• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : Bab yang berisi mengenai kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan yang dikemukakan serta saran-saran atas

JAMINAN KESELAMATAN KERJA BERDASARKAN UNDANG – UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1970

B. Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja dan Langkah Penanganannya

Suatu industri sangat tidak menginginkan terjadinya kecelakaan, karena dapat menimbulkan kerugian bagi industri tersebut. Kecelakaan dapat disebabkan oleh pekerja atau keadaan lingkungan kerja pada suatu perusahaan yang tidak tertata atau teratur. Penyebab atau potensi bahaya yang menimbulkan celaka sering kali tidak dihiraukan karena belummerupakan hal yang merugikan perusahaan, sampai terjadi kecelakaan barulah perusahaan mulai menghiraukan penyebab kecelakaan kerja itu terjadi. Pekerja juga sering melakukan tindakan bahaya tanpa disadari, walaupun sudah mengetahui tindakan tersebut berbahaya tetap saja pekerja tersebut melakukannya. Dari data statistik kecelakaan didapatkan bahwa 85% sebab kecelakaan adalah karena faktor manusia. Setiap kecelakaan mempunyai penyebab banyak. Semua penyebab kalau dicari penyebabnya sampai penyebab dasar akan menuju pada disfungsi manajemen.

30 Lalu Husni, Op.cit., hlm.103

Faktor penyebab kecelakaan yang langsung berkaitan dengan kecelakaan disebut sebagai penyebab langsung. Penyebab langsung disebabkan oleh faktor lain yang disebut penyebab tidak langsung.31

Kecelakaan biasanya timbul sebagai hasil gabungan dari beberapa faktor.

Tiga yang paling utama adalah faktor peralatan teknis, lingkungan kerja dan pekerja itu sendiri.

Kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh banyak faktor dan sering diakibatkan oleh berbagai penyebab. Teori tentang terjadinya kecelakaan banyak dikemukakan, antara lain :32

1. Teori Kebetulan Murni (Pure Chance Theory). Merupakan teori yang menyatakan bahwa kecelakaan terjadi atas “Kehendak Tuhan” sehingga tidak ada pola yang jelas dalam rangkaian peristiwa. Karena itu kecelakaan terjadi secara kebetulan.

2. Teori Kecenderungan Kecelakaan (Accident Prone Theory). Pada pekerja tertentu lebih sering tertimpa kecelakaan karena sifat-sifat pribadinya yang cenderung mengalami kecelakaan.

3. Teori Tiga Faktor Utama (Three MainFactor Theory) yang menyebutkan bahwa suatu penyebab kecelakaan adalah peralatan, lingkungan, dan faktor manusia pekerja itu sendiri.

4. Teori Dua faktor (Two Factor Theory). Dimana kecelakaan disebabkan oleh kondisi berbahaya (Unsafe Condition) dan tindakan atau perbuatan yang berbahaya (Unsafe Act).

31 Budiono,Op.cit, hlm. 223

32 Ibid., hlm. 224

5. Teori faktor Manusia (Human Factor Theory). Menekankan bahwa akhirnya semua kecelakaan kerja langsung atau tidak langsung disebabkankarena kesalahan manusia.33

Menurut Frank E. Bird dan Petterson dalam AM. Sugeng Budiono, pada awal 1970 mengemukakan bahwa penyebab utama kecelakaan adalah ketimpangan pada sistem manajemen, sedangkan tindakan maupun keadaan yang tidak aman (unsafe) hanya mempengaruhi saja.

Oleh HW. Heinrich dikembangkan teori tentang terjadinya kecelakaan kerja, yang sebenarnya merupakan rangkaian yang berkaitan satu dengan lainnya.

Mekanisme terjadinya kecelakaan kerja dinamakan dengan Domino Sequence.

Adapun penjabaaran dari Domino Sequenceyaitu sebagai berikut :34

1. Ancesetry and Social Environment Adalah pada orang yang keras kepala atau mempunyai sifat tidak baik lainnya yang diperoleh karena faktor keturunan, pengaruh lingkungan dan pendidikan, mengakibatkan seseorang bekerja kurang hati-hati, dan banyak berbuat kesalahan.

2. Fault of Person Merupakan rangkaian dari faktor keturunan dan lingkungan tersebut diatas, yang menjurus pada tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan

3. Unsafe Actand or Mechanical or Physical Menurut Hazards yang menerangkan bahwa tindakan berbahaya disertai bahaya mekanik dan fisik lain, memudahkan terjadinya rangkaian berikutnya.

33 Ibid.

34 Ibid., hlm. 225-226

4. Accident Merupakan peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja dan umummya disertai oleh berbagai kerugian.

5. Injury Bahwa kecelakaan mengakibatkan cedera atau luka ringan atau berat, kecacatan, dan bahkan kematian.

Keselamatan kerja bertalian dengan kecelakaan kerja yaitu kecelakaan yang terjadi ditempat kerja atau dikenal dengan istilah kecelakaan industri. Kecelakaan industri ini secara umum dapat diartikan : “ suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas”. Suatu kejadian atau peristiwa tertentu adalah sebab musababnya demikian pula kecelakaan industri/kecelakaan kerja ini, dimana ada 4 faktor penyebabnya, yaitu :35

1. Faktor manusianya

Misalnya karena kurangnya keterampilan atau kurangnya pengetahuan, salah penempatannya misalnya si tenaga kerja lulusan Sekolah Teknologi Menengah (STM) akan tetapi ditempatkan dibagian pembukuan.

2. Faktor materialnya/bahannya/peralatannya

Misalnya bahan yang seharusnya terbuat dari besi, akan tetapi supaya lebih murah dibuat dari bahan lainnya sehingga dengan mudah dapat menimbulkan kecelakaan.

3. Faktor bahaya/sumber bahaya, ada dua sebab :

a) Perbuatan berbahaya; misalnya karena metode kerja yang salah, keletihan/keleseuhan, sikap kerja yang tidak sempurna dan sebagainya.

35 Lalu Husni, Op.cit., hlm.103

b) Kondisi/keadaan berbahaya; yaitu kadaan yang tidak aman dari mesin peralatan-peralatan, linkungan, proses, sifat pekerjaan.

4. Faktor yang dihadapi ; Misalnya kurang pemeliharaan/perawatan mesin-mesin/peralatan sehingga tidak bias bekerja dengan sempuna.

Dengan faktor-faktor diatas, merupakan kewajiban pengusaha untuk menjelaskan kepada pekerja/buruhnya terutama yang baru tentang hal-hal sebagai berikut ;36

1. Kondisi dan bahaya yang dapat timbul dalam tempat kerjanya

2. Tentang semua alat pengaman dan pelindung yang ada di tiap ruang kerjanya serta cara penggunaanya

3. Tentang semua alat pelindung diri bagi tenaga kerja dalam hal terjadinya bahaya

4. Tentang cara dan sikap serta perlakuan yang aman dalam pelaksanaan kerja.

Disamping ada sebabnya maka suatu kejadian juga akan membawa akibat.

Akibat dari kecelakaan indurtri ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : 1. Kerugian yang bersifat ekonomis, antara lain :

a) Kerusakan/kehancuran mesin, peralatan, bahan dan bangunan b) Biaya pengobatan dan perawatan korban

c) Tunjangan kecelakaan d) Hilangnya waktu kerja

e) Menurunnya jumlah maupun mutu produksi 2. Kerugian yang bersifat non ekonomis

36 H.Zaeni Asyhadie, Op.cit., hlm. 128

Pada umumnya berupa penderitaan manusia yaitu tenaga kerja yang bersangkutan, baik itu merupakan kematian, luka/cedera berat maupun luka ringan.

Menurut International Labour Organization (ILO) ada beberapa cara atau langkah yang perlu diambil untuk menanggulangi kecelakaan yang terjadi ditempat kerja, yaitu antara melalui ;37

 Peraturan perundang-undangan

 Standarisasi

 Inpeksi

 Riset teknis

 Riset medis

 Riset psikologis

 Riset statistik

 Pendidikan

 Latihan

 Persuasi

 Asuransi

Disamping itu, perlu juga diupayakan pencegahan jangan sampai pekerja/buruh mengalami kecelakaan kerja. Upaya ini lebih penting daripada upaya penyembuhan, karena dengan upaya pencegahan disamping itu untuk menghindari resiko yang mungkin menimpa pekerja/buruh, juga guna

37 Lalu Husni, Op.cit., hlm. 104

melaksanakan kewajiban lain dibidang norma kerja. Upaya-upaya pencegahan tersebut meliputi ;38

1. Eliminasi, yaitu pemindahan sumber bahaya ;

2. Substitusi, yaitu mengganti dengan bahan yang kecil potensi bahayanya ; 3. Isolasi, yaitu proses kerja yang berbahaya disendirikan atau dipisahkan ; 4. Enclosing, yaitu mengurung sumber bahaya atau membuat barter terhadap

gerakan udara ;

5. Ventilasi, yaitu mengalirkan udara dan menyedot gas ;

6. Penyempurnaan proses, yaitu mengurangi sumber bahaya yang ditimbulkan dalam proses ;

7. Penyempurnaan produksi, yaitu mewaspadai sumber bahaya dalam produksi dan membuat proses produksi aman untuk mencapai K3 ( Keselamatan dan Kesehatan Kerja ) ;

8. Housekeeping, yaitu menciptakan kerumahtanggaan yang baik dalam kerja yang meliputi kebersihan, kerapian dan pengontrolan ;

9. Peniadaan debu ;

10. Maintenance, yatu pemeliharaan proses dan control yang baik ;

11. Sanitasi, yaitu hygiene perorangan yang meliputi mandi, pakaian dan fasilitas yang kesehatan lainnya ;

12. Operational practise, yaitu inspeksi dan analisis K3

13. Pendidikan, yaitu meliputi pendidikan kesehatan dan job training ; 14. Membuat label dan tanda peringatan terhadap sumber bahaya ;

38 Ibid., hlm. 129

15. Penggunaan alat pelindung diri yang meliputi masker, kacamata, pakaian kerja khusus, sepatu boat, dan sebagainya ;

16. Monitoring lingkungan kerja dengan melakukan sampling dan analisis;

17. Pengendalian sampah dan air buangan secara hygienis ;

18. Administrative control, yaitu melakukan administrasi kerja yang sehat dan pengurangan jam bekerja atau pemberian istirahat kerja ;

19. Pemeriksaan kesehatan ; 20. Management control.

Meskipun usaha-usaha diatas dilakukan namun tidak selalu (100%) berhasil, karena sudah merupakan kodratnya manusia penuh dengan

“ketidakpastian”.Oleh karena itu, tetap diperlukan adanya jaminan kecelakaan kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera.Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekuensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja.

Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi dalam mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis kecelakaannya. Sejalan dengan itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan tersebut maka disusunlah Undang-Undang No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi Undang-Undang No.12 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan.

Dalam pasal 86 Undang-Undang No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta nilai-nilai agama.

Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dikeluarkanlah peraturan perundangan-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai pengganti peraturan sebelumnya yaitu Veiligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang dinilai sudah tidak memadai menghadapi kemajuan dan perkembangan yang ada.

Peraturan tersebut adalah Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang ruang lingkupnya meliputi segala lingkungan kerja, baik di darat, didalam tanah, permukaan air, di dalam air maupun udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Undang-undang tersebut juga mengatur syarat-syarat keselamatan kerja dimulai dari perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan,

barang produk tekhnis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja disebutkan syarat-syarat keselamatan kerja yakni :39

Pasal 3

a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.

b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran.

c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.

d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya.

e. Memberi pertolongan pada kecelakaan

f. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.

g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluaskan suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angina, cuaca, sinar radiasi, suara dan getaran.

h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupn psikis, peracunan, infeksi dan penularan.

i. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.

j. Menyelenggarakan suhu dan kelembaban udara yang baik.

k. Menyelenggarakan penyegaran yang cukup dan sesuai.

l. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.

m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya.

n. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binantang taman atau barang.

o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.

p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang.

q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.

r. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjai bertambah tinggi.

Pada ayat ini dicantumkan arah dan sasaran-sasaran secara konkrit yang harus dipenuhi oleh syarat-syarat keselamatan kerja yang dikeluarkan.40

Pasal 8

39 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja Pasal 3 Ayat (!)

40 Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja Pasal 3 ayat (1).

1) Pengurus diwajibkan memeriksa kesehatan badan, kondisi mental, dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan kepadanya. Peraturan pelaksananya Peratura Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per-02/Men/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalan Penyelenggraan Keselamatan Kerja.

2) Pengurus diwajibkan memeriksa semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya, secara berkala pada dokter yang ditunjuk oleh pengusaha dan dibenarkan oleh direktur. Peraturan pelaksananya Peraturan Menteri tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per-03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja.

Selain itu ada juga Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-01/Men/1998 tentang penyelenggaraan Pemeliharaan kesehatan Bagi Tenaga Kerja dengan Manfaat Lebih baik dari peket Jaminan Pemeliharaan Kesehatan dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

Syarat –syarat tersebut diatas harus memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah yang disusun menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur, jelas dan praktis. Cakupan daripada kumpulan ketentuan yang tersusun adalah bidang kontruksi, bahan, pengolahan dan pembuatan, perlengkapan alat-alat perlindungan, pengujian dan pengesahan, pengepakan atau pembungkusan, pemberian tanda-tanda pengenal atas bahan, barang, produk teknis dan aparat produksi guna menjamin keselamatan barang-barang iu sendiri dan keselamatan public pada umumnya serta tenaga kerja yang melakukan pekerjaannya pada khususnya.

Menteri Tenaga Kerja berwenang membentuk panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja guna mengembangkan kerjasama, saling pengertian dan partisipasi efektif dari pengusaha dan atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat-tempat kerja untuk melaksanakan tugas dan kewajiban

bersama dibidang keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka usaha berproduksi.41