• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Perjanjian Kerjasama Kebun Plasma pada umumnya

Dalam dokumen FAHRIZZAL NASTY / M.Kn (Halaman 50-67)

A. Tinjauan Mengenai Pola Kerjasama Kemitraan Kebun Plasma dalam Perkebunan

3. Bentuk Perjanjian Kerjasama Kebun Plasma pada umumnya

Secara garis besar, di Indonesia pola kemitraan yang paling sering digunakan adalah pola inti plasma. Terdapat tiga pola kemitraan inti plasma, yaitu Pola PIR, Pola KKPA, dan Pola PRP.44

a. Kemitraan Pola PIR (Perusahaan Inti Rakyat)

44Sunarko, Budidaya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit dengan Sistem Kemitraan.

Penerbit PT. AgroMedia Pustaka, 2009 Jakarta.

Kemitraan Perusahaan Inti Rakyat merupakan kemitraan perkebunan generasi pertama yang dimulai pada tahun 1980-an. Program PIR merupakan pola pengembangan perkebunan rakyat dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti dan sekaligus sebagai pelaksana pengembangan kebun plasma. Pola ini awalnya dibangun perusahaan perkebunan. Negara untuk masyarakat di wilayah pedesaan.

Dalam pola ini, perkebunan besar membangun kebun inti, pabrik, lalu membangun plasma. Secara rinci, pekerjaan pembangunan program PIR meliputi tiga tahap. Tahap pertama, perusahaan inti melaksanakan pembangunan kebun.Pada tahap kedua, dilakukan pengalihan kebun kepada petani plasma dan akad kredit konversi. Selanjutnya, tahap ketiga dilakukan pengembalian atau pelunasan kredit (hutang petani).

b. Kemitraan Pola KKPA (Kredit Koperasi Primer kepada Anggota)

Kemitraan pola KKPA merupakan pola kemitraan perusahaan inti dan petani dalam wadah koperasi untuk meningkatkan daya guna lahan petani peserta dalam usaha meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para anggota melalui kredit jangka panjang dari bank. Perusahaan inti sebagai pengembang melaksanakan pembangunan kebun kelapa sawit untuk petani peserta dengan biaya pembangunan dari kredit bank hingga tanaman kelapa sawit menghasilkan.

Perusahaan inti juga membangun kelembagaan petani sebagai wadah pembinaan dan bimbingan bagi petani peserta budidaya dan manajemen perkebunan kelapa sawit. Pembinaan minimum dilakukan selama satu siklus tanam. Pada pola kemitraan KKPA, perusahaan inti bertanggung jawab atas

pengembalian kredit bank. Angsuran kredit ini diambil dari pemotongan hasil jual TBS dari petani plasma. Artinya petani wajib menjual hasil kebunnya pada perusahaan inti. Dalam hal ini, perusahaan inti wajib membeli hasil TBS petani plasma dengan harga plasma yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang.

Selama proses ini, koperasi sebagai wadah petani berhak melakukan pengawasan pada perusahaan inti. Selanjutnya, setelah semua kewajiban petani anggota terselesaikan, perusahaan inti wajib menyerahkan sertifikat kebun kepada petani.

c. Kemitraan Pola PRP (Program Revitalisasi Perkebunan)

Pemerintah menyiapkan program revitalisasi perkebunan (Revitbun) yang merupakan kemitraan perkebunan generasi II pada tahun 2006. Berdasarkan pedoman umum program revitalisasi perkebunan, konsep kemitraannya adalah kerjasama usaha antara petani pekebun (plasma) dengan perusahaan perkebunan (inti) sebagai mitra usaha dengan prinsip yang saling memerlukan, memperkuat, dan menguntungkan.

Program PRP diharapkan dapat lebih mensejahterakan petani plasma dan mampu mengamankan kepentingan perusahaan inti dan pihak perbankan, baik itu produksi maupun angsuran kreditnya. Perusahaan inti ditetapkan sebagai developer dan avalist. Artinya, inti bertanggung jawab untuk membangunkan kebun dan menyediakan atau mencarikan dananya. Dengan demikian, fungsi dan perannya menjadi lebih nyata (lebih bertanggung jawab sampai dengan terwujudnya kebun dan lunasnya kredit petani).

Kemitraan pola Revitalisasi Perkebunan diatur di dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang Pengembangan Perkebunan melalui Program Revitalisasi Perkebunan.

Program Revitalisasi Perkebunan adalah upaya percepatan pengembangan kebun rakyat melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan yang didukung kredit investasi perbankan dan subsidi bunga oleh pemerintah dengan melibatkan perusahaan dibidang usaha perkebunan sebagai mitra dalam pengembangan perkebunan, pengolahan dan pemasaran hasil.45

Pelaksanaan revitalisasi perkebunan pada hakekatnya merupakan bahagian dari reformasi agraria yang bertujuan untuk menghasilkan revitalisasi sektor pertanian dan pedesaan yang kokoh. Reformasi Agraria yang berhasil ditandai oleh kepastian penguasaan tanah yang menjamin penghidupan dan kesempatan kerja bagi petani, tata guna tanah yang mampu memperbaiki pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup, kedaulatan pangan, kemampuan produktivitas yang mampu membuat keluarga petani mampu melakukan re-investasi dan memiliki daya beli yang tinggi.46 Kalau hal ini terjadi, sektor pertanian akan menjadi sandaran hidup mayoritas rakyat dan juga sekaligus penyokong industrialisasi nasional. Dengan demikian reformasi agrarian akan mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan keamanan. Dengan kata lain tujuan pokok dari reformasi agraria (yang sejati) adalah penciptaan keadilan sosial yang ditandai dengan adanya keadilan agrarian (agrarian justice), peningkatan

45Pasal 1 angka (1) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang Pengembangan Perkebunan Melalui Program Revitalisasi Perkebunan

46Dianto Bachriadi, Reforma Agraria untuk Indonesia: Pandangan Kritis tentang Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) atau Redistribusi Tanah ala Pemerintahan SBY, http//www.google.com, diakses tanggal 8 Maret 2020

produktivitas dan peningkatan kesejahteraan rakyat.47 Keadilan agrarian itu sendiri dapat dimaknai sebagai suatu kondisi dimana struktur penguasaan tanah secara relatif tidak memperlihatkan ketimpangan, yang memberikan peluang bagi terciptanya penyebaran dan penguatan aktivitas perekonomian rakyat yang berbasis di pedesaan, dan kemudian menjadi basis bagi partisipasi aktif (dan produktif) bagi sebagian besar penduduk yang nyatanya bergantung pula pada aktivitas pertanian untuk terlibat dalam kegiatan pembangunan nasional baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Berdasarkan pola kemitraan antara petani peserta,48 pekebun49 dan perusahaan perkebunan50 sebagai mitra usaha51 serta program revitalisasi perkebunan menunjukkan bahwa konsep dasar peraturan yang mengatur penguasaan dan pemilikan atas tanah oleh perusahaan perkebunan.

Program revitalisasi perkebunan dilaksanakan oleh perusahaan yang telah memiliki Izin Usaha Perkebunan (IUP) dan/atau izin usaha industri sebagai mitra

47Ibid

48Pasal 1 angka 9 Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang Pengembangan Perkebunan Melalui Program Revitalisasi Perkebunan bahwa peserta petani plasma adalah pekebun dan/atau penduduk setempat yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota sebagai penerima fasilitas program revitalisasi perkebunan

49Pasal 1 angka 9 Undang-undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan bahwa pekebun adalah orang perseorangan warga negara Indonesia yang melakukan usaha perkebunan dengan skala usaha tidak mencapai skala tertentu. Lihat juga pasal 1 angka 10 Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang Pengembangan Perkebunan Melalui Program Revitalisasi Perkebunan bahwa pekebun adalah perorangan warga negara Indonesia yang melakukan usaha perkebunan dengan skala usaha kurang dari 25 Ha.

50Pasal 1 angka 10 Undang-undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan bahwa perusahaan perkebunan adalah badan usaha yang berbadan hukum, didirikan menurut hokum Indonesia dan berekdudukan di wilayah hukum Indonesia, yang mengelola usaha perkebunan dengan skala tertentu.

51Pasal 1 angka 8 Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang Pengembangan Perkebunan Melalui Program Revitalisasi Perkebunan Mitra Usaha adalah perusahaan besar swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak dibidang perkebunan dan telah memenuhi Izin Usaha Perkebunan(IUP) dan/atau Izin Usaha Industri maupun koperasi yang berbadan hukum dan bergerak dibidang perkebunan.

usaha koperasi/kelompok tani dan/atau pekebun dengan persyaratan mitra usaha pengembangan perkebunan rakyat adalah perusahaan besar swasta, BUMN (Badan Usaha Milik Negara), BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) maupun koperasi yang berbadan hukum dan bergerak di bidang perkebunan yang telah memiliki Izin Usaha Perkebunan (IUP) atau Izin Usaha Industri yang telah dikeluarkan oleh Menteri Pertanian atau Bupati dan/atau perusahaan yang memiliki HGU (Hak Guna Usaha) atau dalam proses. Adapun syarat mitra usaha dalam pelaksanaan program revitalisasi perkebunan melakukan kerjasama kemitraan dengan koperasi/kelompok tani dan atau petani peserta, kerjasama kemitraan dibuat dalam bentuk perjanjian yang meliputi beberapa ketentuan sebagai berikut :

1. Perjanjian usaha dan legalitas di bidang perkebunan, pengurus, usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku (SIUP, IUP, TDP, NPWP dll).

2. Perusahaan/manajemen perusahaan berpengalaman di bidang usaha perkebunan.

3. Perusahaan atau pengurus telah memiliki pengalaman di bidang usaha perkebunan yang akan dibiayai (termasuk group usahanya).

4. Mitra usaha harus menjadi avails (penjamin) pinjaman petani peserta/koperasi.

5. Mitra usaha harus memenuhi persyaratan Bank Teknis.

6. Mitra usaha telah memiliki perjanjian kerjasama dengan koperasi yang mewakili petani peserta/kelompok tani yang diketahui oleh Bupati/Walikota.

7. Studi kelayakan/proposal kegiatan pembangunan perkebunan yang akan dilaksanakan.

Konsep kemitraan atau kerjasama kebun plasma tersebut secara lebih rinci diuraikan dalam Pasal 27 Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995, disebutkan bahwa kemitraan dapat dilaksanakan dengan beberapa bentuk antara lain :52

52Op.cit, Pasal 27

1. Inti-plasma adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar sebagai inti membina dan mengembangkan usaha kecil yang menjadi plasma dalam penyediaan lahan, penyediaan sarana produksi, pemberian bimbingan teknis manajemen usaha, produksi, perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi yang diperlukan bagi peningkatan efesiensi dan produktifitas usaha. Program inti-plasma ini, diperlukan keseriusan dan kesiapan, baik pihak usaha kecil sebagai pihak yang mendapat bantuan untuk dapat mengembangkan usahanya, maupun pihak usaha besar yang mempunyai tanggung jawab sosial untuk mengembangkan usaha kecil sebagai mitra usaha dalam jangka panjang.

2. Sub kontraktor adalah suatu sistem yang menggambarkan hubungan antara usaha besar dengan usaha kecil/menengah, dimana usaha besar sebagai perusahaan induk (parent firm) meminta kepada usaha kecil/menengah (selaku sub kontraktor) untuk mengerjakan seluruh atau sebagian pekerjaan (komponen) dengan tanggung jawab penuh pada perusahaan induk.

3. Dagang umum adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dan usaha menengah atau usaha besar yang berlangsung dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan pasokan dari usaha kecil mitra usahanya untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh usaha besar dan atau usaha menengah yang bersangkutan.

4. Waralaba (franchise) adalah suatu sistem yang menggambarkan hubungan

antara usaha besar (franchisor) dengan usaha kecil (franchises), dimana franchisee diberikan ha katas kekayaan intelektual atau penemuan ciri khas usaha, dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak franchisor dalam rangka penyediaan atau penjualan barang dan jasa.

5. Keagenan merupakan hubungan kemitraan, dimana pihak principal memproduksi/memiliki sesuatu, sedangkan pihak lain (agen) bertindak sebagai yang menjalankan bisnis tersebut dan menghubungkan produk yang bersangkutan langsung dengan pihak ketiga.

6. Bentuk-bentuk lain diluar pola sebagaimana yang tertulis di atas, yang saat ini sudah berkembang tetapi belum dibakukan atau pola-pola baru yang timbul dimasa yang akan datang.

Kemitraan sebagaimana tersebut juga diatas juga telah dimuat kembali dalam Pasal 26 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang menyebutkan :53

Kemitraan dilaksanakan dengan pola : a. Inti-plasma;

b. Subkontrak;

c. Waralaba;

d. Perdagangan umum;

e. Distribusi dan keagenan; dan

f. Bentuk-bentuk kemitraan lain, seperti : bagi hasil, kerjasama operasional,

53 Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Pasal 26.

usaha patungan (joint venture), dan penyumberluaran (outsourching).

Dalam pasal 57 ayat 2 Undang-undang Nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan menerangkan mengenai kemitraan usaha perkebunan dapat berupa pola kerja sama penyediaan sarana produksi, produksi, pengolahan dan pemasaran, kepemilikan saham dan jasa pendukung lainnya.

Bentuk perjanjian kemitraan inti plasma ini adalah tertulis. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/Permentan/OT.140/2/2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan Pasal 23 ayat 2 sebagai syarat formal yang mengesampingkan prinsip konsensualitas yang dianut dalam Pasal 1338 Buku ke III KUH Perdata.

Pada dasarnya, kemitraan merupakan suatu bentuk kerjasama yang dilakukan antara satu pihak/lebih, dengan satu pihak/lebih lainnya dalam memenuhi kebutuhan ataupun keperluan masing-masing pihak. Suatu pekerjaan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing pihak akan sangat sulit diselesaikan jika ada beberapa hambatan yang dihadapi. Kebutuhan saling bekerjasama dan saling melengkapi sebagai makhluk sosial (zoon politikon) apabila dilakukan secara bersama-sama tentu akan menghasilkan nilai maksimal.

Begitu pula dalam kemitraan usaha perkebunan antara perusahaan mitra dengan masyarakat sebagai kelompok mitra akan mempunyai keuntungan tersendiri pada masing-masing pihak yang tentunya akan memperkuat bidang usaha perkebunan dengan meningkatkan profit bagi perusahaan, serta akan membentuk pondasi dasar ekonomi yang kuat bagi masyarakat lain pihak.

B. Perjanjian Pola Kemitraan Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 98/Permentan/OT.140/9/2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan

1. Perjanjian pada umumnya

Pengertian perjanjian diatur dalam Pasal 1313 KUH Perdata. Pasal 1313 KUH Perdata berbunyi: “Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”.

Definisi perjanjian dalam Pasal 1313 ini adalah :

1. Tidak jelas, karena setiap perbuatan dapat disebut perjanjian.

2. Tidak tampak asas konsesualisme.

3. Bersifat dualisme.

Ketidakjelasan definisi diatas disebabkan dalam rumusan tersebut hanya disebutkan perbuatan saja, sehingga yang bukan perbuatan hukum pun disebut dengan perjanjian. Menurut doktrin (teori lama) yang disebut perjanjian adalah :

“Perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum”.

Definisi ini, telah tampak adanya asas konsesualisme dan timbulnya akibat hukum (tumbuh/lenyapnya hak dan kewajiban). Unsur-unsur perjanjian, menurut teori lama adalah :

1. Adanya perbuatan hukum.

2. Persesuaian pernyataan kehendak dari beberapa orang.

3. Persesuaian kehendak ini harus dipublikasikan /dinyatakan.

4. Perbuatan hukum terjadi karena kerjasama antara dua orang atau lebih.

5. Pernyataan kehendak (wilsverklaring) yang sesuai harus saling bergantung satu sama lain.

6. Kehendak ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum.

7. Akibat hukum untuk kepentingan yang satu atas beban yang lain atau timbal balik.

8. Persesuaian kehendak harus dengan mengingat peraturan perundang-undangan

Roscoe Found menyatakan bahwa “memenuhi janji” adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan sosial. Hukum perjanjian berkaitan dengan pembentukan dan melaksanakan suatu janji. Suatu janji adalah suatu pernyataan tentang suatu kehendak yang akan terjadi atau tidak terjadi pada masa yang akan datang.54 Dalam makna yang lain, dapat dikatakan bahwa janji merupakan pernyataan yang dibuat oleh seseorang kepada orang lain yang menyatakan suatu keadaan tertentu atau yang terjadi, atau akan melakukan suatu perbuatan tertentu.55 Orang terikat pada janjinya sendiri, yakni janji yang diberikan kepada pihak laindalam perjanjian. Janji itu mengikat dan janji itu menimbulkan utang yang harus dipenuhi.56

Pada prinsipnya perjanjian terdiri dari satu atau serangkaian janji yang dibuat pihak dalam perjanjian. Esensi dari perjanjian itu sendiri adalah kesepakatan

54 Roger LeRoy Miller dan Gayland A.Jentz, Business Law Today (South Western:Thomson, 2003), hlm. 181

55 A.G.Guest, (ed), Anson’s Law of Contract (Oxford: Clarendon Press 1979). hlm. 2

56 J. Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Lahir dari Perjanjian, Buku II (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995), hlm. 146.

(agreement). Atas dasar itu, Subekti57 mendefinisikan perjanjian sebagai peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lain dimana dua orang saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu.

Menurut Sudikno Mertokusumo perjanjian hendaknya dibedakan dengan janji. Walaupun janji itu didasarkan pada kata sepakat, tetapi kata sepakat itu tidak untuk menimbulkan akibat hukum, yang berarti bahwa apabila janji itu dilanggar, tidak ada akibat hukumnya atau tidak ada sanksinya.58

Hukum perjanjian memberikan kebebasan kepada subjek hukum untuk melakukan beberapa perjanjian dengan beberapa pembatasan tertentu.

Sehubungan dengan itu Pasal 1338 KUHPerdata menyatakan :

1. Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undangbagi mereka yang membuatnya (alle wettiglijk gemaakte overeenkomsten strekken dengenen die dezelve hebben aangegaan tot et);

2. Perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat keduabelah pihak atau karena alasan undang-undang yang dinyatakan cukup untuk itu (zij kunnen niet herroepen worden, dan wet daartoe voldoende verklaard); dan

3. Perjanjian tersebut harus dilakukan dengan iktikad baik (zij moeten te goeder trouw worden ten uitvoer gebragt).

Asas-asas perjanjian yang dikandung dalam Pasl 1338 KUHPerdata sebagi berikut:

57Subekti, Hukum Perjanjian, Jakarta: PT. Intermasa, 1984, hlm. 36

58 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Yogyakarta: Liberty, 1999), hlm. 10.

1. Asas konsesualisme;

2. Asas pacta sunt servanda;

3. Asas kebebasan berkontrak; dan 4. Asas itikad baik;

Sudikno Mertokusumo mengajukan tiga asas perjanjian yang dapat dirinci sebagai berikut :59

1. Asas konsensualisme, yakni suatu persesuaian kehendak (berhubungan dengan lahirnya suatu perjanjian).

2. Asas kekuatan mengikatnya suatu perjanjian (berhubungan dengan akibat perjanjian); dan

3. Asas kebebasan berkontrak (berhubungan denan isi perjanjian).

Menurut Ridwan, hukum perjanjian mengenal empat asas perjanjian yang saling kait mengkait satu dengan yang lainnya. Keempat perjanjian tersebut adalah sebagai berikut :60

1. Asas konsensualisme (the principle of consensualism).

2. Asas kekuatan mengikat kontrak (the legal binding of contract).

3. Asas kebebasan berkontrak (the principle of freedom of contract).

4. Asas iktikad baik (principle of good faith).

Salah satu persoalan penting di dalam hukum perjanjian atau kontrak adalah penentuan keabsahan suatu perjanjian. Tolak ukur keabsahan perjanjian tersebut di dalam sistem hukum perjanjian Indonesia ditemukan dalam Pasal 1320

59Ibid

60Ridwan Khairandy, Iktikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak (Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004), hlm. 27

KUHPerdata.

Dalam naskah asli (bahasa Belanda) Pasal 1320 KUHPerdata tidak dirumuskan dengan kata-kata “syarat sahnya perjanjian”, tetapi dengan kata-kata

“syarat adanya perjanjian” (bestaanbaarheid der overeenkomsten). Perumusan kalimat “syarat adanya perjanjian” tersebut kurang tepat. Dikatakan tidak tepat karena adakalanya suatu perjanjian tidak memenuhi salah satu syarat yang ditentukan Pasal 1320 KUHPerdata tersebut, tetapi tidak mengakibatkan batalnya atau tidak sahnya perjanjian.

Dalam hal perjanjian mengandung cacat kehendak, karena adanya kesepakatan mengandung paksaan, penipuan, kekeliruan, atau penyalahgunaan keadaan hanya membawa akibat dapat dibatalkan. Demikian juga dalam hal perjanjian dibuat oleh pihak yang tidak cakap membuat perjanjian tidak berakibat batalnya perjanjian itu. Sepanjang tidak ada pembatalan perjanjian, perjanjian tersebut tetap sah.

Dengan demikian, menurut J. Satrio, benar sekali jika kata bestaanbaarheid diterjemahkan sebagai “sahnya”. Kata “sahnya” ini lebih tepat karena lebih sesuai dengan substansi yang dikandung Pasal 1320 KUHPerdata.61

Pasal 1320 KUHPerdata menentukan adanya 4 (empat) syarat sahnya suatu perjanjian, yaitu :

1. Supaya perjanjian menjadi sah maka para pihak harus sepakat terhadap segala

61J.Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Lahir dari Perjanjian, Buku II (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995), hlm. 162

hal yang terdapat di dalam perjanjian.62 Pada dasarnya kata sepakat adalah pertemuan atau persesuaian kehendak antara para pihak di dalam perjanjian.

Seseorang dikatakan memberikan persetujuannya atau kesepakatannya jika memang ia menghendaki apa yang disepakati.63

Di dalam pembentukan kata sepakat (toesteming) terdapat unsur penawaran (offer, offerte) dan penerimaan (acceptance, acceptatie). Kata sepakat pada prinsipnya adalah terjadi terjadinya persesuaian antara penawaran dan penerimaan. Kata sepakat itu sendiri pada dasarnya adalah pertemuan antara dua kehendak.

Persesuaian kehendak saja tidak akan menciptakan atau melahirkan perjanjian. Kehendak itu harus dinyatakan. Harus ada pernyataan kehendak.

Pernyataan kehendak tersebut harus merupakan bahwa yang bersangkutan menghendaki timbulnya hubungan hukum. Kehendak itu harus nyata bagi orang lain, dan harus dapat dimengerti oleh pihak lain.64

Berkaitan dengan bentuk pernyataan kehendak tersebut, pada dasarnya KUHPerdata bentuk pernyataan kehendak, kecuali untuk perjanjian atau kontrak formal yang mensyaratkan kontrak harus dituangkan dalam bentuk tertentu (tertulis) seperti perjanjian perdamaian (dading).

2. Syarat sahnya perjanjian yang kedua menurut pasal 1320 KUHPerdata adalah kecakapan untuk membuat perikatan (de bekwaamheid om eene verbintenis aan te gan). Disini terjadi pencampuradukan penggunaan istilah perikatan dan perjanjian.

62Sudargo Gautama, Indonesian Business Law (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995), hlm.

76

63J. Satrio, opcit, hlm. 164

64J. Satrio, opcit, hlm. 175

Dari kata “membuat” perikatan dan perjanjian dapat disimpulkan adanya unsur

“niat” (sengaja). Hal yang demikian itu dapat disimpulkan cocok untuk perjanjian yang merupakan tindakan hukum. Apalagi karena unsur tersebut tersebut dicantumkan sebagai unsur sahnya perjanjian, maka tidak mungkin tertuju kepada perikatan yang timbul karena undang-undang. Menurut J. Satrio, istilah yang tepat untuk menyebut syaratnya perjanjian yang kedua ini adalah kecakapan dalam membuat perjanjian.65

3. Syarat sahnya perjanjian yang ketiga adalah adanya suatu hal tertentu (een bepaald onderwerp). Suatu perjanjian harus memiliki objek tertentu, suatu perjanjian harus mengenai suatu hal tertentu (certainty of terms).

Jika undang-undang berbicara tentang objek perjanjian (het onderwerp der overeenkomst), kadang dimaksudkan yakni pokok perikatan (het voorwerp der verbintenis) dan kadang juga diartikan sebagai pokok prestasi (het voorwerp der prestatie).66

Suatu hal tertentu yang dimaksud Pasal 1320 KUHPerdata adalah kewajiban debitor dan hak kreditor. Ini berarti bahwa hal tertentu itu adalah apa yang diperjanjikan, yakni hak dan kewajiban kedua belah pihak.

J. Satrio juga menyatakan bahwa objek perjanjian adalah isi dari prestasi yang menjadi pokok perjanjian yang bersangkutan. Jika pasal 1332 dan 1334 KUHPerdata berbicara tentang zaak yang menjadi objek perjanjian, maka zaak

65 J. Satrio, opcit, hlm. 2

66 Herlin Budiono, Hukum Perjanjian dan Penerapannya di Bidang Kenotariatan (Bandung:Citra Aditya Bakti, 2010), hlm. 107

disini adalah objek perjanjian.67

4. Syarat sahnya perjanjian yang keempat adalah adanya kausa hukum yang halal. Naskah asli KUHPerdata (bahasa Belanda) menggunakan istilah een geoorloofde oorzaak yang berarti alasan yang diperbolehkan. Terjemahan yang sudah lazim digunakan di Indonesia adalah kausa hukum yang halal (justa causa).

Dari pasal 1320 KUHPerdata dapat ditarik simpulan bahwa pasal tersebut mensyaratkan bahwa perjanjian atau kontrak disamping harus ada kausanya, tapi kausa itu juga harus halal.

Domat dan Pothier memandang kausa suatu perikatan sebagai alasan penggerak yang menjadi dasar kesediaan debitor untuk menerima keterikatan untuk memenuhi isi (prestasi) perikatan. Jadi mereka ingin mengetahui apa dasarnya para pihak terikat (mengikatkan diri). Menerima perikatan berarti menerima keterikatan untuk memberikan prestasi perikatan.68

Dengan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seorang terikat untuk melaksanakan isi perjanjian tidak hanya didasarkan pada kata sepakat saja, tetapi juga harus didasarkan adanya kausa.

Secara teoretik harus dibedakan kausa yang halal dalam pengertian “tujuan” dan kausa halal dalam kaitan dengan “motif.” Kausa yang halal dalam perjanjian jual beli rumah bertujuan untuk beralihnya hak milik atas rumah itu dari penjual kepada pembeli dengan pembayaran kepada penjual. Adapun motif mengapa penjual menjual rumahnya mungkin dilandasi keinginan utang. Sebaliknya, pembeli justru termotivasi membeli rumah itu untuk diberikan kepada anaknya.

67 J. Satrio, opcit, hlm. 32

68 J. Satrio, opcit, hlm. 54

Hukum tidak memperhtiungkan pertimbangan atau motivasi apa yang

Hukum tidak memperhtiungkan pertimbangan atau motivasi apa yang

Dalam dokumen FAHRIZZAL NASTY / M.Kn (Halaman 50-67)