BAB IV PEMBAHASAN
B. Penyajian Data dan Analisis
4. Bentuk Pelanggaran APK dan Proses Penindakan
Penindakan merupakan serangkaian proses penanganan pelanggaran yang berasal dari temuan dan laporan untuk ditindaklanjuti oleh instansi yang berwenang. Proses penangan pelanggaran meliputi temuan pengawas pemilu, penerimaan laporan, pengumpulan alat bukti, klarifikasi, penerusan hasil kajian atas temuan
91 Amin Shobari, diwawancara oleh penulis, Lumajang, 05 September 2022
maupun laporan kepada instansi yang berwenang.92 Proses penindakan dugaan pelanggaran diatur dalam peraturan bawaslu nomor 7 tahun 2018 tentang penanganan temuan dan laporan pelanggaran pemilihan Umum. Dugaan pemilu bersumber dari laporan dan temuan. Temuan adalah hasil pengawasan bawaslu, bawaslu provinsi, bawaslu kabupaten/kota, panwaslu kecamatan, panwaslu kelurahan/desa, serta pengawas TPS pada setiap tahapan penyelenggaraan pemilu yang mengandung dugaan pelanggaran, sedangkan laporan adalah laporan langsung warga negara yang memiliki hak pilih, peserta pemilu, atau pemantau pemilu kepada bawaslu.
Uraian berikut adalah wawancara peneliti dengan koordinator penanganan pelanggaran bawaslu kabupaten Lumajang guna mendapatkan informasi lebih dalam mengenai bentuk pelanggaran APK dan prosedur penanganannya sebagai berikut:
Bapak Zakariya : “jenis APK itu sendiri bermacam-macam ya mbak nida seperti banner, umbul-umbul, baliho, spanduk, dan lain-lain yang digunakan sebagai media kampanye. Pemasangan APK ini juga ada peraturannya jadi tidak sembarang memasang.
Peraturan pemasangan APK juga sudah diatur dalam peraturan KPU nomor 23 tahun 2018 dan perbup kabupaten Lumajang.
Bentuk pelanggaran APK pada saat pilkada kemaren tergolong banyak seperti pemasangan banner yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kebanyakan banner atau spanduk yang dipasang ini mereka memasangnya di tempat- tempat yang ramai atau bisa dilihat secara terus menerus seperti di pinggir jalan di tiang-tiang jalan, namun mereka memasangnya dengan cara dipaku atau dililitkan tali di pohon ini yang banyak kami temui.
92 Muhammad Andri Alvian, Wiwin, “Eksisitensi Bawaslu dalam Penanganan pelanggaran Pemilu Pasca Penetapan Hasil Perolehan Suara secara Nasional,” Jurnal Sultan: Riset Hukum Tata Negara: 22
Tempat-tempat yang dilarang untuk pemasangan APK ini seperti tempat ibadah, kantor-kantor pemerintahan, jalan umum, tempat pendidikan. Bentuk pelanggaran lain seperti ukuran APK seperti baliho banner dan spanduk melebihi batas ukuran yang sudah ditentukan untuk ukuran-ukuran yang ditentukan ini nanti mbak nida bisa lihat di PKPU nomor 23 tahun 2018 disana sudah dijelaskan.”93
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat penulis simpulkan bahwa bentuk pelanggaran yang banyak ditemui pada saat pilkada 2018 seperti pemasangan APK di tempat-tempat yang dilarang yakni tempat ibadah, gedung perkantoran, tempat pendidikan. Jenis-jenis APK yang digunakan untuk media kampanye seperti baliho banner, spanduk.
Selanjutnya peneliti menggali informasi lebih lanjut mengenai proses penanganan pelanggaran APK pada pilkada 2018. Berikut wawancara peneliti dengan koordinator penanganan pelanggaran:
Bapak Zakariya : “ Penanganan pelanggaran APK ini tentunya sesuai prosedur ya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pelanggaran dalam pemilu maupun pilkada inikan dikualifikasikan menjadi beberapa jenis pelanggaran seperti pelanggaran administratif, pelanggaran kode etik penyelenggara, pelanggaran tindak pidana. Penanganan pelanggaran pemasangan APK yang banyak ditemui di jalan-jalan atau tempat-tempat yang tidak sesuai yakni yang pertama kita mengkonfirmasi kepada pemilik atau pasangan calon yang tertera dalam APK tersebut, kemudian setelah kita konfirmasi tersebut berupa teguran. Jika keesokannya APK tersebut masih kami temui di tempat-tempat yang dilarang maka selanjutnya kami bekerja sama dengan Satpol PP terkait pemasangan APK yang melanggar untuk segera di tertibkan. Penertiban tersebut dengan menurunkan secara paksa APK yang melanggar prosedur pemasangan. Apabila sanksi ini tidak memberikan efek jera, maka selanjutnya akan kami layangkan surat pernyataan yang
93 Zakariya Hafisuddin, diwawancara oleh penulis, Lumajang, 05 Sepetember 2022.
kemudian diteruskan kepada KPU untuk memberikan tindakan secara tegas.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa proses penanganan pelanggaran APK berbeda dengan pelanggaran lainnya seperti pelanggaran kode etik dan pelanggaran tindak pidana. Pelanggaran APK penanganannya diselesaikan secara administratif. Apabila ditemu pemasangan APK yang tidak sesuai dengan prosedur pemasangan maka bawaslu akan memberikan teguran secara tertulis kepada pemilik APK tersebut, apabila dengan teguran tersebut tidak dihiraukan dan tetap memasang APK di sembarang tempat maka bawaslu bekerja sama dengan Satpol PP untuk segera melakukan penertiban. Penertiban tersebut dilakukan dengan penurunan secara paksa APK yang melanggar prosedur pemasangan. Apabila penindakan ini tidak menimbulkan efek jera maka bawaslu memberikan sanksi berupa surat pernyataan yang kemudian diteruskan kepada KPU untuk diberikan tindakan secara tegas.
Bentuk-bentuk pelanggaran APK yang terjadi pada saat pilkada 2018 sebagaimana telah dijelaskan oleh bapak Zakariya mengenai proses penanganan pelanggaran APK, tidak berhenti sampai disini peneliti menggali informasi lebih lanjut lagi dengan mewawancara beberapa informan di beberapa kecamatan. Informan-informan ini adalah orang yang pernah atau ikut andil dalam pelaksanaan pilkada kabupaten Lumajang pada tahun 2018 lalu. Berikut adalah hasil wawancara dari informan di beberapa kecamatan :
Ibu Diya Ayu : “ saya pada pilkada 2018 lalu menjadi anggota TPS untuk wilayah kelurahan Kepuharjo Rt. 05 Rw 11, kecamatan Lumajang. Kalau untuk pelanggaran APK mengenai prosedur pemasangannya bagaimana saya tidak begitu paham mbak, akan tetapi pada waktu itu di kelurahan kepuharjo khususnya banyak banner dan umbul-umbul yang dipasang ditempat seperti di gerbang masuk kelurahan, adanya umbul-umbul yang terpasang di gerbang masuk ini menjadi penghalang bagi pengguna jalan yang akan lewat disitu karena posisinya kan menggantung di atas gapura itu ya mbak dan ukuran nya besar juga hampir setengahnya itu kebawah, dan ini mengganggu aktivitas warga juga yang lewat disitu, kami disini sudah konfirmasi terkait pemasangan APK, kemudian besoknya sudah ditertibkan oleh satpol PP.”94
Beralih dari kecamatan Lumajang kemudian peneliti menggali informasi di desa Banyuputih kecamatan Randuagung, dengan bapak Andre Eko sebagai anggota TPS pada pilkada 2018. Berikut hasil wawancaranya:
Bapak Andre Eko : “ pada pilkada 2018 lalu kebetulan saya menjadi panitia anggota TPS, kebanyakan APK yang dipasang khususnya di daerah saya ini pemasangannya mendahului masa kampanye, jadi kampanye belum di mulai, sudah banyak terpasang APK disini, kemudian beberapa banner paslon ini dipasang dengan cara di paku di pohon-pohon di pinggir jalan di daerah sini. Untuk penanganannya ini saya kurang paham, tapi ketika kami konfirmasi mengenai adanya pelanggaran APK ini besoknya sudah ditertibkan oleh Satpol PP.”95
Selanjutnya peneliti beralih ke kecamatan lumajang tepatnya di kelurahan Rogotrunan Rt 04 Rw 05, untuk menggali informasi mengenai pelanggaran APK di daerah tersebut. Adapun informan yang peneliti wawancara adalah ibu Salma sebagai anggota PPS pada
94 Diya Ayu Kusuma. S.pd, diwawancara oleh penulis, Lumajang, 12 September 2022.
95 Andre Eko Efendi, diwawancarai oleh penulis, Lumajang, 13 Septmber 2022.
pelaksanaan pilkada 2018 di kabupaten Lumajang, berikut hasil wawancaranya:
Ibu Salma : “ pemasangan APK yang dilakukan oleh tim resmi dari pasangan calon khususnya untuk di daerah saya kebanyakan mereka memasang di tiang-tiang listrik dengan cara dililitkan tali, kemudian beberapa memasang banner di pohon dengan cara di paku di setiap ujungnya. Pemasangan APK seperti ini saya kurang paham ya mbak melanggar prosedur pemasangan atau tidak, akan tetapi ini mengganggu kegiatan masyarakat seperti pada waktu pelaksanaan kerja bakti, seharusnya pohon-pohon itu bersih dan rapi dari pemasangan stiker atau banner justru demikian. Untuk penanganannya seperti apa saya juga kurang paham akan tetapi tetap dibiarkan sampai selesai pemilihan.”96 Beralih pada daerah selanjutnya yakni desa Selokgondang kecamatan Sukodono, peneliti mewawancarai bapak Abdul Halim sebagai Ketua PPS pada pilkada 2018 di kabupaten Lumajang. Adapun hasil wawancara dengan beliau adalah sebagai berikut :
Bapak Abdul Halim : “ kebetulan saya menjadi ketua PPS pada pilkada 2018 lalu di desa Selokgondang kecamatan Sukodono, mengenai pelanggaran pemasangan APK cukup banyak dijumpai disini, karena memang pada waktu itu beberapa tim kampanye dari setiap paslon memasang APK sebelum penentuan kampanye ditentukan, selain itu juga APK yang dipasang memuat hal-hal yang menyinggung satu sama lain, ada yang memasang APK di depan tempat ibadah sehingga menutupi tempat tersebut. Kami selaku PPS bekerja sama dengan panwascam untuk memberikan informasi bahwasannya pelanggaran APK terjadi khususnya di daerah kami. Namun setelah kami konfirmasi tidak ada tindakan tegas dari bawaslu sendiri untuk pemberian sanksi pelanggaran tersebut.
Selanjutnya ya tetap kami biarkan APK tersebut terpasang di tempat-tempat yang tidak sesuai, karena bukan kewajiban kami
96 Salma, diwawancarai oleh penulis, Lumajang, 16 September 2022.
untuk menurunkan atau mengambil APK tersebut secara paksa.”97
Informan yang peneliti gali informasinya adalah bapak Cipto Ady, beliau adalah direktur eksklusif dewan pimpinan cabang Partai demokrat di kabupaten Lumajang, informasi yang peneliti gali masih seputar pelanggaran APK serta tanggapan mengenai kinerja bawaslu kabupaten Lumajang dalam penanganan pelanggaran APK pada pilkada 2018,berikut adalah hasil wawancaranya:
Bapak Cipto Ady : “ jika berbicara seputar pemilihan umum baik pemilihan presiden dan wakilnya, pemilihan legislatif, dan pemilihan kepala daerah sudah tidak asing lagi namanya pelanggaran ya mbak. Upaya seperti apapun nilai presentasinya juga rendah untuk menghilangkan pelanggaran-pelanggaran tersebut, akan tetapi untuk meminimalisir itu yang selalu diupayakan. Biasanya faktor penyebab banyaknya pelanggaran APK ini yang pertama jumlah kontestasi atau jumlah paslon, pada pilkada 2018 kemaren paslon itukan ada tiga sebenarnya tidak sebanyak pemilihan legislatif maupun pilpres. Namun tidak bisa dijadikan patokan juga karena memang sudah dasarnya setiap pemilihan sudah pasti ada pelanggaran tidak hanya pelanggaran APK saja. Faktor kedua biasanya yang memasang APK ini bukan dari tim kampanye dari paslon, melainkan tim yang dibentuk sendiri dari oknum lain atau bagian dari tim sukses paslon yang mana mereka tidak memahami prosedur pemasangan APK, banyak dan sering terjadi. Pemasangan umbul-umbul, banner, dan spanduk yang dipasang tidak sesuai ini bukan menjadi asing lagi melainkan seperti hal yang wajar begitu mbak kalau ada pemilu maupun pilkada. Banyak dari paslon yang tidak memperhatikan tim kampanyenya atau jajaran tim suksesnya dalam berkampanye, karena memang sanksi daripada pelanggaran APK tersebut hanya ditertibkan oleh Satpol PP dan hanya berupa teguran tertulis dari bawaslu, tentu saja ini tidak akan menimbulkan efek jera. Semisal sekarang
97 Abdul Halim, S.HI, MH, diwawancara oleh penulis, Lumajang, 20 September 2022.
mereka melanggar APK lalu ditertibkan oleh Satpol PP bisa jadi keesokannya ini akan terulang lagi dan terus begitu tidak menimbulkan efek apa-apa. Adanya problem seperti ini yang kemudian memberi peringatan bagi bawaslu sendiri untuk kemudian melakukan upaya-upaya atau penindakan yang lebih tegas lagi. Menurut saya bawaslu harus lebih intens melakukan perbaikan tidak hanya mengatur ditempat maksudnya adalah ketika ada pelanggaran APK kemudian Satpol PP yang menertibkan dengan penurunan APK secara paksa ini kurang kondusif karena bisa jadi pelanggaran tersebut dilakukan lagi. Kemudian perlu adanya ketegasan dari bawaslu untuk memberikan punishment yang nyata misalkan jika lebih dari tiga kali melakukan pelanggaran APK maka paslon tersebut dinyatakan gugur, karena pemasangan APK ini tidak hanya diatur oleh PKPU dan perbawaslu, bahkan di peraturan Bupati juga ada yakni prosedur pemasangan reklame. Upaya untuk meminimalisir terjadinya pelanggaran APK bisa dengan aktif sosialisasi dan bentuk penegasan kepada partai politik maupun peserta pilkada, kemudian ketika terjadi pelanggaran APK adanya penindakan dari bawaslu dan itu harus diberikan sehingga masyarakat tahu.”98
Berdasarkan wawancara tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa evaluasi untuk bawaslu dalam memperbaiki kinerja khususnya dalam penanganan pelanggaran APK diantaranya adanya ketegasan dari bawaslu untuk memberikan punishment secara nyata seperti yang diutarakan oleh bapak Cipto Ady yakni apabila pelanggaran APK yang terjadi lebih dari tiga kali maka paslon tersebut dinyatakan gugur dalam pencalonan. Selanjutnya perlu tindakan secara nyata oleh bawaslu selain memberikan sanksi berupa teguran. Kemudian perlunya sosialisasi dan penegasan secara tegas kepada partai politik dan peserta pilkada. Selanjutnya beliau berpendapat bahwa ketika terjadinya
98 Cipto Ady, diwawancara oleh penulis, Lumajanng, 12 Oktober 2022.
pelanggaran APK harus ada tindakan atau pemberian sanksi dan itu harus diberitakan artinya dipublikasikan sehingga masyarakat tahu.
Mungkin hal ini dapat memberikan efek jera bagi setiap paslon yang melanggar.