• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk-bentuk Perilaku Sosial Keagamaan

Mengutip dari pengertian perilaku sosial keagamaan di atas, dapat dikemukakan bahwa bentuk-bentuk perilaku sosial keagamaan menurut Muhammad Abdurrahman (2016: 33) sebagai berikut :

a. Perilaku Tolong Menolong

Tolong menolong merupakan suatu sifat yang mendorong seseorang untuk membantu dan bekerja sama dengan oranglain. Tentuan sejawat, kaum kerabat, golongan, organisasi dan lain-lain. Tolong menolong dalam kata dan perbuatan untuk kebaikan bersama. Dengan bertolong-tolongan ini akan dapat dipelihara kepentingan bersama, kemajuan bangsa dan Negara. Setiap pribadi tidak akan bahagia manakala masyarakat sekitarnya rusak. Jadi ada ketergantungan antara pribadi dan masyarakat.

Tolong menolong berarti bekerjasama memperbuat amal yang berguna untuk masyarakat. Bekerjasama memajukan Negara dan bangsa. Selain dari tolong menolong dalam pembangunan fisik, bekerjasama dalam pembangunan mental juga tolong menolong namanya. Menyuruh berbuat baik, melarang dari kerja munkar, tolong menolong yang amat besar artinya. Tolong menolong dalam bidang pembangunan mental ini memerlukan ketabahan dan kesabaran (Bakry, 1993: 122-123).

Dalam al-Qur‘anul Karim selalu dianjurkan untuk tolong menolong berbuat baik, seperti dalam firman Allah SWT Qs. Al-Maidah ayat 2 .



“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan

pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (Kem. Agama RI, 2018: 106)

Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling menolong dalam berbuat kebaikan —yaitu kebajikan— dan meninggalkan hal-hal yang mungkar: hai ini dinamakan ketakwaan. Allah Swt. melarang mereka bantu-membantu dalam kebatilan serta tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan. Ibnu Jarir mengatakan bahwa dosa itu ialah meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dikerjakan. Pelanggaran itu artinya melampaui apa yang digariskan oleh Allah dalam agama kalian, serta melupakan apa yang difardukan oleh Allah atas diri kalian dan atas diri orang lain. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)

Tolong menolong dalam lingkungan masyarakat sangat penting. Bila seseorang mempunyai hubungan kemanusiaan, ia wajib tolong menolong.

Apabila orang yang berbuat baik dan takwa kepada Allah harus dibantu.

Caranya ialah dengan memberikan dorongan semangat, jika hanya itu yang bisa dilakukan. Sebaliknya, jika ada yang berbuat maksiat atau dosa serta permusuhan, ia wajib mencegahnya dari perbuatan dosa dan permusuhan tersebut dengan nasihat.

Manusia adalah makhluk sosial karena tak ada seorangpun yang mampu hidup sendiri, tanpa bergaul dengan saudaranya. Dengan bermuamalah antar sesama akan sempurna permanfaatan dan kegunaan.

Banyak sekali kebutuhan seorang individu yang tak akan mampu dipenuhinya sendiri.

b. Menghormati Tetangga

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994: 1050), tetangga memliki arti orang (rumah) yang berdekatan atau sebelah-menyebelah. Dengan pengertian tersebut, sudah tentu ada aturan atau etika yang mengaturnya.

Tetangga adalah orang terdekat. Ia juga merupakan orang pertama yang akan memberikan pertolongan pertama jika terjadi sesuatu yang menimpa kita. (Restianti, 2011: 14-15)

Agar setiap Muslim akur dan akrab dengan tetangganya, ajaran Islam melalui al-Qur‘an dan Hadits telah menetapkan adab bertetangga. Berikut ini adab bertetangga:

1) Memilih Tetangga yang Saleh

Sebelum memutuskan tinggal di suatu tempat, seharusnya seorang muslim memilih tempat tinggal yang saleh tetangganya sebab tetangga yang tidak saleh suka membuka rashasia rumah tangga orang lain.

Ada kalanya seseorang membutuhkan bantuan tetangganya.

Apabila tetangga itu orang saleh, tentu ia akan memberikan manfaat dan meringankan bebannya, ―ujar ulama terkemuka itu.

2) Menyukai Kebaikan bagi Tetangganya

Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya adalah menyukai kebaikan bagi tetangganya, sebagaimana ia menyukai kebaikan itu bagi dirinya sendiri.

3) Tidak Mengganggu baik dengan Ucapan maupun Perbuatan

Mengganggu tetangga adalah perbuatan yang haram. Bahkan, Rasulullah secara khusus telah mengingatkan masalah ini. Beliau bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya” (H.R. Bukhari)

4) Selalu berbuat baik kepada Tetangga

Rasulullah mengajarkan umatnya agar selalu berbuat baik kepada tetangganya. Beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya… “ (H.R.

Muslim). Untuk itulah, wajib hukumnya berbuat baik kepada tetangga dengan cara apapun yang memungkinkan.

5) Bersabar terhadap Gangguan Tetangga

Tetangga yang baik bukan hanya menahan tangannya untuk tidak mengganggu tetangganya. Akan tetapi ia juga bersabar terhadap gangguannya. Hendaknya ia membalas gangguan itu dengan kebaikan.

Sesungguhnya sikap seperti itu akan menutup pintu bisikan setan.

6) Memberi Makan kepada Tetangga yang Fakir

Rasulullah selalu menekankan pentingnya umat Islam berbuat baik kepada tetangga. Beliau bersabda, ―Bukanlah Mukmin orang yang kenyang, sementara tetangga di sampinya kelaparan”.

Saat ini masih banyak orang yang tidak memedulikan kondisi tetangganya. Padahal, Rasulullah mengajarkan umatnya berbagi dengan tetangga. Beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian memasak, perbanyaklah kuahnya, kemudian berikan sebagian kepada tetangganya”. Rasulullah juga melarang umatnya meremehkan sesuatu yang akan diberikan kepada tetangganya. Beliau bersabda, “Wahai wanita muslimah, janganlah kalian meremehkan pemberian kepada tetangga meskipun hanya kaki kambing”. Hendaknya adab yang agung ini diperhatikan dan jangan sampai diabaikan (Restianti, 2011:63-64).

c. Silaturahmi

Silaturrahim adalah menyambung kekerabatan. Istilah ini menjadi sebuah simbol dari hubungan baik penuh kasih sayangantara ssama kerabat yang asal-usulnya berasal dari satu rahim. Silaturrahim juga memiliki pengertian yang lebih luas, tidak sebatas dari hubungan kasih saying antara sesama kerabat, tetapi juga mencakup masyarakat yang lebih luas. Jadi, silaturrahim berarti menghubungkan tali kasih sayang antara sesama anggota masyarakat.

Firman Allah Swt dalam Qs. An-Nisa ayat 1:



Artinya: ―Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”. (Kem. Agama RI, 2018: 77)

Menurut Ad-Dahhak, makna ayat adalah 'bertakwalah kalian kepada Allah yang kalian telah berjanji dan berikrar dengan menyebut nama-Nya'.

Bertakwalah kalian kepada Allah dalam silaturahmi. Dengan kata lain, janganlah kalian memutuskannya. melainkan hubungkanlah dan berbaktilah untuknya. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid.

Al-Hasan. Ad-Dahhak. Ar-Rabi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Salah seorang ulama membaca al-arhama menjadi al-arhami. yakni dengan bacaan jar karena di-'ataf-kan kepada damir yang ada pada bihi. Dengan kata lain, kalian saling meminta satu sama lain dengan menyebut nama Allah dan hubungan silaturahmi. Demikianlah menurut yang dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)

Secara prinsip seorang muslim harus bersikap kepada kerabatnya yang lain sebagaimana ia bersikap kepada ibu,bapak, anak, dan saudara-saudaranya.

Bibi diperlakukan seperti ibu, paman diperlakukan seperti bapak. Demikian juga hubungan saudara-saudara, adik dan kakak harus diperlakukan dengan baik. Saudara yang lebih tua bersikap kepada yang lebih muda seperti orang tua kepada anaknya, dan saudara lebih muda bersikap kepada yang lebih tua

seperti anak kepada orang tuanya. Demikian seterusnya secara melebar, dengan cucu, sepupu, dan keponakan.

Di samping meningkatkan hubungan kekerabatan, silaturrahim juga memberi manfaat lain yang lebih besar, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara manfaat silaturrahim adalah mendapatkan rahmat dan nikmat dari Allah Swt, dapat memudahkan masuk surga dan jauh dari neraka, melapangkan rezeki, serta panjang umur. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA. Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya makahendaknya ia menyambung tali silaturrahmi”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Islam juga mengingatkan secara jelas bahkan mengecam orang-orang yang memutuskan silaturrahim (qath‟i ar-rahim). Hal tentu harus dihindari karena memutuskan silaturrahim berarti telah memutuskan hubungan persaudaraan atau pertemanan.

Jika seorang mukmin berbuat baik kepada sanak-kerabatnya, meskipun mereka sendiri jahat terhadapnya maka derajatnya akan terangkat di sisi Allah Swt. karena ketegarannya menanggung derita kejahatan dan semangatnya menyambung tali silaturrahmi sebagai imlementasi peritah Allah Swt. untuk peduli dan berempati pada sanak kerabat. Berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya akan melipat gandakan pahala bagi si baik dan menambah siksa bagi si jahat. (Hajjaj, 2013: 291-292)

d. Persaudaraan/Ukhuwah

Ukhuwah berasal dari bahasa Arab, ukhuwah, yang pada asalnya berarti ―persamaan dan keserasian dalam banyak hal‖. Lalu, kemudian diartikan dengan persaudaraan, karena adanya persamaan-persamaan tersebut.

Oleh sebab itu, dikatakan persaudaraan sepertalian darah, karena kesamaan dalam keturunan; dikatakan persaudaraan sebangsa, karena sama-sama memeluk satu agama. Kata ―saudara‖ (akh) itu sendiri – kata al-Ragib, seorang ahli bahasa al-Qur‘an – pada dasarnya berarti kebersamaan kelahiran

dengan oranglain dari dua bapak yang sama, atau salah satu dari keduanya adalah sama, atau sepersepupuan. Lantas kata itu dipinjam untuk menyebut

‗kebersamaan‘ dengan oranglain dalam kesukuan, agama, rofesi, pergaulan, kasih saying dan lain-lain (Yunasril Ali, 2008:365)

Jadi, ukhuwah secara umum berarti persaudaraan. Akan tetapi persaudaraan itu sendiri ada yang bersifat ketat dan intim, sehingga sukar untuk dapat diputuskan. Adapula dalam bentuk persahabatan biasa yang bersifat longgar dan lebih mudah terlupakan. Yang menjadi inti dari persaudaraan adalah ikatan batin yang menghubungkan antara seseorang dan oranglain, sehingga apa yang dirasakan oleh yang satu akan dirasakan pula oleh yang lain (Yunasril Ali, 2008:367).

Bila dilihat ukhuwah-ukhuwah dalam bentuk lain, yang disebutkan di dalam al-Qur‘an, akan diperoleh perbandingan sebagai berikut:

1) Ukhuwah seketurunan (ukhuwah fi al-nasab). Dalam hal ini ukhuwah akan senantiasa berlanjut sepanjang garis keturunan itu masih dapat diketahui. Oleh sebab itu, semakin jauh seseorang dari asal keturunanya semakin rengganglah tali persaudaraannya. Demikian pula, semakin banyak pertalian keturunan itu menyebar dan berkembang akan semakin terasa pula longgarnya perasaan persaudaraan.

2) Ukhuwah karena persamaan sifat/profesi (Ukhuwah fi sifat wa al-sana‟ah). Dalam hal ini ukhuwah berlanjut selama sifat dan profesi itu ada pada seseorang. Bila hal demikian telah tiada, akan putus pulalah persaudaraan. Jadi, yang menjadi inti persaudaraan disini ialah adanya kesamaan dalam tujuan yang hendak dicapai. Bila tujuan itu telah tercapai dan orang telah keluar dari sifat/profesi yang ditekuninya, akan habis pulalah rasa ukhuwah.

3) Ukhuwah karena sebangsa (ukhuwah fi al wataniyyah) dan termasuk di dalamnya ukhuwah karena seideologi. Seperti halnya ukhuwah karena

persamaan sifat/profesi, ukhuwah akrena sebangsa atau seideologi akan habis bila sendi-sendi kebangsaan dan ideology itu berantakan.

(Yunasril Ali, 2008: 371-375)

Ukhuwah tidak akan terwujud kalau tanpa sendi-sendi yang kokoh, yang mendasarinya. Kalau ukhuwah Islamiyah diumpamakan oleh Rasulullah saw. sebagai sebuah bangunan yang kokoh, antara satu bagian dan lainnya saling terkait erat, maka tidak ayal lagi bahwa yang paling utama dari bangunan itu ialah sendi-sendi yang melandasinya. Sendi-sendi ukhuwah Islamiyah itu antara lain, dapat disebutkan seperti di bawah ini:

a) Husnuzhan (prasangka baik) terhadap semua sauda ra sesama Muslim.

Sebab, kalau sejak awal persaudaraan telah dibina dengan prasangka baik semua kegiatan akan berjalan dengan lancar, karena tidak ada rasa saling mencurigai antara sesame saudara.

b) Kasih sayang. Kasih sayang dan saling mencintai merupakan jiwa persaudaraan. Tanpa kasih sayang dan rasa saling mencintai, niscaya akan semakin intim pulalah persaudaraan. Persaudaraan yang direkat dengan kasih sayang tidak akan pernah berantakan ditengah jalan, tetapi akan dibawa ke liang kubur, sampai tulang belulang pun hancur.

c) Rela berkorban. Kerelaan berkorban dan berbagi rasa amat diperlukan dalam membina ukhuwah. Sebab, ukhuwah pada intinya seperti telah disebutkan adalah pergaulan hidup dalam taraf yang paling intim.

Pergaulan hidup memerlukan pengorbanan, baik material maupun spiritual. Pengorbanan itu diperlukan, karena manusia tidak mempunyai selera yang sama, tidak memiliki perasaan dan pikiran yang sama, maka dengan sendirinya, masing-masing mempunyai keperluan yang berbeda pula.

d) Toleransi. Seperti diketahui, kita bersahabat adalah dengan sesama manusia. Manusia tidak terlepas dari kesalahan dan keteledoran. Oleh sebab itu, dalam ukhuwah dituntut adanya kelapangan dada atau

toleransi. Akan tetapi, apakah kesalahan yang dilakukan dengan sengaja dapat ditolerir? Bila kita merujuk kepada Qur‘an dan al-Sunah, akan diperoleh kesan bahwa kesalahan itu sebenarnya tidak semuanya dipandang salah oleh seseorang, namun yang lain memandangnya sebagai kebenaran. Dalam menghadapi yang ijtihad itulah paling penting adanya sikap toleran.

e) Musyawarah. Lafal musyawarah berasal dari bahasa Arab, musyawarah yang pada asalnya berarti ―mengeluarkan madu dari sarang lebah‖. Kemudian lafal tersebut dipakai untuk menunjuk pengeluaran pemikiran dalam suatu dialog. Musyawarah dipandang bernilai karena dia – kata Mahmud Syaltut, Mantan Rektor Universitas Al-Azhar, Kairo – merupakan sarana untuk menyatakan kebenaran dan melaluinya dapat diketahui pendapat yang paling matang.

Musyawarah merupakan salah satu sendi ukhuwah Islamiyah, karena melalui musyawarah itu umat atau pemimpin-pemimpinnya dapat memecahkan problema bersama secara adil, bebas dn terbuka.

(Yunasril Ali, 2008: 376) e. Rendah Hati (Tawadhu‘)

Secara harfiah, tawadhu‟ artinya rendah hati. Adapun menurut istilah, tawadhu‟ ialah sikap rendah hati kepada Allah SWT. Dengan senantiasa tunduk dan patuh terhadap ketentuan-ketentuanNya. Tawadhu‟ (rendah hati) merupakan sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim, karena orang yang tawadhu‟ akan terhindar dari permusuhan karena tidak ada orang yang dibenci. (Wahid, 2009: 69).

Pengertian Tawadhu Secara etimologi, kata tawadhu berasal dari kata wadh‘a yang berarti merendahkan, serta juga berasal dari kata ―ittadha‘a‖

dengan arti merendahkan diri. Disamping itu, kata tawadhu juga diartikan dengan rendah terhadap sesuatu. Sedangkan secara istilah, tawadhu adalah menampakan kerendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan. Bahkan, ada

juga yang mengartikan tawadhu sebagai tindakan berupa mengagungkan orang karena keutamaannya, menerima kebenaran dan seterusnya (Rusdi, 2013: 15).

Pengertian Tawadhu Secara Terminologi berarti rendah hati, lawan dari sombong atau takabur. Tawadhu‘ yaitu perilaku manusia yang mempunyai watak rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, atau merendahkan diri agar tidak kelihatan sombong, angkuh, congkak, besar kepala atau kata-kata lain yang sepadan dengan tawadhu‘ (Yunahar Ilyas, 2007: 123).

Tawadhu‘ menurut Ahmad Athoilah hakekat tawadhu‘ itu adalah sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah (Syekh Ahmad Ibnu Atha‘illah, Al-Hikam, 2006: 448). Rendah hati tidak sama dengan rendah diri, karena rendah diri berarti kehilangan kepercayaan diri. Sekalipun dalam praktik- nya orang yang rendah hati cenderung merendahkan dirinya di hadapan orang lain, tapi sikap tersebut bukan lahir dari rasa tidak percaya diri. Sikap tawadhu' terhadap sesama manusia adalah sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan Kemahakuasaan Allah SWT atas segala hamba-Nya.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sikap tawadhu‘

akan membawa jiwa manusia kepada ajaran Allah, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Membimbing manusia untuk menjadi seorang yang ikhlas, menerima apa adanya, membawa manusia ke suatu tempat dimana berkumpulnya orang-orang yang ikhlas menerima apa adanya. Sehingga tidak serakah, tamak, serta selalu berbakti kepada Allah, taat kepada Rasul Allah, dan cinta kepada makhluk Allah. Apabila perilaku manusia sudah seperti ini maka di sebut bersikap tawadhu.

Di dalam al-Qur‘an tidak ditemukan kata istilah yang menunjuk langsung pada kata tawadhu. Akan tetapi, yang disebutkan adalah beberapa kata yang memiliki kesamaan arti dan maksud sama dengan kata tawadhu itu

sendiri, seperti kata rendah diri, merendahkan, atau rendahkanlah, tidak sombong, lemah lembut, dan seterusnya.

Berikut di bawah ini firman Allah yang terdapat dalam al-Qur‘an surat Asy-Syu‘araa ayat 214-215 tentang perintah untuk Bertawadhu kepada oranglain :

“dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,”

“dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.” (Kem. Agama RI, 2018: 376)

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa kita harus dapat merendahkan hati atau bertawadhu terhadap orang lain. Salah satu sikap tawadhu dengan orang lain adalah menyapa ketika bertemu atau berpapasan.

Indikator sikap tawadhu‘, antara lain: (1) Tidak menonjolkan diri terhadap teman sebaya; (2) Berdiri dari tempat duduk untuk menyambut kedatangan orang; (3) Bergaul ramah dengan orang umum; (4) Mau mengunjungi orang lain sekalipun lebih rendah status sosialnya; (5) Mau duduk-duduk bersama dengan orang yang tidak setingkat; (6) Tidak makan minum dengan berlebihan; (7) Tidak memakai pakaian yang menunjukkan kesombongan.

Menurut Khozin Abu Faqih dalam bukunya Tangga Kemuliaan Menuju Tawadhu, Ada empat jenis Tawadhu yaitu:

1) Tawadhu‘ kepada Allah SWT

Tawadhu‘ kepada Allah SWT artinya merendahkan diri di hadapan-Nya. Tanda-tanda orang Tawadhu‘ kepada Alloh SWT diantaranya:

a) Merasa kecil / sedikit dalam ta‘at kepada-Nya. Artinya, seorang yang Tawadhu‘ kepada Allah SWT itu merasa bahwa dalam

ketaatan dan ibadahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yangtelah dilakukan.

b) Merasa besar/banyak dalam maksiat. Artinya, seorang yang Tawadhu‘ kepada Allah SWT, merasa bahwa dosa / maksiat yang telah dilakukan sangat besar / banyak dibandingkan dengan amalnya.

c) Memperbanyak pujian kepada Alloh SWT. Dan tidak pada diri sendiri.

d) Tidak menuntut hak kepada Alloh, tetapi berorientasi pada amal yang harus dilakukan.

2) Tawadhu‘ kepada Agama

Tanda-tanda orang yang Tawadhu‘ kepada agama diantaranya:

Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan- larangan di dalam agama islam.

3) Tawadhu‘ kepada Rasulullah Saw.

Tanda-tanda orang Tawadhu‘ pada Rasulullah diantaranya: (a) Mengutamakan petunjuk Rasulullah diatas manusia lainnya; (b) Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau; (c) Menjadikan Rasulullah Saw. Sebagai teladan hidupnya.

4) Tawadhu‘ kepada Sesama

Tanda-tanda orang yang Tawadhu‘ kepada manusia diantaranya: (a) Menerima nasehat/saran kebenaran dari orang lain; (b) Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya; (c) Siap membantu orang lain;s (d) Bermusyawarah dengan anggota masyarakat yang lain; (e) Senantiasa berbaik sangka (khusnudzon) kepada orang lain (Khozin Abu Faqih : 41-46).

3. Pengembangan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sosial

Dokumen terkait