PENGARUH LINGKUNGAN FISIK RUMAH DAN PERSONAL HYGIENE TERHADAP KEJADIAN DERMATOFITOSIS PADA MASYARAKAT
NELAYAN DI KECAMATAN MEUKEK KABUPATEN ACEH SELATAN
TAHUN 2016
TESIS
Oleh
IHSAN MURDANI 147032145/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
THE INFLUENCE OF HOME PHYSICAL ENVIRONMENT AND PERSONAL HYGIENE ON THE INCIDENCE DERMATOFITOSIS IN
FISHERMEN IN MEUKEK SUBDISTRICT, ACEH SELATAN REGENCY, IN 2016 THESIS By IHSAN MURDANI 147032145/IKM
MASTER IN PUBLIC HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH
UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN
PENGARUH LINGKUNGAN FISIK RUMAH DAN PERSONAL HYGIENE TERHADAP KEJADIAN DERMATOFITOSIS PADA MASYARAKAT
NELAYAN DI KECAMATAN MEUKEK KABUPATEN ACEH SELATAN
TAHUN 2016
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Manajemen Kesehatan Lingkungan Industri
pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
IHSAN MURDANI 147032145/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Telah Diuji
Pada Tanggal : 27 Juli 2016
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dra. Nurmaini, M.K.M, Ph.D Anggota : 1. dr. Surya Dharma, M.P.H
2. Dr. dr. Wirsal Hasan M.P.H 3. Ir. Evi Naria, M.Kes
PERNYATAAN
PENGARUH LINGKUNGAN FISIK RUMAH DAN PERSONAL HYGIENE TERHADAP KEJADIAN DERMATOFITOSIS PADA MASYARAKAT
NELAYAN DI KECAMATAN MEUKEK KABUPATEN ACEH SELATAN
TAHUN 2016
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskan ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 27 Juli 2016 Peneliti
Ihsan Murdani 147032145
ABSTRAK
Dermatofitosis adalah golongan penyakit jamur pada kulit yang
disebabkan oleh jamur golongan dermatofita. Faktor yang mempengaruhi penyakit jamur adalah kondisi kebersihan lingkungan yang buruk dengan udara lembab, lingkungan rawa-rawa yang selalu basah, daerah pedesaan yang padat, kebiasaan menggunakan pakaian yang ketat atau lembab. Penelitian World
Health Organization (WHO) terhadap insiden dari infeksi penyakit jamur pada
kulit menyatakan 20% orang dari seluruh dunia mengalami infeksi kutaneus dengan infeksi dermatofitosis. Prevalensi penyakit jamur kulit di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan masih tinggi yaitu (22,06%).
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh lingkungan fisik rumah dan personal hygiene terhadap kejadian dermatofitosis pada masyarakat nelayan di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan tahun 2016.
Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Populasi adalah seluruh masyarakat nelayan berjenis kelamin laki-laki yang berjumlah 425 orang dan sampel diambil 50 orang secara random, analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda.
Hasil penelitian variabel pencahayaan, kebersihan kulit, kebersihan pakaian, kebersihan tangan dan kuku, kebersihan rambut ada hubungan signifikan terhadap kejadian dermatofitosis. Sedangkan variabel kelembaban dan suhu tidak ada hubungan signifikan terhadap kejadian dermatofitosis. Hasil uji regresi logistik berganda menunjukkan variabel kebersihan kulit merupakan variabel yang paling dominan berhubungan terhadap kejadian dermatofitosis dengan koefesien 3.179 artinya responden yang memiliki kebersihan kurang baik mempunyai risiko 3 kali lebih besar terhadap kejadian dermatofitosis
Di sarankan bagi Puskesmas Kecamatan Meukek untuk meningkatkan penyuluhan terkait kejadian dermatofitosis agar menurunkan kasus penyakit
dermatofitosis, dan pemeriksaan kesehatan kulit secara berkala.
ABSTRACT
Dermatofitosis is a disease which is caused by fungus of dermatofita fungus. Some factors which influence this dermnatofita are bad environmental hygiene with humidity, wet swamp area, densely populated rural area, and the habit of wearing tight or damp clothes. The research done by the World Health Organization (WHO) on the incidence of dermatofit infection reveals that 20% of the world’s population is infected by cutaneous infection with dermatofitosis infection. The prevalence of dermatofitosis in Meukek Subdistrict, Aceh Selatan Regency, is still high (22.06%).
The objective of the research was to analyze the influence of home physical environment and personal hygiene on the incidence of dermatofitosis in fishermen of Meukek Subdistrict, Aceh Selatan Regency, in 2016.
The research was an analytic survey method with cross sectional design. The population was 425 fishermen, and 50 of them were used as the samples, taken by using simple random sampling technique. The data were analyzed by using chi square test and multiple logistic regression analysis.
The result of the research found that of the variables of lighting, skin hygiene, clothing hygiene, hand and nail hygiene, and hair hygiene had significant correlation with the incidence of dermatofitosis, while the variables of humidity and temperature had no significant correlation with the incidence of dermatofitosis. The result of multiple logistic regression analysis found that the variable of skin hygiene had the most dominant correlation with the incidence of dermatofitosis at the Coefficient of 3.179 which indicated that the respondents who had bad hygiene had the opportunity of 3 times of the risk to be infected by dermatofitosis.
It is recommended that the Puskesmas (Public Health Center) of Meukek Subdistrict should increase counseling about the incidence of dermatofitosis and regular skin health examination in order to decrease the incidence of dermatofitosis.
Keywords: Dermatofitosis, Home Physical Environment, Personal Hygiene
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, kesempatan, kekuatan dan kasihNya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “Pengaruh Lingkungan Fisik Rumah Dan Personal Hygiene Terhadap Kejadian Dermatofitosis Pada Masyarakat Nelayan Di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016”.
Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Manajemen Kesehatan Lingkungan Industri Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan tesis ini penulis banyak mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu S.H, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M. Si, selaku Dekan dan Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Dr. Ir. Evawani Y Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. Dra. Nurmaini, M.K.M, Ph.D, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu memberikan masukan dan arahan selama proses penyusunan tesis ini.
5. dr. Surya Dharma, M.P.H, selaku Anggota Komisi pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu memberikan masukan dan arahan selama proses penyusunan tesis ini.
6. Dr. dr. Wirsal Hasan M.P.H dan Ir. Evi Naria, M.Kes, selaku penguji tesis yang telah banyak memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan tesis ini.
7. dr. Rizki Taufiqurrahman selaku dokter umum Puskesmas Meukek Kabupaten Aceh Selatan yang telah banyak membantu saya dalam penelitian tesis ini
8. Kedua orang tua, adik dan keluarga yang penuh pengertian dan kesabaran serta senantiasa berdoa sehingga memotivasi penulis dalam menyelesaikan pendidikan
9. Seluruh rekan-rekan S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Khususnya minat studi Manajemen Kesehatan Lingkungan Industri. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu perstu yang telah membantu penulis dalam proses penulisan tesis ini hingga selesai
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, untuk itu kritikan dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini. Hanya Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang dapat memberikan balasan atas kebaikan yang telah diperbuat.
Medan, 27 Juli 2016 Penulis
Ihsan Murdani 147032145/IKM
RIWAYAT HIDUP
Ihsan Murdani dilahirkan di desa Rotteungoh pada tanggal 02 juni 1989 dan merupakan anak dari Ayahnda Mansir dan Ibunda Nurli, anak kesatu dari empat bersaudara. Pada saat ini bertempat tinggal di, Desa Blang Bladeh Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan.
Pendidikan formal penulis, menamatkan Sekolah Dasar Negeri I Blang Bladeh pada tahun 2001, Sekolah SMP Negeri I Meukek pada tahun 2004, Sekolah SMA Negeri I Meukek pada tahun 2007.
Pada tahun 2007 memasuki Perguruan Tinggi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh dengan minat studi Kesehatan Lingkungan, serta memperoleh gelar sarjana pada tahun 2012. Pada tahun 2014 memasuki Perguruan Tinggi Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dengan minat studi Manajemen Kesehatan Lingkungan Industri, serta memperoleh gelar magister pada tahun 2016.
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
DAFTAR ISTILAH ... xiii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Permasalahan ... 8 1.3. Tujuan Penelitian ... 8 1.4. Hipotesis Penelitian ... 9 1.5. Manfaat Penelitian ... 9
BAB 2. TINJAUAN KEPUSTAKAAN ... 10
2.1. Rumah ... 10
2.1.1. Pengertian Rumah ... 10
2.1.2. Fungsi Rumah ... 11
2.1.3. Syarat Rumah ... 14
2.1.4. Parameter dan Indikator Rumah Sehat ... 19
2.1.5. Lingkungan Rumah ... 20
2.1.6. Letak Rumah ... 22
2.2. Personal Hygiene ... 22
2.2.1. Jenis-jenis Personal Hygiene ... 23
2.2.2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Personal Hygiene ... 26
2.3. Nelayan ... 27
2.3.1. Pengertian Nelayan ... 27
2.3.2. Karakteristik Masyarakat Nelayan ... 29
2.3.3. Kesehatan Nelayan ... 32
2.4. Dermatofitosis ... 33
2.4.2. Klasifikasi Dermatofitosis ... 34
2.4.3. Penyebab Dermatofitosis ... 35
2.4.4. Bentuk dan Gejala Klinis ... 35
2.4.5. Pemeriksaan ... 43
2.4.6. Pencegahan ... 43
2.4.7. Pengobatan ... 44
2.4.8. Faktor yang Memengaruhi Dermatofitosis ... 46
2.5. Landasan Teori ... 48
5.5.1. Teori Blum ... 49
5.5.2. Teori Simpul ... 51
5.6. Kerangka Konsep ... 55
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 57
3.1. Jenis Penelitian ... 57
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 57
3.3. Populasi dan Sampel ... 58
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 60
3.4.1. Data Primer ... 60
3.4.2. Data Sekunder ... 60
3.5. Variabel dan Definisi Operasional ... 61
3.6. Metode Pengukuran ... 63
3.7. Teknik Pengolahan Data ... 64
3.8. Metode Analisa Data ... 65
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 68
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 68
4.2. Karakteristik Responden ... 70
4.3. Analisi Univariat ... 73
4.4 Analisis Bivariat ... 77
4.5. Analisis Multivariat ... 84
BAB 5. PEMBAHASAN ... 88
5.1. Karakteristik Masyarakat Nelayan ... 88
5.2. Lingkungan Fisik Rumah ... 90
5.2. Personal Hygiene ... 96
5.3. Faktor yang Paling Berpengaruh dengan Kejadian Dermatofitosis ... 102
BAB 6. KESIMPULAN SARAN ... 104
6.1. Kesimpulan ... 104
DAFTAR PUSTAKA ... 106 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman 3.1. Aspek Pengukuran Variabel ... 61 4.1. Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap dan Jumlah Penduduk dalam
Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 69 4.2. Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Jalan dan Jumlah Penduduk dalam
Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 70 4.3. Distribusi Masyarakat Nelayan Berdasarkan Umur di Kecamatan
Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 71 4.4. Distribusi Masyarakat Nelayan Berdasarkan Pendidikan di
Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 72 4.5. Distribusi Masyarakat Nelayan Berdasarkan Kelembaban Rumah di
Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 73 4.6. Distribusi Masyarakat Nelayan Berdasarkan Suhu di Kecamatan
Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 74 4.7. Distribusi Masyarakat Nelayan Berdasarkan Pencahayaan Rumah di
Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 74 4.8. Distribusi Masyarakat Nelayan Berdasarkan Kebersihan kulit di
Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 75 4.9. Distribusi Masyarakat Nelayan Berdasarkan Kebersiahan Tangan
dan Kuku Di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh SelatanTahun 2016 ... 75 4.10. Distribusi Masyarakat Nelayan Berdasarkan Kebersihan Pakaian di
Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 76 4.11. Distribusi Masyarakat Nelayan Berdasarkan Kebersihan Rambut di
Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 76 4.12. Distribusi Masyarakat Nelayan Berdasarkan Kejadian Dermatofitosis
4.13. Hubungan Variabel Kelembaban terhadap Kejadian Dermatofitosis pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh SelatanTahun 2016 ... 78 4.14. Hubungan Variabel Suhu terhadap Kejadian Dermatofitosis pada
Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh SelatanTahun 2016 ... 79 4.15. Hubungan Variabel Pencahayaan terhadap Kejadian Dermatofitosis
pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh SelatanTahun 2016 ... 80 4.16. Hubungan Variabel Kebersihan Kulit Terhadap Kejadian
Dermatofitosis pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek
Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 81 4.17. Hubungan Variabel Kebersihan Tangan dan Kuku terhadap Kejadian
Dermatofitosis pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek
Kabupaten Aceh SelatanTahun 2016 ... 82 4.18. Hubungan Variabel Kebersihan Pakain terhadap Kejadian
Dermatofitosis pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek
Kabupaten Aceh SelatanTahun 2016 ... 83 4.19. Hubungan Variabel Kebersihan Rambut Terhadap Kejadian
Dermatofitosis pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek
Kabupaten Aceh SelatanTahun 2016 ... 84 4.20. Rekap Hasil Bivariat Lingkungan Fisik Rumah dan Personal
Hygiene yang berhubungan dengan kejadian dermatofitosis ... 85 4.21. Hasil Uji Regresi Logistik Lingkungan Fisik Rumah dan Personal
Hygiene terhadap Kejadian Dermatofitosis Pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2016 ... 86
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman 2.1. Teori Blum ... 50 2.2. Teori Simpul ... 54 2.3. Kerangka Konsep ... 55
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1. Kuesioner Penelitian ... 111
2. Jadwal Penelitian... 115
3. Master Tabel ... 116
4. Hasil Uji Distribusi Frekuensi Variabel Penelitian ... 117
5. Hasil Uji Crosstabs Variabel Penelitian ... 120
6. Hasil Uji Regresi Logistik Berganda ... 128
7. Hasil Dokumentasi Penelitian ... 129
8. Lembar Kesediaan Komisi Pembimbing ... 130
9. Lembar Surat Keputusan Bimbingan ... 131
10. Surat Permohonan Izin Survei Pendahuluan ... 132
11. Surat Keterangan Telah Selesai Studi Pendahuluan ... 133
12. Surat Permohonan Izin Penelitian ... 134
KATA ISTILAH
Istilah berikut ini dikutip dari kamus kedokteran Dorland (2010)
Dermatofita : Semua kelompok fungus tidak sempurna bersifat parasit pada jarinangan yang mengandung keratin(kulit, kuku, ataurambut) pada manusia (antropofilik) atau hewan lain(zoofilik); beberapa umumnya ditemukan di tanah(geofilik)akan menginfeksi pasien yang lemah atau gangguan imunitas. Tiga genus yang paling umum menginfeksi adalah: microsforum,Epidermophyton dan Trichophyton.
Dermatofitosis : 1. Setiap infeksi fungal superfisial disebabkan oleh dermatofit dan mengenai stratum korneum kulit, rambut,dan kuku, termasuk onikomikosis dan berbagai macam bentuk tinea. Disebut juga epidermonycosis dan epidermophytosis.
2. Di dalam kedokteran hewan, infeksi kulit hewan oleh suatu fungus genus microsporum atau Trychopyton,disebut juga ringworm. 3. Tinea pedis.
Dermatomikosis : Infeksi superfisial kulit adnekasnya oleh fungus. istilah initermasuk dermatofitosis dan berbagai kliniktinea, serta infeksi fungus, profunda.disebut juga epidermonycosis
Onychomycosis : Tinea unguium Microsporum canis
: Ektotriks berspora tersering kadas pada kucing dan anjing serta dapat ditularkan pada anak-anak, sehingga menyebabkan tinea kapitis dan tinea korporis.mungkin juga menyebabkan dermatomikosis pada kuda. Memiliki stadium perfeks(seksual) pada genus Arthoderma. Disebut juga M. Felineum dan M. Lanosum.
Trichopyton : suatu dermatofita yang hidup di tanah, binatang atau manusia. Berdasarkan tempat tinggal terdiri atas
anthropophilic, zoophilic, dan geophilic. Trichophyton
concentricum adalah endemic pulau Pacifik, Bagian tenggara Asia, dan Amerika Pusat. Trichophyton adalah satu penyebab infeksi pada rambut, kulit terutama Kutu air (Tinea pedis), dan infeksi pada kuku manusia Trichophyton merupakan salah satu parasit di
antara dermatofi.
Epidermophyton : Genus fungsi Imperfecti dari kelas bentuk Hy-phomycites, famili- bentuk Moniliacea.E. floccosum adalah spesies dermatofita yang menyerang kulit dan kuku tetapi tidak menyerang rambut; fungsi ini menyebabkan tinea kruris, tinea pedis, dan onikomikosis.
Mikosis Infeksi jamur yang mengenai manusia dan juga hewan. Infeksi ini biasanya timbul dari spora-spora jamur yang terhirup sehingga menjadi infeksi jamur pada paru ataupun kulit.
Mikosis superfisialis
Penyakit kulit yang disebabkan jamur, yang mengenai lapisan kulit paling atas ( epidermis). Penyakit
Mokosis profunda
Ringworm
Mikosis profunda terdiri atas beberapa penyakit yang disebabkan jamur, dengan gejala klinis tertentu yang menyerang alat bawah kulit, misalnya traktus intestinalis, traktus respiratorius, traktus urogenitalis, susunan kardiovaskular, susunan saraf sentral, otot, tulang dan kadang-kadang kulit. Kelainan kulit pada mikosis profunda dapat berupa afek primer, maupun akibat dari proses jaringan dibawahnya.
: Nama populer bagi tinea (pada manusia). Atau
dermatofitosis (pada hewan lain); disebut demikian
karena konfigurasi lesi berbentuk cincin. Trichophyton
rubrum
: jamur yang paling umum menjadi menyebabkan infeksi jamur kronis pada kulit dan kuku manusia. Pertumbuhan koloninya dari lambat hingga bisa menjadi cepat. Teksturnya yang lunak, dari depan warnanya putih kekuning-kuningan (agak terang) atau bisa juga merah violet. Kalau dilihat dari belakang tampak pucat, kekuning-kuningan, coklat, atau cokelat kemerahan. Meskipun trichophyton rubrum merupakan jamur yang paling umum terdeteksi menjadi dermatophytes (jamur parasit – mycosis – yang menginfeksi kulit) dan menyebabkan infeksi jamur kuku tangan, ada juga jenis jamur yang lain yang menjadi sebab infeksi serupa, contohnya
Tricophytum mentagrophytes, T. verrucosum, dan T. Tonsurans.
Microsporum : Genus fungsi imperfecti, famili Moniliacea, kebanyakan fungus kadas ektotriks berspora kecil(dermatofit);banyak sfesies merupakan penyebab penyakiy kulit dan rambut. Seperti stadium(seksual)
perfek yang dikenal, mereka diklasifikasiakan dalam genusArthroderma.disebut juga microsporan.
Tinea : Salah satu dari berbagai dermatofitosis pada manusia, biasanya ditunjukkan dengan istilah modivikasi yang bergantung pada gambaran lesi, agen etiologi. atau tempat populernya disebut ringworm.
Herpes : Erepsi kulit yang menyebar, dari herpein merangkak. Setiap penyakit peradangan kulit disebabkan oleh virus herpes dan ditandai oleh pembentukan vesikel kecil yang mengelompok.bila digunakan sendiri, istilah ini mengacu pada h.simplex atau h.zaster.
Tinea capitis Tipe yang mengenai kulit kepala,disebabkan oleh spesies microsporum dan Trichophyton, yang kadang-kadang dapat juga mengenai alis dan bulu mata, kadang- kadang timbul dalam suatu epidemi. Tergantung dari agen etiologi, dapat berpariasi dari infeksi sub klinis non inflamasi yang bersisik dan jinak sampai penyakit inflamasi yang ditandai dengan adanya sisik eruksi papular yang eritematosus dengan hilangnya dan patahnya rambut yang menyebabkan area kebotakan yang dapat menjadi meradang berat dengan terbentuknya kerion yang dalam, ulseratif yang sering kali menyebabkan pembentukan keloid jaringan parut dan kebotakan permanen. Lihat juga black-dot ringworm dan gray-patch, di bawah ringworm. Di bawah ini ringworm disebut juga t.tonsurans dan ringworm of the scalp.
Gray patch ring worm
tinea kapitis yang biasanya disebabkan oleh genus Microsporum dan sering ditemukan pada anak – anak. Penyakit mulai dengan papul merah yang kecil di sekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan penderita adalah rasa gatal. Warna rambut menjadi abu – abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Semua rambut di daerah tersebut terserang oleh jamur, sehingga dapat terbentuk alopesia setempat.
Black dot ring worm Black dot ringworm terutama disebabkan oleh Trichophyton tonsurans dan Trichophyton violaceum. Pada permulaan penyakit, gambaran klinisnya menyerupai kelainan yang di sebabkan oleh genus Microsporum. Rambut yang terkena infeksi patah,
tepat pada rambut yang penuh spora. Ujung rambut yang hitam di dalam folikel rambut ini memberi gambaran khas, yaitu black dot, Ujung rambut yang patah kalau tumbuh kadang – kadang masuk ke bawah permukaan kulit.
Kerion : Pembengkakan terbatas, nodular, basah, dan eksudatif, sering ditutupi oleh pustula, berhubungan dengan infeksi tinea, biasanya tinea barbae dan tinea kapitis. Tinea favosa : Favus
Tinea korporis : Tinea yang mengenai area kulit glabrous selain tangan dan kaki, biasanya disebabkan Microsporum canis, chophyton rubrum atau T. Mentagrophytes. Lesinya khas, berupa makula eritematosa yang berbatas tegas, bersisik dengan tepi yang lebih tinggi dengan pusat yang menyembuh, menghasilkan bentuk yang anular.tipe lesi lainnya meliputi tipe vesikular, eksematosa, psoriasiformis,verukosa, plaque like, dan tipe lesi yang dalam.disebut juga ringworm of the body dan t. Circinata.
Tinea imbrikata : Jenis tinea corporis tropis disebabkan oleh Trichophyton concentricum, secara geografis terbatas di pulau-pulau pasifik selatan tertentu, Asia tenggara dan amerika tengah dan selatan, terdapat terutama pada keturunan indonesia dan polinesia. Ditandai dengan bercak bersisik papiloskuamosa yang berbentuk cincin konsentrik, polisiklik, dan konfluensi,dapat meliputi area tubuhyang luas.disebut Oriental atau Tokelau ringworm.
Tinea kruris : infeksi fungi atau jamur yang menjangkiti kulit di bagian paha dalam, sekitar kelamin, dan bokong sebagai penyebab munculnya ruam berwarna merah yang biasanya berbentuk lingkaran dan terasa gatal. Tinea manus et
pedis
: Tinea pedis et manus merupakan infeksi jamur dermatofita pada kulit yangpenyakitnya disebut dengan dermatofitosis. Dermatofitosis adalah penyakit padajaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum corneum padaepidermis, rambut, dan kuku. Dermatofitosis ini disebabkan oleh 3 jenis jamur,yaitu : Epidermophyton, Trichophyton dan Microsporum. Penyakit ini termasuk dalam mikosis yang paling sering dijumpai di dunia.
Tinea unguium : Tinea yang menggnakan kuku,sering kali berasal dari penyebaran tinea pedis atau tinea manuum. Namun, kadang-kadang berasal dari infeksi bakteri atau jamur lainnya seperti spesies candida. Penyakit inii biasanya muncul pertama kali dalam bentuk bercak putih atau lekukan pada permukaan kuku atau disekitar tepinya, diikuti dengan timbulnya infeksi dibawah lempeng kuku.disebut juga onychomycosis atau dermatophytic onychomycosis dan ringworm of the nail.
Pitiriasis versikolor (panu)
: Tinea versicolor
Piedra : Infeksi jamur pada batang rambut yang ditandai dengan adanya nodul hitam atau pucat,keras, iregular yang mengandung elemen jamur.
Otomikosis : Infeksi jamur pada meatus acusticus eksternus, biasanya oleh spesies Aspergillus,ditandai dengan rasa gatal dan radang eksudatif;mungkin didapatkan infeksi bakterial sekunder. Lebih sering ditemukan pada cuaca panas dan iklim tropis. Disebut juga fungal atau acute fungal otitis eksterna
Tinea nigra palmaris : Infeksi fungus minor, disebabkan oleh Hortae Werneckii,menimbulkan nesilesi gelap menyerupai hitam mencolok dengan gambaran warna-warna perak berhamburan pada kulit tangan atau, yang jarang di daerah-daerah lain. Disebut juga pityriasis nigra.
Tinea kapitis : Disebabkan oleh trichophyton tonsurans, berupa bercak sisik dan alopesia.
Tinea pedis : Tinea yang mengenai kaki,khususnya disela jari-jarikaki dan telapak kaki,paling sering disebabkan oleh spesies Trichophytan,T. Mentagrophytes atau Epidermophyton floccosum. Penyakit ini ditandai dengan pruritik yang hebat, bervariasi mulai dari ringan,kronik, dan bersisik sampai akut, eksfoliatif, pustular, dan gula. Penyakit ini dapatjuga menyebar ke bagian tubuh lain melalui mekanisme autoinokulasi,lihat T.cruris dan T. manus. Disebut juga athlete’s dan ringworm of the foot.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dermatofitosis tersebar diseluruh dunia dengan prevalensi
berbeda-beda pada tiap negara (Abbas, 2012). Penelitian World Health Organization (WHO) terhadap insiden dari infeksi dermatofit menyatakan 20% orang dari seluruh dunia mengalami infeksi kutaneus dengan infeksi tinea korporis merupakan tipe yang paling dominan dan diikuti dengan tinea cruris, pedis, dan onychomycosis (Lakshmipathy, 2013)
Barakbah dkk (2008) menyatakan dermatofitosis adalah golongan penyakit jamur yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofita yaitu (Spesies
Microsporum, Trichopyton, Epidermophyton. Penyakit ini menyerang jaringan
epidermis bagian Superfisialis (Stratum Korneum) kuku dan rambut.
Microsporum jenis spesies menyerang rambut dan kulit, Trichopyton menyerang
rambut, kulit, dan kuku, Epidermophyton menyerang kulit dan jarang kuku. Menurut Putra (2008) Penyakit kulit yang disebabkan infeksi jamur atau
dermatomikosis merupakan penyakit yang sering dijumpai di negara tropis yang
disebabkan udara yang lembab yang mendukung berkembangnya penyakit jamur
Menurut Clayton YM (2002) Dermatofitosis atau tinea ialah kelainan kulit superfisial akibat infeksi dermatofita (jamur yang hidup dengan mencerna
keratin). Jamur itu menghasilkan enzim keratinase yang menyebabkan komponen jamur dapat menginvasi sampai bagian bawah epidermis. Penamaannya disesuaikan dengan lokasi kelainan, yang bila terjadi di badan disebut sebagai tinea korporis. Tinea korporis disebut juga ringworm, suatu penamaan yang diberikan karena bentuk kelainannya dan bukan karena penyebabnya. Kelainan bukan disebabkan oleh worm tetapi oleh dermatofita, yang tersering ialah
Trichophyton rubrum dan Microsporum canis.
Menurut Mansjoer (2005) Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, kuku yang disebabkan golongan jamur dermatofita. Dermatofita disebut juga sebagai tinea, ringworm, kurap, teigne, herpes, sirsinata.
Data Profil Kesehatan Indonesia 2008 menunjukkan bahwa distribusi pasien rawat jalan menurut International Classification of Diseases - 10 (ICD-10) di rumah sakit di Indonesia tahun 2008 dengan golongan sebab sakit “Penyakit Kulit dan Jaringan Subkutan” terdapat sebanyak 64.557 pasien baru (Depkes, 2009). Penyakit kulit semakin berkembang, hal ini dibuktikan dari data Profil Kesehatan Indonesia 2010 yang menunjukkan bahwa penyakit kulit dan jaringan subkutan menjadi peringkat ketiga dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit se-Indonesia berdasarkan jumlah kunjungan yaitu sebanyak 192.414 kunjungan dan 122.076 kunjungan diantaranya merupakan kasus baru (Kemenkes, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa penyakit kulit masih sangat dominan terjadi di Indonesia.
Penyakit kulit di Indonesia sangat meningkat tajam yang dikarenakan oleh iklim di Indonesia itu sendiri yang beriklim tropis, sehingga penyebarannya juga sangat meningkat tajam. Penyakit infeksi jamur di kulit mempunyai prevalensi tinggi di Indonesia, khususnya di Aceh. Penelitian Rusetianti (2004) menunjukkan bahwa dermatomikosis selalu menjadi 10 besar penyakit terbanyak di poliklinik rawat jalan dan menjadi peringkat pertama pada tahun 1999 serta peringkat ketiga pada tahun 2003. Hasil penelitian Mulyani (2011) juga menunjukkan bahwa penyakit dermatomikosis menjadi urutan pertama dibandingkan dengan penyakit kulit lainnya di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan pada bulan Juli – September 2010 dengan pasien sebanyak 140 orang serta kunjungan rata-rata pasien perhari 40% dari penyakit lainnya.
Menurut Budimulja (2010), penyakit akibat infeksi jamur (mikosis) terbagi atas mikosis superfisialis dan mikosis profunda. Mikosis superfisialis penyakit jamur yang mengenai lapisan permukaan kulit, yaitu stratum koneum, rambut dan kuku sedangkan mikosis profunda yaitu penyakit jamur yang mengenai alat dalam, penyakit ini dapat terjadi karena jamur langsung masuk kealat dalam (misalnya paru), melalui luka atau menyebar dari permukaan kulit atau alat dalam lain. Klasifikasi lain menurut Jain (2012), infeksi jamur dibagi menjadi infeksi superficial (menginvasi stratum korneum, rambut, dan kuku), subcutaneous (menyerang subkutan dan struktur sekitarnya termasuk kulit dan tulang), dan infeksi jamur systemic (menyerang jaringan organ didalam tubuh).
Harahap (2000), mengatakan penyakit Dermatomikosis Superfisialis (mikosis superfisialis) menjadi penyakit yang paling banyak dijumpai di semua lapisan masyarakat yang terjadi pada kulit, rambut, kuku, dan selaput lendir. Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Bila ditinjau lebih jauh mengenai Undang-Undang tersebut, maka manusia dengan lingkungan tidak bisa dipisahkan.
Masalah kesehatan sangat kompleks dan saling berkaitan dengan masalah-masalah di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya dilihat dari segi kesehatan itu sendiri tapi harus dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap kesehatan tersebut. Dari hasil penelitian Basuki dkk (2004) mendapatkan prevalensi tinea kuris pada pekerja usaha makanan seafood kaki lima di Kecamatan Taman Sari- Kotamadya Jakarta Barat sebesar 33,3%. Walaupun pada penelitian ini tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara berbagai faktor risiko yang dieliti dengan kejadian tinea kruris, namun ditemukan faktor kebersihan diri cenderung memiliki hubungan yang cukup kuat dengan kejadian tinea kruris.
Menurut Winslow dalam Slamet (2007), usaha masyarakat menentukan kesehatannya, untuk penyakit menular dan lingkungan sosial sangat berpengaruh tehadap penularan, penyebaran, dan pelestarian agent di dalam lingkungan ataupun pemberantasannya. Lingkungan sosial yang menentukan norma serta perilaku orang berpengaruh terhadap penularan penyakit secara langsung dari orang ke orang, seperti halnya penularan penyakit kelamin, penyakit kulit, penyakit pernapasan, dan lain-lainnya.
Keadaan perumahan atau pemukiman adalah salah satu faktor yang menentukan keadaan hygiene dan sanitasi lingkungan, tempat dimana hygiene dan sanitasi lingkungan diperbaiki, mortalitas dan morbilitas menurun dan wabah berkurang dengan sendirinya, seperti yang dikemukakan WHO bahwa perumahan yang tidak cukup dan terlalu sempit mengakibatkan tingginya kejadian penyakit dalam masyarakat. Karena rumah terlalu sempit penularan bibit penyakit dari manusia yang satu kemanusia yang lain akan lebih mudah terjadi (Entjang, 2000).
Menurut Slamet (2007) kurangnya air bersih khususnya untuk menjaga kebersihan diri, dapat menimbulkan berbagai penyakit kulit dan mata. Hal ini terjadi karena bakteri yang selalu ada pada kulit dan mata mempunyai kesempatan untuk berkembang. Apalagi di antara masyarakat dengan keadaan gizi yang kurang seperti kekurangan vitamin A, B dan C. Penyakit akibat kurangnya air bersih adalah penyakit trachoma dan segala macam penyakit kulit yang disebabkan jamur, dan bakteri.
Kulit merupakan pembungkus yang elastik yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Salah satu bagian tubuh manusia yang sangat cukup sensitif terhadap berbagai macam penyakit adalah kulit. Lingkungan yang sehat dan bersih akan membawa efek bagi kulit. Demikian pula sebaliknya, lingkungan yang kotor akan menjadi sumber munculnya bebagai macam penyakit antara lain penyakit kulit (Harahap, 2000).
Berdasarkan penelitian Frengki di Pesantren Darel Hikmah tahun 2011, ada hubungan yang bermakna antara personal hygiene yaitu kebersihan kulit, kebersihan tangan dan kuku, kebersihan genetalia, kebersihan pakaian, kebersihan handuk, kebesihan tempat tidur dan sprei dengan kejadian penyakit kulit. Menurut hasil penelitian Tri Martiana dan Lestari Kanti Wilujeng pada nelayan Kabupaten Lombok Timur (2004) terdapat gangguan kelainan pada kulit, 80% nelayan mengalami hiperpigmentasi (bintik hitam) yang disebabkan oleh karena adanya paparan terhadap sinar ultraviolet dari matahari.
Berdasarkan profil Kesehatan Provinsi Aceh tahun 2012 Jumlah penyakit kulit & subkutan di rumah sakit umum rawat jalan sebanyak 3.502 pasien , di puskesmas rawat inap penyakit kulit alergi 81.356 dan dipuskesmas rawat jalan penyakit kulit alergi 45.461 dari jumlah penduduk 4.726.001 jiwa.
Menurut data Dinas Kesehatan Aceh Selatan tahun 2015 tercatat sebanyak 960 pasien penyakit akibat jamur dan penyakit akibat alergi sebanyak 6.692 kasus . Kecamatam Meukek terdiri dari dua puskesmas yaitu Puskesmas Kuta Baro dan Puskesmas Drin Jalo, Kedua Puskesmas tersebut terdiri dari
Puskesmas rawat inap dan Puskesmas rawat jalan yang belum memiliki spesialis penyakit kulit yang ada hanya dokter umum, perawat dan bidan. Berdasarkan data tahun 2015 yang peneliti peroleh dari buku poli umum di kedua Puskesmas tersebut diketahui terdapat 3 jenis penyakit kulit di Puskesmas dalam Kecamatan Meukek yaitu penyakit jamur kulit , infeksi kulit, alergi kulit. kedua puskesmas rawat jalan terdapat 63 kasus penyakit jamur kulit , 105 kasus infeksi kulit dan 143 kasus alergi kulit dan di puskesmas rawat inap terdapat 92 kasus akibat jamur, 120 kasus infeksi kulit dan 176 penyakit alergi kulit. Dari data tersebut ada sebagian masyarakat malu berobat lebih memilih membeli obat oles sendiri diapotik terdekat bahkan ada yang memakai obat tradisional seperti buah lengkuas yang digosok kebadan.
Dari hasil survei awal yang peneliti peroleh dilapangan dari tanggal 05– 10 Februari 2016 di daerah pesisir dalam Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan masih ada masyarakat yang sulit mendapatkan air bersih diakibatkan air sumur yang kuning, perumahan yang yang padat dan rapat juga kurangnya
personal hygiene para nelayan. Banyak nelayan yang bekerja dengan pakaian
yang basah dan lembab sampai kering waktu mencari ikan dilaut, dari mulai pengangkutan es, bahan bakar minyak dan perlengkapan lain kekapal tanpa menggantinya , hal ini diduga menyebabkan terkena berbagai macam penyakit kulit seperti mengakibatkan gatal-gatal dan biasa terjangkit penyakit dermatofitosis.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk meneliti Pengaruh Lingkungan Fisik Rumah dan Personal Hygiene Terhadap Kejadian
Dermatofitofosis Pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek Kabupaten
Aceh Selatan Tahun 2015
1.2. Perumusan Masalah
Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan berada didaerah pesisir dan pengunungan. Program pencegahan penyakit kulit belum maksimal terlaksana, karena beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian Dermatofitofosis belum sepenuhnya berhasil. Masyarakat nelayan di Kecamatan Meukek merupakan daerah yang berpotensi terjadinya Dermatofitofosis. Di duga Tingginya kejadian Dermatofitofosis kurangnya personal hygiene dan lingkungan fisik rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Hal inilah yang menjadi ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian, sehingga perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui " Bagaimana Pengaruh Lingkungan Fisik Rumah dan Personal Hygiene terhadap Kejadian Dermatofitofosis pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan?"
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Pengaruh Lingkungan Fisik Rumah dan Personal Hygiene terhadap Kejadian Dermatofitofosis pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan.
1.4. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada Pengaruh Lingkungan Fisik Rumah dan Personal Hygiene terhadap Kejadian Dermatofitofosis pada Masyarakat Nelayan di Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan .
1.5. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan dalam mendukung program pencegahan dan pemberantasan penyakit
dermatofitosis dalam meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan
kesehatan nelayan.
2. Sebagai informasi bagi masyarakat mengenai faktor risiko yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit dermatofitosis sehingga masyarakat dapat mengetahui upaya pencegahan dan penularan ditempat tinggalnya.
3. Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain pengaruh lingkungan fisik rumah dan personal hygiene terhadap kejadian dermatofitosis sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kepustakaan dalam pengembangan ilmu dalam bidang kesehatan lingkungan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Rumah
2.1.1. Pengertian Rumah
Menurut Kep. Menkimpraswil (2002) masalah kesehatan lingkungan perumahan (housing) menyangkut kenyamanan penghuninya, rumah sehat adalah rumah sebagai tempat tinggal yang memenuhi ketetapan atau ketentuan teknis kesehatan yang baik dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni rumah dari bahaya atau gangguan kesehatan sehingga memungkinkan penghuni memperoleh derajat kesehatan yang obtimal.
Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, disamping kebutuhan sandang dan pangan. Rumah berfungsi pula sebagai tempat tinggal serta digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup lainnya. Selain itu rumah juga merupakan pengembangan kehidupan dan tempat berkumpulnya anggota keluarga untuk menghabiskan sebagian besar waktunya. Rumah sehat dan nyaman merupakan sumber inspirasi penghuninya untuk berkarya, sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya. (Wicaksono, 2009)
Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya (UU RI No 1 Tahun 2011). Rumah bagi manusia memiliki arti sebagai tempat untuk melepas lelah, beristirahat
setelah penat melaksanakan kewajiban sehari-hari, sebagai tempat bergaul dengan keluarga, sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya, sebagai lambang status sosial, tempat menyimpan kekayaan (Azwar, 1996).
Dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan tempat berlindung dan beristirahat yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat memperoleh derajat kesehatan yang optimal.
2.1.2. Fungsi Rumah
Secara garis besar, rumah memiliki empat fungsi pokok sebagai tempat tinggal yang layak dan sehat bagi setiap manusia yaitu:
1. Rumah harus memenuhi kebutuhan pokok jasmani manusia 2. Rumah harus memenuhi kebutuhan pokok rohani manusia 3. Rumah harus melindungi manusia dari penularan penyakit 4. Rumah harus melindungi manusia dari gangguan luar
Rumah yang dapat memenuhi kebutuhan rohani manusia adalah rumah yang memberi perasaan aman dan tentram bagi seluruh keluarga sehingga mereka dapat berkumpul dan hidup bersama-sama, serta dapat mengembangkan sifat dan kepribadian yang sehat. Rumah yang merupakan tempat perlindingan dari pengaruh lingkungan luar adalah rumah yang dapat menjauhkan segala gangguan kesehatan bagi penghuninya. Karena itu, rumah harus kuat dan stabil sehingga dapat memberikan perlingdungan terhadap gangguan keamanan yang disebabkan
bencana alam maupun kerusuhan atau kejahatan oleh pencurian atau perampokan. (Frick dan Muliani, 2006)
Menurut Basic Principles of Healthful Housing dalam Gunawan (2009) untuk menetapkan kondisi perumahan yang sesuai dengan kriteria sehat, The
American Public Health Association telah meneliti dan merumuskan empat
fungsi pokok rumah sebagai tempat tinggal yang sehat bagi setiap manusia dan keluarganya selama masa hidupnya. Keempat fungsi pokok itu ialah:
1. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani manusia yang pokok (the
satisfaction of fundamental psychological needs)
2. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan rohani manusia yang pokok (the
satisfaction of fundamental psychological needs)
3. Tempat perlindungan terhadap penularan penyakit menular (protection
agains communicable diseases)
4. Tempat perlindungan terhadap gangguan ataupun kecelakaan Menurut Wicaksono (2009) rumah bagi manusia mempunyai arti :
1. Sebagai tempat untuk melepaskan lelah, beristirahat setelah penat melaksanakan kewajiban sehari-hari.
2. Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau membina rasa kekeluargaan bagi segenap anggota keluarga yang ada.
3. Sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya yang datang mengancam.
4. Sebagai lambang status sosial yang dimiliki, yang masih dirasakan sampai saat ini.
5. Sebagai tempat untuk meletakkan atau menyimpan barang-barang yang dimiliki yang terutama masih ditemui pada masyarakat pedesaan.
Sedangkan menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, rumah bagi keluarga mempunyai arti sebagai berikut :
1. Tempat untuk berlindung.
Keluarga bertempat tinggal dalam rumah untuk melindungi diri dari panas, hujan dan gangguan lainnya sehingga dapat tinggal dengan rasa aman dan tenteram.
2. Tempat Pembinaan Keluarga
Rumah sebagai tempat tinggal dan pertumbuhan keluarga mempunyai peranan yang besar dalam pembinaan watak penghuninya. Rumah hendaknya dapat menjadi wadah kegiatan pembinaan keluarga melalui bimbingan pengetahuan, ketrampilan, perilaku yang baik. Karena rumah merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi keluarga, terutama bagi pengembangan kepribadian anak. Dengan mempersiapkan rumah yang memenuhi syarat diharapkan dapat menampung kegiatan pembinaan bagi anggota keluarga dan mendorong terciptanya kerukunan dan kebahagiaan keluarga.
3. Tempat Kegiatan Keluarga
Rumah sebagai tempat pertemuan berbagai kegiatan keluarga, mempunyai arti penting dalam memberikan suasana yang menunjang kegiatan itu sendiri, sehingga dalam keluarga dapat menjalankan kegiatan dengan rasa senang, tenteram dan nyaman. Untuk mencapai keadaan ini, perlu disiapkan rumah sehat yang dapat menampung anggota keluarga dalam melakukan kegiatan dan kebiasaan dengan baik. Rumah yang sehat dan nyaman akan berpengaruh pada kesehatan jasmani dan rohani anggota keluarga itu.
2.1.3. Syarat Rumah Sehat
Dalam pengertian rumah sebagai tempat tinggal yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani manusia maka rumah harus dapat memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Dapat memberikan perlindungan terhadap gangguan-gangguan cuaca atau keadaan iklim yang kurang sesuai dengan kondisi hidup manusia, misalnya: panas, dingin, angin, hujan, dan udara yang lembab
2. Dapat memenuhi kebutuhan penghuninya untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan rumah tangga yang lazim,antara lain:
1) Kegiatan kerja ringan, misalnya memasak, menjahit, belajar dan menulis.
2) Berkumpul bersama seluruh keluarga atau mengadakan pertemuan dengan tamu (human relation)
3) Kegiatan rutin untuk memenuhi kegiatan kesehatan jasmani bagi kelangsungan hidup, antara lain mandi, makan, dan tidur.
3. Dapat digunakan sebagai tempat istirahat yang tenang sewaktu lelah atau sakit. (Gunawan, 2009)
Menurut Winslow dan Alpha dalam Suyono (2010) rumah yang sehat harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain:
1. Memenuhi Kebutuhan Fisiologis
1) Pencahayaan yang cukup, baik cahaya alam (sinar matahari) maupun cahaya buatan (lampu). Pencahayaan yang memenuhi syarat sebesar 60 –120 lux. Luas jendela yang baik minimal 10 % - 20 % dari luas lantai.
2) Perhawaan (ventilasi) yang cukup untuk proses pergantian udara dalam ruangan. Kualitas udara dalam rumah yang memenuhi syarat adalah bertemperatur ruangan sebesar 18oC– 30o
3) Tidak terganggu oleh suara-suara yang berasal dari luar maupun dari dalam rumah (termasuk radiasi).
C dengan kelembaban udara sebesar 40 % - 70 %. Ukuran ventilasi memenuhi syarat 10% luas lantai.
4) Cukup tempat bermain bagi anak-anak dan untuk belajar. 2. Memenuhi Kebutuhan Psikologis
1) Setiap anggota keluarga terjamin ketenangannya dan kebebasannya. 2) Mempunyai ruang untuk berkumpulnya anggota keluarga.
3) Lingkungan yang sesuai, homogen, tidak telalu ada perbedaan tingkat yang ekstrem di lingkungannya. Misalnya tingkat ekonomi. 4) Mempunyai fasilitas kamar mandi dan WC sendiri.
5) Jumlah kamar tidur dan pengaturannya harus disesuaikan dengan umur dan jenis kelaminnya. Orang tua dan anak dibawah 2 tahun boleh satu kamar. Anak diatas 10 tahun dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Anak umur 17 tahun ke atas diberi kamar sendiri. 6) Jarak antara tempat tidur minimal 90 cm untuk terjaminnya
keleluasaan bergerak, bernapas dan untuk memudahkan membersihkan lantai.
7) Ukuran ruang tidur anak yang berumur ≤ 5 tahun sebesar 4,5 m3, dan umurnya >5 tahun adalah 9 m3. Artinya dalam satu ruangan anak yang berumur 5 tahun ke bawah diberi kebebasan menggunakan volume ruangan 1,5 x 1 x 3 m3, dan > 5 tahun menggunakan ruangan 3x1 x3m
8) Mempunyai halaman yang dapat ditanami pepohonan. 3
9) Hewan/ternak yang akan mengotori ruangan dan ribut/bising hendaknya dipindahkan dari rumah dan dibuat kandang tersendiri dan mudah dibersihkan.
3. Pencegahan Penularan Penyakit
2) Tidak memberi kesempatan serangga (nyamuk, lalat), tikus dan binatang lainnya bersarang di dalam dan di sekitar rumah.
3) Pembuangan kotoran/tinja dan air limbah memenuhi syarat kesehatan. 4) Pembuangan sampah pada tempat yang baik, kuat dan higienis. 5) Luas kamar tidur maksimal 3,5 m2
6) Tempat masak dan menyimpan makanan harus bersih dan bebas dari pencemaran atau gangguan serangga, tikus dan debu.
perorang dan tinggi langit-langit maksimal 2,75 m. Ruangan yang terlalu luas akan menyebabkan mudah masuk angin, tidak nyaman secara psikologis, sedangkan apabila terlalu sempit akan menyebabkan sesak napas dan memudahkan penularan penyakit karena terlalu dekat kontak.
4. Pencegahan terjadinya Kecelakaan
1) Cukup ventilasi untuk mengeluarkan gas atau racun dari dalam ruangan dan menggantinya dengan udara segar.
2) Cukup cahaya dalam ruangan untuk mencegah bersarangnya serangga atau tikus, mencegah terjadinya kecelakaan dalam rumah karena gelap.
3) Bahan bangunan atau konstruksi rumah harus memenuhi syarat bangunan sipil, terdiri dari bahan yang baik dan kuat.
4) Jarak ujung atap dengan ujung atap tetangga minimal 3 m, lebar halaman antara atap tersebut minimal sama dengan tinggi atap
tersebut. Hal ini tidak berlaku bagi perumahan yang bergandengan (couple).
5) Rumah agar jauh dari rindangan pohon-pohon besar yang rapuh/ mudah patah.
6) Hindari menaruh benda-benda tajam dan obat-obatan atau racun serangga sembarangan apabila didalam rumah terdapat anak kecil. 7) Pemasangan instalasi listrik (kabel-kabel, stop kontak, fitting dll)
harus memenuhi standar PLN.
8) Apabila terdapat tangga naik/ turun, lebar anak tangga minimal 25cm,
9) tinggi anak tangga maksimal 18 cm, kemiringan tangga antara 300-360
Berdasarkan kondisi fisik bangunannya, rumah dapat digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu:
. Tangga harus diberi pegangan yang kuat dan aman.
1) Rumah permanen, memiliki ciri dinding bangunannya dari tembok, berlantai semen atau keramik, dan atapnya berbahan genteng.
2) Rumah semi-permanen, memiliki ciri dindingnya setengah tembok dan setengah bambu, atapnya terbuat dari genteng maupun seng atau asbes, banyak dijumpai pada gang-gang kecil.
3) Rumah non-permanen, ciri rumahnya berdinding kayu, bambu atau gedek, dan tidak berlantai (lantai tanah), atap rumahnya dari seng maupun asbes.
2.1.4. Parameter dan Indikator Penilaian Rumah Sehat
Berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2002), lingkup penilaian rumah sehat dilakukan terhadap kelompok komponen rumah, sarana sanitasi dan perilaku penghuni.
1. Kelompok komponen rumah, meliputi langit-langit, dinding, lantai, jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga dan ruang tamu, ventilasi, sarana pembuangan asap dapur dan pencahayaan.
2. Kelompok sarana sanitasi, meliputi sarana air bersih, sarana pembuangan kotoran, saluran pembuangan air limbah, sarana tempat pembuangan sampah.
3. Kelompok perilaku penghuni, meliputi membuka jendela kamar tidur, membuka jendela ruang keluarga, membersihkan rumah dan halaman, membuang tinja bayi dan balita ke jamban, membuang sampah pada tempat sampah.
Parameter yang dipergunakan untuk menentukan rumah sehat adalah sebagaimana yang tercantum dalam Kepmenkes Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.
1. Pencahayaan
Pencahayaan dalam ruangan dapat berupa pencahayaan alami dan atau buatan, yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat menerangi seluruh ruangan. Intensitas minimal pencahayaan dalam ruangan adalah 60 lux dan tidak menyilaukan.
2. Kualitas udara
Kualitas udara dalam ruangan tidak boleh melebihi ketentuan sebagai berikut:
1) Suhu udara nyaman berkisar 18° sampai 30° C 2) Kelembapan udara berkisar antara 40% sampai 70% 3) Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam
4) Pertukaran udara (air exchange rate)= 5 kaki kubik per menit per penghuni
5) Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8 jam 6) Konsentrasi gas formaldehid tidak melebihi 120 mg/m3
3. Ventilasi Luas penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai.
2.1.5. Lingkungan Rumah
Lingkungan rumah adalah segala sesuatu yang berada di dalam rumah. Lingkungan rumah terdiri dari lingkungan fisik serta lingkungan sosial. Lingkungan rumah menurut WHO adalah suatu struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung. Lingkungan dari struktur tersebut juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosial yang baik untuk keluarga dan individu.
Kriteria rumah yang sehat dan aman dari segi lingkungan menurut chandra, (2007) antara lain :
1) Memiliki sumber air bersih dan sehat serta tersedia sepanjang tahun 2) Memiliki tempat pembuangan kotoran, sampah dan air limbah yang baik 3) Dapat mencegah terjadi perkembang biakan vektor penyakit, seperti
nyamuk, lalat tikus dan sebagainya
4) Letak perumahan jauh dari sumber pencemaran (mis, kawasan industri) dengan jarak minimal 5 km dan memiliki daerah penyangga atau daerah hijau (green belt) dan bebas banjir
Chandra (2007) mengatakan bahwa rumah atau tempat tinggal yang buruk atau kumuh dapat mendukung terjadinya penularan penyakit dan gangguan kesehatan, seperti:
1. Infeksi saluran pernafasan 2. Infeksi pada kulit
3. Anthropoda 4. Kecelakaan 5. mental
Menurut Seregar (1992) faktor yang mempengaruhi terjadinya
dermatofitos adalah keadaan lingkungan yang basah dan bekeringat yang banyak,
lingkungan yang kotor dengan udara lembab dan panas, dan lingkungan rawa-rawa yang selalu basah. Selain itu daerah yang beriklim tropis dan beriklim panas dengan kelembaban tinggi juga sangat mempengaruhi terjadinya dermatofitosis.
2.1.6. Letak Rumah
Letak rumah adalah salah satu faktor yang penting artinya bagi kesehatan penghuni. Sebagai contoh adalah, sebuah rumah seharusnya tidak didirikan di dekat tempat dimana sampah dikumpulkan atau dibuang, dengan pertimbangan karena di tempat pembuangan sampah tersebut akan banyak lalat, serangga maupun tikus yang akan membawa kuman penyakit kedalam lingkungan rumah (WHO, 1995).
Perlu diperhatikan juga letak sebuah bangunan hendaknya menyerong dari arah lintasan matahari yaitu arah utara–selatan untuk mencegah penyinaran yang terus-menerus pada satu bagian rumah. Di bangun dengan lubang bukaan maksimal pada arah utara, arah selatan, dan arah timur, serta seminimal mungkin pada arah barat. Lubang bukaan pada arah utara-selatan diharapkan sebanyak mungkin memasukan sinar matahari dari kubah langit. Sementara lubang pada arah timur untuk memasukan sinar matahari pagi yang dapat meningkatkan kesehatan. (Chandra, 2007)
2.2. Personal Hygiene
Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya
perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan perorangan adalah cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka. Kebersihan perorangan sangat penting untuk diperhatikan. Pemeliharaan kebersihan
perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu , keamanan dan kesehatan (Petrus, 2005).
Hygiene perorangan merupakan hal yang sangat penting diperhatikan
terutama pada masa-masa perkembangan. Dengan kesehatan pribadi yang buruk pada masa tersebut akan dapat mengganggu perkembangan kualitas sumber daya manusia. Untuk menjaga kesehatan pribadi atau perorangan tentu saja tidak terlepas dari kebiasaan-kebiasaan sehat yang dilakukan setiap hari. Menurut Entjang (2000), usaha kesehatan pribadi (personal hygiene) adalah upaya seseorang untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri. 2.2.1. Jenis-jenis Personal hygiene
Jenis-jenis Personal hygiene menurut Isro’in (2012) meliputi : 1. Kebersihan kulit
Kebersihan kulit merupakan cerminan kesehatan yang paling pertama memberi kesan, oleh karena itu perlu memelihara kulit sebaik-sebaiknya. Pemeliharaan kesehatan kulit tidak dapat terlepas dari kebersihan lingkungan, makanan yang dimakan serta kebiasaan hidup sehari – hari. Untuk selalu memelihara kebersihan kulit kebiasaan-kebiasaan yang sehat harus selalu memperhatikan seperti :
a) Menggunakan barang-barang keperluan sehari-hari milik sendiri b) Mandi minimal 2x sehari
c) Mandi memakai sabun d) Menjaga kebersihan pakaian
e) Makan yang bergizi terutama sayur dan buah f) Menjaga kebersihan lingkungan.
2. Kebersihan rambut
Rambut yang terpelihara dengan baik akan membuat membuat terpelihara dengan subur dan indah sehingga akan menimbulkan kesan cantik dan tidak berbau apek. Dengan selalu memelihara kebersihan kebersihan rambut dan kulit kepala, maka perlu diperhatikan sebagai berikut :
a) Memperhatikan kebersihan rambut dengan mencuci rambut sekurangkurangnya 2x seminggu.
b) Mencuci ranbut memakai shampo atau bahan pencuci rambut lainnya.
c) Sebaiknya menggunakan alat-alat pemeliharaan rambut sendiri. 3. Kebersihan gigi
Menggosok gigi dengan teratur dan baik akan menguatkan dan membersihkan gigi sehingga terlihat cemerlang. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan gigi adalah :
a. Menggosok gigi secara benar dan teratur dianjurkan setiap sehabis makan
b. Memakai sikat gigi sendiri
c. Menghindari makan-makanan yang merusak gigi
d. Membiasakan makan buah-buahan yang menyehatkan gigi e. Memeriksa gigi secara teratur
4. Kebersihan mata
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kebersihan mata adalah : a. Membaca di tempat yang terang
b. Memakan makanan yang bergizi c. Istirahat yang cukup dan teratur
d. Memakai peralatan sendiri dan bersih (seperti handuk dan sapu tangan)
e. Memlihara kebersihan lingkungan. 5. Kebersihan telinga
Hal yang perlu diperhatikan dalam kebersihan telinga adalah : a. Membersihkan telinga secara teratur
b. Jangan mengorek-ngorek telinga dengan benda tajam. 6. Kebersihan tangan, kaki dan kuku
Seperti halnya kulit, tangan,kaki dan kuku harus dipelihara dan ini tidak terlepas dari kebersihan lingkungan sekitar dan kebiasaan hidup sehari-hari. Selain indah dipandang mata, tangan, kaki, dan kuku yang bersih juga menghindarkan kita dari berbagai penyakit. Kuku dan tangan yang kotor dapat menyebabkan bahaya kontaminasi dan menimbulkan penyakit-penyakit tertentu. Untuk menghindari hal tersebut maka perlu diperhatikan sebagai berikut :
a. Membersihkan tangan sebelum makan b. Memotong kuku secara teratur
c. Membersihkan lingkungan d. Mencuci kaki sebelum tidur
2.2.2. Faktor – Faktor yang Memengaruhi Personal Hygiene
Menurut Isro’in (2012) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal
hygiene adalah:
a. Citra tubuh ( Body Image)
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
b. Praktik Sosial
Pada anak–anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene .
c. Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi,
sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
d. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita
e. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
f. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.
g. Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
Menurut Seregar (1992) personal hygiene yang mempengaruhi terjadinya
dermatofitosis adalah kurangnya kebersiahan diri, kebersiahan yang buruk dan
kontak dengan binatang seperti anjing atau kucing, kebersiahan yang kurang dan keadaan basah, orang yang banyak bekerja pada air kotor.
2.3. Nelayan
2.3.1. Pengertian Nelayan
Nelayan di dalam ensiklopedi Indonesia digolongkan sebagai pekerja, yaitu orang yang secara aktif melakukan kegiatan menangkap ikan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung sebagai mata pencahariannya (Rahardjo, 2002).
Menurut Undang–undang Republik Indonesia No. 31 tahun 2004, Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan
ikan. Sebagian besar nelayan di Indonesia adalah nelayan kecil, nelayan kecil adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari–hari. Menurut Suasono dan hutagalung (2013) Nelayan merupakan pekerjaan yang bergerak di sektor Informal yang kegiatan ekonominya secara tradisional, usaha–usaha diluar sektor modern/formal yang mempunyai ciri–ciri sebagai berikut yaitu sederhana, skala usaha relative kecil, umumnya belum terorganisir dengan baik.
Arti nelayan dalam buku statistik Perikanan Indonesia Nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan/binatang air lainnya/tanaman air. Orang yang hanya melakukan pekerjaan, seperti membuat jaring, mengangkut alat-alat/perlengkapan ke dalam perahu/kapal, mengangkut ikan dari perahu/kapal tidak dimasukkan sebagai nelayan. Tetapi ahli mesin, juru masak yang bekerja diatas kapal penangkapan ikan dimasukkan sebagai nelayan. Dari pengertian itu nelayan dipandang tidak lebih sebagai kelompok kerja yang tempat bekerjanya di air, yaitu sungai, danau atau laut. (Suasono dan hutagalung, 2013)
Menurut Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perikanan (1995), bunyinya adalah sebagai berikut : ” Nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan/binatang air lainnya/tanaman air. Orang yang hanya melakukan pekerjaan, seperti membuat jaring, mengangkut alat-alat/perlengkapan kedalam perahu/kapal, mengangkut
ikan dari perahu/kapal tidak dimasukkan sebagai nelayan. Tetapi ahli mesin, juru masak yang bekerja diatas kapal penangkap dimasukkan sebagai nelayan”.
Menurut Mubyarto dkk dalam Rahardjo (2002), dalam bukunya yang berjudul “Nelayan dan Kemiskinan” dalam Studi Ekonomi Antropologinya, memberikan pengertian berbeda tentang “Masyarakat Desa Nelayan”. Menurutnya, memang dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kaya dan kaya sekali disatu pihak, dan kelompok ekonomi sedang, miskin, miskin sekali dan tukang dilain pihak. Pemakaian kata “Desa Nelayan” telah mengantarkan kepada pemahaman bahwa nelayan dilihat sebagai masyarakat yang mempunyai ciri-ciri sendiri dan bertempat tinggal berada ditepi pantai, sehingga dapat juga disebut sebagai masyarakat yang berdiam di “Desa Pantai Perkampungan Nelayan” yang menjadikan perikanan sebagai mata pencahariannya yang terpenting.
2.3.2. Karakteristik Masyarakat Nelayan
Menurut wahyono SK (2009) dalam Swasono dan Hutagalung masyarakat nelayan di Indonesia sampai saat ini masih tergolong masyarakat miskin, ironisnya mereka hidup diwilayah pesisir dan lautan indonesia yang kaya akan keaneka ragaman sumberdaya alamnya, baik yang dapat pulih seperti perikanan, hutan mangrove dan terumbu karang, maupun sumberdaya yang tidak dapat pulih seperti minyak bumi, gas dan barang tambang lainnya.
Menurut Azwar (2007) Karakteristik individu adalah keseluruhan dari ciri-ciri yang terdapat pada masyarakat baik ciri individu seperti umur, dan jenis
kelamin maupun ciri sosial seperti pendidikan, pekerjaan, besar keluarga. Karakteristik masyarakat mempunyai kaitan dengan kepemilikan rumah sehat. 1. Pendidikan
Pendidikan sebagai suatu proses atau kegiatan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan individu atau masyarakat. Ini berarti bahwa pendidikan adalah suatu pembentukan watak yaitu sikap disertai kemampuan dalam bentuk kecerdasan, pengetahuan, dan keterampilan. Seperti diketahui bahwa pendidikan formal yang ada di Indonesia adalah tingkat sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan tingkat atas, dan tingkat akademik/perguruan tinggi. Tingkat pendidikan sangat menentukan daya nalar seseorang yang lebih baik, sehingga memungkinkan menyerap informasi juga dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi informasi atau setiap masalah yang dihadapi.
Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia Indonesia jasmani dan rohani yang berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun di luat sekolah dalam rangka pembangunan persatuan Indonesia dan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Sarwono, 2004).
2. Pekerjaan
Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan atau pencaharian yang dijadikan pokok penghidupan seseorang yang dilakukan untuk mendapatkan hasil. Pekerjaan lebih banyak dilihat dari kemungkinan keterpaparan khusus dan derajat
keterpaparan tersebut serta besarnya risiko menurut sifat pekerjaan juga akan berpengaruh pada lingkungan kerja dan sifat sosial ekonomi karyawan pada pekerjaan tertentu.
3. Pendapatan
Pendapatan adalah tingkat penghasilan penduduk, semakin tinggi penghasilan semakin tinggi pula persentase pengeluaran yang dibelanjakan untuk barang, makanan, juga semakin tinggi penghasilan keluarga semakin baik pula status gizi masyarakat.
Tingkat pendapatan yang baik memungkinkan anggota keluarga untuk memperoleh yang lebih baik, misalnyadi bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan karir dan sebagainya. Demikian pula sebaliknya jika pendapatan lemah akan maka hambatan dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Keadaan ekonomi atau penghasilan memegang peranan penting dalam meningkatkan status kesehatan keluarga. Jenis pekerjaan orangtua erat kaitannya dengan tingkat penghasilan dan lingkungan kerja, dimana bila penghasilan tinggi maka pemanfaatan pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit juga meningkat, dibandingkan dengan penghasilan rendah akan berdampak pada kurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dalam hal pemeliharaan kesehatan karena daya beli obat maupun biaya transportasi dalam mengunjungi pusat pelayanan kesehatan
4. Perilaku Kesehatan
Perilaku manusia merupakan hasil dari pada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon atau reaksi individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan) maupun aktif (disertai tindakan).
2.3.3. Kesehatan Nelayan
Penyakit kulit pada nelayan akibat pengaruh sinar ultraviolet dan pengaruh air laut yang karena kepekatannya menarik air dari kulit, dalam hal ini air laut merupakan penyebab penyakit kulit dengan sifat rangsangan primer. Tapi penyakit kulit mungkin pula disebabkan oleh jamur-jamur atau binatang-binatang laut. Beberapa jenis ikan dapat menyebabkan kelainan kulit, biasanya nelayan-nelayan mengetahui ikan-ikan yang mendatangkan gatal. (Suma’mur, 1998)
Keselamatan nelayan dalam melakukan pekerjaannya belum cukup mendapat perhatian. Syarat-syarat perahu nelayan harus diutamakan, agar tercapai keselamatan sebesar-besarnya. Konstruksi perahu di Indonesia berbeda-beda mengikuti latar belakang daerah atau kebudayaan setempat. Perahu yang baik adalah stabil, tidak mudah terbalik oleh pukulan-pukulan ombak atau angin yang besar. Nelayan-nelayan hidup di pantai-pantai yang biasanya hygienenya sangat kurang, perlunya pendidikan kesehatan dan cara hidup hygienis dan lain-lain.