• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. NAHDLATUL ULAMA

2. Bentuk Kerukunan Umat Beragama

Kerukunan hidup umat beragama, berarti perihal hidup rukun dalam suasana baik dan damai, tidak bertengkar, bersatu hati dan sepakat antar umat yang berbeda-beda agamanya, atau antar umat dalam satu agama.

Dalam terminologi yang digunakan oleh pemerintah secara resmi, konsep kerukunan hidup beragama mencangkup 3 kerukunan yang disebut dengan trilogi kerukunan.51 Konsep trilogi kerukunan beragama merupakan konsep yang dilahrkan oleh negara yang bertujuan agar terciptanya masyarakat yang rukun dan damai di Indonesia. Perbedaan kepercayaan dan keyakinan sangat rentan mengacu pada konflik antar agama, apalagi adanya pihak yang memprokasikan untuk mengusik ketenangan masayarakat yang sudah rukun. Dengan adanya gesekan-gesekan yang akan memecah belah rasa persatuan bangsa, maka pemerintah telah berupaya mengeluarkan

50 Delmus Puneri Salim, “Kerukunan Umat Beragama VS Kebebasan Beragama di Indonesia”, Jurnal Penelitian Dan Pemikiran Islam, Vol.21, No.2, 2017, h.17

51 Hertina, “toleransi upaya untuk mewujudkan kerukunan umat beragama”, staf penggagar : UIN Suska Riau.

kebijakan-kebijakan guna mengantisipasi timbulnya perselisihan umat beragama di Indonesia. Tri kerukunan beragama mencangkup pada kerukunan intern umar beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.

a. Kerukunan Intern Umat Beragama.

Dalam suatu agama memungkinkan lahirnya sebuah konflik yang disebabkan oleh adanya perbedaan pandangan dan penafsiran terhadap agama. Bila dilihat dari agama Islam sering terjadi perbedaan madzhab-madzhab yang mengacu pada suatu perselisihan dalam Islam, hal ini terjadi bukan sekarang saja tapi sudah dari zaman dahulu. Umat Islam yang meyakini al-Qur‟an sebagai wahyu Allah, namun dalam penafsirannya, penghayatan, pemahaman dan pengkajian terbukti mampu mendisharmoniskan intern umat beragama. Islam mengajak umat untuk menjalin ukhuwah Islamiyah dan mencari persamaan, kerukunan, dan kedamaian demi menghindari perpecahan dalam tubuh umat Islam itu sendiri.

b. Kerukunan Antar Umat Beragama.

Indonesia yang besar ini, disamping masyarakatnya yang memiliki banyak budaya juga ajaran agama. Masing-masing agama mempunyai keyakinan yang berbeda-beda sesuai dengan ajaran agama yang dibawa oleh agama itu masing-masing, pada masing-masing agama tidak diajarkan permusuhan dan curiga mencurigai tetapi yang diinginkan

adalah ketentraman dan kenyaman serta saling hormat menghormati antar sesama manusia.

c. Kerukunan Antar Umat Beragama dengan Pemerintah.

Kerukunan umat beragama tidak bisa berjalan dengan baik tanpa keikutsertaan peranan pemerintah. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk kepentingan masyarakat yang perlu melibatkan tokoh-tokoh agama agar tidak terjadi kesalah pahaman ditengah-tengah masyarakat sehingga antara pemerintah dengan tokoh agama bisa menjalin kerjasama guna menciptakan stabilitas persatuan dan kesatuan bangsa.52

Permasalahani kerukunan umati beragama dii Indonesia sekarang inii menjadi kompleks. Konflik yang bernuasa keagamaan dapat dipicu oleh berbagaii faktor yang bervariasi, bahkan konflik ini tidak hanya melibatkan kelompok atau umat beragama yang saling bertikai, tetapii ada pihak-pihak lain yang iikut terlihat dii dalamnya. Disinilah rumitnya menanganii konflik-konflik yang bernuasa keagamaani (SARA) dii negara kita.53 Agar suatu kerukunan hidup umatt beragama dapat terwujud dan senantiasa terpelihari, perlu memperhatikan upaya-upaya yang mendorong terjadinya suatu kerukunan secara mantap dalam bentuk:

52 Artis, “Kerukunan Dan Toleransi Antar Umat Beragama”, Jurnal Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, Dosen Fakultas Dakwah Dan Ilmu Nomunikasi : IUN Suska Riau.

Volume. 3, Nomor. 1 januari 2011

53 Marzuki, “Pluralitas Agama Dan Kekurunan Umat Bergama Di Indonesia: Mencari Peran Pendidikan Agama Di Perguruan Tinggi Umum”. Jurnal Cakrawala Pendidikan: FIS Universitas Negeri Yogyakarta, 2001

1) Memperkuati dasar-dasar kerukunan iinternal dan antari umati beragama, sertai antar umatt beragamai dengan pemerintah.

2) Membangun harmonii sosial dan persatuan nasional, dalam bentuk upaya mendorong dan mengarahkan seluruh umatt beragama untuk hidup rukun dalam bingkai teologii dan iimplementasii dalam menciptakan kebersamaan dan sikap toleransi.

3) Menciptakan suasana kehidupan beragama yang kondusif, dalam rangka memantapkan pendalaman dan penghayatan agama serta pengalaman agama, yang mendukung bagii pembinaan kerukunan hidup iintern umat dan antar beragama dan antar umat beragama.

4) Melakukan ekplorasii secara lluas tentang pentingnya nilai-nilaii kemanusiaan dari seluruh keyakinan plurall umat manusia, yang fungsinya dijadikan sebagaii pedoman bersama dalam melaksanakan prinsip-prinsip berpolitik dan berinteraksi sosiall satu sama lainnya dengan memperhatikann adanya sikap keteladanan.

5) Melakukan pendalaman nilai-nilaii ketuhanan, agar tidak terjadii penyimpangan-penyimpanganiinilai-nilailisosialiilkemasyarakatan maupun sosial keagamaan.

6) Menempatkan cinta dan kasih dalam kehidupan umat beragama dengan cara menghilangkann rasa saling curiga terhadap pemeluk agama lain, sehingga akan tercipta suasana kerukunan yang samawi tanpa dipengaruhiiioleh faktor-faktor tertentu.

7) Menyadari bahwa perbedaan ialah suatu yang berberbeda dalam kehidupan bermasyarakat, oleh sebab itu hendaknya hall ini dijadikan mozaik yang dapat mempengaruhii fenomena kehidupan beragama.54 3. Tujuan dan Manfaat Kerukunan Umat Beragama.

Adapun Tujuan dari kerukunan antar agama terdapat pada agama itu sendiri sesuai dengan kaidah-kaidah agama serta merealisasikan dalam kehidupan bersama. Tujuan penganut agama adalah bagaimana menjadikan kehidupan penganutnya bernilai dan bermakna, artinya jika manusia hidup tanpa agama,itu artinya ia hidup tanpa nilai dan makna. Bila di lihat dari kepentingan agama-agama tersebut dan urgensinya dalam membangun masyarakat maka tujuan dari kerukunan umat beragama antara lain :

a. Memelihara Persatuan dan Rasa Kebangsaan.

Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, pada setiap agama memiliki kebebasan dalam menjalankan dan menyiarkan agamanya sendiri, hal ini tercantum dalam UUD 1945. Dimana kebebasan beragama yang diinginkan manusia harus sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh hukum negara demi memlihara kesatuan dan persatuan. Aturan negara bukan untuk merubah keyakinan dari agama yang ada tapi melindungi dari masing-masing agama dalam menjalankan ibadahnya agar tidak terjadi kesalah pahaman dan penafsiran terhadap agama lain oleh suatu agama yang ada.

54 Wikipedia, “Upaya Mewujudkan Kerukunan”, Diakses Pada 13 Maret 2020 Pada Pukul 19.20 WIB, dari Http://Mochlisin31.Blogspot.Com/2014/01/Berbagai-Upaya-Dalam-Mewujudkan.Html?M=1

b. Memelihara Stabilitasan Ketahanan Nasional.

Pada masa Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang, semua lapisan masyarakat dari sabang sampai merauke berjuang mempertahankan Indonesia guna memperoleh kemerdekaan dan terlepas dari belenggu penjajahan. Setelah kemerdekaan diraih dari penjajarah timbullah peristiwa-peristiwa yang mengancam kestabilitas dan ketahanan nasional seperti pemberontakan yang ada di daerah-daerah, timbulnya ideology komunis dan lainnya namun hal tersebut bisa diatasi dengan rasa persatuan dan kesatuan. Pada orde baru banyak terjadi keteangan sosial yang terjadi antara pemeluk agama Islam dengan Kristen seperti yang terjadi pada tahun 1967 di Meaulaboh Aceh, tahun 1968 di Jati Barang Jabar, tahun 1969 di Slipi Jakarta, 1979 di simpang Kanan Aceh. Hal ini disebabkan oleh persentuhan keyakinan dan kesalah pahaman antar agama. Oleh sebab itu sebagai bangsa yang besar, umat beragama harus menyadari betapa besarnya bahaya yang diakibatkan oleh pergesekan antara satu keyakinan dengan keyakinan lainnya.

c. Mensukseskan Pembangunan Bangsa.

pada kemajuan teknologi pasti akan ada perubahan yang terjadi baik itu fisik maupun non fisik.perubahan fisik berupa tuntutan yang membawa kearah yang lebih baik.melaksanakan pembangunan mengandung usaha dan emansipasi yang membawa manusia untuk membebaskan diri sari keterbelakangan tradisional kepada kemajuan rasional, yang tujuannya yaitu untuk memperbaiki martabat manusia, maka

dari itu agama diperlukan untuk mendidik dan membina mental umat yang sangat diperlukan dalam pembangunan. Ajaran yang diberikan oleh agama kepada manusia untuk menuntun hati nuraninya kearah kebaikan. Oleh karna itu aktivitas keagamaan merupakan dasar yang menggerakkan motivasi dan mempengaruhi tercapainya pembangunan yang bertujuan untuk manusia, maka agama mewajibkan bagi penganutnya untuk melaksanakan pembangunan.55

Umat beragama diharapkan perkuat kerukunan jika agama dapat dikembangkan sebagai faktor pemersatu maka iia akan memberikan stabilitas dan kemajuan Negara. Kerukunan antar umat beragama merupakan suatu kondisi sosiall ketika semua golongan agama bisa hidup bersama tanpa mengurangii hak dasar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Karena itu kerukunan antar umat beragama tidak mungkinn akan lahir darii sikap fanatisme buta dan sikapi tidak pedulii atas hak dan keberagamani dan perasaani orang lain.

Kerukunan hidup antari umatit beragama sendiri berarti keadaan hubungann sesama umat beragama yang dilandasii toleransi, saling pengertian, menghargai kesetaraani dalam pengajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain itu masyarakati juga harus saling menghormatii satu sama lainnya dalam

55 Artis, “Kerukunan Dan Toleransi Antar Umat Beragama”, Jurnal Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, Dosen

hall beribadah, antarr pemeluk agama yang satu dengani lainnya tidaki salingi mengganggu.56

Kerukunan umat Islam dengan penganut agama lainnya telah jelas disebutkan di dalam Al-Qur‟an dan hadist. Hal yang tidak diperbolehkan adalah dalam masalah akidah, seperti pelaksanaan sosial, seperti puasa dan haji, tidak dibenarkan adanya toleransi, sesuai dengan firman-Nya dalam surah Al Kafirun ayat 6, yaitu :



Artinya : Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."57

Dari ayat di atas bahwa kita sebagaii umat muslim harus memiliki sikap toleransii terhadap umat yang berbeda keyakinan dengan kita, namun tidak dalam halnya toleransii dalam IIbadah, sepertii dalam pelaksanaan Sholat, Puasa dan Haji.

Dokumen terkait