Keterlibatan pria didefinisikan sebagai partisipasi dalam proses pengambilan keputusan KB, pengetahuan pria tentang KB dan penggunaan kontrasepsi pria.46 Keterlibatan pria dalam KB diwujudkan melalui perannya berupa dukungan terhadap KB dan penggunaan alat kontrasepsi serta merencanakan jumlah keluarga. Untuk merealisasikan tujuan terciptanya Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.
Partisipasi pria dalam Keluarga Berencana adalah tanggung jawab pria dalam kesertaan ber-KB, serta berperilaku seksual yang sehat dan aman bagi dirinya, pasangan atau keluarganya. Dari beberapa literatur, dinyatakan bahwa keterlibatan pria dalam program KB dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. Penggunaan metode kontrasepsi pria merupakan satu bentuk partisipasi pria secara langsung, sedangkan keterlibatan pria secara tidak langsung misalnya pria memiliki sikap yang lebih positif dan membuat keputusan yag lebih baik berdasarkan sikap dan persepsi, serta pengetahuan yang dimilikinya.
Menurut BKKBN (2005), bentuk partisipasi pria dalam Keluarga Berencana dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, antara lain :
a) Partisipasi pria secara langsung adalah sebagai peserta KB
commit to user
Pria menggunakan salah satu cara atau metode pencegahan kehamilan, seperti :
1) Kontrasepsi kondom
Berdasarkan data yang telah ditemukan, ada 73 orang yang memakai kondom. Jumlah tersebut bedasarkan laporan yang peroleh P3AKB Kecamatan Mojogedang. Kemungkinan ada masyarakat yang enggan untuk melaporkan penggunaan alat kontrasepsi kondom karena malu atau dengan alasan lain. Karena alat kontrasepsi kondom mudah di dapat dan harganya terjangkau.
2) Vasektomi (kontap pria)
Berdasarkan data yang diperoleh, di Kecamatan Mojogedang yang menggunakan vasektomi/MOP sebagai alat KB hanya berjumlah 4 orang saja. Padahal jumlah penduduknya Mojogedang adalah 65.051 orang, dan jumlah laki-laki dan perempuan hampi sama yakni 32.515 orang laki-laki dan 32536 orang perempuan.
Partisipasi laki-lakinya dalam program KB sangat minim sekali.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Sakuntala, beliau mengatakan bahwa:
“Sebagai seorang laki-laki/ suami yang bertanggung jawab atas keluarganya, maka peran laki-laki dalam program KB sangatlah penting, karena hal tersbut dapat menambah keharmonisan rumah tangga. Untuk berpartisipasi dalam program KB tersebut dapat secara langsung maupun tidak langsung Kalau secara langsung itu misalnya ikut vasektomi atau MOP, atau bisa juga dengan memakai alat kontrasepsi kondom.” (Wawancara:
Kamis, 6 November 2014)
Selain itu beliau juga mengatakan:
“Partsisipasi laki-laki sangat diharapkan, malah di era sekarang ini sudah banyak peran aktif laki-laki untuk ber-KB dengan kontrasepsi kondom dan vasektomi.Untuk vasektomi di Mojogedang baru 4 orang dan dua orang diantaranya sudah usia lanjut.”(Wawancara: Kamis, 6 November 2014)
commit to user
Hal yang sama juga diungkapkan Ibu Karunia Eka, berikut petikan wawancaranya:
“Laki-laki atau suami mempunyai tanggung jawab yang besar dalam rumah tangga, karena mereka adalah kepala keluarga.
Untuk kaitannya dengan program KB, laki-laki juga mempunyai peran yang sangat penting. Karena Kb tidak hanya ditujukan pada perempuan tetapi juga laki-laki, maka seharusnya tidak melulu seorang perempuan yang harus ber-KB. Laki-laki juaga harus bisa berpartisipasi dalam pelaksanan KB, dapat secara langsung mauopun tidak langsung. Yang secara langsung itu seperti memakai kondom atau ikut vasektomi/MOP.”
(Wawancara: Senin, 10 November 2014)
Partsipasi laki-laki secara langsung memang masih sedkit di Kecamatan Mojogedang, yakni 73orang yang memakai kondom dan 4 orang yang hanya 4 orang saja. Jadi partisipasi laki-laki dalam program KB perlu ditingkatkan agar perempuan merasa tidak terbebani, dan kesetaraan gender dapat tercapai.
b) Partisipasi pria secara tidak langsung adalah:
1) Mendukung istri dalam ber-KB
Apabila disepakati istri yang akan ber-KB peran suami adalah mendukung dan memberikan kebebasan kepada istri untuk menggunakan kontrasepsi atau cara/metode KB. Dukungan tersebut meliputi :
(a) Memilih kontrasepsi yang cocok yaitu kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan dan kondisi istrinya
(b) Membantu istrinya dalam menggunakan kontrasepsi secara benar, seperti mengingatkan saat minum pil KB, dan mengingatkan istri untuk kontrol
(c) Membantu mencari pertolongan bila terjadi efek samping maupun komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi
(d) Mengantarkan istri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk kontrol atau rujukan
(e) Mencari alternatif lain bila kontrasepsi yang digunakan saat ini terbukti tidak memuaskan
commit to user
(f) Membantu menghitung waktu subur, apabila menggunakan metode pantang berkala
(g) Menggantikan pemakaian kontrasepsi bila keadaan kesehatan istri tidak memungkinkan.
2) Sebagai Motivator
Selain sebagai peserta KB, suami juga dapat berperan sebagai motivator, yang dapat berperan aktif memberikan motivasi kepada anggota keluarga atau saudaranya yang sudah berkeluarga dan masyarakat disekitarnya untuk menjadi peserta KB, dengan menggunakan salah satu kontrasepsi. Untuk memotivasi orang lain, maka seyogyanya dia sendiri harus sudah menjadi peserta KB, karena keteladanan sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang motivator yang baik.
3) Merencanakan Jumlah Anak
Merencanakan jumlah anak dalam keluarga perlu dibicarakan antara suami dan istri dengan mempertimbangkan kesehatan dan kemampuan untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak. Dalam kaitan ini suami perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan 4 terlalu, yaitu :
(a) Terlalu muda untuk hamil atau melahirkan (b) Terlalu tua untuk melahirkan
(c) Terlalu sering melahirkan
(d) Terlalu dekat jarak antara kehamilan sebelumnya dengan kehamilan berikutnya.
Merencanakan jumlah anak dalam keluarga dapat dilakukan dengan memperhatikan usia reproduksi istri, yaitu :
(a) Masa menunda kehamilan bagi pasangan yang istrinya berumur di bawah 20 tahun. Kontrasepsi yang digunakan harus bersifat : (1) Reversibilitas tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat
terjamin hampir 100%, karena pada masa ini peserta belum mempunyai anak.
commit to user
(2) Efektifitas tinggi, artinya tingkat kegagalan pada pemakaian alat kontrasepsi ini kecil sekali, kegagalan akan menyebabkan terjadinya kehamilan.
(3) Metode kontrasepsi yang sesuai adalah : kondom, cara atau metode KB alamiah, dan pil KB.
(b) Masa mengatur jarak kelahiran untuk usia istri 20-30 tahun (1) Penggunaan kontrasepsi dimaksudkan untuk mengatur jarak
kelahiran anak berikutnya. Pada masa ini diperlukan kontrasepsi yang mempunyai ciri, sebagai berikut :
a. Efektifitas tinggi
b. Reversibilitas tinggi karena peserta KB masih mengharapkan punya anak lagi
c. Dapat dipakai selama 3-4 tahun, yaitu sesuai dengan jarak kehamilan yang telah direncanakan
d. Tidak menghambat Air Susu Ibu (ASI) karena ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi sampai umur 2 tahun.
(2) Metode kontrasepsi yang sesuai adalah : IUD, Implant, Suntik KB, Kondom, Pil KB, Cara KB alamiah.
(c) Masa mengakhiri kehamilan untuk usia istri di atas 30 tahun Pada masa ini diperlukan penggunaan kontrasepsi yang bertujuan untuk mengakhiri kehamilan sehingga pasangan dapat memperpanjang tahun madu sampai wanita pasangannya mengakhiri masa reproduksi atau menopause. Sedangkan bagi pasangan yang istrinya berusia di atas 30 tahun yang ingin mempunyai anak harus mempersiapkan secara matang kehamilannya serta mempertimbangkan beberapa resiko yang mungkin dapat terjadi dalam kehamilan, antara lain kematian ibu dan bayinya.
(1) Pada masa ini diperlukan kontrasepsi yang mempunyai ciri sebagai berikut :
commit to user i. Efektifitas tinggi
ii. Dapat dipakai untuk jangka panjang
iii. Tidak membahayakan kesehatan, karena kelainan pada usia tua seperti penyakit jantung, darah tinggi, dan sebagainya. Oleh karena itu sebaiknya tidak diberikan kontrasepsi yang dapat membahayakan kesehatannya.
(2) Metode kontrasepsi yang disarankan adalah : kontrasepsi mantap (MOP atau MOW), IUD, Implant, Suntik KB, Pil KB, Kondom, Metode KB Alamiah.
Berdasarkan hasil wanwancara,menurut Ibu Sakuntala peran laki-laki/suami secara tidak langsung dalam pelaksanaan program KB yaitu:
“Untuk berpartisipasi dalam program KB tersebut dapat secara langsung maupun tidak langsung. Kalau yang tidak langsung yang misalnya mengantar istri untuk konsultasi ke dokter, mengingatkan jadwal ber-KB, mengingatkan minum pil KB, dan lain sebagainya.” (Wawancara: Kamis, 6 November 2014) Senada dengan pendapat Ibu Karunia Eka, berikut petikan wawancaranya:
“Sedangkan partisipasi laki-laki secara tidak langsung itu seperti mendukung istri dalam ber-KB, memberi semangat, berembug dengan istri untuk membantu memilih KB yang cocok, tidak memaksakan kehendak, mengahargai pendapat istri, mengatar konsultasi ke dokter, dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab seorang suami kepada istri dan keluarganya.” (Wawancara: Senin, 10 November 2014) Berdasarkan pendapat di atas, partisipasi laki-laki dalam program KB tidak hanya dilakukan secara langsung seperti memakai kondom atau vasektomi/Mop. Tetapi juga dapat dilakukan secara tidak langsung, seperti mendukung istri dalam berKB, mengantar istri ke konsultasi ke dokter, sebagai motivator, membantu mengatur jarak anak, dan masih banyak lagi perhatian yang bisa dilakukan laki-laki guna berpartisipasi dalam program KB.
commit to user