• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II METODE TARGHIB WA TARHIB DAN PERILAKU SOSIAL KEAGAMAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II METODE TARGHIB WA TARHIB DAN PERILAKU SOSIAL KEAGAMAAN"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

A. Metode Targhib Wa Tarhib

1. Pengertian, Dasar dan Tujuan Metode Targhib Wa Tarhib a. Pengertian

Metode adalah cara, dalam hal ini acara menyajikan bahan pengajaran dalam majlis ta‘lim untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Maka baik metode yang dipilih makin efektif pencapaian tujuan. Metode mengajar banyak sekali macamnya, namun bagi majlis ta‘lim tidak semua metode itu dapat dipakai. Ada metode mengajar dikelas yang tidak semua metode mengajar dikelas yang tidak dapat dipakai dalam majlis ta‘lim. Hal ini disebabkan karena perbedaan kondisi dan situasi sekolah dengan majlis ta‘lim (Huda, 1990 : 10).

Targhib berasal dari kata dasar raghiba yang jika dikaitkan dengan fi memiliki arti gembira, cinta atau sesuatu yang disukai, tetapi jika dikaitkan dengan „an, maka artinya benci. Menurut pengertian lain Targhib memiliki arti mendorong atau memotivasi diri untuk mencintai kebaikan. Tarhib diartikan menimbulkan perasaan takut yang hebat kepada orang lain. (Muhammad Thalib, 1996: 96)

Kata targhib berasal dari kara raghbah, yang mengikuti pola kata ta‘fil.

Kata raghbah berarti cinta, senang kepada yang baik, sedangkan kata taghrib berarti mendorong atau memotivasi diri untuk mencintai kebaikan.

(Muhammad Azmi, 2006: 19)

Abdurrahman an-Nahlawi mengemukakan, Targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan dan membuat senang terhadap sesuatu maslahat, kenikmatan atau kesenangan akhirat yang pasti baik, serta bersih dari segala

(2)

kotoran yang kemudian diteruskan dengan melakukan amal saleh dan menjauhi kenikmatan sepintas yang mengandung bahaya atau perbuatan yang buruk. Sedangkan Tarhib adalah ancaman dengan siksaan sebagai akibat melakukan dosa atau kesalahan yang dilarang Allah SWT, atau akibat lengah dalam menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah, dengan kata lain Tarhib adalah ancaman dari Allah yang dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa takut pada hambanya dan memperlihatkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan Ilahiyah, agar mereka selalu berhati-hati dalam bertindak serta melakukan kesalahan dan kedurhakaan. (Abdurrahman an-Nahlawi, 1992:

412)

Targhib adalah janji yang disertai bujukan dengan rayuan untuk menunda kemaslahatan, kelezatan, dan kenikmatan. Namun, penundaan itu bersifat pasti, baik, dan murni, serta dilakukan melalui amal saleh atau pencegahan diri dari kelezatan yang membahayakan (pekerjaan buruk).

( Abd.al Rahman al Nahlawi, 2001: 296)

Khoiron Rosyadi dalam bukunya yang menyebutkan bahwa targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan dengan membuat senang terhadap suatu maslahah, kenikmatan atau kesenangan akhirat yang pasti baik, serta lebih bersih dari segala kotoran yang kemudian diteruskan dengan melakukan amal saleh dan menjauhi kenikmatan sepintas yang mengandung bahaya atau perbuatan yang buruk. (Khoirudin Rosyadi, 2004: 236) Sebenarnya semua dilakukan untuk mencari keridhaan Allah dan merupakan suatu rahmat dari Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Mengenai ayat yang berkenaan dengan metode ini dalam al-Qur‘an sangat banyak sekali. Kita dapat melihat mengenai metode ini misalnya dalam QS. Hud ayat 11 dan QS. Al-Nahl ayat 36.























(3)

Artinya: “Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar”. (Kem. Agama RI, 2014: 223)

Yakni sabar dalam menghadapi bencana dan kesengsaraan. Yaitu dalam keadaan sehat dan sejahtera yakni karena bencana yang telah menimpa mereka, karena apa yang telah mereka perbuat di masa makmur dan sejahteranya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)



























































Artinya: “Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (Kem. Agama RI, 2014: 272)

Maka sesudah adanya keterangan ini, bagaimanakah seorang musyrik dapat diperkenankan mengatakan Kehendak Allah secara syar'i tentang mereka tidak ada, karena Allah Swt. telah melarang mereka berbuat hal itu melalui lisan rasul-rasul-Nya. Adapun mengenai kehendak Allah yang bersifat kauni (kenyataan) yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut secara takdir, maka tidak ada hujah (alasan) bagi mereka dalam hal ini.

Karena Allah telah menciptakan neraka dan para penduduknya dari kalangan setan dan orang-orang kafir. Dia tidak rela hamba-hamba-Nya berlaku kafir.

Dalam menentukan hal tersebut Allah mempunyai alasan yang kuat dan hikmah yang bijak. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)

(4)

Sementara itu istilah tarhib berasal dari kata rahhaba yang berarti menakut-nakuti atau mengancam. Lalu kata itu diubah menjadi kata benda tarhib yang berarti ancaman hukuman. Tarhib artinya menimbulkan perasaan takut yang hebat kepada lawan. Metode tarhib adalah penggunaan ancaman yang menimbulkan ketakutan secara mendalam kepada orang yang diancam.

(Abdur Rahman Umairah, 269-270)

Salah satu firman Allah yang menerangkan tentang metode ini yaitu QS. Maryam Ayat 70-72.

























































Artinya: “Dan Kemudian kami sungguh lebih mengetahui orang- orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang- orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”. (Kem. Agama RI, 2014: 311)

Lafaz summa dalam ayat ini untuk meng-ataf-kan kalimat berita kepada kalimat berita lainnya. Makna yang dimaksud ialah, bahwa Allah Swt.

lebih mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang lebih berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka Jahanam dan tinggal kekal di dalamnya, dan siapa yang berhak mendapat siksaan yang berlipat ganda. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)

Dalam dunia pendidikan targhib wa tarhib dapat diartikan sebagai berikut: Targhib ialah harapan serta janji yang diberikan peserta didik yang bersifat menyenangkan dan merupakan kenikmatan karena mendapat penghargaan. Sedangkan tarhib adalah ancaman pada peserta didik bila ia melakukan suatu tindakan yang menyalahi aturan. (Ramayulis, 2006: 205)

(5)

Dari pengertian diatas ada bebarapa hal yang patut digaris bawahi, yang merupakan hal pokok dalam Targhib dan Tarhib yaitu:

a. Janji dan ancaman b. Perbuatan atau tindakan

c. Akibat atau hasil yang akan diterima

Ketiga hal ini bisa dijadikan ciri-ciri dari Targhib dan Tarhib.

Targhib dan Tarhib didasarkan pada fitrah yang diberikan Allah kepada manusia, seperti keinginan terhadap kekuatan, kenikmatan, kesenangan hidup dan kehidupan abadi yang baik serta ketakutan akan kepedihan, kesengsaraan dan kesudahan yang buruk.

Al Qur‘an menggunakan Targhib dan Tarhib untuk membangkitkan motivasi agar beriman kepada Allah dan rasulnya, mengikuti ajaran Islam, melaksanakan ibadah wajib, menjauhi maksiat dan hal yang dilarang oleh Allah dan berpegang pada istiqomah dan takwa.

Jadi Targhib dan Tarhib berfungsi untuk motivasi manusia.

Sebagaimana dalam masa awal berdakwah Rasulullah SAW. Beliau memotivasi manusia dengan pahala yang besar diakhirat dan masuk surga bagi yang teguh dalam berakidah tauhid dan memberantas kemusyrikkan.

(Muhammad Usman Najati, 2002:156) b. Dasar dan Tujuan

Prinsip dasar metode ini adalah dalam al-Qur‘an Surat Al-Bayyinah ayat 7-8 :

Firman Allah SWT QS. Al-Bayyinah ayat 7-8 :

(6)































































Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai;

mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”. (Kem. Agama RI, 2014: 599)

Kemudian Allah Swt. menceritakan keadaan orang-orang yang berbakti, yaitu mereka yang hatinya beriman, dan badan mereka mengamalkan perbuatan-perbuatan yang saleh. Bahwa mereka adalah sebaik- baik makhluk Allah.

Perlu diketahui bahwa rida Allah kepada mereka lebih tinggi derajatnya daripada kenikmatan abadi yang diberikan-Nya kepada mereka.

Yaitu pahala ini akan didapat oleh orang yang takut kepada Allah, bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, dan menyembah-Nya seakan-akan dia melihat-Nya, dan ia mengetahui bahwa jika ia tidak dapat melihat-Nya, maka Dia Maha Melihat kepadanya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)

Az-Zalzalah ayat 7-8 :





























Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (Kem. Agama RI, 2014: 600)

(7)

Disebutkan bahwa dicatatkan bagi setiap orang yang bertakwa dan orang yang durhaka untuk setiap keburukan satu amal keburukan, dan untuk setiap amal kebaikan dicatat sepuluh amal kebaikan yang semisal. Apabila hari kiamat tiba, maka Allah memperlipatgandakan kebaikan-kebaikan orang- orang mukmin, untuk setiap kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat dan dihapuskan darinya karena tiap satu kebaikan sebanyak sepuluh keburukannya. Maka barang siapa yang kebaikan-kebaikannya melebihi keburukan-keburukannya, walaupun hanya beda seberat zarrah, niscaya ia masuk surga. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)

QS. Fushilat ayat 46 :

























Artinya: “ Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb- mu menganiaya hamba-hambaNya”. (Kem. Agama RI, 2014: 482)

Yakni sesungguhnya manfaat dari perbuatannya itu kembali kepada dirinya sendiri. Yaitu sesungguhnya akibat dari perbuatannya itu akan menimpa dirinya sendiri. Artinya, Dia tidak menyiksa seseorang melainkan atas dasar dosa yang dilakukannya, dan Dia tidak mengazab seseorang melainkan sesudah tegaknya alasan terhadap yang bersangkutan, yaitu dengan mengutus rasul-Nya kepadanya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)

Targhib ialah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Tarhib ialah ancaman karena dosa besar yang dilakukan.

Targhib bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Tarhib demikian juga, akan tetapi tekanannya ialah Targhib agar melakukan sedangkan Tarhib agar menjauhi kejahatan. Metode ini didasarkan atas fitrah (sifat kejiwaan)

(8)

manusia, yaitu sifat keinginan kepada kesenangan, keselamatan, dan tidak menginginkan, kesengsaraan.

Targhib dan Tarhib dalam pendidikan Islam berbeda dengan metode ganjaran dan hukuman dalam pendidikan Barat. Perbedaan utamanya ialah Targhib dan Tarhib berdasarkan ajaran Allah, sedangkan ganjaran dan hukuman berdasarkan duniawi. Implikasi dari perbedaan itu antara lain:

1) Targhib dan tarhib lebih teguh karena akarnya berada di langit, sedangkan teori hukuman dan ganjaran hanya berdasarkan sesuatu duniawi.

2) Targhib dan tarhib itu mengandung aspek iman, sedangkan metode hukuman dan ganjaran tidak secara operasional.

3) Targhib dan tarhib lebih mudah dilaksanakan daripada metode hukuman dan ganjaran, karena targhib dan tarhib sudah ada dalam al- Qur‘an dan hadits nabi, sedangkan hukuman dan ganjaran dalam metode Barat harus ditemukan sendiri oleh guru.

4) Targhib dan tarhib bersifat universal., dapat digunakan kepada siapa saja, hukuman dan ganjaran tidak.

Melihat pengertian targhib dan tarhib, maka targhib dan tarhib dapat dikaitkan dengan pendidikan sebagai sebuah metode. (Abdurahman An- Nahlawi, 1996: 36)

2. Fungsi dan Kegunaan

Dalam pendidikan metode targhib merupakan sutau cara yang dilakukan oleh pendidik dalam memberikan motivasi untuk melakukan amal saleh dan memberikan urgensi kebaikan itu sendiri. Sehingga anak didik melakukan dengan ikhlas dengan harapan akan memperoleh imbalan atau pahala dari Allah SWT.

(9)

Substansi dari metode targhib yaitu memotivasi diri untuk melakukan kebaikan. Baik memotivasi diri itu tumbuh karena faktor-faktor ekstrinsik atau pengaruh-pengaruh dari luar, maupun faktor instrinsik atau faktor-faktor dari dalam diri sendiri peserta didik.

Sedangkan metode tarhib diartikan suatu cara yang digunakan dalam pendidikan sebagai bentuk penyampaian hukuman atau ancaman kekerasan terhadap anak didik yang kurangbaik. Dengan adanya metode ini diharapkan anak didik akan jera dan meninggalkan hal-hal negatif karena merasa takut akan ancaman dan hukuman yang diterimanyabaik dari orangtua, guru maupun ancaman dari Allah kelak di akhirat. (Abdurahman An-Nahlawi, 1996: 36)

Alat pendidikan adalah segala sesuatu yang bisa menunjang kelancaran pendidikan. Adapun Sutari Imam Barnadib menjelaskan bahwa alat pendidikan adalah tindakan atau perbuatan atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Alat pendidikan bisa berupa benda dan bukan benda. Alat pendidikan yang berupa benda seperti ruangan kelas, perlengkapan belajar dan sejenisnya.

Sedangkan yang berupa bukan benda seperti situasi, pergaulan, perbuatan, teladan,nasihat, bimbingan, contoh, teguran, anjuran, ganjaran, perintah, tugas, ancaman maupun hukuman. Alat pendidikan berfungsi sebagai penunjang keberhasilan tercapainya tujuan pendidikan. Sedangkan alat pendidikan dibagi menjadi dua macam yaitu benda seperti ruangan kelas, alat-alat peraga, media pengajaran dan sarana serta prasarana penunjang pendidikan lainnya. Selanjutnya adalah yang berupa bukan benda, seperti situasi, perbuatan, pergaulan,perintah, ganjaran, janji (Targhib), ancaman (Tarhib), hukuman dan lain-lain, termasuk didalamnya metode-metode dalam pendidikan.

(10)

Seperti yang telah disebutkan bahwa Targhib atau janji dan Tarhib atau ancaman merupakan bagian dari alat pendidikan yang bukan benda.

Sehingga Targhib dan Tarhib dapat dijadikan sarana untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan tentunya dari sekian banyak alat pendidikan itu dapat dipilih secara selektif, mana diantaranya yang lebih serasi dan efektif untuk digunakan dalam mendidik anak. (Jalaluddin, 2001: 109)

3. Teknik Pelaksanaan Metode Targhib wa Tarhib dan Evaluasinya a. Teknik Pelaksanaan Targhib dan Tarhib

Menurut (Abdul Mujib: 2006) Teknik targhib wa tarhib dapat berbentuk teknik-teknik sebagai berikut:

1) Teknik pemberian bimbingan dan ampunan

Teknik yang dilakukan dengan cara membimbing anak yang telah melakukan kesalahan dengan menjanjikan ampunan. Teknik ini diperuntukkan bagi peserta didik yang bermasalah selanjutnya seorang pendidik memberikan bimbingan agar peserta didik tersebut dapat memecahkan problem sendiri.Dengan demikian peran guru hanya memberi simulasi dan bimbingan secara umum saja. Sebagaimana dalam Q.S Al- Maidah: 39 sebagai berikut :

2) Pemberi motivasi dan peringatan ( Al-Taswiq dan Al-Tadzkir)

Teknik yang dilakukan dengan cara memberi motivasi tinggi terhadap peserta didik, sehingga ia merasa senang dan bangga melakukan suatu perintah. Disamping itu, teknik ini memberikan gambaran yang sangat membahayakan terhadap perbuatan jahat, sehingga peserta didik secara preventif menghindarkan diri dari segala perbuatan yang menyulitkan masa depannya.

(11)

3) Teknik anugerah dan hukuman (tsawab dan iqab)

Teknik yang dilakukan dengan cara memberi anugerah pada peserta didik yang berprestasi dan hukuman bagi mereka yang melanggar dan lemah.

Teknik anugerah dapat diberikan pada peserta dengan syarat bahwa hadiah yang diberikan pada peserta didik relevansi dengan kebutuhan pendidikan, misalnya rangking pertama diberikan hadiah spp. Demikian hukuman yang diberikan harus mendukung makna edukatif, misalnya yang terlambat masuk sekolah diberi tugas membersihkan halaman, dan tidak masuk kuliah diberi tugas paper.

Teknik Targhib wa tarhib di atas merupakan bagian dari alat pendidikan yang bukan benda. Sehingga Targhib wa tarhib dapat dijadikan sarana untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikantentunya dari sekian banyak alat pendidikan itu dapat dipilih secara selektif, mana diantaranya yang lebih serasi dan efektif untuk digunakandalam mendidik anak. (Jalaluddin, 2001: 109)

Beberapa contoh targhib sebagaimana yang dinyatakan Ngalim Purwanto yang membagi jenis targhib (ganjaran) seperti sebagai berikut adalah:

a) Guru mengangguk-angguk tanda senang dan membenarkan sesuatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak.

b) Guru memberi kata-kata yang mengembirakan ( pujian )

c) Dengan memberikan pekerjaan yang lain, misalnya engkau akan segera saya beri soal yang lebih sukar karena soal sebelumnya bisa kau selesaikan dengan sangat baik

d) Ganjaran yang ditujukan kepada seluruh siswa, misalnya dengan mengajak bertepuk tangan untuk seluruh siswa atas peningkatan prestasi rata-rata kelas tersebut

(12)

e) Ganjaran berbentuk ganda, misalnya pensil, buku tulis, coklat dll.Tapi dalam hali ini guru harus sangat berhati-hati dan bijaksana sebab dengan benda-benda tersebut hadiah bisa berubah menjadi upah

Dalam segala urusan kebaikan, dapat diberikan motivasi dengan targhib ini. Untuk memacu kegiatan belajar pada peserta didik, metode ini dapat digunakan dengan memberikan gambaran tentang keuntungan orang-orang yang sukses belajarnya, sehingga mereka memperoleh kemajuan dan kebahagiaan, baik materi maupun rohani.

Dalam bidang agama, penerapan metode taghrib ini dapat dicontohkan sebagai berikut:

1) Dalam bidang aqidah, misalnya bila kita beriman kepada Allah dan hari akhir maka akan mendapatkan pengampunan dari Allah sebagaimana firman-Nya QS. Ali Imran ayat 31 :































Artinya: “Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.» Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Kem. Agama RI, 2014: 55)

Yakni kalian akan memperoleh balasan yang lebih daripada apa yang dianjurkan kepada kalian agar kalian mencintai-Nya, yaitu Dia mencintai kalian. Kecintaan Allah kepada kalian dinilai lebih besar daripada yang pertama, yaitu kecintaan kalian kepada-Nya. Seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama yang bijak, bahwa duduk perkaranya bukanlah bertujuan agar kamu mencintai, melainkan yang sebenarnya ialah bagaimana supaya kamu dicintai. Yakni karena kalian mengikuti Rasul

(13)

Saw, maka kalian memperoleh karunia itu berkat perantaraannya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)

2) Dalam bidang ibadah, misalnya kita selalu berwudhu setiap kali hendak shalat, maka kebersihan dan kesehatan badan kita akan terpelihara Dengan badan yang bersih dan sehat, orang pun akan bermental dan berfikiran sehat.

3) Dalam bidang akhlak, misalnya bahwa setiap orang yang berakhlak baik kepada orang lain, maka ia akan diperlakukan baik oleh orang lain dan memperoleh kemudahan, dalam berurusan dengan orang lain akan membawa kemajuan dan keuntungan. (Purwanto, M. Ngalim,1994:

171)

Sedangkan tarhib (hukuman) dalam pendidikan Islam mempunyai porsi penting, pendidikan yang terlalu bebas dan ringan akan membentuk anak didik yang tidak disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Ada batasan-batasan yang membolehkan metode tarhib dapat digunakan oleh pendidik. selain untuk tujuan menumbuhkan motivasi pada peserta didik, penggunaan metode ini juga dibatasi jika metode-metode lain yang lebih lunak sudah tidak lagi memungkinkan untuk digunakan.

Penggunaan metode tarhib ini bahkan sebisa mungkin diminimalisir.

Ancaman-ancaman yang diberikan pada peserta didik bagaimanapun memberikan dampak psikologi yang kurang baik. Sanksi dapat dilakukan dengan bertahap, misalnya dimulai dengan teguran, kemudian diasingkan dan seterusnya dengan catatan tidak menyakiti dan tetap bersifat mendidik.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu membagi hukuman menjadi dua yakni;

(14)

a) Hukuman yang dilarang, seperti memukul wajah, kekerasan yang berlebihan, perkataan buruk, memukul ketika marah, menendang dengan kaki dan sangat marah.

b) Hukuman yang mendidik dan bermanfaat, seperti memberikan nasihat dan pengarahan, mengerutkan muka, membentak, menghentikan kenakalannya, menyindir, mendiamkan, teguran, duduk dengan menempelkan lutut keperut, hukuman dari ayah, menggantungkan tongkat, dan pukulan ringan. (Marasuddin Siregar, 1998: 179)

Adapun evaluasi dalam penerapan metode ini yaitu termasuk ke dalam ranah afektif. Sedangkan Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Seperti:

perhatiannnya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam, kedisiplinannya dalam mengikuti mata pelajaran agama disekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama Islam yang di terimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam dan sebagainya.

Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:

(1) receiving (2) responding (3) valuing (4) organization (5) characterization by evalue or calue complex

1) Receiving atau attending (= menerima atau memperhatikan), adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain.

(15)

2) Responding (menanggapi) mengandung arti ―adanya partisipasi aktif‖.

Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara.

3) Valuing (menilai=menghargai). Menilai atau menghargai artinya memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan.

4) Organization (mengatur atau mengorganisasikan), artinya mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai lain., pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya.

5) Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. (Sudjono, Anas, 2008)

Penilaian aspek afektif dilakukan melalui observasi, penilaian diri, penilaian antar teman dan jurnal.

a) Observasi; Merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan format observasi yang berisi sejumlah indiikator perilaku yang diamati. Hal ini dilakukan saat pembelajaran maupun di luar pembelajaran.

b) Penilaian diri; Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam

(16)

konteks pencapaian kompetensi. Instrument yang digunakan berupa lembar penilaian diri.

c) Penilaian antar teman; Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan sikap dan perilaku keseharian peserta didik. Instrument yang digunakan berupa lembar penilaian antar peserta didik.

d) Jurnal catatan guru; Merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.

Jurnal bias dikatakan sebagai catatan yang berkesinambungan dari hasil observasi. (Kunandar, 2013:82)

4. Kelebihan dan Kekurangan Metode Targhib Wa Tarhib

Kelebihan Metode Targhib (Ganjaran) adalah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa anak didik dan dapat menjadi pendorong bagi anak-anak didik lainnya untuk mengikuti anak yang telah memperoleh pujian dari gurunya. Adapun kekurangan Metode Targhib (Ganjaran) adalah dapat menimbulkan dampak negatif apabila guru melakukannya secara berlebihan, sehingga mungkin bisa mengakibatkan murid menjadi merasa dirinya lebih tinggi daripada teman-temannya dan umumnya ―ganjaran‖ membutuhkan alat tertentu serta membutuhkan biaya. (Armai Arief, 2002: 128-129)

Adapun kelebihan adalah metode Tarhib atau hukuman adalah hukuman akan menjadikan perbaikan-perbaikan terhadap kesalahan murid, murid tidak lagi melakukan kesalahan yang sama, murid akan merasakan akibat perbuatannya sehingga ia akan menghormati dirinya. Sementara kelemahan Metode Tarhib atau hukuman adalah akan membangkitkan suasana rusuh, takut, dan kurang percaya diri, murid akan selalu merasa sempit hati, bersifat pemalas, serta akan menyebabkan ia suka berdusta (karena takut dihukum) dan akan mengurangi keberanian anak untuk bertindak.

(17)

Substansi metode tarhib diartikan suatu cara yang digunakan dalam pendidikan sebagai bentuk penyampaian hukuman atau ancaman kekerasan terhadap anak didik yang bandel yang tidak mampu lagi dengan berbagai metode lain yang sifatnya lebih lunak. (Armai Arief, 2002: 133-134)

B. Perilaku Sosial Keagamaan

1. Pengertian Perilaku Sosial Keagamaan a. Perilaku Sosial

Perilaku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Perilaku secara bahasa berarti cara berbuat atau menjalankan sesuatu sesuai dengan sifat yang layak bagi manusia. Secara sosial berarti segala sesuatu mengenai masyarakat atau kemasyarakatan. Sedangkan secara istilah diartikan sebagai berikut ini : Perilaku sosial adalah aktifitas fisik dan psikis seseorang terhadap oranglain atau sebaliknya dalam rangka memenuhi kebutuhan diri atau oranglain yang sesuai dengan tuntunan sosial.

Perilaku adalah pengertian umum dari akhlak istilah bahasa Arab dari kata Khuluq yang berarti perilaku, perilaku itu sesungguhnya merupakan aktivitas dari prinsip, nilai atau keyakinan dari seseorang. Sebuah perilaku tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai ajaran yang dianut oleh seseorang (Ahmad, 2004 : 2).

Hurlock (2003:261) berpendapat bahwa perilaku sosial menunjukkan kemampuan untuk menjadi orang yang bermasyarakat. Lebih lanjut lagi, perilaku sosial adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku umum yang ditunjukkan oleh individu dalam masyarakat yang pada dasarnya sebagai respons terhadap apa yang dianggap dapat diterima atau tidak dapat diterima oleh kelompok sebaya seseorang.

Perilaku merupakan perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh oranglain ataupun orang

(18)

yang melakukannya. Adapun sosial adalah keadaan yang di dalamnya terdapat kehadiran oranglain. Dengan demikian, perilaku sosial adalah perilaku yang terjadi dalam situasi sosial, yaitu cara orang yang berfikir, merasa, dan bertindak karena kehadiran orang lain. Hal ini dapat diartikan sebagai sikap membutuhkan orang lain.

Manusia sebagai makhluk sosial, adanya hubungan manusia dengan sekitarnya, adanya dorongan pada manusia untuk mengabdi kepada masyarakat. Manusia sebagai makhluk berkeTuhanan atau makhluk religi adanya hubungan manusia dengan Sang Pencipta, adanya dorongan pada manusia untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, kekuatan yang ada diluarnya.

Disamping itu, manusia sebagai makhluk individual, maka dalam tindakan-tindakannya manusia kadang-kadang menjurus kepada kepentingan pribadi. Namun, karena manusia juga sebagai makhluk sosial, dalam tindakan-tindakannya manusa juga sering menjurus kepada kepentingan- kepentingan masyarakat. Seperti yang dikemukakan oleh Kunkel (lih. Bigot, dkk., 1950) sebagai salah seorang tokoh dalam psikologi individual, bahwa manusia itu mempunyai dorongan untuk mengabdi kepada dirinya sendiri (Ichaftigkeit) dan dorongan untuk mengbdi kepada masyarakat (Sachlichkeit) secara bersama-sama, manusia merupakan kesatuan dari keduanya. (Walgito, 2003:25)

Menurut Krech, Crutchfield, dan Ballachey, perilaku sosial seseorang tampak dalam pola respons antar orang yang ditanyakan dengan hubungan timbal balik antar pribadi. Menurut Baron dan Byrne, perilaku sosial identik dengan reaksi seseorang terhadap orang lain. Perilaku itu dtunjukkan dengan perasaan, tindakan, sikap keyakinan, kenangan, atau rasa hormat terhadap oranglain.

Berdasarkan uraian di atas dapat diartikan juga bahwa manusia sebagai pelaku dari perilaku sosial tidak dapat hidup tanpa oranglain. Artinya,

(19)

manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lain.

Perilaku sosial bukan hanya ekspresi dari perbedaan individual dalam hal kognisi, afeksi, motivasi ataupun kepribadian, tapi juga merupakan hasil adaptasi terhadap konteks sosial yang berbeda-beda dalam hal sistem nilai, agama, struktur sosial, bahasa dan stratifikasi sosialnya. Oleh karena itu, untuk memahami perilaku sosial dengan baik, kita pun sebaliknya mempertimbangkan pengaruh konteks tersebut.

Salah satu faktor kontekstual yang berpengaruh besar terhadap perilaku sosial adalah prinsip moral yang dianut oleh masyarakat. Prinsip moral (sistem moral) tersebut meliputi nilai-nilai, norma, keutamaan (virtue), praktik, institusi, teknologi, dan mekanisme lainnya yang bertujuan untuk mengendalikan kebebasan dan egoisme individu dalam bertindak, serta mengatur kehidupan sosial. Emil Durkheim pun menyatakan bahwa sistem nilai mempunyai fungsi mengorganisasikan dan mengontrol perilaku individu.

Jadi, prinsip moral yang berlaku dalam suatu masyarakat terkait langsung dengan perilaku sosial individu-individu yang ada di dalamnya. (Agus Abdul Rahman, 2013:182)

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku sosial adalah aktifitas fisik dan psikis seseorang terhadap oranglain maupun sebaliknya dalam rangka memenuhi kebutuhan diri atau orang lain. Perilaku yang terjadi dalam situasi sosial, yaitu cara orang yang berfikir, merasa, dan bertindak karena kehadiran orang lain dengan melakukan sikap-sikap dan perilaku sosial yang baik dan mulia dalam lingkungan masyarakat sesuai dengan hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga Negara.

(20)

b. Keagamaan

Dari segi bahasa, perilaku sosial keagamaan terdiri dari tiga kata pokok, yakni perilaku, sosial, dan keagamaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1985: 671), perilaku adalah tanggapan atau reaksi individual yang terwujud digerak (sikap) tidak saja badan atau ucapan. Sedangkan kata sosial Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2011: 5037), sosial adalah berkenaan dengan masyarakat; mengenai masyarakat. Dan yang terakhir adalah kata keagamaan, secara etimologi berasaldari kata ―agama‖yang mendapat awalan ―ke‖ dan ―an‖ sehingga membentuk kata keagamaan.

Berkaitan dengan hal ini, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1985: 18), dinyatakan bahwa keagamaan merupakan sifat-sifat yang terdapat dalam agama, misalnya perasaan keagamaan atau soal-soal keagamaan.

Perilaku sosial keagamaan yang dimaksud adalah mencakup bentuk- bentuk perilaku sosial keagamaan yang baik/terpuji. Pengertian kebaikan adalah berasal dari kata baik (al-khair), yang berarti sesuatu telah mencapai kesempurnaan, sesuatu yang menimbulkan keharuan dalam kepuasan, membawa kesenangan dan persesuaian. Baik juga berarti seuatu yang mempunyai nilai kebenaran, nilai yang diharapkan memberi kepuasan, mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia.

Kebaikan apabila memberi kesenangan, kepuasan, kenikmatan, yang dinilai positif oleh orang yang menginginkannya. Baik ialah sesuatu yang berharga untuk sesuatu tujuan. Sesuatu itu baik bagi seseorang apabila sesuai dan berguna untuk tujuannya. Masing-masing orang mempunyai tujuan yang berbeda-beda, ada yang bertentangan, sehingga yang berharga untuk seseorang berbeda dengan yang berharga untuk orang atau golongan lainnya.

AL-Ghazali menyebutkan, perbuatan dapat dikatakan baik karena adanya pertimbangan akal yang mengambil keputusan secara mendesak, seperti menyelamatkan orang-orang yang tenggelam atau orang-orang yang

(21)

menderita kecelakaan. Baik berarti sesuatu yang pantas dikerjakan dan diusahakan atau dikehendaki. Sesuatu yang baik ialah yang memenuhi hasrat dasar manusia. Bila diterapkan bagi kehendak manusia merupakan predikat yang positif. Dalam filsafat dikatakan bahwa kebaikan melandaskan diri pada kebaikan dan setiap kenyataan yang ada berkecenderungan mempertahankan diri. Mengejar kesempurnaan dirinya tetap berada, sehingga pada hakikatnya dapat bersifat dan berbuat baik. Baik dikatakan baik, apabila dilakukan sesuai berdasarkan fitrah manusia sesuai dengan hakikatnya.

Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorong sisi orang untuk bertingkah laku yang berkaitan dengan agama. Sikap keagamaan terbentuk karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai komponen kognitif perasaan terhadap agama sebaga komponen efektif dan perilaku terhadap agama sebagai komponen kognitif. Di dalam sikap keagamaan antara komponen kognitf, efektif dan kognatif saling berintegrasi sesamanya secara komplek. Sikap keagamaan merupakan konsistensi antara kepercayaan terhadap sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsure efektif, dan perilaku terhadap agama sebagai unsur kognitif. Oleh karena itu sikap ke-agamaan merupakan interaksi secara kompleks antara pengetahuan agama, perasaan agama, dan tindak keagamaan dalam diri seseorang. (Ramayulis, 2004: 96- 98).

Zakiyah Daradjat (1998) mengatakan bahwa sikap keagamaan merupakan perolehan dan bukan bawaan. Ia terbentuk melalui pengalaman langsung yang terjadi dalam hubungannya dengan unsur-unsur lingkungan materi dan sosial.

Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku sosial keagamaan adalah perilaku-perilaku baik yang keluar dari dalam hati sehingga mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang dan kebahagiaan. Baik dalam bentuk perbuatan, ucapan dan

(22)

pikiran yang sifatnya membangun, tidak merusak lingkungan dan tidak pula merusak tatanan sosial budaya dan tidak pula bertentangan dengan ajaran Islam, namun berlandaskan Al-Qur‘an dan Hadits.

2. Bentuk-bentuk Perilaku Sosial Keagamaan

Mengutip dari pengertian perilaku sosial keagamaan di atas, dapat dikemukakan bahwa bentuk-bentuk perilaku sosial keagamaan menurut Muhammad Abdurrahman (2016: 33) sebagai berikut :

a. Perilaku Tolong Menolong

Tolong menolong merupakan suatu sifat yang mendorong seseorang untuk membantu dan bekerja sama dengan oranglain. Tentuan sejawat, kaum kerabat, golongan, organisasi dan lain-lain. Tolong menolong dalam kata dan perbuatan untuk kebaikan bersama. Dengan bertolong-tolongan ini akan dapat dipelihara kepentingan bersama, kemajuan bangsa dan Negara. Setiap pribadi tidak akan bahagia manakala masyarakat sekitarnya rusak. Jadi ada ketergantungan antara pribadi dan masyarakat.

Tolong menolong berarti bekerjasama memperbuat amal yang berguna untuk masyarakat. Bekerjasama memajukan Negara dan bangsa. Selain dari tolong menolong dalam pembangunan fisik, bekerjasama dalam pembangunan mental juga tolong menolong namanya. Menyuruh berbuat baik, melarang dari kerja munkar, tolong menolong yang amat besar artinya. Tolong menolong dalam bidang pembangunan mental ini memerlukan ketabahan dan kesabaran (Bakry, 1993: 122-123).

Dalam al-Qur‘anul Karim selalu dianjurkan untuk tolong menolong berbuat baik, seperti dalam firman Allah SWT Qs. Al-Maidah ayat 2 .













 











“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan

(23)

pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (Kem. Agama RI, 2018: 106)

Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling menolong dalam berbuat kebaikan —yaitu kebajikan— dan meninggalkan hal-hal yang mungkar: hai ini dinamakan ketakwaan. Allah Swt. melarang mereka bantu-membantu dalam kebatilan serta tolong- menolong dalam perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan. Ibnu Jarir mengatakan bahwa dosa itu ialah meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dikerjakan. Pelanggaran itu artinya melampaui apa yang digariskan oleh Allah dalam agama kalian, serta melupakan apa yang difardukan oleh Allah atas diri kalian dan atas diri orang lain. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)

Tolong menolong dalam lingkungan masyarakat sangat penting. Bila seseorang mempunyai hubungan kemanusiaan, ia wajib tolong menolong.

Apabila orang yang berbuat baik dan takwa kepada Allah harus dibantu.

Caranya ialah dengan memberikan dorongan semangat, jika hanya itu yang bisa dilakukan. Sebaliknya, jika ada yang berbuat maksiat atau dosa serta permusuhan, ia wajib mencegahnya dari perbuatan dosa dan permusuhan tersebut dengan nasihat.

Manusia adalah makhluk sosial karena tak ada seorangpun yang mampu hidup sendiri, tanpa bergaul dengan saudaranya. Dengan bermuamalah antar sesama akan sempurna permanfaatan dan kegunaan.

Banyak sekali kebutuhan seorang individu yang tak akan mampu dipenuhinya sendiri.

b. Menghormati Tetangga

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994: 1050), tetangga memliki arti orang (rumah) yang berdekatan atau sebelah-menyebelah. Dengan pengertian tersebut, sudah tentu ada aturan atau etika yang mengaturnya.

(24)

Tetangga adalah orang terdekat. Ia juga merupakan orang pertama yang akan memberikan pertolongan pertama jika terjadi sesuatu yang menimpa kita. (Restianti, 2011: 14-15)

Agar setiap Muslim akur dan akrab dengan tetangganya, ajaran Islam melalui al-Qur‘an dan Hadits telah menetapkan adab bertetangga. Berikut ini adab bertetangga:

1) Memilih Tetangga yang Saleh

Sebelum memutuskan tinggal di suatu tempat, seharusnya seorang muslim memilih tempat tinggal yang saleh tetangganya sebab tetangga yang tidak saleh suka membuka rashasia rumah tangga orang lain.

Ada kalanya seseorang membutuhkan bantuan tetangganya.

Apabila tetangga itu orang saleh, tentu ia akan memberikan manfaat dan meringankan bebannya, ―ujar ulama terkemuka itu.

2) Menyukai Kebaikan bagi Tetangganya

Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya adalah menyukai kebaikan bagi tetangganya, sebagaimana ia menyukai kebaikan itu bagi dirinya sendiri.

3) Tidak Mengganggu baik dengan Ucapan maupun Perbuatan

Mengganggu tetangga adalah perbuatan yang haram. Bahkan, Rasulullah secara khusus telah mengingatkan masalah ini. Beliau bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya” (H.R. Bukhari)

4) Selalu berbuat baik kepada Tetangga

Rasulullah mengajarkan umatnya agar selalu berbuat baik kepada tetangganya. Beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya… “ (H.R.

Muslim). Untuk itulah, wajib hukumnya berbuat baik kepada tetangga dengan cara apapun yang memungkinkan.

(25)

5) Bersabar terhadap Gangguan Tetangga

Tetangga yang baik bukan hanya menahan tangannya untuk tidak mengganggu tetangganya. Akan tetapi ia juga bersabar terhadap gangguannya. Hendaknya ia membalas gangguan itu dengan kebaikan.

Sesungguhnya sikap seperti itu akan menutup pintu bisikan setan.

6) Memberi Makan kepada Tetangga yang Fakir

Rasulullah selalu menekankan pentingnya umat Islam berbuat baik kepada tetangga. Beliau bersabda, ―Bukanlah Mukmin orang yang kenyang, sementara tetangga di sampinya kelaparan”.

Saat ini masih banyak orang yang tidak memedulikan kondisi tetangganya. Padahal, Rasulullah mengajarkan umatnya berbagi dengan tetangga. Beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian memasak, perbanyaklah kuahnya, kemudian berikan sebagian kepada tetangganya”. Rasulullah juga melarang umatnya meremehkan sesuatu yang akan diberikan kepada tetangganya. Beliau bersabda, “Wahai wanita muslimah, janganlah kalian meremehkan pemberian kepada tetangga meskipun hanya kaki kambing”. Hendaknya adab yang agung ini diperhatikan dan jangan sampai diabaikan (Restianti, 2011:63-64).

c. Silaturahmi

Silaturrahim adalah menyambung kekerabatan. Istilah ini menjadi sebuah simbol dari hubungan baik penuh kasih sayangantara ssama kerabat yang asal-usulnya berasal dari satu rahim. Silaturrahim juga memiliki pengertian yang lebih luas, tidak sebatas dari hubungan kasih saying antara sesama kerabat, tetapi juga mencakup masyarakat yang lebih luas. Jadi, silaturrahim berarti menghubungkan tali kasih sayang antara sesama anggota masyarakat.

Firman Allah Swt dalam Qs. An-Nisa ayat 1:

(26)



























































Artinya: ―Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”. (Kem. Agama RI, 2018: 77)

Menurut Ad-Dahhak, makna ayat adalah 'bertakwalah kalian kepada Allah yang kalian telah berjanji dan berikrar dengan menyebut nama-Nya'.

Bertakwalah kalian kepada Allah dalam silaturahmi. Dengan kata lain, janganlah kalian memutuskannya. melainkan hubungkanlah dan berbaktilah untuknya. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid.

Al-Hasan. Ad-Dahhak. Ar-Rabi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Salah seorang ulama membaca al-arhama menjadi al-arhami. yakni dengan bacaan jar karena di-'ataf-kan kepada damir yang ada pada bihi. Dengan kata lain, kalian saling meminta satu sama lain dengan menyebut nama Allah dan hubungan silaturahmi. Demikianlah menurut yang dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2013)

Secara prinsip seorang muslim harus bersikap kepada kerabatnya yang lain sebagaimana ia bersikap kepada ibu,bapak, anak, dan saudara-saudaranya.

Bibi diperlakukan seperti ibu, paman diperlakukan seperti bapak. Demikian juga hubungan saudara-saudara, adik dan kakak harus diperlakukan dengan baik. Saudara yang lebih tua bersikap kepada yang lebih muda seperti orang tua kepada anaknya, dan saudara lebih muda bersikap kepada yang lebih tua

(27)

seperti anak kepada orang tuanya. Demikian seterusnya secara melebar, dengan cucu, sepupu, dan keponakan.

Di samping meningkatkan hubungan kekerabatan, silaturrahim juga memberi manfaat lain yang lebih besar, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara manfaat silaturrahim adalah mendapatkan rahmat dan nikmat dari Allah Swt, dapat memudahkan masuk surga dan jauh dari neraka, melapangkan rezeki, serta panjang umur. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA. Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya makahendaknya ia menyambung tali silaturrahmi”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Islam juga mengingatkan secara jelas bahkan mengecam orang-orang yang memutuskan silaturrahim (qath‟i ar-rahim). Hal tentu harus dihindari karena memutuskan silaturrahim berarti telah memutuskan hubungan persaudaraan atau pertemanan.

Jika seorang mukmin berbuat baik kepada sanak-kerabatnya, meskipun mereka sendiri jahat terhadapnya maka derajatnya akan terangkat di sisi Allah Swt. karena ketegarannya menanggung derita kejahatan dan semangatnya menyambung tali silaturrahmi sebagai imlementasi peritah Allah Swt. untuk peduli dan berempati pada sanak kerabat. Berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya akan melipat gandakan pahala bagi si baik dan menambah siksa bagi si jahat. (Hajjaj, 2013: 291-292)

d. Persaudaraan/Ukhuwah

Ukhuwah berasal dari bahasa Arab, ukhuwah, yang pada asalnya berarti ―persamaan dan keserasian dalam banyak hal‖. Lalu, kemudian diartikan dengan persaudaraan, karena adanya persamaan-persamaan tersebut.

Oleh sebab itu, dikatakan persaudaraan sepertalian darah, karena kesamaan dalam keturunan; dikatakan persaudaraan sebangsa, karena sama-sama memeluk satu agama. Kata ―saudara‖ (akh) itu sendiri – kata al-Ragib, seorang ahli bahasa al-Qur‘an – pada dasarnya berarti kebersamaan kelahiran

(28)

dengan oranglain dari dua bapak yang sama, atau salah satu dari keduanya adalah sama, atau sepersepupuan. Lantas kata itu dipinjam untuk menyebut

‗kebersamaan‘ dengan oranglain dalam kesukuan, agama, rofesi, pergaulan, kasih saying dan lain-lain (Yunasril Ali, 2008:365)

Jadi, ukhuwah secara umum berarti persaudaraan. Akan tetapi persaudaraan itu sendiri ada yang bersifat ketat dan intim, sehingga sukar untuk dapat diputuskan. Adapula dalam bentuk persahabatan biasa yang bersifat longgar dan lebih mudah terlupakan. Yang menjadi inti dari persaudaraan adalah ikatan batin yang menghubungkan antara seseorang dan oranglain, sehingga apa yang dirasakan oleh yang satu akan dirasakan pula oleh yang lain (Yunasril Ali, 2008:367).

Bila dilihat ukhuwah-ukhuwah dalam bentuk lain, yang disebutkan di dalam al-Qur‘an, akan diperoleh perbandingan sebagai berikut:

1) Ukhuwah seketurunan (ukhuwah fi al-nasab). Dalam hal ini ukhuwah akan senantiasa berlanjut sepanjang garis keturunan itu masih dapat diketahui. Oleh sebab itu, semakin jauh seseorang dari asal keturunanya semakin rengganglah tali persaudaraannya. Demikian pula, semakin banyak pertalian keturunan itu menyebar dan berkembang akan semakin terasa pula longgarnya perasaan persaudaraan.

2) Ukhuwah karena persamaan sifat/profesi (Ukhuwah fi al-sifat wa al- sana‟ah). Dalam hal ini ukhuwah berlanjut selama sifat dan profesi itu ada pada seseorang. Bila hal demikian telah tiada, akan putus pulalah persaudaraan. Jadi, yang menjadi inti persaudaraan disini ialah adanya kesamaan dalam tujuan yang hendak dicapai. Bila tujuan itu telah tercapai dan orang telah keluar dari sifat/profesi yang ditekuninya, akan habis pulalah rasa ukhuwah.

3) Ukhuwah karena sebangsa (ukhuwah fi al wataniyyah) dan termasuk di dalamnya ukhuwah karena seideologi. Seperti halnya ukhuwah karena

(29)

persamaan sifat/profesi, ukhuwah akrena sebangsa atau seideologi akan habis bila sendi-sendi kebangsaan dan ideology itu berantakan.

(Yunasril Ali, 2008: 371-375)

Ukhuwah tidak akan terwujud kalau tanpa sendi-sendi yang kokoh, yang mendasarinya. Kalau ukhuwah Islamiyah diumpamakan oleh Rasulullah saw. sebagai sebuah bangunan yang kokoh, antara satu bagian dan lainnya saling terkait erat, maka tidak ayal lagi bahwa yang paling utama dari bangunan itu ialah sendi-sendi yang melandasinya. Sendi-sendi ukhuwah Islamiyah itu antara lain, dapat disebutkan seperti di bawah ini:

a) Husnuzhan (prasangka baik) terhadap semua sauda ra sesama Muslim.

Sebab, kalau sejak awal persaudaraan telah dibina dengan prasangka baik semua kegiatan akan berjalan dengan lancar, karena tidak ada rasa saling mencurigai antara sesame saudara.

b) Kasih sayang. Kasih sayang dan saling mencintai merupakan jiwa persaudaraan. Tanpa kasih sayang dan rasa saling mencintai, niscaya akan semakin intim pulalah persaudaraan. Persaudaraan yang direkat dengan kasih sayang tidak akan pernah berantakan ditengah jalan, tetapi akan dibawa ke liang kubur, sampai tulang belulang pun hancur.

c) Rela berkorban. Kerelaan berkorban dan berbagi rasa amat diperlukan dalam membina ukhuwah. Sebab, ukhuwah pada intinya seperti telah disebutkan adalah pergaulan hidup dalam taraf yang paling intim.

Pergaulan hidup memerlukan pengorbanan, baik material maupun spiritual. Pengorbanan itu diperlukan, karena manusia tidak mempunyai selera yang sama, tidak memiliki perasaan dan pikiran yang sama, maka dengan sendirinya, masing-masing mempunyai keperluan yang berbeda pula.

d) Toleransi. Seperti diketahui, kita bersahabat adalah dengan sesama manusia. Manusia tidak terlepas dari kesalahan dan keteledoran. Oleh sebab itu, dalam ukhuwah dituntut adanya kelapangan dada atau

(30)

toleransi. Akan tetapi, apakah kesalahan yang dilakukan dengan sengaja dapat ditolerir? Bila kita merujuk kepada al-Qur‘an dan al- Sunah, akan diperoleh kesan bahwa kesalahan itu sebenarnya tidak semuanya dipandang salah oleh seseorang, namun yang lain memandangnya sebagai kebenaran. Dalam menghadapi yang ijtihad itulah paling penting adanya sikap toleran.

e) Musyawarah. Lafal musyawarah berasal dari bahasa Arab, musyawarah yang pada asalnya berarti ―mengeluarkan madu dari sarang lebah‖. Kemudian lafal tersebut dipakai untuk menunjuk pengeluaran pemikiran dalam suatu dialog. Musyawarah dipandang bernilai karena dia – kata Mahmud Syaltut, Mantan Rektor Universitas Al-Azhar, Kairo – merupakan sarana untuk menyatakan kebenaran dan melaluinya dapat diketahui pendapat yang paling matang.

Musyawarah merupakan salah satu sendi ukhuwah Islamiyah, karena melalui musyawarah itu umat atau pemimpin-pemimpinnya dapat memecahkan problema bersama secara adil, bebas dn terbuka.

(Yunasril Ali, 2008: 376) e. Rendah Hati (Tawadhu‘)

Secara harfiah, tawadhu‟ artinya rendah hati. Adapun menurut istilah, tawadhu‟ ialah sikap rendah hati kepada Allah SWT. Dengan senantiasa tunduk dan patuh terhadap ketentuan-ketentuanNya. Tawadhu‟ (rendah hati) merupakan sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim, karena orang yang tawadhu‟ akan terhindar dari permusuhan karena tidak ada orang yang dibenci. (Wahid, 2009: 69).

Pengertian Tawadhu Secara etimologi, kata tawadhu berasal dari kata wadh‘a yang berarti merendahkan, serta juga berasal dari kata ―ittadha‘a‖

dengan arti merendahkan diri. Disamping itu, kata tawadhu juga diartikan dengan rendah terhadap sesuatu. Sedangkan secara istilah, tawadhu adalah menampakan kerendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan. Bahkan, ada

(31)

juga yang mengartikan tawadhu sebagai tindakan berupa mengagungkan orang karena keutamaannya, menerima kebenaran dan seterusnya (Rusdi, 2013: 15).

Pengertian Tawadhu Secara Terminologi berarti rendah hati, lawan dari sombong atau takabur. Tawadhu‘ yaitu perilaku manusia yang mempunyai watak rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, atau merendahkan diri agar tidak kelihatan sombong, angkuh, congkak, besar kepala atau kata-kata lain yang sepadan dengan tawadhu‘ (Yunahar Ilyas, 2007: 123).

Tawadhu‘ menurut Ahmad Athoilah hakekat tawadhu‘ itu adalah sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah, dan terbukanya sifat- sifat Allah (Syekh Ahmad Ibnu Atha‘illah, Al-Hikam, 2006: 448). Rendah hati tidak sama dengan rendah diri, karena rendah diri berarti kehilangan kepercayaan diri. Sekalipun dalam praktik- nya orang yang rendah hati cenderung merendahkan dirinya di hadapan orang lain, tapi sikap tersebut bukan lahir dari rasa tidak percaya diri. Sikap tawadhu' terhadap sesama manusia adalah sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan Kemahakuasaan Allah SWT atas segala hamba-Nya.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sikap tawadhu‘

akan membawa jiwa manusia kepada ajaran Allah, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Membimbing manusia untuk menjadi seorang yang ikhlas, menerima apa adanya, membawa manusia ke suatu tempat dimana berkumpulnya orang-orang yang ikhlas menerima apa adanya. Sehingga tidak serakah, tamak, serta selalu berbakti kepada Allah, taat kepada Rasul Allah, dan cinta kepada makhluk Allah. Apabila perilaku manusia sudah seperti ini maka di sebut bersikap tawadhu.

Di dalam al-Qur‘an tidak ditemukan kata istilah yang menunjuk langsung pada kata tawadhu. Akan tetapi, yang disebutkan adalah beberapa kata yang memiliki kesamaan arti dan maksud sama dengan kata tawadhu itu

(32)

sendiri, seperti kata rendah diri, merendahkan, atau rendahkanlah, tidak sombong, lemah lembut, dan seterusnya.

Berikut di bawah ini firman Allah yang terdapat dalam al-Qur‘an surat Asy-Syu‘araa ayat 214-215 tentang perintah untuk Bertawadhu kepada oranglain :























“dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,”

“dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.” (Kem. Agama RI, 2018: 376)

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa kita harus dapat merendahkan hati atau bertawadhu terhadap orang lain. Salah satu sikap tawadhu dengan orang lain adalah menyapa ketika bertemu atau berpapasan.

Indikator sikap tawadhu‘, antara lain: (1) Tidak menonjolkan diri terhadap teman sebaya; (2) Berdiri dari tempat duduk untuk menyambut kedatangan orang; (3) Bergaul ramah dengan orang umum; (4) Mau mengunjungi orang lain sekalipun lebih rendah status sosialnya; (5) Mau duduk-duduk bersama dengan orang yang tidak setingkat; (6) Tidak makan minum dengan berlebihan; (7) Tidak memakai pakaian yang menunjukkan kesombongan.

Menurut Khozin Abu Faqih dalam bukunya Tangga Kemuliaan Menuju Tawadhu, Ada empat jenis Tawadhu yaitu:

1) Tawadhu‘ kepada Allah SWT

Tawadhu‘ kepada Allah SWT artinya merendahkan diri di hadapan-Nya. Tanda-tanda orang Tawadhu‘ kepada Alloh SWT diantaranya:

a) Merasa kecil / sedikit dalam ta‘at kepada-Nya. Artinya, seorang yang Tawadhu‘ kepada Allah SWT itu merasa bahwa dalam

(33)

ketaatan dan ibadahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yangtelah dilakukan.

b) Merasa besar/banyak dalam maksiat. Artinya, seorang yang Tawadhu‘ kepada Allah SWT, merasa bahwa dosa / maksiat yang telah dilakukan sangat besar / banyak dibandingkan dengan amalnya.

c) Memperbanyak pujian kepada Alloh SWT. Dan tidak pada diri sendiri.

d) Tidak menuntut hak kepada Alloh, tetapi berorientasi pada amal yang harus dilakukan.

2) Tawadhu‘ kepada Agama

Tanda-tanda orang yang Tawadhu‘ kepada agama diantaranya:

Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan- larangan di dalam agama islam.

3) Tawadhu‘ kepada Rasulullah Saw.

Tanda-tanda orang Tawadhu‘ pada Rasulullah diantaranya: (a) Mengutamakan petunjuk Rasulullah diatas manusia lainnya; (b) Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau; (c) Menjadikan Rasulullah Saw. Sebagai teladan hidupnya.

4) Tawadhu‘ kepada Sesama

Tanda-tanda orang yang Tawadhu‘ kepada manusia diantaranya: (a) Menerima nasehat/saran kebenaran dari orang lain; (b) Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya; (c) Siap membantu orang lain;s (d) Bermusyawarah dengan anggota masyarakat yang lain; (e) Senantiasa berbaik sangka (khusnudzon) kepada orang lain (Khozin Abu Faqih : 41-46).

(34)

3. Pengembangan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sosial Keagamaan

Beberapa faktor yang sangat berpengaruh dalam pembentukan perilaku sosial adalah faktor kepribadan seseorang, faktor lingkungan, dan faktor budaya. Menurut Casare Lombroso, faktor yang mempengaruhi perilaku, yaitu faktor biologis, faktor psikologis, faktor sosi ologis.

Menurut Lowrence Green, perilaku ditentukan atau terbentuk dari tiga faktor.

a. Predisposisi (predis posing faktors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.

b. Pendukung (enabling faktors) yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya sarana.

c. Pendorong (reinforcement faktors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku, kebijakan, lain-lain.

Baron dan Byrne menyebutkan empat kategori utama yang dapat membentuk perilaku sosial seseorang, yaitu:

a. Perilaku dan karakteristik orang lain b. Proses kognitif

c. Faktor lingkungan

d. Tatar budaya sebagai tempat perilaku dan pemikiran sosial itu terjadi.

(Arifin, 2015: 9-10)

Sebagaimana diketahui perilaku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh organisme yang bersangkutan, baik stimulus eksternal maupun stimulus internal. Karena perilaku keagamaan merupakan bagian dari keagamaan seseorang, maka faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku keagamaan pun tidak lepas dari faktor keagamaan. Berikut yang termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku keagamaan, yaitu:

(35)

1) Faktor Internal (faktor yang berasal dari dalam diri seseorang)

Faktor intern atau bisa disebut juga faktor bawaan adalah segala sesuatu yang dibawa sejak lahir. Biasanya merupakan pengaruh keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki orang tuanya, atau kombinasi antara keduanya. Faktor intern yang mempengaruhi perkembangan seseorang di antaranya sebagai berikut:

a. Pengalaman Pribadi

Semua pengalaman pribadi yang dilalui seseorang sejak lahir adalah pengalaman pribadinya. Pengalaman pribadi termasuk pengalaman beragama, maka dalam pembentukan sikap dan perilaku keagamaan hendaknya ditanamkan sedini mungkin dalam pri badi seseorang yakni sejak dini dari dalam kandungan.

b. Pengaruh Emosi

Emosi adalah suatu keadaan yang mempengaruhi dan menyertai kesesuaian di dalam diri secara umum, keadaan yang merupakan penggerak mental dan fisik bagi individu dan dapat dilihat melalui tingkah laku luar.Emosi merupakan warna efektif yang menyertai sikap keadaan atau perilaku individu.Yang dimaksud dengan warna efektif tentang perasaan yang dialami seseorang pada saat menghadapi suatu situasi tertentu.Contoh, gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci, dan sebagainya.

Emosi mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam pembentukan perilaku seseorang. Zakiah Daradjat menyatakan bahwa

―sesungguhnya emosi memegang peranan penting dalam pembentukan

(36)

sikap dan tindak agama. Tidak ada satu sikap atau tindak agama yang dapat dipahami, tanpa mengindahkan emosinya‖. (Jalaludin, 2010).

2) Faktor Eksternal (faktor yang berasal dari luar diri seseorang)

a. Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenal oleh anak. Dengan demikian, kehidupan keluarga menjadi fase sosialisasi awal bagi pembentukan jiwa keagamaan anak.Pengaruh kedua orang tua terhadap perkembangan jiwa keagamaan anak dalam Islam sudah disadari.Keluarga dinilai sebagai faktor paling dominan dalam meletakkan dasar bagi perkembangan jiwa keagamaan.

Keterangan tersebut jelas bahwa faktor keluarga sangat penting untuk mendidik anak dimasa pertumbuhan.Ajaran Islam memberikan perhatian besar agar manusia menjaga keluarganya.

Perkembangan jiwa keagamaan anak, dipengaruhi oleh citra anak terhadap orang tuanya.Jika orang tua menunjukkan sikap dan tingkah laku orang tua yang baik, maka anak akancenderung mengidentifikasikan sikap dan tingkah laku orang tuanya. Demikian sebaliknya, jika orang tua menampilkan sikap yang buruk, maka anaknya pun akan demikian. Berarti betapa berpengaruhnya citra orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak.

b. Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan lingkungan pembelajaran yang diatur sesuai dengan kurikulum. Sehingga dengan sistem tersebut anak akan memperoleh pengetahuan yang bertingkat secara terus menerus. Dalam

(37)

hal ini termasuk pengetahuan agama. Dalam sekolah, anak diajarkan tentang Al-Qur‘an hadits, fiqih, sejarah Islam, aqidah dan akhlak yang kesemuanya terangkum dalam pendidikan agama Islam.

Melalui kurikulum yang berisi materi pengajaran, sikap dan keteladanan guru serta pergaulan antar teman di sekolah dinilai berperan dalam menanamkan kebiasaan yang baik.Pembiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan seseorang.

c. Lingkungan Masyarakat

Lingkungan masyarakat juga tidak kalah penting dalam membentuk pribadi anak, karena dalam masyarakat berkembang berbagai organisasi sosial, kebudayaan, ekonomi, agama dan lain- lain.Perkembangan masyarakat itu juga mempengaruhi arah perkembangan hidup anak khususnya yang menyangkut sikap dan perilaku sosial. Corak perilaku anak atau remaja merupakan cerminan dari perilaku lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, kualitas perkembangan perilaku dan kesadaran bersosialisasi anak sangat bergantung pada kualitas perilaku sosial warga masyarakatnya.

Norma dan tata nilai yang ada dalam masyarakat berpengaruh dalam perkembangan jiwa keagamaan. Misalnya lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa keagamaan anak, begitu juga sebaliknya. (Sjarkawi, 2011)

Referensi

Dokumen terkait

Peran guru Pendidikan Agama Islam di sekolah sangatlah penting, karena gurulah yang membantu membentuk kepribadian peserta didik menjadi lebih baik terlebih bagi

Pendidikan agama Islam di sekolah sangatlah penting untuk pembinaan dan penyempurnaan pertumbuhan kepribadian anak didik,.. karena pendidikan agama Islam melatih

mengadakan penelitian dengan judul “Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Perilaku Keagamaan Siswa di SMA Negeri

Dalam hal ini peneliti terlibat langsung dan sebagai instrumen dari kegiatan mencari data tentang strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk perilaku keagamaan

Berdasarkan penelusuran tentang kajian ini peran guru pendidikan agama Islam dalam membentuk sikap keagamaan peserta didik telah dilakukan, tetapi memiliki beberapa

Pendidikan agama pada umumnya dan pendidikan agama Islam pada khususnya sangat diperlukan dalam membentuk manusia-manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia

Melihat begitu pentingnya pelajaran pendidikan agama Islam agar perilaku keagamaan yang ada dalam diri peserta didik, maka seyogyanya guru harus lebih intens dalam mengajarkan agama

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Suhaini dapat disimpulkan bahwa Pendidikan agama Islam sangat berperan penting bagi pertumbuhan sikap dan perilaku peserta didik, karena