SAJIAN HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
B. Deskripsi Permasalahan Penelitian
2. Bentuk Partisipasi Masyarakat di dalam Tradisi Bersih Desa Keberhasilan acara tradisi bersih desa ditentukan oleh seberapa besar
partisipasi masyarakat. Bentuk partisipasi masyarakat sangatlah beragam, mulai dari materi, fisik, dan emosi serta mental. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut :
a. Keterlibatan material
Dalam tradisi bersih desa, keterlibatan suatu masyarakat sangat diharuskan. Begitu pentingnya peran serta masyarakat kampung itu sendiri, sehingga dapat dikatakan tidak ada tradisi bersih desa apabila tidak ada masyarakat yang perduli akan kelangsungannya. Keterlibatan masyarakat salah satunya adalah keterlibatan material, bisa berupa uang ataupun benda yang berguna dalam tradisi bersih desa.
Seperti yang diungkapkan oleh pak JK selaku ketua panitia tradisi bersih desa, bahwa
“Bentuk partisipasi warga kampung dalam tradisi bersih desa salah satunya adalah berupa materi dengan membayar iuran sebesar Rp. 10.000 per KK, dikumpulkan kepada ketua RT masing-masing.” (W/JK/16/5/2009)
Terkadang, dalam suatu kasus, salah satu KK selain ikut iuran Rp.10.000, mereka juga menyumbang sejumlah uang di luar iuran dan juga sejumlah barang, seperti halnya yang dilakukan oleh Bp BD. Kopi bubuk diperlukan dalam tradisi bersih desa yaitu pada saat kondangan yaitu untuk suguhan paera tamu dan juga untuk masyarakat sendiri yang bekerja bakti mempersiapkan acara.
Hal serupa juga dilakukan oleh ibu MNK. Selain membayar iuran sebesar Rp. 10.000, Ibu MNK juga memberikan penambahan dana di mana besarnya sumbangan Ibu MNK enggan untuk mengatakan dan juga memberikan tumpangan tempat, minyak dan air untuk memasak dan melakukan wilujengan. Ibu MNK juga memberikan uang lelah bagi ibu-ibu yang memasak. Ibu MNK mengatakan,
“Setiap kebaikan yang dilakukan yang penting ikhlas, saya untuk acara bersih desa ini ya ngasih apa saja yang saya punya, tetapi yang penting ikhlas. Sekecil apapun perbuatan, kalau ikhlas bakal dapat balasan yang setimpal.” (W/MNK/20/5/2009)
Pada saat penghitungan oleh panitia, dana yang terkumpul selalu lebih dari seharusnya. Seperti yang diungkapkan oleh pak JK
“Kampung Bibis Kulon sendiri terdiri dari tiga RW, yaitu RW 16, 17, 18, yang berjumlah sekitar 500 KK. Seharusnya dana yang terkumpul sebanyak Rp. 5.000.000, tetapi setelah dilakukan penghitungan, dana yang terkumpul mengalami penambahan dari yang seharusnya terkumpul. Kadang dapatnya sampai lima juta empat ratus mbak. Jadi terdapat beberapa kasus yaitu dalam satu KK terdapat beberapa keluarga, misalnya ada ayah dan ibu, anak beserta istri dan anak, saudara laki-laki beserta istri. Sehingga dalam satu KK terdapat 3 keluarga. Masing-masing keluarga tersebut membayar sendiri-sendiri iuran wajib, yang terkadang juga lebih dari yang diwajibkan. Sehingga dana yang terkumpul melebihi dari yang seharusnya. (W/JK/16/05/2009).
Meskipun begitu, terdapat beberapa warga yang tidak membayar iuran karena tidak mampu, tetapi pihak panitia tidak mengharuskan untuk membayar, sebagaimana pernyataan yang diungkapkan oleh Bp JK
“Dari panitia tidak mengharuskan untuk membayar, kalau ora enek tapi dienek-enekne kan malah kasihan. Tetapi warga yang tidak mampu membayar tidak banyak, sekitar satu sampai dua keluarga.” (Dari panitia tidak mengharuskan untuk membayar, kalau tidak ada tetapi berusaha untuk mengadakan membuat kasihan. Tetapi warga yang tidak mampu membayar tidak banyak, sekitar satu sampai dua keluarga). (W/JK/16/5/2009).
Kendala lain yang dihadapi panitia tradisi bersih desa dalam pengumpulan iuran adalah sebagaimana diungkapkan sebagai berikut :
“terkadang terdapat beberapa warga telat dalam mengumpulkan iuran, sehingga saya harus mendatangi rumah para warga tersebut. Terkadang ada juga mbak yang tidak bisa bayar penuh. Lha wong istilahnya saja, mereka…ya nyuwun sewu susah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, jadi pihak sini (petugas) tidak bisa apa-apa. Mereka terkadang hanya membayar semampunya saja, ya mungkin seribu, dua ribu, ada juga yang lima ribu. Pihak panitia tidak membebani iuran bagi warga yang memang tidak mampu membayar. Hal ini cukup dimaklumi oleh panitia dan warga yang lain. Karena bagi warga yang tidak mampu membayar, uang sepuluh ribu adalah sangat besar, dikarenakan warga berpenghasilan hanya pas untuk kehidupan sehari-hari, tanpa bisa menabung.” (W/SN/14/5/2009).
Dana juga diperoleh dari Rw tetangga yang masihdalam lingkup wilayah kampung Bibis, yaitu RW 12, 13, 14, 15, 19, 20, dan 21. Untuk tahun ini, iuran yang diperoleh dari RW tetangga sebanyak Rp. 3.400.000. (W/JK/16/5/2009).
Dana yang terkumpul tidak hanya dari iuran warga yang masih tinggal di kampung saja, tetapi warga yang kampung yang berada di luar kota juga turut
menyumbang, seperti halnya Semarang dan Jakarta. Seperti yang dinyatakan oleh Bp SN,
“biasanya jauh-jauh hari orang di Jakarta misalnya, sudah dikasih tahu kalau tanggal sekian bulan sekian akan diadakan tradisi bersih desa. Lalu mereka menitipkan sejumlah uang kepada salah satu warga kampung yang bekerja sebagai sopir bus. Sebelumnya mereka sudah janjian terlebih dahulu akan bertemu di mana, apakah di rumah ataukah di terminal.” Informasi dapat cepat tersampaikan karena di Jakarta terdapat perkumpulan orang Bibis Kulon, sehingga uang dapat dengan cepat terkumpul. Saya memuji kerukunan dan kekompakan warga Bibis Kulon. Meskipun sudah tidak tinggal di kampung, para donatur masih saja memberikan sumbangan setiap tahunnya. Sumbangan yang diberikan relatif besar, sehingga dapat menutupi kekurangan biaya.” (W/SN/26/12/2009)
Dana yang digunakan dalam tradisi bersih desa ada yang berasal dari Pemerintah Kota Solo. Hal ini merupakan wujud dukungan pemerintah kota untuk tetap menjaga kelangsungan budaya Jawa, khusunya hal ini adalah tradisi bersih desa. Seperti yang diungkapkan oleh Bp BD
“Pemkot adalah donatur tetap kita mbak, jadi setiap tahun panitia bersih desa selalu memasukkan proposal untuk mengajukan sejumlah dana, dan selalu dipenuhi. Dana sudah masuk dalam APBD kok mbak, jadi kita sudah tidak kesulitan lagi. Pemkot sendiri sudah lama memberikan dukungan terhadap eksistensi tradisi bersih desa. Pemerintah Kota merasa bahwa tradisi bersih desa yang ada mempunyai potensi pariwisata, sehingga selain sebagai upaya untuk melestarikan budaya Jawa, tradisi bersih desa diharapkan juga dapat menambah pendapatan daerah, dengan membuat tradisi bersih desa Bibis Kulon sebagai salah satu obyek pariwisata bagi kota Solo.”(W/BD/27/12/2009).
Besarnya donasi dari pemerintah kota setiap tahun tidak tentu. Seperti yang diutarakan oleh pak JK sebagai berikut
“Pemkot untuk tahun ini menyumbang tiga juta, kalau tahun lalu dua juta, jadi terjadi peningkatan.” (W/JK/16/5/2009).
Sumbangan juga diperoleh dari pengusaha, bisa berupa uang maupun barang. Seperti halnya yang dikatakan oleh pak SN
“Donatur bisa dari perusahaan rokok dan pengusaha dari relasi bisnis salah satu warga kampung. Bentuk partisipasi barang yang berwujud rokok sangatlah diperlukan. Misalnya saja untuk para panitia pada saat melakukan rapat guna membahas pelaksanaan tradisi bersih desa, juga untuk para pekerja yang mempersiapkan segala sesuatunya, seperti menguras sumur dan tempat pertunjukan atau panggung untuk pertunjukan wayang. Selain itu, rokok juga sangat berguna untuk menjamu para tamu yang berdatangan pada saat kondangan.” (W/SN/14/5/2009).
Beberapa warga kampung menyumbang barang yang berguna untuk keperluan acara tradisi bersih desa, misalnya rokok dan minuman kesehatan, dan kopi untuk panitia dan para bapak-bapak yang mempersiapkan acara; tahu, tempe, bawang merah, bawang putih, mie bihun, dan daging sapi untuk bahan memasak guna keperluan syukuran dan kondangan yang dilakukan oleh ibu-ibu. (W/JK/16/6/2009)
b. Keterlibatan Fisik
Keterlibatan masyarakat tidak hanya berupa materi saja di dalam tradisi bersih desa. Dikatakan bahwa, keterlibatan masyarakat bisa berupa tenaga atau fisik.
“Prosesi tradisi bersih desa terdiri dari, “diawali menguras sumur dulu oleh bapak-bapak, yang terdiri dari sumur Mbah Meyek, sumur Mbah Bandung, Sumur Asem Kandang, sumur Mbah Asem Kaji dan sumur Bibis Wetan, dimulai jam setengah delapan.” (W/JK/6/6/2009).
Di dalam tradisi bersih desa, terdapat dua sumur utama dan tiga sumur lainnya yang harus dikuras pada hari Kamis pada bulan Sura setiap tahunnya. Pengurasan
sumur dilakukan pada pagi hari, dengan memanfaatkan tenaga laki-laki, yaitu dengan cara membagi tugas. Laki-laki di kampung dibagi menjadi beberapa kelompok, yang selnjutnya diberi tugas untuk menguras masing-masing sumur sesuai dengan jatahnya.
Keterlibatan tenaga yang dinyatakan oleh Bp JK di atas, juga mendapatkan dukungan dari Bp SS
“bersih desa dengan membersihkan seluruh desa, agar terlihat bersih sehingga masyarakat kampung dapat terhindar dari penyakit.” (W/SS/7/6/2009).
Telah dikatakan di atas, bahwa semua tradisi yang diajarkan oleh nenek-moyang adalah ajaran yang baik. Begitupun juga dengan tradisi bersih desa. Tradisi bersih desa mengajarkan kebersihan kepada masyarakatnya. Dibutuhkan tenaga para masyarakat untuk mewujudkan kampung yang bersih dan terhindar dari penyakit.
Dijelaskan di atas, bahwa selain keterlibatan fisik, di dalam tradisi bersih desa keterlibatan masyarakat berupa keterlibatan materi, misalnya uang dan barang. Keterlibatan berupa barang juga mendukung masyarakat dalam keterlibatan fisik,
“misalnya saja untuk para panitia pada saat melakukan rapat guna membahas pelaksanaan tradisi bersih desa, juga untuk para pekerja yang mempersiapkan segala sesuatunya, seperti menguras sumur dan tempat
pertunjukan atau panggung untuk pertunjukan wayang.”
(W/SN/14/5/2009)
Mengambil dari pernyataan di atas, contoh konkrit keterlibatan masyarakat selain menguras sumur oleh para laki-laki kampung adalah berupa tenaga untuk melakukan persiapan yaitu dengan melakukan rapat, membangun panggung guna pertunjukan wayang, dan tenda untuk keperluan kondangan.
Tenaga juga dibutuhkan dalam mengkoordinir iuran bagi masyarakat Jakarta. Panitia meminta bantuan kepada salah satu warga kampung yang berprofesi sebagai sopir bus, sebagaimana dinyatakan sebagai berikut
“biasanya jauh-jauh hari orang di Jakarta misalnya, sudah dikasih tahu kalau tanggal sekian bulan sekian akan diadakan tradisi bersih desa. Lalu
mereka menitipkan sejumlah uang kepada salah satu warga kampung yang bekerja sebagai sopir bus.” (W/SN/14/5/2009).
Bentuk keterlibatan fisik lain dalam mengkoordinir dana, sebagaimana dinyatakan oleh Bp ML berikut ini
“ya kalau saya, selain iuran sepuluh ribu saya juga setor tenaga mbak. Saya yang mencari donatur juga. Kebetulan saya punya teman yang punya
perusahaan, Alhamdulillah mereka mau membantu.” (W/ML/27/12/2009).
Iuran para warga di dalam tradisi bersih desa dikumpulkan kepada ketua RT masing-masing. Sehingga bisa dikatakan bahwa ketua RT tersebut secara otomatis juga terlibat dalam hal tenaga. Sebagaimana dinyatakan oleh Bp SN, di mana beliau selaku ketua RT 05. Banyak kendala yang dihadapi oleh bp SN, misalnya harus mendatangi rumah beberapa warga yang telat membayar.
Keterlibatan masyarakat di dalam tradisi bersih desa mutlak diperlukan, sala satunya adalah keterlibatan secara fisik bagi ibu-ibu kampong, sebagaimana dinyatakan berikut ini
“nggih mriki mbak engkang cedak-cedak tumut ewuh-ewuh. Misale kemawon, bu-ibu masak ndamel tumpeng kagem keperluan kondangan kalian syukuran massal sakwesipun reog sontenipun.” (ya di sini mbak yang dekat juga ikut membantu. Misalnya saja para ibu memasak membuat tumpeng untuk keperluan kondangan dan syukuran massal yang dilakukan setelah pertunjukan Reog pada sore harinya.
(W/ PRM/15/5/2009).
c. Keterlibatan Emosional dan Keterlibatan Mental
Pada dasarnya, tradisi bersih desa terselenggara karena kerjasama yang baik antar warga kampung yang masih tinggal di Bibis Kulon maupun yang telah pindah ke luar kota, misalnya Jakarta dan Semarang, serta pemerintah kota. Dalam prosesnya semua masyarakat ikut terlibat, seperti yang diungkapkan oleh
“tumut sedanten, ngantos engkang dateng jakarta nopo, sami setor yatra dititipne sopir bus.” (ikut semua, sampai yang di Jakarta juga, semua ikut
menyetorkan uang yang dititipkan kepada supir bus).”
(W/PRM/15/5/2009)
Semua warga ikut terlibat dengan kesadaran masing-masing tanpa harus ada yang memaksa. Semua saling gotong-royong, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu dan para pemuda kampung. Hal ini dikarenakan ikatan emosional di antara mereka yang disebabkan oleh rasa satu identitas, yaitu satu wilayah dengan satu kebudayaan.
Hal yang serupa juga diungkapkan oleh ibu MNK.
“setiap warga ikut terlibat dalam kegiatan tradisi bersih desa. Alasan yang mendasari adalah bahwa mereka bergerak atas kesadaran masing-masing, sehingga tidak ada suatu paksaan. Para warga bekerja tanpa mengharapkan bayaran, mereka secara ikhlas saling tolong-menolong demi berlangsungnya acara tradisi bersih desa ini setiap tahunnya.” (W/MNK/20/5/2009)
Para warga semua ikut terlibat tanpa terkecuali. Semua saling-tolong menolong satu sama lain. Bagi ibu MNK sendiri, melakukan tradisi bersih desa adalah suatu keharusan, meskipun tradisi tersebut bukanlah tradisi asli dari seseorang. Ibu MNK adalah warga pendatang di kampung ini, tetapi meskipun begitu, beliau selalu ikut terlibat dalam tradisi bersih desa. Dengan hidup berdampingan satu sama lain selama bertahun-tahun membuat para warga merasa satu ikatan persaudaraan yang dibesarkan dalam satu wilayah. Sehingga tradisi bersih desa tercipta atas dasar kekeluargaan masyarakat kampung untuk bahu-membahu meyelenggarakan tradisi tahunan ini.
“Dukungan diperoleh penuh dari semua masyarakat untuk terselenggaranya acara ini. Baik yang tua maupun yang muda, semua tahu kalau setiap tahun diadakan tradisi bersih desa, pokoknya hari kamis jum‟at kliwon, bulan Suro mereka sudah pasti bersiap-siap untuk tradisi bersih desa. Semua didasarkan atas kesadaran para warga masyarakat.
Tidak ada yang memaksa, jadi ya…semuanya langsung ikut terlibat.” (W/PRM/27/5/2009)
Bagi Bp PRM, tradisi bersih desa bisa bertahan karena adanyak kesadaran para warga masyarakat untuk tetap mempertahankan keberadaannya. Tanpa ada peran serta masyarakat, mustahil tradisi ini masih bisa dinikmati oleh generasi muda sekarang. Para warga masyarakat mencurahkan emosi dan mental yang besar untuk menyelenggarakan tradisi bersih desa. Dikatakan oleh ketua panitia
“saya akan melakukan apa saja mbak, untuk menyelenggarakan tradisi ini. Kalau dana kurang, kita buat proposal, terus di masukkan ke pengusaha-pengusaha relasi kita agar mereka ikut nyumbang. Ya capek, tapi itu kepuasan tersendiri. Pokoknya diusahakan agar bersih desa ini tidak mandheg saat itu, bagaimana caranya ya akan kita tempuh.” (W/JK/16/5/2009)
3. Dampak Tradisi Bersih Desa dalam Kehidupan Masyarakat Kampung