang dimaksudkan sebagai jaminan hutangnya kepada kreditur, dimana jika debitur wanprestasi atas pembayaran hutangnya, hasil dari benda objek jaminan tersebut harus lebih dahulu (preference) dibayar kepada kreditur yang
73 HS. Salim, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h.23.
74 Setianto Trimulyo, Pelaksanaan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Dan Implikasi Wanprestasi Terhadap Objek Jaminan (Studi Kasus Di PT. Oto Multiartha Cabang Mataram), Jurnal IUS | Vol V | Nomor 1 | April 2017, h 95
bersangkutan untuk melunasi pembayaran hutangnya, sedangkan juka ada sisanya, baru dibagibagikan kepada kreditur yang lain (kreditur konkuren).75
Sumber hukum merupakan tempat dimana ditemukan hukum. Hukum jaminan bersumber dari KUHPerdata. KUHPerdata sebagai terjemahan dari BW merupakan kodifikasi hukum perdata material yang diberlakukan pada tahun 1848 berdasarkan asas konkordansi. Ketentuan hukum jaminan dapat dijumpai dalam buku II KUHPerdata yang mengatur tentang hukum kebendaan. Dilihat dari sistematika KUHPerdata, prinsipnya hukum jaminan merupakan bagian dari hukum kebendaan, sebab dalam Buku II KUHPerdata diatur tentang pengertian, cara membedakan benda dan hak-hak kebendaan, baik yang memberikan kenikmatan dan jaminan.
Sumber hukum jaminan dapat ditemukan dalam beberapa ketentuan yang ada di dalam dan di luar KUHPerdata. Sumber hukum jaminan yang terdapat di dalam KUHPerdara dan masih berlaku hanyalah ketentuan mengenai gadai (pand) dan hipotik. Ketentuan mengenai gadai diatur dalam KUHPerdata dari Pasal 1150 sampai Pasal 1161 KUH Perdata. Sedangkan ketentuan mengenai hipotik diatur dalam Pasal 1162 sampai dengan Pasal 1232 KUH Perdata.
C. Pengaturan Jaminan Dalam Lembaga Pembiayaan
Transaksi pembiayaan konsumen dilakukan tidak hanya berdasarkan kehendak para pihak saja, yaitu antara perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen yang dituangkan dalam bentuk perjanjian, tetapi juga diatur oleh beberapa peraturan perundangan yang bersifat publik administratif. Pembiayaan
75 Ibid, h 96
konsumen sebagai salah satu bentuk bisnis pembiayaan bersumber dari berbagai ketentuan hukum, baik perjanjian maupun perundang-undangan.76
Perjanjian pembiayaan konsumen dibuat berdasarkan atas asas kebebasan berkontrak para pihak yang memuat rumusan kehendak berupa hak dan kewajiban dari perusahaan pembiayaan konsumen sebagai pihak penyedia dana (fund lender), dan konsumen sebagai pihak pengguna dana (fund user). Perjanjian pembiayaan konsumen merupakan dokumen hukum utama yang dibuat secara sah dengan memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Akibat hukum perjanjian yang dibuat secara sah, maka akan berlaku sebagai undang-undang bagi pihak-pihak yaitu perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen (Pasal 1338 KUH Perdata). Konsekuensi yuridis kemudian, perjanjian tersebut harus dilaksanakan dengan iktikad baik dan tidak dapat dibatalkan secara sepihak. Perjanjian pembiayaan konsumen berfungsi sebagai dokumen bukti yang sah bagi perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen.77
Perusahaan pembiayaan konsumen pada dasarnya tidak menekankan dan mengutamakan pada aspek jaminan (collateral). Pembiayaan konsumen merupakan salah satu lembaga bisnis, maka dalam kegiatan pembiayaan perusahaan pembiayaan konsumen tidak bisa tidak terikat dari unsur risiko.
Praktik perusahaan pembiayaan konsumen akan meminta jaminan tertentu untuk mengamankan pembiayaan yang di berikan. Jaminan yang ada di dalam pembiayaan konsumen sebenarnya memiliki prinsip yang sama dengan jaminan di
76 Abdulkadir Muhammad & Rilda Murniati, Op.Cit, h. 214.
77 Sunaryo, Op. Cit., h. 99.
dalam kredit bank, khususnya kredit konsumen, yaitu jaminan pokok, jaminan utama dan jaminan tambahan.78 Untuk itu, dapat dibagi ke dalam:
a. Jaminan utama sebagai suatu kredit, maka jaminan pokoknya adalah kepercayaan dari kreditur kepada debitur (konsumen) bahwa pihak konsumen dapat dipercaya dan sanggup membayar hutang-hutangnya. Jadi di sini, prinsip-prinsip pemberian kredit berlaku. Misalnya prinsip 5c (Collateral, Capacity, Character, Capital, Condition of Economy).
b. Jaminan pokok sebagai jaminan pokok terhadap transaksi pembiayaan konsumen adalah barang yang dibeli dengan dana tersebut. Jika dana tersebut diberikan misalnya untuk membeli mobil, maka mobil yang bersangkutan menjadi jaminan pokoknya. Biasanya jaminan tersebut dibuat dalam bentuk Fiduciary Transfer of Ownership (fidusia). Karena adanya fidusia ini, maka biasanya seluruh dokumen yang berkenaan dengan kepemilikan barang yang bersangkutan akan dipegang oleh pihak kreditur (pemberi dana) hingga kredit lunas. 79
c. Jaminan tambahan. Seiring juga dimintakan jaminan tambahan terhadap transaksi pembiayaan konsumen ini, walaupun tidak seketat jaminan untuk pemberian kredit bank. Biasanya jaminan tambahan terhadap transaksi seperti ini berupa pengakuan hutang (promissori notes), atau Acknoledgment of Indebtedness, Kuasa Menjual Barang, dan Assigment of Proceed (Cessie) dari asuransi. Di samping itu, sering juga dimintakan
“persetujuan istri/suami” untuk konsumen pribadi dan persetujuan
78 Ibid, h 105
79 Munir Fuady, (2), Op.Cit., h 168
komisaris/RUPS untuk konsumen perusahaan, sesuai ketentuan Anggaran Dasarnya.80
80 Ibid.
BAB III
AKIBAT HUKUM YANG TERJADI, BAIK TERHADAP KEWAJIBAN POKOK BUNGA MAUPUN BENDA JAMINAN, BILA PENERIMA
PEMBIAYAAN KONSUMEN MELAKUKAN WANPRESTASI
A. Perusahaan Pembiayaan Konsumen Dalam Bentuk Lembaga Pembiayaan Konsumen
Lembaga pembiayaan konsumen di Indonesia dimulai pada tahun 1988, yaitu dengan dikeluarkannya Keppres No 61 Tahun 1988 Tentang Lembaga Pembiayaan, dan Keputusan Menteri Keuangan No 1251/KMK.013/1988 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan. Kedua keputusan inilah yang merupakan titik awal dari sejarah perkembangan pengaturan pembiayaan kosumen sebagai lembaga bisnis pembiayaan di Indonesia.81
Istilah pembiayaan pada dasarnya lahir dari pengertian I believe, I trust, yaitu „saya percaya‟ atau „saya menaruh kepercayaan‟. Perkataan pembiayaan yang artinya kepercayaan (trust) yang berarti bank menaruh kepercayaan kepada seseorang untuk melaksanakan amanah yang diberikan oleh bank selaku shahibul maal. Dana tersebut harus digunakan dengan benar, adil, dan harus disertai dengan ikatan dan syarat-syarat yang jelas serta saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.82
Perusahaan merupakan badan usaha yang menjalankan kegiatan di bidang perekonomian (keuangan, industri, dan perdagangan), yang dilakukan secara terns menerus atau teratur (regelmatig) terang-terangan (openlijk), dan dengan tujuan
81 Sunaryo, Op.Cit., h. 98
82 Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi, (Jakarta:Bumi Aksara, 2010), h.698
memperoleh keuntungan dan/ atau laba.83 Lembaga pembiayaan merupakan badan usaha yang dilakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat.84
B. Kedudukan Jaminan dalam Lembaga Pembiayaan
Perjanjian pembiayaan konsumen dibuat berdasarkan atas asas kebebasan berkontrak para pihak yang memuat rumusan kehendak berupa hak dan kewajiban dari perusahaan pembiayaan konsumen sebagai pihak penyedia dana (fund lender), dan konsumen sebagai pihak pengguna dana (fund user). Perjanjian pembiayaan konsumen merupakan dokumen hukum utama yang dibuat secara sah dengan memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Akibat hukum perjanjian yang dibuat secara sah, maka akan berlaku sebagai undang-undang bagi pihak-pihak yaitu perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen (Pasal 1338 KUH Perdata). Konsekuensi yuridis selanjutnya, perjanjian tersebut harus dilaksanakan dengan iktikad baik dan tidak dapat dibatalkan secara sepihak. Perjanjian pembiayaan konsumen berfungsi sebagai dokumen bukti yang sah bagi perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen.85
Perjanjian jaminan tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya perjanjian pendahuluan atau perjanjian pokok yang mendahuluinya. Karenanya perjanjian jaminan merupakan perjanjian asesor (accessoir), tambahan, atau ikutan. Sebagai
83 Abdul R Saliman, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan (Teori dan Contoh Kasus), Jakarta, Kencana Renada Media Group, 2005, h. 100
84 Dahlan Siamat. Manajemen Lembaga Keuangan,Edisi Kedua, Jakarta, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 2001. h. 281
85 Sunaryo, Op. Cit., h. 99.
perjanjian asesor, eksistensi perjanjian jaminan ditentukan oleh ada dan hapusnya perjanjian pendahuluan atau perjanjian pokoknya.
C. Akibat Hukum Yang Terjadi, Baik Terhadap Kewajiban Pokok Maupun Benda Jaminan, Bila Penerima Pembiayaan Konsumen Melakukan Wanprestasi
Dalam hukum perjanjian masing-masing pihak mempunyai prestasi yang bertalian erat satu dengan yang lain. Apabila salah satu pihak tidak dapat memenuhi kewajibannya maka perjanjian bisa dibatalkan dan menimbulkan risiko terhadap kedua belah pihak. Pembatalan perjanjian bisa dilaksanakan oleh pihak kreditur jika pihak debitur lalai dalam melaksanakan kewajibannya. Akibat dari hapusnya perikatan, masing-masing pihak tidak perlu lagi memenuhi prestasi.
Pihak yang mengajukan pembatalan berhak menuntut ganti rugi sebagai akibat daripada ingkar janji dan pembatalan.86
Pelaksanaan perjanjian pembiayaan konsumen tidak terlepas dari akibat hukum. Praktiknya dalam pelaksanaan pasti akan menemukan banyak kesalahan ataupun kelalaian dari salah satu pihak, sehingga terhadapnya dapat dikenakan pertanggungjawaban akan akibat hukum yang terhadap suatu kesalahan atau kelalaian. Perjanjian pembiayaan konsumen dalam bentuk apapun, berarti kedua belah pihak saling mengikatkan dirinya untuk melaksanakan sesuatu yang telah diperjanjikan (prestasi). Namun dalam kenyataan yang ada tidak menutup
86 R. Setiawan. Pokok-pokok Hukum Perikatan, Bandung, Binacipta. 2010, h. 65-67
kemungkinan dapat terjadi bahwa salah satu pihak tidak melaksanakan apa yang telah diperjanjikan.87
Akibat hukum tidak dipenuhinya perjanjian adalah bahwa kreditur dapat meminta ganti kerugian atas ongkos, rugi dan bunga yang dideritanya. Adanya kewajiban ganti rugi bagi debitur maka undang-undang menentukan bahwa harus terlebih dahulu dinyatakan dalam keadaan lalai. Berada dalam keadaan lalai adalah peringatan atau pernyataan dari kreditur tentang saat selambatlambatnya debitur wajib memenuhi prestasi, apabila saat ini dilampauinya maka debitur dinyatakan wanprestasi. Perjanjian pembiayaan konsumen merupakan perjanjian innominaat yang didasarkan pada Pasal 1319 KUHPerdata, maka harus tunduk juga pada ketentuan umum perjanjian, misalnya mengenai syarat sahnya suatu perjanjian dan wanprestasi.88
Akibat yang sangat penting dari tidak dipenuhinya perjanjian adalah bahwa kreditur dapat meminta ganti kerugian atas ongkos, rugi dan bunga yang dideritanya. Untuk adanya kewajiban ganti rugi bagi debitur maka undang-undang menentukan bahwa harus terlebih dahulu dinyatakan dalam keadaan lalai. Berada dalam keadaan lalai adalah peringatan atau pernyataan dari kreditur tentang saat selambatlambatnya debitur wajib memenuhi prestasi, apabila saat ini dilampauinya maka debitur dinyatakan wanprestasi.89
87 Umul Khair, Analisis Yuridis Perjanjian Pembiayaan Konsumen Dan Akibat Hukum Jika Terjadi Wanprestasi Dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen Di Indonesia, Jurnal Cendekia Hukum, Vol. 3, No 1, September 2017, h 40
88 Ibid, h 41
89 Ibid.
BAB IV
PENGGUNAAN BUKU PEMILIK KENDARAAN BERMOTOR SEBAGAI JAMINAN DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN
A. Gambaran Umum PT. Mega Finance
Mega Finance merupakan perusahaan yang bernaung di bawah CT Corpora seperti halnya dengan Bank Mega, Trans TV, Trans7, dan lain-lain. CT Corpora merupakan perusahaan holding yang berkedudukan di Indonesia memegang perusahaan yang aktif di beberapa bidang industri. Kelompok perusahaan ini dibagi menjadi tiga bisnis utama, yaitu dalam bidang keuangan dan pembiayaan, media, gaya hidup dan hiburan serta sumber daya alam. Kantor pusat PT Mega Finance berlokasi di Graha Mega Finance, Jln.Wijaya No. I No. 19 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Awal berdiri pada tanggal 15 Maret 1995, dengan nama Para Finance. Awalnya, Mega Finance lebih banyak bergerak di bidang leasing (sewa guna usaha), factoring (anjak piutang), consumer finance (pembiayaan konsumen) dengan sasarannya adalah konsumen korporasi dan jenis kendaraan roda empat (mobil).90
Para finance pada bulan Oktober 2000 mengalihkan fokusnya ke bidang consumer finance dengan sasarannya adalah konsumen individu dan organisasi serta jenis produk kendaraan roda dua (motor) yang khusus diproduksi Jepang dan Italia, yaitu Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki dan Vespa. Chairul Tanjung (Chairman) pada Juni 2010, mengeluarkan kebijakan untuk mengganti nama para Finance menjadi Mega Finance. Hal ini dilakukan untuk membedakan divisi bidang usaha para Group. Bisnis Mega Finance semakin berkembang dengan
90 http://www.megafinance.co.id/tentang-kami/sejarah-perusahaan/diakses tanggal 1 Agustus 2020 Pukul 20.01 Wib
hadirnya pembiayaan elektronik (Mega Zip) dan pembiayaan multiguna. Mega Zip hadir di kota-kota besar, khususnya di Transmart Carrefour, Hypermart, Electronic Solution dan Modern Channel lainnya, sehingga semakin dekat dengan konsumen di seluruh Indonesia. Sedangkan pembiayaan multiguna hadir untuk membantu konsumen yang membutuhkan biaya untuk pengobatan, pendidikan, dan lain-lain dengan proses yang cepat.91
Visi dan Misi PT. Mega Finance Visi
Menjadi Perusahaan Pembiayaan 5 Besar di Indonesia Misi
1. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembiayaan dengan kualitas terbaik.
2. Menjadi mitra usaha masyarakat yang terpercaya dengan membangun hubungan bisnis jangka panjang yang saling menguntungkan.
3. Menyediakan tempat berkarya dan pengembangan diri bagi karyawan yang memiliki dedikasi, motivasi dan kualitas tinggi.92
B. Penggunaan Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) Sebagai Jaminan Dalam Perjanjian Pembiayaan
Perjanjian pembiayaan kendaraan bermotor PT. Mega Finance sebagai jaminan dalam perjanjian pembiayaan dituangkan dalam perjanjian baku. Debitur untuk memperoleh kredit dengan pembiayaan konsumen, maka pihak calon debitur harus terlebih dahulu mengetahui hal-hal apa saja yang harus disyaratkan.
91 Ibid.
92 Ibid.
Syarat perjanjian pembiayaan konsumen yang telah ditetapkan dalam perusahaan pembiayaan tersebut, dalam hal ini ialah perusahaan PT. Mega Finance.
PT. Mega Finance dalam melayani calon debitur menyuruh membaca isi dari perjanjian pembiayaan guna menghindari dari segala yang tidak diinginkan, maka seorang calon debitur haruslah membaca dengan teliti dan cermat apa saja yang menjadi isi perjanjian pembiayaan konsumen tersebut, jika calon debitur merasa mampu, maka debitur dapat memutuskan untuk melakukan perjanjian pembiayaan tersebut, akan tetapi bila calon debitur merasa tidak sesuai dengan isi dari perjanjian, maka calon debitur dapat memutuskan bahwa debitur tidak mampu melakukan perjanjian pembiayaan tersebut. Apabila debitur merasa sesuai dengan klausul perjanjian tersebut, maka debitur tersebut dapat menyepakati apa saja yang tertuang dalam perjanjian.
Penerapan perjanjian pembiayaan konsumen dengan objek sebuah kendaraan bermotor yang dibebani dengan jaminan dilakukan dengan lembaga pembiayaan menguasai BPKB dari kendaraan bermotor tersebut, sedangkan debitur menguasai objek perjanjian secara nyata dan dapat menggunakan kendaraan bermotor tersebut sesuai dengan kemanfaatannya, akan tetapi selama masa perjanjian belum berakhir, debitur dilarang mengalihkan objek jaminan.
Penguasaan BPKB atas kendaraan bermotor yang menjadi objek jaminan oleh kreditur dapat mencegah debitur untuk mengalihkan objek jaminan, sehingga objek jaminan tetap berapa pada kekuasaan pemilik benda selama masa perjanjian belum berakhir. Pemilik objek jaminan merupakan debitur yang melakukan
perjanjian dengan pihak kreditur, sehingga nama yang tercantum dalam BPKB kendaraan bermotor merupakan nama dari debitur.93
Lembaga pembiayaan menetapkan suatu transaksi pembiayaan konsumen dengan konsep kontrak yang tidak hanya mengatur kewajiban debitur dalam membayar hutangnya secara penuh. Namun juga, turut membebankan benda/
kendaraan tertentu yang dibiayai oleh lembaga pembiayaan, yang mana benda tersebut atas dasar kesepakatan bersama digunakan sebagai jaminan yang mempunyai konsekuensi hukum. Apabila debitur lalai, maka debitur secara sukarela harus menyerahkan kendaraan tersebut kepada kreditur untuk dijual dan digunakan untuk pelunasan piutang.94
Kewajiban pihak-pihak dilaksanakan berdasarkan kontrak pembiayaan konsumen. Debitur harus menyerahkan BPKB kendaraam bermotor seperti BPKB Sepeda motor dan BPKB kenderaan roda empat. Dengan penyerahan BPKB kepada PT. Mega Finance, Pihak konsumen wajib membayar secara angsuran sampai lunas kepada PT. Mega Finance sesuai dengan kontrak.95 Selama angsuran belum dibayar lunas, maka BPKB dijadikan jaminan hutang secara fidusia BPKBnya ditahan oleh Mega Finance.96
Untuk jaminan dengan BPKB sepeda motor PT. Mega Finance memberi batasan tahun minimal tahun 2010, untuk kendaraan roda empat minimal tahun
93 Hasil wawancara dengan Sanggul Manullang selaku Supervisor PT. Mega Finance, tanggal 1 April 2020
94 Khifni Kafa Rufaida dan Rian Sacipto, Tinjauan Hukum Terhadap Eksekusi Objek Jaminan Fidusia Tanpa Titel Eksekutorial Yang Sah, Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Oktober 2019, h 29-30
95 Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati, Op.Cit, h. 248
96 Antonius selaku konsumen yang mengadaikan BPKB Kendaraan bermotor kepada PT.
Mega Finance tanggal 8 Mei 2020.
2005. Condition disini berkaitan erat dengan karakter, tapi disini dimaksudkan apabila yang bersangkutan sudah menerima pinjaman bank debitur tersebut dimungkinkan akan terbantu.
Proses pembiayaan konsumen pada PT. Mega Finance didasarkan pada Pasal 1 ayat (1) yang terdapat dalam syarat-syarat umum perjanjian pembiayaan konsumen debitur wajib menyiapkan syarat-syarat administrasi yang berupa data internal debitur terdiri dari fotokopi Kartu Tanda Penduduk (e-KTP), Kartu Keluarga (KK), fotokopi Akta Nikah (jika sudah berkeluarga), fotokopi rekening tabungan, fotokopi bukti bayar PBB/Listrik/Telepon bulan terakhir, fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak dan surat keterangan usaha ditujukan bagi wiraswasta yang memiliki usaha, Slip Gaji untuk yang bekerja sebagai PNS/
Karyawan/Swasta, Bukti Nota Usaha dan dokumen lain sebagai pelengkap.
Selanjutnya data jaminan berupa BPKB kendaraan bermotor asli, Faktur kendaraan, KTP atas nama yang tertera di BPKB, Kwitansi atas nama, fotokopi STNK beserta aslinya, foto unit kendaraan yang dijadikan jaminan, bukti gesek cek fisik nomor rangka dan nomor mesin kendaraan, dalam Pasal 1 ayat (2) dinyatakan bahwa debitur diwajibkan memberitahukan secara tertulis kepada PT.
Mega Finance jika debitur pindah alamat baru.97
C. Upaya Penyelesaian Jika Debitur Wanprestasi Dalam Pelaksanaan Perjanjian Kredit dengan Jaminan Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB)
97Hasil wawancara dengan Sanggul Manullang selaku Supervisor PT. Mega Finance, tanggal 1 April 2020
Pelaksanaan perjanjian pembiayaan konsumen tidak terlepas dari konsekuensi hukum, oleh karena dalam pelaksanaannya pasti akan menemukan banyak kesalahan/kelalaian dari salah satu pihak, sehingga terhadapnya dapat dikenakan pertanggungjawaban akan akibat hukum yang terhadap suatu kesalahan/kelalaian. Perjanjian pembiayaan konsumen dalam bentuk apapun, berarti kedua belah pihak saling mengikatkan dirinya untuk melaksanakan sesuatu yang telah diperjanjikan. Namun dalam praktiknya tidak menutup kemungkinan dapat terjadi bahwa salah satu pihak tidak melaksanakan apa yang telah diperjanjikan.98
Perjanjian dalam pelaksanaannya memungkinkan untuk tidak terlaksana atau tidak sempurna, baik karena kesalahan maupun karena kekuatan memaksa, namun adakalanya perjanjian tidak terlaksana sepenuhnya seperti yang disepakati bahkan perjanjian dapat pula tidak terlaksana sama sekali. Kondisi tidak terlaksanakanya perjanjian tersebut dikenal dengan istilah wanprestasi.99
Wanprestasi adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaian atau kesalahannya, debitur tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian dan bukan dalam keadaan memaksa adapun yang menyatakan bahwa wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan debitur.100 Seorang debitur baru dikatakan wanprestasi apabila debitur telah diberikan somasi oleh kreditur atau Juru Sita. Somasi itu minimal telah dilakukan
98 Umul Khair, Loc.Cit, h 40
99 Ibid.
100 Salim H.S., Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Jakarta, Sinar Grafika, 2008, h.
180.
sebanyak tiga kali oleh kreditur atau Juru sita. Apabila somasi itu tidak diindahkannya, maka kreditur berhak membawa persoalan itu ke pengadilan dan pengadilanlah yang akan memutuskan, apakah debitur wanprestasi atau tidak.101
Wanprestasi adalah tidak terpenuhinya kewajiban yang sudah ditentukan dalam perjanjian pembiayaan. Faktor debitur wanprestasi pada PT. Mega Finance yaitu pengajuan pembiayaan hanya atas nama berarti debitur mengajukan pembiayaan meminjam data identitas orang lain dan beritikad tidak baik melaksanakan kewajibannya yang sudah ditentukan dalam perjanjian, debitur lalai membayar angsuran selama dua angsuran berturut-turut, objek kendaraan dipindah-tangankan atau dijaminkan kepada pihak ketiga tanpa sepengetahuan PT.
Mega Finance, usaha debitur bangkrut, dan keadaan/peristiwa tak terduga yang membawa pengaruh buruk terhadap usaha dan kemampuan debitur. Upaya hukum yang dilakukan PT. Mega Finance sebelum jatuh tempo kurang dari tiga hari debitur diperingatkan lewat telepon agar melaksanakan kewajiban membayar angsuran. Apabila debitur tidak melaksanakan kewajibannya akan diberikan surat peringatan pembayaran angsuran, dan langkah terakhir jika masih beritikad buruk tidak melaksanakan kewajibannya, maka akan diberi surat keputusan penarikan jaminan.102
Wanprestasi menyebabkan salah satu pihak menderita kerugian, dan kerugian seperti itu dalam dunia bisnis, hanyalah ditekan sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kerugian bagi pengembangan bisnis, yang didalam hal ini perusahaan pembiayaan menderita kerugian oleh karena nasabahnya melakukan
101 Ibid, h 98
102Hasil wawancara dengan Sanggul Manullang selaku Supervisor PT. Mega Finance, tanggal 1 April 2020
wanprestasi. Pada dasarnya, wanprestasi itu dapat berupa sama sekali tidak memenuhi prestasi, atau prestasi yang dilakukan tidak sempurna, atau karena terlambat memenuhi prestasi, atau karena melakukan apa yang dilarang oleh perjanjian untuk dilakukan.103
PT. Mega Finance perlu memberikan peringatan tertulis kepada debitur agar memenuhi prestasinya, yang isinya menyatakan debitur wajib memenuhi prestasi dalam waktu yang ditentukan, jika dalam waktu itu debitur tidak memenuhinya, maka debitur dinyatakan wanprestasi. Peringatan tertulis dapat dilakukan secara resmi dilakukan melalui Pengadilan Negeri yang berwenang dengan perantaraan Jurusita menyampaikan surat peringatan tersebut kepada debitur disertai berita acara penyampaiannya.104
Upaya yang dilakukan PT. Mega Finance dalam penyelesaikan wanprestasi yang dilakukan debitur, kami dari PT. Mega Finance selalu mengupayakan penyelesaian secara kekeluargaan dengan bermusyawarah untuk membuat kesepakatan baru, jika debitur melakukan wanprestasi tersebut memiliki
Upaya yang dilakukan PT. Mega Finance dalam penyelesaikan wanprestasi yang dilakukan debitur, kami dari PT. Mega Finance selalu mengupayakan penyelesaian secara kekeluargaan dengan bermusyawarah untuk membuat kesepakatan baru, jika debitur melakukan wanprestasi tersebut memiliki