TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Personal Hygiene
2.4.4. Bentuk dan Gejala Klinis
Dermatofitosis tersebar diseluruh dunia dengan prevalensi
berbeda-beda pada tiap negara (Abbas, 2012). Penelitian World Health Organization (WHO) terhadap insiden dari infeksi dermatofit menyatakan 20% orang dari seluruh dunia mengalami infeksi kutaneus dengan infeksi tinea korporis merupakan tipe yang paling dominan dan diikuti dengan tinea kruris, pedis, dan onychomycosis (Lakshmipathy, 2013)
Menurut Djuanda (2013) dermatofitosis dapat memiliki berbagai gejala klinis, bentuk – bentuk gejala klinis dermatofitosis adalah:
1) Tinea kapitis
Tinea kapitis adalah kelainan kulit pada daerah kepala, rambut yang disebabkan jamur golongan dermatofita. Disebabkan oleh species dermatofita
Trichophyton dan Microsporum. Gambaran klinis keluhan penderita berupa
bercak pada kulit kepala, sering gatal disertai rambut rontok ditempat lesi. Berdasarkan bentuk khas, tinea kapitis dibagi dalam empat bentuk, yaitu: a. Gray patch ring worm
Penyakit ini dimulai dengan papul merah kecil yang melebar ke sekitarnya dan membentuk bercak yang berwarna pucat dan bersisik. Warna rambut jadi abu-abu dan tidak mengkilat lagi, mudah patah, dan terlepas dari akarnya sehingga menimbulkan alopesia setempat. Dengan pemeriksaan dengan sinar wood tampak flouresensi kekuning-kuningan pada rambut yang sakit
melalui batas “Gray patch” tersebut. Jenis ini biasanya disebabkan oleh species
Microsporum dan Trichophyton.
b. Black dot ring worm
Terutama disebabkan oleh T. tonsurans, T. violaceum, dan T.
mentagrophytes. Infeksi jamur terjadi diluar rambut (ectotric) atau didalam
rambut (endotric) yang menyebabkan rambut putus tepat pada permukaan kulit kepala. Ujung rambut tampak seperti titik-titik hitam diatas permukaan kulit yang berwarna kelabu sehingga tampak seperti gambaran “black dot”. Biasanya bentuk ini terdapat pada orang dewasa dan lebih sering pada wanita. Rambut sekitar lesi juga tidak bercahaya lagi karena kemungkinan sudah terkena infeksi. Penyebab utamanya adalah T. tonsurans dan T. violaceum.
c. Kerion
Bentuk ini adalah bentuk serius karena disertai dengan radang yang hebat bersifat lokal sehingga pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil yang berkelompok dan kadang-kadang ditutupi sisik-sisik tebal. Rambut di daerah ini putus-putus dan mudah dicabut. Bila kerion ini menyembuh akan meninggalkan suatu daerah yang botak permanen karena terjadi sikatriks. Bentuk ini terutama disebabkan oleh M. canis, M. gypseum, T. tonsurans, dan T.
violaceum.
d. Tinea favosa
Kelainan di kepala dimulai dengan bintik-bintik kecil di bawah kulit yang berwarna merah kekuningan dan berkembang menjadi krusta yang berwarna
cawan (skutula), serta memberi bau busuk seperti bau tikus “moussy odor”. Rambut di atas skutula putus-putus dan mudah lepas serta tidak mengkilat lagi. Bila penyakit itu sembuh akan meninggalkan jaringan parut dan alopesia yang permanen. Penyebab utamanya adalah T. schoenleinii, T. violaceum, dan T. gypseum. Karena tinea kapitis ini sering menyerupai penyakit kulit yang menyerang daeerah kepala, penyakit ini harus dibedakan dengan penyakit-penyakit bukan oleh jamur, seperti Psoriasis vulgaris, Dermatitis seboroika dan Trikotilomania. (Djuanda, 2013)
2) Tinea korporis
Tinea korporis adalah infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (globurus skin) di daerah muka, badan, lengan dan glutea. Penyebab tersering adalah T. rubrum dan T. mentagropytes. Gambaran klinis biasanya berupa lesi terdiri atas bermacam macam efloresensi kulit, berbatas tegas dengan konfigurasi anular, arsinar, atau polisiklik, bagian tepi lebih aktif dengan tanda peradangan yang lebih jelas. Daerah sentral biasanya menipis dan terjadi seperti penyembuhan, sementara tepi lesi meluas sampai ke perifer. Kadang bagian tengahnya tidak menyembuh, tetapi tetap meninggi dan tertutup skuama sehingga menjadi bercak yang besar (Djuanda, 2013).
3) Tinea imbrikata
Tinea imbrikata adalah penyakit yang disebabkan jamur dermatofita yang memberikan gambaran khas tinea korporis berupa lesi bersisik yang melingkar-lingkar dan gatal. Disebabkan oleh dermatofita T. concentricum.
Gambaran klinis dapat menyerang seluruh permukaan kulit halus, sehingga sering digolongkan dalam Tinea korporis. Lesi bermula sebagai makula eritematosa yang gatal, kemudian timbul skuama agak tebal terletak konsensif dengan susunan seperti genting, lesi bertambah melebar tanpa meninggalkan penyembuhan dibagian tengahnya. (Djuanda, 2013)
4) Tinea kruris
Tinea kruris adalah penyakit jamur dermatofita didaerah lipat paha, genitalia dan sekitar anus, yang dapat meluas kebokong dan perut bagian bawah. Penyebab E. floccosum, kadang-kadang disebabkan oleh T. rubrum. Gambaran klinik lesi simetris dilipat paha kanan dan kiri mula-mula lesi berupa bercak eritematosa, gatal lama kelamaan meluas sehingga dapat meliputi scrotum, pubis ditutupi skuama, kadang-kadang disertai banyak vesikel kecil-kecil. (Djuanda, 2013)
5) Tinea manus et pedis
Tinea manus et pedis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita didaerah kulit telapak tangan dan kaki, punggung tangan dan kaki, jari-jari tangan dan kaki serta daerah interdigital. Penyebab tersering T. rubrum, T. mentagrophytes, E. floccosum . (Djuanda, 2013)
6) Tinea unguium
Tinea unguium adalah kelainan kuku yang disebabkan infeksi jamur dermatofita. Penyebab tersering adalah T. mentagrophites, T. rubrum. Gambaran klinik biasanya menyertai Tinea pedis atau manus penderita berupa kuku
menjadi rusak warna menjadi suram tergantung penyebabnya, distroksi kuku mulai dari dista, lateral, ataupun keseluruhan.
7) Non Dermatofitosis 1. Pitiriasis versikolor
Pitiriasis versikolor (panu) adalah penyakit jamur superfisial yang kronik biasanya tidak memberikan keluhan subjektif berupa bercak skuama halus warna putih sampai coklat hitam, meliputi badan kadang-kadang menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka, kulit kepala yang berambut. Gambaran klinik kelainan terlihat bercak-bercak warna warni, bentuk teratur sampai tidak teratur batas jelas sampai difus kadang penderita merasa gatal ringan. Umumya keluhan yang muncul adalah timbul bercak putih ataupun kecoklatan yang kadang gatal bila berkeringat. Pada orang dengan kulit berwarna, lesi yang terjadi biasanya tampak sebagai bercak hipopigmentasi, tetapi pada orang dengan kulit pucat lesi bisa berwarna coklat kemerahan. Di atas lesi terdapat sisik halus. Ada 2 bentuk yang sering didapat, yaitu makular dan folikular (Sutanto, 2008)
2. Piedra
Piedra adalah infeksi jamur pada rambut ditandai dengan benjolan (nodus) yang keras sepanjang batang rambut. Ada 2 bentuk, yaitu :
1) Piedra Putih
Penyakit ini disebabkan Trichosporon beigellii terutama di daerah subtropis dan beriklim sedang. Gejalannya berupa adanya benjolan warna
coklat muda yang tidak begitu melekat pada batang rambut kepala, kumis, janggut dan tidak memberikan gejala-gejala subjektif (Sutanto, 2008)
2) Piedra Hitam
Penyakit ini disebabkan oleh piedra hortae dan lebih sering ditemukan pada daerah rambut kepala serta jarang pada rambut dada dan dagu. Piedra hitam merupakan infeksi asimtomatik. Pada batang rambut dada dan dagu. Piedra hitam merupakan infeksi asimtomatik. Pada batang rambut teraba kasar, granular, terdapat nodul yang keras, berukuran kecil, berwarna hitam dan bisa tunggal atau multipel. Nodul melekat erat pada batang rambut, sukar dilepas, bila disisir dengan logam maka akan terdengar bunyi geseran logam. (Sutanto, 2008)
3. Otomikosis
Otomikosis adalah infeksi jamur pada liang telinga bagian luar. Liang telinga akan tampak berwarna merah, ditutupi skuama dan dapat meluas ke bagian luar sampai muara liang telinga dan daun telinga sebelah dalam. Bila meluas sampai ke membran timpani daerah ini akan menjadi merah, berskuama dan mengeluarkan cairan serosanguinos dan penderita akan mengalami gangguan pendengaran. Penyebab infeksi biasanya jamur kontaminan, yaitu Aspergillus sp., Mukor dan Penisilium. (Siregar, 2004)
4. Tinea nigra palmaris
Tinea nigra palmaris adalah infeksi jamur superfisial yang biasanya menyerang kulit telapak tangan dan kaki dengan memberikan warna hitam sampai
coklat pada kulit yang terserang. Penyebabnya adalah Cladosporium werneckii. Makula yang terjadi tidak menonjol dari permukaan kulit, tidak terasa sakit dan tidak ada tanda-tanda radang. Kadang-kadang dapat meluas sampai di punggung kaki bahkan sampai menyebar ke leher, dada dan muka. (Siregar, 2004).
5. Tinea pedis
Tinea pedis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita di daerah kulit telapak kaki, punggung kaki, jari-jari kaki, serta daerah interdigital. Tinea pedis atau yang disebut juga dengan Athlete’s foot, atau orang awam sering menyebutnya dengan kutu air. Biasanya sering ditemukan pada orang dewasa yang setiap hari menggunakan sepatu tertutup, contohnya penggunaan sepatu dan kaus kaki. Dan pada orang yang bekerja di tempat yang basah, mencuci, di sawah dan sebagainya . Infeksi juga dapat menyebar melalui penggunan pancuran dan ruang ganti pakaian umum, di mana kulit yang terinfeksi dan terkelupas berperan sebagai sumber infeksi. Tidak ada tindakan pengendalian yang benar-benar efektif selain hygiene yang tepat dan penggunaan bedak untuk mempertahankan agar ruang antar jari-jari kaki tetap kering. Pada banyak orang, tinea pedis menahun bersifat asimtomatis dan hanya menjadi aktif pada keadaan panas atau basah yang berlebihan atau pemakaian alas kaki yang tidak sesuai (Siregar, 2004).
i. Pemeriksaan
Observasi klinis pada umumnya cukup untuk mendiagnosa infeksi dermatofita. Persiapan KOH di kulit atau kerokan kuku atau sampel rambut dapat menampilkan hifa dan atau konidia (spora aseksual), dimana diperlukan untuk konfirmasi diagnosis. Saat diinginkan penentuan intentitas spesifik dari dermatofita membutuhkan pemeriksaan mikroskopis berupa kultur, yang akan memakan waktu berminggu-minggu karena jamur ini sangat lambat tumbuh di laboraturium. (Susanto, 2008).
Infeksi terbatas dapat diobati secara efektif dengan menggunakan obatobat anti fungal topikal, tetapi untuk infeksi yang menyebar luas pada kulit kepala atau kulit demikian juga pada infeksi kuku harus diobati dengan anti fungal oral. Terbinafine, diberikan secara oral selama 6-12 minggu, sangat efektif pada sebagian besar kasus. Kasus kronik atau kasus yang menetap diobati dengan griseofulvin sampai sembuh. (Susanto, 2008)
2.4.6 Pencegahan
Menurut Sutanto (2008) Langkah-langkah pencegahan dermatofitosis adalah dengan cara:
1) Perkembangan infeksi jamur diperberat oleh panas, basah dan maserasi. Daerah-daerah intertrigo atau daerah antara jari-jari sesudah mandi harus dikeringkan betul-betul dan diberi bedak pengering (talcum ; ZeaSORB) atau bedak anti jamur (Tinactin/Doctorin), sesudahnya dan tiap pagi.
2) Alas kaki harus pas betul dan tidak terlalu ketat.
3) Pasien dengan hiperhidrosis agar memakai kaos kaki dari bahan katun yang menyerap dan jangan memakai bahan wool atau bahan sintetis.
4) Pakaian dan handuk agar sering diganti dan dicuci bersih-bersih dalam air panas.
2.4.7. Pengobatan
Pada umumnya cukup topikal saja dengan obat-obat anti jamur untuk bentuk interdigital dan vesikular. Lama pengobatan 4-6 minggu. Bentuk moccasin foot yang kronik memerlukan pengobatan yang lebih lama, apalagi bila disertai dengan tinea unguium, pengobatan diberikan paling sedikit 6 minggu dan kadangkadang memerlukan antijamur per-oral, misalnya griseofulvin, itrakonazol, atau terbenafin. Bentuk klinik akut yang disertai selulitis memerlukan pengobatan antibiotik, misalnya penisilin V, fluklosasilin, eritromisin atau spiramisin dengan dosis yang adekuat (Seregar, 2004).
3) Terapi lokal
1) Lesi-lesi yang meradang akut yang bervesikula dan bereksudat harus dirawat dengan kompres basah secara terbuka secara berselang-selang.(4-6 kali sehari) atau terus, menerus. Vesikula harus dikempeskan tetapi kulitnya harus tetap utuh.
2) Haloprogin atau tolnalfat, arutan atau cream dioleskan 3 kali sehari akan menyebabkan involusi dari sebagian besar lesi skuama superfisial dalam waktu 1-3 minggu.
3) Lesi hiperkeratosis yang tebal memerlukan terapi lokal dengan obatobatan yang mengandung bahan keratolitik seperti asam salisilat. Obat-obat antifungal topikal antara lain :
1) Golongan imidazol yaitu klotrimazol, mikonazol, ekonazol, ketokonazol, itrakonazol, oksikonazol, dan sulkonazol.
2) Golongan alilamin yaitu naftitin dan terbinafin. 3) Golongan benzilamin yaitu butenafin
4) Golongan lainnya yaitu asam undesilenat, tolnaftat, haloprogin dan siklopiroksolamin
4) Terapi sistemik
Obat-obat antifungal sistemik antara lain griseofulvin, ketokonazol, itrakonazol,flukonazol, dan terbinafin. Pemberian Griseofulvin merupakan antibiotik yang diberikan secara oral yang diperoleh dari spesies Penicillium tertentu. Obat ini tidak berpengaruh terhadap bakteri atau jamur yang mengakibatkan mikosis sistemik tetapi menekan dermatofites tertentu. Setelah pemberian per oral, griseofulvin disebarkan seluruh tubuh. Obat terakumulasi di epidermis dan jaringan keratinisasi lainnya (rambut dan kuku). (Mansjoer, 2005)
Keratin merupakan sumber nutrisi utama untuk dermatofites, dan degradasi keratin oleh jamur ini mengakibatkan dicernakannya obat. Dalam organisme, griseofulvin diduga berinteraksi dengan mikrotubula dan mengganggu fungsi mitosis gelendong, menimbulkan penghambatan pertumbuhan. Griseofulvin bermanfaat secara klinik untuk mengobati infeksi dermatofita pada kulit, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh spesies Trichopyton, Epidermophyton, dan Microsporum. Obat ini tidak berpengaruh terhadap kandidiasis superfisial atau kandidiasis sistemik atau setiap mikosis sistemik lainnya. Biasanya diperlukan terapi oral selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan.
Pengobatan terdiri atas pembuangan tuntas struktur epitel yang terinfeksi dan yang mati serta pemberian bahan kimia antijamur secara topikal. Pengobatan berlebihan sering menyebabkan dermatofitid. Harus dilakukan usaha-usaha untuk mencegah reinfeksi. Bila daerah serangan luas, pemberian griseofulvin secara oral selama 1-4 minggu terbukti efektif. Infeksi kuku memerlukan pengobatan griseofulvin selama beberapa bulan dan kadang-kadang dilakukan pembedahan buangan kuku. Sering terjadi kekambuhan infeksi kuku. (Mansjoer, 2005)