commit to user
i
MEKANISME PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PERLINDUNGAN PENDUDUK SIPIL PADA SAAT KONFLIK ISRAEL-PALESTINA DI JALUR GAZA DITINJAU DARI
KONVENSI JENEWA IV/1949, PROTOKOL TAMBAHAN I/1977, DAN STATUTA ROMA 1998
(STUDI KASUS OPERATION CAST LEAD 27 DESEMBER 2008-20 JANUARI 2009)
Penulisan Hukum (Skripsi)
Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Derajat Sarjana S1 dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh :
Stefanus Donatumar E0008240
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
commit to user
ii Erna Dyah Kusumawati,S.H.,M.Hum.,LL.M.
NIP. 19770330 2003122001
PERSETUJAN PEMBIMBING
Penulisan Hukum (Skripsi)
MEKANISME PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PERLINDUNGAN PENDUDUK SIPIL PADA SAAT KONFLIK ISRAEL-PALESTINA DI JALUR GAZA DITINJAU DARI
KONVENSI JENEWA IV/1949, PROTOKOL TAMBAHAN I/1977, DAN STATUTA ROMA 1998
(STUDI KASUS OPERATION CAST LEAD 27 DESEMBER 2008-20 JANUARI 2009)
Oleh :
Stefanus Donatumar E0008240
Disetujui untuk dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
Surakarta, 15 Januari 2013
Pembimbing I Pembimbing II
Ayub Torry Satriyo Kusumo,S.H.,M.H. NIP. 19830716 2008011005
commit to user
iii
PENGESAHAN PENGUJI Penulisan Hukum (Skripsi)
MEKANISME PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PERLINDUNGAN PENDUDUK SIPIL PADA SAAT KONFLIK ISRAEL-PALESTINA DI JALUR GAZA DITINJAU DARI KONVENSI JENEWA
IV/1949, PROTOKOL TAMBAHAN I/1977, DAN STATUTA ROMA 1998
(STUDI KASUS OPERATION CAST LEAD 27 DESEMBER 2008-20 JANUARI 2009) Stefanus Donatumar
NIM.E0008240
Telah diterima dan dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
Pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 23 Januari 2013
DEWAN PENGUJI
1. Sri Lestari Rahayu,S.H., M.Hum. :... NIP. 19591125 1986012001
Ketua
2. Ayub Torry Satriyo Kusumo,S.H.,M.H. : NIP. 19830716 2008011005
Sekretaris
3. Erna Dyah Kusumawati,S.H.,M.Hum.,LL.M. : NIP. 19770330 2003122001 Anggota Mengetahui Dekan, PERNYATAAN Prof.Dr. Hartiwiningsih,S,H.,H.Hum. NIP. 19570203 1985032001
commit to user
iv
Nama : Stefanus Donatumar NIM : E0008240
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul
MEKANISME PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PERLINDUNGAN PENDUDUK SIPIL PADA SAAT KONFLIK ISRAEL-PALESTINA DI
JALUR GAZA DITINJAU DARI KONVENSI JENEWA IV/1949,
PROTOKOL TAMBAHAN I/1977, DAN STATUTA ROMA 1998 (STUDI KASUS OPERATION CAST LEAD 27 DESEMBER 2008-20 JANUARI 2009) adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) ini diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.
Surakarta, 15 Januari 2013 yang membuat pernyataan
Stefanus Donatumar NIM.E0008240
commit to user
v ABSTRAK
Stefanus Donatumar, E.0008240. 2013. MEKANISME PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PERLINDUNGAN PENDUDUK SIPIL PADA SAAT KONFLIK ISRAEL-PALESTINA DI JALUR GAZA DITINJAU DARI KONVENSI JENEWA IV/1949, PROTOKOL TAMBAHAN I/1977, DAN STATUTA ROMA 1998 (STUDI KASUS OPERATION CAST LEAD 27 DESEMBER 2008-20 JANUARI 2009)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan bentuk-bentuk pelanggaran terhadap penduduk sipil dalam konflik Israel-Palestina di Jalur Gaza pada Operation Cast Lead, mendiskripsikan mekanisme penegakan hukum terhadap pelanggaran penduduk sipil menurut hukum humaniter internasional.
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang bersifat preskriptif dengan menggunakan pendekatan undang-undang (statute approach). Sumber bahan hukum yang digunakan meliputi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Teknik pengumpulan bahan hukum penelitian ini adalah studi kepustakaan dan studi dokumen dengan teknik analisis bahan hukum berupa metode deduksi.
Hasil penelitian menunjukkan dalam hukum humaniter internasional perlindungan terhadap penduduk sipil pada konflik bersenjata internasional diatur dalam Konvensi Jenewa IV/1949 dan Protokol Tambahan I/1977. Agresi Israel ke Palestina tanggal 27 Desember 2008-20 Januari 2009 atau yang dikenal dengan Operation Cast Lead, terbukti terdapat beberapa pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Israel terhadap penduduk sipil Palestina yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang. Terdapat tiga mekanisme untuk melakukan penegakan hukum bagi perlindungan penduduk sipil terhadap pelanggaran HAM berat. Pertama dengan menggunakan mekanisme nasional (exhaustion of local remedies), kedua menggunakan Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) berdasarkan Statuta Roma 1998, dan ketiga menggunakan Mahkamah Ad Hoc. Dari ketiga mekanisme penegakan hukum bagi perlindungan penduduk sipil terhadap pelanggaran HAM berat tersebut yang paling memungkinkan digunakan untuk mengadili Israel adalah dengan menggunakan Mahkamah Ad Hoc dengan campur tangan dari Majelis Umum.
Kata Kunci : Operation Cast Lead, mekanisme penegakan hukum humaniter, perlindungan penduduk sipil, pelanggaran HAM berat
commit to user
vi ABSTRACT
Stefanus Donatumar, E.0008240. 2013. LAW ENFORCEMENT MECHANISM FOR THE PROTECTION OF CIVILIANS DURING ISRAEL-PALESTINA CONFLICT IN GAZA BASE ON THE GENEVA CONVENTIONS IV/1949, THE ADDITIONAL PROTOCOL I/1977, AND THE ROME STATUTE OF THE INTERNATIONAL CRIMINAL COURT 1998 (STUDY CASES OPERATION OF CAST LEAD 27 DECEMBER 2008-20 JANUARY 2009)
The purpose of this research are: first to describe forms of violations against the civilian population in Israel-Palestine conflict in Gaza during Operation of Cast Lead. Second to describe mechanism to enforce offenses against civilians according to humanitarian law.
This research is normative legal research that is prescriptive legal nature using statute approach. The material sources used are primary law materials and secondary law materials. Technique of collecting law material used is library research and document research with deductive logic method as the technique of analysis.
The result of research show that in the international humanitarian law, the protection of civilians in international armed conflict regulated under The Geneva Conventions IV/1949 and The Additional Protocol I/ 1977. Israel’s aggression to Palestine on the 27th December 2008-20 January 2009 or known as Operation of Cast Lead, proven there are several violations of human rights done by israel against the Palestinian civilian population that can be categorized as crimes against humanity and war crimes. There are three mechanism to enforcement offense against civilians according to humanitarian law. First by using national mechanism (exhaustion of local remedies), Second by Internasional International Criminal Court/ICC based on Statute of Rome 1998, and Third by Ad Hoc Tribunal. Base of the three mechanisms of enforcement offense against civilians according to humanitarian law the most possible used to prosecute Israel is using the Ad Hoc Court with the intervention of the General Assembly.
Keywords: Operation Cast Lead, mechanism to enforcement humanitarian law, protection of the civilians, gross violation of human rights
commit to user
vii MOTTO
“
The one thing I have never done and will never do in my life is give
up”. (Fernando Torres)
“Be the person you want to be not the person you have to be”.
(Jared Leto)
“Everyone have a story but isn’t same with us, don’t trust other
people but trust in yourself”.
commit to user
viii
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kepada Yesus Kristus yang senantiasa mencurahkan berkatnya sehingga Penulis dapat menyusun dan menyelesaikan Penulisan Hukum yang
berjudul “MEKANISME PENEGAKAN HUKUM TERHADAP
PERLINDUNGAN PENDUDUK SIPIL PADA SAAT KONFLIK ISRAEL-PALESTINA DI JALUR GAZA DITINJAU DARI KONVENSI JENEWA IV/1949, PROTOKOL TAMBAHAN I/1977, DAN STATUTA ROMA 1998 (STUDI KASUS OPERATION CAST LEAD 27 DESEMBER 2008-20 JANUARI 2009)”. Penulisan Hukum atau Skripsi merupakan tugas wajib yang harus diselesaikan oleh setiap mahasiswa untuk melengkapi syarat memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Penulis berharap semoga Penulisan Hukum ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang hukum. Penyelesaian Penulisan Hukum ini tidak terlepas dari bantuan baik moril maupun materiil serta doa dan dukungan berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Hartiwiningsih, S.H., M.Hum., selaku Dekan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Ibu Sri Lestari Rahayu, S.H., M.Hum., selaku Ketua Bagian Hukum Internasional yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
3. Ibu Erna Dyah Kusumawati, S.H., LL.M., selaku Pembimbing I Penulisan Hukum yang telah bersedia memberikan bimbingan, saran, kritik, dan motivasi bagi Penulis untuk menyelesaikan Penulisan Hukum ini.
4. Bapak Ayub Torry Satriyo Kusumo, S.H., M.H., selaku Pembimbing II Penulisan Hukum yang telah bersedia memberikan bimbingan, saran, kritik, dan motivasi bagi Penulis untuk menyelesaikan Penulisan Hukum ini.
5. Ibu Maria Madalina, S.H., M.Hum., selaku pembimbing akademis, atas nasehat yang berguna selama Penulis menempuh pendidikan di Fakultas Hukum UNS.
commit to user
ix
6. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Hukum UNS yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada Penulis sehingga dapat dijadikan bekal dalam Penulisan Hukum ini.
7. Ketua Bagian PPH Ibu Wida Astuti, S.H., M.H., Mas Wawan, dan Mas Joko Susilo anggota PPH yang banyak membantu dalam Penulisan Hukum ini. 8. Ayah, Ibu, Mbah Putri, Om, Tante dan semua keluarga besar Sutijan
Djoyodisastro atas cinta dan kasih sayang, doa, dukungan, semangat dan segala yang telah diberikan yang tidak ternilai harganya sehingga Penulis dapat menyelesaikan Penulisan Hukum ini.
9. Teman-teman Kos Imanuel yang selalu mendukung Penulis untuk menyelesaikan penulisan Hukum ini.
10. Sahabat-sahabatku Haki, Komeng, Reza, Dika, Carok, Taktak, Jaber, Rusdi, Itok, Jojo, Arfin, Albi, Dira, Uche, Panji, Insan, Adityo Bayu, Adityo Dani, Ridho, Fikar, Gery, Simbah, Paksi, Pipit, Choy, Shelma, Hanafi, Lina, Vika Desy Fluita dan semua teman-teman DPR (Dibawah Pohon Rindang) dan Keluarga besar KMK FH yang tidak dapat disebutkan satu persatuyang selalu memberikan canda, tawa dan dukungan kepada penulis.
11. Teman-teman di BEM FH UNS, untuk setiap ilmu dan pengalaman untuk bekal penulis.
12. Semua pihak yang telah membantu dalam Penulisan Hukum ini yang tidak bisa Penulis sebutkan satu-persatu.
Demikian semoga penulisan hukum ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, baik untuk akademisi, praktisi maupun masyarakat umum.
Surakarta, Januari 2013
commit to user
x DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN PERNYATAAN... iv
ABSTRAK... v
ABSTRACT... vi
MOTTO... vii
KATA PENGANTAR... viii
DAFTAR ISI... x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Perumusan Masalah... 6 C. Tujuan Penelitian... 6 D. Manfaat Penelitian... 7 E. Metode Penelitian... 7
F. Sistematika Penulisan Hukum... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori……… 13
commit to user
xi
Internasional... 13 a. Pengertian Hukum Humaniter Internasional (HHI)... 13 b. Sumber-Sumber Hukum Humaniter
Internasional (HHI)... 15 c. Tujuan Hukum Humaniter Internasional (HHI)... 17 d. Asas dan Prinsip-Prinsip Dalam Hukum
Humaniter Internasional (HHI)... 18 2. Tinjauan Umum Tentang Perlindungan
Penduduk Sipil... 20 a. Pengertian Penduduk Sipil (Civilians)... 20 b. Perlindungan Penduduk Sipil... 22 3. Tinjauan Umum tentang Combatant (Kombatan)
dan Hors de Combat... 27 a. Pengertian Combatant (Kombatan)... 27 b. Hors de Combat... 32 4. Tinjauan Umum Tentang Konflik antara Isael
dan Palestina... 34 5. Tinjauan Umum Tentang Konvensi Jenewa IV,Protokol
Tambahan 1977, dan Statuta Roma 1998... 38 a. Konvensi Jenewa 1949... 38 b. Protokol Tambahan I dan II/1977... 40 c. The Rome Statute of the International Criminal
Court 1998 (Statuta Roma 1998)... 42 6. Kriteria Pelanggaran-Pelanggaran Terhadap
Penduduk Sipil... 44 7. Mekanisme Penegakan Hukum Humaniter
Internasional... 56 B. Kerangka Pemikiran... 70
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
commit to user
xii
1. Konflik Israel-Palestina Di Jalur Gaza tanggal
27 Desember 2008-21 Januari 2009 (Operation Cast
Lead)... 72
a. Latar Belakang Operation Cast Lead... 74
b. Kronologis Operation Cast Lead... 75
c. Ringkasan dari Operasi Cast Lead... 83
B. Pembahasan... 88
1. Bentuk Pelanggaran Terhadap Penduduk Sipil Dalam Konflik Israel-Palestina di Jalur Gaza Pada Operation Cast Lead... 88
2. Mekanisme Penegakan Hukum Terhadap Perlindungan Penduduk Sipil Ditinjau Dari Konvensi Jenewa IV/1949, Protokol Tambahan I/1977, dan Statuta Roma 1998 Dalam konflik Israel-Palestina di jalur Gaza padaOperation Cast Lead 27 Desember 2008-20 Januari 2009... 110
BAB IV KESIMPULAN………... 131
commit to user BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Sengketa merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari dalam hubungan antar negara. Sengketa dapat dibagi menjadi sengketa bersenjata dan sengketa tidak bersenjata. Sengketa bersenjata sendiri juga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu international armed conflict atau konflik bersenjata internasional dan non-international armed conflict atau konflik bersenjata yang tidak bersifat internasional yang juga dapat disebut juga sebagai konflik internal. Perbedaan utama antara non-international armed conflict dan international armed conflict dapat dilihat dari status hukum para pihak yang bersengketa. Status hukum para pihak yang bersengketa dalam international armed conflict adalah kedua pihak memiliki status hukum yang sama, karena keduanya adalah negara (sebagaimana dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 2 Konvensi Jenewa 1949) atau paling tidak, salah satu pihak dalam konflik tersebut adalah suatu entitas yang dianggap setara dengan negara sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (4) juncto Pasal 96 ayat (3) Protokol Tambahan I 1977. Salah satu penyebab terjadinya international armed conflict adalah keinginan dari suatu negara untuk menduduki (occupied) wilayah negara lainnya guna memperluas wilayahnya atau untuk maksud mengeksploitasi kekayaan alam yang berada di wilayah negara lain (KGPH Haryomataram, 1994:35). Akibat dari konflik antar negara ini dapat menyebabkan terjadinya perang yang menyebabkan banyak korban baik itu korban materiil maupun korban jiwa.
Salah satu contoh kasus international armed conflict adalah konflik antara Israel dengan Palestina. Konflik ini telah terjadi sejak tahun 1948 ketika Israel menyerang Mesir, Yordania, Syria dan berhasil merebut Sinai, Jalur Gaza, dataran tinggi Golan (Syria), tepi Barat dan Yerussalem (Aryuni Yuliantinigsih,2009:111). Sebelumnya Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour tahun 1917 yang menjanjikan sebuah negara bagi bangsa Yahudi di Palestina, dengan menghormati hak-hak umat non-Yahudi di Palestina (Jimmy
commit to user
Carter,2010:3). Sampai sekarangpun perdamaian antara kedua belah pihak masih belum terwujud, ditambah lagi terjadi ketidaksepakatan tentang masa depan Palestina dan hubungan yang tidak harmonis diantara faksi-faksi di Palestina sendiri hingga jutaan dari warga Palestina terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dan lain-lain.
Sejarah mengenai konflik Israel-Palestina dapat dilihat dari perspektif teologis dan historis. Persoalan Palestina muncul sebagai isu internasional sejak berakhirnya Perang Dunia Pertama sebagai akibat dari runtuhnya Ottoman Empire Turkey. Palestina akhirnya berada diantara negara-negara Arab eks Ottoman Turkey yang berada di bawah administrasi Inggris. Hal ini berdasarkan mandat dari Liga Bangsa-Bangsa yang diadopsi dari Deklarasi Balfour tahun 1917 yang isinya menyuarakan dukungan untuk mendirikan suatu negara di tanah air Palestina untuk orang Yahudi. Israel selalu mengatakan posisi legal internasional mereka atas Yerusalem berasal dari mandat Palestina (Palestine Mandate, 24 Juli 1922), akan tetapi Palestina juga menyatakan Yerusalem (al Quds) akan menjadi ibu kota negara Palestina Merdeka di masa mendatang atas dasar klaim pada agama, sejarah dan jumlah penduduk di kota itu. Pertikaian kedua belah pihak pada akhirnya sulit dihindari, sebab klaim hak atas tanah Palestina bukan sekadar menyangkut latar belakang sejarah dan wilayah politik, melainkan masalah simbol spiritualitas besar bagi kedua pihak (Trias Kuncahyono,2008:256).
Kasus konflik antara Israel-Palestina sudah berlangsung semenjak tahun 1948 dan sampai sekarang konflik ini belum berakhir. Sudah puluhan ribu korban jiwa berjatuhan dalam konflik yang berkepanjangan ini, setidaknya antara kurun waktu tahun 2000-2007 saja ada sekitar 4.228 orang Palestina, 1.024 orang Israel, dan 63 warga negara asing yang kehilangan nyawanya (UN.2008.http://unispal.un.org/UNISPAL.NSF/0/BE07C80CDA4579468525734 800500272, diakses tanggal 27 Juli 2012). Pelanggaran yang dilakukan oleh tentara Israel kepada penduduk sipil Palestina semakin kerap terjadi pada pertengahan tahun 2008, seperti peristiwa terbunuhnya tiga penduduk sipil Palestina di sebuah rumah di Gaza Tengah, sesaat setelah pasukan HAMAS menembakan dua roket ke arah pemukiman Israel (Trias Kuncahyono,2008:257).
commit to user
Contoh yang lain ada sekitar 30 penduduk sipil Palestina yang tewas dibunuh ketika tentara Israel menembaki sebuah bangunan tempat berlindungnya 110 penduduk sipil Palestina di wilayah pemukiman Zeitoun di Gaza Tengah (Amnesty International.2009.http://www.amnesty.org/en/ region/israel-occupied-palestinian-territories/report-2011.html, diakses tanggal 17 Juli 2012).
Konflik yang baru-baru ini terjadi dan yang menyita perhatian dunia adalah agresi Israel kepada Palestina di Jalur Gaza sejak tanggal 27 Desember 2008-20 Januari 2009 atau yang dikenal dengan sebutan Operation Cast Lead (SecurityCouncil.2009.http://www.securitycouncilreport.org/chronology/israelepa lestine.php?page=9, diakses tanggal 17 Agustus 2012). Dunia internasional dikejutkan dengan adanya serangan melalui pemboman lewat udara maupun darat yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza. Serangan ini sebenarnya ditujukan untuk melumpuhkan pejuang Harakat al Muwaqawwamatul Islamiyah (HAMAS) atau secara harawiyah disebut sebagai Gerakan Perlawanan Islam agar menghentikan serangan roketnya ke Israel serta menghentikan suplai senjata HAMAS yang dikirim melalui terowongan-terowongan bawah tanah. HAMAS dianggap sebagai organisasi yang mengganggu untuk merebut wilayah Palestina oleh Israel, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun oleh pendukungnya, organisasi itu dianggap sebagai kekuatan perjuangan yang sah untuk membela Palestina dari pendudukan militer Yahudi.
Akibat serangan yang berlangsung pada tanggal 27 Desember 2008 sampai 20 Januari 2009, total 1.453 orang tewas. Agresi ini merupakan agresi Israel ke Palestina yang memakan jumlah korban dari penduduk sipil terbesar dari keseluruhan agresi yang pernah dilakukan Israel ke Palestina. Dari jumlah tersebut, 1.440 orang Palestina, termasuk 431 anak dan 114 wanita. Sebanyak 13 orang Israel juga tewas dalam insiden tersebut, termasuk tiga warga sipil dan enam pasukan Israel tewas oleh HAMAS. Empat pasukan Israel tewas dalam sebuah insiden tembak-menembak antara pasukan Israel dengan HAMAS (UN.2009.http://www.un.org/children/conflict/documents/A.HRC.10.22.pdf.diaks es tanggal 17 Juli 2012). Selain 1.440 orang Palestina yang tewas, Departemen Kesehatan Palestina mencatat ada 5.380 daftar penduduk Palestina yang terluka,
commit to user
termasuk 1.872 anak-anak dan 800 wanita. Sedangkan ada sekitar 518 penduduk Israel yang terluka, yang terdiri dari 182 penduduk sipil Israel dan 336 pasukan bersenjata Israel (Btselem.2009.http://www.btselem.org/english/statistics/Casual- ties.asp>, diakses tanggal 21 Juli 2012). Kerugian lain yang diterima rakyat Palestina antara lain adalah kerugian materiil berupa rusaknya rumah-rumah mereka, sekitar 6000 rumah mengalami kerusakan ringan dan 10.000 rumah mengalami kerusakan parah. Jika ditaksirkan kerugiannya dapat mencapai 2,2 miliar US dollar (KOMPAS, 18 Januari 2009:11). Penduduk Palestina juga mengalami kesulitan untuk mengungsi dan mendapatkan bantuan kemanusiaan dari luar karena adanya blokade di perbatasan Pelestina dan Mesir. Serangan Israel juga telah menghancurkan rumah-rumah, tempat ibadah, dan kantor lembaga bantuan PBB dan infrastruktur lainnya.
Sebagian besar negara diberbagai belahan dunia, terutama sebagian besar negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam mengutuk agresi Israel ke Palestina. Bahkan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Hak Asasi Manusia di Israel juga mengecam tindakan tersebut. Para pembela hak-hak asasi manusia internasional dengan tegas menyatakan bahwa agresi ini merupakan kejahatan perang. Selain itu di dalam serangannya ke Palestina, Israel juga telah mengakui menggunakan bom fosfor putih yang sangat berbahaya jika digunakan dan sebenanya juga telah dilarang pengunaannya di dalam konvensi Den Haag 1899 karena akan merugikan penduduk sipil. Hal ini terlihat dari bangunan-bangunan yang hancur dan luka bakar yang sangat parah dari para korban (Anonim.2011.http://www.voiceofpalestine.com//inter-Penyakit-Kanker-Warga-Gaza-Meningkat30%-Akibat-Bom-Fosfor-Putih-Israel.htm,diakses tanggal 11 april 2009).
Selama konflik antara Israel-Palestina, kehidupan di Palestina menjadi kacau, penduduk sipil dibayang-bayangi oleh rasa ketakutan. Korban dari kedua pihak sangatlah banyak, terutama dari penduduk sipil Palestina (KGPH Haryomataram, 1994:93). Berdasarkan Konvensi Jenewa IV/1949 dan Protokol Tambahan I/1977, penduduk sipil merupakan pihak yang harus dilindungi dan tidak boleh diserang. Seperti yang tercantum dalam Pasal 4 Konvensi Jenewa
commit to user
IV/1949 “Persons protected by the Convention are those who, at a given moment and in any manner whatsoever, find themselves, in case of a conflict or occupation, in the hands of a Party to the conflict or Occupying Power of which they are not nationals”. Maksud dari Pasal 4 Konvensi Jenewa IV/1949 adalah bahwa orang-orang yang dilindungi dalam konvensi adalah mereka yang pada saat dan karena peristiwa, menemukan dirinya dalam kasus pertikaian atau kependudukan, berada di tangan pihak yang bertikai atau negara yang menduduki yang bukan negaranya. Selanjutnya Pasal 13 Konvensi Jenewa IV/1949 menyatakan bahwa “The provisions Art 4 the whole of the populations of the countries in conflict, without any adverse distinction based, in particular, on race, nationality, religion or political opinion, and are intended to alleviate the sufferings caused by war”. Maksud dari pasal tersebut adalah bahwa perlindungan penduduk sipil meliputi seluruh penduduk dari negara-negara yang bersengketa, tanpa perbedaan yang merugikan apapun yang didasarkan atas suku, kewarganegaraan, agama atau keadaan politik dan dimaksudkan untuk meringankan penderitaan-penderitaan yang disebabkan oleh perang.
Tetapi pada kenyatannya hampir sebagian besar korban yang jatuh dalam konflik ini berasal dari pihak sipil terutama adalah penduduk sipil Palestina. Tentu saja hal ini sangatlah bertentangan dengan isi dari Konvensi Jenewa IV/1949 dan Protokol Tambahan I/1977. Semakin panasnya situasi di Timur Tengah yang sampai saat ini masih berlangsung sepertinya belum ada titik terang untuk menghentikan konflik antara kedua belah pihak. Sebenarnya sudah ada aturan-aturan internasional yang melindungi penduduk sipil dalam konflik bersenjata seperti Konvensi Jenewa IV/1949 maupun Protokol Tambahan I/1977, tetapi sampai sekarang aturan-aturan tersebut belum mampu memberikan keadilan bagi penduduk Palestina.
Berdasarkan uraian-uraian diatas maka penulis membuat penulisan hukum dalam bentuk skripsi dengan judul: “MEKANISME PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PERLINDUNGAN PENDUDUK SIPIL PADA SAAT KONFLIK ISRAEL-PALESTINA DI JALUR GAZA DITINJAU DARI KONVENSI JENEWA IV/1949, PROTOKOL TAMBAHAN I/1977, DAN
commit to user
STATUTA ROMA 1998 (STUDI KASUS OPERATION CAST LEAD 27 DESEMBER 2008-20 JANUARI 2009)”.
B. Rumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan hal yang sangat penting di dalam penyusunan suatu penulisan hukum. Perumusan masalah di dalam suatu penelitian dimaksudkan untuk menegaskan masalah yang akan diteliti, sehingga tujuan yang akan dicapai menjadi lebih jelas dan sistematis. Dengan demikian akan diperoleh hasil yang diharapkan.
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana bentuk pelanggaran terhadap penduduk sipil dalam konflik Israel-Palestina di jalur Gaza pada Operation Cast Lead 27 Desember 2008-20 Januari 2009?
2. Bagaimana mekanisme penegakan hukum terhadap perlindungan penduduk sipil ditinjau dari Konvensi Jenewa IV/1949, Protokol Tambahan I/1977, dan Statuta Roma 1998 dalam konflik Israel-Palestina di jalur Gaza pada Operation Cast Lead 27 Desember 2008-20 Januari 2009?
C. Tujuan Penelitian
Setiap penelitian pasti memiliki tujuan tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan arah dalam melangkah sesuai dengan maksud penelitian. Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis, yaitu :
1. Untuk mendiskripsikan bentuk-bentuk pelanggaran terhadap penduduk sipil dalam konflik Israel-Palestina di Jalur Gaza pada Operation Cast Lead 27 Desember 2008-20 Januari 2009.
2. Untuk mendiskripsikan mekanisme penegakan hukum terhadap perlindungan penduduk sipil ditinjau dari Konvensi Jenewa IV/1949, Protokol Tambahan
commit to user
I/1977, dan Statuta Roma 1998 dalam konflik Israel-Palestina di jalur Gaza pada Operation Cast Lead 27 Desember 2008-20 Januari 2009.
D. Manfaat Penelitian
Setiap penelitian diharapkan dapat memberi manfaat bagi ilmu pengetahuan dibidang ilmu pengetahuan itu sendiri ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain :
1. Manfaat teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada ilmu pengetahuan di bidang hukum secara umum dan hukum internasional secara khusus.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi para peneliti-peneliti yang akan datang untuk ketersediaan data awal. c. Untuk mendalami teori-teori yang telah penulis peroleh selama menjalani
kuliah strata satu (S1) di Fakultas Hukum Sebelas Maret Surakarta dan memberikan landasan untuk penelitian lebih lanjut.
2. Manfaat Praktis
a. Guna memberi jawaban atas permasalahan yang akan diteliti.
b. Untuk mengembangkan penalaran dan membentuk pola pikir serta mengetahui kemampuan penulis dalam menerapkan ilmu yang diperoleh. c. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi masukan kepada para akademisi
yang membutuhkan pengetahuan terkait dengan masalah yang diteliti.
E. Metode Penelitian
Penelitian hukum dimulai dengan melakukan penelusuran bahan hukum sebagai dasar untuk membuat keputusan hukum tehadap kasus-kasus hukum yang konkret. Pada sisi lain, penelitian hukum juga merupakan kegiatan ilmiah untuk memberikan refleksi dan penilaian terhadap keputusan-keputusan hukum yang telah dibuat terhadap kasus-kasus hukum yang pernah terjadi atau yang akan
commit to user
terjadi (Johny Ibrahim, 2006:290). Metode penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut :
Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Jenis penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian hukum normatif. Metode penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum berdasarkan sisi normatifnya. Logika keilmuan dalam penelitian hukum normatif dibangun berdasarkan disiplin ilmiah dan cara-cara kerja ilmu hukum normatif, yaitu hukum yang objeknya hukum itu sendiri (Johny Ibrahim, 2006:57). Sisi normatif di dalam penulisan hukum ini adalah untuk menentukan hasil analisis mengenai norma-norma yang ada dalam hukum humaniter internasional mengenai pelindungan terhadap penduduk sipil dalam konflik bersenjata beserta mekanisme penegakan hukum terhadap perlindungan penduduk sipil, khususnya dalam konflik bersenjata yang bersifat internasional (international armed conflict) .
2. Sifat Penelitian
Ilmu hukum mempunyai karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif dan terapan (Peter Mahmud Marzuki, 2009:22). Ilmu hukum yang bersifat perskriptif berarti ilmu hukum mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum. Sebagai ilmu terapan, rambu-rambu dalam aturan hukum. Sifat preskriptif dalam penelitian ini yaitu hukum humaniter internasional tentang perlindungan penduduk sipil dalam konflik bersenjata internasional tidak dapat ditegakan dalam konflik Israel-Palestina ini, padahal sudah ada aturan-aturan yang mengaturnya. Penulis akan mempelajari tentang macam-macam perlindungan terhadap penduduk sipil berdasarkan Konvensi Jenewa IV/1949 dan Protokol Tambahan I/1977, kemudian menelaah mekanisme penegakan hukum humaniter yang dapat diberlakukan untuk menyelesaikan kasus ini menurut Konvensi Jenewa IV/1949 dan Statuta Roma 1998 .
commit to user 3. Pendekatan Penelitian
Menurut Peter Mahmud Marzuki, pendekatan dalam penelitian hukum ada lima pendekatan, yaitu: pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan perbandingan (comparative approach), dan pendekatan konseptual (conceptual approach).
Dari beberapa pendekatan tersebut penulis akan menggunakan pendekatan undang-undang (statute approach). Pendekatan undang-undang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani (Peter Mahmud Marzuki, 2009:93). Pada penelitian ini penulis akan menelaah tentang Konvensi Jenewa IV/1949 dan Protokol Tambahan I /1977 sebagai aturan dasar yang mengatur tentang perlindungan penduduk sipil dalam sengketa bersenjata internasional, beserta Statuta Roma 1998 sebagai aturan dasar yang mengatur tentang Makamah Pidana Internasional sebagai salah satu mekanisme penegakan hukum terhadap perlindungan penduduk sipil.
4. Sumber penelitian Hukum
Penelitian hukum ini akan menggunakan dua sumber hukum yang terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas, yang terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi, atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan hakim. Sedangkan bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi (Peter Mahmud Marzuki,2006:141).
Bahan hukum yang digunakan didalam penelitian ini adalah :
a. Bahan hukum primer yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah hasil Konvensi Jenewa IV/1949 dan Protokol Tambahan I/1977 sebagai instrumen internasional yang mengatur mengenai perlindungan orang-orang sipil pada waktu perang. Beserta Statuta Roma 1998 sebagai aturan dasar
commit to user
yang mengatur tentang Makamah Pidana Internasional sebagai salah satu mekanisme penegakan hukum terhadap perlindungan penduduk sipil.
b. Bahan hukum sekunder yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku, jurnal-jurnal diantaranya adalah Harvard National Security Journal / Vol. 2,2011 yang ditulis oleh Michael N. Schmitt dan Jurnal Dinamika Hukum, Vol 9 No. 2, Mei 2009 yang ditulis oleh Aryuni Yuliantinigsih, pendapat para sarjana yang berkaitan dengan perlindungan orang-orang sipil pada waktu perang.
5. Teknik pengumpulan Bahan Hukum
Teknik pengumpulan bahan hukum penelitian ini adalah studi kepustakaan. Peneliti akan mengkaji dan mempelajari hasil Konvensi Jenewa IV/1949, Protokol Tambahan I/1977, dan Statuta Roma 1998 sebagai bahan primer dan bahan hukum sekunder yang berupa buku-buku, jurnal-jurnal, pendapat para sarjana yang berkaitan dengan perlindungan orang-orang sipil pada waktu perang.
6. Teknik Analisis Bahan Hukum
Teknik analisis bahan hukum yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deduksi. Penggunakan metode deduksi berpangkal dari pengajuan premis mayor yakni aturan-aturan hukum yang kemudian diajukan premis minor yakni fakta-fakta hukum, yang kemudian ditarik suatu kesimpulan (Peter Mahmud Marzuki,2006:47). Peneliti mengkaji mengenai isi dari Konvensi Jenewa IV/1949 dan Protokol Tambahan I/1977 sebagai instrumen internasional yang mengatur mengenai perlindungan orang-orang sipil pada waktu perang, beserta Statuta Roma 1998 sebagai aturan dasar yang mengatur tentang Makamah Pidana Internasional sebagai salah satu mekanisme penegakan hukum terhadap perlindungan penduduk sipil yang kemudian dihubungkan dengan fakta-fakta yang ada dalam konflik antara Israel dengan Palestina di Jalur Gaza dalam Operation Cast Lead.
commit to user
F. Sistematika Penelitian Hukum
Penulis hukum ini terdiri dari empat bab, yaitu pendahuluan, tinjauan pustaka, pembahasan, dan penutup serta dilengkapi dengan daftar pustaka. Adapun sistematika penulisan hukum sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan hukum.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan segi-segi teoritis dari permasalahan yang akan diteliti, yaitu tinjauan umum tentang HHI, tinjauan umum tentang perlindungan penduduk sipil, combatant dan hors de combat, tinjauan umum tentang konflik antara Isael dan Palestina, tinjauan umum tentang Konvensi Jenewa 1949, Protokol Tambahan 1977, dan Statuta Roma 1998, tinjauan umum tentang kriteria pelanggaran-pelangaran terhadap penduduk sipil, dan tinjuan umum tentang mekanisme penegakan HHI.
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini menjelaskan tentang hasil penelitian yang menghubungkan aturan-aturan hukum dengan data-data yang telah diperoleh dari hasil penelitian, yaitu: bentuk-bentuk pelanggaran terhadap penduduk sipil dalam konflik Israel-Palestina di Jalur Gaza pada Operation Cast Lead dan yang terakhir adalah mekanisme penegakan hukum terhadap perlindungan penduduk sipil ditinjau dari Konvensi Jenewa IV/1949, Protokol Tambahan I/1977, dan
commit to user
Statuta Roma 1998 dalam konflik Israel-Palestina di jalur Gaza pada Operation Cast Lead 27 Desember 2008-20 Januari 2009.
BAB IV : PENUTUP
Bab ini menjelaskan tentang simpulan
commit to user BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori
1. Tinjauan Mengenai Hukum Humaniter Internasional (HHI) a. Pengertian Hukum Humaniter Internasional (HHI)
Begitu banyak definisi HHI yang dikemukakan oleh para ahli, oleh karenanya, penulis akan menyajikan beberapa pendapat untuk menunjukkan esensi dari definisi-definisi tersebut, yaitu:
1) Mochtar Kusumaatmadja (Mochtar Kusumaatmadja, 1979:7)
Mochtar Kusumaatmadja tidak memberikan definisi, hanya memberikan pembagian hukum perang, yakni:
a) Jus ad Bellum (hukum tentang perang);
Mengatur dalam hal bagaimana negara dibenarkan menggunakan kekerasan senjata.
b) Jus In Bello (hukum yang berlaku dalam perang): Hukum ini dibagi menjadi dua lagi, yaitu:
(1) Hukum yang mengatur cara dilakukannya perang (Conduct of War). Bagian ini lazimnya disebut “Hague Laws”.
(2) Hukum yang mengatur perlindungan orang-orang yang menjadi korban perang, ini lazimnya disebut “Geneva Laws”. 2) Menurut pendapat dari Esbjorn Rosenbland yang dikutip oleh Arlina
Permanasari dkk (Arlina Permanasari dkk,1999:9)
Esbjorn Rosenbland merumuskan HHI dengan mengadakan pembedaan antara:
a) The law of armed conflict, berhubungan dengan permulaan dan berakhirnya pertikaian, pendudukan di wilayah lawan, hubungan pihak bertikai dengan negara netral.
b) law of warfare antara lain mencakup: metode dan sarana berperang, status kombatan, perlindungan yang sakit, kombatan dan orang sipil.
commit to user
3) F. Sugeng Istanto (F. Sugeng Istanto,1997:1)
HHI ialah keseluruhan ketentuan hukum yang merupakan bagian dari hukum internasional publik yang mengatur tingkah laku manusia dalam pertikaian bersenjata yang didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan dengan tujuan untuk melindungi manusia.
4) Panitia Tetap (Pantap) Hukum Humaniter, Departemen Hukum dan Perundang-Undangan (Arlina Permanasari dkk, 1999:10)
HHI sebagai keseluruhan asas, kaidah dan ketentuan internasional baik tertulis maupun tidak tertulis yang mencakup hukum perang dan hak asasi manusia, bertujuan untuk menjamin penghormatan terhadap harkat dan martabat seseorang.
5) Menurut pendapat dari Geza Herzegh yang dikutip oleh Michael N. Schmitt (Michael N. Schmitt,2011:25) merumuskan hukum humaniter internasional sebagai berikut:
“Part of the rules of public international law which serve as the protection of individuals in time of armed conflict. Its place is beside the norm of warfare it is closely related to them but must be clearly distinguished from these its purpose and spirit being different”.
Maksud dari pendapat Geza Herzegh adalah HHI merupakan bagian dari aturan-aturan hukum internasional publik yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap individu dalam masa konflik bersenjata. Posisinya adalah disamping norma peperangan itu erat terkait dengan mereka, tetapi harus jelas membedakan dari tujuan dan semangat yang berbeda.
6) Menurut pendapat dari Jean Pictet yang dikutip oleh Moaz Zatari and Jonathan Molony (oleh Moaz Zatari and Jonathan Molony,2010:11) “International humanitarian law in the wide sense is constitusional legal provision, whether written or customary, ensuring respect and individual and his well being”. Maksud dari pendapat Jean Pictet adalah HHI dalam arti luas adalah provisi hukum konstitusional, baik
commit to user
tertulis maupun adat, menjamin penghormatan individu dan kesejahteraannya.
Dari beberapa istilah yang diungkapkan oleh para pakar di atas dapat disimpulkan, bahwa HHI adalah sebagai keseluruhan asas, kaidah dan ketentuan internasional baik tertulis maupun tidak tertulis yang mencakup hukum perang dan hak asasi manusia, bersumber pada hukum internasional dan hukum kebiasaan internasional yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan kemanusiaan yang muncul secara langsung sebagai akibat dari konflik bersenjata, baik yang bersifat internasional maupun non-internasional.
b. Sumber-Sumber Hukum Humaniter Internasional (HHI)
Hukum perang merupakan bagian dari hukum internasional. Sehingga sumber hukum perang sama dengan sumber hukum internasional. J.G. Starke menguraikan bahwa sumber-sumber meteriil hukum internasional dapat didefinisikan sebagai bahan-bahan aktual yang digunakan oleh para ahli hukum internasional untuk menetapkan hukum yang berlaku bagi suatu peristiwa atau situasi tertentu. Secara garis besar, bahan-bahan hukum internasional dapat dikategikan dalam lima bentuk,yaitu (J.G. Starke,2000:679):
1) Hukum Kebiasaan Internasional; 2) Traktat;
3) Keputusan Pengadilan atau Badan-Badan Arbritasi; 4) Karya-karya hukum;
5) Keputusan atau Ketetapan organ-organ atau lembaga internasional. Menurut Pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional (Article 38 of the Statute of the International Court of Justice) sumber hukum internasional adalah:
1) Perjanjian internasional (international convention);
commit to user
3) Prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa yang beradab (general principles of law recognized by civilized nations);
4) Keputusan pengadilan (judicial decisions);
5) Ajaran sarjana (the teachings of the most highly qualified publicists of the various nations).
Berdasarkan pada sumber hukum internasional dalam Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional (Article 38 of the Statute of the International Court of Justice) di atas, terdapat tiga sumber utama hukum humaniter internasional, yaitu (ICRC, 2004:4) :
1) Konvensi Den Haag (Hague Convention) yang terdiri dari :
a) Konvensi Den Haag Tahun 1899 (Hague Convention of 1899); b) Konvensi Den Haag Tahun 1907 (Hague Convention of 1907). 2) Konvensi Jenewa I-IV Tahun 1949 (Final Record Of The Diplomatic
Conference Of Geneva Of 1949)
a) Protokol Tambahan I Tahun 1977 (Protocol Additional I to the Geneva Conventions 1977);
b) Protokol Tambahan II Tahun 1977 (Protocol Additional II to the Geneva Conventions 1977).
3) Sumber-sumber hukum lainnya, terdiri dari: a) Deklarasi Paris (16 April 1856);
b) Deklarasi St. Petersburg (29 November 1868-11 Desember 1868); c) Rencana Peraturan Den Haag tentang Perang di Udara Tahun
1923;
d) Protokol Jenewa (17 Juni 1925) tentang Pelarangan Penggunaan Gas Cekik dan Macam-Macam Gas Lain Dalam Peperangan; e) Protokol London (6 November 1936) tentang Peraturan
Penggunaan Kapal Selam Dalam Pertempuran;
f) Konvensi Den Haag 1954 tentang Perlindungan Benda-Benda Budaya pada Waktu Pertikaian Bersenjata;
g) Konvensi Senjata Konvensional Tertentu (10 Oktober 1980) tentang Larangan atau Pembatasan Penggunaan Senjata
commit to user
Konvensional Tertentu yang mengakibatkan Penderitaan yang Berlebihan.
Dikatakan bahwa hanya ada tiga sumber utama HHI karena didalam perjanjian internasional sebagian besar di dalamnya berisikan tentang hasil kodifikasi dari sumber hukum internasional lainnya menurut Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional seperti kebiasaan internasional, keputusan pengadilan, dan prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa yang beradab.
c. Tujuan Hukum Humaniter Internasional (HHI)
Perang adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan oleh umat manusia, karena peperangan menimbulkan kesengsaraan dan kerugian yang tak ternilai harganya. Setiap kali perang terjadi selalu diwarnai dengan perbuatan-perbuatan yang sangat kejam dan bertentangan dengan perikemanusiaan. Perang tidak dan belum dapat dicegah, sehingga diharapkan HHI dapat memanusiakan perang. Mohammed Bedjaoui menyatakan bahwa tujuan hukum humaniter adalah untuk memanusiakan perang (Mohammed Bedjaoui,1991:12).
Adapun tujuan hukum perang adalah sebagai berikut (Haryomataram, 1994:8-9) :
1) Melindungi, baik kombatan maupun non-kombatan, dari penderitaan yang tidak perlu;
2) Menjamin hak-hak asasi manusia yang fundamental bagi mereka yang jatuh dalam tangan musuh;
3) Mencegah dilakukan perang secara kejam tanpa mengenal batas. Beberapa tujuan dari Hukum Humaniter Internasional yaitu (Syahmin. AK,1985:7-8 ) :
1) Melindungi baik kombatan maupun non-kombatan dari penderitaan yang tidak perlu;
2) Menjamin hak-hak asasi tertentu dari orang yang jatuh ke tangan musuh;
commit to user
3) Memungkinkan dikembalikannya perdamaian; 4) Membatasi kekuasaan pihak berperang.
Dapat disimpulkan, bahwa tujuan dari hukum humaniter adalah untuk melindungi korban perang baik kombatan maupun non-kombatan, juga melindungi Hak Asasi Manusia (HAM) yang selalu dilanggar pada saat berlangsung konflik dan mencegah perilaku yang kejam dan tanpa belas kasihan dalam perang.
d. Asas dan Prinsip-Prinsip Dalam Hukum Humaniter Internasional (HHI)
Dalam hukum humaniter dikenal beberapa prinsip-prinsip, yaitu (Pietro Verri, 1992:90):
1) Prinsip kepentingan militer (military necessity)
Berdasarkan prinsip ini pihak yang bersengketa dibenarkan menggunakan kekerasan untuk menundukkan lawan demi tercapainya tujuan dan keberhasilan perang.
Dalam prakteknya, untuk menerapkan asas kepentingan militer dalam rangka penggunaan kekerasan terhadap pihak lawan, suatu serangan harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
a) Prinsip proporsionalitas (proportionality principle), yaitu:
prinsip yang diterapkan untuk membatasi kerusakan yang disebabkan oleh operasi militer dengan mensyaratkan bahwa akibat dari sarana dan metode berperang yang digunakan tidak boleh tidak proporsional (harus proporsional) dengan keuntungan militer yang diharapkan.
b) Prinsip pembatasan (limitation principle), yaitu prinsip yang membatasi penggunaan alat-alat dan cara-cara berperang yang dapat menimbulkan akibat yang luar biasa kepada pihak musuh. 2) Prinsip Perikemanusiaan (humanity)
Berdasarkan prinsip ini maka pihak yang bersengketa diharuskan untuk memperhatikan perikemanusiaan, dimana mereka
commit to user
dilarang untuk menggunakan kekerasan yang dapat menimbulkan luka yang berlebihan atau penderitaan yang tidak perlu. Oleh karena itu prinsip ini sering juga disebut dengan unnecessary suffering principle. 3) Prinsip Kesatriaan (chivalry)
Prinsip ini mengandung arti bahwa di dalam perang, kejujuran harus diutamakan. Penggunaan alat-alat yang tidak terhormat, perbuatan curang dan cara-cara yang bersifat khianat dilarang.
4) Prinsip pembedaan (distinction principle)
Berdasarkan prinsip ini pada waktu terjadi perang/konflik persenjata harus dilakukan pembedaan antara penduduk sipil (civilian) di satu pihak dengan combatant serta antara objek sipil di satu pihak dengan objek militer di lain pihak. Berdasarkan prinsip ini hanya kombatan dan objek militer yang boleh terlibat dalam perang dan dijadikan sasaran. Banyak ahli yang berpendapat bahwa prinsip pembedaan ini adalah yang paling penting dalam prinsip-prinsip HHI. H. A. Mansyur Effendi menyusun pengelompokan tentang prinsip-prinsip dalam dalam hukum humaniter, yakni: (H. A. Mansyur Effendi, 1985:52-53)
1) Pada prinsipnya hak asasi manusia tidak dapat diganggu gugat, dalam arti tiap-tiap individu mempunyai atau memiliki hak hidup, hak atas fisik dan moral dan kepribadian. Ada prinsip yang terkandung dalam pengertian tidak dapat diganggu gugat yaitu:
a) Seorang yang tertangkap dalam peperangan tidak dapat diganggu atau dilanggar haknya (hak hidupnya tak boleh dihilangkan); b) Penyiksaan dilarang;
c) Setiap orang berhak atas pengajuan yang sama di depan hukum; d) Setiap orang berhak untuk memperoleh penghormatan, berhak
menganut keyakinannya dan melaksanakan kegemarannya;
e) Setiap orang yang menderita akan mendapatkan perlindungan dan menerima perawatan secukupnya;
commit to user
f) Tidak seorangpun dapat dikurangi hak miliknya dengan semena-mena.
2) Prinsip tidak membeda-bedakan sesama manusia, baik dari segi agama, jenis kelamin, kebangsaan, bahasa, dan kedudukan sosial, kekayaan, politik, suku, pandangan hidup.
3) Prinsip keamanan :
a) Tak seorangpun dipertanggung jawabkan terhadap perbuatan yang tak dilakukan olehnya;
b) Dilarang adanya pembalasan, hukum kolektif, penyanderaan/pengusiran terhadap seseorang;
c) Tiap orang mendapatkan hak untuk mendapatkan keuntungan atas jaminan hukum yang ada;
d) Tak seorangpun dapat dihapus hak yang telah diberikan oleh konvensi-konvensi humaniter kepadanya.
Dari prinsip-prinsip yang telah disebutkan di atas, jelaslah bahwa HHI mencoba untuk memberikan penghormatan terhadap pribadi korban dalam sengketa bersenjata tanpa adanya pembedaan, juga memberikan jaminan atas keselamatan korban dalam sengketa bersenjata.
2. Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Penduduk Sipil a. Pengertian Penduduk Sipil (Civilians)
Protokol Tambahan I/1977 mengatur definisi orang sipil (civilian). Hal ini dirumuskan dalam Pasal 50 ayat (1) yang berbunyi:
“civilians is someone who does not belong to one category or the categories mentioned in Article 4 a (1) (2) (3) and (6) of the Third Convention and Article 43 of this Protocol. If there is any doubt whether a person is classified as a civilian, that person will be considered as civilians.”
Dengan demikian yang dimaksud orang sipil menurut Protokol Tambahan I/1977 Pasal 50 ayat (1) adalah seseorang yang tidak termasuk salah satu kategori/golongan yang disebut dalam pasal 4 A (1),(2),(3) dan (6) dari Konvensi Jenewa III/1949 dan Pasal 43 Protokol Tambahan I/1977. Apabila ada keragu-raguan apakah sesorang tergolong orang sipil, maka
commit to user
orang tersebut dianggap sebagai orang sipil. Selanjutnya dalam ayat (2) dinyatakan bahwa penduduk sipil (civilian population) terdiri dari orang-orang sipil.
Pengaturan tentang penduduk sipil dirumuskan secara terbalik oleh konvensi ini bahwa orang sipil adalah orang-orang yang tidak termasuk di dalam salah satu golongan berikut, yaitu:
1) Anggota angkatan perang dari pihak yang bertikai;
2) Anggota-anggota milisi serta anggota sukarekawan, termasuk anggota-angggota gerakan perlawanan yang diorganisir;
3) Anggota-anggota angkatan perang tetap yang menyatakan kesetiaan pada suatu pemerintah atau kekuasaan yang tidak diakui oleh negara penahan;
4) Penduduk wilayah yang belum diduduki.
Selain itu, Pasal 43 ayat (1) dan (2) Protokol Tambahan I/1977 mengatur bahwa angkatan perang yang terdiri dari semua angkatan, kelompok-kelompok dan satuan-satuan bersenjata yang diorganisir yang berada dibawah suatu komando yang bertanggung jawab kepada pihak dibawahannya, dan kombatan yaitu mereka yang mempunyai hak untuk turut serta secara langsung dalam permusuhan, tidak dapat dikategorikan pula sebagai orang sipil.
Dengan demikian maka Pasal 50 ayat (1), tidak secara langsung merumuskan definisi tentang orang sipil. Pasal 50 ayat (1) hanya menyebut bahwa anggota angkatan bersenjata dan kombatan seperti yang dimaksudkan dalam Pasal 43 Protokol I juga tidak termasuk kedalam golongan orang sipil (KGPH Haryomataram, 1994:104).
Konvensi Jenewa IV Tahun 1949 juga memuat ketentuan yang dapat dijadikan acuan paling pokok untuk perlindungan penduduk sipil yaitu Pasal 27, yang merumuskan bahwa orang-orang yang dilindungi berhak akan penghornatan atas diri pribadi, kehornatan hak-hak keluarga, keyakinan, dan praktek keagamaan, serta adat istiadat dan kebiasaan mereka. Mereka selalu harus diperlakukan dengan perikemanusiaan, dan
commit to user
harus dilindungi terhadap segala tindakan kekerasan dan penghinaan. Selain mengatur tentang penghormatan atas orang-orang sipil, Pasal 27 Konvensi Jenewa IV Tahun 1949 juga mengatur tentang perlindungan terhadap kaum wanita. Pada pasal ini diatur macam-macam perlindungan terhadap wanita seperti perlindungan terhadap setiap serangan atas kehormatannya, khususnya terhadap perkosaan, pelacuran yang dipaksakan, atau setiap bentuk serangan yang melanggar kesusilaan. Perlindungan terhadap kaum wanita juga harus dilakukan secara adil, tanpa membedakan pada ras, agama, atau pendapat politik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pasal 27 Konvensi Jenewa IV tahun 1949 merumuskan bahwa wanita juga dapat dikategorikan sebagai penduduk sipil dan mendapatkan perlindungan yang sama dengan penduduk sipil pada umumnya. Orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi sosial yang melaksanakan tugas-tugas yang bersifat sosial untuk membantu penduduk sipil lainnya pada waktu sengketa bersenjata juga dapat dikategorikan sebagai penduduk sipil yang tidak bileh diserang dalam sengketa bersenjata. Contohnya penduduk sipil yang menjadi anggota perhimpunan palang merah nasional atau perhimpuan penolong sipil lainnya (Agustinus Supriyanto, 2006: 66).
b. Perlindungan Penduduk Sipil
HHI mewajibkan pihak-pihak yang bersengketa melindungi penduduk sipil dan membedakan antara penduduk sipil dengan kombatan. Pasal 48 Protokol Tambahan I tahun 1977 mengatur:
Agar dapat dijamin penghormatan dan perlindungan terhadap penduduk sipil dan obyek sipil, pihak-pihak dalam sengketa setiap saat harus membedakan penduduk sipil dari kombatan dan antara obyek sipil dan sasaran militer dan karenanya harus mengarahkan operasinya hanya terhadap sasaran-sasaran militer saja.
Istilah penduduk sipil mencakup semua orang yang berstatus sipil (tidak ikut berperang). Oleh karena itu istilah penduduk sipil mencakup orang-orang sipil yang berdomisili di daerah-daerah yang sedang terjadi
commit to user
konflik peperangan, atau penduduk sipil yang berdomisili di daerah-daerah pendudukan. Pasal 50 Protokol Tambahan I tahun 1977 mengatur “If there is any doubt whether a person is classified as a civilian, that person will be considered as civilians” (Bila ada keraguan apakah seseorang itu seorang sipil atau kombatan, maka ia harus dianggap sebagai orang sipil). Perlindungan penduduk sipil ini juga mencakup orang-orang yang bekerja sebagai penolong, wartawan dan personel organisasi pertahanan sipil (Pasal 63 ayat (1) dan Pasal 79 ayat (1) Protokol Tambahan I tahun 1977). Pasal 63 ayat (1) Protokol Tambahan I/1977 mengatur tentang :
Di wilayah-wilayah pendudukan, organisasi pertahanan sipil akan menerima fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk menjalankan tugas-tugas mereka. Dalam keadaan apapun, personil mereka tidak dapat dipaksakan menjalankan kegiatan yang akan mengganggu pelaksanaan tugas-tugas tersebut secara benar. Penguasa Pendudukan tidak akan merubah struktur atau personil dan organisasi-organisasi tersebut sedemikian yang dapat mengganggu pelaksanaan misi mereka secara efisiensi. Organisasi-organisasi itu tidak akan diharuskan memberikan prioritas kepada warganegara atau kepentingan-kepentingan dari Penguasa tersebut.
Pasal 79 ayat (1) Protokol Tambahan I/1977 mengatur tentang: Wartawan-wartawan yang melakukan tugas-tugas pekerjaanya yang berbahaya di daerah-daerah sengketa bersenjata harus dianggap sebagai orang sipil di dalam pengertian Pasal 50 ayat (1).
Menurut pengaturan HHI, perlindungan manusia dalam pertikaian bersenjata didasarkan pada prinsip pembedaan. Berdasarkan prinsip pembedaan itu pengaturan orang yang dilindungi HHI dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yakni (Fadilah Agus, 1997:42):
1) Kombatan; 2) Orang sipil;
3) Penolong korban perang, yang dapat dibedakan: penolong militer dan penolong sipil.
Seperti yang tercantum dalam Pasal 49 dan 51 Protokol Tambahan I Tahun 1977, perlindungan penduduk sipil sama kuatnya dengan perlindungan terhadap kombatan dan mereka yang telah berhenti
commit to user
berperang (hors de combat) artinya terhadap penduduk sipil tidak dijadikan obyek serangan.
Perlindungan yang harus diberikan oleh pihak-pihak yang berperang terhadap penduduk sipil adalah:
1) Orang-orang sipil harus diperlakukan dengan perlakuan yang manusiawi tanpa suatu pembedaan diskriminatif yang didasarkan atas jenis kelamin, warna kulit, ras, agama atau kepercayaan, pandangan politik atau pandangan-pandangan lainnya, asal kebangsaan dan sosial, kekayaan, keturunan, dan standar-standar pembedaan serupa lainnya (Pasal 27 Konvensi Jenewa IV Tahun 1949 dan Pasal 75 ayat (1) Protokol Tambahan I tahun 1977);
2) Orang-orang sipil harus menerima perlindungan berkaitan dengan kehormatan, kemuliaan, hak-hak keluarga, ideologi dan pelaksanaan ritual keagamaan serta adat-istiadat dan tradisi. Kapan dan dalam kondisi apapun mereka harus diperlakukan dengan perlakuan yang manusiawi;
3) Tidak boleh melakukan aksi-aksi perampokan, pencurian, atau penyiksaan terhadap mereka dan harta benda milik mereka (Pasal 33 Konvensi Jenewa IV tahun 1949).
Beberapa Konvensi yang mengatur tentang perlindungan bagi penduduk sipil antara lain adalah sebagai berikut (Muhammad Sayyid Thanthawi,2008:53):
1) Konvensi Jenewa IV 1949
Dalam konvensi ini perlindungan bagi penduduk sipil dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Perlindungan Umum
Diberikan kepada penduduk sipil dan tidak boleh dilakukan secara diskriminatif. Dalam segala keadaan, penduduk sipil berhak atas penghormatan pribadi, hak kekeluargaan, kekayaan dan praktek ajaran agamanya. Terhadap mereka tidak boleh dilakukan tindakan yang dapat digolongkan kedalam bunyi Pasal
commit to user
27-34 Konvensi Jenewa IV tahun 1949 yaitu tentang: pemaksaan jasmani, tindakan yang menimbulkan penderitaan, intimidasi/terorisme.
b) Perlindungan Khusus
Perlindungan khusus diberikan kepada penduduk sipil yang tergabung dalam suatu organisasi sosial yang melaksanakan tugas-tugas yang bersifat sosial untuk membantu penduduk sipil lainnya pada waktu sengketa bersenjata, yaitu penduduk sipil yang menjadi anggota perhimpunan palang merah nasional atau perhimpuan penolong sipil lainnya, termasuk anggota pertahanan sipil.
2) Protokol Tambahan I dan II tahun 1977
Secara eksplisit menetapkan batasan pengertian orang sipil. Orang sipil adalah setiap orang yang bukan anggota angkatan bersenjata pihak yang bertikai. Anggota angkatan bersenjata adalah kombatan, yaitu mereka yang berhak ikut serta dalam permusuhan. Bentuk Perlindungannya Protokol Tambahan I Tahun 1977 :
a) Larangan menyerang orang sipil;
b) Keharusan dilakukannya penghati-hatian dalam melakukan perbuatan perang demi untuk melindungi orang sipil;
c) Larangan dilakukannya kekerasan kepada orang sipil; d) Larangan pemindahan paksa orang sipil;
e) Jaminan mendapatkan bantuan;
f) Kesempatan memberi bantuan korban pertikaian bersenjata. 3) Konvensi Den Haag Tahun 1899 & 1907
Konvensi Den Haag tidak menetapkan batasan orang sipil. Namun dalam Konvensi Den Haag terdapat ketentuan yang mengatur orang-orang yang tidak tergolong belligerent, yaitu orang-orang yang tidak turut serta dalam permusuhan, mereka adalah orang sipil. Garis besar perlindungan yang ditetapkan antara lain:
commit to user
a) Larangan pemaksaan orang sipil memberikan info tentang angkatan bersenjata pihak lawan bertikai atau tentang perlengkapan pertahanannya;
b) Larangan meminta orang sipil untuk setia pada penguasa pendudukan;
c) Penghormatan hak-hak pribadi dan harta orang sipil; d) Larangan menjarah penduduk sipil;
e) Larangan pemungutan pajak dan pungutan lain yang sewenang-wenang;
f) Larangan penghukuman kolektif orang sipil;
g) Larangan pencabutan hak milik orang sipil secara sewenang-wenang.
4) Deklarasi St. Petersburg Tahun 1868
Deklarasi ini secara implisit menetapkan perlindungan bagi orang sipil. Perlindungan itu ditetapkan dengan dicantumkannya asas pembedaan antara orang sipil dan kombatan di dalam konsiderannya. Konsideran itu menetapkan bahwa satu-satunya sasaran sah yang dapat dituju dalam perang adalah melemahkan angkatan bersenjata musuh.
5) Instruksi Lieber Tahun 1863
Instruksi ini membedakan penduduk sipil menjadi tiga kelompok: a) Orang sipil yang inoffensive
Mereka mendapat perlindungan pribadi, harta dan kehormatannya. Mereka tidak boleh dibunuh, dijadikan budak, dipaksa bekerja pada pihak yang menang.
b) Orang sipil yang terkait pelaksanaan tugas angkatan bersenjata Apabila mereka tertangkap musuh, maka berhak mendapat status sebagai tahanan perang.
c) Orang sipil yang ikut serta langsung dalam permusuhan Mereka diberi kedudukan sebagai belligerent.
commit to user
Hukum Humaniter Internasional memberikan perlindungan ekstra bagi para wanita dan anak-anak di tengah-tengah konflik bersenjata. Hal tersebut telah ditegaskan oleh Dewan Ekonomi dan Sosial Hukum Humaniter Internasional yang telah meminta kepada Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjajaki kemungkinan dideklarasikannya perlindungan untuk wanita dan anak-anak pada saat darurat atau terjadinya perang. Berdasarkan usulan tersebut, Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mendeklarasikan hal tersebut pada tanggal 14 Desember 1974 (Muhammad Sayyid Thanthawi,2008:55).
Hukum Humaniter Internasional juga memberikan jaminan perlindungan bagi warga negara asing yang tengah berada di wilayah salah satu pihak yang sedang bertikai. Warga negara asing tersebut diberi hak meninggalkan negara yang sedang terjadi konflik ketika peperangan mulai berkecamuk, atau di tengah-tengah terjadinya peperangan. Pemulangan mereka harus disertai keterangan tentang status mereka sebagai warga sipil yang harus dilindungi dan dalam situasi yang kondusif dari aspek keamanan, kesehatan dan ketersediaan pangan (Muhammad Sayyid Thanthawi,2008:55).
3. Tinjauan Umum Tentang Combatant (Kombatan) dan Hors de Combat a. Pengertian Combatant (Kombatan)
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa di dalam prinsip pembedaan (distinction principle) membagi penduduk suatu negara yang sedang berperang atau sedang terlibat dalam konflik bersenjata ke dalam dua golongan, yakni peserta tempur dan penduduk sipil. Pasal 43 Protokol Tambahan I/1977 secara tegas menentukan bahwa mereka yang dapat digolongkan sebagai kombatan adalah mereka yang termasuk ke dalam angkatan perang/angkatan bersenjata (armed forces) suatu negara, yang dikategorikan ke dalam pengertian angkatan bersenjata adalah mereka yang memiliki hak untuk berperan-serta secara langsung dalam
commit to user
permusuhan. Angkatan bersenjata (armed forces) dapat dibagi menjadi dua:
1) Organized Armed Forces (Angkatan bersenjata yang terorganisir) Ada beberapa definisi tentang angkatan bersenjata terorganisir. Oleh karenanya, penulis akan menyajikan beberapa pengaturan untuk menunjukan esensi dari definisi-definisi tersebut. a) Konvensi Jenewa IV/1949
Dalam Konvensi Jenewa 1949 (I,II,III,IV) tidak menyebut masalah angkatan bersenjata, melainkan hanya menentukan yang berhak mendapatkan perlindungan (Pasal 13 Konvensi I dan II); yang berhak mendapatkan perlakuan tawanan perang jika jatuh ke tangan musuh (Pasal 4 Konvensi III). Meskipun ketentuan dalam Pasal 13 Konvensi I dan II serta Pasal 4 Konvensi IV tidak dengan tegas disebutkan adanya penggolongan kombatan dan penduduk sipil, namun ketentuan dalam pasal-pasal tersebut pada dasarnya dimaksudkan untuk diberlakukan bagi kombatan (Haryomataram,1994:60). Menurut Pasal 13 ayat (2) Konvensi Jenewa I/1949, mereka yang dapat dimasukkan dalam kategori kombatan adalah:
(1) Mereka yang memiliki pemimpin yang bertanggung jawab atas bawahannya;
(2) Mereka yang mengenakan tanda-tanda tertentu yang dapat dikenal dari jarak jauh;
(3) Mereka yang membawa senjata secara terbuka;
(4) Melakukan operasi-operasi mereka sesuai dengan hukum-hukum dan kebiasaan-kebiasaan perang.
b) Pasal 1-3 Konvensi Den Hag 1907
Angkatan bersenjata yang terorganisir adalah orang-orang yang berhak ikut serta secara langsung dalam pertempuran atau medan peperangan. Pihak-pihak yang dapat digolongkan sebagai kombatan adalah:
commit to user
(1) Angkatan Bersenjata resmi (reguler) dari suatu negara, (2) Milisi dan Korps Sukarela,
(3) Levee en masse, (Penduduk wilayah yang belum diduduki yang pada saat musuh mendekat, atas kemauan sendiri dengan serentak mengangkat senjata untuk melawan pasukan yang yang menyerbu, tanpa mempunyai waktu untuk membentuk kesatuan-kesatuan bersenjata yang teratur, asal saja mereka memikul senjata secara terang-terangan dan menghormati hukum-hukum dan kebiasaan-kebiasaan perang)
(4) Gerakan perlawanan yang terorganisir (Organize Resistance Movement) seperti yang dikenal dengan sebutan : partisans, freedom fighters, insurgent, mujahideen, dan sebagainya. c) Pasal 43 Protokol Tambahan I/1977
Angkatan bersenjata yang terorganisir adalah mereka yang termasuk ke dalam pengertian angkatan perang/angkatan bersenjata (armed forces) suatu negara. Yang dikategorikan ke dalam pengertian angkatan bersenjata adalah mereka yang memiliki hak untuk berperan-serta secara langsung dalam permusuhan.
Selain pengaturan yang telah penulis jelaskan diatas ada juga pendapat dari Haryomataram yang dapat menunjukan esensi definisi Organized Armed Forces (Angkatan bersenjata yang terorganisir) adalah suatu golongan penduduk yang secara aktif turut serta dalam permusuhan (hostilities) (Haryomataram,1994:63).
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa angkatan bersenjata yang terorganisir adalah orang-orang yang berhak ikut serta secara langsung dalam pertempuran yang termasuk ke dalam pengertian angkatan perang/angkatan bersenjata (armed forces) suatu negara, apabila tertangkap pihak musuh, akan dianggap sebagai tawanan perang (prisoner of war) dan berhak untuk