• Tidak ada hasil yang ditemukan

G. Sistematika Penulisan

1. Pengertian dan Sejarah Berdirinya Muhammadiyah

Muhammaddiyah merupakan sebuah organisasi Islam yang terbesar dengan jumlah anggota terbanyak di Indonesia. Nama Muhammadiyah diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga nama Muhammadiyah dapat diartikan atau dikenal dengan sebutan sebagai orang-orang yang menjadi pengikutnya Nabi Muhammad SAW.

23 Sunyoto Usman, Sosiologi : Sejarah, Teori, Dan Metodologi, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2015), h.8

24 Hasan Mustafa, “Perilaku Manusia Dalam Perspektif Psikologi Sosial”, Jurnal administrasi bisnis, Vol.7, No.2, Januari 2011, h.152

Nama Muhammadiyah dipilih oleh K.H Ahmad Dahlan pada masa itu karna sangat asing di telinga masyarakat umum agar memancaing rasa keingintahuan masyarakat terhadap nama tersebut supaya mempunyai celah untuk menjelaskan seluas-luasnya mengenai agama Islam sebagaimana yang telah diajarkan Baginda Rasul.25

Secara etimologi, Muhammadiyah berasal dari bahasa Arab

“Muhammad + yah” yang artinya pengikut-pengikut Nabi Muhammad SAW. Sedangkan secara terminologinya mengandung istilah mengingat, sifat, watak dan tujuannya mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad SAW, karna Muhammadiyah merupakan gerakan yang meneladani, mengambil dan mengikuti garis perjuangan dengan membentuk suatu organisasi yang terstruktur, rapi dan baik sehingga mempercepat tercapainnya tujuannya dan secara merata ajaran serta pembangunannya di masyarakat sepanjang tuntunan Islam.26

K.H Ahmad Dahlan merupakan pendiri Persyerikatan Muhammadiyah. Beliau lahir di Yogyakarta tahun 1869 dengan nama asli Muhammad Darwis. Ayahnya bernama Abu Bakar dan Ibunya bernama Siti Aminah binti K.H Ibrahim seorang penghulu yang besar di daerah kesultanan Yogyakarta, beliau juga merupakan seorang keturunan yang terkenal dari seorang Wali yaitu Maulana Malik Ibrahim, yang dikenal dengan sebutan Sunan Gresik. Adapun silsilah keluarga K.H

25 Wikipedia, “Tentang Muhammadiyah”, Diakses Pada 14 Oktober 2020 Pada Pukul15.37 WIB, Dari Http://M.Muhammadiyah.Or.Id/Id,Content-54-Det-Struktur Organisasi.Html

26 Nofil Gusfira, “Strategi Dan Dinamika Muhammadiyah Di Takengon”, Jurnal As-Salam, Vol. 1, No.3 2017

Ahmad Dahlan sampai pada Maulana Malik Ibrahim melalui 11 jalur keturunan, antara lain : Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana Muhammad Fadlullah, Maulana Sulaiman Ki Ageng Giring, Demang Jurang Juru Sapisan, Demang Jurang Juru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Marthada, K.H Muhammad Sulaiman, K.H Abu Bakar, K.H Ahmad Dahlan. K.H Ahmad Dahlan semasa kecilnya tidak pernah merasakan yang namanya kesekolah, karna pada masa itu anak orang-orang Islam tidak pernah merasakan sekolah yang formal melainkan mereka diarahkan kepada sekolah informal agama Islam, sejak saat masih kecil beliau telah diajarkan membaca al-Qur‟an di kampungnya sendiri yaitu kampung Kauman. Beliau mengetahui pengetahuan agama Islam pertama kalinya dari ayahnya sendiri hingga berusia delapan tahun beliau sudah mengkhatamkan al-Qur‟an.27

Menginjak masa remaja beliau mulai belajar Fiqih kepada K.H.

Saleh dan belajar ilmu Nahwu kepada Kyai Haji Muchsin dan belajar ilmu falak kepada K. Raden Haji Dahlan (Putera Kyai Pesantren termasa Pacitan), ilmu Hadist kepada Kyai Mahfudz dan Syaikh khyyat, belajar ilmu Qiraah al-Qur‟an kepada Syaikh Amien dan Sayyid Bakri Syatha beliau juga belajar ilmu tentang racun berbisa binatang buas kepada Syaikh Hasan. Muhammad Daswir menikah dengan Siti Walidah Binti Kyai Penghulu Haji Fadhil pada tahun 1889. Perkawinan mereka dikarunia oleh 6 orang anak antara lain, Djohanah (1890), Siraj Dahlan

27 Zainal Abidin, “Menapaki Distingsi Geneologis Pemikiran Pendidikan Muhammadiyah/Nu”, Jurnal Nizham, Vol.4, No.2 Juli-Desember 2015, H.54

(1897), Siti Busyro (1903), Siti Aysah (1905), Irfan Dahlan (1905), Siti Zuharoh (1908). Setelah beberapa pernikahannya beliau berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji dan menetap disana selama 5 tahun lamanya selama itu beliau banyak membaca tulisan dari Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh, dan Rashid Ridha. Setelah 5 tahun lamanya tinggal di Mekkah beliau kembali ke Indonesia dengan membawa banyak sekali buku dan membantu ayahnya dalam mengajar ilmu agama Islam di Masjid Kauman.

Pada tahun 1896 Ayahnya Khatib Amin Kyai Haji Abu Bakar ayahnya K.H Ahmad Dahlan meninggal dunia sehingga beliau menggantikan tugas ayahnya antara lain, melaksanakan Khutbah Shalat Jumat secara bergantian dengan delapan Khatib lainnya. Pada tahun 1903 beliau mengajak anaknya Siraj yang berumur 6 tahun untuk pergi beribadah Haji dan menetap di Mekkah selama satu setengah tahun lamanya dan belajar ilmu-ilmu agama kepada beberapa orang guru.

Sepulang dari Mekkah beliau langsung mendirikan sebuah pondok (asrama) untuk murid-murid yang datang dari jauh, diantaranya, dari Pekalongan, Batang, Magelang, Solo dan dari Semarang.28

K.H Ahmad Dahlan juga sangat terkenal dengan pemikiran pembaharuannya yang berkembang di Timur Tengah yang dipelopori oleh gerakan Wahabiyah yang mengeluarkan ide-ide pembaharuan yang sangat baik, baik yang diterima langsung dari gurunya maupun dari

28 Nafilah Abdullah, “K.H Ahmad Dahlan(Muhammad Darwis)”, Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama, Vol. 9, No.1 Januari-Juni 2015, h 25-26

bacaannya. Sangat terlihat jelas dari kegelisahannya menyaksikan keterbelakagan umat Islam yang terbelenggu dari berbagai kebodohan, kemiskinan yang sistematis yang berdampak dari penjajahan Belanda, itulah yang membuatnya memiliki tekad yang kuat untuk berkontribusi dalam melakukan perubahan ke arah lebih baik. Adapun perhatiannya terfokus dalam tiga hal yaitu, pertama, perhatiannya terhadap bentuk pengalaman dan bentuk kepercayaan agama yang terdapat di dalam masyarakat Jawa yang cendrung sinkretis. Hal inilah yang membuatnya umtuk mengadakan pemurnian ajaran Islam dari takhayul, bid‟ah dan khurafah. Kedua, keprihatinanya terhadap pendidikan sekolah keagamaan yang masih jauh tertinggal. Ketiga, maraknya kegiatan para misionaris Kristen yang sangat intens di Jawa sehingga beliau ingin membatasinya agar meningkatkan kualitas beragama masyarakat dari para misionasis tersebut.29

Pada 18 November 1912, K.H Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Muhammadiyah karna tekadnya yang ingin mengubah dan melakukan pembaruan demi melaksanakan cita-citanya di bumi Nusantara. Beliau ingin melakukan perubahan dalam cara berfikir dan cara beramal yang sesuai dengan tuntunan agama Islam dan ingin mengajak umat Islam kembali kepada tuntunan al-Qur‟an dan Sunnah di dalam kehidupan. Organisasi Muhammadiyah bukan organisasi politik melainkan organisasi yang bergerak di bidang keagamaan dan

29 Dja‟far Siddik, “Dinamika Organisasi Muhammdiyah Di Sumatera Utara”, Jurnal Of Contemporary Islam And Muslim Societies, Vol.1, No.1 Januari-Juni 2017

pendidikan.30 Muhammadiyah menjadi organisasi yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan dengan harapan ingin mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan memberikan pencerahan mental kepada masyarakat.31 Pembaruan dibidang pendidikan dan keagamaan yang dijalankan dengan cara modernisasi dalam sistem pendidikan yang sesuai dengan tununan zaman sekarang.

Muhammadiyah juga mendirikan sekolah, taman kanak-kanak dan sampai kepada perguruan tinggi, serta mengajarkan ilmu agama dengan cara yang mudah difahami.32

Muhammadiyah dibangun dan dikelola dengan baik dan terstruktur mulai dari tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, bahkan sampai kepelosok-pelosok dengan menjunjung tinggi gerakan dakwahnya. Gerakan Muhammadiyah sangat bercirikan dengan semangat dalam membangun tata sosial serta dalam pendidikan yang menampilkan ajaran agama secara dinamis. Pembentukan Muhammadiyah banyak merefleksikan kepada perintah al-Qur‟an yang terdapat dalam surah Ali Imran ayat 104 antara lain :

30 Suwarno, “Dari Yogyakarta Merajut Indonesia: Perkembangan Muhammadiyah 1912-1950”, Jurnal Akademika, Vol.21, No. 02 Juli-Desember, H.199

31 Mar‟ati Zarro,”Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam Dan Pendidikan”, FACTUM : Jurnal Pendidikan Dan Peneliti Sejarah, Vol.3 No.1, Maret 2020, h.67

32 Abdul Alimun Utama, “Sejarah Dan Perkembangan Pendidikan Muhammadiyah Di Kabupaten Sumbawa NTB”, Jurnal Studi Islam, Vol.18, No.1 Juni 2017, H.20



menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Dari ayat di atas, menurut para tokoh bahwa organisasi Muhammadiyah merupakan isyarat untuk bergeraknya umat manusia ketika menjalankan dakwah dan ajaran Islam dengan cara terorganisasi, karna dengan adanya organisasi yang digunakan sebagai alat gerak yang niscaya, sehingga berdampak positif dengan banyaknya berdiri rumah sakit, Panti Asuhan serta tempat pendidikan.33

Proses berdirinya Muhammadiyah tidak terlepas dari peran penting dan keterlibatan dari tokoh organisasi Budi Utomo (BU) di Yogyakarta seperti, R. Dwijoesewono dan R. Budiharjo.34Sebelum mendirikan Muhammadiyah K.H Ahmad Dahlan juga pernah bergabung dengan sebuah organisasi Budi Utomo (1909), yang tujuannya untuk memperoleh peluang yang berguna ntuk menginteralisasikan nilai-nilai agama ke dalam kelompok kebudayaannya, karena beliau memang memiliki sikap yang rasional dan dapat menerima pemikiran yang modern yang menyebabkan beliau di anggap sebagai orang yang

33 Nur Alhidayatillah, Sabiruddin, “Nahdatul Ulama Dan Muhammadiyah: Dua Wajah Organisasi Dakwah Di Indonesia”, Jurnal Manajemen Dakwah, 2018, H.16

34 Suwarno, “Dari Yogyakarta Merajut Indonesia: Perkembangan Muhammadiyah 1912-1950”, Jurnal Akademika, Vol.21, No. 02 Juli-Desember, H.206

membawa pengaruh dan mempunyai posisi yang cukup baik sebagai komisaris di cabang Budi Utomo di Yogyakarta.35

Adapun pembaruan khusus dalam bidang keagamaan yang telah diterapkan oleh Muhammadiyah sampai saat sekarang antara lain :

a. Pada penentuan arah kiblat dalam waktu sholat, sebagai sebuah koreksi dari kebiasaan yang lama ketika menghadap tepat ke arah barat.

b. Pada penggunaan dalam perhitungan astronomi dalam menentukan permulaan dan akhir pada bulan puasa (hisab), sebagai kebalikannya dari pengamatan yang dilakukan oleh petugas agama dalam melihat perjalan bulan.

c. Dalam menyelenggarakan Sholat bersama dianjurkan di lapangan terbuka, seperti pada Sholat Hari Raya Islam dan Sholat Idul Adha.

d. Dalam pengumpulan dan pembagian zakat fitrah dan qurban pada hari Raya Idul Fitri nan Idul Adha dilakukan oleh panitia khusus (amil) untuk mendistribusikannya kepada yang berhak untuk menerima zakat dan fitrah tersebut.

e. Pada waktu Khutbah bahasa yang digunakan dalam penyampaiannya menggunakan bahasa Jawa atau Melayu, sebagai perubahan dari dari kebiasaan lama yang menggunakan bahasa Arab.

f. Pada upacara kelahiran, khitanan, kelahiran, perkawinan dan pemakaman dengan menghilangkan hal-hal yang bersifat politesis.

35 Dja‟far Siddik, “Dinamika Organisasi Muhammdiyah Di Sumatera Utara”, Jurnal Of Contemporary Islam And Muslim Societies, Vol.1, No.1 Januari-Juni 2017

g. Menyederhanakan makam (kuburan) yang dihiasi secara berlebihan.

h. Menghilangkan tradisi berziarah ke makam orang-orang yang suci (Wali).

i. Membersihkan anggapan adanya berkah yang bersifat gaib yang dimiliki oleh para kyai atau ulama tertentu, serta mendekonstruksi pengaruh ekstrem pemujaan terhadap mereka.

j. Dalam pertemuan-pertemuan yang bersifat keagamaan perempuan harus memakai kerudung serta pemisah antara laki-laki dengan perempuan.36

Dokumen terkait