• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Pelanggaran Terhadap Penduduk Sipil Dalam

Dalam dokumen Penulisan Hukum (Skripsi) (Halaman 100-122)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Pembahasan

1. Bentuk Pelanggaran Terhadap Penduduk Sipil Dalam

Sejarah peradaban manusia telah membuktikan bahwa perang merupakan bagian dari peradaban manusia. Akan tetapi manusia seakan tidak pernah belajar dan selalu mengulanginya. Padahal terbukti bahwa perang hanya menghasilkan korban nyawa, kekerasan serta dendam.

Sejak 27 Desember 2008, Israel melakukan serbuan ke wilayah Gaza. Tindakan itu mendapat kecaman dan kutukan dari masyarakat internasional. Meskipun demikian Israel tetap melancarkan aksinya hingga secara sepihak menghentikan serangan setelah 22 hari lamanya. Beragam alasan diucapkan oleh otoritas Israel atas serbuan mereka ke Gaza. Alasan utama yang dikemukakan Israel adalah aksi mereka merupakan bagian dari bela-diri (self defence) dan hal tersebut dibenarkan menurut ketentuan Pasal 51 Piagam PBB yang berbunyi: “Nothing in the present charter shall impair the inherent rights of individual or collective set defence if an armed attack occurs against a member of the united nations, until the security council has taken measures necessary to maintain international peace and security”. Inti bunyi Pasal 51 Piagam itu menyatakan anggota PBB memang diperbolehkan mempertahankan diri bila ada serangan bersenjata terhadap wilayahnya. Namun, upaya mempertahankan diri itu harus dilakukan melalui cara-cara yang diatur lewat piagam ini dan dilaporkan ke Dewan Keamanan PBB.

Tindakan bela-diri tersebut memang diatur dalam Pasal 51 Piagam PBB. Bela diri merupakan sebuah hak yang dimiliki oleh setiap negara untuk melindungi diri dan kepentingannya. Penggunaan kekerasan bersenjata (armed forces) pada dasarnya memang dilarang berdasarkan hukum internasional. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya instrumen hukum yang melarang penggunaan kekerasan bersenjata, akan tetapi Pasal 51 Piagam PBB merupakan pengecualian dari prinsip tersebut.

Berbeda dengan tindakan bela-diri (self defence) yang dibenarkan menurut ketentuan Pasal 51 Piagam PBB, tindakan agresi merupakan suatu yang dilarang. Ketentuan ini disepakati setelah perang dunia kedua berakhir. Dalam Piagam Nuremburg bagian annex, Pasal 6 (a) dinyatakan bahwa:

“ planning, preparation, initiatiaon or waging of a war of aggression, or a war in violation of international treaties, agreements or assurances, or participation

commit to user

are crimes against peace entailing individually responsibility. Leaders, organizers, instigators and accomplices participating in the formulation or execution of the common plan or conspiracy are responsible for all acts performed by any person in execution of such plan.”

Ketentuan tersebut dengan jelas menyatakan bahwa agresi merupakan bagian dari kejahatan perdamaian (crimes against peace) yang mensyaratkan pertanggungjawaban individual. Piagam tersebut menyatakan bahwa larangan atas perang sebagai kebijakan luar negeri yang diambil oleh tiap negara.

Akan tetapi definisi dan ciri dari agresi belum mendapat kesepakatan masyarakat internasional. Kesepakatan definisi tersebut baru lahir pada tahun 1974, melalui resolusi Majelis Umum No. 3314 (XXIX), tentang Definition of Aggression. Pasal 1 resolusi tersebut menjelaskan agresi sebagai:“…is the use of armed force by a state against the sovereignty, territorial integrity or political independence of another state, or in any other manner inconsistent with the charter of the united nations, as set out in this definition”. Definisi agresi tersebut merupakan pengulangan apa yang telah diatur dalam Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB bahwa “All members shall refrain in their international relations from the threat or use of force against the territorial integrity or political independence of any state, or in any other manner inconsistent with the purpose of the United Nation”. Maksud dalam pasal ini adalah bahwa setiap negara harus menahan diri dalam hubungan internasional mereka dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara manapun atau dengan kata lain setiap negara dilarang untuk menggunakan kekerasan bersenjata dalam hubungan internasionalnya.

Resolusi Majelis Umum membagi agresi menjadi dua. Pertama, A war of aggression (perang agresi) yang dikategorikan sebagai kejahatan terhadap perdamaian. Kedua, Aggression (agresi) yang menimbulkan tanggungjawab internasional. Konsekuensi dari pembedaan tersebut adalah jika sebuah negara melakukaan A war of aggression (perang agresi) maka tanggungjawab dijatuhkan pada pribadi sebagai pelanggaran pidana internasional, namun jika sebuah negara hanya melakukan Aggression (agresi) maka tanggungjawabnya dibebankan kepada negara dengan melakukan reparasi.

commit to user

Israel ke Gaza memenuhi unsur definisi agresi dan bukan merupakan suatu tindakan bela diri. Serangan yang dilakukan oleh Israel telah melanggar wilayah kedaulatan Palestina. Tujuan Israel yang ingin menjatuhkan HAMAS, juga telah melanggar kemerdekaan politik di Palestina karena telah diketahui bersama bahwa HAMAS merupakan kekuatan politik yang sah di Palestina (Gaza) setelah mereka memenangkan pemilu pada Juni 2007.

Pasal 51 menyatakan bahwa bela diri merupakan hak yang dimiliki oleh setiap negara. Hak tersebut timbul apabila negara tesebut telah diserang oleh negara lain (if armed attack occurs). Ketentuan telah terjadinya serangan bersenjata menurut Louis Henkin adalah terbatas atas apa yang telah dinyatakan dalam piagam. Ada dua pendapat yang mengemuka. Pertama, adalah serangan bersenjata telah terjadi jika telah terjadi pengiriman tentara ke wilayah negara lain. Pendapat ini dikuatkan dengan pendapat mahkamah internasional dalam kasus Nikaragua. Kedua, adalah serangan bersenjata telah terjadi jika telah terjadi tembakan pertama. Akan tetapi pembuktian untuk menyatakan siapa yang telah melakukan tembakan pertama sangatlah sulit. Dalam pelaksanaan hak bela diri, hukum internasional juga mengatur bahwa tindakan tersebut tidak boleh berlebihan. Hak tersebut dilaksanakan hanya untuk memulihkan keadaan seperti semula (Entebee Case) (Musthafa Abd Rahman,2002:24).

Kasus agresi Israel ke Gaza yang dianggap sebagai tindakan bela diri oleh Israel tidaklah tepat. Pertama, harus dibuktikan terlebih dahulu apakah serangan roket yang dilakukan oleh HAMAS merupakan opening shot yang memberikan hak kepada Israel untuk melakukan tindakan bela diri. Untuk membuktikan apakah HAMAS memang benar telah melakukan opening shoot terhadap Israel perlu dilakukan oleh penyelidikan oleh tim khusus oleh PBB. Kedua, agresi yang dilakukan oleh Israel tidak memenuhi prinsip-prinsip dalam tindakan bela diri. Agresi tersebut terlalu eksesif dan tidak membedakan antara objek sipil dan militer yang sebagimana diatur dalam hukum humaniter internasional. Dengan demikian maka tindakan yang dilakukan oleh Israel dapat dikategorikan sebagai perang agresi sehingga dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap perdamaian. Agresi tersebut juga dapat dikategorikan sebagai sebuah kejahatan perang (war crime) dan masuk dalam cakupan yurisdiksi International

commit to user 1998.

Kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel ini tentu saja harus ada yang bertanggung jawab (penjahat perang). Berdasarkan ketentuan hukum internasional (Definition of Agsression, 1974) maka pihak yang telah merencanakan dan melaksanakan serangan tersebut dapat dimintai pertanggungjawaban secara pribadi. Dalam hal ini, maka pemimpin Israel (presiden, perdana menteri dan pejabat militer) dapat dimintai pertanggungjawaban di ICC. Adanya beban pertanggungjawaban terhadap pimpinan suatu negara dalam kasus pidana internasional pun telah terjadi pada kasus pembantaian warga Bosnia-Herzegovina dimana Slobodan Milosevic yang pada waktu itu menjabat sebagai Presiden Serbia dan Radovan Karadjic sebagai panglima militer Serbia, kemudian keduanya diadili sebagai pelaku pelanggaran HAM berat.

Perlindungan penduduk sipil dalam hukum internasional terdiri dari perlindungan pada masa perang dan damai. Dalam masa perang, terangkum dalam Hukum Humaniter Internasional sedangkan dalam masa damai terdapat dalam Hukum Hak Asasi Manusia.

Perlindungan terhadap penduduk sipil dalam hukum humaniner Internasional terdapat dalam Konvensi Jenewa ke IV tahun 1949 dan dalam Protokol Tambahan I tahun 1977. Istilah orang yang dilindungi pertama-tama merujuk pada orang-orang yang tergabung dalam peperangan atau pertikaian bersenjata yang telah menjadi korban perang. Dalam arti yang lebih luas orang-orang yang dilindungi meliputi penduduk sipil yang jatuh ke tangan musuh sebagaimana yang diatur dalam Pasal 4 dan 13 Konvensi Jenewa IV/1949.

Article 4

“Persons protected by the Convention are those who, at a given moment and in any manner whatsoever, find themselves, in case of a conflict or occupation, in the hands of a Party to the conflict or Occupying Power of which they are not nationals. Nationals of a State which is not bound by the Convention are not protected by it. Nationals of a neutral State who find themselves in the territory of a belligerent State, and nationals of a co-belligerent State, shall not be regarded as protected persons while the State of which they are nationals has normal diplomatic representation in the State in whose hands they are.”

Berikut ini adalah bentuk pelanggaran terhadap penduduk sipil yang dilakukan oleh pasukan Israel dalam konflik Israel-Palestina di jalur Gaza pada Operation Cast

commit to user

Israel dapat kategori menjadi 2 jenis kejahatan internasional yang termasuk dalam kriteria pelanggaran HAM berat yaitu:

a. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Pasukan Israel yang termasuk kedalam kategori Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (crimes against humanity) adalah sebagai berikut :

1) Pendudukan Wilayah

Selama Opertion Cast Lead setidaknya pasukan Israel telah melakukan beberapa pelanggaran terhadap bunyi Pasal 47 Konvensi Jenewa IV/1949 mengatur tentangPendudukan Wilayah. Dalam bunyi Pasal 47 disebutkan bahwa orang-orang yang dilindungi yang ada di wilayah yang diduduki, bagaimanapun dan dalam keadaan apapun tidak akan kehilangan manfaat dari Konvensi Jenewa IV/1947 karena perubahan yang diadakan dalam lembaga-lembaga atau pemerintahan suatu wilayah sebagai akibat dari pendudukan wilyah. Tetapi pada kenyataannya tidak terdapat perlindugan bagi warga sipil Palestina di dalam masa perdudukan wilayah oleh Israel. Berdasarkan data yang dihimpun Pusat HAM Palestina, dalam agresi Israel ke jalur Gaza pada akhir Desember 2008 sampai awal Januari 2009 saja sekitar 1.400 warga Palestina yang terdiri dari 400 anak-anak dan setidaknya 700 adalah warga sipil selebihnya adalah pasukan HAMAS (UN.2008.http://unispal.un.org/UNISPAL.NSF/0/BE07C80CDA45794685 25734800500272, diakses tanggal 27 Juli 2012). Dari fakta-fakta jumlah korban yang jatuh diatas tampak jelas bahwa Israel dalam agresinya ke Jalur Gaza telah melanggar Konvensi Jenewa IV 1949 khususnya Pasal 47 yang seharusnya dalam melakukan perang harus dapat membedakan mana yang merupakan objek perang maupun warga sipil dan juga memberikan suatu perlindungan bagi warga sipil di daerah konflik.

2) Penangkapan dan Penghapusan Kebebasan terhadap Penduduk Sipil

Israel juga melakukan beberapa pelanggaran terhadap Pasal Pasal 31 Konvensi Jenewa IV/1949 mengatur tentang Penangkapan dan Penghapusan Kebebasan terhadap Penduduk Sipil Opertion Cast Lead.

commit to user

tidak diperkenankan mendapatkan tindakan apapun yang dapat menimbulkan penderitaan jasmani ataupun pemusnahan orang-orang yang dilindungi oleh konvensi. Tetapi pada kenyataannya dalam Opertion Cast Lead tentara-tentara Israel sering melakukan penangkapan kepada penduduk-penduduk sipil tanpa adanya alasan yang jelas, tercatat jumlah tawanan mencapai 7.200 orang dan 5.866 diantaranya terdaftar dalam data departemen tawanan Palestina, mereka tersebar dalam 25 penjara Israel, diantaranya ada 103 orang wanita, 465 orang diantaranya adalah anak-anak. Sedangkan jumlah tawanan yang menderita penyakit kronis 834 orang yang tidak mendapatkan perawatan apapun di dalam penjara (UN.2008.http://unispal.un.org/UNISPAL.NSF/0/BE07C80CDA45794685 25734800500272, diakses tanggal 27 Juli 2012). Dari fakta-fakta diatas sangat jelas bahwa Israel mengesampingkan bunyi Pasal 31 Konvensi Jenewa IV/1949 karena mereka telah melakukan penghapusan kebebasan terhadap warga sipil yang seharusnya dilindungi dalam konvensi dan tidak ikut di dalam pertikaian, terlebih lagi anak-anak yang seharusnya dapat mengecap pendidikan tetapi malah dimasukan kedalam penjara.

3) Penyiksaan terhadap Penduduk Sipil di dalam tahanan

Dalam Opertion Cast Lead prosedur standar hukuman teringan yang ada di penjara Israel adalah ditutup matanya selama berhari-hari dan diikat disuatu tempat yang tidak terlindung dari sinar matahari. Hukuman tambahan yang diberikan adalah dengan memberi pukulan dan mencabut kuku para penghuni penjara dan mematahkan jari-jari mereka, para tahanan digunakan sebagai alat latihan tembak bagi tentara Israel, menuangkan air keras kebadan tawanan. Didalam penjara Israel juga tidak

ada perawatan bagi orang yang sakit

(OHCRH.2010.http://www2.ohchr.org/english/bodies/hrcouncil/docs/12se ssion/UN-HumanRightsCouncilReport-of-the-Fact-Finding-Mission-of- the-Gaza-Conflict, diakses tanggal 15 Agustus 2012). Hal ini sangat bertentangan dengan bunyi Pasal 31 dan 37 Konvensi Jenewa IV/1949

commit to user

Sudah dijelaskan diatas bahwa dalam Pasal 31 dinyatakan bahwa penduduk sipil tidak diperkenankan mendapatkan tindakan apapun yang dapat menimbulkan penderitaan jasmani, sehingga kekerasan yang dilakukan oleh pasukan Israel di dalam penjara bisa dikategorikan melanggar pasal ini. Selain Pasal 31, Pasal 37 juga mengatur perlindungan penduduk sipil bahwa penduduk sipil yang berada dalam kurungan akan diperlakukan secara manusiawi. Hal ini sangat kontras dengan apa yang dilakukan oleh pasukan Israel.

4) Deportasi dan Penggusuran terhadap Penduduk Sipil

Selama Opertion Cast Lead setidaknya pasukan Israel telah melakukan beberapa pelanggaran terhadap bunyi Pasal 49 tentang Deportasi dan Penggusuran terhadap Penduduk Sipil. Sekitar 500.000 penduduk sipil Palestina dideportasi keluar dari wilayah Palestina dengan maksud agar Israel bisa memperluas wilayahnya sampai ke Palestina (AmnestyInternasional.2009.http://www.amnesty.org/en/news-and-updates /report/impunity-war-crimes-gaza-southern-israel-recipe-further-civilian-suffering-20090702, diakses tanggal 20 Juli 2012). Selain melakukan pendeportasian maka juga berlangsung proses pembumihangusan dan penghancuran rumah-rumah penduduk baik di desa maupun kota. Hal ini bertentangan dengan bunyi Pasal 49 yang melarang pemindahan paksa baik secara individu ataupun secara masal demikian pula deportasi penduduk sipil ke wilayah negara lain apapun alasannya. Israel telah merampas hak-hak warga Palestina untuk hidup dan tinggal di tanah yang sebenarnya merupakan milik mereka.

5) Pelanggaran Hak Anak-anak

Pelanggaran lain yang dilakukan oleh Israel selama Opertion Cast Lead adalah pelanggaran terhadap Pasal Pasal 24 dan Pasal 50 Konvensi Jenewa IV/1949 tentang Perlindungan Hak-hak anak. Sebuah laporan lembaga kemanusiaan resmi Amerika Serikat, mencatat krisis kesehatan melanda

commit to user

dari anak-anak Palestina mengalami kekurangan gizi. Pasukan Bersenjata Israel membunuh 108 anak, 99 di Gaza selama Opertion Cast Lead. Tanggal 28 Desember 2008, sebuah pesawat Israel menembakkan dua rudal di sejumlah warga sipil Palestina berkumpul di dekat Masjid al-Ihsan. Sembilan kematian mengakibatkan, termasuk enam anak, dan 12 lainnya luka-luka (UN.2009.http://www.un.org/children/conflict/documen- ts/A.HRC.10.22.pdf, diakses tanggal 17 Juli 2012). Berdasarkan fakta diatas tampak jelas bahwa seakan Israel tidak menghiraukan bunyi pasal 24 dan 50 Konvensi Jenewa IV/1949. Dalam pasal-pasal tersebut sudah dengan jelas disebutkan bahwa pihak dalam pertikaian harus mengambil tindakan yang perlu untuk menjamin bahwa anak-anak dibawah lima belas tahun, yatim piatu, atau yang terpisah dari keluarga sebagai akibat perang tidak terlantar dan juga kekuatan pendudukan wajib, berkerjasama dengan pemerintah lokal untuk memfasilitasi kerja yang tepat dari semua lembaga yang ditujukan untuk perawatan dan pendidikan anak-anak. Tetapi faktanya di lapangan serangan yang dilakukan oleh pasukan Israel tidak pandang bulu, bahkan korban yang jatuh paling banyak adalah anak-anak.

6) Pembatasan persediaan makan dan kesehatan bagi penduduk korban konflik

Menurut laporan Palang Merah Internasional (ICRC) menyebutkan bahwa selama Opertion Cast Lead pasukan Israel menangkap sejumlah warga Palestina dan ditahan untuk diintrogasi dalam kondisi yang tragis tanpa diberi makan, minum dan fasilitas kesehatan. ICRC menyebut israel telah menggelar kejahatan terhadap kemanusiaan (ICRC.2012.http://www.icrc. org/customaryhl/eng/docs/v1_rul_rule47, diakses tanggal 16 September 2012). Dikatakan sebagai pelanggaran kejahatan terhadap kemanusiaan kerena seperti yang telah diatur dalam Pasal 55 Konvensi Jenewa IV/1949 tentang pembatasan persediaan makan dan kesehatan bagi penduduk korban konflik bahwa pihak yang melakukan pendudukan dalam hal ini Israel memiliki tugas memastikan pasokan makanan dan medis bagi

commit to user

diduduki jika sumber daya wilayah yang diduduki tidak memadai. Tetapi kenyataannya Israel malah membuat tembok pembatas di sekelilig Palestina yaitu di jalur Gaza dan tepi Barat sehingga organisasi bantuan tidak bisa masuk ke wilayah Palestina untuk memberikan bantuan.

b. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Pasukan Israel yang termasuk kedalam kategori Kejahatan Perang (war crimes) adalah sebagai berikut : 1) Larangan pembentukan kawasan rumah sakit di wilayah perang

Sepanjang Operasi Cast Lead, ratusan warga Gaza tidak diberi akses ke rumah sakit Israel maupun di Tepi Barat, termasuk di Yerusalem. Akibatnya, 29 warga sipil meninggal termasuk 17 perempuan dan 10 anak-anak. (ICRC.2012.http://www.icrc.org/customaryhl/eng/docs/v1_rul_rule 47, diakses tanggal 16 September 2012). Padahal dalam Pasal 14 Konvensi Jenewa IV/1949 di dalamnya telah diatur bahwa pembentukan kawasan-kawasan rumah sakit dan daerah-daerah keselamatan dengan persetujuan bersama antara pihak-pihak yang bersangkutan, tujuan pembentukan kawasan ini adalah untuk memberikan perlindungan kepada penduduk sipil yang rentan terhadap akibat peperangan. Tetapi dalam kenyataannya pelaksanaan dari bunyi pasal ini tidak ada, Israel malah tidak memberi akses bagi ratusan warga Gaza untuk menuju rumah sakit yang mengakibatkan banyak dari mereka yang akhirnya meninggal dunia. Jangankan membuat suatu rumah sakit yang ditujukan bagi penduduk sipil korban konflik di Palestina, yang ada Israel malah membuat suatu tembok yang mengelilingi Palestina sehingga Palestina seakan terpisah dari dunia luar (Legal Consequences Construction Wall Palestinian Territory).

2) Penghancuran Ekonomi

Sepanjang Opertion Cast Lead, pasukan bersenjata Israel di Jalur Gaza terus membatasi setiap bantuan yang diberikan oleh dunia luar terhadap rakyat Palestina dalam bentuk yang bermacam-macam, seperti akses makanan, obat-obatan, bahan bakar, listrik, dan kebutuhan lainnya ditolak

commit to user

menyedihkan dan terbatas. Tidak jarang para pasukan Israel juga merampas secara paksa harta-harta yang dimiliki oleh penduduk Palestina. Akibat dari perbuatan pasukan Israel ini adalah telah terjadi bencanakemanusiaan,meliputi(UN.2009.http://www.unocha.org/cap/appea ls/mid-year-review-consolidated-appeal-occupied-palestinian-territory-200980%, diakses tanggal 15 agustus 2012)

a) warga Gaza menderita kemiskinan; b) Pengangguran melebihi 55%;

c) Warga Negara palestina tidak diberi izin untuk bepergian, baik untuk bekerja maupun belajar di luar negeri;

d) Terjadi kemunduran dalam bidang industri, pertanian, konstruksi, transportasi karena tidak terdapatnya bahan bakar dan listrik, dan dasar kebutuhan bahan baku yang mencukupi.

Pasal 53 Konvensi Jenewa IV/1949 menyatakan bahwa melarang setiap pengerusakan oleh kekuasaan pendudukan dari pada harta benda yang bergerak, maupun tidak bergerak milik orang sipil perseorangan atau kolektif maupun milik organisasai sosial badan umum kecuali diperlukan untuk kepentingan militer. Dari fakta yang sudah dijelaskan diatas dapat dikatakan bahwa memang Israel telah melanggar isi dari Konvensi Jenewa IV/1949 khususnya bunyi Pasal 53. Berdasarkan fakta diatas pembatasan dan penjarahan yan dilakukan oleh pasukan Israel terhadap penduduk Palestina sama sekali tidak ada hubungannya untuk kepentingan militer Israel. Sehingga menurut Pasal 53 hal tersebut bisa digolongkan menjadi suatu pelanggaran.

3) Pelanggaran Terhadap Organisasi Bantuan Kemanusiaan

Bunyi Pasal 30 Jenewa IV/1949 yang menyatakan apabila pekerja bantuan kemanusiaan haruslah dilindungi didalam melaksanakan tugas-tugasnya di daerah sengketa. Sedangkan Pasal 63 Konvensi Jenewa IV/1949 menyatakan bahwa kekuasaan pendudukan mengakui Palang Merah (Bulan Sabit Merah) sebagai organisasi kemanusiaan yang memberikan

commit to user

untuk melanjutkan kegiatan kemanusiaan mereka di bawah kondisi yang sama. Dalam Pasal 30 dan 63 Konvensi Jenewa IV/1949 sudah jelas diatur didalamnya mengenai perlindungan terhadap organisasi bantuan, tetapi Israel tetap saja melanggar kedua bunyi pasal tersebut. Dalam Opertion Cast Lead tanggal 8 Januari 2009 (Cast Lead Day 12), Israel telah menabrak truk dengan seorang pekerja bantuan kemanusiaan didalamnya sehingga mengakibatkan pekerja kemanusiaan tersebut mengalami luka-luka. Pesawat Israel juga menyerang sebuah sekolah UNRWA di Beit Hanoun pada tanggal 6 Januari 2009 - (Cast Lead Day 10). Akibatnya 40 orang warga sipil Palestina yang ditampung di sekolah tersebut tewas dan beberapa sukarelawan yang kebetulan ada ditempat itu juga mengalami luka-luka akibat serangan udara Isael (SecurityCouncil.2009. http://www.securitycouncilreportorg/chronology/israelpalestine.php?page= 9, diakses tanggal 17 Agustus 2012). Hal ini memperlihatkan bahwa pelindungan bagi organisasi bantuan dalam konflik Israel-Palestina ini masih sangat rendah karena banyaknya sukarelawan yang malah menjadi korban.

4) Penjarahan harta benda milik penduduk sipil oleh tentara Israel

Pasal 33 Konvensi Jenewa IV/1949 mengatur tentang segala bentuk penjarahan itu dilarang, dan konvensi ini selain melindungi terhadap orang dan tetapi juga memberikan perlindungan terhadap harta benda mereka dari perampasan. Selama Opertion Cast Lead 216 rumah hancur, 107 di Tepi Barat dan 109 di Gaza. Juga 680 rumah rusak parah. Sebelum merusak dan menghancurkan rumah-rumah penduduk Palestina, pasukan Israel juga menjarah harta benda yang dimiliki oleh penduduk Pelestina yang dianggap berharga. Sedangkan yang tidak dianggap berharga turut dihanguskan bersamaan dengan rumah mereka (SecurityCouncil.2009. http://www.securitycouncilreportorg/chronology/israelpalestine.php?page= 9, diakses tanggal 17 Agustus 2012). Hal ini dianggap melanggar bunyi Pasal 33 karena seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa Pasal 33

commit to user

dengan alasan apapun penjarahan yang dilakukan oleh pasukan Israel tidak dapat dibenarkan apalagi menjarah barang milik penduduk sipil yang sudah menderita akibat konflik.

Dalam dokumen Penulisan Hukum (Skripsi) (Halaman 100-122)

Dokumen terkait