• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

H. Validasi Data

Hasil Penelitian bisa dikatakan valid apabila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti (Sugiyono, 2012: 121). Maka dari itu, data

yang dilaporkan peneliti harus sinkron dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian.

Penelitian akan menghasilkan data yang valid apabila menggun akan instrumen yang valid dalam mengumpulkan data. Instrumen yang baik harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Validasi internal adalah apabila data yang dihasilkan merupakan fungsi dari rancangan dan instrumen yang digunakan. Berbeda dengan validasi eksternal, yaitu apabila hasil penelitian tersebut bisa diterapkan pada sampel yang lain atau bisa digeneralisasikan (Sugiyono, 2012: 123).

Penulis dalam hal ini telah berusaha semaksimal mungkin hasil penelitian sesuai data yang sesungguhnya, yang didapat dari penelitian.

Oleh karena itu, apa yang penulis laporkan memiliki derajad kesesuaian dengan kondisi sesungguhnya, yang terjadi di lapangan. Sehingga penelitian ini bisa dikatakan valid.

No Nama Keterangan

1. Liya Suryani, SE Kepala Sekolah

2. Dra. Hj. Darmiati Guru Pendidikan Agama Islam 3. Risky Prasetyo Peserta Didik / Kelas 12 OTKP 3 4. Nurul Amelia Peserta Didik / Kelas 12 OTKP 1 5. Iis Oktaviani Peserta Didik / Kelas 11 OTKP 3 6. Zalfia Yulianti Peserta Didik / Kelas 11 OTKP 1 7. Ananta

Pujatramariao

Peserta Didik / Kelas 10 OTKP 3

8. Farid Al Hakim Peserta Didik / Kelas 10 OTKP 3

57 BAB IV

HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Temuan Penelitian

1. Persepsi Peserta Didik Terhadap Guru Pendidikan agama Islam di SMK Maarif NU Grogol

Dalam penelitian yang sudah dilakukan penulis terkait dengan persepsi peserta didik terhadap guru pendidikan agama Islam, penulis menemukan bahwa persepsi peserta didik terhadap guru pendidikan agama Islam dalam hal pembelajaran cenderung positif.

Padahal, di era industri 4.0 atau bahkan 5.0, media sosial sudah menjadi candu bagi anak generasi Z. Namun, dalam penelitian yang telah dilakukan penulis, menemukan fakta bahwa peserta didik di SMK Maarif NU Grogol masih relatif memercayai guru sebagai kiblat untuk pembelajaran. Ketika penulis mewawancarai peserta didik, semuanya memberikan persepsi yang cukup positif bagi guru pendidikan agama Islam.

Seperti yang disampaikan Rizki Prasetyo kelas 12 AP 3 dan Zelfina Ayurianti kelas 11 AP 1 peserta didik SMK Maarif NU Grogol, saat penulis mewawancarai tentang persepsi guru pendidikan agama Islam, mereka mengatakan:

“Baik-baik aja sih, nyampein pelajaran juga enak. Gampang dimengerti”

Hal senada juga disampaikan oleh Zelfina Ayurianti, menurutnya:

“Ibu Darmiati (Guru PAI) orangnya baik, kalau ngajar juga enak kok kak, karena enak juga penjelasannya”

Artinya, bissa dikatakan bahwa guru pendidikan agama Islam dalam hal mendidissk dan menyampaikan pelajaran sudah sangat baik, sehingga persepsi peserta didik terhadap guru pendidikan agama Islam sangat positif.

Selain itu, monitoring yang dilakukan guru pendidikan agama Islam dalam membentuk karakter keagamaan peserta didik bisa dikatakan berhasil, karena peserta didik masih merujuk kepada guru dari pada media sosial dalam belajar agama.

2. Bagaimana persepsi peserta didik terhadap peran media sosial dalam dakwah keagamaan?

Di era globalsasi, mau tidak mau proses belajar mengajar harus menggunakan media sosial sebagai media pembelajaran. Melalui media sosial, peserta didik diharapkan mampu belajar tentang agama yang tidak ada dalam buku pelajaran. Namun, dengan adanya media sosial tidak hanya memberikan efek baik bagi peserta didik dalam belajar agama.

Terkadang di media sosial juga berseliweran dakwah-dakwah yang mungkin bias NKRI, seperti ajakan jihad dan sebagainya. Oleh karena itu, guru pendidikan agama Islam yang bertanggung jawab dalam membentuk paham keagamaan peserta didik dituntut untuk memonitoring dan

berhati-hati dalam memilih penceramah, website atau blog yang akan direkomendasikan ke peserta didik sebagai referensi.

Adapun paham keagamaan yang penulis maksud di sini adalah paham keagamaan Islam yang berhalauan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA) Annahdliyah. Islam ASWAJA, sebagaimana sudah kita ketahui bersama, di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau nilai-nilai Tawassuth (moderat), Tawazzun (seimbang), Tasammuh (toleran) dan I’tidal (tegak lurus), serta amar makruf nahi munkar.

Dalam penelitian yang sudah dilakukan, penulis menemukan beberapa fakta yang cukup menarik. Bahwasanya, peserta didik cukup bijak dalam menggunakan dan menentukan refrensi dalam pembelajaran.

“Kita tau mana yang baik dan yang buruk, (media sosial) kan ada sisi baiknya, biar kita paham dan kalau sisi buruknya belum tentu bener apa yang di katakan ya gak usah ditiru. Kalau belajar di sekolah soalnya lebih ada contohnya gitu, soalnya ada guru yang ngajarin, kalau di media sosial kan gak nyata,” ungkap Nurul Melia, siswi kelas 12 AP 1:

Dari hasil analisis penulis, terkait persepsi peserta didik terhadap peran media sosial dalam meningkatkan paham keagamaan peserta didik sebenarnya tidak menghawatirkan, karena masih sesuai deng Islam ASWAJA Annahdliyah. Karena, pada dasarnya peserta didik menggunakan media sosial hanya sekadar eksistensi dan belajar mata pelajaran yang tidak ada di dalam buku pelajaran, bukan kemudian untuk belajar agama yang di luar Islam ASWAJA Annahdliyah, seperti yang diungkapkan oleh Rizki Prasetyo, siswa kelas 12 AP 3:

“Media sosial sangat membantu, tapi tidak sepenuhnya. Kalau kita mau searching di google itu kan pakai media sosial, jadi biar cepat dan mudah. Saya juga sering mendengarkan Mbah Ainun Nadjib, karena seperti yang tadi dibilang mendengarkan ceramah dari mbah Ainun Najib atau dari siapa pun kalau ada yang bisa membawa manfaat saya praktekan, kalau tidak ya enggak.”

Artinya, peserta didik tidak berniat belajar agama di media sosial.

Dari informan yang di dapat penulis, peserta didik mendapatkan paham keagamaan lebih besar dari guru pendidikan agama Islam. Dan ketika di tanya soal tingkat kepercayaan terkait media sosial dan guru, seluruh informan menjawab lebih percaya ke guru.

3. Bagaimana Peran Media Sosial dan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Paham Keagamaan Peserta Didik?

Saat penulis mewawancarai kepala sekolah SMK Maarif NU, Ibu Liya Suryani tentang usaha sekolah dalam meningkatkan paham keagamaan peserta didik, menurutnya banyak hal yang sudah dilakukakan.

Seperti salat dhuha berjamaah, tadarus Al-Quran dan sebagainya serta peringatan-peringatan hari besar umat Islam yang selalu diselenggarakan pihak sekolah.

“Usaha sekolah banyak sih yang sudah di lakukan, salah satu contohnya memperingati hari-hari besar Islam, mengadakan program-program yang berkaitan dengan paham keagamaan, contohnya sholat dhuha berjamaah, tadarus Al-Quran sebelum memulai pelajaran, lalu ada lomba-lomba islami dalam rangka tahun baru hijriah ada lomba ceramah, cerdas cermat tentang keislaman, rohis dan lain-lain.”

Dengan demikian, sekolah sudah berupaya untuk meningkatkan paham keagamaan peserta didik melalui media pembelajaran baik secara formal maupun non formal.

Selain itu, kepala sekolah juga menjelaskan tentang tanggung jawab pihak sekolah dan semua guru dulam paham keagamaan yang diterima oleh peserta didik dalam belajar agama.

“Kalau yang bertanggung jawab pasti kita semua ya sebagai guru di sini, tidak hanya tanggung jawab guru agama saja. Karena di sini selain guru agama Islam, juga ada guru bahasa Arab, ke-NU-an, ada guru rohis juga. Semua guru bertanggung jawab atas itu. Tapi sejauh ini sih, alhamdulillah anak-anak kita gak ada yang menyimpang, yang kelihatannya keluar jalur NU itu gak ada.”

Menurut guru pendidikan Islam di SMK Maarif NU, Ibu Darmiati terkait dengan tanggung jawab dalam meningkatkan paham keagamaan peserta didik, sama seperti yang di ucapkan kepala sekolah SMK Maarif NU, bahwa semua guru ikut bertanggung jawab dalam membentuk paham keagamaan peserta didik.

“Kepala sekolah, guru agama dan semua guru bertanggungjawab, karena kita kan mayoritas muslim, di sini semua guru-guru muslim.

Seingat saya nggka ada kali guru Kristen di sini yahh, jadi kita semua di sini bertanggung jawab.”

“Dan saya perhatikan, pemahaman mereka (peserta didik) yang sifatnya radikal gak ada sih. Saya sebenarnya gak mendoktrin, Cuma ngasih tahu kalo kita tuh ahlusunnah wal jamaah kebetulan kita tuhkan ada Ke –Nu-an jadi tuh saling mendukung dan mengingatkan,”

Artinya, pihak sekolah dan guru sangat bertanggung jawab dalam terbentuknya paham keagamaan peserta didik. Dengan begitu, segala hal

yang didapat oleh peserta didik terkait dengan paham keagamaan merupakan tanggung jawab sekolah dan semua guru SMK Maarif NU.

a. Observasi

Dari hasil penelitian melalui observasi di SMK Maarif NU, penulis menemukan beberapa hasil, yaitu:

1. Di dalam kelas

Dalam kelas, peserta didik masuk sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Sebelum pelajaran dimulai, peserta didik diminta tadarus Alquran terlebih dahulu kurang lebih 15 menit sebelum jam masuk mata pelajaran pertama. Dalam pelajaran PAI, siswa cukup antusias dalam mengikuti pelajaran. Guru juga memberikan pelajaran dengan baik, sesuai metode dan teknik tema pelajaran. Guru juga memberikan hadiah dan hukuman kepada siswa, jika memang diperlukan.

Kisi-kisi instrumen observasi kelas PAI SMK Maarif NU:

No Kegiatan Ya Tidak

1. Guru memasuki ruang kelas sesuai jadwal mata pelajaran

2. Siswa memberikan salam kepada guru ✓ 3. Siswa berdoa bersama terlebih dahulu ✓

sebelum memulai pelajaran

4. Guru menggunakan metode dan strategi dalam menyampaikan mata pelajaran

5. Siswa menyimak dalam pelajaran A.

6. Guru memberikan hadiah dan hukuman kepada siswa

B.

7. Guru menutup pelajaran dengan salam dan doa

C.

2. Waktu beribadah

Ada tiga waktu beribadah yang dilakukan oleh siswa, yang pertama sesaat sebelum pelajaran pertama dimulai, yaitu tadarusan, siswa sangat antusias saat tadarusan. Kedua, saat jam istirahat, siswa melakukan sholat dhuha, ada beberapa siswa yang tidak mengikuti sholat dhuha, karena sudah fokus istirahat. Ketiga, siswa melakukan sholat dhuhur berjamaah, sebelum pulang sekolah, hanya sebagian kecil yang tidak mengikuti.

3. Istirahat dan pulang

Peserta didik memanfaatkan jam istirahat dengan ibadah, makan dan olahraga. Sedangkan saat jam pulang, peserta didik sholat dhuur berjamaah terlebih dahulu.

b. Informan

Informan dalam wawancara yang dilakukan peneliti adalah kepala sekolah, guru pendidikan agama Islam dan peserta didik di SMK Maarif NU Grogol.

B. Pembahasan temuan Penelitian

Dari kegiatan penelitian yang dilakukan di SMK Maarif NU, diperoleh hasil penelitian terkait “Menakar Peran Media Sosisal dan Guru Pendidikan Islam dalam Membentuk Paham Keagamaan Peserta Didik (studi kasus di SMK Maarif NU).

Berdasarkan wawancara dan observasi penulis, upaya guru dalam meningkatkan paham keagamaan peserta didik sangat besar dan berperan dalam membentuk peserta didik.

Peserta didik tidak terlalu mengikuti ceramah di media sosial, karena peserta didik cenderung percaya dan mengikuti apa yang guru ajarkan.

Oleh karena itu, peran sekolah dan guru sangatlah penting dalam upaya untuk meningkatkan paham keagamaan peserta didik. Upaya sekolah dalam meningkatkan paham keagaaman peserta didik tentu mempunyai tujuan yang cukup jelas. Karena pada usia remaja seperti SMK/SMA adalah masa doktrinisasi perlakuan dan pikiran.

Dalam wawancara dan observasi penulis agar paham keagamaan peserta didik meningkat, maka pihak sekolah dan guru pendidikan agama Islam SMK Maarif NU melakukan pelbagai usaha diantaranya;

1. Guru PAI bersinergi dengan kepala sekolah dan yayasan

2. Bekerjasama dengan guru mata pelajaran lainnya terkhusus guru BK 3. Mengawasi siswa ketika sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah 4. Menegur siswa yang kurang terpuji dengan lisan maupun dengan

hukuman lainnya.

5. Memberikan mata pelajaran PAI dengan baik, sesuai dengan metode dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan materi.

6. Adanya evaluasi terkait kegiatan keagamaan.

Sedangkan dalam wawancara dan observasi dengan peserta didik terkait paham keagamaan, peserta didik sudah melakukan apa yang diterapkan sekolah, yaitu;

1. Mengikuti tadarusan sebelum jam pertama dimulai 2. Mengikuti pelajaran dengan antusias

3. Mengikuti sholat dhuha 4. Mengikuti sholat dhuhur

5. Menerapkan yang guru PAI ajarkan

6. Lebih mempercayai guru dari pada penceramah di media sosial

7. Cenderung mengambil hal yang positif dalam menggunakan media sosial

Dengan adanya peran sekolah terkhusus guru PAI dalam mengontrol peserta didik belajar di media sosial, diharapkan siswa bisa terus belajar dengan baik dan bisa meningkatkan paham keagamaannya. Dengan adanya peran sekolah dan guru, peserta didik juga bisa belajar dengan maksimal dalam belajar agama.

66 BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan paparan data dan anlisa yang sudah dilakukan penulis yang berjudul “Menakar Peran Media Sosial dan Guru PAI dalam Membentuk Paham Keagamaan Peserta Didik (Studi Kasus di SMK Maarif NU Grogol, Jakarta Barat), dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Persepsi peserta didik terhadap guru pendidikan agama Islam di SMK Maarif NU sudah cukup baik dan sesuai dengan ajaran Islam Ahlussunnah Annhdliyah. Karena peserta didik selain di berikan mata pelajaran agama Islam, juga dibekali dengan mata pelajaran khusus, yaitu Ke-NU-an. Selain itu, pihak sekolah terkhusus guru PAI juga terus mengawasi terkait dengan berkembangnya paham keagamaan peserta didik ketika di sekolah. Pengawasan juga dilakukan saat jam ibadah.

Harapannya, peserta didik dalam belajar di sekolah dan di media sosial tetap terkontrol dalam ibadah dan bertindak sesuai peraturan. Selain itu, dengan 4 jam dalam 1 pekan untuk pelajaran PAI, 1 jam untuk pelajaran Ke-NU-an cukup untuk memberikan paham keagamaan ke peserta didik.

Di sisi lain, guru PAI juga menyampaikan pelajaran dengan baik dan menyenangkan.

67

2. Persepsi peserta didik terhadap peran media sosial dalam keagamaan lebih cenderung untuk belajar mata pelajaran pendidikan agama Islam yang tidak ada di buku. Sehingga peserta didik tidak terpengaruhi dakwah di media sosial, karena cenderung memilih guru PAI sebagai refrensi utama dalam belajar agama.

3. Media sosial dan guru pendidikan agama Islam memiliki peran dalam membentuk paham keagamaan peserta didik.

Untuk media sosial mempunyai peran dalam mencari pelajaran yang tidak ada dalm buku, sedangkan pelajaran yang diberikan guru pendidikan agama Islam hanya mengarahkan dalam mencari sumber refrensi belajar di media sosial. Selain itu, pihak sekolah juga mengupayakan untuk meningkatkan paham keagamaan peserta didik dengan cara tadarus Alquran, salat sunnah dhuha, salat dhuhur berjamaah, memperingati hari besar Islam, santunan anak yatim dan pondok ramadan.

4. Peserta didik tidak terlalu menghiraukan dakwah yang ada di media sosial, bukan berarti peserta didik tidak belajar dari media sosial. Peserta didik lebih percaya dan mendengarkan apa yang guru ajarkan dari pada dakwah yang beredar di media sosial.

B. Saran-saran

Berdasarkan hasil pembahasan diatas, penulis berusaha untuk memberikan saran-saran yang harapannya bisa bermanfaat untuk sekolah,

guru pendidikan agama Islam dan juga peserta didik di SMK Maraif NU, Grogol, Jakarta Barat.

1. Untuk Kepala Sekolah

Penulis sangat berharap kepada kepala sekolah SMK Maarif NU untuk terus mengawasi dan meningkatkan paham keagamaan peserta didik dengan cara menambah jam mata pelajaran pendidikan agama Islam juga dengan cara mensosialisasikan kepada orang tua peserta didik untuk terus mengawasi perilaku anaknya di rumah dan di masyarakat.

2. Untuk Guru Pendidikan Agama Islam

Penulis sangat berharap guru bisa terus menjadi teladan bagi peserta didik, karena guru harus bisa di gugu dan ditiru oleh peserta didik. Guru juga harus dan terus memberikan motivasi ke peserta didik untuk terus semangat dalam belajar. Guru juga harus merekomendasikan Kiai atau Gus yang harus didengarkan ceramahnya ketika berdakwah di media sosial.

3. Untuk Orang Tua

Penulis sangat beraharap kepada orang tua siswa untuk selalu mengawasi dan memperhatikan kegiatan siswa di rumah, terkhusus ketika siswa tersebut menggunakan smart phone nya. Dengan begitu, perilaku siswa akan lebih terarah dalam bertindak.

4. Untuk Siswa

Penulis berharap kepada calon penerus bangsa untuk terus belajar, rajin beribadah dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial . Agar kelak bisa menggapai cita-cita yang diinginkan.

5. Untuk Peneliti Selanjutnya

Berdasarkan penelitian yang sudah penulis lakukan, ada beberapa hal yang belum menjadi fokus penelitian. Misalnya fokus terhadap sekolah guru pendidikan agama Islam dan orang tua peserta didik itu sendiri.

Dokumen terkait