(STUDI KASUS SMK MAARIF NU GROGOL)
Skripsi ini Diajukan sebagai salah satu syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Strata Satu dalam Bidang
Pendidikan Agama Islam (S.Pd.)
Oleh :
M. RIFQI ROMADLON NIM : 14130081
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA INDONESIA 2021
ii
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi dengan judul “Menakar Peran Media Sosial dan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Paham Keagamaan Perserta Didik (Studi Kasus SMK Maarif NU Grogol)” yang disusun oleh M. Rifqi Romadlon Nomor Induk Mahasiswa: 14130081 telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan ke sidang munaqasyah.
Jakarta, Mei 2021 Di bawah bimbingan,
Pembimbing I, Pembimbing II,
Fatkhu Yasik, M.Pd. Dwi Winarno, M.Si.
iii
PERNYATAAN ORISINILITAS Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : M. Rifqi Romadlon
NIM : 14130081
Tempat/Tgl. Lahir : Lamongan, 14 Februari 1996
menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Menakar Peran Media Sosial dan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Paham Keagamaan Perserta Didik (Studi Kasus SMK Maarif NU Grogol)” adalah hasil karya asli penulis, bukan hasil plagiasi, kecuali kutipan-kutipan yang disebutkan sumbernya atau atas petunjuk para pembimbing. Jika di kemudian hari pernyataan ini terbukti tidak benar, maka sepenuhnya akan menjadi tanggungjawab penulis dan bersedia gelar akademiknya dibatalkan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Jakarta, Mei 2021
M. Rifqi Romadlon NIM: 14130081
iv ABSTRAK
M. Rifqi Romadlon, Menakar Peran Media Sosial dan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Paham Keagamaan Perserta Didik (Studi Kasus SMK Maarif NU Grogol), Jakarta ; Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jakarta. 2019.
Usia SMA/SMK merupakan usia yang sangat mudah untuk di doktrin, di mana pada usia tersebut anak-anak SMA/SMK maasih sering melakukan tindakan yang tidak baik. Misalnya seperti tawuran, sex bebas, alkohol, narkoba dan sebagainya dan seterusnya. Anak seusia tersebut seharusnya masih menuntut ilmu malah melakukan hal yang sebaliknya, ditambah lagi penyebaran informasi di media sosial yang sedemikian cepat menjadikan anak usia tersebut gampang untuk melakukan tindakan sebelum tabayyun terlebih dahulu, dalam arti gampang diprovokasi. Begitu juga dengan fenomena dakwah yang sedemikiannya, hal ini harus diantisipasi sejak dini bagi orang yang bersentuhan langsung dengan peserta didik, dalam hal ini orang tua dan guru pendidkan agama Islam. Maka tugas sekolah dan guru terkhusus guru pendidikan agama Islam cukup berat untuk mendidik peserta didik agar tidak melakukan tindakan yang tidak baik tersebut. Peran guru pendidikan agama Islam untuk meningkatkan paham keagamaan peserta didik tidak lain untuk kebaikan peserta didik itu sendiri, menjadikan peserta didik yang religius dan mempraktekkan paham keagaman yang sesuai dalam Islam Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyah dalam kehidupan sehari-hari, entah di sekolah maupun di masyarakat.
Lokasi penelitian ini dilakaukan di SMK Maarif NU, Grogol, Jakarta Barat. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang paham keagamaan peserta didik, pengaruh media sosial terhadap perkembangan paham keagamaan peserta didik dan untuk mengetahui sejauh mana guru dalam memberikan paham keagamaan peserta didik. Penelitian yang digunakan oleh penulis adalah kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan penulis adalah wawancara dan observasi.
Kata Kunci: SMK Maarif, Paham Keagamaan.
v MOTTO
Manusia bisa dihancurkan, tapi manusia tidak bisa ditaklukkan.
(Ernest Hemingway)
vi
PERSEMBAHAN
Dengan rasa yang cukup bangga, skripsi ini penulis persembahkan kepada:
1. Tuhan yang Maha Esa
2. Orang Tua tercinta, Mae Nur Afiyah dan Bapak Jupri yang selalu mensupport dan mengorbankan waktu untuk anaknya yang bandel ini.
Yang selalu memberi dukungan moril maupun materi dalam menyelesaikan pendidikan anaknya.
3. Saudara laki-laki dan saudara perempuan penulis yang juga selalu memberi semangat dan omelan agar segera meneyelsaikan pendidikan penulis.
4. Keluarga Besar Omah Aksoro yang selalu mensupport dan membimbing penulis.
5. Sahabat-sahabat saya yang sudah membantu dan mendukung dalam penyelesaian skripsi ini.
vii
KATA PENGANTAR
Segala puja, puji dan syukur penulis panjatkan bagi Allah SWT, tuhan sekalian alam yang telah melimphakan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan pada kanjeng nabi Muhammad SAW, pada keluarga, sahabat serta pada umatnya yang selalu menjalankan sunnahnya.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari betul akan keterbatasan dan kekurangan yang ada pada penulis. Untuk itu, penulis meyakini bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan bimbingan serta kritik konstruktif dari pelbagai pihak untuk perbaikan yang selanjutnya.
Dalam penyelesaian karya tulis ini, banyak bantuan yang penulis terima. Maka, pada kesempatan ini sudah sepatutnya penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum Machfoedz, M.Sc. Selaku Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta, beserta jajaran Wakil Rektor.
2. Bapak Dede Setiawan, M.Pd. Selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta, beserta jajaran.
3. Bapak Saiful Bahri, M.Ag. Selaku Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta, beserta jajaran.
viii
4. Bapak Fatkhu Yasik, M.Pd. Selaku pembimbing I dan Bapak Dwi Winarno, M.Si. Selaku pembimbing II yang telah membimbing, mengarahkan dan memberi saran dala penysuna skripsi ini.
5. Ibu Liya Suryani, SE. Selaku kepala sekolah SMK Maarif NU Grogol yang sudah mengijinkan penulis untuk melakukan penelitian.
6. Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta, yang sudah mendidik dan membina penulis.
7. Ibunda dan Ayahanda tercinta serta seluruh keluarga penulis yang sudah memberikan dukungan moral, materi dan spiritual yang tak ternila harganya.
8. Keluarga besar Omah Aksoro yang selalu membimbing dan membina penulis.
9. Sahabat-sahabat seperjuangan dan semua pihak yang sudah memberikan dukunaan motivasi dan bantuan kepada penulis.
Kepada semuanya, penulis hanya bisa mendoakan semoga amal dan jasa baik diterima oleh Allah SWT. Dan semoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat dan mendapat ridho dari-Nya.
Jakarta. 17 Nopember 2019 Penulis
M. Rifqi Romadlon
ix DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
PERNYATAAN ORISINILITAS ... iii
ABSTRAK ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
Daftar Tabel ... xii
Daftar Lampiran ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Pertanyaan Penelitian ... 10
D. Tujuan Penelitian ... 11
E. Manfaat Penelitian ... 11
F. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II LANDASAN TEORI ... 13
A. Kajian Teori ... 13
1. Media Sosial dan Peranannya ... 13
2. Guru Pendidikan Agama Islam dan Peranannya ... 28
3. Paham Keagamaan yang Berkembang di Indonesia ... 40
B. Pengertian Persepsi ... 43
x
C. Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 44
D. Kerangka Berpikir ... 46
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 47
A. Metode Penelitian... 47
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 48
C. Deskripsi Posisi Peneliti ... 48
D. Tahap-Tahap Penelitian ... 50
1. Tahap Persiapan ... 50
2. Tahap pelaksanaan tindakan ... 50
3. Tahap analisis data ... 50
E. Teknik Pengumpulan Data ... 51
1. Wawancara ... 51
2. Observasi ... 51
3. Dokumentasi ... 52
F. Kisi-Kisi Instrumen ... 53
G. Teknik Analisis Data ... 54
H. Validasi Data ... 55
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 57
A. Deskripsi Temuan Penelitian ... 57
1. Persepsi Peserta Didik Terhadap Guru Pendidikan agama Islam di SMK Maarif NU Grogol ... 57
2. Bagaimana persepsi peserta didik terhadap peran media sosial dalam dakwah keagamaan? ... 58
xi
3. Bagaimana Peran Media Sosial dan Guru Pendidikan Agama Islam
dalam Membentuk Paham Keagamaan Peserta Didik? ... 60
B. Pembahasan temuan Penelitian ... 64
BAB V PENUTUP ... 66
A. Kesimpulan ... 66
B. Saran-saran ... 67
xii Daftar Tabel
xiii
Daftar Lampiran
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat di era modern seperti saat ini, hampir tidak mungkin tidak terkena dampak dari media. Sadar atau tidak, media dengan segala pernak-perniknya sudah menjadi bagian penting dalam hidup manusia.
Seiring berkembangnya jaman, kehadiran media menjadi semakin penting dengan fitur yang semakin beragam dan berkembang.
Awalnya komunikasi dalam media berjalan searah, dalam arti penikmat media hanya bisa menikmati konten yang disajikan sumber media. Namun seiring perkembangan zaman, orang awam sebagai penikmat media tidak lagi hanya bisa menikmati konten dari media yang terpapar padanya, namun bisa ikut serta mengisi konten di media tersebut.
Dewasa ini, ketika orang sedang memasuki millennium baru, berkomunikasi kembali menjadi salah satu agenda sentral peradaban manusia. Di mana-mana orang berbicara tentang hebatnya teknologi informasi baru. Internet atau website sangat aktual sebagai perangkat komunikasi dan sekaligus menjanjikan nilai komersial yang di Amerika Serikat dan di berbagai Negara lain menjadikan orang muda cepat sebagi jutawan baru. Bill Gates adalah protopite dan idola baru zaman komersialisasi teknologi informasi (Oetama, 2001: 4-5)
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, “informasi” didefinisikan sebagai
“keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik.” (UU No. 18/
2008).
Berdasarkan pengertian informasi di atas, informasi bukanlah sesuatu yang baik atau buruk. Namun pemakainya, melalui media komunikasi dan telekomunikasi, yang membuat benar atau salahnya penggunaan informasi tersebut. Sains tidaklah membawa mudarat, hal itu kembali kepada orang yang menggunakannya.
Muncul dan berkembangnya internet membawa cara komunikasi baru di masyarakat. Media sosial hadir dan mengubah paradigma berkomunikasi di masyarakat saat ini. Komunikasi tak terbatas jarak, waktu maupun ruang. Bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan tanpa harus tatap muka. Bahkan media sosial mampu meniadakan status sosial, yang sering kali sebagai penghambat komunikasi.
Dengan hadirnya Facebook, Twitter, YouTube, Instagram, WhatsApp dan sebagainya, orang-orang tanpa harus bertemu, agar bisa saling berinteraksi. Jarak tak lagi menjadi masalah dalam berkomunikasi.
Lama waktu terakhir bertemu pun tak lagi menjadi masalah. Teman maupun kerabat yang telah 20 tahun tidak bertemu pun bisa saling
menemukan dan menjalin komunikasi kembali. Dan karena kemudahan penggunaanya, hampir bisa dikatakan, siapa saja bisa mengakses dan memanfaatkan media sosial (Watie, 2011 : 69)
Media sosial telah banyak mengubah dunia. Memutarbalikkan banyak pemikaran dan teori yang dimiliki. Tingkatan atau level komunikasi melebur dalam satu wadah yang disebut jejaring sosial atau media sosial. Konsekuensi yang muncul pun juga wajib di waspadai, dalam arti media sosial semakin membuka kesempatan tiap individu yang terlibat di dalamnya untuk bebas mengeluarkan pendapatnya. Akan tetapi kendali diri juga harus dimiliki, agar kebebasan yang dimiliki juga tidak melanggar batasan dan tidak menyinggung pihak lain.
Istilah sosial media atau yang biasanya disingkat ‘sosmed’ dan media sosial atau yang biasanya disingkat ‘medsos’, kedua istilah tersebut selama ini sudah banyak beredar dan sering ditulis dan diucapkan oleh beberapa kalangan, mulai dari kalangan awam hingga kalangan jurnalistik, baik dari media cetak, elektronik maupun online.
Saat ini banyak bermunculan media sosial di dunia maya, baik buatan dalam negeri mapupun luar negeri, semacam: Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp, Youtube sampai Tik-Tok dan sebagainya dan seterusnya. Tentu saja semua aplikasi tersebut memiliki kelebihan dan keunikan masing-masing. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa masyarakat Indonesia dikenal sebagai pengguna aktif di media sosial.
Pada awal tahun 2000-an hanya beberapa kalangan saja yang sudah menjadi pengguna dan penikmat internet. Pada tahun 2014 lembaga riset pakar e-Marketer, pengguna internet di Indonesia mencapai 83,7 juta penduduk Indonesia dan e-Marketer memperkirakan pada tahun 2017 pengguna internet di Indonesia bakal mencapai 112 juta penduduk Indonesia. Sedangkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2014 melakukan survey dan mendapati bahwa 88 juta penduduk Indonesia sudah terhubung ke Internet, dan pada tahun 2016 APJII kembali melakukan surevey dan jumlah pengguna Internet di Indonesia mengalami peningkatan 51,8 persen. Sangat drastis, bukan?
Pada tahun 2016 lebih dari 50 persen penduduk Indonesia telah terhubung ke Internet. Dalam survey tersebut, APJII mendapati 132,7 juta dari 256,2 juta penduduk Indonesia telah terhubung ke Internet. Dan tentu saja akan terus meningkat (Ahsan, dkk., 2017 : 71).
Jika di korelasikan dengan agama, Huzaemah Tahido Yanggo yang merupakan anggota A’wan PBNU ini mengatakan ada empat tuntutan Al-Qur’an dalam penggunaan media sosial digital yang saat ini sedang digandrungi masyarakat dunia. Dalam Al-Qur’an ditemukan beberapa kata kunci tentang komunikasi negatif. Kata kunci ini pada saat yang sama juga mengisyaratkan tentang sikap hati-hati, mawas diri dan
cerdas literasi tentang media sosial
(http://www.nu.or.id/post/read/80750/empat-tuntunan-al-quran-dalam- penggunaan-media-sosial, akses pada 20 Agustus 2019).
Pertama, qaul zur yang berarti perkataan buruk atau kesaksian
palsu. Termasuk dalam kategori ini memperindah suatu kebohongan atau tazyin al-kizb.
Kedua, tajassus dan ghibah. Tajassus berarti mencari-cari
kesalahan orang lain. Sementara ghibah adalah membicarakan aib atau keburukan orang lain. Mengutip Q.S. Al-Hujarat ayat 12:
۟اوُسَّسٰٰتَ ٰلَٰو ۖ ٌْثِْإ ِ نَّظلٱ ٰضْعٰ ب َّنِإ ِ نَّظلٱ ٰنِ م اًيرِثٰك ۟اوُبِنٰتْجٱ ۟اوُنٰماٰء ٰنيِذَّلٱ اٰهُّ يٰأٰٓيَ
مُكُضْعَّ ب بٰتْغٰ ي ٰلَٰو ۚ ُهوُمُتْهِرٰكٰف اًتْ يٰم ِهيِخٰأ ٰمْٰلَ ٰلُكْٰيَ نٰأ ْمُكُدٰحٰأ ُّبُِيُٰأ ۚ اًضْعٰ ب
۟اوُقَّ تٱٰو
ٌميِحَّر ٌباَّوٰ ت َّٰللَّٱ َّنِإ ۚ َّٰللَّٱ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba- sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.
Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujarat/49:12).”
Ketiga, namimah atau mengadu domba. Maksudnya adalah
membawa satu berita kepada pihak lain. Kata kunci ini berkaitan dengan kata kunci pertama karena biasanya berita yang dibawa adalah berita bohong. Namimah juga bisa berarti provokasi untuk tujuan tertentu.
Keempat, sukhriyah yang berarti merendahkan atau mengolok- ngolok orang lain (http://www.nu.or.id/post/read/80750/empat-tuntunan-
al-quran-dalam-penggunaan-media-sosial, akses pada 20 Agustus 2019).
Dalam Q.S Al-Hujarat dijelaskan:
ٰلَٰو ْمُهْ نِ م اًْيرٰخ ۟اوُنوُكٰي نٰأ أٓىٰسٰع ٍمْوٰ ق نِ م ٌمْوٰ ق ْرٰخْسٰي ٰلَ ۟اوُنٰماٰء ٰنيِذَّلٱ اٰهُّ يٰأٰٓيَ
ٰسٰع ٍءأاٰسِ ن نِ م ٌءأاٰسِن ۟اوُزٰ باٰنٰ ت ٰلَٰو ْمُكٰسُفنٰأ ۟اأوُزِمْلٰ ت ٰلَٰو ۖ َّنُهْ نِ م اًْيرٰخ َّنُكٰي نٰأ أٓى
ٰنوُمِلَّٓظلٱ ُمُه ٰكِئأٰٓل۟وُأٰف ْبُتٰ ي َّْلَّ نٰمٰو ۚ ِنٰٓيِْلْٱ ٰدْعٰ ب ُقوُسُفْلٱ ُمْسٱِلٱ ٰسْئِب ۖ ِبٰٓقْلْٰلْٱِب
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Q.S. Al- Hujarat/49:11)
Dalam Q.S. Al-Hujarat ayat 11 tersebut melarang orang beriman laki-laki maupun perempuan mengolok-olok satu dengan yang lainnya.
Media sosial dalam dunia pendidikan secara fungsinya dikondisikan sebagai bentuk kolaborasi, keramahan, dan kreativitas penggunanya. Kondisi yang terjadi kini, banyak kalangan masyarakat belum menyadari pentingnya kebutuhan sosial media dan internet dalam dunia pendidikan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan yang signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia, perubahan itu berdampak pada kemajuan bidang ekonomi, budaya, sosial, maupun bidang pendidikan. Dalam proses pembelajaran yang baik, dibutuhkan media penunjang yang maksimal
karena dengan adanya media pembelajaran akan lebih memudahkan para pengajar untuk memberikan pengertian dan pemahaman yang baik kepada peserta didik. Hasil belajar juga pasti akan berbeda antara adanya bantuan dari media sebagai sumber belajar dengan tanpa adanya bantuan apapun. Dan adanya bantuan penggunaan media pembelajaran secara maksimal maka diharapkan prestasi belajar dapat meningkat secara maksimal.
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi, terutama teknologi dan komunikasi, telah menyebabkan dunia ini semakin mengecil dan membentuk seperti sebuah desa dunia.
Batas-batas fisik negara satu dengan negara yang lainya menjadi begitu kurang nampak dan secara non fisik hampir tanpa batas. Globalisasi terjadi sebagai suatu proses mendunia yang tidak tertahankan dan tidak mungkin terelakan. Dengan demikian diperlukan upaya-upaya untuk mempersiapkan para generasi muda sejak dini guna memasuki zaman globali yang menuntut kemampuan-kemampuan khusus. Para generasi muda sekarang yang sedang menuntut ilmu, pada dasarnya akan menjadi pelaku-pelaku utama pada zaman yang penuh dengan persaingan.
Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban para pendidik untuk memberi bekal kepada mereka agar bisa hidup (survive), salah satu upaya untuk mempersiapkan generasi muda memasuki zaman global tersebut yaitu dengan mengembangkan berbagai pendekatan pembelajaran yang berorientasi ke masa depan.
Guru Pendidikan Agama Islam adalah pendidik dengan tugas utama mendidik, membimbing, mengarahkan, mengajar, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa. Guru yang terampil harus memiliki kompetensi di bidang pedagogis, profesional, kepribadian dan sosial.
Guru bertanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan pendidikan, memberikan bimbingan dan instruksi kepada siswa. Tanggung jawab ini diwujudkan dalam bentuk, membimbing siswa untuk belajar, memelihara pribadi, karakter, fisik siswa, mengatasi kesulitan belajar, dan menilai kemajuan belajar siswa. (Taruna, 2011 : 183).
Peran guru PAI di sekolah kedudukannya sebagai pengajar dan pendidik. Berdasarkan kedudukannya sebagai guru, ia harus menunjukkan perilaku yang baik, sehingga bisa dijadikan teladan oleh siswanya. Pekerjaan guru adalah untuk mendidik dan mempersiapkan siswa untuk dapat membuat serta mengelola dan mempertahankan hasil ciptaannya untuk tidak menyebabkan bencana bagi dirinya sendiri, masyarakat dan alam sekitarnya. Guru bertanggung jawab mempersiakan siswa menjadi generasi yang terbuka, demokratis dan bersikap toleran dalam menyikapi perbedaan.
Guru PAI memberikan peran penting dalam membentuk kepribadian siswa. Oleh karena itu apabila dalam buku ajar PAI telah dimasuki unsur radikal maka akan sangat berbahaya bagi perkembangan kepribadian dan perilaku siswa. Parisi (2017: 9) menjelaskan guru PAI memiliki peranan yang sangat strategis untuk menghambat penyebaran paham radikal di kalangan siswa. Peran guru sangat dibutuhkan. Guru
dituntut untuk lebih selektif dalam memilih buku ajar yang akan diberikan siswanya. Guru harus selalu menanamkan pembelajaran tentang toleransi terhadap sesame. Pencegahan munculnya paham radikal jauh lebih penting sebelum terjadinya aksi teror. Dengan memberikan pemahaman keagamaan yang benar kepada generasi muda terutama pada para siswa, menjadi satu langkah yang bijaksana agar aksi teror tidak terulang kembali di masa-masa yang akan datang (Fuad, 2017: 670)
Guru PAI harus memberikan penjelasan tentang Islam secara memadai. Misi ajaran Islam yang sebenarnya sangat mulia dan luhur seringkali justru mengalami distorsi akibat pemahaman yang keliru terhadap beberapa aspek ajaran Islam yang berpotensi menimbulkan paham radikalisme.
Dari masalah yang sedemikian kompleks, dengan ini penulis akan mencoba membahasnya dalam skripsi yang berjudul “Menakar Peran Media Sosial dan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Paham Keagamaan Peserta Didik (Studi Kasus di SMK Ma’arif NU Grogol).”
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan apa yang telah tertulis di atas, ada beberapa masalah yang dapat diidentifikasikan, yaitu sebagai berikut:
1. Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk paham keagamaan peserta didik disinyalir sedikit berkurang.
2. Kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Islam di SMK Maarif NU Grogol berjalan secara monoton.
3. Pengaruh Media sosial dalam pembentukan paham keagamaan peserta didik saat ini cukup signifikan.
4. Sumber belajar yang di gunakan peserta didik dalam memahami agama sangat beragam dan cenderung kurang reputatif.
5. Persepsi siswa terhadap reputasi Guru PAI sebagai sumber otoritas pendidikan agama berkurang.
6. Siswa menjadikan media social sebagai sumber otoritatif dalam pendidikan agama.
C. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana persepsi peserta didik terhadap peran guru pendidikan agama Islam sebagai sumber rujukan pelajaran agama di SMK Maarif NU Grogol?
2. Bagaimana persepsi peserta didik terhadap peran media sosial dalam dakwah keagamaan?
3. Bagaimana peran media sosial dan guru pendidikan agama Islam dalam membentuk paham keagamaan peserta didik?
D. Tujuan Penelitian
Dari permasalahan-permasalahan yang tertulis di atas, maka penelitian ini bertujuan;
1. Untuk mengetahui proses guru pendidikan agama Islam sebagai sumber rujukan pelajaran agama dalam membentuk paham keagamaan peserta didik.
2. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh fenomena media sosial kepada peserta didik
3. Untuk mengetahui sejauh mana guru PAI dan media sosial dalam membentuk paham keagamaan peserta didik.
E. Manfaat Penelitian
Dengan diketahuinya tujuan dari penelitian ini, penulis berharap penelitian ini bisa memiliki manfaat sebagai berikut;
1. Melalui penelitian ini diharapkan agar peserta didik bisa lebih berhati- hati dalam menerima dakwah yang beredar di media sosial.
2. Melalui penelitian ini juga, penulis mengharapkan para guru PAI lebih berhati-hati dalam memberikan paham keagamaan peserta didik.
3. Hasil penelitian ini akan memberikan pengetahuan kepada peserta didik dan guru bahwasanya lebih berhati-hati dalam menerima dan memberi paham keagamaan akan memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.
F. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan informasi dan gambaran yang cukup jelas dalam penulisan skripsi ini, penulisan akan menjelaskan pembahasan yang di atar secara bab per bab dengan rincian sebagai berikut;
Bab I, dalam bab ini menjelaskan tentang pendahuluan yang berisi: latar belakang, rumusan masalah, pertanyaan peenlitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II, dalam bab ini menjelaskan tentang: kajian pustaka, atau teori yang berkaitan dengan media sosial dan pendidikan, lalu kerangka pemikiran serta hipotesa penelitian.
Bab III, dalam bab ini menjelaskan tentang metodologi penelitian yang meliputi: deskripsi latar, tempat dan waktu penelitian, metode penelitian, informan, teknik pengumpulan data serta pedoman penelitian.
Bab IV, dalam bab ini akan menjelaskan tentang hasil laporan dari penelitian ini.
Bab V, dalam bab ini yaitu bab terakhir dalam penulisan skripsi ini, yaitu penutup, yang berisi tentang kesimpulan, kritik dan saran dalam penulisan skripsi ini.
13
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Media Sosial dan Peranannya a. Awal Mula Munculnya Media
Media sosial telah menjadi fenomena yang semakin mengglobal dan mengakar. Keberadaannya nyaris tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai bentuk aplikasi dalam komunikasi secara virtual, media sosial merupakan hasil dari kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Media sosial merupakan sebuah media online, di mana para penggunanya melalui aplikasi berbasis internet dapat berbagi, berpatisipasi, dan menciptakan konten berupa blog, wikipedia, forum, jejaring sosial, dan ruang dunia virtual yang disokong oleh teknologi multimedia yang kian canggih. Pada saat ini, jejaring sosial, blog, dan wiki merupakan media sosial yang paling banyak digunakan dan tumbuh pesat di antara yang lainnya (Saputra, 2016:165).
Saat teknologi internet dan smart phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah smart phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media
sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia.
Karena kecepatannya, media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita. Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang bisa memiliki media sendiri.
Pada satu sisi, kemunculan media sosial telah menguntungkan banyak orang. Orang di belahan dunia manapun bisa dengan mudah berinteraksi dan ongkos yang jauh lebih murah dibandingkan melalui telepon. Selain ini, dengan adanya media sosial penyebaran informasi juga semakin cepat.
Beberapa kelebihan media sosial menurut Saputra (2016:167) jika dibandingkan media konvensional antara lain:
1. Cepat, ringkas, padat dan sederhana
Kalau kita lihat, setiap produksi media konvensional membutuhkan keterampilan khusus, standar yang baku dan kemampuan marketing yang unggul. Sebaliknya, media sosial begitu mudah digunakan (user friendly), bahkan pengguna tanpa basis pengetahuan Teknologi Informasi (TI) pun dapat menggunakannya. Yang diperlukan hanya komputer, tablet, smartphone, ditambah koneksi internet.
2. Menciptakan hubungan lebih intens
Media-media konvensional hanya melakukan komunikasi satu arah. Untuk mengatasi keterbatasan itu, media konvensional mencoba membangun hubungan dengan model interaksi atau koneksi secara live melalui telepon, sms atau twitter. Sedangkan media sosial memberikan kesempatan yang lebih luas kepada user untuk berinteraksi dengan mitra, pelanggan, dan relasi, serta membangun hubungan timbal balik secara langsung dengan mereka.
3. Jangkauan luas dan global
Media-media konvensional memiliki daya jangkau secara global, Tetapi untuk menopang itu perlu biaya besar dan membutuhkan waktu lebih lama. Sedangkan melalui media sosial, siapa pun bisa mengkomunikasikan informasi secara cepat tanpa hambatan geografis. Pengguna media sosial juga diberi peluang yang besar untuk mendesain konten, sesuai dengan target dan keinginan ke lebih banyak pengguna.
4. Terkendali dan terukur
Menurut Saputra (2016:167), Dalam media sosial dengan sistem tracking yang tersedia, pengguna dapat mengendalikan dan mengukur efektivitas informasi yang diberikan melalui respons balik serta reaksi yang muncul.
Sedangkan pada media-media konvensional, masih membutuhkan waktu.
Bukan berarti media sosial tidak punya dampak negatif, tetapi ada pula dampak negatifnya, di antaranya: berkurangnya interaksi interpersonal secara langsung, menyebabkan kecanduan, serta persoalan etika dan hukum karena kontennya yang melanggar moral, privasi serta peraturan. Sehingga, pada akhirnya melahirkan budaya baru di masyarakat tentang pemanfaatan waktu yang dipengaruhi oleh media sosial.
Pengguna media sosial sekarang tidak hanya di waktu luang saja, namun juga pada waktu-waktu sibuk, karena dimanfaatkan sebagai sarana untuk bekerja. Batasan waktu, ruang dan jangkauan menjadi hilang, sehingga gaungnya pun menjadi luas tanpa sekat-sekat seperti pada efek dari media konvensional.
Oleh karenanya, kearifan dalam pemakaian media sosial harus dipertimbangkan karena dampaknya sulit diprediksi, apalagi kalau kontennya melanggar kepatutan, etika, norma-norma masyarakat, budaya dan yang lainnya.
b. Daya Tarik dan Ancaman Media Sosial
Roby Muhammad (2017:33), peraih gelar doktor dalam bidang sosiologi jejaring sosial dari Columbia University, New York, dalam Pidato Kebudayaan yang di helat oleh Dewan Kesenian Jakarta yang bertajuk Nostalgia Masa Depan Manusia.
Roby mengatakan: “Internet di ciptakan dengan janji semua
orang bisa mendapatkan informasi tanpa filter, tanpa sensor dan semua orang bisa mengeluarkan pendapatnya. Internet digadang akan membuat hidup manusia lebih bebas. Tapi apakah benar demikian?”.
Pada pemilu presiden Amerika Serikat tahun 2015 dan di Indonesia saat pemilihan gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017, kita melihat justru internet dan berbagai cara pandang didalamnya membentuk opini mayoritas masyarakat tanpa melakukan verifikasi terhadap kebenaran informasi yang dikandungnya. Akhirnya masyarakat menjadi sulit untuk kita membedakan mana berita benar dan mana berita yang bohong, mana yang faktual dan mana yang isapan jempol.
Sebagian orang mengatakan kita telah sampai pada era
‘Post-Truth’ keadaan di mana seolah-olah kebenaran sudah tidak ada lagi, meski menurut saya fakta atau kebenaran masih tetap ada, tapi dalam bentuk yang terfragmentasi. Data menunjukkan semakin hari semakin banyak orang, terutama generasi muda yang mendapatkan informasi melalui media sosial. Media sosial diatur oleh algoritma dan sangat lihai mengetahui apa yang kita suka. Kita suka makanan, algoritma ini akan memberi informasi mengenai makanan yang kita sukai.
Kita suka sepak bola, algortma ini akan memberi banyak informasi tentang sepak bola dan seterusnya. Apa yang kita lihat di media sosial itu sudah diatur dan direkayasa dalam sebuah
algoritma yang fungsinya menyajikan apa yang kita suka agar dapat menarik perhatian kita, sesuai dengan keinginan kita. Itu artinya, setiap orang terekspos oleh informasi yang berbeda- beda. Timeline media sosial saya akan berbeda dengan media sosial orang lain. Artinya, setiap orang memiliki informasi atau gambaran realitas yang berbeda-beda (Muhammad, 2017: 33).
Katakanlah ada 100 juta orang di media sosial Indonesia.
Masing-masing memiliki gambaran tentang realitas yang berbeda, berdasarkan algoritma yang menentukan mana yang penting dan yang benar untuk kita, sehingga tidak ada lagi realitas yang dapat kita sepakati bersama. Yang terjadi bukan tidak lagi realitas kebenaran, tapi realitas kebenaran yang sudah sangat terfragmentasi. Masing-masing orang memiliki realitas versinya sendiri.
Inilah salah satu implikasi bagaimana algoritma menentukan, bukan hanya perilaku, tapi juga sikap dan opini kita, dengan mengatur apa yang kita konsumsi dari media tersebut, dalam hal ini jenis informasi yang kita dapati. Semakin lama, semakin banyak aspek hidup kita yang diatur algoritma:
bagaimana kita berpergian, bagaimana kita berbelanja, bagaimana kita berolah raga, yang semuanya diatur dengan aplikasi online. Kita sepertinya tampak lebih bebas. Tapi sebetulnya tidak. Asumsi jenis pilihan yang sepertinya bebas itu ternyata adalah hasil rekayasa alagoritma.
Semua pemilik platform aplikasi online ini, dengan pasukan orang-orang pintar lulusan-lulusan terbaik dari universitas terkenal, mengoleksi data-data perilaku kita untuk menghubungkannya dengan keuntungan. Wajar, karena mereka semua adalah swasta dengan motivasi profit. Setiap interaksi kita dengan platform teknologi terekam dan dianalisis dengan tujuan: bagaimana perilaku kita dalam mengkonsumsi informasi melalui sharing dan liking, atau memesan makanan, memesan jasa-jasa, membeli barang, dapat meningkatkan profit perusahaan-perusahaan tersebut. Ini sudah menjadi industri miliarran dollar dengan keuntungan miliarran dollar, yang semuanya didapatkan dari data-data pribadi kita.
Sementara mereka meraup keuntungan miliarran dollar, yang kita dapat malah polarisasi politik, polarisasi opini publik, yang kebanyakan justru merugikan. Ini yang harus kita pikirkan (Muhammad, 2017: 34).
Kita bisa menggalakkan literasi untuk melawan hoax, melawan berita bohong, melawan fakta-fakta bohong. Tapi sulit bagi kita untuk melawan algoritma yang mampu dengan cepat beradaptasi dengan keinginan kita, sehingga kita menjadi addicted. Algoritma adalah mesin yang sangat sistematis dengan
satu tujuan saja. Bukan untuk mencegah berita bohong, tapi agar kita dapat lebih banyak posting, memberikan informasi pribadi, berbagi kesukaan kita, lewat teks, gambar, foto, video,
komentar-komentar yang bisa dihubungkan dengan keuntungan bagi mereka. Dalam bahasa sekarang lebih banyak engagement, berarti lebih banyak memesan makanan, lebih banyak membeli, dan memberi keuntungan ekonomis secara sepihak. Ternyata, kehendak bebas yang kita pikir akan terbuka lebih lebar dengan kehadiran internet justru berbalik arah. Kita diserang algoritma yang memaksakan kehendaknya.
Sedangkan Saras Dewi (2018:24) menyampaikan pada kebudayaan pada 10 November mengatakan bahwa, generasinya juga salah satu yang termasuk terlilit teknologi digital, ia mengatakan bahwa:
“kami sulit memisahkan diri dari berkembangnya industri teknologi tersebut. Dalam keseharian masyarakat didikte dengan pengakuan yang dangkal, makna diukur dari seberapa populer gambar disukai di laman media sosial. Studi terbaru menyatakan bahwa kebahagaiaan mental menurun dikarenakan citra-citra dalam sosial media yang menampilkan keindahan, kebahagiaan dan status sosial yang tidak realistis. Ini yang dikhawatirkan oleh Martin Heidegger dan Jackues Ellul saat mengatakan bahwa teknologi dapat terlepas dari kendali manusia, dan menjadi rantai serta borgol ketidakbebasan bagi manusia. Nampaknya paranoia mereka tidak terlalu berlebihan, teknologi robotik kini tengah mengembangkan tidak saja robot- robot dengan kecerdasan buatan, tetapi juga memiliki kepekaan
sosial dan emotif, Tentunya fiksi ilmiah yang menggambarkan para robot akan menduduki dunia adalah skenario yang terlampau jauh.” (Dewi, 2018: 24).
Tetapi, apakah teknologi perlu begitu ditakuti? Haruskah relasi mnusia dengan alat-alat buatannya begitu suram? Justru menurut saya ketidakpahaman kita terhadap teknologi tersebut yang menyebabkan berbagai macam malapetaka. Dari penggunaan yang terlampau remeh, hingga penyalahgunaan yang mendorong kehancuran planet ini. Pengertian serta sensibilitas kita terhadap teknologi dan media sosial masih pada lapisan permukaan saja. Imajinasi serta hati kita belum optimal membayangkan masa depan teknologi yang dapat mendekatkan kita dengan alam.
Persoalan yang ingin saya soroti adalah berupa motif- motif inovasi masih berkisar pada pengejaran narsistik manusia.
Seperti halnya dalam Saras Dewi (2018) Victor Frankenstein yang tidak memahami kekuasaan yang ia miliki, dari tangannya ia tempa sains untuk memenuhi kegilaannya. Ia memompa nyawa ke dalam suatu mahkluk tanpa mempertimbangkan aspek etis dari tindakannya itu. Pada akhirnya ciptaannya berbalik menjadi musibah baginya.
Kita dimabukkan dengan gemilang gawai-gawai yang menjanjikan kecepatan, ketersambungan, kebahagiaan, tapi
manusia modern tidak merasa terpuaskan. Segala mesin-mesin ini semakin menjauhkan manusia dari rasa utuh. Gairah dari keberadaan teknologi masih demi kepentingan dominasi untuk menundukkan alam, juga sebagai alat subjugasi sesama manusia. Tujuan yang sangat picik, untuk melanggengkan kelas- kelas dalam masyarakat, juga memeras sumber daya yang berada pada alam. Teknologi tidak dimiliki serta dioperasikan secara demokratis, ia menjadi alat kekuasaan, berwujud sebagai bahasa, senjata juga mesin. Dalam pengertian ini, teknologi berfungsi deterministik dalam sistem yang mengatur pola pikir hingga budaya manusia, ia bukan semata-mata perkakas yang bersifat netral (Dewi, 2018: 26).
Perkembangan media informasi dan munculnya media- media sosial dalam berbagai bentuknya membuat perubahan yang radikal dalam kondisi sosial masyarakat saat ini. Pola komunikasi berubah menjadi pola komunikasi maya dan virtual.
Interaksi yang terjadi merupakan simulasi-simulasi dari realitas yang sebenarnya. Keberadaan aplikasi media sosial membuat masyarakat kini memiliki pola komunikasi visual. Media sosial telah menjadi bagian penting dari hidup kita. Sebagai kaum modern yang membutuhkan yang cepat, akurat, serta bisa dipertanggungjawabkan menjadikan media sosial ini sebagai salah satu media utama dalam pencarian informasi dan media komunikasi. Perkembangan ini bukan tidak memiliki resiko,
masalah privasi keabsahan data ataupun presisi dari informasi harus selalu diperhatikan saat sebuah informasi diterima. Selain itu, upaya beberapa pihak untuk mengoptimalkan fungsi media sosial ini juga harus didukung oleh masyarakat agar tujuan utama dari pengembangan penggunaan media sosial ini dapat terlaksana.
Koordinator peneliti Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Chaider S Bamualim mengatakan:
“pada era millenial seperti saat ini, media sosial menjadi sahabat sekaligus tempat bertanya bagi anak muda dalam belajar agama. Umumnya mereka menyukai para ustaz yang digital friendly. Mereka (anak muda) dapat mengakses ceramah
ataupun tausiyahnya secara mudah di mana pun dan kapan pun menginginkannya. Media sosial telah memengaruhi peran pendidikan agama anak muda 'zaman now'. Akibatnya, anak muda mengalami hibridasi identitas. Hibridasi identitas merupakan proses persilangan berdasarkan dinamika dan interaksi sosial-politik-keagamaan yang mereka alami dengan lingkungan sosialnya. Lembaga pendidikan dan pemahaman keagamaan, baik yang diperoleh dari keluarga, lembaga formal, informal, internet, dan media sosial, menunjukkan persilangan nilai-nilai identitas yang saling memengaruhi.'' (https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-
nusantara/18/0226/p4r6pf282-generasi-millenial-belajar-agama- lewat-media-sosial, akses pada 14 Maret 2019).
Hal tersebut merupakan salah satu kesimpulan dari penelitian yang dilakukan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian mengenai arah dan corak keberagaman kaum muda muslim Indonesia itu melibatkan sekitar 935 aktivis muda muslim dengan varian ideologi yang sangat beragam di 18 kota.
Hasil penelitian ini memunculkan tren yang dianut kaum muda muslim pada usia 15-24 tahun terhadap beberapa isu toleransi dan intoleransi. Munculnya toleransi komunal dan skriptural ketika kaum muda menggunakan dalil Alquran dan hadis dengan pemahaman yang literal. Riset tersebut juga menunjukkan adanya toleransi kewargaan dan pluralisme, yaitu toleransi yang berangkat dari nilai-nilai kesetaraan antarwarga dan penghormatan terhadap kebebasan asasi yang dimiliki dan dijamin oleh negara.
Radikalisme merupakan masalah yang masih banyak terjadi di Indonesia. Sangat penting dilakukan upaya-upaya agar para pemuda sebagai penerus generasi bangsa tak sampai terpengaruh paham-paham ekstrem tersebut. Kehadiran negara sangat penting untuk menangani situasi ini. Fenomena penyebab radikalisme perlu diantisipasi sejak dini.
c. Dakwah di Media Sosial
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi meliputi blog jejaring sosial, forum dan dunia virtual. Blog dan jejaring sosial merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Secara global, penggunaan medsos menunjukkan fenomena pertumbuhan yang sulit dihentikan. Digital Insights, pada September 2013 menyebutkan jumlah pengguna medsos seperti Facebook telah mencapai 1,15 miliar. Tidak sampai empat bulan, tepatnya pada akhir Januari 2014, The Next Web melansir pengguna aktif gurita jejaring sosial ini telah mencapai 1,23 miliar. Pengguna Facebook di Indonesia pada tahun 2014 diperkirakan mencapai 80 juta lebih atau nomor empat terbesar di dunia. Data tersebut merupakan data ditahun 2014. Dengan pertumbuhan yang sangat signifikan tersebut, maka sudah bisa dipastikan ditahun 2020 ini mengalami peningkatan yang jauh lebih signifikan dalam penggunaan jejaring sosial oleh penduduk dunia. Begitu massifnya manusia dalam memanfaatkan internet dan jejaring sosial (Sumadi, 2016: 187).
Maka, tentu akan sangat efektif jika media sosial digunakan sebagai sarana untuk menebar kebaikan (berdakwah).
Tentu segala informasi yang telah disebar di media sosial akan
secara langsung dan mudah diakses oleh siapa pun dan dimanapun. Karena media sosial dapat membuat manusia berkomunikasi satu sama lain dimanapun dan kapanpun, tidak peduli seberapa jauh jarak mereka, dan tidak peduli siang atau pun malam.
Dengan menggunakan media sosial manusia seperti saling berkomunikasi secara langsung. Hanya saja penggunaan dan kontrol terhadap media sosial saat ini masih belum tegas.
Sehingga masih sering terjadi tindak kriminal dalam media.
Oleh karenanya, pemanfaatan media sosial harus disertai dengan sikap arif dan bijaksana. Menggunakan media sosial secara bijak akan memudahkan seseorang untuk belajar, mencari kerja, mengirim tugas, mencari informasi, berbelanja, ataupun berdakwah. Sebaliknya jika menggunakan media sosial dengan tidak hati-hati maka bisa juga berdampak pada hal-hal yang buruk. Karena telah ada UU Informasi dan Transaksi Elektronik yang secara jelas mengatur soal perbuatan yang dilarang dalam memanfaatkan media sosial. Seperti; percemaran nama baik, membuat pernyataan yang provokatif dan mengandung unsur SARA.
Untuk itu, dalam pemanfaatan media sosial secara umum maupun sebagai sarana berdakwah harus memperharikan etika- etika dan norma-norma dalam ber-medsos. Tidak boleh melontarkan kalimat-kalimat yang berpotensi pada pencemaran
nama baik, juga dilarang membuat pernyataan-pernyataan yang provokatif dan mengarah pada persoalan isu SARA. Meskipun mungkin niatnya baik, namun perlu diperhatikan juga bahwa niatan baik harus dilakukan dengan cara-cara yang baik.
Sehingga tidak menimbulkan kegaduhan dan tindakan diskriminatif.
Di era perkembangan teknologi seperti sekarang ini, dakwah melalui media merupakan suatu keniscayaan karena kondisi dan situasi masyarakat kita sekarang ini begitu nyata telah terintegrasi dengan perkembangan media sosial di tengah- tengah kehidupan dalam berbagai aspeknya. Mulai bidang ekonomi, sosial, politik dan juga agama. Begitu derasnya arus informasi melalui media sosial sehingga seakan-akan dunia ini menjadi begitu sempit, karena dunia sudah tidak ada lagi pembatas antara ruang dan waktu (Sumadi, 2016: 189).
Hal ini satu sisi tentu bisa menjadi yang sangat baik, namun di sisi lain juga merupakan tantangan yang berat bagi masa depan dakwah Islam. Perkembangan teknologi yang begitu pesat menjadi peluang dakwah, mana kala para dai berani untuk mengambil posisi yang tepat dalam berbagai ranah sosial politik, selanjutnya mengupgrade kemampuannya dalam menguasai teknologi media komunikasi yang berkembang seperti sekarang ini. Dengan membekali kemampuan diri dalam praktik dunia siber dengan segala bentuk jelmaannya sebagaimana yang telah
penulis paparkan di atas. Sedangkan perkembangan teknologi informasi di media sosial akan menjadi tantangan yang berat, karena pengguna teknologi memiliki berbagai latar belakang dan motivasi yang beragam. Kecenderungan media sosial pada saat ini masih didominasi oleh pengguna para netizen yang tidak mengindahkan kode etik dalam menggunakan media sosial. Hal inilah yang sangat mengkhawatirkan karena dapat mempengaruhi prilaku negatif dan maindset masyarakat yang keliru.
2. Guru Pendidikan Agama Islam dan Peranannya a. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, dinyatakan bahwa pendidik adalah orang yang mendidik. Sedangkan mendidik itu sendiri artinya memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Poerwadarminta, 2006: 291).
Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UU No. 14/2005) pasal 1 (1) “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”
Dapat kita pahami bahwa guru adalah tenaga pendidik atau pengajar yang memberikan ilmu penegtahuan kepada
peserta didik di sekolah. Seorang guru juga harus bepengalaman dalam profesinya. Kehadiran seorang guru sangat penting dalam pendidikan, karena guru pemegang peran sentral dalam proses belajar mengajar.
Hadari Nawawi (1989: 123) mengatakan, “secara etimologis atau dalam arti sempit guru adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah/kelas.
Secara lebih luas guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing”.
Syaiful Bahri sebagaimana dikutip Djamarah (2000: 31- 32) mengungkapkan, “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah”
Sedangkan Mu’arif (2005: 198-199) mengungkapkan,
“guru adalah sosok yang menjadi suri tauladan, guru itu sosok yang di-gugu (dipercaya) dan di-tiru (dicontoh), mendidik dengan cara yang harmonis diliputi kasih sayang. Guru itu teman belajar siswa yang memberikan arahan dalam proses belajar, dengan begitu figur guru itu bukan menjadi momok yang menakutkan bagi siswa”
Seorang guru mempunyai peran yang sangat besar dalam pembentukan karakter anak didik. Guru adalah contoh, pengasuh dan penasehat bagi kehidupan anak didik. Sosok guru sering diartikan sebagai digugu dan ditiru artinya, keteladanan guru menjadi sangat penting bagi anak didik dalam pendidikan nilai.
Sedangkan Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat diartikan sebagai program yang terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam serta diikuti tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa (Alim, 2006: 6).
Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (UU No.20/2003) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:
1. Pendidikan agama;
2. Pendidikan kewarganegaraan;
3. Bahasa;
4. Ilmu Pengetahuan Alam;
5. Ilmu pengetahuan sosial;
6. Seni dan budaya;
7. Pendidikan jasmani dan olahraga;
8. Keterampilan/kejuruan; dan
9. Muatan lokal ( Undang-undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003).
Di dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang standarisasi (PP No.19/2005) juga memberikan penjelasan tentang isi kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
4. Kelompok mata pelajaran estetika;
5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.
Berdasarkan UU No.20/2003 dan PP No.19/2005 pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Pendidikan agama (Islam) sebagai suatu tugas dan kewajiban pemerintah dalam mengemban aspirasi rakyat, harus mencerminkan dan menuju ke arah tercapainya masyarakat pancasila dengan warna
agama. Agama dan pancasila harus saling isi mengisi dan saling menunjang.
Banyak sekali pengertian yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan tentang pendidikan agama Islam, singkatnya pengertian guru PAI adalah guru yang mengajar mata pelajaran Akidah akhlak, Al-Qur’an dan Hadis, Fiqih atau Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di sekolah/ madrasah, tugasnya membentuk anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, membimbing, mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, ahli dalam materi dan cara mengajar materi itu, serta menjadi suri tauladan bagi anak didiknya.
b. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam dilakukan untuk mempersiapkan peserta didik meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Pendidikan tersebut melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Di dalam UU No. 20/2003, dinyatakan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di sekolah adalah pendidikan agama Islam, karena pendidikan agama mempunyai misi utama dalam menanamkan nilai dasar keimanan, ibadah dan akhlak.
Dari pendapat di atas, jelaslah Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman, dan bertakwa kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, manusia yang berkemampuan tinggi dalam kehidupan jasmaniyah dan rohaniyah akan menjadi masyarakat yang dapat berkembang secara harmonis dalam bidang fisik maupun mental, baik dalam hubungan antar manusia secara horizontal maupun vertikal dengan maha Penciptanya. Manusia yang mencapai tujuan pendidikan agama islam akan dapat menikmati kebahagiaan di dunia dan akhirat.
c. Syarat Guru Pendidikan Agama Islam
Pekerjaan sebagai guru merupakan pekerjaan yang luhur dan mulia, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan negara maupun ditinjau dari sudut keagamaan. Guru sebagai pendidik adalah orang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan negara. Tinggi dan rendahnya kebudayaan suatu masyarakat dan negara sangat bergantung pada mutu pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu guru hendaknya berusaha menjalankan tugas kewajiban sebaik-baiknya sehingga demikian masyarakat menginsafi sungguh-sungguh betapa berat dan mulianya pekerjaan guru. Sebagai guru yang baik harus memenuhi syarat-syarat yang tertulis di dalam Undang-undang R.I. No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. “Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.” (Undang-undang R.I.
Nomor 14 Tahun 2005).
Dari undang-undang tersebut, syarat-syarat untuk menjadi guru diuraikan sebagai berikut:
1. Berijazah. Yang dimaksud dengan ijazah ialah ijazah yang dapat memberi wewenang untuk menjalankan tugas sebagai guru di suatu sekolah tertentu. Ijazah bukanlah semata-mata sehelai kertas saja, ijazah adalah surat bukti yang
menunjukkan bahwa seseorang telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan-kesanggupan yang tertentu, yang diperlukannya untuk suatu jabatan atau pekerjaan.
2. Sehat jasmani dan rohani. Kesehatan merupakan syarat yang tidak bisa diabaikan bagi guru. Seorang guru yang berpenyakit menular contohnya, akan membahayakan kesehatan anakanak dan membawa akibat yang tidak baik dalam tugasnya sebagai pengajar dan pendidik. Bahkan seseorang tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik jika badannya selalu terserang penyakit. Namun hal ini tidak ditujukan kepada penyandang cacat.
3. Memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Kompetensi guru merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya. Guru harus memiliki kompetensi pedagogik, artinya guru harus memiliki kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Mulai dari merencanakan program belajar mengajar, melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan melakukan penilaian. Selanjutnya beralih pada kompetensi kepribadian, hal ini berkaitan dengan kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa. Berikutnya kompetensi profesional, adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat
mewujudkan dirinya sebagai guru profesional. Meliputi kepakaran atau keahlian dalam suatu bidang (Ma’arif, 2012:
13-14).
4. Dan yang terakhir, kompetensi sosial, merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi, bergaul, dan bekerja sama secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, sesama tenaga kependidikan, dengan orang tua/ wali peserta didik, dan masyarakat sekitar (Yasin, 2011: 51).
Syarat-syarat yang telah diuraikan merupakan syarat- syarat umum yang berhubungan dengan profesi sebagai guru di masyarakat. Di samping itu masih banyak lagi pendapat lain mengenai syarat-syarat yang harus dimiliki oleh guru sebagai pendidik yang baik.
Guru merupakan profesi yang mulia, mendidik dan mengajarkan pengalaman baru bagi anak didiknya. Menurut Dryden dan Jeannette Vos, yang dikutip Asep Mahfudz mengatakan bahwa syarat yang harus dimiliki guru dalam mengembangkan pendidikan yang memiliki perspektif global adalah kemampuan konseptual. Yakni berkenaan dengan peningkatan pengetahuan guru dalam konteks isu-isu global.
Guru harus belajar mengenai isu, dinamika, sejarah dan nilai- nilai global (Mahfudz, 2011: 46).
Hal tersebut merupakan tanggung jawab bagi guru dalam membangun suasana belajar yang dinamis. Guru merupakan spirituil father atau bapak-rohani bagi seorang murid, karena memberi santapan jiwa dengan ilmu dan mendidik akhlak.
Sesungguhnya guru yang ideal adalah guru yang sanggup membawa anak didik kepada ajaran Islam, melalui ilmu yang diajarkannya. Di samping menguasai ilmu pengetahuan yang akan diajarkannya, dia juga harus menguasai ajaran Islam. Demikian persyaratan yang hendaknya dimiliki guru, karena tanggung jawab guru di masyarakat sangat penting untuk melahirkan kemajuan bangsa. Kebudayaan dan pengetahuan peserta didik akan tinggi, jika mutu dan kualitas dari pendidik juga tinggi. Apabila persyaratan tersebut di atas ada pada diri pendidik, tentu keresahan di dunia pendidikan tidak akan terjadi lagi.
Asef Umar sebagaimana dikutip fakhrudin (2012:49-61) memberikan penjelasan tentang peran guru dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
1. Guru sebagai sumber belajar, peran ini berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran.
2. Guru sebagai fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan agar memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.
3. Guru sebagai pengelola, guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman.
4. Guru sebagai demonstrator, maksudnya adalah peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan guru.
5. Guru sebagai pembimbing, guru berperan dalam membimbing peserta didik agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya sebagai bekal hidup dan harapan setiap orang tua dan masyarakat.
6. Guru sebagai pengelola kelas, guru bertanggung jawab memelihara ligkungan kelas, agar senantiasa menyenangkan untuk belajar.
7. Guru sebagai mediator, guru harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan media pendidikan, untuk lebih mengefektifkan proses belajar-mengajar.
8. Guru sebagai evaluator, guru hendaknya menjadi evaluator yang baik, agar dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap pelajaran dan keefektifan metode mengajar.
Dalam aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, menurut Tohirin (2005:167) guru berperan sebagai berikut:
1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai aktivitas-aktivitas pendidikan dan pengajaran.
2. Wakil masyarakat di sekolah, artinya sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan.
3. Seorang pakar dalam bidangnya.
4. Penegak disiplin
5. Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu bertanggung jawab agar pendidikan berlangsung secara baik.
6. Pemimpin generasi muda, artinya, guru bertanggung jawab untuk mengarahkan masa depan generasi muda.
7. Penerjemah kepada masyarakat, yaitu menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Semua peranan ini harus dikuasai oleh guru, agar tujuan pendidikan dapat tercapai, yakni untuk mencerdaskan generasi bangsa. Seiring berkembangnya zaman, dunia mengalami kemajuan dalam segala bidang disebut era globalisasi.
Globalisasi merupakan keadaan yang riskan terutama bagi perkembangan anak didik. Oleh karena itu guru menempati posisi strategis dalam membentuk karakter anak didik agar ke depannya tercipta generasi cerdan dan berkarakter. Dalam era globalisasi ini, guru memiliki peran yang strategis dalam
persoalan intelektual dan moralitas. Guru harus memosisikan diri sebagai sosok pembaharu. Dalam tantangan global guru juga berperan sebagai agent of change dalam pembaharuan pendidikan.
3. Paham Keagamaan yang Berkembang di Indonesia
Tujuan Syariat Islam adalah kemaslahatan hidup manusia, baik rohani maupun jasmani, individual dan sosial. Kemaslahatan itu tidak hanya untuk kehidupan dunia ini saja tetapi juga untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak. Abu Ishaq al-Shatibi merumuskan lima tujuan hukum Islam, yakni: Pertama, Hifdz Al- Din (Memelihara Agama); Kedua, Hifdz Al-Nafs (Memelihara Jiwa); Ketiga, Hifdz Al’Aql (Memelihara Akal), Keempat, Hifdz Al-Nasb (Memelihara Keturunan); dan kelima, Hifdz Al-Maal (Memelihara Harta). Pemeliharan agama (Hifdz Al-Din) merupakan tujuan pertama hukum Islam. Sebab agama merupakan pedoman hidup manusia, Karena itulah maka hukum Islam wajib melindungi agama yang dianut oleh seseorang dan menjamin kemerdekaan setiap orang untuk beribadah menurut keyakinannya. Beragama merupakan kekhususan bagi manusia dan kebutuhan utama yang harus dipenuhi karena agamalah yang dapat menyentuh nurani manusia. Allah memerintahkan kita untuk tetap berusaha
menegakkan agama
(https://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/juraidi-7-tujuh-
kriteria-paham-keagamaan-bermasalah-menurut-konstitusi, akses
pada tanggal 10 November 2019).
Sudah cukup jelas keterangan di atas, bahwa dalam Islam wajib melindungi seseorang dalam berkeyakinan, karena hal tersebut merupakan kemerdekaan dalam beribadah. Di Indonesia, ada cukup banyak aliran dan paham yang berkembang.
Syarif Hidayatullah (2014: 7-11) dalam bukunya yang berjudul Islam “Isme-Isme”: Aliran dan Paham Islam di Indonesia, menyebut ada 9 paham yang ada di Indonesia, yaitu sebagai berikut:
a. Islam Tradisional, terjadi karena pola pikir tradisionalisme dalam Islam di Indonesia dilatarbelakangi oleh kondisi umum masyarakat yang ketika Islam masuk adalah masyarakat petani yang tinggal di pedesaan, sehingga tidak memungkinkan Islam untuk berkembang secara lebih rasional dan modern.
b. Pribumisasi Islam adalah gagasan yang orisinal dari Gus Dur.
Gus Dur melontarkan gagasan ini dengan maksud untuk mencairkan pola dan karakter Islam sebagai suatu yang normatif dan praktik keagamaan menjadi sesuatu yang kontekstual.
c. Islam Liberal, mempunyai makna kebebasan tanpa batas, atau bahkan disetarakan dengan sikap permisif, ibahiyah, atau sikap yang menolerir setiap hal tanpa batas yang pasti.
d. Islam post-Tradisionalis, adalah gerakan pemikiran yang bersemangat mengusung pemikiran liberal, mendobrak ortodoksl
membebaskan diri dari keterkungkungan teks keagamaan, dan menerima sekularisasi' yang membedakannya dari Islam Liberal adalah bahwa post-Tradisionalisme menimba kearifan itu dari proses kritis (dekonstruksi) terhadap tradisi (turats) Islam zaman Nabi Muhammad hingga dinasti Andalusia.
e. Islam Radikal, sering disebut Islam Fundamentalis atau Islam Literal, beberapa tahun belakangan gencar menyuarakan isu
"Khilafah Islamiyah". Fenomena radikalisme agama semacam yang disuarakan gerakan ini bisa dilihat berakar dari benturan antara modernitas dan nilai-nilai agama.
f. Islam Transformatif menekankan penggunaan nilai Al-Quran untuk menjelaskan permasalahan empiris masyarakat sehingga nilai agama dapat mendorong percepatan transformasi menuju cita-cita kenabian dan ketuhanan.
g. Islam Modernis atau Islam Moderat muncui di Indonesia seiring dengan munculnya gelornbang pembaruan pemikiran Islam di Timur Tengah pada awal abad ke-19 Masehi, Gerakan pembaruan pemikiran ini berangkat daari bagaimana mernposisikan diri dalarn merespons problem modernitas.
h. Sedangkan neo-Modernisme gerakan ini memiliki empat ciri pokok, yaitu: pertama, penafsiran al-Quran yang sistematis dan komprehensif; kedua, penggunaan metode heremeutika dan kritik historis; ketiga, melakukan pembedaan secara jelas antara normativitas Islam dan historisitas Islam; dan keempnt,
penggabungan unsur-unsur tradisionalisme dan modernisme Islam
i. Islam Inklusif. Salah satu pengembang gagasan lslam inklusif adalah Alwi Shihab, di mana ia mengemukakan bahwa yang menyebabkan perselisihan yang telah mewujud dalam sejarah hubungan Muslim-Kristen sejak kedatangannya di Indonesia pada dasarnya terletak pada sejarah panjang saling tidak percaya dan ketiadaan sikap sating terbuka
B. Pengertian Persepsi
Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya. Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan ekstern.
Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.
Jalaludin Rakhmat (2007: 51) menyatakan persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Sedangkan, Suharman (2005: 23) menyatakan: “persepsi merupakan suatu proses menginterpretasikan atau menafsir informasi yang diperoleh melalui sistem alat indera manusia”. Menurutnya ada tiga