BAB IV BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN
C. Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen yang Melakukan Jual
3. Bentuk Perlindungan Konsumen Terhadap Produk Makanan Dan
Perlindungan hukum merupakan suatu konsep yang universal dari negara hukum. Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan
pelaksanaannya dengan suatu sanksi. Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:102
1. Perlindungan hukum preventif yaitu perlindungan hukum yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban
2. Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.
Perlindungan preventif kepada konsumen tercantum dalam Undang-Undang No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan konsumen yakni dengan dilakukannya pembinaan dan pengawasan terhadap pelaku usaha beserta konsumen agar terselenggaranya perlindungan terhadap konsumen secara memadai.
Pembinaan dan pengawasan meliputi103: produk dan pelaku usaha, sarana dan prasarana produksi, iklim usaha secara keseluruhan, serta konsumen itu sendiri dengan pembinaan dan pengawasan diharapkan hak-hak konsumen dapat terpenuhi. Pembinaan terhadap pelaku usaha ditujukan untuk mendorong pelaku usaha untuk bertindak sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Perlindungan hukum preventif (pencegahan) terhadap konsumen jual beli makanan secara online juga terdapat dalam beberapa peraturan undang-undangan lainnya yaitu:
102 Muchsin, Perlindungan Dan Kepastian Hukum Bagi Investor Indonesia, (Surakarta;
Magister Ilmu Hukum Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret, 2003) hal. 14.
103 Janus Sidabalok,. Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia. (Bandung: PT. Citra, 2010) hal. 13.
1. Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014 tentang
Jaminan Produk Halal.
4. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 27 Tahun 2017 Tentang Pendaftaran Pangan Olahan dan peraturan BPOM lainnya 5. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan
Pangan
6. Dan beberapa peraturan perundang-undangan lainnya yangditerapkan sebagai bentuk perlindungan hukum preventif terhadap konsumen.
Dengan demikian pelaku usaha akan memproduksi dan mengedarkan produk P-IRT sesuai dengan Peraturan Kepala Bidang Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia NOMOR HK.03.1.23.04.12.2006 Tahun 2012 Tentang Cara Produksi Pangan Yang Baik Untuk Industri Rumah Tangga.
Pembinaan kepada konsumen digunakan untuk meningkatkan sumber daya konsumen sehingga mempunyai kesadaran atas hak-haknya. Oleh karena itu pembinaan dan pengawasan ini diupayakan untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kerugian akibat mengkomsumsi pangan yang dibeli melalui media sosial.
Menurut Nurmadjito aturan-aturan yang dimaksud dari peraturan-peraturan tersebut untuk mengupayakan agar barang dan/atau jasa yang diproduksi dan diperdagangkan oleh pelaku usaha terhadap konsumen merupakan produk yang
layak edar, antara lain terdapat asal-usul, kelengkapan dan kesesuaian informasi baik melalui label, iklan, etiket, dan lain-lain.104
Selanjutnya perlindungan hukum represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa antara pelaku usaha dan konsumen. Perlindungan hukum represif ini dipergunakan jika terjadi kerugian konsumen terhadap produk pangan industri rumahan yang dibelinya melalui media sosial. Jika terjadi kerugian ataupun pelanggaran hak konsumen yang dilakukan oleh pelaku usaha, Undang-undang perlindungan konsumen di Indonesia sudah menyediakan Langkah-langkah hukum bagi konsumen untuk menuntut haknya agar pelaku usaha dapat bertanggung jawab akan kesalahannya.
Secara Teori, dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen telah diatur beberapa macam tanggung jawab (Liability), antara lain:105
1. Pertanggungjawaban kontrak (Contractual Liability)
Dalam hal hubungan perjanjian (privity of contract) antara pelaku usaha dan konsumen, maka tanggung jawab pelaku usaha berdasarkan pada Contractual Liability (Pertanggungjawaban kontraktual), yakni tanggung jawab secara perdata atas dasar perjanjian/kontrak dari pelaku usaha, atas kerugian yang dialami konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa tersebut.
2. Pertanggungjawaban produk (Product Liability)
104 Nurmadjito, Kesiapan Perangkat Peraturan Perundang-undangan tentang Perlindungan Konsumen di Indonesia, dalam Husni Syawali Neni Sri Imaniyati, Penyunting, Hukum Perlindungan Konsumen, 2000, Bandung, Mandar Maju, hal.18.
105 Harjono, Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen yang menderita Kerugian dalam Transaksi Properti Menurut Undang-Undang Perindungan Konsumen, Jurnal Yustisia Universitas Sebelas Maret Edisi Nomor 68 Mei – Agustus 2006, hal.4-5.
Dalam hal tidak terdapat hubungan perjanjian (no privity of contract) antara pelaku usaha dan konsumen, maka tanggung jawab pelaku usaha berdasarkan pada Product Liability (Pertanggungjawaban Produk), yakni tanggung jawab perdata secara langsung (Strict Liability) dari pelaku usaha atas kerugian yang dialami konsumen.
3. Pertanggungjawaban professional (Professional Liability)
Dalam hal tidak terdapat hubungan perjanjian antara pelaku usaha dan konsumen, tetapi prestasi pemberi jasa tersebut tidak terukur sehingga merupakan perjanjian ikhtiar (inspanningsverbintenis), maka tanggung jawab pelaku usaha berdasarkan pada Professional Liability (Pertanggungjawaban Profesional), yang memakai tanggung jawab perdata secara langsung (Strict Liability) dari pelaku usaha atas kerugian yang dialami konsumen. Sebaliknya dalam hal terdapat hubungan perjanjian antara pelaku usaha dan konsumen, dan prestasi pemberi jasa tersebut terukur sehingga merupakan suatu perjanjian hasil (resultaants verbintennis), maka tanggung jawab pelaku usaha berdasarkan pada Profesional Liability, yang memakai tanggung jawab perdata atas dasar perjanjian (Contractual Liability) dari pelaku usaha terhadap kerugian konsumen.
4. Pertanggungjawaban pidana (Criminal Liability)
Dalam hal hubungan antara pelaku usaha dan negara untuk memelihara keselamatan dan keamanan masyarakat, maka tanggung jawab pelaku usaha berdasarkan pada Criminal Liability (pertanggungjawaban pidana), yaitu
tanggung jawab pidana dari pelaku usaha atas terganggunya keselamatan dan keamanan masyarakat.
Dalam hal Produk makanan atau minuman usaha rumahan yang dijual melalui media sosial yang tidak terdapat hubungan perjanjian antara pelaku usaha dan konsumen, maka tanggung jawab pelaku usaha didasarkan pada Product Liability (Pertanggungjawaban Produk), yaitu berupa pertanggung jawaban perdata secara langsung (Strict Liability) dari pelaku usaha terhadap kerugian yang diderita oleh konsumen. Berdasarkan penjelasan diatas, maka konsumen yang merasa dirugikan karena tindakan pelaku usaha tersebut, tidak harus terikat suatu perjanjian dulu untuk dapat menuntut ganti rugi kepada pelaku usaha, karena dapat menuntut ganti rugi dengan alasan pelaku usaha telah melakukan Perbuatan Melanggar Hukum.106
D. Upaya Hukum Yang Dapat Dilakukan Konsumen Apabila Terjadi Kerugian Dalam Transaksi Jual Beli Makanan Dan Minuman Melalui Media Sosial
Permasalahan sengketa konsumen antara pelaku usaha dan konsumen masih sering terjadi di dalam pergaulan hidup masyarakat, oleh karena itu dibutuhkan upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak terkait di dalam menyelesaikan sengketa yang terjadi.107 Di dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 memberikan dua macam ruang untuk
106Ahmadi Miru, Prinsip-Prinsip Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Di Indonesia, 2013, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, hal.36.
107 Eli Wuria Dewi, Hukum Perlindungan Konsumen, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2015, hal.
62.
menyelesaikan sengketa konsumen, yaitu penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan dan penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan.
Dalam rangka memberikan jaminan adanya kepastian hukum untuk melindungi hak-hak konsumen yang dilanggar oleh pelaku usaha, pemerintah telah mengeluarkan undang-undang terkait penyelesaian sengketa jual beli dan membentuk lembaga-lembaga yang berwenang untuk menangani masalah-masalah hak konsumen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Salah satu nya adalah Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
Hubungan antara konsumen dengan pelaku usaha timbul akibat suatu kerugian sebagai dampak dari penggunaan, pemanfaatan serta pemakaian atas suatu barang tertentu yang dihasilkan oleh pelaku usaha, maka konsumen dalam hal ini keluhannya berhak untuk didengar, konsumen juga berhak untuk memperoleh ganti kerugian dan sebaliknya pelaku usaha berkewajiban untuk mendengarkan keluhan konsumen dan memberi ganti rugi akibat kerugian yang dialami oleh konsumen.108
Berdasarkan rumusan Pasal 45 ayat (1) juncto Pasal 47 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, upaya hukum yang dapat dilakukan oleh konsumen ada 3 cara yaitu:
1. Penyelesaian Sengketa Konsumen Pergantian Kerugian Secara langsung
Salah satu penyelesaian sengketa konsumen adalah melalui jalur nonlitigasi yaitu melalui forum musyawarah antara pelaku usaha dan konsumen yang untuk mencapai kesepakatan. Menurut penjelasan Pasal 45 ayat (2) UUPK, penyelesaian sengketa konsumen tidak menutup kemungkinan penyelesaian damai oleh para
108 Ni Komang Ayu Nira Relies Rianti, “Tanggung Jawab Pelaku Usaha Terhadap Konsumen Dalam Hal Terjadinya Hortweighting Ditinjau Dari Undang-Undang No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen”, Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Jurnal), Vol 6, No. 4: 521-537 edisi 2017, hal. 529.
pihak yang bersengketa. Pada setiap tahap diusahakan untuk menggunakan penyelesaian damai oleh kedua belah pihak yang bersengketa. Adapun penyelesaian secara damai adalah penyelesaian yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang bersengketa dan tidak bertentangan dengan UUPK. Ketentuan pada Pasal 45 ayat (2) UUPK memungkinkan konsumen langsung bernegoisasi dengan pelaku usaha sehingga sengketa konsumen ini dapat diselesaikan antara kedua belah pihak saja dengan jalan damai. Penyelesaian sengketa diluar pengadilan ini adalah ketika konsumen menuntut pergantian kerugian secara langsung kepada pelaku usaha secara damai. Misalnya seorang konsumen yang dirugikan karena mengonsumsi produk yang cacat akan mendapat pergantian kerugikan apabila mengajukan pergantian kerugian kepada pelaku usaha. Jadi tidak ada pergantian kerugian apabila tidak dimohonkan terlebih dahulu. Pergantian kerugian secara langsung ini dipertegas pada Pasal 19 UUPK. Berdasarkan ketentuan ini maka seorang konsumen dapat secara langsung menghubungi pelaku usaha untuk meminta ganti kerugian yang diderita akibat suatu produk. Bentuk tuntutan ganti kerugian dapat berupa pengembaliam uang, penggantian barang, perawatan kesehatan, dan juga santunan sesuai dengan kerugian. Namun UUPK memberikan batasan waktu pengaduan setelah 7 hari saja.
2. Penyelesaian Sengketa Konsumen Melalui BPSK
Pada penyelesaian sengketa konsumen melalui lembaga BPSK diawali dengan Prasidang, yang tujuannya adalah untuk menggali informasi sejauh mana kekuatan dari masing-masing pihak. Tahap Prasidang ini sering kali menentukan jalan keluar dari sengketa pelaku usaha dengan konsumen. Prasidang sebagai tahap awal untuk berkomunikasi secara efektif pada para pihak, dimana BPSK
mengarahkan para pihak yang bersengketa untuk memilih metode penyelesaian sengketanya. Berdasarkan Pasal 52 huruf a UUPK bahwa BPSK akan menyelesaikan sengketa konsumen dengan jalan melalui Mediasi, Konsoliasi dan Arbitrase
3. Penyelesaian Sengketa Konsumen Melalui Jalur Litigasi
Litigasi berasal dari bahasa Inggris “litigation” yang artinya pengadilan.
Tugas dari pengadilan adalah menyelesaikan sengketa yang timbul dan akhirnya menjatuhkan putusan (constitutive) yang seadil adilnya. Berdasarkan Pasal 48 UUPK penyelesaian sengketa konsumen dengan pelaku usaha dapat diselesaikan melalui pengadilan yaitu penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang Peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan pada pasal 45. Sengketa konsumen kebanyakannya adalah sengketa perdata yaitu konsumen yang menderita kerugian. Dalam hukum acara perdata yang berlaku di Indonesia dikenal asas “hakim bersifat menunggu”
yang artinya adalah bahwa inisiatif berperkara datang dari pihak-pihak yang berkepentingan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 46 UUPK, pihak yang bertindak sebagai penggugat adalah setiap konsumen yang dirugikan, ahli waris dari konsumen, sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama, Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat (LPKSM) dan pemerintah.
Sedangkan yang termasuk pihak tergugat adalah pelaku usaha yaitu semua pihak yang terlibat didalam penyediaan dan peredaran produk hingga sampai ke tangan konsumen. Gugatan yang dibuat oleh para pihak penggugat harus berbentuk surat gugatan yang ditandan tangani oleh penggugat atau kuasanya kepada Pengadilan
Negeri yang didaerah hukumnya tempat tinggal tergugat. Namun ketika tergugat lebih dari seorang dan tempat tinggal berbeda, maka gugatan dapat diajukan kepada ketua Pengadilan Negeri tempat salah satu tergugat berdiam menurut pilihan penggugat. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh UUPK gugatan konsumen terhadap pelaku usaha dapat diproses melalui lembaga Peradilan Umum yaitu dengan cara sebagai berikut:
a) Gugatan individual yaitu, secara individu konsumen atau ahli warisnya yang merasa dirugikan mengajukan gugatan terhadap pelaku usaha.
b) Gugatan perwakilan kelompok (class action) merupakan gugatan dimanadalam gugatan tersebut pihak yang berperkara bertindak tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga mewakili kelompok.
c) Gugatan legal standing yaitu, cara pengajuan gugatan secara perdatayang dilakukan oleh satu atau lebih lembaga swadaya masyarakat yang memenuhi syarat atas suatu tindakan atau keputusan orang perorangan, lembaga atau pemerintah yang menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
d) Gugatan pemerintah yaitu, pemerintah sebagai konsumen menggugat pelaku usaha.
Upaya hukum melalui jalur pengadilan (litigasi) atau di luar pengadilan (non litigasi) dapat dilakukan oleh konsumen jika merasa hak-hak nya dilanggar.
Namun banyak konsumen yang tidak mau melaporkan tindakan atas kecurangan yang dilakukan oleh pelaku usaha padahal seringkali tindakan curang ini sangat merugikan dan berbahaya terhadap konsumen. Alasannya ialah karena biaya penyelesaian perkara yang mahal dan membutuhkan waktu yang lama juga. Selain itu, ketidak pahaman konsumen terhadap hukum/aturan yang berlaku serta tidak
mengerti atau tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan jika hak-hak mereka dilanggar oleh pelaku usaha yang curang.
Pada saat ini dengan semakin berkembang pesatnya teknologi terutama dalam hal transaksi jual beli memaksa masyarakat untuk lebih paham dan lebih mengerti tentang pengaturan transaksi jual beli makanan melalui media sosial.
Terlebih pada saat ini banyak masyarakat yang akhirnya lebih memilih melakukan transaksi jual beli makanan melalui media sosial karena lebih praktis dan mudah, padahal kemungkinan untuk mengalami kerugiannya tentu lebih besar. Pada dasarnya transaksi jual beli melalui media sosial ini adalah suatu sistem baru yang digunakan untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan jual beli akibat dari perkembangan teknologi yang sangat pesat. Oleh karena itu sebagai pengguna jasa jual beli melalui media sosial kita harus lebih mengerti bagaimana regulasi terkait transaksi jual beli melalui media sosial ini, serta upaya hukum seperti apa yang dapat kita lakukan apabila mengalami kerugian dalam pelaksanaan transaksi jual beli melalui media sosial ini.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Transaksi dalam perniagaan elektronik ini sangat rentan terhadap kejahatan ataupun pelanggaran hak terhadap konsumen sehingga dibentuk juga Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik untuk melindungi konsumen dalam melakukan transaksi melalui media sosial. Adapun bentuk-bentuk pelanggaran hak yang sering terjadi terhadap konsumen jual beli produk makanan dan minuman usaha rumahan tanpa sertifikasi halal melalui media sosial yaitu seperti makanan yang diterima konsumen tidak sesuai dengan apa yang ditawarkan, kondisi makanan yang diterima dalam keadaan basi, informasi bohong terkait dengan kualitas produk yang ditawarkan, dan adanya klausula baku yang merugikan pihak konsumen.
2. Dalam melaksanakan pengawasan, pihak pemerintah dalam hal ini berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap produk makanan dan minuman yang beredar mulai sejak proses produksi, penawaran, promosi, pengiklanan, dan cara menjual sampai barang dan/atau jasa tersebut beredar di pasaran. Mengingat luasnya aspek pengawasan, dalam ketentuan tersebut, terutama dalam ketentuan Pasal 30 ayat (2) UUPK dapat dilihat bahwa dalam melaksanakan pengawasan tersebut diperlukan adanya koordinasi atau kerja sama diantara para stakeholder penyelenggara perlindungan konsumen, khususnya koordinasi diantara sesama instansi
terkait seperti Departemen Perdagangan, Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Departemen Perhubungan, Badan BPOM, dan beberapa Departemen Agama dan Lembaga-lemabaga terkait lainnya seperti MUI dan lain sebagainya.
3. Untuk menjamin hak konsumen agar tidak mengalami kerugian terdapat 2 macam bentuk perlindungan terhadap konsumen yaitu perlindungan hukum preventif dan perlindungan hukum represif. Perlindungan hukum preventif yaitu perlindungan hukum yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam beberapa peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban. Sedangkan perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran. Berdasarkan rumusan Pasal 45 ayat (1) juncto Pasal 47 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, upaya hukum yang dapat dilakukan oleh konsumen ada 3 cara yaitu: penyelesaian sengketa konsumen pergantian kerugian secara langsung, penyelesaian sengketa konsumen melalui bpsk, dan penyelesaian sengketa konsumen melalui jalur pengadilan (litigasi) B. Saran
1. Dikarenakan pesatnya perkembangan teknologi yang menciptakan sistem perdagangan di media sosial dan/atau media elektronik yang tentunya sangat rentan terhadap kejahatan dan pelanggaran hak konsumen. maka
diharapkan pengaturan mengenai perlindungan konsumen dalam UUPK dan UU ITE dapat ditingkatkan agar mampu melindungi konsumen dari segala bentuk kejahatan dan pelanggaran hak yang dapat merugikan dan membahayakan konsumen demi terjaminnya kepastian hukum akan perlindungan konsumen.
2. Pemerintah seharusnya melakukan sosialisasi dan edukasi terkait sertifikasi halal secara masif. Hal ini sangat diperlukan mengingat wajib sertifikasi (mandatory) terhadap produk makanan dan minuman yang beredar menurut ketentuan UUJPH. Serta meningkatkan pengawasan terhadap produk makanan dan minuman yang diedarkan ke tengah-tengah masyarakat, agar terjaminnya mutu, gizi beserta keamanan dan kehalan dari produk yang beredar. Selanjutnya diharapkan juga pemerintah dapat memberikan akses yang mudah untuk masyarakat agar masyarakat maupun konsumen dapat menyampaikan usul serta keluhannya terkait sertifikasi halal maupun terkait pelanggaran hak yang dialami oleh konsumen.
3. Diharapkan juga bagi pemerintah agar dapat menindak dan mempertegas hukuman terhadap pelaku usaha yang sengaja melanggar hak-hak konsumen agar adanya efek jera terhadap pelaku usaha yang sengaja berbuat curang.
DAFTAR PUSTAKA BUKU
Asnawi, Haris Faulidi. 2004. Transaksi E-Commerce Perspektif Islam. Cetakan I.
Yogyakarta: Magistra Insania Press.
Berkatullah, Abdul Halim. 2010. Hak-Hak Konsumen. Bandung: Nusa Media.
---. 2009. Perlindungan Hukum bagi Konsumen dalam Transaksi E-Commerce Lintas Negara di Indonesia. Jakarta: Pascasarjana FH UII.
Badrulzaman, Mariam Darus. 1986. Perlindungan Terhadap Konsumen Dilihat dari sudut Perjanjian Baku (standar). Bandung: Binacipta.
Dewi, Eli Wuria. 2015. Hukum Perlindungan Konsumen. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Hasan, Sofyan. 2014. Sertifikasi Halal dalam Hukum Positif: Regulasi dan Implementasi di Indonesia. Cet. I. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Kristiyanti, Celina Tri Siwi. 2009. Hukum Perlindungan Konsumen. Ed. I; Cet. IV.
Jakarta: Sinar Grafika.
---. 2014. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta: Sinar Grafika.
Marzuki, Peter Muhammad. 2010. Penelitian Hukum. Cetakan Keenam. Jakarta:
Kencana Pramedia Group.
Miru Ahmadi dan Sutarman Yodo. 2004. Hukum Perlindungan Konsumen. Ed. I;
Cet. II. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
---. 2007. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Nasution, Az. 2000. Tinjauan Sosial, Ekonomi, dan Hukum pada Perlindungan Konsumen Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Ngani, Nico. 2012. Metodologi Penelitian Hukum dan Penulisan Hukum. Jakarta:
Pustaka Yustitia.
Nugraheni, Dkk. 2018. Kesehatan Masyarakat dalam Determinan Sosial Budaya.
Yogyakarta: Penerbit Deepublish.
Nugroho, Susanti Adi. 2008. Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau dari Hukum Acara Serta Kendala Impelementasinya. Jakarta: Kencana Premedia Group.
Samsul, Inosentius. 2004. Perlindungan Konsumen: Kemungkinan Penerapan Tanggung Jawab Mutlak, Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Shidarta. 2004. Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia. Jakarta: Grassindo.
Shofie, Yusuf. 2008. Sinopsis dan Komentar Undang-Undang Perlindungan Konsumen (Panduan Bagi Konsumen dan Pelaku Usaha). Jakarta: Perum Percetakan Negara Republik Indonesia.
Siagian, Abdul Hakim. 2012. Pertanggung Jawaban Pelaku Usaha Terhadap Konsumen Dalam Perjanjian Baku. Medan: Jabal Rahmat.
---. 2010. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
---. 2002. Hukum Perlindungan Konsumen Suatu Pengantar. Jakarta: Diadit Media.
Siahaan, N.H.T. 2005. Hukum Perlindungan Konsumen dan Tanggung Jawab Produk. Cetakan ke-1. Jakarta: Panta Re.
Sidabalok Janus. Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia. Bandung: PT.
Citra.
Soekanto, Soerjono. 2007. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Pers.
Tumantara, Firman. 2016. Hukum Perlindungan Konsumen. Malang: Setara Press.
Widjajati, Erna. 2010. Pengantar Hukum Dagang. Jakarta: Roda Inti Media.
Widjaja, Gunawan. 2001. Hukum Tentang Perlindungan Konsumen. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Zulham. 2013. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta: Kencana Premedia Group.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tengang Pangan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan
Produk Halal.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal
Peraturan Menteri Agama Nomor 26 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal
Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2018 Tentang Pedoman Pengawasan Pangan Industri Rumah Tangga.
Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 519 Tahun 2001 Tanggal 30 November 2001 tentang Lembaga Pelaksana Pemeriksaan Pangan Halal menunjuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).
JURNAL
A. M. Yunus Wahid, Naswar Bohari, dan Achmad. (2015). “Penegakan Hukum Lingkungan di Sektor Kehutanan (Studi Kawasan Hutan Lindung di Kabu- paten Sinjai, Sulawesi Selatan)” Hasa- nuddin Law Review, 1(1): 61-73.
Dewi, Sri Anggraini Kusuma. “Perjanjian Jual Beli Barang Melalui Elektronik Commerce (E-Com)”. Jurnal Ilmiah Teknologi dan Informasi ASIA. Vol.
9. No. 2. Agustus 2015.
Latifulhayat, Atip. “Cyber Law Urgensinya Bagi Indonesia”. Makalah yang disampaikan dalam Seminar Sehari Cyber Law 2000. Diselenggarakan oleh Yayasan Cipta Bangsa Grand Hotel Preangef, Bandung, 29 Juli 2000. hlm.
Latifulhayat, Atip. “Cyber Law Urgensinya Bagi Indonesia”. Makalah yang disampaikan dalam Seminar Sehari Cyber Law 2000. Diselenggarakan oleh Yayasan Cipta Bangsa Grand Hotel Preangef, Bandung, 29 Juli 2000. hlm.