• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. DISKRIPSI LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. DISKRIPSI LOKASI PENELITIAN"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

67 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. DISKRIPSI LOKASI PENELITIAN

1. Gambaran Umum Kecamatan Mojogedang

a. Letak Geografis dan Luas Wilayah Kecamatan Mojogedang

Kecamatan Mojogedang merupakan salah satu dari 17 kecamatan yang berada di Kabupaten Karanganyar dengan luas wilayah 53,31 km2.

Kecamatan ini terdiri dari 13 desa, 83 dusun, 159 RW dan 467 RT. Jarak Kecamatan Mojogedang ke ibukota kabupaten adalah 12 km. Batas-batas wilayah Kecamatan Mojogedang adalah sebagai berikut:

1) Sebelah Utara : Kabupaten Sragen

2) Sebelah Selatan : Kecamatan Karanganyar dan Kecamatan Karangpandan

3) Sebelah Barat : Kecamatan Tasikmadu

4) Sebelah Timur : Kecamatan Ngargoyoso dan Kecamatan Karangpandan

Gambar 4.1 : Peta Administrasi Kecamatan Mojogedang

(2)

commit to user

Wilayah Kecamatan Mojogedang berada pada ketinggian 380 m di atas permukaan laut. Jumlah hari hujan di Kecamatan Mojogedang adalah 84 HH dengan curah hujan sebesar 2.590 mm/tahun. Luas tanah Kecamatan Mojogedang adalah 5.330,8955 Ha yang terdiri dari tanah litosol dan mediteran coklat. Potensi luas suatu lahan dapat memberikan manfaat dengsn adanya tata guna lahan. Adapun pembagian tat guna lahan adalah sebagai berikut:

1. Tanah Sawah : 2.026,80 Ha 2. Tanah Kering : 2.928,63 Ha a. Bangunan/Pekarangan : 2.047,42 Ha b. Kebun Tegalan : 856,35 Ha c. Padang Gembala : 23,50 Ha d. Tambak/Kolam : 1,35 Ha 3. Lain-lain : 375,45 Ha a. Perkebunan : 254,31 Ha b. Lainnya : 121,12 Ha

Berdasarkan rincian luas tanah di Kecamatan Mojogedang tersebut dapat di ketahui bahwa luas tanah yang di gunakan sebagai lahan pertanian sangat luas (tanah sawah, kebun tegalan, perkebunan) yaitu sekitar 3.137,46 Ha. Hal tersebut sesuai dengan mata pencaharian utama penduduk di Kecamatan Mojogedang yang kebanyakan yaitu bermata pencaharian sebagai petani.

Adapun Desa/Kelurahan yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Mojogedang yaitu antara lain:

Tabel 4.1 : Jumlah Desa/ Kelurahan. Dusun, RT dan RW di Kecamatan Mojogedang

No Desa/Kelurahan Dusun RT RW

1. Mojogedang 7 9 33

2. Sewurejo 10 11 33

3. Ngadirejo 11 11 35

4. Pendem 6 10 36

(3)

commit to user

5. Pojok 6 11 40

6. Mojoroto 3 5 14

7. Gentungan 5 11 43

8. Gebyog 6 11 45

9. Pereng 7 11 36

10. Munggur 4 9 38

11. Kedung Jeruk 6 11 47

12. Buntar 4 9 25

13. Kaliboto 8 10 42

Jumlah 83 124 467

Sumber: Data Institut Masyarakat Kec. Mojogedang Tahun 2013

Berdasarkan tabel di atas, Jumlah Desa/ Kelurahan di Kecamatan Mojogedang terbagi dari 13 Desa, 83 Dusun, 124 RT dan 467 RW. Desa Ngadirejo merupakan desan yang memilki julmah dusun terbanyak yaitu 11 dusun, dan Desa Mojoroto yang dusunnya paling sedikit yaitu sebanyak 3 dusun.

b. Keadaan Penduduk Kecamatan Mojogedang

Keadaan penduduk di suatu wilayah dapat menggambarkan keadaan sosial ekonomi penduduk. Berikut merupakan keadaan penduduk di Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar:

1) Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Jumlah penduduk akan berpengaruh terhadap kepadatan penduduk per luasan wilayah tertentu. Jumlah penduduk Kecamatan Mojogedang yaitu 65.051 jiwa dengan luas wilayahnya yaitu 5.330,8955 Ha atau setara dengan 53,31 km2. Dari data jumlah penduduk dan luas wilayah Kecamatan Mojogedang, maka jumlah kepadatan penduduk Kecamatan Mojogedang yaitu 1.216 jiwa/Km2. Hal tersebut berarti setiap 1 Km2 Kecamatan Mojogedang terdapat penduduk 1.216 jiwa.

2) Keadaaan Penduduk menurut Umur dan Jenis Kelamin

Keadaan penduduk menurut jenis kelamin dapat digunakan untuk menghitung sex ratio atau perbandingan jumlah penduduk laki-

(4)

commit to user

laki dan perempuan. Adapun data keadaan penduduk di Kecamatan Mojogedang adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Keadaan Penduduk Kecamatan Mojogedang menurut Umur dan Jenis Kelamin

No Umur

(tahun)

Laki-laki (orang)

Perempuan (orang)

Jumlah (orang)

Presentase

%

1 0-4 5.656 2.561 5.217 8,01

2 5-9 2.809 2.727 5.536 8,50

3 10-14 2.696 2.899 5.868 9,02

4 15-19 3.105 3.049 6.154 9,46

5 20-24 2.913 2.870 5.783 8,88

6 25-29 2.722 2,691 5.413 8,32

7 30-34 2.507 2.482 4.989 7,66

8 35-39 2.299 2.281 4.580 7,04

9 40-44 2.061 2,050 4.111 6,31

10 45-49 1.808 1.802 3.610 5,54

11 50-54 1.541 1.553 3.094 4,75

12 55-59 1.327 1.360 2.687 4,13

13 60-64 1.161 1.214 2.375 3,65

14 65-69 1.008 1.087 2.095 3,22

15 70-74 849 966 1.815 2,79

16 75+ 780 944 1.724 2,65

Jumlah 32.515 32.536 65.051 100 Sumber: Kecamatan Mojogedang dalam Angka 2009

Berdasarkan Tabel 4.1 di atas, jumlah usia produktif yaitu penduduk dengan kelompok usia 15-64 tahun adalah 42.796 jiwa, sedangkan usia non produktif yaitu penduduk dengan kelompok usia 0- 14 dan 65 tahun ke atas sebesar 22.255 jiwa.

(5)

commit to user

3) Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Mata pencaharian dapat menetukan keadaan ekonomi dan kesejahteraan seseorang karena pendapatan yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penduduk di Kecamatan Mojogedang bekerja di berbagai sektor. Berikut merupakan keadaan penduduk Kecamatan Mojogedang menurut mata pencaharian:

Tabel: 4.3 Keadaan Penduduk menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Mojogedang

No. Mata Pencaharian Jumlah (orang) Presentase (%)

1 Petani 20.945 38,57

2 Pengusaha 758 1,40

3 Buruh Industri 6.136 11,30

4 Buruh Bangunan 5.218 9,61

5 Pedagang 3.987 7,34

6 Pengankutan 518 0,95

7 PNS/TNI/POLRI 962 1,77

8 Pensiunan 366 0,67

9 Lain-lain 15.408 28,38

Jumlah 54.298 100

Sumber: Kecamatan Mojogedang dalam Angka 2009

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk di Kecamatan Mojogedang bekerja di sektor pertanian yaitu sebesar 38,57 persen. Banyaknya penduduk yang bekerja di sektor pertanian menunjukkan bahwa sumber daya alam setempat mendukung pelaksanaan kegiatan usahatani. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian penduduk.

Selain bekerja di sektor pertanian, penduduk di Kecamatan Mojogedang bekerja sebagai buruh industri yaitu sebesar 11,30 persen, buruh bangunan sebesar 9,61 persen, pedagang sebesar 7,3 persen, PNS/TNI/POLRI sebesar 1,77 persen, pengusaha sebesar 1,40 persen,

(6)

commit to user

bidang pengangkutan sebesar 0, 95 persen pensiunan sebesar 0,67 persen dan sisanya bekerja di sektor lainnya.

4) Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Pendidikan Tingkat pendidikan penduduk menunjukkan kualitas seseorang. Apabila diketahui tingkat pendidikan penduduk maka dapat diketahui kemampuan penduduk dalam menyerap berbagai pengetahuan.

Hal ini dapat juga dugunakan untuk mengetahui potensi penduduk secara umum. Tingginya pendidikan juga dapat berpengaruh terhadap adopsi terhadap suatu inovasi karena pada umumnya orang yang berpendidikan tinggi akan lebih terbuka terhadap perubahan. Keadaan penduduk menurut tingkat pendidikan di Kecamatan Mojogedang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4 Keadaan Penduduk menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Mojogedang

No. Jenjang Pendidikan Jumlah (orang)

Presentase (%)

1 Tidak/belum sekolah 4.739 7,92

2 Belum tamat SD 6.555 10,96

3 Tidak tamat SD 9.247 15,45

4 Tamat SD 21.324 35,64

5 Tamat SLTP 10.147 16,96

6 Tamat SLTA 6.731 11,25

7 Tamat Akademi/ Perguruan

Tinggi 1.091 1,82

Jumlah 59.834 100

Sumber: Kecamatan Mojogedang dalam Angka 2009

Kriteria pendidikan rendah, jika penduduk yang tamat SD ke atas kurang dari 30 persen. Kriteria pendidikan sedang, jika penduduk yang tamat SD ke atas antara 30 sampai dengan 60 persen, dan pendidikan tinggi jika penduduk yang tamat SD ke atas lebih dari 60

(7)

commit to user

persen. Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa kebanyakan penduduk di Kecamatan Mojogedang sudah tamat SD, yaitu sebesar 35,64 persen. Selanjutnya sebanyak 16,96 persen penduduk tamat SLTP, tidak tamat SD sebesar 15,45 persen, tamat SLTA sebesar 11,25 persen, belum tamat SD sebesar 10,96 persen, tidak/belum bersekolah sebesar 7,92 persen dan tamat akademi/Perguruan Tinggi sebesar 1,82 persen.

Berdasarkan data-data tersebut dapat diketahui bahwa sebanyak 65,67 persen penduduk berpendidikan SD ke atas sehingga pendidikan di Kecamatan Mojogedang tergolong tinggi.

2. Gambaran Umum Program Keluarga Berencana di Kecamatan Mojogedang

Program Keluarga Berencana merupakan program nasional yang diselenggarakan pemerintah untuk mengatur angka kelahiran dan mengatasi berbagi masalah kependudukan lainnya yang dijalankan sesuai UU Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan.

Program KB tersebut ditujukan untuk semua pasangan suami istri yang ingin menjaga jarak kelahiran anaknya ataupun yang sudah tidak ingin mempunyai anak lagi. Seperti yang dinyatakan oleh ibu Sakuntala

“Yang dimaksud program KB adalah Program yang ditujukan kepada keluarga Indonesia untuk mengatasi kelahiran dengan wawasan kependudukan dengan tujuan mensejahterakan masyarakat, meningkatkan pembangunan keluarga berencana dan keluarga sejahtera baik secara fisik maupun non fisik. Kebijakan kependudukan merupakan bagian integral dari pembangunan secara keseluruhan, karenanya pembangunan kependudukan dan KB merupakan program lintas sektoral yang perlu mendapatkan dukungan dan komitmen yang luas dari stakeholder. Pelaksanaan program KB mengacu pada UU No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Yang ditangani pihak UPT P3AKB tidak hanya mengenai KB saja tetapi juga kependudukannya. Antara lain seperti; membantu calon atau pasangan suami istri dalam mengambil keutusan dan mewujudkan hak reproduksi secara bertanggung jawab tentang usia ideal perkawinan, usia ideal untuk melahirkan jumlah anak, jarak ideal kelahiran anak dan penyuluhan kesehatan reproduksi.

(Wawancara: Kamis, 6 November 2014)”

(8)

commit to user

Program Keluarga Berencana Nasional dalam mengendalikan tingkat kelahiran memalaiu upaya memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan KB.

Upaya tersebut diprioritaskan bagi keluarga miskin dan rentan serta daerah terpencil yang sulit dijangkau dengan pelayanan atau ada daerah teringgal.secara bersamaan dilakukan peningkatan kualitas kesehatan reproduksi remaja dalam rangka pengingkatan kualitas kesehatan remaja dalam ranhka menyiapkan kehidupan keluarga yang baik, termasuk dalam rangka pendewasaan usia perkawinan pertama melalui upaya-upaya peningkatan pemahaman dan peningkatan derajat kesehatan reproduksi remaja. Selain itu juga dilakukan upaya program ketahanan keluarga dalam kemampuan pengasuhan dan penumbuh kembangan anak, pengingkatan pendapatan keluarga sejahtera I (keluarga miskin), peningkatan kualitas lingkungan keluarga dan memperkuat kelembagaan dan jejaring pelayanan KB bekerja sama dengan masyarakat luas.

Di Kecamatan Mojogedang ini sudah cukup bagus untuk partisipasinya dalam menggunakan KB. Walaupun lebih dari 95% peserta KB- nya adalah perempuan, tetapi di masyarakat masih banyak yang percaya jika banyak anak banyak rejeki, sehingga mereka enggan untuk melakukan KB.

Disitulah tugas para petugas KB untuk melakukan penyuluhan dan pendekatan kepada masyarakat agar mereka bersedia untuk ber-KB. Para petugas KB biasanya mengadakan penyuluhan atau pertemuan tiap bulannya di kelurahan.

Dalam pertemuan tersebut tidak hanya membahas mengenai KB tetapi juga permasalahan kependudukan lainnya. Namun, karena kesadaran masyarakat masih rendah, jadi yang datang ke penyuluhan tersebut hanya sedikit orang saja. Seperti yang diungkapkan ibu Sakuntala:

“Sebenarnya setiap bulan sudah diadakan pertemuan di kelurahan, kita mendatangkan tenaga medis untuk memberikan penyuluhan, ya tapi karena kesadarannya masih kurang jadi yang datang cuma sedikit.

Program KB akan berhasil apabila ada dukungan dari berbagai pihak seperti; lintas sektoral, lembaga-lembaga yang ada dan masyarakat itu sendiri. Kendala dan hambatan banyak yang terjadi, seperti:

masyarakat masih enggan memahami arti pentingnya Program KB dan Kependudukan, istilah banyak anak banyak rejeki masih di minati, pemakaian alat kontrasepsi jangka panjang masih belum diminati

(9)

commit to user

karena dianggap menakutkan, dan minimnya petugas KB sebagai penyambung masyarakat. Untuk mengatasi kendala dan hambatan tersebut yaitu melalui pendekatan secara persuasif dengan kerterbatasan kemampuan yang ada. (Wawancara: Kamis, 6 November 2014)”

Jadi permasalahan utama dari rendahnya partisipasi dalam ber-KB adalah kesadaran masyarakat itu sendiri yang masih rendah. Sehingga perlu ditingkatkan lagi penyuluhan tentang KB, dan melakukan pendekatan pada masyarakatnya, sehingga kesadaran masyarakat akan meningkat begitu pula dengan partispasi dalam KB tersebut juga akan terus meningkat.

B. DISKRIPSI TEMUAN PENELITIAN

Penelitian yang di kaji oleh penulis dalam penelitian ini adalah partisipasi laki-laki terhadap Program Keluarga Berencana (KB) dalam rangka kesetaraan gender di Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar. Di Indonesia dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 H ayat 1 diatur mengenai Hak atas jaminan kesehatan yang berbunyi, “ setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Selain itu juga pada Pasal 28 I ayat 2,

“setiap orang berhak dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif”.

Ketentuan lebih lanjut mengenai program Keluarga Berencana diatur dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 yang menyebutkan bahwa pembangunan keluarga berdasarkan prinsip keadilan dan kesertaraan gender.

Menurut Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009, Keluarga Berencana merupakan upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Pengaturan kehamilan adalah upaya untuk membantu pasangan suami istri untuk melahirkan

(10)

commit to user

pada usia yang ideal, memiliki jumlah anak, dan mengatur jarak kelahiran anak yang ideal dengan menggunakan cara, alat dan obat kontrasepsi.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga berencana dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan, salah satunya yaitu prinsip keadilan dan kesertaraan gender. Untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas, pemerintah menetapkan kebijakan keluarga berencana melalui program keluarga berencana. Kebijakan tersebut dilaksanakan untuk membantu calon atau pasangan suami istri dalam mengambil keputusan dan mewujudkan hak reproduksinya secara bertanggung jawab tentang usia ideal perkawinan, usia untuk melahirkan, jumlah ideal anak, jarak ideal kelahiran anak dan penyuluhan kesehatan reproduksi.

Kebijakan keluarga berencana sesuai dengan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 pasal 21 ayat 2 yaitu bertujuan untuk:

a. Mengatur kehamilan yang diinginkan

b. Menjaga kesehatan dan menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak

c. Meningkatkan akses dan kualitas informasi, pendidikan, konseling, dan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi,

d. Meningkatkan partisipasi dan kesetaraan pria dalam praktek-praktek keluarga berencana

e. Mempromosikan penyusunan bayi sebagai upaya untuk menjarangkan jarak kehamilan.

Selain itu, dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 Pasal 25 ayat (1) menyatakan bahwa:

“Suami dan/atau istri mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dalam melaksanakan keluarga berencana”.

Berdasarkan hal tersebut di atas, meningkatkan partisipasi dan kesetaraan pria dalam praktek-praktek KB merupakan salah satu tujuan dari program keluarga berencana. Tujuan tersebut sampai saat ini masih belum terpenuhi, karena sampai saat ini partisipasi laki-laki dalam program keluarga berencana masih sangat rendah. Pada prakteknya, program keluarga berencana di dominasi oleh peserta perempuan atau istri, karena masyarakat beranggapan bahwa KB

(11)

commit to user

adalah urusan perempuan. Padahal sebenarnya urusan KB merupakan tanggung jawab suami istri, bukan salah satu pihak saja.

Terkait partisipasi laki-laki dalam program KB, di Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar merupakan kecamatan yang tingkat partispasi laki-laki dalam program keluarga berencana masih sangat rendah.

Seperti yang di ungkangkan Ibu Sakuntala selaku Ka. UPT P3AKB Kecamatan Mojogedang

“Mayoritas peserta KB-nya adalah perempuan, karena reproduksi wanita yang lebih banyak menerima pemakaian alat kontrasepsi, sedangkan untuk laku-laki masih sangat rendah. Partsisipasi laki-laki sangat diharapkan, malah di era sekarang ini sudah banyak peran aktif laki-laki untuk ber-KB dengan kontrasepsi kondom dan vasektomi. Untuk vasektomi di Mojogedang baru 4 orang dan dua orang diantaranya sudah usia lanjut. (Wawancara: Kamis, 6 November 2014)”

Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti ingin membahas lebih mendalam mengenai partisipasi laki-laki terhadap Program Keluarga Berencana (KB) dalam rangka kesetaraan gender. Maka dari itu untuk memopermudah pengkajian permasalahan, maka penulis memilih data yang benar-benar dapat dipakai dalam memecahkan permasalahan, sehingga data-data tersebut dapat menjawab rumusan masalah yang ditentukan. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini menganai beberapa aspek yaitu;

3. Rendahnya partisipasi laki-laki terhadap Program Keluarga Berencana (KB) dalam rangka kesetaraan gender di kecamatan Mojogedang

4. Bentuk partisipasi laki-laki terhadap Program Keluarga Berencana dalam rangka kesetaraan gender di kecamatan Mojogedang

(12)

commit to user

1. Rendahnya partisipasi laki-laki terhadap Program Keluarga Berencana (KB) dalam rangka kesetaraan gender di Kecamatan Mojogedang

a. Partisipasi Laki-laki dan sarana Pelayanan KB 1) Partisipasi Laki-laki dalam Program KB

Masyarakat merupakan sasaran atau obyek dari pelaksanaan Program KB, sehingga partisipasi masyarakat sangatlah penting.

Jika partisipasi masyarakat tinggi, maka dapat dikatakan bahwa program KB tersebut berhasil dan berjalan dengan baik. Tetapi jika partisipasi masyarakatnya rendah, maka program tersebut kurang berhasil atau tidak berjalan dengan baik. Program KB merupakan program yang bertujuan untuk mengatur dan membatasi angka kelahiran anak, mengatur jarak kelahiran serta untuk mengurangi jumlah kepadatan penduduk, sehingga laju pertumbuhan bisa diatur dengan baik.

Dalam usaha untuk meningkatkan pemeriksaan gerakan Keluarga Berencana Nasional peranan laki-laki sebenarnya sangatlah penting dan menentukan. Sebagai kepala keluarga, laki- laki merupakan tulang punggung keluarga dan selalu terlibat untuk mengambil keputusan tentang kesejahteraan keluarga, termasuk untuk menentukan jumlah anak yang diinginkan. Berikut ini adalah data partisipasi laki-laki yang ada di Kabupaten Karanganyar:

Tabel 4.5 : Hasil Pembinaan KB Aktif Kabupaten Karanganyar sampai Bulan September 2014

No Kecamatan Total

PA PUS PA PRIA %

PA PRIA MOP Kondom Jml

1 Jatipuro 6.137 7.217 3 96 99 1,61

2 Jatiyoso 7.634 9.251 18 81 99 1,30

3 Jumapolo 7.489 9.417 2 76 78 1.04

4 Jumantono 8.464 10.556 7 111 118 1,39

(13)

commit to user

5 Matesih 6.242 7.676 44 134 178 2,85

6 Tawangmangu 7.359 9.127 67 124 191 2,60

7 Ngargoyoso 6.014 7.571 84 94 178 2,96

8 Karangpandan 6.344 7.888 217 74 291 4,59

9 Karanganyar 11.629 14.358 31 464 495 4,26

10 Tasikmadu 8.333 10.491 2 289 291 3,49

11 Jaten 11.765 14.304 43 851 894 7,60

12 Colomadu 9.728 11.794 24 250 274 2,82

13 Gondangrejo 11.233 13.754 28 345 373 3.32

14 Kebakkramat 9.294 11.455 2 115 117 1,26

15 Mojogedang 9.906 12.142 4 73 77 0,78

16 Kerjo 5.684 7.093 3 36 39 0,69

17 Jenawi 4.698 5.821 190 63 253 5,39

Jumlah 137.953 169.915 769 3.276 4.045 2,93 Sumber: BP3AKB Bulan September 2014

Berdasarkan data di atas, masyarakat Mojogedang yang mengikuti program KB sudah cukup banyak, tetapi partisipasi laki- lakinya masih sangat sedikit yakni hanya 0,78% dari jumlah PUS (Pasangan Usia Subur). Jumlah peserta KB laki-laki hanya 77 orang di Kecamatan Mojogedang ini, yaitu 4 orang yang melakukan MOP (Metode Operasional Pria) dan 73 orang yang memakai kondom.

Partisipasi masyarakat sangatlah penting, program KB ditujukan untuk seluruh penduduk di Indonesia baik perempuan maupun laki-laki. Tetapi pada kenyataannnya, peserta KB di dominasi oleh perempuan karena masyarakat beranggapan bahwa KB merupakan tanggung jawab perempuan. Sebenarnya laki-laki juga bisa untuk melakukan KB, bukan hanya untuk pada perempuan saja. Berikut ini jumlah peserta KB baru sampai bulan september 2014 di Kecamatan Mojogedang:

(14)

commit to user

Tabel 4.6 Pelayanan Peserta KB Baru Kecamatan Mojogedang Sampai Bulan September 2014

No Alat Kontrasepsi Jumlah Presentase (%)

1 IUD 140 12,20

2 MOW 5 0,43

3 MOP 0 0

4 Kondom 14 1,22

5 Implant 136 11,85

6 Suntik 584 50,91

7 PIL 268 23,36

Jumlah 1.147 100

Sumber: Laporan Analisa Hasil Program KKB Bulan September 2014 Berdasarkan tabel di atas, dapat terlihat bahwa alat kontrasepsi suntik masih sangat diminati oleh peserta KB baru di Kecamatan Mojogedang. Selanjutnya alat kontrasepsi pil kB, kemudian IUD, implant, kondom, MOW dan MOP.peserta KB tersebut di dominasi oleh perempuan, partisipasi laki-laki masih sangat sedikit sekali. Terbukti pada pemakaian alat kontrasepsi kondom yang jumlahnya 14 orang dan MOP jumlahnya 0 atau tidak ada.

Persediaan alat kontrasespsi untuk Kecamatan Mojogedang masih banyak, rinciannya yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.7 Persediaan Alat Kontrasepsi Di KKB Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar Sampai Bulan September 2014

No. Jenis Alat Kontrasepsi

Sisa akhir bulan lalu

Diterima bulan ini

Dikeluarkan bulan ini

Sisa akhir bulan ini

1 IUD 72 2 6 68

2 Kondom 46 0 26 20

3 Implant 37 11 10 38

4 Suntikan 279 0 149 130

5 PIL 321 0 72 249

Sumber: Laporan Analisa Hasil Program KKB Bulan September 2014

(15)

commit to user

Berdasarkan data di atas, pengeluaran alat konrasepsi tertinggi yaitu pada alat kontrasepsi suntik dengan jumlah 149, kemudian diikuti pil KB dengan jumlah 72, kondom 26, implant 10 dan IUD 6. Sedangkan sisa sampai akhir bulan september 2014 yaitu untuk IUD 68, kondom 20, implant 38, suntikan 130, dan pil 249.

Dalam pelaksanaan program KB di Kecamatan Mojogedang, terdapat institut-institut yang dibentuk dan mempunyai tugas masing-masing, yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.8 Keadaan Institut Kecamatan Mojogedang sampai Bulan September 2014

No. Institut Jumlah

1 Ka. UPT BP3AKB 1

2 PLKB/PKB 4

3 Desa/ Kelurahan 13

4 PPKBD 13

5 Sub. PPKBD 131

6 KELP. KB 467

7 KELP. BKB 35

8 KELP. BKR 8

9 KELP. BKL 34

10 KELP. UPPKS 22

11 Jumlah PIK Remaja 1

12 Klp Priyo Utomo 0

Sumber: Laporan Analisa Hasil Program KKB Bulan September 2014 Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa di Kecamatan Mojogedang hanya ada 4 orang PLKB/PKB saja, sedangkan Kecamatan Mojogedang terbagi atas 13 Desa/Kelurahan. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih kurangnya tenaga PLKB di Kecamatan Mojogedang, sehingga berpengaruh terhadap pelaksanaan program KB tersebut terutama untuk laki-laki. Selain itu, pencapaian peserta KB laki-laki terhadap pencapaian target juga rendah, yaitu dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

(16)

commit to user

Tabel 4.9 Pelayanan Peserta KB Baru Pria terhadap Target PB Pria Kecamatan Mojogedang sampai bulan September 2014

No. Jenis Alat Kontrasepsi Pria

Target PB Pria

Pencapaian PB Pria terhadap Target

Total PB s/d

September

% PB Pria thd PB s/d September Jumlah %

1 Kondom 54 14 25,93

2 MOP 5 - 0,00

Jumlah 59 14 23,73 1.147 1,22 Sumber: Laporan Analisa Hasil Program KKB Bulan September 2014

Berdasarkan tabel tersebut di atas, dapat dilihat bahwa target peserta KB laki-laki di Kecamatan Mojogedang sebanyak 59 orang, 54 untuk kondom dan 5 untuk laki laki. Sedangkan pencapaian targetnya hanya 14 orang untuk pemakaian kondom dan 0 untuk MOP. Sehingga hanya 23,73% pencapain peserta KB laki-laki terhadap target yang ditentukan. Untuk pencapaian dari total peserta KB sampai dengan bulan September 2014 yaitu 1.147 hanya 1,22%

yang tercapai.

2) Mekanisme Pelayanan KB bagi Laki-laki

Aspek konseling dalam KB sangatlah penting, khususnya unruk kontrasepsi MOP, maka seorang penyuluh atau konselor harus memiliki kualifikasi personal terhadap aspek-aspek, sikap kemampuan konseling dan engetahuan terhadapa KB dan kesehatan reproduksi. Adapun sikap dan kemampuan yang harus dimiliki, yaitu sebagai berikut:

a) Sikap, seorang penyuluh harus bersikap: terbuka, respek terhadap klien, tidak mebeda-bedakan klien, ramah, sabar, tidak menilai (non judgement), mau belajar, dan mempunyai keingungan untuk membantu

b) Kemampuan, kemampuan yang dimaksud yaitu:

(1) Kemampuan komunikasi verbal, yang meliputi:

kemampuan menggunakan kata-kata yang ringkas dan

(17)

commit to user

mudah dimengerti, cara berbicara yang tidak bertele-tele, tidak banyak menggunakan bahasa teknis medis, dan mampu memilih kata-kata yang tidak menyinggung klien.

(2) Kemampuan komunikasi non verbal, meliputi: bersikap ramah, menatap klien ketika berbicaca, sikap tubuh sedikit condong ke depan ketika berbicara dengan klien, tersenyum, serta memberi dorongan klien untuk mengemukakan keluhannya dengan mengangguk atau berkomentar.

(3) Kemampuan menjadi pendengar yang baik, seperti tidak menantang pembicaraan klien, tidak melakukan kesibukan lain ketika berbicara, bertanya disana-sini untuk memastikan penyataan klien, mengangguk, dan memberi dorongan dengan kata-kata.

c) Pengetahuan

Pengatahuan disini yaitu tentang perkembangan alat-alat reproduksi, proses kehamilan, metode kontrasespsi, aborsi dana bahayanya, penyebab infertilitas dan pengobatannya, seksualitas yang aman dan sehat, PMS dan HIV/AIDS serta tentang kesetaraan gender.

Berbagai aspek di atas harus dimiliki oleh semua Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) di lapangan dari berbagai kategori ataupun jabatan yang dimiliki. Kemudian mengenai mekanisme pelayanan KB untuk laki-laki, terdapat pelakuan yang berbeda antara pengguan alat kontrasepsi kondom dan MOP, yaitu sebagai berikut:

a) Kondom

Untuk jenis kontrasepsi ini, petugas memberi penyuluhan atau konseling sebelum pemakaian tentang kelebihan daa kekurangan jenis kontrasepsi ini,cara penggunaan yang benar, serta cara mendapatkan dan tempat

(18)

commit to user

memperolehnya. Kemudian bersedia sebagai tempat konsultasi bila setelah penggunaan alat kontrasepsi ini terjadi keluhan.

b) Vasektomi atau Medis Operasi Pria (MOP)

Melalui penyuluhan kelompok maupun kunjungan rumah yang dilakukan oleh petugas, diperoleh data awal atau identifikasi keinginan kontrasepsi yang dibutuhkan masyarakat.

Kemudian atas dasar data di atas perlu kunjungan rumah pra pelayanan MOP untuk memastikan keputusan pilihan kontrasepsi MOP yang dimaksud, dalam hal ini klien harus menandatangani kartu persetujuan pelayanan yang berisi tentang kesadaran menggunakan MOP atas dasar kesukarelaan tanpa paksaan oleh siapapun, serta anamnese awal, sekaligus menginformasikan hari pelayanan yang ditemukan.

Pada saat hari pelayanan petugas akan mendampingi sampai tempat pelayanan. Sebagaimana prosedur dan standar pelayanan operasi pada bidang kesehatan yang lain, klien juga harus menantangani kartu medis yang berisi hasil pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh serta persetujuan tindakan operasi serta sekaligus menandatangani kartu peserta KB, baru dilakukan tindakan operasi. Setelah melakukan operasi, klien akan mendapatkan obat serta 12 sampai 15 kondom yang digunakan untuk berhubungan seksual. Pada pasca pelayanan ini petugas KB akan memberikan bimbingan petunjuk manakala terjadi efek samping maupun gangguan lain yang ditimbulkan akibat operasi serta merujuknya ke Pusekesmas manakala tidak bisa ditangani di tempat.

b. Penyebab Rendahnya Partisipasi Laki-Laki dalam Program Keluarga Berencana

Dalam pelaksanan Program KB di Kecamatan Mojogedang, ada beberapa sebab yang mempengaruhi partisipasi masyarakat terhadap

(19)

commit to user

program KB tersebut terutama laki-laki. Partisipasi laki-laki di Kecamatan Mojogedang masih sangat rendah, hal tersebut karena beberapa alasan, diantaranya yaitu:

1) Kurangnya kesadaran laki-laki untuk ikut serta dalam Program KB dan Kesehatan Reproduksi

Kesadaran masyarakat sangatlah penting, mengingat hal tersebut merupakan masalah utama progam KB. Jika masyarakat sadar akan pentingnya Program KB, maka secara otomatis tingkat partisipasi masyarakat akan meningkat khususnya terhadap laki- laki. Menurut ibu Karunia Eka, masyoritas pesertanya masih perempuan, berikut petikan wawancanya:

“Para laki-laki masih percaya mitos jika memakai alat kontrasepsi akan mengurangi gairah mereka. Sehingga jika tidak terpaksa sekali karena istri tidak bisa melakukan KB maka mereka baru akan bersedia untuk ber-KB. Selain itu peserta yang datang saat penyuluhan juga kebanyakan adalah perempuan, jadi sulit untuk mengajak laki-laki.”

(Wawancara, Senin 10 November 2014) Sedangkan menurut Ibu Rumiyatun:

“untuk peserta KB sampai sekarang ini sudah banyak yang mengikuti ya mbak, masyarakat sudah sadar jika KB itu perlu dilakukan, tetapi hampir semua peserta KB-nya adalah perempuan, laki-laki hampir tidak ada.”

(Wawancara, Sabtu 15 November 2014)

Ibu Sakuntala juga berpendapat sama dengan Ibu Eka dan Ibu Rumiyatun, sebagai berikut:

“Mayoritas peserta KB-nya adalah perempuan, karena reproduksi wanita yang lebih banyak menerima pemakaian alat kontrasepsi, sedangkan untuk laki-laki masih sangat rendah.” (Wawancara, 6 November 2014)

Selain hal tersebut diatas, berdasarkan tabel 4.5 tentang pelayanan peserta KB baru di Kecamatan Mojogedang sampai bulan september 2014 menunjukkan bahwa, alat KB yang paling diminati adalah KB suntik yaitu 50,91%, lalu PIL KB 23,36%, IUD

(20)

commit to user

12,20%, Implant 11,85%, MOW 0,43%, sedangkan untuk KB laki- laki hanya 1,22% untuk kondom dan 0 % untuk MOP.

Masyarakat terutama para suami urang memperhatikan kesehatan istri mereka yang memakai alat KB. Ada beberapa dampak yang ditimbulkan dari alat KB yang digunakan, seperti pusing, mual, menstruasi tidak teratur, bahkan hingga pendarahan.

Para suami kadang-kadang kurang memperdulikan hal tersebut, sehingga perempuan menjadi korbannya. Kesadaran mereka untuk ikut dalam Program KB dan kesehatan reproduksi sangat penting penting agar keharmonisan rumah tangga dapat terjalin dengan baik.

Seperti yang dikatakan Bapak Sutarmin, “pernah mbak, tapi cuma pusing sedikit kata istri saya, jadi yaudah mbak, istri saya juga tidak terlalu mempermasalahkannya”, selain itu Bapak Sutarmin juga tidak tahu kalau laki-laki ternyata bisa mengikuti KB (Wawancara: 30 November 2014).

Selain Bapak Sutarmin juga ada pendapat yang sama dari Bapak Totok, yang mengatakan lupa tentang alat KB yang diapaki istrinya bahkan untuk sekeadar mengatar istri untuk berkonsultasi dengan bidan atau dokter saja sangat jarang dilakukannya (Wawancara: 30 November 2014).

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa, tingkat keasadaran masyarakat, terutama laki-laki untuk ikut serta dalam program KB masih sangat rendah. Sehingga hal tersebut menghambat penguatan partisipasi laki-laki dalam program KB dan menghambat terciptanya keadilan dan kesetaraan gender.

2) Kurangnya Pengetahuan tentang Program KB dan Kesehatan Reproduksi

Kurangnya pengetahuan sangat berpengaruh terhadap Program KB di Kecamatan Mojogedang. Pengetahuan tentang KB untuk masyarakat sangatlah penting, agar mereka dapat memilih

(21)

commit to user

alat kontrasepsi yang tepat. Selain itu mereka dapat mengetahui efek samping apa saja yang dapat ditimbulkan oleh alat kontrasepsi sehingga dapat meminimalisirkan resiko yang terjadi. Namun ketika masyarakat terutama laki-laki diberi pertanyaan mengenai apa yang diketahui tentang KB mereka rata menjawab sama yakni Program KB merupakan program untuk membatasi anak dan untuk membuat tidak bisa hamil lagi. Seperti yang dikatakan bapak Wagino berikut ini:

“Program KB itu yang buat istri nggak bisa hamil lagi itu mbak, biar nggak kebrojolan gitu.” (Wawancara, Senin 17 November 2014)

Senada dengan yang dikatakan bapak Subandi :

“Program KB itu alat untuk tidak bisa hamil lagi gitu mbak.” (Wawancara, Rabu 19 November 2014)

Selain itu dari pengelola KB Puskesmas I Mojogedang juga mengatakan hal yang serupa, yaitu:

“Program KB adalah program pemerintah dalam mengatur angka kelahiran anak dan jaraknya serta membatasi jumlahnya.” (Wawancara, Sabtu 15 November 2014)

Pengetahuan mengenai KB sangatlah penting untuk masyarakat. Setidaknya mereka mengetahui pentingnya untuk ber- KB, selain untuk membatasi jumlah dan mengatur jarak kelahiran anak, dengan adanya program KB maka akan membatasi pula laju petumbuhan penduduk. Di kecamatan Mojogedang ini sebenarnya sudah diadakan pertemuan pada tiap bulannya, walaupun tidak disetiap pertemuan membahas mengenai KB, tetapi juga masalah kependudukan lainnya. Seperti yang diungkapkan ibu Sakuntala:

“Diberi penyuluhan melalui pertemuan-pertemuan yang ada dan bila perlu tertestimoni, laki-laki yang sudah melaksanakan vasektomi menularkan pengalamannya kepada yang lainnya. Selain itu ada pula arahan dari petugas, sekarang bukan lagi motivasi tapi konseling.

Dalam konseling itu dijelaskan alat kontrasepsi yang tersedia, nanti mereka sendiri yang menentukan. Kita

(22)

commit to user

mengadakan konseling itu setiap ada pertemuan rutin, baik itu dari posyandu. Saat ibu setelah melahirkan dan saat kegiatan remaja. (Wawancara: 6 November 2014)”

Selain itu informan dari peserta KB laki-laki bapak Senen menyatakan bahwa mereka mengetahui informasi dari penyuluhan di kelurahan:

“Kalo informasinya saya dapat dari balai desa mbak, dulu kan ada penyuluhan tentang cara memakai dan jenis alat- alat KB di kelurahan. (wawancara: 17 November 2014)”

Senada dengan yang diungkapkan bapak Wagino:

“Saya mendapatkan informasi KB-nya dari PLKB di Kelurahan dulu mbak. Dulu di Kelurahan pernah ada pengarahan tentang KB dari petugas KB. (Wawancara: 17 November 2014)”

Seharusnya dalam penyuluhan mengenai KB menggunakan media penyuluhan yang konvensional. Hal tersebut dapat menunjukkan betapa pemahaman kebijakan peningkatan partisipasi laki-laki dalam ber-KB dapat dilaksanakan melalui pelayanan tempat kerja, seperti memberikan penyuluhan di pangkalan becak, pangkalan ojek serta tempat kerja para bapak-bapak yang lainnya.

Dikarenakan pada siang hari para bapak-bapak bekerja diluar dan tidak ada kesempatan akses baginya untuk pergi ke balai desa atau kelurahan untuk mengikuti penyuluhan. Sehingga yang mengikuti penyuluhan hampir semuanya adalah perempuan.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan, sebenarnya sudah ada usaha yang dilakukan oleh petugas KB dalam meningkatkan partsispasi laki-laki. Hanya saja masih terkendala oleh ketidaktahuan masyarakat mengenai pentingnya pengetahuan tentang program KB dan kesehatan reproduksi.

(23)

commit to user 3) Keterbatasan jumlah penyuluhan KB

Jumlah penyuluh KB juga mempengaruhai pelaksanaan program KB. Semakin banyak jumlah penyuluh KB maka semakin tinggi kesadaran masyarakat karena pengetahuan mereka bertambah dari penyuluhan yang dilakukan petugas KB.

Tabel 4.10 PLKB dan Desa binaan penyuluhan KB di Kecamatan Mojogedang

No. Nama Jabatan Desa Binaan

1. Sakuntala Sawitri,

S.E. Ka UPT P3AKB Mojoroto

2. Karunia Eka S., S.H. Penyuluh KB

1. Mojogedang 2. Sewurejo 3. Pendem 3. Sri Purwanti P,

S.sos. Penyuluh KB

1. Munggur 2. Pereng 3. Pojok 4. Purwanto, S.sos. Penyuluh KB

1. Kedung Jeruk 2. Buntar

3. Kalboto 5. Heru Irianto Penyuluh KB

1. Gentungan 2. Ngadirejo 3. Gebyog Sumber: BP3AKB Kabupaten Karanganyar 2014

Berdasarkan data di atas, ada 1 KA P3AKB dan 4 Penyuluh KB di Kecamatan Mojogedang, dan jumlah desa atau keluaraha di kecamatan Mojogedang adalah 13 desa. Jadi setiap PLKB membina 3 desa kecuali Ibu Sakuntala selaku Ka. UPT P3AKB yang hanya membina satu desa saja yaitu Desa/ Kelurahan Mojoroto. Ibu Karunia Eka sebagai penyuluh KB membina Desa/Kelurahan Mojogedang, Sewurejo dan Pendem. Kemudian ibu Sri Purwanti membina Desa/Kelurahan Munggur, Pereng dan Pojok. Bapak Purwanto membina Desa/Kelurahan Kedung Jeruk, Buntar dan Kaliboto. Sedangkan bapak Heru Irianto membina Desa/ Kelurahan Gentungan, Ngadirejo dan Gebyog.

(24)

commit to user

Berdasarkan tabel di atas, jumlah PLKB/PKB di kecamatan Mojogedang adalah 4 orang. Padahal Kecamatan Mojogedang terdiri dari 13 Desa atau Kelurahan. Hal tesebut meununjukkan bahwa di Kecamatan Mojogedang masih kekurangan petugas KB.

Seperti yang diungkapkan Ibu Sakuntala:

“Selain itu mungkin karena petugas KB di Kecamatan Mojogedang hanya empat orang, jadi sulit untuk mengkordinasi para petugas KB di Kelurahan, sehingga pelaksanaan sosialisasi tentang KB-nya menjadi terhambat atau tidak lancar.” (Wawancara: Kamis, 6 November 2014) Ibu Karunia Eka juga mengatakan hal yang sama bahwa ia merasa di Kecamatan Mojogedang masih kekurangan petugas KB, berikut petikan wawancaranya:

“Jumlah petugas KB juga mempengaruhi untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat, di Kecamatan Mojogedang sendiri hanya ada 4 orang petugas KB, padahal Kecamatan Mojogedang memliki 13 Kelurahan, jadi masing-masing petugas KB Kecamatan mengurusi 3 desa, bahkan kepala P3AKB juga mengurusi satu desa.” (Wawancara, 10 November 2014)

Selain itu, BP3AKB di Kabupaten Karanganyar juga merasa kekurangan Petugas KB/ PLKB yang hanya berjumlah sekitar 54 orang. Sehingga hal tersebut menghambat pelaksanaan program KB terutama untuk laki-laki.

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah penyuluh KB di Kecamatan Mojogedang mempengaruhi pelaksanaan Program KB. Karena jumlah penyuluh KB masih rendah, maka hal tersebut menghambat pelaksanaan Program KB terutama menganai peningkatan partisipasi laki-laki dalam Program KB.

4) Banyaknya masyarakat yang masih percaya dengan mitos-mitos yang berkembang tentang KB

Banyak mitos-mitos yang berkembang dimasyarakat mengenai KB. Misalnya seperti kepercayaan banyak anak banyak

(25)

commit to user

rejeki, sehingga membuat masyarakat enggan untuk melakukan KB.

Selain itu di lihat dari sisi sosial budaya KB untuk laki-laki terutama MOP masih belum membudaya atau belum umum dilakukakan masyarakat di Kecamatan Mojogedang ini. Seperti yang dikatakan ibu Rumiyatun:

“Ya kebanyakan laki-laki juga masih takut mbak untuk menggunakan KB teruta yang vasektomi karena mereka berpikir itu akan mengurangi gairah saat berhubungan intim. Masayarakat juga masih awam jika laki-laki ikut ber- KB. Kalau alasan istrinya juga takut kalau suaminya selingkuh atau main dengan wanita lain gitu mbak.”

(Wawancara, Sabtu 15 November 2014) Ibu Sakuntala juga berpendapat sama:

“Kendala dan hambatan banyak yang terjadi, seperti:

masyarakat masih enggan memahami arti pentingnya Program KB dan Kependudukan, istilah banyak anak banyak rejeki masih di minati.” (Wawancara: Kamis, 6 November 2014)

Selain itu Ibu Karunia Eka dan Bapak Bambang sependapat, berikut kutipan wawancaranya:

“Para laki-laki masih percaya mitos jika memakai alat kontrasepsi akan mengurangi gairah mereka. Sehingga jika tidak terpaksa sekali karena istri tidak bisa melakukan KB maka mereka baru akan bersedia untuk ber-KB.”

(Wawancara: Senin 10 November 2014)

“Kebanyak dari mereka masih enggan untuk melakukan KB karena takut adanya mitos-mitos yang beredar di masyarakat tentang berkurangnya gairah dan lain sebagainya.” (Wawancara: Sabtu, 15 November 2014) Selain itu nilai budaya seperti pandangan terhadap banyak anak banyak rejeki masih cukup banyak juga. Di daerah pedesaan anak mempunyai nilai yang tinggi bagi keluarga. Anak dapat memberikan kebahagiaan kepada orang tuanya. Selain itu anak merupakan jaminan di hari tua dan dapat membantu ekonomi

(26)

commit to user

keluarga, banyak masyarakat di desa di Indonesia yang berpandangan bahwa banyak anak banyak rejeki.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa, budaya yang menganggap bahwa banyak anak banyak rejeki masih di ikuti oleh sebagian masyarakat. Sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi pelaksanaan program KB di Kecamatan Mojogedang terutama partisipasi laki-laki untuk ikut serta dalam program KB tersebut.

2. Bentuk partisipasi laki-laki terhadap Program Keluarga Berencana (KB) dalam rangka kesetaraan gender di kecamatan Mojogedang

Keterlibatan pria didefinisikan sebagai partisipasi dalam proses pengambilan keputusan KB, pengetahuan pria tentang KB dan penggunaan kontrasepsi pria.46 Keterlibatan pria dalam KB diwujudkan melalui perannya berupa dukungan terhadap KB dan penggunaan alat kontrasepsi serta merencanakan jumlah keluarga. Untuk merealisasikan tujuan terciptanya Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.

Partisipasi pria dalam Keluarga Berencana adalah tanggung jawab pria dalam kesertaan ber-KB, serta berperilaku seksual yang sehat dan aman bagi dirinya, pasangan atau keluarganya. Dari beberapa literatur, dinyatakan bahwa keterlibatan pria dalam program KB dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. Penggunaan metode kontrasepsi pria merupakan satu bentuk partisipasi pria secara langsung, sedangkan keterlibatan pria secara tidak langsung misalnya pria memiliki sikap yang lebih positif dan membuat keputusan yag lebih baik berdasarkan sikap dan persepsi, serta pengetahuan yang dimilikinya.

Menurut BKKBN (2005), bentuk partisipasi pria dalam Keluarga Berencana dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, antara lain :

a) Partisipasi pria secara langsung adalah sebagai peserta KB

(27)

commit to user

Pria menggunakan salah satu cara atau metode pencegahan kehamilan, seperti :

1) Kontrasepsi kondom

Berdasarkan data yang telah ditemukan, ada 73 orang yang memakai kondom. Jumlah tersebut bedasarkan laporan yang peroleh P3AKB Kecamatan Mojogedang. Kemungkinan ada masyarakat yang enggan untuk melaporkan penggunaan alat kontrasepsi kondom karena malu atau dengan alasan lain. Karena alat kontrasepsi kondom mudah di dapat dan harganya terjangkau.

2) Vasektomi (kontap pria)

Berdasarkan data yang diperoleh, di Kecamatan Mojogedang yang menggunakan vasektomi/MOP sebagai alat KB hanya berjumlah 4 orang saja. Padahal jumlah penduduknya Mojogedang adalah 65.051 orang, dan jumlah laki-laki dan perempuan hampi sama yakni 32.515 orang laki-laki dan 32536 orang perempuan.

Partisipasi laki-lakinya dalam program KB sangat minim sekali.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Sakuntala, beliau mengatakan bahwa:

“Sebagai seorang laki-laki/ suami yang bertanggung jawab atas keluarganya, maka peran laki-laki dalam program KB sangatlah penting, karena hal tersbut dapat menambah keharmonisan rumah tangga. Untuk berpartisipasi dalam program KB tersebut dapat secara langsung maupun tidak langsung Kalau secara langsung itu misalnya ikut vasektomi atau MOP, atau bisa juga dengan memakai alat kontrasepsi kondom.” (Wawancara:

Kamis, 6 November 2014)

Selain itu beliau juga mengatakan:

“Partsisipasi laki-laki sangat diharapkan, malah di era sekarang ini sudah banyak peran aktif laki-laki untuk ber-KB dengan kontrasepsi kondom dan vasektomi.Untuk vasektomi di Mojogedang baru 4 orang dan dua orang diantaranya sudah usia lanjut.”(Wawancara: Kamis, 6 November 2014)

(28)

commit to user

Hal yang sama juga diungkapkan Ibu Karunia Eka, berikut petikan wawancaranya:

“Laki-laki atau suami mempunyai tanggung jawab yang besar dalam rumah tangga, karena mereka adalah kepala keluarga.

Untuk kaitannya dengan program KB, laki-laki juga mempunyai peran yang sangat penting. Karena Kb tidak hanya ditujukan pada perempuan tetapi juga laki-laki, maka seharusnya tidak melulu seorang perempuan yang harus ber-KB. Laki-laki juaga harus bisa berpartisipasi dalam pelaksanan KB, dapat secara langsung mauopun tidak langsung. Yang secara langsung itu seperti memakai kondom atau ikut vasektomi/MOP.”

(Wawancara: Senin, 10 November 2014)

Partsipasi laki-laki secara langsung memang masih sedkit di Kecamatan Mojogedang, yakni 73orang yang memakai kondom dan 4 orang yang hanya 4 orang saja. Jadi partisipasi laki-laki dalam program KB perlu ditingkatkan agar perempuan merasa tidak terbebani, dan kesetaraan gender dapat tercapai.

b) Partisipasi pria secara tidak langsung adalah:

1) Mendukung istri dalam ber-KB

Apabila disepakati istri yang akan ber-KB peran suami adalah mendukung dan memberikan kebebasan kepada istri untuk menggunakan kontrasepsi atau cara/metode KB. Dukungan tersebut meliputi :

(a) Memilih kontrasepsi yang cocok yaitu kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan dan kondisi istrinya

(b) Membantu istrinya dalam menggunakan kontrasepsi secara benar, seperti mengingatkan saat minum pil KB, dan mengingatkan istri untuk kontrol

(c) Membantu mencari pertolongan bila terjadi efek samping maupun komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi

(d) Mengantarkan istri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk kontrol atau rujukan

(e) Mencari alternatif lain bila kontrasepsi yang digunakan saat ini terbukti tidak memuaskan

(29)

commit to user

(f) Membantu menghitung waktu subur, apabila menggunakan metode pantang berkala

(g) Menggantikan pemakaian kontrasepsi bila keadaan kesehatan istri tidak memungkinkan.

2) Sebagai Motivator

Selain sebagai peserta KB, suami juga dapat berperan sebagai motivator, yang dapat berperan aktif memberikan motivasi kepada anggota keluarga atau saudaranya yang sudah berkeluarga dan masyarakat disekitarnya untuk menjadi peserta KB, dengan menggunakan salah satu kontrasepsi. Untuk memotivasi orang lain, maka seyogyanya dia sendiri harus sudah menjadi peserta KB, karena keteladanan sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang motivator yang baik.

3) Merencanakan Jumlah Anak

Merencanakan jumlah anak dalam keluarga perlu dibicarakan antara suami dan istri dengan mempertimbangkan kesehatan dan kemampuan untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak. Dalam kaitan ini suami perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan 4 terlalu, yaitu :

(a) Terlalu muda untuk hamil atau melahirkan (b) Terlalu tua untuk melahirkan

(c) Terlalu sering melahirkan

(d) Terlalu dekat jarak antara kehamilan sebelumnya dengan kehamilan berikutnya.

Merencanakan jumlah anak dalam keluarga dapat dilakukan dengan memperhatikan usia reproduksi istri, yaitu :

(a) Masa menunda kehamilan bagi pasangan yang istrinya berumur di bawah 20 tahun. Kontrasepsi yang digunakan harus bersifat : (1) Reversibilitas tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat

terjamin hampir 100%, karena pada masa ini peserta belum mempunyai anak.

(30)

commit to user

(2) Efektifitas tinggi, artinya tingkat kegagalan pada pemakaian alat kontrasepsi ini kecil sekali, kegagalan akan menyebabkan terjadinya kehamilan.

(3) Metode kontrasepsi yang sesuai adalah : kondom, cara atau metode KB alamiah, dan pil KB.

(b) Masa mengatur jarak kelahiran untuk usia istri 20-30 tahun (1) Penggunaan kontrasepsi dimaksudkan untuk mengatur jarak

kelahiran anak berikutnya. Pada masa ini diperlukan kontrasepsi yang mempunyai ciri, sebagai berikut :

a. Efektifitas tinggi

b. Reversibilitas tinggi karena peserta KB masih mengharapkan punya anak lagi

c. Dapat dipakai selama 3-4 tahun, yaitu sesuai dengan jarak kehamilan yang telah direncanakan

d. Tidak menghambat Air Susu Ibu (ASI) karena ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi sampai umur 2 tahun.

(2) Metode kontrasepsi yang sesuai adalah : IUD, Implant, Suntik KB, Kondom, Pil KB, Cara KB alamiah.

(c) Masa mengakhiri kehamilan untuk usia istri di atas 30 tahun Pada masa ini diperlukan penggunaan kontrasepsi yang bertujuan untuk mengakhiri kehamilan sehingga pasangan dapat memperpanjang tahun madu sampai wanita pasangannya mengakhiri masa reproduksi atau menopause. Sedangkan bagi pasangan yang istrinya berusia di atas 30 tahun yang ingin mempunyai anak harus mempersiapkan secara matang kehamilannya serta mempertimbangkan beberapa resiko yang mungkin dapat terjadi dalam kehamilan, antara lain kematian ibu dan bayinya.

(1) Pada masa ini diperlukan kontrasepsi yang mempunyai ciri sebagai berikut :

(31)

commit to user i. Efektifitas tinggi

ii. Dapat dipakai untuk jangka panjang

iii. Tidak membahayakan kesehatan, karena kelainan pada usia tua seperti penyakit jantung, darah tinggi, dan sebagainya. Oleh karena itu sebaiknya tidak diberikan kontrasepsi yang dapat membahayakan kesehatannya.

(2) Metode kontrasepsi yang disarankan adalah : kontrasepsi mantap (MOP atau MOW), IUD, Implant, Suntik KB, Pil KB, Kondom, Metode KB Alamiah.

Berdasarkan hasil wanwancara,menurut Ibu Sakuntala peran laki-laki/suami secara tidak langsung dalam pelaksanaan program KB yaitu:

“Untuk berpartisipasi dalam program KB tersebut dapat secara langsung maupun tidak langsung. Kalau yang tidak langsung yang misalnya mengantar istri untuk konsultasi ke dokter, mengingatkan jadwal ber-KB, mengingatkan minum pil KB, dan lain sebagainya.” (Wawancara: Kamis, 6 November 2014) Senada dengan pendapat Ibu Karunia Eka, berikut petikan wawancaranya:

“Sedangkan partisipasi laki-laki secara tidak langsung itu seperti mendukung istri dalam ber-KB, memberi semangat, berembug dengan istri untuk membantu memilih KB yang cocok, tidak memaksakan kehendak, mengahargai pendapat istri, mengatar konsultasi ke dokter, dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab seorang suami kepada istri dan keluarganya.” (Wawancara: Senin, 10 November 2014) Berdasarkan pendapat di atas, partisipasi laki-laki dalam program KB tidak hanya dilakukan secara langsung seperti memakai kondom atau vasektomi/Mop. Tetapi juga dapat dilakukan secara tidak langsung, seperti mendukung istri dalam berKB, mengantar istri ke konsultasi ke dokter, sebagai motivator, membantu mengatur jarak anak, dan masih banyak lagi perhatian yang bisa dilakukan laki-laki guna berpartisipasi dalam program KB.

(32)

commit to user

C. PEMBAHASAN/TEMUAN STUDI

Peneliti dalam sub bab ini, menganalisis informasi yang berhasil dikumpulkan di lapangan sesuai dengan rumusan masalah dan selanjutnya dikaitkan dengan teori yang ada. Berdasarkan hasil penelitian yang telah di jelaskan di atas, maka dalam penelitian ini ditemukan beberapa pembahasan sebagai berikut:

1. Rendahnya Partisipasi Laki-laki terhadap Program Keluarga Berencana (KB) dalam Rangka Kesetaraan Gender di Kecamatan

Mojogedang

Peningkatan partispasi laki-laki dalam program Keluarga Berencana dapat menjadikan suami lebih bertanggung jawab dan berperan dalam program KB dan kesehatan reproduksi. Hal tersebut dapat terwujud apabila masyarakat mendapatkan informasi mengenai program KB dan kesehatan reproduksi secara lengkap. Saat ini partispasi laki-laki di Kecamatan Mojogedang dalam mengikuti program KB masih sangat rendah. Ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya partisipasi laki-laki dalam program KB, yaitu kurangnya kesadaran masyarakat tentang program KB, kurangnya pengetahuan mengenai program KB dan kesehatan reproduksi, keterbatasan penyuluhan KB dan tidak adanya kelompok Priyo Utomo , dan masih banyak masyarakat yang percaya dengan mitos-mitos tentang KB laki-laki.

Peningkatan partisipasi laki-laki dalam KB dan kesehatan reproduksi merupakan salah satu untuk menyadarkan masyarakat secara luas akan anggapan salah bahwa “KB adalah urusan perempuan”. Akses pelayanan KB seharusnya memperhatikan keseimbangan kebutuhan laki-laki dan perempua yang merupakan contoh bahwa pelayanan tidak diskriminatif gender. Dominasi laki-laki dalam pengambilan keputusan KB dan kesehatan reproduksi dan dikurangi secara

(33)

commit to user

bertahap dengan pemberian informasi dan pemahaman yang tepat mengenai KB dan kesehatan reproduksi.

Sebagai upaya integral dalam meningkatkan kualitas keluarga, baik laki- laki maupun perempuan mempunyai hak reproduksi yang sama dalam menentukan jumlah anak maupun untuk mendapatkan informasi tentang metode KB. Program KB nasional saat ini menekankan pada paradigma baru yaitu dengan misi yang menekankan pada pentingnya upaya penghormatan kepada hak-hak reproduksi. Hak reproduksi yang dimaksud disini adalah hak untuk berkeluarga berencana, dimana pada kenyataannya sering dianggap sebagai “urusan perempuan”, yang seolah hanyalah hak, kewajiban dan kepentingan perempuan saja. Padahal sebenarnya hal tersebut merupakan tanggung jawab suami istri, bukan hanya satu orang saja.

Permasalahan rendahnya partisipasi laki-laki dalam program KB tersebut tergantung pada kesadaran dan keikhlasan suami untuk melakukan KB. Bagi masyarakat, laki-laki ikut ber-KB merupakan hal yang masih tabu. Tetapi ada juga laki-laki yang sudah ikut ber-KB tetapi malu untuk mengakuinya karena menganggap hal tersebut bukan untuk di sebarluaskan pada masyarakat. Oleh karena itu informasi mengenai KB dan kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk ditingkatkan.

Orang yang melakukan KB memiliki resiko atau efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi, bisa berdampak positif maupun negatif. Masing- masing alat kontrasepsi memiliki efek samping yang berbeda-beda baik untuk laki-laki maupun perempuan. Efek samping tersebut seperti mengalami pusing, mual, perubahan siklus haid hingga pendarahan, tidak nyama, badan menjadi gemuk, dan lain-lain. Seperti yang diungkapkan oleh ibu Rumiyatun:

“Tentu saja ada resikonya mbak. Setiap alat kontrasepsi kan memiliki resikonya masing-masing. Misalnya keluhan seperti mual, pusing, tapi sampai saat ini belum sampai ada yang sampai menimbulkan korban jiwa.

Kalau untuk kasus kegagalan KB ada, yaitu pada pengguna suntik atau pil KB, karena faktor lupa dan sebagainya” (Wawancar: 15 November 2014).

Seperti yang dialami Ibu Sri ngatmini yang menyatakan “efek samping yang saya alami dalam menggunakan alat kontrasepsi pil KB yaitu mudah merasa

(34)

commit to user

pusing dan haid menjadi tidak teratur”(Wawancara, 29 November 2014). Tetapi Ibu Sri tetap menggunakan alat kontrasepsi tersebut karena dia dan suaminya menganggap itu hal yang wajar. Selain mereka ada pula keluarga lain yang mengalami efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi yaitu ibu Sumiyem yang menyatakan bahwa “awal penggunaan IUD saya merasa mual, tapi lama- lama sudah terbiasa dan tidak mual lagi, tapi kadang-kadang saya mengalami sakit di bagian perut”

Berdasarkan pernyataan di atas, dampak atau efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan alat kontrasepsi bagi perempuan dapat merugikan perempuan baik secara fisik maupun sosial yang dapat menganggu perempuan untuk menjalankan peran dan fungsinya. Alat kontrasepsi merupakan hal yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan program KB. Hal tersebut karena adanya program KB ini secara umum dapat dikatakan bahwa kesejahteraan keluarga meningkat, namun tidak sepenuhnya berlaku untuk perempuan karena efek samping yang ditimbulkan alat kontrasepsi membuat kesejahteraan dan kesehatannya tidak sepenuhnya terjamin.

Selain itu, dalam Undang-Undang No 52 Tahun 2009 pasal 21 ayat 2, salah satu tujuan dari program keluarga berencana adalah meningkatkan partisipasi dan kesetaraan pria dalam praktek-praktek KB. Tujuan tersebut sampai saat ini masih belum terpenuhi, karena sampai saat ini partisipasi laki-laki dalam program keluarga berencana masih sangat rendah. Pada prakteknya, program keluarga berencana di dominasi oleh peserta perempuan atau istri, karena masyarakat beranggapan bahwa KB adalah urusan perempuan. Padahal sebenarnya urusan KB merupakan tanggung jawab suami istri, bukan salah satu pihak saja.

Hal tersebut juga sesuai dengan, Pasal 25 ayat (1) dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa:

“Suami dan/atau istri mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dalam melaksanakan keluarga berencana”.

(35)

commit to user

Dalam peraturan tersebut, pembagunan Keluarga Berencana diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas. Keluarga Berencana tidak lagi dimobilisasi, merencanakan dan mengatur kelahiran merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Hak asasi manusia, artinya pengguna alat kontrasepsi (peserta KB) memiliki hak untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai berbagai alat kontrasepsi, kelebihan dan kekurangannya, hak mendapatkan perawatan menyeluruh, hak otonomi perempuan untuk merawat kesehatan dan menentukan reproduksinya, dan hak memutuskan memiliki anak, atau tidak memiliki anak. Menentukan jumlah yang dikehendaki, serta jangka waktu melahirkannya.

Dengan ikut sertanya pria dalam program KB menimbulkan pengaruh yang positif dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI) dan penurunan angka kematian bayi (AKB). Sedangkan peran pria dalam program KB dan kesehatan reproduksi yang berhubungan dengan kesehatan maternal adalah seperti menjadi akseptor KB, mendukung istri menggunakan alat kontrasepsi, merencanakan jumlah anak bersama pasangannya, membantu mempertahankan dan meningkatkan kesehatan ibu hamil, merencanakan persalinan yang aman oleh tenaga kesehatan, menghindari keterlambatan dan mencari pertolongan medis, membantu perawatan ibu dan bayi setelah persalinan dan masih banyak cara yang dilakukan oleh laki-laki yang tidak bisa ikut berpartisipasi langsung dalam program KB.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat BKKBN, yang mnyatakan bahwa bentuk nyata dari partisipasi laki-laki tersebut adalah:

1) Partisipasi dalam program keluarga berencana yang meliputi : sebagai peserta keluarga berencana, mendukung dan memutuskan bersama isteri dalam penggunaan kontrasepsi, sebagai motivator keluarga berencana, merencanakan jumlah anak dalam keluarga.

2) Partisipasi dalam kesehatan reproduksi yang meliputi : membantu mempertahankan dan meningkatkan kesehatan ibu hamil, merencanakan persalinan yang aman dan mengantar memeriksakan kehamilan ke tenaga kesehatan, menghindari keterlambatan dalam mencari pertolongan medis,

(36)

commit to user

membantu perawatan ibu dan bayi setelah persalinan, tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan, mencegah atau menghindari penularan infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS.

Peran dan partisipasi pria dapat membuat perubahan yang baik dalam kehidupan wanita. Perubahan tersebut diantaranya dalam kesehatan wanita. Ada yang beranggapan bahwa rendahnya partisipasi pria dikarenakan terbatasnya pilihan dalam penggunaan alat-alat kontrasepsi. Selama ini memang ada dua alat kontrasepsi mekanik. Meskipun demikian bukan berarti kemudian bisa dijadikan alasan pria untuk tidak berpartisipasi dalam program KB karena wujud dari partisipasi ini dapat pula berupa perhatian yang diberikan pada istri yang ber-KB.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan data-data yang di peroleh oleh peneliti menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi laki-laki dalam pelaksanaan Program Keluarga Berncana di Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar belum sepenuhnya berhasil. Hal tersebut di katakan karena dalam proses penelitian,peneliti menemukan hambatan hambatan dalam pelaksanaan program KB tersebut, diantaranya yaitu: kurangnya pengetahuan mengenai program KB dan kesehatan reproduksi, kesadaran masyarakat tentang program KB, keadaan ekonomi, keterbatasan penyuluhan KB, faktor pendidikan, faktor sosial budaya, faktor pelayanan terhadap pemakaian alat kontrasepsi.

1. Rendahnya kesadaran laki-laki untuk ikut serta dalam Program KB dan Kesehatan Reproduksi

Kesadaran masyarakat sangatlah penting, mengingat hal tersebut merupakan masalah utama progam KB. Jika masyarakat sadar akan pentingnya Program KB, maka secara otomatis tingkat partisipasi masyarakat akan meningkat khususnya terhadap laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Kecamatan Mojogedang, dapat disimpulkan bahwa, tingkat keasadaran masyarakat, terutama laki-laki untuk ikut serta dalam program KB masih sangat rendah. Sehingga hal tersebut menghambat penguatan partisipasi laki-laki dalam program KB dan menghambat terciptanya keadilan dan kesetaraan gender.

(37)

commit to user

2. Kurangnya pengetahuan mengenai program KB dan kesehatan reproduksi Pengetahuan merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang karena dengan adanya pengetahuan yang luas maka akan membuat seseorang tidak hanya berpikir satu sudut pandang saja terhadap sesuatu, sehingga seseorang tersebut dapat menentukan sikap yang bijak dan tepat. Dalam penelitian ini, pengetahuan yang dimaksud yaitu mengenai program KB dan kesehatan reproduksi. Jika masyarakat memiliki pengetahuan yang lebih luas, maka tidak akan berpikiran sempit dan tidak terpengaruh oleh rumor yang tersebar dimasyarakat tentang KB, terutama KB bagi laki-laki. Oleh karena itu, peran PLKB sangatlah penting dalam memberi informasi tentang program KB dan kesehatan reproduksi.

3. Keterbatasan penyuluhan KB dan tidak adanya forum atau kelompok KB untuk laki-laki (Priyo Utomo)

Penyebab rendahnya tanggung jawab laki-laki dalam masalah KB dan kesehatan reproduksi yaitu minimnya petugas dan tempat-tempat konseling.

Sedangkan konseling sendiri merupakan kegiatan strategis dalam membantu keputusan sendiri untuk mengikuti program KB dan kesehatan reproduksi dengan memakai salah satu jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki yang disukai.

Selain itu, di kecamatan Mojogedang tidak ada forum atau kelompok yang dibentuk untuk KB laki-laki (Priyo Utomo).

Petugas KB atau penyuluh KB (PLKB) mempunyai peran yang sangat penting dalam pelaksanaan program KB dan kesehatan reproduksi.

Karena mereka bertugas untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas mengenai program KB tersebut. Jika tidak ada tempat melakukan penyuluhan, bagaimana bisa melakukan penyuluhan atau sosialisasi. Tugas PLKB di samping sebagai pemberi penyuluhan juaga berfungsi sebagai perencana sekaligus penyelenggara kegiatan penyuluhan. Forum atau kelompok KB (Priyo Utomo) dibentuk untuk memudahkan penyuluh dalam bersosialisasi dan pendataan, sehingga partisipasi laki-laki dalam program KB akan meningkat dengan sendirinya.

(38)

commit to user

Persyaratan petugas konseling sebagai pemberi motivasi, penjelasan, nasihat, pendamping, pemantau dan mitra dalam pemecahan masalah harus mempunyai informasi yang jujur, kesediaan dan minat menjadi petugas konseling, sabar, ramah dan terbuka menghargai pendapat orang lain, dapat membina hubungan dan menemukan kepercayaan klien dana tak kalah pentingnya memiliki ketrampilan dalam berkomunikasi atau memberikan konseling sehingga dapat membantu klien memahami dirinya, hambatan yang ada pada dirinya dan bila diperlukan membantu dalam proses pembuatan keputusan melalui berbagai pertimbangan yang obyektif.

4. Banyaknya masyarakat yang masih percaya dengan mitos-mitos yang berkembang tentang KBPri

Banyak mitos-mitos yang berkembang di masyarakat mengenai KB Pria. Misalnya seperti laki-laki yang melakukan MOP akan dikebiri, sehingga membuat masyarakat enggan untuk menggunakan KB. Selain itu di lihat dari sisi sosial budaya KB untuk laki-laki terutama MOP masih belum membudaya atau belum umum dilakukakan masyarakat di Kecamatan Mojogedang ini.

Selain itu nilai budaya seperti pandangan terhadap banyak anak banyak rejeki masih cukup banyak juga. Di daerah pedesaan anak mempunyai nilai yang tinggi bagi keluarga. Anak dapat memberikan kebahagiaan kepada orang tuanya. Selain itu anak merupakan jaminan di hari tua dan dapat membantu ekonomi keluarga, banyak masyarakat di desa di Indonesia yang berpandangan bahwa banyak anak banyak rejeki. Seperti yang diungkapkan ibu Sakuntala:

“Kendala dan hambatan banyak yang terjadi, seperti: masyarakat masih enggan memahami arti pentingnya Program KB dan Kependudukan, istilah banyak anak banyak rejeki masih di minati, pemakaian alat kontrasepsi jangka panjang masih belum diminati karena dianggap menakutkan, dan minimnya petugas KB sebagai penyambung masyarakat” (Wawancara: Kamis, 6 November 2014).

Selain itu, ibu Eka juga sependapat dengan pertanyataan di atas, yaitu:

“Sampai sejauh ini sudah cukup bagus ya, walaupun masih ada saja yang enggan menggunakan KB karena masyarakat percaya pada istilah banyak anak banyak rejeki, dan untuk kelompok Islam tertentu

Referensi

Dokumen terkait

Setelah membuatkan kwitansi staf administrasi kemudian mencatat data calon mahasiswa yang telah fix menjadi mahasiswa STIKOSA-AWS, daftar mahasiswa baru dibuat rangkap 2 untuk

Berdasarkan pengamalan industri takaful, syarikat merupakan wakil (al-Wakil) kepada peserta dan peserta sebagai pewakil (al-muwakkil), skim takaful atau dana yang diuruskan

Kedua : Deskripsi tugas pendidik dan tenaga kependidikan pada Satuan SMP Negeri 1 Kramat meliputi: Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Kepala Tata Usaha (KTU),

Semua connectors adalah one-size-fits-all, maka suatu alat dapat diisi secara langsung ke dalam host, ke dalam suatu pusat kegiatan yang mana pada gilirannya diisi ke dalam

Setelah dilakukan analisis data penelitian variabel UTAUT yang mempengaruhi minat mahasiswa melakukan akses ke dalam sistem informasi Akper Alkautsar dan variabel

artinya program kontrol disimpan dalam ROM (bisa Masked ROM atau Flash PEROM) yang ukurannya relatif lebih besar, sedangkan RAM digunakan sebagai tempat penyimpanan

Jadi dalam penelitian ini fenomena yang akan diteliti adalah mengenai keadaan penduduk yang ada di Kabupaten Lampung Barat berupa dekripsi, jumlah pasangan usia

I-2 : Citra CP Prima yang sedang menurun memang membutuhkan proses atau waktu yang tidak singkat untuk mengembalikannya seperti sebelumnya tetapi saya sangat yakin bahwa