(STUDI PADA PT. ANUGERAH LANGKAT MAI(MUR}
TESIS Oleh
FAHRIZZAL NASTY
177011238 / M.Kn
MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKT]M
UNTYERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
OIeh
FAHRIZZAL NASTY
177*11238 I M.Kn
MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIYERSITAS SUMATBRA UTARA MEDAN
2A2l
TI{r'SIS
Submitted to complete the requirements for getting the title of
Magister Kenotariatan (Master of Notarial Affairs) in the Notarial Affairs Study Program, the Faculty of Law, University of
Sumatera Utara
By
FAHRIZZAL NASTY
17701f238 / M.Kn
MASTER OF NOTARIAL AFFAIRS FACULTY OF LAW
UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAi\{
2il21
@nmeiffi#d
Dn
mfrtf"hcti$H"e"
KELAS NIM
PROGRAM STUDI
RBGULER
777477238
MAGISTER KENOTARIATAN
USUPembimtring
Prof. Dr. Bismar
utiono S.H.,M.H. 1/
Ketua
Program
StudiProf.
Dr. Muhammad Yamin,
S.H., M.S., C.N.Prof. Dr.
Saidin, S.H.,M.Hum.
an
Ginting,
SH,M.Hum
PembimbingDr. r. *",,.,rM.,r*., *.r,",
Tanggal
Lulus
: 09Februari
2021PANITIA PENGUJI
TESISKetua
:Prof. Dr. Muhammad Yamin,
S.II., M.S., C.N.Anggota
: 1.Prof. Ilr. Bismar
Nasution, S.H.,M.H.
2.
Prof. Dr.
Saidin, S.H.,M.Hum.
3.
Dr.
T.Keizerina
DeviAzwar, SlI.,
CN.,M.Eum
4. Dr"
Ahdul Ilarriso
S.H.,M.Kn
*I(EDUDUKAIY HAK ATAS TANAH YANG DIMILIKI PESERTA PLASMA YANG MENGUNDURKAIT DIRI
(STTJDIPADA
PT.ANUGERAH LAIYGKAT MAKMITR}'
Adalah karyaorisinal
saya dan setiap serta selunrh sumber acuan telahditulis
sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah yang berlaku di Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.Dengan
ini
menyatakan bahwaTesis ini tidak
terdapatkarya yang pemah diajukan
untuk mernperoleh gelar kesarj&naandi
suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapatkarya atau pendapat yang pernahditulis
atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskahini
dan disebut dalam daftar pustaka.Medan,
Februari 2021FAIIRIZZAL NASTY
177011238Nama
NIM
Program Studi
: Fahrizzal Nasty :177fr11238
: Magister Kenotariatan
Untuk pengembangan ilmu pengetahuan, dengan
ini
menyetujui memberikan kepada Universitas Sumatera UtaraHak
BebasRoyalti Non Eksklusif (tr/or
Exclusive, Royalty Free Right) untuk mempublikasikan tesis saya yang berjudul:66KEDUDUKAI{ HAK ATAS TANAII YANG DIMILIKI PESERTA PLASMA
YAIYGMENGTINDURKAN DIRr
(STUDTPArIA PT.AI\ruGERAr{ LANGKAT MAKMT}R}'
Dengan Hak Bebas Royalti Non
Eksklusif ini,
Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan,mengalih media /
memformatkan, mengeloladalam benfuk
pangkalandatq
merawat dan mempublikasikan tesis saya selamatetap mencantumkan nama saya sebagai penulis dan sebagai pemilik hak cipta. Derninkian persetujuan publikasiini
saya buat dengan sebenamya.Medan,
Februari 2021T.AIIRIZZAL NASTY
177CI11238
Prof. Dr. Saidin, S.H., M.Hum.
Secara garis besar, di Indonesia pola kemitraan yang paling sering digunakan adalah pola inti plasma yaitu Pola PIR, Pola KKPA, dan Pola PRP. PT. Anugerah Langkat Makmur (PT.ALAM) adalah sebuah perusahaan yang berusaha di bidang perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang telah memiliki beberapa Koperasi Unit Desa (KUD) yang terbagi di Kabupaten Langkat dan Kabupaten Mandailing Natal. Akan tetapi akan timbul masalah apabila ada anggota dari KUD yang mengundurkan diri atau menjual kepersertaannya sehingga sebenarnya bagaimana kedudukan serta posisi dari Hak nya atas kebun tersebut yang mana alas Hak tersebut merupakan Hak Guna Usaha atau HGU yang dalam hal ini belum diatur atau di cover secara penuh oleh undang-undang maupun peraturan pemerintah, sehingga perlu ada suatu terobosan hukum untuk menyelasaikan problematika tersebut dengan mengangkat masalah bentuk Pola Kerja Sama Terhadap Kebun Plasma Yang Terdapat di PT.ALAM, Dalam Mengelola Perkebunan Harus Diwajibkan Dengan Pola Kemitraan dan Akibat Hukum Terhadap Kedudukan Hak Atas Tanah Yang Dimiliki Peserta Plasma Yang Mengundurkan Diri Dari Keanggotaan Plasma (Studi Kasus PT.ALAM). Bentuk perjanjian kemitraan inti plasma ini adalah tertulis sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/Permentan/OT.140/2/2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan pada Pasal 23 ayat 2. Hubungan inti dan plasma pada hakikatnya diatur dalam sebuah perjanjian tertulis (perjanjian inti plasma) secara spesifik menjabarkan hak dan kewajiban para pihak apabila dibuat dihadapan Notaris. Kewajiban plasma berdasarkan Undang-Undang Perkebunan Nomor 39 Tahun 2014 wajib melaksanakan kemitraan usaha perkebunan dan wajib memfasilitasi kebun masyarakat (dalam jangka waktu 3 tahun sejak HGU diberikan harus dilaksanakan) oleh perusahaan perkebunan. Dasar hukum yang menetapkan bahwa HGU dapat diwariskan secara implist dimuat dalam Pasal 28 Ayat (2) UUPA, yaitu "HGU dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain". Secara eksplisit, Hak Guna Usaha dapat diwariskan dimuat dalam Pasal 16 Ayat (2) huruf e Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996, yaitu peralihan hak guna usaha terjadi dengan pewarisan. Peserta plasma yang mengundurkan diri dari keanggotaan plasma berdasarkan hak atas tanah yang dimiliki peserta plasma di PT.ALAM kembali menjadi milik KUD.
Kata Kunci: Plasma, HGU, PT.ALAM dan KUD .
1) Mahasiswa Magister Kenotariatan, Universitas Sumatera Utara **) Pembimbing I
***) Pembimbing II ****) Pembimbing III
Prof.
Dr.
Saidin. S.H.. M.Hum.****In
General,the most
common partnership patternin
Indonesiain
plasmanucleus such as PIR Pattern,
KKPA
Pattern. and PRP Pattem. PT. Anugerah LangkatMakmur (PT. ALAM)
operatesin oil paim
plantations and factories;it
has someKUDs (Village Unit
Cooperatives)in Langkat
Regencyand Mandailing
Natal Regency. The problem arises when someof
their memberswithdraw
and sell their srocks so that thereis
no certainty abouttheir
rights on the plantationswhich
legal standing is the HGU (leasehold) that has not yet regulated or covered by laws and PP (Govemment Regulation); therefore,it is
necessar)'to
have legal breakthrough to settle the problemsof
cooperative patternin
the piasma plantations at PT.ALAM.
Partnership Pattern is a must and the legal consequence of the position
of
land rights owned by plasma plantation whose members withdrarv from the plasma membership(A
Case Study at PT.ALAM).
The parhrership contract is a written form as specifiedin
the Decreeof
TheMinister of
AgricultureNo. 98,?ermentanlOT.l4Al920l3
onthe Guidelines for
Plantation BusinessLicense in Article 29,
paragraph2.
Inprinciple, the
relationship between nucleus and plasmais
specifiedin the
Plasma Nucleus contract which explains specially the right and obligation and is made beforea Notary. According to Law No. 3912014, plasma is required to implement plantation business partnership and to facilitate smallholding plantations (in the term
of
3 years since theHGU
is in effect,it
has to be implemented by the plantation company). The legal grounds which stipulates thatHGU
can be bequeathed is specifiedimplicitly
inArticle 28,
parugraph2 of UUPA
(The LandAct) which
statesthat HGU
can be transferredto
other party."Explicitly,
the inheritanceof HGU is
specifiedin Article
16,paragraph 2, point e PPNo.
4011996 which indicates HGU occurs by inheritance.The land rights
of
the plasma memberswho
have withdrawnwill
be transferred toKUD.
Keywords:
Plasma,HGU, PT.ALAM
danKUD
.**)
l)
***)
*** *)
Graduate Student of Notarial Affairs, Universify of North Sumatera Supervisor I
Supervisor
II
Supervisor
III
telah memberikan taufik dan hidayah-Nya pada penulis, sehingga
dapat menyelesaikan penulisan tesisini.
Shalawat beriring salam kita limpahkan keharibaan junjungan kita Nabi Besar Muhammad SA\M yang telah membawa umatnya dari alam kegelapan menuju alam ilmu pengetahuan.Tesis
ini
disusun dalam rangka memenuhi tugas dan melengkapi syarat-ryaratuntuk
memperoleh gelar Magister Kenotariatan pada FakultasHukum
Universitas Sumatera Utara. Adapunjudul
yang penulis angkat adalah :..I(EDUDUKAN HAK
ATAS TANAII YANG DIMILIKI PESERTA PLASMA YANG MENGTINI}URKAFI DIRI (ST[]DI PADA PT.AI{UGERAII LANGKAT MAKMUR)".
Sebagai ungkapan
slukur
pdnulis dalam kesempatanini ingin
mengucapkanterima kasih yang
sebesar-besarnya kepada seluruhpihak yang telah
membantupenulis dalam
menyelesaikan penulisanini baik
secaramoril maupun
materil, terutarna kepada :L Bapak Dr. Muryanto Amin,
S.Sos.,M.Si.
selakuRektor
Universitas Sumatera Utara.2.
Bapak Prof.Dr.
BudimanGinting,
S.H.,M.Hum.
selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.r11
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Bapak Dr. Edy lkhsan, S.H., MA. selaku
SekretarisProgram
Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Surnatera Utara.Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H., M.S., C.N. selaku pembimbing utama yang telah meluangkan waktu dan memberi motivasi, bimbingan, dorongan, saran dan perhatian hingga selesai penulisan tesis ini.
Bapak Prof.
Dr.
Bisrnar Nasution, S.H.,M.H.
selaku pembimbing keduayang telah meluangkan waktu dan memberi motivasi,
bimbingan, dorongan, saran dan perhatian hingga selesai penulisan tesisini.
Bapak
Prof. Dr.
Saidin, S.H.,M.Hum.
selaku pembimbing ketiga yangtelah
meluangkanwaktu
dan memberimotivasi,
bimbingan, dorongan, saran dan perhatianhingp
selesai penulisan tesis ini.Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar S.H., C.N., M.Hum,
selaku dosen penguji yang telah meluangkan waktu, memberikritik
dan saran hingga selesai penulisan tesis ini.Bapak
Dr. Abdul Harris,
S.H.,M.Kn
selaku dosenpenguji
yang telah meluangkanwaktu,
memberikritik dan
saran hingga selesai penulisan tesis ini.tv
ll.Seluruh Staf Pegawai di Magister Kenotariatan Fakultas
HukumUniversitas Surnatera Utara yang telah memberikan
pelayananadministrasi dengan baik selama proses akademik penulis
12. Ayahanda Usman S.Sos
(Almarhum)
danIbunda
Salamahyang
selalu memberikan do'a, cinta dan kasih sayang, semangat serta dukungan yangtiada
henti-hentinya kepadapenulis,
kakanda drg.Lia Silvianty
Nasty serla AdindaHaris
Nasty, S.E., Iskandar Nasty, S.Kom,Dodi
Nasty dan Johan Nasty, S.E., yang hariini,
esok dan seterusnya akan selalu menjadi bagian dari hidup penulis.13. Ayahanda Mertua
k. Afrizal
Sy. Nasution, dan Ibunda Mertuak.
RithaLisda Lubis, M.Hum yang selalu
memberikando'a, cinta dan
kasih sayang, semangatserta dukungan yang tiada henti-hentinya
kepada penulis.14-
Istri
tercintaDwi
Femi Nasution, S.H.,M.Kn
serta ananda MuhamrnadDaffa Melandri (Xizou)
dan Khansa XavienaAfra (Aoryn)
yang tidak mengenal lelah memberikan do'a, cinta dan kasih sayang, semangat serta dukungan yang tiada henti-hentinya kepada penulis16.
Terirna kasih juga penulis ucapkan kepada Ketua KUD
Anugerah Bersarna Desa SingkuangI
Bapak Masfanuddin Daulay, Ketua Harapan Maju Bersama Desa SingkuangII
Bapak Marwal Taufani Parinduri, KetuaKUD Kuala
Tunak Desa Tabuyung BapakH.
Ishak Buyung dan KetuaKUD Alam
Sejahtera Desa Ranto Panjang BapakH.
Sahdan Parinduri yang telah bersedia diwawancara untuk kesempumaan tesis ini.lT.Tenma kasih juga penulis ucapkan kepada Sahabat serta
Rekanperjuangan stambuk
ZAfi
Program Studi Magister Kenotariatan FakultasHukurn
Universitas SumateraUtara
yangtidak
dapatpenulis
sebutkan satu persatu yang terus memberikankritik
dan saran serta ikrrt mewamaimasa perkuliahan penulis hingga sampai pada saat penulis
selesai men)rusun tesis ini.Penulis menyadari bahwa penyusunan tesis
ini
masih jauh dari kesempumaan.Oleh
karenaitu penulis
memintamaaf
kepada pembacatesis ini. Namun
besar harapan penulis semoga tesisini
bermanfaat bagi para pembaca.vl
FAHRELZNL NASTY
17741t238vll
Nama
Tempat/Tanggal
Lahir
AlamatJenis Kelamin Umur
Kewarganaan
II. PENDIDIKAN
1.
Sekslah Dasar SwastaDiponegoro Kisaran2.
Sekolah Mer,lengah Pertama Swasta Kesatria-
Medan3.
Sekolah Menengah Umuar Swasta Yayasan Pendidikan Harapan - Medan4.
31 Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara5"
32 Magister Kenotariatan Un iversitas Sumatera UtaruFahrizzal Nasty
Perbaungan, 27 Maret 1980 JI. Flamboyan RayaNo. 8 Medan
Laki-Laki
40 Tahun IndonesiaLulus Tahun 1992
Lulus Tahun 1995
Lulus Tahun 1998
Lulus Tahun 2002
Lulus TaWm2021
UI. KELUARGA
Nama
Ayah
: Usman S"Sos (Alr,narhum)Nama
Ibu
: Salarnahvllt
NamaAyah Merfua Nama Ibu Mertua Nama Isteri NamaAnak
5. Johan Nasty, S.E Ir.
Afrizal
Sy. Nasution Ir. Ritha Lisda Lubis, M.HumDwi
FemiNasution, S.H.,M.Kn
(Isteri)1. Muhammad Daffa Melandri (Xizou) 2. Khansa Xaviena
Afra
(Aoryn)lx
LEMBAR PENGESAHAN ………... i
PERNYATAAN ORISINALITAS ………... ii
PERSETUJUAN PUBLIKASI TESIS ……….. iii
ABSTRAK ………... iv
ABSTRACT ………. v
KATA PENGANTAR ……… vi
RIWAYAT HIDUP ………. vii
DAFTAR ISI ………... viii
DAFTAR ISTILAH ………... ix
DAFTAR SINGKATAN ……… x
BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang ………... 1
B. Rumusan Masalah ……… 9
C. Tujuan Penelitian ……….. 10
D. Manfaat Penelitian ……… 10
E. Keaslian Penelitian ………... 10
F. Kerangka Teori dan Konsepsi ………... 13
1. Kerangka Teori ……… 13
2. Konsepsi ……….. 22
G. Metode Penelitian ………... 23
1. Jenis dan Sifat Penelitian ………. 23
2. Bahan Hukum ………... 24
3. Teknik dan Pengumpulan Data ……… 26
4. Alat Pengumpul Data ………... 26
5. Analisis Data ……… 26
BAB II BENTUK POLA KERJASAMA TERHADAP KEBUN PLASMA YANG TERDAPAT DI PT. ANUGERAH LANGKAT MAKMUR 31 A. Tinjauan Mengenai Pola Kerjasama Kebun Plasma Dalam Perkebunan 31 1. Pengertian Kerjasama Kemitraan ……… 31
2. Pengertian Kebun Plasma Dalam Kerjasama Kemitraan ……… 34
3. Bentuk Perjanjian Kerjasama Kebun Plasma pada Umumnya ……… 35
B. Perjanjian Pola Kemitraan Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian
No. 98/Permentan/OT.140/9/2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha
Perkebunan ………...
44
C. Pola Kerjasama Kemitraan Kebun Plasma Dalam Perkebunan di PT.
Anugerah Langkat Makmur ………. 52
D. Kondisi Lokasi dan Geografi 79 E. Hak dan Kewajiban Para Pihak Dalam Pengelolaan Perkebunan Tanah
Plasma ………... 87
1. Pengertian Hak dan Kewajiban Menurut Hukum ………. 87 2. Hak dan Kewajiban PT. Anugerah Langkat Makmur sebagai
Pengelola Kebun Plasma ……….. 91
3. Hak dan Kewajiban Kebun Plasma dengan Perusahaan “Bapak
Angkatnya” ………... 95
D. Dampak Masyarakat dari Adanya Pola Kerjasama Kemitraan Tanah dengan adanya Kewajiban Mengelola Perkebunan Diwajibkan Pola Kemitraan di PT. Anugerah Langkat Makmur ………
97
BAB IV KEDUDUKAN HAK ATAS TANAH YANG DIMILIKI OLEH PETANI PLASMA YANG MENGUNDURKAN DIRI DARI KEANGGOTAAN PLASMA
99 A. Kedudukan Hukum Hak Atas Tanah Dalam Peserta Tanah Plasma …… 99 1. Pengertian Hak Atas Tanah ……….. 99 2. Macam-macam Hak atas Tanah …...……… 102 3. Status Kepemilikan Tanah Jika Terjadi Jual Beli Terhadap Hak Atas
Tanah Dalam Peserta Tanah Plasma ……… 104 4. Perolehan Tanah Bagi Peserta Plasma untuk Kegiatan Pembangunan
Perkebunan ………... 111
B. Peserta Plasma Yang Mengundurkan Diri Dari Keanggotaan Plasma Berdasarkan Hak Atas Tanah yang Dimiliki Peserta Plasma di PT.
Anugerah Langkat Makmur ……….
117 1. Status Hak Atas Bagi Peserta Plasma yang Mengundurkan Diri …… 119 2. Konsekuensi Terhadap Tanah Bagi Peserta Plasma yang
Mengundurkan Diri ……….. 122
BAB V PENUTUP 127
A. Kesimpulan ………... 127
B. Saran ………. 129
DAFTAR PUSTAKA ………. xi
A. Latar Belakang
Sumber daya alam yang selama ini menjadi pendukung utama pembangunan nasional perlu diperhatikan keberlanjutan pengelolaannya agar dapat memenuhi kepentingan generasi saat ini dan masa depan. Untuk itu, telah dilaksanakan berbagai kebijakan, upaya, dan kegiatan yang berkesinambungan untuk mempertahankan keberadaan sumber daya alam sebagai modal dalam pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan kesejahteraan seluruh bangsa dengan tetap mempertahankan daya dukung dan fungsi lingkungan hidup.
1Sampai saat ini masih terjadi berbagai kerusakan, pencemaran, dan bencana alam akibat pengelolaan sumber daya alam yang mengesampingkan keberlanjutan fungsi lingkungan hidup. Hal ini menjadi tantangan dalam meningkatkan fungsi lingkungan hidup sebagai penyediaan sumber daya hutan, kelautan, energi, mineral, dan pertambangan untuk pembangunan nasional. Saat ini masalah yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan hidup semakin kompleks karena dampak perubahan iklim yang sudah dirasakan dan diperkirakan akan bertambah besar apabila tidak diantisipasi melalui kegiatan adaptasi dan mitigasi.
1Ibnu Sufyan A.S, Sawit Melalui Pola Inti Rakyat (PIR), Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion, Edisi 3, Volume 2, Tahun 2014, Hal 2
Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, khususnya yang terkait dengan bidang Perkebunan, sebagai sumber daya yang sangat penting, dan harus dikelola dengan baik. Penggunaan tanah untuk usaha perkebunan, sangat erat kaitannya dengan masalah pertanahan, karena usaha perkebunan membutuhkan lahan atau tanah yang sangat luas dalam mengembangkan usaha perkebunan tersebut.
Sementara itu, pada sisi hukum pertanahan, pemberian Hak Guna Usaha, mempunyai prosedur yang harus dipenuhi untuk mengusahakan suatu perkebunan.
Secara garis besar, di Indonesia pola kemitraan yang paling sering digunakan adalah pola inti plasma. Terdapat tiga pola kemitraan inti plasma, yaitu Pola PIR, Pola KKPA, dan Pola PRP.
2a. Kemitraan Pola PIR (Perusahaan Inti Rakyat)
Kemitraan Perusahaan Inti Rakyat merupakan kemitraan perkebunan generasi pertama yang dimulai pada tahun 1980-an. Program PIR merupakan pola pengembangan perkebunan rakyat dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti dan sekaligus sebagai pelaksana pengembangan kebun plasma. Pola ini awalnya dibangun perusahaan perkebunan. Negara untuk masyarakat diwilayah pedesaan.
Dalam pola ini, perkebunan besar membangun kebun inti, pabrik, lalu membangun plasma. Secara rinci, pekerjaan pembangunan program PIR meliputi tiga tahap. Tahap pertama, perusahaan inti melaksanakan pembangunan kebun.Pada tahap kedua, dilakukan pengalihan kebun kepada petani plasma dan akad kredit konversi.
2Sunarko, Budidaya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit dengan Sistem Kemitraan.
Penerbit PT. AgroMedia Pustaka, 2009 Jakarta.
Selanjutnya, tahap ketiga dilakukan pengembalian atau pelunasan kredit (hutang petani).
b. Kemitraan Pola KKPA (Kredit Koperasi Primer kepada Anggota)
Kemitraan pola KKPA merupakan pola kemitraan perusahaan inti dan petani dalam wadah koperasi untuk meningkatkan daya guna lahan petani peserta dalam usaha meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para anggota melalui kredit jangka panjang dari bank. Perusahaan inti sebagai pengembang melaksanakan pembangunan kebun kelapa sawit untuk petani peserta dengan biaya pembangunan dari kredit bank hingga tanaman kelapa sawit menghasilkan.
Perusahaan inti juga membangun kelembagaan petani sebagai wadah pembinaan dan bimbingan bagi petani peserta budidaya dan manajemen perkebunan kelapa sawit. Pembinaan minimum dilakukan selama satu siklus tanam. Pada pola kemitraan KKPA, perusahaan inti bertanggung jawab atas pengembalian kredit bank. Angsuran kredit ini diambil dari pemotongan hasil jual TBS dari petani plasma. Artinya petani wajib menjual hasil kebunnya pada perusahaan inti. Dalam hal ini, perusahaan inti wajib membeli hasil TBS petani plasma dengan harga plasma yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang.
Selama proses ini, koperasi sebagai wadah petani berhak melakukan pengawasan
pada perusahaan inti. Selanjutnya, setelah semua kewajiban petani anggota
terselesaikan, perusahaan inti wajib menyerahkan sertifikat kebun kepada petani.
c. Kemitraan Pola PRP (Program Revitalisasi Perkebunan)
Pemerintah menyiapkan program revitalisasi perkebunan (Revitbun) yang merupakan kemitraan perkebunan generasi II pada tahun 2006. Berdasarkan pedoman umum program revitalisasi perkebunan, konsep kemitraannya adalah kerjasama usaha antara petani pekebun (plasma) dengan perusahaan perkebunan (inti) sebagai mitra usaha dengan prinsip yang saling memerlukan, memperkuat, dan menguntungkan.
Program PRP diharapkan dapat lebih mensejahterakan petani plasma dan mampu mengamankan kepentingan perusahaan inti dan pihak perbankan, baik itu produksi maupun angsuran kreditnya. Perusahaan inti ditetapkan sebagai developer dan avalist.
Artinya, inti bertanggung jawab untuk membangunkan kebun dan menyediakan atau mencarikan dananya. Dengan demikian, fungsi dan perannya menjadi lebih nyata (lebih bertanggung jawab sampai dengan terwujudnya kebun dan lunasnya kredit petani).
Berdasarkan Pasal 15 ayat (1) Peraturan Menteri Pertanian RI No.
98/Permentan/OT.140/9/2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan,
bahwasanya “Perusahaan perkebunan yang mengajukan Izin Usaha Perkebunan
Budidaya (IUP-B) atau Izin Usaha Perkebunan (IUP) dengan luas 250 (dua ratus lima
puluh) hektar atau lebih, berkewajiban memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat
sekitar dengan luasan paling kurang 20% (dua puluh persen) dari luas areal IUP-B atau IUP”.
3Kewajiban penyediaan kebun plasma juga turut menjadi salah satu persyaratan perolehan hak atas tanah berupa Hak Guna Usaha (HGU) oleh Perusahaan, sebagaimana ditetapkan pada Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No. 7 Tahun 2017 tentang Pengaturan dan Tata Cara Penetapan Hak Guna Usaha, yang pada Pasal 40 huruf (k) dan Pasal 41 bahwasanya :
“Salah satu kewajiban Pemegang HGU adalah : k. Memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat sekitar paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari luas tanah yang dimohon HGU untuk masyarakat sekitar dalam bentuk kemitraan (plasma) sesuai dengan izin kegiatan usaha dari instansi teknis yang berwenang, dan permohonan hak atas tanah kemitraan (plasma) tersebut diajukan bersamaan dengan permohonan HGU perusahaan”.
Dapat disimpulkan areal kebun masyarakat (kebun plasma) juga akan dimohonkan haknya oleh Pemegang HGU. Dengan kata lain, permohonan HGU Plasma harus bersamaan dengan HGU Perusahaan (Pemegang HGU). Sejalan dengan hal tersebut, Undang-Undang No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan juga telah mengatur mengenai pemanfaatan tanah masyarakat atau tanah ulayat masyarakat untuk kegiatan perkebunan, termasuk perkebunan kelapa sawit, sebagaimana
3 Mutiara Panjaitan, Faktor Penghambat Alokasi Luas Lahan Kebun Plasma Sebagai Syarat Perolehan Hak Guna Usaha Perkebunan Kelapa Sawit , Jurnal, Hal 2
ditetapkan pada Pasal 55 huruf (b), yang berbunyi : “Setiap Orang secara tidak sah dilarang : b. mengerjakan, menggunakan, menduduki, dan/atau menguasai Tanah masyarakat atau Tanah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dengan maksud untuk Usaha Perkebunan”.
Dengan dasar Pasal 55 huruf b Undang-Undang No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, maka bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit wajib hukumnya tunduk dan patuh terhadap seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai usaha perkebunan, termasuk tapi tidak terbatas pada Peraturan Menteri Pertanian RI No.
98/Permentan/OT.140/9/2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan dan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No. 7 Tahun 2017 tentang Pengaturan dan Tata Cara Penetapan Hak Guna Usaha.
Kewajiban membangun areal perkebunan masyarakat (plasma) diatur dalam ketentuan tersebut, terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi perusahaan perkebunan kelapa sawit dalam melakukan implementasi ketentuan tersebut.
Secara tidak sah berarti tidak dikelola sebagaimana ketentuan yang berlaku atau biasa disebut dengan istilah penyerobotan lahan masyarakat tanpa kesepakatan ganti rugi terlebih dahulu.
4Kesepakatan ganti rugi tersebut dapat dilakukan dengan beberapa metode, tergantung asal muasal serta status tanah yang akan dikelola. Jika tanah tersebut berstatus tanah hak ulayat masyarakat adat, maka wajib dimusyawarahkan oleh pelaku usaha perkebunan bersama komunitas adat tersebut
4Pasal 14 Undang-Undang No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.
pada sebelum mengajukan permohonan HGU.
5Ganti rugi yang dilakukan sebelum permohonan HGU ini sangat erat kaitannya dengan pembagian hak plasma kepada masyarakat yang menyerahkan lahannya kepada perusahaan, sebagaimana ditetapkan pada Pasal 15 ayat (4) Peraturan Menteri Pertanian RI No.
98/Permentan/OT.140/9/2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan, yang berbunyi :
“Masyarakat sekitar yang layak sebagai peserta kebun masyarakat yang mendapatkan kebun plasma, adalah :
a. masyarakat yang lahannya digunakan untuk pengembangan perkebunan dan berpenghasilan rendah sesuai peraturan perundang-undangan;
b. harus bertempat tinggal di sekitar lokasi IUP-B atau IUP; dan c. sanggup melakukan pengelolaan kebun”.
Perusahaan PT. Anugerah Langkat Makmur adalah sebuah perusahaan yang berusaha di bidang perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang berdiri pada tahun 1988 dimana dalam hal ini PT. Anugerah Langkat Makmur telah memiliki beberapa Koperasi Unit Desa (KUD) yang terbagi di daerah Kabupaten Langkat dan Kabupaten Mandailing Natal. Kabupaten Mandailing Natal sendiri PT. Anugerah Langkat Makmur memiliki beberapa Koperasi Unit Desa atau KUD yaitu :
1. Koperasi Unit Desa (KUD) Alam Sejahtera 2. Koperasi Unit Desa (KUD) Kuala Tunak 3. Koperasi Unit Desa (KUD) Anugerah Bersama
5Website Hukum Online.com, “Tanah Ulayat”,
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl6522/tanah-ulayat., diakses pada hari Selasa, tanggal 21 Maret 2018. Dikutip dari Mutiara Panjaitan, Faktor Penghambat Alokasi Luas Lahan Kebun Plasma Sebagai Syarat Perolehan Hak Guna Usaha Perkebunan Kelapa Sawit , Jurnal, Hal 3
4. Koperasi Unit Desa (KUD) Harapan Maju Bersama
Dalam proses pembangunan kebun Koperasi Unit Desa (KUD) itu sendiri PT.
Anugerah Langkat Makmur menggunakan pola Kemitraan Pola PIR (Perusahaan Inti Rakyat) sebagaimana disebutkan tersebut diatas penjelasan tentang Kemitraan Perusahaan Inti Rakyat merupakan kemitraan perkebunan generasi pertama yang dimulai pada tahun 1980-an. Program PIR merupakan pola pengembangan perkebunan rakyat dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti dan sekaligus sebagai pelaksana pengembangan kebun plasma. Pola ini awalnya dibangun perusahaan perkebunan.Negara untuk masyarakat diwilayah pedesaan.
Dalam pola ini, perkebunan besar membangun kebun inti, pabrik, lalu membangun plasma.Secara rinci, pekerjaan pembangunan program PIR meliputi tiga tahap. Tahap pertama, perusahaan inti melaksanakan pembangunan kebun.Pada tahap kedua, dilakukan pengalihan kebun kepada petani plasma dan akad kredit konversi.
Selanjutnya, tahap ketiga dilakukan pengembalian atau pelunasan kredit (hutang petani).
Seiring dengan berjalan waktu proses pemberian hak atas kebun plasma pada PT.
Anugerah Langkat Makmur memberikan Hak Guna Usaha kepada setiap KUD
Plasma dengan membuat perjanjian melibatkan Pihak Pemerintahan dalam hal ini
Bupati Mandailing Natal dengan sebagaimana yang diatur didalam kesepakatan
terhadap perjanjian tersebut hal ini didasari atas kekhawatiran terhadap adanya
peralihan dari Hak atas tanah tersebut jika diberikan kepada masyarakat dengan
mekanisme Hak Milik sehingga para ahli waris dari pemegang hak tersebut tidak dapat menikmati hasil dari kebun jika kebun tersebut dijual kepada pihak lain dan juga untuk mencegah agar tidak ada orang lain yang bukan asli masyarakat sekitar untuk memperoleh hak dari kebun PIR tersebut. Akan tetapi akan timbul masalah apabila ada anggota dari Koperasi Unit Desa yang mengundurkan diri atau menjual kepersertaannya sehingga sebenarnya bagaimana kedudukan serta posisi dari Hak nya atas kebun tersebut yang mana alas Hak tersebut merupakan Hak Guna Usaha atau HGU yang dalam hal ini menurut penulis belum diatur atau di cover secara penuh oleh undang-undang maupun peraturan pemerintah, sehingga dalam hal ini penulis menilai bahwa perlu ada suatu terobosan hukum untuk menyelasaikan problematika tersebut sehingga dengan ini penulis tertarik untuk membuat karya ilmiah tesis dengan judul “Kedudukan Hak Atas Tanah Yang Dimiliki Peserta Plasma Yang Mengundurkan Diri (Studi Pada PT. Anugerah Langkat Makmur)”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan pokok permasalahan yang akan diteliti dan dibahas secara lebih mendalam pada penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana bentuk pola kerja sama antara petani plasma dengan mitra usaha perkebunan di PT. Anugerah Langkat Makmur ?
2. Mengapa dalam undang-undang atau hukum yang berlaku di Indonesia,
Perusahaan Perkebunan wajib bekerjasama dengan pihak lain dalam
mengelola lahan ?
3. Bagaimana kedudukan hak atas tanah yang dimiliki oleh petani plasma yang mengundurkan diri dari keanggotaan plasma ?
4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bentuk Pola Kerja Sama Terhadap Kebun Plasma Yang Terdapat Di Indonesia.
2. Untuk mengetahui dalam undang-undang atau hukum yang berlaku di Indonesia Perusahaan Perkebunan wajib bekerjasama dengan pihak lain dalam mengelola lahan.
3. Untuk mengetahui kedudukan hak atas tanah yang dimiliki oleh petani plasma yang mengundurkan diri dari keanggotaan plasma.
5. Manfaat Penelitian
Penelitian tesis ini memiliki manfaat teoritis dan praktis yang didasarkan pada tujuan penelitian. Adapun kedua manfaat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Secara teoritis
Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan pemikiran
dalam pengembangan ilmu hukum, khususnya dalam lapangan hukum
pertanahan dan perkebunan, yaitu yang berkaitan dengan proses perkebunan
plasma yang dilaksanakan oleh perusahaan swasta di Indonesia. Selain itu,
penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi
penyempurnaan pranata hukum di bidang hukum pertanahan dan perkebunan khususnya kelapa sawit.
2. Secara Praktis
Manfaat penelitian ini untuk memberikan masukan kepada pihak-pihak yang berkecimpung di bidang hukum pertanahan dan perkebunan, agar tercipta suatu unifikasi hukum didalam masyarakat.
6. Keaslian Penelitian
Berdasarkan informasi sepanjang kepustakaan yang ada di lingkungan Universitas Sumatera Utara, khususnya di lingkungan Fakultas Hukum Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan, belum ada penelitian sebelumnya yang berjudul “KEDUDUKAN HAK ATAS TANAH YANG DIMILIKI PESERTA PLASMA YANG MENGUNDURKAN DIRI (STUDI PADA PT.
ANUGERAH LANGKAT MAKMUR)”. Sehingga dengan demikian penelitian ini adalah asli adanya dan secara akademis dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis.
Berdasarkan penelusuran kepustakaan sementara di lingkungan Universitas Sumatera utara, khususnya di lingkungan Pasca Sarjana Unversitas Sumatera Utara menunujukkan bahwa penelitian dengan beberapa judul tesis yang berhubungan dengan topik ini, antara lain:
1. Judul tesis “PERALIHAN HAK ATAS TANAH YANG BELUM
BERSERTIFIKAT DI KECAMATAN MEDAN JOHOR DAN
PENDAFTARAN HAKNYA DI KANTOR PERTANAHAN MEDAN yang ditulis oleh MUAZ EFFENDI, NIM : 137011163/MKn
Adapun dengan rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Mengapa terjadi ketidakseragaman atas peralihan hak atas tanah yang belum bersertifikat di Kecamatan Medan Johor ?
2. Bagaimana bentuk-bentuk surat peralihan hak atas tanah sebagai landasan pengalihan hak atas tanah belum bersertifikat?
3. Bagaimana pelaksanaan pendaftaran tanah yang belum bersertifikat serta kendala-kendala masyarakat dalam pendaftaran tanah pada Kantor Pertanahan Medan ?
2. Judul Tesis “STUDI TENTANG PEROLEHAN HAK ATAS ATAS TANAH DAN PEMANFAATANNYA PADA PT. MADINA AGROLESTARI DI KABUPATEN MANDAILING NATAL”yang ditulis oleh SARI FITRIA DAULAY, NIM : 097011070/MKn.
Adapun dengan rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana prosedur perolehan Hak Guna Usaha PT. Madina Agrolestari di Desa Sikapas Kabupaten Mandailing Natal ?
2. Bagaimana kendala-kendala yang dihadapi oleh PT. Madina Agrolestari
dalam perolehan dan pemanfaatan lahan di Desa Sikapas Mandailing
Natal?
3. Bagaimanakah upaya-upaya yang dilakukan oleh PT. Madina Agrolestari dalam mengatasi kendala penggunaan tanah Hak Guna Usaha di Desa Sikapas?
7. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori digunakan untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu terjadi, dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.
6Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan penulis dibidang hukum.
7Suatu kerangka teori bertujuan untuk menyajikan cara-cara untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil penelitian dan menghubungkannya dengan hasil-hasil penelitian terdahulu.
8Kata lain dari kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir- butir pendapat, teori, tesis, mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan atau pegangan teoritis dalam penelitian.
9Kerangka teori yang akan dijadikan pisau analisis dalam penelitian ini adalah aliran hukum positif yang analitis dari Jhon Austin, yang mengartikan:
6 JJJ M. Wuismen, Penelitian Ilmu Sosial, Jilid 1, Penyunting M. Hisman, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1996, halaman. 203.
7 M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju Bandung 1994, halaman 27.
8 Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta Jakarta, 1998, halaman 23.
9 M.Solly Lubis, Op.Cit. halaman 23.
“Hukum itu sebagai a command of the lawgiver (perintah dari pembentuk undang-undang atau penguasa), yaitu suatu perintah mereka yang memegang kekuasaan tertinggi atau yang memegang kedaulatan, hukum dianggap sebagai suatu sistem yang logis, tetap, dan bersifat tertutup (closed logicalsystem).
Hukum secara tegas dipisahkan dari moral dan keadilan tidak didasarkan pada penilaian baik-buruk.”
10Teori berfungsi sebagai pisau analisis dalam penelitian dan teori merupakan suatu penjelasan yang bersifat rasional serta harus sesuai dengan obyek yang dipermasalahkan dan harus didukung dengan adanya fakta atas permasalahan yang diteliti agar dapat diuji kebenarannya.
11Dengan pedoman tersebut diharapkan akan memberi wawasan berpikir untuk menemukan kebenaran dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian.Penelitian hukum harus berpijak pada teori hukum, karena teori hukum adalah seluruh pernyataan yang saling berkaitan berkenan dengan sistem konseptual aturan-aturan hukum dan putusan-putusan hukum, dan sistem tersebut untuk sebagian yang penting dipositifkan.
12Ada 3 (tiga) fungsi utama dari teori yaitu:
131. Teori memberikan arah tentang apa yang harus diteliti dari suatu objek, sehingga mampu membahas fenomena dan fakta yang akan dipelajari/diamati dari objek tersebut (yang relevan).
10Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum, Penerbit CV. Mandar Maju, Bandung, 2002, hal. 55
11 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta :UI Press, 1982), hal. 6
12 HR Otje Salman, Teori Hukum, (Jakarta : Refika Aditama, 2002),hal 60.
13 Abdurrozaq Hasibuan, Metodologi Penelitian, (Medan) 2003, hal.4
2. Teori menyusun fakta secara teratur/sistematis dalam bentuk generalisasi atau prinsip-prinsip, sehingga hubungan fakta-fakta satu sama lainnya mudah untuk dipahami.
3. Teori menunjukkan hubungan fakta-fakta, sehingga dengan pola hubungan itu dapat diramalkan fakta/kondisi yang belum pernah diketahui.
Teori berhubungan dengan fakta.Teori dapat menunjukkan arah yang harus ditempuh untuk mengungkapkan fakta baru, oleh karena itu teori adalah alat dari ilmu (tool of scrience). Berdasarkan uraian tersebut, dapat diambil beberapa peran dari teori dalam sebuah penelitian, yaitu:
141. Teori sebagai orientasi utama dari ilmu. Fungsi pertama adalah memberikan batasan terhadap ilmu dengan cara memperkecil jangkauan (range) dari fakta yang akan dipelajari.
2. Teori sebagai konsepsualisasi dan klasifikasi, dalam hal ini teori berperan untuk melakukan konsepsualisasi dan melakukan klasifikasi struktur konsep ilmu pengetahuan.
3. Teori meringkas fakta untuk mengeneralisasikan satu sama lain secara empiris sehingga dapat diperoleh suatu ringkasan hubungan antar generalisasi atau pernyataan.
4. Teori memprediksi fakta-fakta yang diharapkan muncul berdasarkan pengamatan fenomena-fenomena.
14Ibid., hal.5
5. Teori memperjelas celah kosong bagi ilmu pengetahuan yang belum dieksplorasikan.
Pengggunaan teori dalam penelitian hukum tersebut sudah pasti menggunakan teori hukum. Teori hukum adalah cabang ilmu hukum yang menganalisis secara kritis dalam perspektif interdisipliner, dari berbagai aspek perwujudan (fenomena) hukum secara tersendiri atau menyeluruh, baik dalam konsepsi teoritis maupun dalam pelaksanaan praktis dengan tujuan memperoleh pengetahuan yang lebih baik dan uraian yang lebih jelas tentang bahan-bahan yuridis ini.
15Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Perlidungan Hukum dan Teori Kepastian Hukum.
Teori Perlindungan Hukum
Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Dengan demikian negara menjamin hak-hak hukum warga negaranya dengan memberikan perlindungan hukum dan perlindungan hukum akan menjadi hak bagi setiap warga negara. Ada beberapa pengertian terkait perlindungan hukum menurut para ahli, antara lain:
1.Menurut Satjipto Rahardjo, perlindungan hukum adalah adanya upaya melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu
15 Sudikno Mertokusumo, Teori Hukum, Edisi Revisi, (Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka) 2012, hal.87
kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut.
162.Menurut CST Kansil perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.
3.Menurut Muktie, A. Fadjar perlindungan hukum adalah penyempitan arti dari perlindungan, dalam hal ini hanya perlindungan oleh hukum saja.
Perlindungan yang diberikan oleh hukum, terkait pula dengan adanya hak dan kewajiban, dalam hal ini yang dimiliki oleh manusia sebagai subyek hukum dalam interaksinya dengan sesama manusia serta lingkungannya. Sebagai subyek hukum manusia memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan suatu tindakan hukum.
17Berdasarkan pemaparan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum dalam melindungi hak asasi manusia serta hak dan kewajiban yang timbul karena hubungan hukum antar sesama manusia sebagai subyek hukum.Teori dan konsep mengenai perlindungan hukum adalah sangat relevan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini yang membahas
16 Satjipto Rahardjo, 2003, Sisi-Sisi Lain Dari Hukum Di Indonesia, Kompas, Jakarta, hal.
121.
17 Tesis Hukum, “Pengertian Perlindungan Hukum Menurut Para Ahli” (Cited 2014 Dec 11), available from : URL : http://tesishukum.com/pengertian-perlindungan-hukum-menurut-para-ahli/
perlindungan Kedudukan Hak Atas Tanah Yang Dimiliki Peserta Plasma Yang Telah Mengundurkan Diri.
Philipus M. Hadjon merumuskan prinsip perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia dengan cara menggabungkan ideologi Pancasila dengan konsepsi perlindungan hukum rakyat barat. Konsep perlindungan hukum bagi rakyat barat bersumber pada konsep-konsep pengakuan, perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, konsep-konsep rechtsstaat, dan the rule of law.Ia menerapkan konsepsi barat sebagai kerangka berpikir dengan Pancasila sebagai Ideologi dan dasar falsafah.Sehingga prinsip perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia adalah prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia yang bersumber pada Pancasila dan prinsip Negara hukum yang berdasarkan Pancasila. Pendapat tersebut menurut penulis layak dijadikan sumber dalam penerapan perlindungan hukum di Indonesia, agar penerapan perlindungan hukum di Indonesia tidak melenceng dari ground norm yakni Pancasila yang merupakan dasar ideologi bangsa Indonesia.
Menurut Satjipto Raharjo, ”Hukum melindungi kepentingan seseorang dengan
cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka
kepentingannya tersebut. Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara terukur,
dalam arti, ditentukan keluasan dan kedalamannya.Kekuasaan yang demikian itulah
yang disebut hak.Tetapi tidak di setiap kekuasaan dalam masyarakat bisa disebut
sebagai hak, melainkan hanya kekuasaan tertentu yang menjadi alasan melekatnya
hak itu pada seseorang.
18Menurut Setiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.
19Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah-kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.
20Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi. Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
21a) Perlindungan Hukum Preventif. Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan- batasan dalam melakukan sutu kewajiban.
18 Satjipto Rahardjo, Ilmu hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, Cetakan ke-V 2000). hal. 53
19Setiono, Rule of Law (Supremasi Hukum), (Surakarta; Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2004) hal. 3.
20Muchsin, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia, (Surakarta;
magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2003), hal. 14
21Ibid, hal. 20.
b) Perlindungan Hukum Represif. Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.
Dengan uraian-uraian teori perlindungan hukum diatas digunakan sebagai pisau bedah analsis untuk menjawab dari jawaban terhadap bagaimana sebenarnya Kedudukan Hak Atas Tanah Yang DImiliki Peserta Plasma Yang Telah Mengundurkan Diri.
Teori Kepastian Hukum
Dalam sejarah perkembangan ilmu hukum, dikenal 3 (tiga) jenis aliran konvensional tentang tujuan hukum, salah satu diantaranya adalah aliran normative dogmatik.Aliran ini menganggap bahwa pada asasnya hukum adalah semata-mata untuk menciptakan kepastian hukum.
22Salah satu penganut aliran ini adalah John Austin dan Van Kant, yang bersumber dari pemikiran positivisme hukum, yang melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom atau hukum dipahami dalam bentuk peraturan tertulis semata.Artinya, karena hukum itu otonom, sehingga tujuan hukum semata-mata untuk kepastian hukum dalam melegalkan kepastian hak dan kewajiban seseorang.Van Kant berpendapat bahwa
22 Jonathan Sarwono, Op.Cit, Hal 74
tujuan hukum adalah menjaga setiap kepentingan manusia agar tidak diganggu dan terjamin kepastiannya.
23Teori Kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian yaitu pertama adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibabankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan hakim yang satu dengan putusan hakim lainnya untuk kasus yang serupa yang telah di putuskan.
24Utrecht menyatakan bahwa tujuan hukum adalah demi adanya kepastian hukum.
25Beliau secara tegas menghendaki agar tujuan hukum hendaknya diarahkan untuk adanya kepastian hukum.Kepastian hukum, artinya hukum dimungkinkan sebesar-besarnya untuk adanya peraturan umum yang berlaku bagi setiap orang, tanpa melihat latar belakang dan status social.
26Dalam kepastian hukum, maka hukum dalam pengertian yuridis (tertulis) sangat diagung-agungkan. Dalam sejarah dan teori
23Ibid
24 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Pranada Media Group, Jakarta, 2008, hal 158
25 Waluyadi, Pengantar Ilmu Hukum Dalam Perspektif Hukum Positif, Djambatan, Jakarta, 2001, hal. 44.
26Ibid, Hal 46.
maupun mazhab hukum, paham kepastian hukum merupakan pengejawantahan dari aliran “legisme”, yang tidak mengakui adanya hukum yang tidak tetulis.
27Dengan uraian-uraian teori kepastian hukum digunakan sebenarnya bagaimana implementasi dari bentuk kepastian hukum baik peraturan perundang-undangan maupun peraturan pemerintah dalam hal menjamin sebuah kepastian hukum terhadap Kedudukan Hak Atas Tanah Yang Dimiliki Peserta Plasma Yang Telah Mengundurkan Diri, dimana dalam hal ini tentu diperlukan sebuah teori kepastian hukum untuk menjawab permasalahan itu semua sehingga dapat ditarik kesimpulan sebenarnya bagaimana Kedudukan Hak Atas Tanah Yang Dimiliki Peserta Plasma Yang Telah Mengundurkan Diri.
2. Konsepsi
Konsep adalah salah satu bagian terpenting dari teori.Konsepsi diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang disebut dengan operational definition.
28Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai.
29Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus didefinisikan beberapa konsep dasar agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, yaitu:
27Ibid, Hal. 47
28 Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkeontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank Indonesia, (Jakarta: Institut Bankir Indonesia, 1993), hal.10
29 Tan Kamello, Perkembangan Lembaga Jaminan Fiducia: Sutau Tinjauan Putusan Pengadilan dan Perjanjian di Sumatera Utara, Disertasi,(Medan: PPs-USU, 2002), hal.15
1. Aspek Hukum adalah Sudut Pandang Terhadap Suatu Peraturan-Peraturan Yang Berlaku Untuk Terjaminnya Suatu Kepastian Hukum
30.
2. Perolehan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah melalui pemindahan hak atas tanah atau denganc ara penyerahan atau pelepasan hak atas tanah dengan pemberian ganti kerugian kepada yang berhak.
313. Perusahaan Perkebunan adalah pelaku usaha perkebunan Warga Negara Indonesia atau badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia yang mengelola usaha perkebunan dengan skala tertentu.
324. Perusahaan adalah perseroan atau badan hukum yang telah memperoleh izin untuk melakukan penanaman modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
338. Metode Penelitian
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia. Dengan demikian metode
30 Kamus Besar Bahasa Indonesia
31 Pasal 1 angka 1, Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 21 tentang Tata Cara Perolehan Hak Atas Tanah Bagi Perusahaan dalam Rangka Penanaman Modal
32Pasal 1 angka 6 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan
33Pasal 1 angka 2 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1999 tentang Izin Lokasi
penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melakukan penelitian.
34Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yaitu menggambarkan, menelaah dan menjelaskan mengenai kedudukan hak atas tanah yang dimiliki peserta plasma yang mengundurkan diri.Adapun jenis Penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif yaitu penelitian yang mengacu pada teori-teori, doktrin-doktrin, norma-norma, asas- asas (prinsip-prinsip), kaidah-kaidah hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan.
35Penelitian ini adalah untuk menganalisa peraturan perundang-undangan yang berlaku.
362. Bahan Hukum
Data penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan bahan-bahan hukum primer, sekunder maupun tertier yang dikumpulkan melalui studi dokumen dan kepustakaan yang terdiri dari:
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer adalah bahan hukum berupa peraturan perundang- undangan, dokumentasi resmi yang mempunyai otoritas yang berkaitan dengan permasalahan, yaitu Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria, Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional
34 Sutrisno Hadi, Metodologi Riset, (Yogyakarta: ANDI) 2000, hal.4
35 Soerjono Soekamto, Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya: Bayumedia) 2006, hal. 14.
36 Abdul Kadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti) 2004, hal. 82
Nomor 2 Tahun 1993 tentang Memperoleh Izin Lokasi dan Hak Atas Tanah bagi Perusahaan dalam Rangka Penanaman Modal. Instruksi Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pemberian Izin Lokasi Dalam Rangka Penguasaan Tanah Skala Besar.Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1999 tentang Izin Lokasi.Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.Undang-undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, dan Undang- undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberi penjelasan terhadap bahan hukum primer yaitu buku ilmu hukum, tesis, disertasi, jurnal hukum, laporan hukum, makalah, dan media cetak atau elektronik.Bahan hukum sekunder yang digunakan adalah yang merupakan publikasi tentang hukum yang bukan dokumen resmi, seperti hasil seminar atau pertemuan ilmiah yang relevan dengan penelitian ini.
c. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberi petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang relevan untuk melengkapi data dalam penelitian ini, yaitu seperti kamus umum, kamus hukum, majalah-majalah, dan internet.
37serta bahan-bahan di luar bidang hukum yang berkaitan guna melengkapi data.
37 Jhonny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: Bayumedia) 2005, hal. 340.
3. Teknik dan Alat Pengumpulan Bahan Hukum
a. Teknik dan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan carapenelitian kepustakaan (Library Research). Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu studi dokumen untuk memperoleh data sekunder, dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidentifikasi, dan menganalisa data primer yakni peraturan perundang-undangan maupun peraturan-peraturan kementerian yang berkaitan dengan penelitian ini.
b. Teknik penelitian lapangan yaitu untuk menghimpun data primer dengan melakukan penelitian lapangan.
4. Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Studi dokumen
b. Pedoman wawancara sebagai data pendukung yaitu dengan;
1. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Mandailing Natal 2. Direktur PT. Anugerah Langkat Makmur
3. Ketua KUD Harapan Maju Bersama (HMB) 4. Ketua KUD Anugerah Bersama (AB) 5. Ketua KUD Kuala Tunak (KT) 6. Ketua KUD Alam Sejahtera (AS) 7. Tokoh Masyarakat
5. Analisis Data
Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.
38Didalam penelitian hukum normatif, maka maksud pada hakekatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis, sistematisasi yang berarti membuat klasifikasi terhadap bahan hukum tertulis tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.
39Setelah itu keseluruhan data tersebut akan dianalisis dan disistematisasikan secara kualitatif yang artinya menjelaskan dengan kalimat sendiri semua kenyataan yang terungkap dari data sehingga menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
38 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada) 2002, hal. 106
39 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press) 1986, hal. 25
MAKMUR
A. Tinjauan Mengenai Pola Kerjasama Kemitraan Kebun Plasma dalam Perkebunan
1. Pengertian Kerjasama Kemitraan
Kemitraan adalah kerjasama usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah dan/atau usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah dan atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan.
Menurut Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan menyebutkan bahwa kemitraan adalah kerjasama usaha antara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah dan atau dengan Usaha Besar disertai pembinaan dan pengembangan oleh Usaha Menengah dan atau Usaha Besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.
Selanjutnya menurut Pasal 1 angka 13 Undang-udang Nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Kemitraan adalah kerja sama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dengan Usaha Besar.
Sebelum Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 dilahirkan, pemerintah dalam
mengatur pola kemitraan pengusaha besar, menengah dan kecil tertuang dalam ketentuan umum Pasal 1 ayat 8 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 yang menyebutkan tentang :
40“Kerjasama usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan yang berkelanjutan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan”.
Dari definisi kemitraan sebagaimana tersebut diatas, mengandung makna bahwa tanggung jawab moral pengusaha besar/menengah untuk membimbing dan membina pengusaha kecil mitranya agar mampu mengembangkan usahanya sehingga mampu menjadi mitra yang handal untuk menarik keuntungan dan kesejahteraan bersama. Selanjutnya dari definisi tersebut dapat diketahui unsur- unsur penting dari kemitraan, yaitu :
411. Kerjasama usaha, yang didasari oleh kesejajaran kedudukan atau mempunyai derajat yang sama bagi kedua pihak yang bermitra, tidak ada pihak yang dirugikan dalam kemitraan dengan tujuan bersama untuk meningkatkan keuntungan atau pendapatan melalui pengembangan usaha tanpa saling mengeksploitasi satu sama lain serta saling berkembangnya rasa saling percaya diantara mereka.
2. Antara pengusaha besar atau menengah dengan pengusaha kecil, diharapkan usaha besar atau menengah dapat bekerjasama saling
40 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Uaha Kecil, Pasal 1 Ayat 8
41 Ian Linton, Kemitraan Meraih Keuntungan Bersama (Jakarta : Hailarang, 1997), Hlm.
10.
menguntungkan dengan pelaku ekonomi lain (usaha kecil) untuk mencapai kesejahteraan bersama.
3. Pembinaan dan pengembangan, yang dilakukan oleh usaha besar atau usaha menengah terhadap usaha kecil, yang dapat berupa pembinaan mutu produksi, peningkatan SDM, pembinaan manajemen produksi, dan lain- lain.
4. Prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan, yang akan terjalin karena para mitra akan dan saling mengenal posisi keunggulan dan kelemahan masing-masing yang akan berdampak pada prinsip win-win solution partnership, maka para mitra akan mempunyai posisi tawar yang akan setara berdasarkan peran masing- masing. Ciri dari kemitraan adalah kesejajaran kedudukan, tidak ada pihak yang dirugikan dan bertujuan untuk meningkatkan keuntungan bersama melalui kerjasama tanpa saling mengeksploitasi satu dan yang lain dan tumbuhnya rasa saling percaya diantara mereka.
Selanjutnya Ian Linton mengartikan kemitraan sebagai sebuah cara melakukan bisnis dimana pemasok dan pelanggan berniaga satu sama lain untuk mencapai tujuan bisnis bersama.
42Berdasarkan motivasi ekonomi tersebut maka prinsip kemitraan dapat didasarkan atas saling memperkuat.
Dalam pedoman pola hubungan kemitraan, mitra dapat bertindak sebagai perusahaan inti atau perusahaan Pembina atau perusahaan pengelola atau perusahaan penghela, sedangkan plasma disini adalah masyarakat sebagai petani.
42 Ibid
Pengertian tentang kemitraan ini juga dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan. Dari pengertian kemitraan ini ada beberapa unsur yang terdapat di dalamnya, yaitu :
1) Kemitraan merupakan kerjasama usaha.
2) Pihak-pihak adalah skala kecil dengan usaha skala menengah dan usaha skala besar.
3) Kemitraan tersebut harus disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh usaha yang lebih besar.
4) Prinsip-prinsip yang digunakan dalam kemitraan adalah saling menguntungkan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.
2. Pengertian Kebun Plasma dalam Kerjasama Kemitraan
Perkebunan khususnya perkebunan kelapa sawit ditanam secara besar- besaran. Terdapat tiga tipe perkebunan kelapa sawit yaitu perkebunan milik rakyat, perkebunan milik perusahaan Negara (state coporate/BUMN), dan perkebunan milik perusahaan swasta (private corporate).
Kehadiran perusahaan pada suatu daerah akan memberikan kesejahteraan hidup bagi masyarakat sekitar. Salah satunya adalah perusahaan yang bergerak pada sektor industri perkebunan kelapa sawit yang dapat memberikan kesejahteraan melalui penyediaan lapangan pekerjaan yang padat karya serta dari peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat melalui penyediaan lahan plasma kelapa sawit seluas 2 (dua) hektar atau lebih sesuai ketentuan yang berlaku.
43Berdasarkan Pasal 15 ayat (1) Peraturan Menteri Pertanian RI No.
43 Harian Bisnis Indonesia, “Sofyan Djalil : Pengusaha Sawit Wajib Bangun Kebun Plasma, diterbitkan pada hari Kamis, tanggal 2 Februari 2017