BAB II PENYELESAIAN KREDIT MACET
A. Tinjauan Tentang Kredit Bank
3. Bentuk Perjanjian Kredit yang direstrukturisasi
Sebelum proses realisasi kredit atau pencairan kredit, pihak kreditor yaitu bank dan juga pihak debitor saling memberi informasi yang akan digunakan sebagai persyaratan kredit. Informasi tersebut terdapat dalam suatu kesepakatan yang bersifat transparan. Kesepakatan tersebut terdapat dalam surat Perjanjian Kredit atau sering
48
disebut dengan PK. Adapun informasi yang tercantum didalam isi Perjanjian Kredit tersebut adalah :
a. Jenis Kredit
b. Besarnya jumlah kredit
c. Besar bunga yang akan dibayarkan d. Besarnya denda atas keterlambatan e. Besarnya biaya administrasi kredit f. Jaminan yang diberikan
Kredit yang akan direstrukturisasi juga menggunakan perjanjian kredit, akan tetapi informasi yang tercantum di dalam perjanjian kredit tersebut berbeda dengan perjanjian kredit untuk awal pengajuan kredit. Perjanjian kredit yang akan direstrukturisasi dibedakan menjadi atas 2 jenis perjanjian , yaitu :
1. Perjanjian yang dibuat secara di bawah tangan
Perjanjian ini dibuat untuk nominal kredit dibawah 50 juta dengan cara perhitungan sebagai berikut :
Jumlah tunggakan (pokok) + Jumlah tunggakan (bunga) + denda
Dari penjumlahan di atas maka ditentukanlah berapa besarnya pinjaman yang akan direstrukturisasi. Perjanjian ini dinotarisasi di depan notaris.
2. Perjanjian yang dibuat secara notariil
Perjanjian ini dibuat untuk nominal kredit diatas 50 juta dengan cara perhitungan sebagai berikut :
Dari penjumlahan di atas maka ditentukanlah berapa besarnya pinjaman yang akan direstrukturisasi dan Perjanjian ini dibuat secara notariil. Untuk jenis pinjaman ini terdapat ketentuan sebagai berikut :
a. Terhadap jaminan yang diberikan kepada PT. Bank Perkreditan Rakyat Terabina Seraya Mulia Selatpanjang apabila berbentuk sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) maka harus diikat dengan APHT ( Akte Pemberian Hak Tanggungan )
b. Terhadap jaminan yang diberikan kepada PT. Bank Perkreditan Rakyat Terabina Seraya Mulia Selatpanjang apabila berbentuk Surat Keterangan Camat, maka pengikatan tersebut dibuat Akte Menjual secara notariil.
c. Terhadap yang diberikan kepada PT. Bank Perkreditan Rakyat Terabina Seraya Mulia Selatpanjang apabila berbentuk Bukti Pemilikian Kendaraan Bermotor (BPKB) kendaraan atau alat berat, maka diikat secara fidusia dengan akta notariil.
a. Dasar Hukum Perjanjian Kredit Harus Tertulis.
Dari pengertian kredit pada pasal 1 angka 11 Undang-Undang Perbankan Nomor 10 tahun 1998 dapat dipahami bahwa setiap bank memberikan kredit kepada nasabah debitur dituangkan dalam suatu perjanjian kredit berdasarkan persetujuan atau kesepakatan kedua belah pihak yakni pihak bank dan pihak peminjam (debitur).
Pembuatan perjanjian kredit tersebut diperlukan dalam rangka memberikan kepastian hukum bagi para pihak, sehingga apabila terjadi permasalahan dikemudian
hari maka para pihak yang berkepentingan dapat mengajukan perjanjian kredit yang telah dibuat sebagai dasar hukum untuk menuntut pihak yang telah dirugikan.
Pada awalnya bila diteliti, dasar keharusan bank harus membuat perjanjian kredit, setiap pemberian kredit dalam bentuk apapun harus senantiasa disertai dengan surat perjanjian tertulis yang jelas dan lengkap dalam SK Direksi Bank Indonesia No.27/162/KEP/DIR dan Surat Edaran Bank Indonesia No.27/7/UPPB masing- masing tanggal 31 Maret 1995 pada lampiran Pedoman Penyusunan Kebijaksanaan Pemberian Kredit ( PPKPK ) angka 450 tentang perjanjian kredit yang dinyatakan setiap kredit yang telah disetujui dan disepakati pemohon kredit wajib dituangkan dalam perjanjian kredit (akad kredit) secara tertulis, baik dibawah tangan ataupun di hadapan notaris.
Sebelum ketentuan ini terdapat ketentuan yang sama dalam instruksi Presidium Kabinet No.15/EK/IN/10/1996 tanggal 10 oktober 1996 dan Surat Bank Indonesia kepada semua bank devisa No.3/1093/UPK/KPD angka 4 tanggal 29 Desember 1970.49
Ini diperlukan sebagai upaya mengikat barang jaminan. Dalam perjanjian kredit tersebut tidak dapat ditentukan apa yang harus dimasukkan, karena ada beberapa perubahan-perubahan dalam kebutuhan pelayanan kredit bagi bermacam- macam usaha debitur yang masing-masing membutuhkan pelayanan yang spesifik. Syarat-syarat tersebut diperjanjikan berdasarkan kebutuhan yang spesifik dari debitur
49
Widjanarto.,Hukum dan Ketentuan Perbankan di Indonesia, Pustaka Umum Grafiti, Jakarta, 2003, hal 81-82.
sehingga tidak mungkin dibuatkan formulit perjanjian yang sama untuk semua debitur.
b. Perjanjian Kredit Sebagai Perjanjian Pokok
Mengingat belum ada kejelasan dalam peraturan perundang-undangan, maka para pakar hukum perbankan di Indonesia belum ada persamaan pendapat, mengenai bentuk hukum, hubungan antara bank dengan nasabah/debitur maka akan dikemukakan beberapa pendapat yakni sebagai berikut :
Marhainis Abdul Hay berpendapat bahwa : Perjanjian kredit identik dengan perjanjian pinjam mengganti dalam Bab XIII KUH Perdata, sebagai konsekuensi logis dari pendirian ini, harus dikatakan bahwa dalam bentuk apapun juga pemberian kredit itu diadakan dan semuanya itu pada hakekatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjam-meminjam sebagaimana diatur dalam KUH Perdata Pasal 1754 sampai dengan Pasal 1769.50
Menurut Mariam Darus, perjanjian kredit tersebut adalah “Perjanjian Pendahuluan” (Voorovereenkomst) dari penyerahan uang, ini merupakan hasil permufakatan antara pemberi dan penerima pinjaman mengenai hubungan-hubungan hukum antara keduanya. Perjanjian ini bersifat Konsensual obligator, sedangkan penyerahan uang bersifat riil. 51
50
Marhainis Abdul Hay., Hukum Perbankan di Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta, 1975, hal 67.
51
Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kredit Bank, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991, hal 32.
Dengan demikian, bentuk hukum perjanjian kredit tergantung pada sudut pandang mana pendekatan dilakukan. Dilihat dari materi dan isi perjanjian kredit merupakan perjanjian baku atau perjanjian standart, karena hampir dari seluruh klausul-klausul yang dimuat dalam perjanjian kredit tersebut sudah dibakukan oleh bank, pada dasarnya isi dari perjanjian telah dipersiapkan terlebih dahulu tanpa perbincangan dengan pemohon dan hanya pemohon dimintakan pendapat apakah dapat menerima syarat-syarat yang tercantum didalam perjanjian tersebut.
Bila dilihat dari sifatnya, perjanjian kredit merupakan perjanjian konsensual artinya dengan ditanda tanganinya perjanjian perjanjian kredit oleh bank dengan nasabah debitur tidaklah langsung nasabah debitur dapat menarik kredit melainkan harus memenuhi syarat-syarat penarikan terlebih dahulu.
Misalnya nasabah debitur harus menyerahkan barang jaminan yang telah diikat sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dapat pula perjanjian kredit merupakan perjanjian obligator karena dengan ditanda tangani perjanjian kredit tersebut sebelum kredit cair, para pihak harus memenuhi kewajibannya yaitu bank harus menyediakan sejumlah dana dalam waktu tertentu, sedangkan debitur wajib menyerahkan jaminan yang cukup.
Perjanjian kredit dapat dikonstuksikan sebagai perjanjian pokok, karena didalam perjanjian dapat terlaksana dengan adanya jaminan maka tidak dapat berdiri
sendiri. Hal ini dikarenakan perjanjian kredit tersebut pada umumnya selalu diikuti dengan perjanjian ikutan (accessoir) berupa perjanjian jaminan.52
B. Tinjauan Tentang Restrukturisasi Kredit Bank.