• Tidak ada hasil yang ditemukan

ORANG NARAPIDANA L P ANAK

3. Bentuk Implementasi Pembinaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A

Kota Ternate

a. Pembinaan Kesadaran Beragama

Pendidikan Kesadaran Beragama merupakan salah satu hak narapidana dalam bidang melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaan.

Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya. Pendidikan kesadaran beragama diberikan kepada narapidana pemasyarakatan untuk memantapkan mereka dalam menjalankan peranannya yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan mengamalkan ajaran agamanya masing-masing.

Penghuni LAPAS Kelas II A Kota Ternate terdiri dari agama Islam, Kristen dan Katholik. Sehingga pembinaan keasadaran beragama ini di pisahkan antara yang Islam, yang Kristen dan yang Katholik, namun pembinaan ini diperlukan untuk tujuan agar narapidana dapat diteguhkan imannya terutama memberikan pengertian agar mereka menyadari akibat- akibat dari perbuatan yang benar dan perbuatan-perbuatan yang salah. Pembinaan ini dilakukan instansi terbaik seperti Departemen Agama ataupun unsur keagamaan lainnya. Dari 82 narapidana di LAPAS Kelas II A Kota Ternate, apakah sudah seluruhnya mengikuti kegiatan pembinaan kesadaran

47

beragama atau belum? Penulis hanya mengambil 30 respoden dari narapidana tersebut. Pembinaan kesadaran beragama di LAPAS Kelas II A Kota Ternate ini dapat dilihat di tabel berikut ini:

Tabel 4

Tanggapan Responden Terhadap Hak Kesadaran Beragama

Tanggapan Responden Frekuensi Persentase (%)

Mengikuti 25 83,33

Tidak mengikuti 5 16,67

Jumlah 30 100

Sumber: data primer yang diolah, 2017

Dari 30 narapidana yang dijadikan sampel yang penulis ajukan quisioner sebanyak 25 orang atau 83,33 % mengatakan selama mereka berada didalam Lapas, mereka mengikuti penyuluhan rohani. Sedangkan sebanyak 5 orang atau 16,67 % mengatakan tidak mengikuti penyuluhan tersebut.

b. Pendidikan dan Pengajaran

Dalam pendidikan dan pengajaran yang diperoleh narapidana di dalam LAPAS antara lain, kesadaran berbangsa, bernegara, sadar hukum, kemampuan intelektual, kecerdasan dan kemandirian (wiraswasta).

Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara tidak terlepas dari nilai-nilai kewarganegaraan dalam kerangka identitas nasional. Identitas nasional itu sangat berhubungan erat dengan proses berbangsa dan

48

bernegara. Semua warga negara termasuk warga negara yang berstatus narapidana dituntut untuk memahami dan mengerti proses berbangsa dan bernegara karena dengan mengerti proses itu maka setiap warga negara akan merasa memiliki tanggung jawab untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara ini juga dilakukan dengan pembinaan politik, menanamkan nilai-nilai patriotisme dan partisipasi dalam pembangunan bangsa dan Negara.

Pembinaan sadar hukum dilakukan dengan maksud agar narapidana mampu mengetahui norma, hukum dan peraturan yang dilarang, diperbolehkan maupun dianjurkan untuk dilakukan. Tidak hanya dituntut sadar hukum tetapi juga dapat taat hukum agar tidak mengulang kesalahan yang sama atau tidak melakukanpelanggaran hukum lagi.

Pembinaan kesadaran hukum dan kesadaran berbangsa meliputi penyuluhan hukum. Penyuluhan hukum yang dijadwalkan oleh petugas Lapas Kelas II A Kota Ternate dilakukan tiga bulan sekali dari pemateri yang berasal dari Pengadilan Negeri Kota Ternate. Berdasarkan quisioner yang diberikan ke 30 (tiga puluh) narapidana dan ada juga 3 (tiga) narapidana yang telah menjalani masa hukuman lebih dari 1 (satu) tahun, mereka hanya pernah sekali mengikuti kegiatan penyuluhan hukum tersebut.

Kemampuan Intelektual merupakan suatu proses kemampuan seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul. Kapasitas intelektual umum mencakup kemampuan-kemampuan menalar

49

dan menilai secara menyeluruh dalam menciptakan dan merumuskan arah berfikir spesifik.

Usaha ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan berfikir narapidana. Pemberantasan buta huruf merupakan sasaran utama. sebagai bentuk pendidikan formalnya adalah Kejar Paket A dan Kejar Paket B, disamping itu bisa juga diberikan pendidikan non formal, seperti: kursus- kursus, pesantren kilat, mendengarkan radio dan sebagainya. Program pembinaan kemampuan intelektual dan kecerdasan ini juga mendapat respon

yang positif dari narapidana.

Pembinaan ini diberikan melalui program latihan keterampilan untuk mendukung usaha mandiri seperti : kerajinan tangan, tukang cukur dan pengelasan. Dapat pula keterampilan yang mendukung usaha-usaha industri kecil, misalnya pembuatan paving blok, batu bata, dan lain-lain. Kemungkinan bisa juga keterampilan yang mendukung usaha-usaha industri besar bekerja sama pabrik-pabrik atau parusahan-perusahan besar. Misalnya bekerja dipabrik tekstil, perkebunan, dan sebagainya. Mandiri adalah dimana seseorang mau dan mampu mewujudkan kehendak/ keinginan dirinya yang terlihat dalam tindakan/perbuatan nyata guna menghasilkan sesuatu (barang/jasa) demi pemenuhan kebutuhan hidupnya dan sesamanya. Pembinaan kemandirian bagi narapidana sebagai peserta didik dimaksudkan agar dikemudian hari mereka dapat menggunakan keahliannya tersebut di

50

luar sehingga mampu bertindak sesuai keadaan tanpa meminta atau tergantung pada orang lain.

Tabel 5

Tanggapan Responden Terhadap HakKesadaran Berbangsa, Bernegara dan Sadar Hukum

Tanggapan Responden Frekuensi Persentase (%)

Kurang Memahami 28 93,33

Memahami 2 6,67

Jumlah 30 100

Tanggapan Responden Terhadap Pembinaan Intelektual dan Kecerdasan

Tanggapan Responden Frekuensi Persentase (%)

Dapat Membaca 23 76,67

Tidak dapat Membaca 7 23,33

Jumlah 30 100

Sumber: data primer yang diolah, 2017

Quisioner yang dilakukan dengan narapidana yang dijadikan sampel, umumnya mereka baru memahami sepenuhnya mengenai kesadaran berbangsa dan bernegara ini setelah mendapatkan pembinaan didalam Lapas. Hal ini dikatakan oleh responden sebanyak 28 orang atau 93,33 % kurang memahami arti pentingnya nilai-nilai kewarganegaraan dan kepatuhan terhadap hukum. Sedangkan 2 orang atau 6,67 % mengatakan bahwa mereka sudah memahami tentang pentingnya kesadaran berbangsa dan bernegara.

Sedangkan responden dari pembinaan kemampuan intelektual dan kecerdaan, dari Sampel yang diambil sebanyak 30 orang, ada sebnayak 23

51

orang atau 76,67 % mengatakan telah mendapat informasi berupa Koran atau buku, ada pula 7 orang atau 23,33 % yang belum bisa membaca, hingga mereka masih tidak mau berusaha untuk dapat membaca. Diantara 7 orang tersebut adalah anak pidana.

Dari 82 narapidana yang mengikuti kegiatan pembinaan kemandirian yang terdiri atas kerajinan tangan, tukang cukur dan pengelasan. Penulis mengambil sempel sebanyak 30 orang, terdapat 16 orang yang aktif mengikuti kegiatan tersebut, sedangkan 14 orang lainnya tidak aktif mengikuti kegiatan tersebut.

Dokumen terkait