BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Bentuk Perilaku Keagamaan Remaja di Desa Barakkae
Berdasarkan pengertian perilaku keagamaan seperti yang dijelaskan diatas yaitu seluruh aktifitas anggota tubuh manusia yang berdasarkan syari’at Islam atau ibadah dalam arti luas baik yang berbentuk horizontal antara sesama makhluk, maka bentuk-bentuk perilaku keagamaan di sini bermacam-macam dan luas. Di dalam skripsi ini secara umum hanya akan dibahas tiga bentuk perilaku keagamaan yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Disiplin Menjalankan Perintah Shalat
Dalam hal ini shalat merupakan ciri penting dari orang yang bertaqwa. Allah swt berfirman :
َِّمَو َةَلاَّصلا َنْوُمْيِقُيَو ِبْيَغْلاِب َنْوُ نِمْؤُ ي َنْيِذَّلا ْيِقَّتُمْلِّل ىًدُه ِهْيِف َبْيَر َلا ُباَتِكْلا َكِلَذ
نْوُقُِنُي ْمُهاَنْ قَزَر ا
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.(Qs.2 ayat 2-3).57
Jadi yang dimaksud dengan disiplin menjalan perintah shalat adalah Ketaatan, kepatuhan, keteraturan seseorang di dalam menunaikan ibadah shalat wajib yang terdiri dari lima waktu sehari semalam lengkap dengan segala syarat serta rukun-rukunnya.
Bapak Hambali selaku imam desa Barakkae mengatakan, “Kepercayaan remaja di Desa Barakkae saat ini terhadap tuhan menurut saya kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi kadang pula menjadi ragu dan berkurang karena pengaruh dari era globalisasi misal gadget dan media sosial, hal ini nampak pada cara ibadahnya yang kadang rajin dan kadang-kadang malas. Perasaannya kepada tergantung pada perubahan emosi yang sedang dialaminya”.58
Dalam kondisi yang demikian peran guru amat penting untuk penanaman agama apalagi keadaan anak yang sedang mengalami kegoncangan perasaan akibat pengaruh teknologi yang berjalan sangat cepat.
Banyak faktor yang menyebabkan kegoncangan jiwa remaja, oleh karenanya sebagai seorang pendidik/guru harus dapat memahami kondisi tersebut, melakukan pendekatan lalu membawa mereka kepada ajaran agama, karena agama mampu mengatur pola kehidupan yang lebih baik.
Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah berusaha
mendekatkan mereka dengan pentingnya ibadah Sholat, sholat memiliki pengaruh penting terhadap kejiwaan manusia khususnya remaja karena apabila seseorang rajin melakukan sholat dan selalu berpegang teguh pada setiap hal kebaikan pasti akan memberikan sikap yang baik pula, misalnya; rasa puas, merasa dicintai, merasa aman, merasa bahagia dan perasaan
57
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah Al-Muhaimin, (Depok:Al-Huda, 2015)
58
positif lainnya sehingga secara tidak langsung akan menjauhkan remaja pada kegiatan yang kurang baik atau perbuatan buruk.
Tidak dapat dipungkiri bahwa, kemajuan teknologi saat ini berdampak secara langsung terhadap kemudahan dari berbagai unsur kehidupan,
namun sebaliknya ternyata teknologi juga dapat berpengaruh buruk bagi remaja, hal ini akan terjadi ketika remaja tidak dapat menggunakan teknologi tersebut secara baik. karena terlalu asyik bermain internet (jejaring sosial) misalnya, mereka sampai lupa beribadah dan lupa pekerjaan pekerjaan lain yang lebih banyak manfaatnya, hal ini dapat diamati dari hasil wawancara beberapa remaja di Desa Barakkae sebagai berikut :
Berdasarkan wawancara penulis dengan Asir Yusran mengatakan bahwa:
”Menggunakan media sosial sedikit mempengaruhi perilaku
keagamaan saya, khususnya kedisiplinan melakukan ibadah shalat. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya ketika saya menggunakan media sosial
meskipun tidak meninggalkan shalat tapi sering menunda-nunda shalat. Meskipun tidak selalu tapi bisa dikatakan sering.59
Hal serupa juga dikemukakan oleh Amalia Ramadhani :
“Menggunakan media sosial membuat saya sering menunda-nunda pelaksanaan ibadah. Ia mengaku sering telat shalat. Bahkan, ketika malam hari ketika saya asyik bermain gadged dan chattingan di media sosial terkadang sampai tertidur dan baru shalat menjelang waktu subuh.60
Berdasarkan hasil wawancara langsung yang penulis lakukan tersebut dapat disimpulkan bahwa teknologi media sosial (jejaring sosial) yang menjadi salah kesibukan remaja saat ini, memiliki pengaruh buruk terhadap tingkat kedisiplinan dalam hal beribadah khususnya ibadah sholat, walaupun tidak sepenuhnya namun cukup berdampak terhadapt tradisi keberagaman yang diwariskan oleh para pemuka agama/tokoh-tokoh agama
59
Asir Yusran, Hasil wawancara, Desa Barakkae.14 Februari 2019
60
pendahulu kita, yang mestinya Ibadah mahdah tak ada tawar menawar untuk memenuhinya. Karena media sosial ini telah merebah di segala umur
terkhusus pada kaum remaja yang rentang dengan pengaruh-pengaruh buruk, maka seyogyanya perlakuan terhadap media sosial ini perlu dikendalikan dengan perhitungan positif, diantaranya;
1. Remaja perlu melakukan aktivitas lain selain menggunakan media
sosial, misalnya; olahraga, membaca buku, membantu orang tua dan
aktivitas positif lainnya.
2. Remaja membuat komitmen dalam dirinya bahwa ibadah lebih penting
daripada bermain gedget.
2. Cara berpenampilan
Pakaian bisa terlihat bagaimana kesadaran remaja beragama, karena pakaian adalah hiasan yang paling baik untuk pakaian orang beriman.61
Walaupun media sosial menjajakan berbagai macam fashion namun remaja Desa Barakkae memiliki pandangan lain mengenai hal tersebut, hal ini bisa dilihat dari paparan hasil wawancara penulis sebagai berikut:
Salah satu remaja yang bernama Mas’ud, mengatakan bahwa: “Saya tidak terpengaruh oleh media sosial dalam hal penampilan dibandingkan dengan teman-teman, saya tidak suka mengikuti
perkembangan fashion yang ada, dan juga merasa cara berpenampilanku ini tidak melanggar aturan agama”.62
Selain Mas’ud, Amalia Ramadhani juga mengatakan bahwa:
61
Imam Ja’far Ash-Shadiq, Lentera Ilahi, (Bandung:Mizan,1997) h.37
62
“Saya juga tidak mengikuti tren fashion di media sosial. cara
berpenampilan saya juga biasa saja di banding dengan perempuan lainnya. saya cenderung tidak peduli bahkan bisa dibilang apa adanya. Meskipun jarang memakai rok tapi saya tidak pernah memakai celana jeans, saya lebih suka memakai celana kain yang longgar dengan kemeja yang panjang dan juga jilbab yang tebal seperti rabbani”.63
Berdasarkankan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa konten yang dijajakan oleh media sosial dengan berbagai macam gaya dan tren ternyata tidak berpengaruh terhadap cara berpakaian remaja di Desa Barakkae, apalagi gaya dan tren masa kini, hal ini terjadi karena beberapa faktor :
1. Wilayah Desa Barakkae dan termasuk wilayah yang cukup jauh dari
perkotaan sehingga cara berpenampilan merekapun tidak terlalu
mengikuti tren fasion yang ada.
2. Masyarakat Desa Barakkae termasuk masyarakat menengah kebawah
sehingga untuk mengikuti tren atau gaya masa kini harus berfikir
panjang dengan dana yang mereka punya.
3. Moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencapai proteksi. Hidup manusia adalah nilai universal, dalam arti bahwa menghormati semua hidup manusia merupakan hal yang logis dan pantas diinginkan oleh semua orang.64
Moral/prilaku remaja atas keeksisan media sosial saat ini, menjadi perbincangan tersendiri bagi warga masyarakat di Desa Barakkae.
63
Amalia Ramadhani,.14 Februari 2019
64
Lawrence Kohlberg, Tahap-Tahap Perkembangan Moral, (Yogyakarta:Kanisius 1995) h.130
Hasil Wawancara dengan Munandar selaku sekertaris desa Barakkae, mengatakan bahwa;
“Sangat sulit bila menjelaskan tentang kehidupan atau moral etika remaja saat ini yang bergelimang dengan teknologi, saya dibuat bimbang oleh tingkah para remaja di Barakkae ini yang terkadang eksis, terkadang membuat kesal, hal kecil bisa dilihat dari kelakuan remaja saat lewat depan orang tua yang terkadang tidak sopan. Bahkan ketika orang tua bicara kadang tidak dihiraukan pada saat ia sibuk dengan gadgetnya”.65
Hasil wawancar dengan Hamsinah, salah satu guru SD mengatakan juga bahwa:
“Moral/prilaku remaja sekarang sedikit bergeser, dulu waktu kami remaja ketika disuruh oleh orang tua untuk membantu didapur itu cepat kami lakukan, tetapi remaja sekarang kadang orang tua memanggil sampai empat atau lima kali, remaja tersebut belum juga beranjak dari tempat duduknya karena sibuk dengan gadgetnya”.66
Raudahtuljannah dan Rahmi Riana. Mereka mengatakan bahwa: “Jujur sering kami terlambat kesekolah karena begadang bermain gadget, Bisa dibilang kami kurang disiplin lagi, dan sering tidak jujur ketika ditanya guru alasan terlambat”.67
Berdasarkankan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi moral/prilaku remaja di Desa Barakkae butuh perhatian, hal ini tokoh masyarakat atau guru memiliki peran penting, kerjasama perlu dibangun baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun di lingkungan dimana mereka
bergaul. Baik orang tua, tokoh masyarakat maupun guru di sekolah perlu memberikan pengawasan dan penjelasan terhadap dampak yang ditimbulkan media sosial tersebut.