BAB V : Bab yang berisi mengenai kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan yang dikemukakan serta saran-saran atas
JAMINAN KESELAMATAN KERJA BERDASARKAN UNDANG – UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1970
C. Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja PT Jaya Kencana Proyek Podomoro City Deli Medan
Undang-undang yang ditujukan untuk melindungi tenaga kerja dan kecelakaan kerja adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yang diundangkan pada tahun 1970 mengganti Veilingheids Reglement Stbl. No.406 yang berlaku sejak tahun 1910.
Tujuan perlindungan kerja adalah untuk menjamin berlangsungnya sistem hubungan kerja secara harmonis tanpa disertai adanya tekanan dari pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Pengusaha wajib melaksanakan ketentuan perlindungan tenaga kerja tersebut sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Menurut CST Kansil, perlindungan hukum adalah penyempitan arti dari perlindungan, dalam hal ini hanya perlindungan oleh hukum saja. Perlindungan yang diberikan oleh hukum, terkait pula dengan adanya hak dan kewajiban, dalam hal ini yang dimiliki oleh manusia sebagai sebagai subjek hukum dalam interaksinya dengan sesama manusia serta lingkungannya. Sebagai subjek hukum manusia memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan suatu tindakan hukum.58
Perumusan prinsip perlindungan hukum ketenagakerjaan, harus terlebih dahulu memahami hakikat ketenagakerjaan. Kedudukan pekerja pada hakikatnya dapat ditinjau dari dua segi yuridis dan segi sosial ekonomis. Dari segi sosial
58 C.S.T Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1989, hlm.102.
ekonomis pekerja membutuhkan perlindungan hukum dari negara atas kemungkinan adanya tindakan sewenang-wenang dari pengusaha.59
Adapun dasar hukum perlindungan tenaga kerja antara lain:
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
3. Undang-Undang Nomor Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1948 tentang Pengawasan Perburuhan dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia.
4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakeraan.
5. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
6. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.
7. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1950 tentang Waktu Kerja dan Waktu Istirahat.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1954 tentang Waktu Kerja dan Waktu Istirahat.
10. Keputusan bersama Menteri Tenaga Kerja RI dan Kepala Kepolisian RI Nomor Kep-275/Men 1989 dan Nomor Pol-04/V/1989 tentang Pengaturan Jam Kerja, Shift, dan Kerja Istirahat, serta Pembinaan Tenaga Kerja.60
59 Asri Wijayanti, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Jakarta, Sinar Grafika, 2008, hlm,8.
Perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak dasar tenaga kerja dan menjamin kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha.61
Memperoleh keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hak setiap tenaga kerja, hal ini tertuang dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per.05/MEN/1996 bahwa:
Setiap perusahaan yang memperkerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaaan kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Dalam rangka untuk menciptakan tidak terjadinya kecelakaan terhadap tenaga kerja, PT Jaya Kencana melakukan upaya-upaya perlindungan terhadap perlindungan tenaga kerja, yaitu sebagai berikut :
a. Perlindungan sosial
Perlindungan sosial yang diberikan pada PT Jaya Kencana berupa BPJS Ketenagakerjaan. Perusahaan berkewajiban untuk mengikutsertakan seluruh karyawan dalam progam BPJS Ketenagakerjaan atau jamsostek berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yang terdiri dari Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JK), dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). Iuran BPJS tidak diambil dari gaji
60 Abdul Hakim, Dasar-Dasar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Cetakan Pertama Edisi Ketiga, Bandung, hlm.106
61 Djoko Triyanto, Hubungan Kerja di Perusahaan Jasa Kontruksi, Bandung, Mandar Maju, 2008, hlm. 102.
pekerja, pihak perusahaanlah yang memberikan subsidi dalam pembayaran iuran BPJS pekerja.62
Jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. Jaminan sosial adalah perlindungan yang diberikan oleh masyarakat bagi anggota-anggotanya untuk risiko-risiko atau peristiwa-peristiwa tertentu dengan tujuan, sejauh mungkin, untuk menghindari peristiwa-peristiwa tersebut yang dapat mengakibatkan hilangnya atau turunnya sebagian besar penghasilan, dan untuk memberikan pelayanan medis dan/atau jaminan keuangan terhadap konsekuensi ekonomi dan terjadinya peristiwa tersebut, serta jaminan untuk tunjangan keluarga dan anak.63 Jaminan sosial di Indonesia diselenggarakan melalui Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diatur dalam UU No. 40 Tahun 2004 dengan berlandaskan UUD 1945. Isinya menyatakan bahwa Pemerintah harus terlibat dalam menyejahterakan warga negaranya. Dan Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelanggarakan program jaminan sosial. Pada pasal 6 ayat 3 Undang-Undang Ketenagakerjaan yang dimaksud BPJS adalah :
a) Perusahaan perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK);
b) Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN);
c) Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI); dan
62 Hasil wawancara penulis dengan Aristyo Rahadian selaku Project Manager PT Jaya Kencana pada tanggal 23 Juni 2020
63 Zaeni Asyhadie, Op.cit, hlm. 33
d) Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES).
Pada tahun 2011 pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) serta menunjuk PT Askes (Persero) sebagai penyelenggara program jaminan sosial di bidang kesehatan, sehingga PT Askes (Persero) pun berubah menjadi BPJS Kesehatan.
Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, negara hadir di tengah kita untuk memastikan seluruh penduduk Indonesia terlindungi oleh jaminan kesehatan yang komprehensif, adil, dan merata. Dan PT Jamsostek berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan dengan program sebagai berkut;
1) Jaminan kecelakaan kerja (JKK) 2) Jaminan Kematian (JKM) 3) Jaminan Hari Tua (JHT) dan 4) Jaminan Pensiun
b. Perlindungan teknis
Keselamatan kerja termasuk dalam apa yang disebut perlindungan teknis, yaitu perlindungan terhadap pekerja/buruh agar selamat dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh alat kerja atau bahan yang dikerjakan.64
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja bahwa salah satu tindakan pengendalian untuk menciptakan perlindungan bagi pekerja dan
64 Zainal Asikin. Op.cit, hlm.97
menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, bebas adalah dengan menggunakan alat pelindung diri. APD wajib digunakan apabila masuk ke lokasi kerja adalah sebagai berikut:
a. Pelindung kepala (Helmet safety) b. Pelindung mata
c. Pelindung wajah (Face shield) d. Body harnest
e. Sarung tangan pengaman f. Sepatu safety
Penyediaan APD pada seksi casting memperlihatkan kondisi yang sudah lengkap. Namun, dibutuhkan pemantauan dan inspeksi terhadap pemakaian APD untuk memantau apakah APD yang telah tersedia telah sesuai dengan fungsinya maksimal terhadap pengendalian potensi bahaya yang ada.
Selain itu juga dibutuhkan pengadaan poster-poster/slogan tanda bahaya dan slogan-slogan motivasi k3 yang dapat memotivasi pekerja dalam menerapkan tingkah laku yang aman dalam bekerja. Meskipun telah disediakan APD yang baik dan slogan tanda bahaya, namun pada prakteknya masih ada pekerja yang tidak mengenakan salah satu alat standar APD yang digunakan oleh pekerja PT Jaya Kencana.
Oleh karena itu, perusahaan PT Jaya Kencana memberikan konsekuensi kepada pekerja PT Jaya Kencana yang tidak mengenakan alat standar APD pada saat bekerja yaitu dengan membayar denda sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan para pekerja. Dan jika pelanggaran tersebut sampai mengakibatkan
kecelakaan kerja kepada pekerja, maka pihak perusahaan akan melakukan tindakan perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan.
Seluruh pekerja yang baru masuk juga diberikan safety induction sebelum memulai pekerjaan agar mereka paham tentang seluruh penerapan K3 dilingkungan kerja tersebut.65
c. Perlindungan ekonomis
Berdasarkan hasil wawancara pada karyawan PT Jaya Kencana, pelaksanaan perlindungan ekonomis berupa upah/gaji yang diberikan kepada karyawannya. Upah yang dibayarkan kepada karyawan PT Jaya Kencana terdiri dari gaji pokok, tunjangan-tunjangan dan upah kerja lembur apabila ada.66
Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan upah adalah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada Bab 10 mengatur tentang Pengupahan. Menurut Pasal 88 ayat (1) UU Ketenagakerjaan, setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi
65 Hasil wawancara penulis dengan Aristyo Rahadian selaku Project Manager PT Jaya Kencana pada tanggal 23 Juni 2020
66 Hasil wawancara penulis dengan Aristyo Rahadian selaku Project Manager PT Jaya Kencana pada tanggal 23 Juni 2020
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Kebijakan pemerintah mengenai pengupahan yang melindungi pekerja/buruh meliputi:
1) upah minimum;
2) upah kerja lembur;
3) upah tidak masuk kerja karena berhalangan;
4) upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya;
5) upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya;
6) bentuk dan cara pembayaran upah;
7) denda dan potongan upah;
8) hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah;
9) struktur dan skala pengupahan yang proporsional;
10) upah untuk pembayaran pesangon; dan 11) upah untuk perhitungan pajak penghasilan.
Pasal 89 UU Ketenagakerjaan mengatur bahwa upah minimum ditetapkan pemerintah berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Upah minimum dapat terdiri atas upah minimum berdasarkan wilayah provinsi atau kabupaten/kota dan upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau kabupaten/kota.
Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana yang diatur dalam Pasal 89 Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Dalam hal pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum yang telah ditentukan tersebut, dapat dilakukan penangguhan yang tata cara penangguhannya diatur dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia Nomor: KEP.231/MEN/2003 tentang Tata Cara Penangguhan Pelaksanaan Upah Minimum. Kemudian, pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan pengupahan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika kesepakatan tersebut lebih rendah atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, maka kesepakatan tersebut batal demi hukum, dan pengusaha wajib membayar upah pekerja/buruh menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pengusaha menyusun struktur dan skala upah dengan memperhatikan golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan, dan kompetensi. Peninjauan upah secara berkala tersebut dengan memperhatikan kemampuan perusahaan dan produktivitas.
Ketentuan mengenai struktur dan skala upah diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor : KEP.49/MEN/2004 tentang Ketentuan Struktur dan Skala Upah. Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan pekerjaan. Namun, pengusaha wajib membayar upah apabila:67
a) pekerja/buruh sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan;
b) pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan;
c) pekerja/buruh tidak masuk bekerja karena pekerja/buruh menikah, menikahkan, mengkhitankan, membaptiskan anaknya, isteri melahirkan atau
67 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 49
keguguran kandungan, suami atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia;
d) pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena sedang menjalankan kewajiban terhadap negara;
e) pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya;
f) pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan tetapi pengusaha tidak mempekerjakannya, baik karena kesalahan sendiri maupun halangan yang seharusnya dapat dihindari pengusaha;
g) pekerja/buruh melaksanakan hak istirahat;
h) pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat buruh atas persetujuan pengusaha; dan
i) pekerja/buruh melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan.
Pengaturan pelaksanaan ketentuan di atas, ditetapkan dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama.Dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap, maka besarnya upah pokok sedikit-dikitnya 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah upah pokok dan tunjangan tetap.
Pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja/buruh karena kesengajaan atau kelalaiannya dapat dikenakan denda. Kemudian, pengusaha yang karena kesengajaan atau kelalaiannya mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan denda sesuai dengan persentase tertentu dari upah pekerja/buruh.
Pengenaan denda kepada pengusaha dan/atau pekerja/buruh, dalam pembayaran upah diatur oleh Pemerintah.
Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya. Tuntutan pembayaran upah pekerja/buruh dan segala pembayaran yang timbul dari hubungan kerja menjadi kadaluarsa, setelah melampaui jangka waktu 2 (dua) tahun sejak timbulnya hak. Ketentuan mengenai penghasilan yang layak, kebijakan pengupahan, kebutuhan hidup yang layak, dan perlindungan pengupahan, penetapan upah minimum, dan pengenaan denda diatur dengan Peraturan Pemerintah.
63
A. Standar Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Dalam Operasional