• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Universitas Sumatera Utara"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Muhammad Syafrudin NIM : 170200292

Judul : Perlindungan Konsumen Terhadap Produk Makanan Dan Minuman Usaha Rumahan Tanpa Sertifikasi Halal Yang Dijual Melalui Media Sosial.

Dengan ini menyatakan:

1. Bahwa skripsi ini adalah benar hasil dari penelitian saya sendiri dan tidak menjiplak ataupun mengambil hasil karya orang lain maupun dibuatkan orang lain.

2. Apabila terbukti bahwa saya melakukan kecurangan ataupun pelanggaran, maka saya bersedia untuk bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Medan, 16 Februari 2021

Muhammad Syafrudin NIM. 170200292

(4)

ABSTRAK Muhammad Syafrudin*

Utary Maharany**

Eko Yudhistira***

Perkembangan teknologi yang begitu pesat menciptakan suatu sistem perdagangan melalui media sosial dan/atau media elektronik yang disebut juga dengan e-commerce. Sistem perdagangan ini sangat mempermudah transaksi antara konsumen dan pelaku usaha. Tetapi transaksi jual beli melalui media sosial ini masih begitu rentan terhadap kejahatan dan pelanggaran hak yang dapat menyebabkan kerugian masyarakat (konsumen). Oleh karena itu pemerintah dituntut untuk dapat memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen agar konsumen mendapatkan produk pangan yang aman dan tidak membahayakan kesehatan masyarakat serta memberikan perlindungan dalam bertransaksi melalui media sosial. Adapun rumusan masalah dalam skripsi ini yaitu: 1) Apa saja bentuk pelanggaran hak yang dialami oleh konsumen produk makanan dan minuman usaha rumahan tanpa sertifikasi halal yang dijual melalui media sosial; 2) Bagaimanakah peranan Pemerintah dalam mengawasi kehalalan produk makanan dan minuman usaha rumahan tanpa sertifikasi halal yang beredar di masyarakat; 3) Bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap konsumen produk makanan dan minuman usaha rumahan tanpa sertifikasi halal yang dijual melalui media sosial.

Metode penelitian yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah metode yuridis normatif dengan menggunakan data sekunder sebagai data utama. Studi kepustakaan dipilih menjadi teknik pengumpulan data untuk kemudian menganalisa bahan hukum yang terkumpul secara sistematis dan menggunakan pendekatan kualitatif.

Hasil dari penelitian perlindungan konsumen terhadap produk makanan dan minuman usaha rumahan tanpa sertifikasi halal yang dijual melalui media sosial yaitu terdapat berbagai macam bentuk pelanggaran hak yang sering dialami konsumen jual beli melalui media sosial, seperti barang yang diterima konsumen tidak sesuai dengan apa yang ditawarkan, penipuan promo iklan terkait produk yang dijual oleh pelaku usaha, serta pemalsuan label halal terhadap produk makanan dan minuman yang dijual oleh pelaku usaha. Oleh karena itu pemerintah memiliki peranan yang sangat penting dalam menjamin hak-hak konsumen. karena pemerintah memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan mulai sejak proses produksi, penawaran, promosi, pengiklanan, dan cara menjual sampai barang dan/atau jasa tersebut beredar di pasaran. Adapun bentuk perlindungan hukum terhadap konsumen terbagi atas dua macam yaitu perlindungan hukum yang bersifat preventif (pencegahan) dan perlindungan hukum yang bersifat represif (penindakan).

Kata Kunci: Perlindungan Konsumen, Sertifikasi Halal, Media Sosial.

* Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

** Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

*** Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur sedalam-dalamnya penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang karena limpahan berkat dan rahmat-Nya penulis masih diberikan kesehatan, kesempatan serta kemudahan dalam mengerjakan penulisan skripsi ini yang berjudul “Perlindungan Konsumen Terhadap Produk Makanan Dan Minuman Usaha Rumahan Tanpa Sertifikasi Halal Yang Dijual Melalui Media Sosial” yang mana ini merupakan tugas akhir sekaligus syarat yang harus dilengkapi guna memperoleh gelar sarjana hukum di Universitas Sumatera Utara”.

Pada kesempatan yang berbahagia ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh bahan-bahan yang diperlukan oleh penulis selama proses penyusunan skripsi ini serta yang telah memberikan dorongan dan dukungan moril maupun materil kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Maka pada kesempatan yang berbahagia ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

2. Prof. Dr. O.K Saidin, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

3. Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

(6)

5. Prof. Dr. Rosnidar Sembiring, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

6. Syamsul Rizal, S.H., M.Hum., selaku Sekretaris Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

7. Dr. Muhammad Hamdan, S.H., M.H., selaku Dosen Penasihat Akademik penulis yang telah membimbing penulis di setiap semester;

8. Dr. Utary Maharany Barus, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing penulis dalam proses pengerjaan skripsi ini;

9. Eko Yudhistira, S.H., M.Kn., selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing penulis dalam proses pengerjaan skripsi ini;

10. Seluruh Dosen dan Staff Pengajar yang berada di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

11. Kepada abang penulis, Adnin Karim, ST., yang telah membantu dan memberikan dukungan kepada penulis dalam pengerjaan skripsi ini;

12. Seluruh keluarga besar yang selalu memberikan semangat, do’a dan dukungan terhadap penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini;

13. Teman-teman teristimewa yang sangat penulis banggakan, M.Thoby Andrasma Rangkuti, Muhammad Kholis, Abrariansyah Nasution, Simon Panjaitan, Renaldi Sidabutar, Romando Formasio, Vicky Pratama Putra, Fajar Fajrila. Andega Arga Yanottama, Hafidz Alghifari, Geri Rahmadi, Muhammad Morry, Hardika Lodirsta, Angga Arganta Putra, Tesya Rahmawati, Abdul Hafiz Rangkuti dan teman-teman Makyunisme lainnya yang telah membantu dan memberikan dukungan yang sangat berarti kepada penulis dalam pengerjaan skripsi ini;

(7)

14. Seluruh pihak yang telah memberi doa, dukungan, dan perhatian pada penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis, Ayahanda Abdul Karim dan Ibunda Deswita yang telah menjadi orangtua terhebat bagi penulis dengan selalu memberikan dukungan, perhatian dan pengertian bagi anak-anaknya dalam menjalani hidup.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna sehingga berbagai kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan agar tulisan ini menjadi lebih baik. Semoga skripsi ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi pembacanya dan dapat memberikan manfaat yang besar.

Medan, Februari 2021

Muhammad Syafrudin NIM. 170200292

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Metode Penelitian ... 8

F. Keaslian Penelitian ... 11

G. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II BENTUK-BENTUK PELANGGARAN HAK YANG DIALAMI OLEH KONSUMEN PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN USAHA RUMAHAN TANPA SERTIFIKASI HALAL YANG DIJUAL MELALUI MEDIA SOSIAL A. Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Konsumen... 15

1. Pengertian Konsumen dan Pelaku Usaha ...15

2. Hak Dan Kewajiban Konsumen ...20

3. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha Serta Perbuatan yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha ...25

B. Bentuk-Bentuk Pelanggaran Hak yang Dialami Oleh Konsumen Produk Makanan dan Minuman Usaha Rumahan Tanpa Sertifikasi Halal yang Dijual Melalui Media Sosial ... 28 BAB III PERANAN PEMERINTAH DALAM MENGAWASI PRODUK

MAKANAN DAN MINUMAN USAHA RUMAHAN TANPA SERTIFIKASI HALAL YANG BEREDAR DI MASYARAKAT

(9)

A. Pentingnya Pengawasan Keamanan Produk Makanan dan Minuman

Sebagai Wujud Perlindungan Konsumen ... 31

B. Pengertian Labelisasi Halal Sebagai Jaminan Atas Kehalalan Produk Makanan dan Minuman yang Beredar di Masyarakat ... 41

C. Sertifikasi Halal Di Indonesia ... 45

1. Perkembangan Sertifikasi Halal Di Indonesia ...45

2. Prosedur Pembuatan Sertifikat Halal ...50

D. Tantangan Dalam Menerapkan UU No 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal Beserta Sanksi Yang Dapat Dikenakan Terhadap Pelanggar UU Jaminan Produk Halal ... 59

E. Peranan Pemerintah Dalam Mengawasi Makanan Dan Minuman yang Beredar di Masyarakat ... 69

BAB IV BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN USAHA RUMAHAN TANPA SERTIFIKASI HALAL YANG DIJUAL MELALUI MEDIA SOSIAL A. Perkembangan Transaksi Jual Beli Melalui Media Elektronik ... 79

B. Pengaturan Hukum Transaksi Jual Beli Melalui Media Sosial Berdasarkan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan UU No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ... 84

C. Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen yang Melakukan Jual Beli Makanan Melalui Media Sosial ... 88

1. Pengertian Perlindungan Konsumen...88

2. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen ...89

3. Bentuk Perlindungan Konsumen Terhadap Produk Makanan Dan Minuman Usaha Rumahan tanpa Yang Dijual Melalui Media Sosial ... 91

(10)

D. Upaya Hukum Yang Dapat Dilakukan Konsumen Apabila Terjadi Kerugian Dalam Transaksi Jual Beli Makanan Dan Minuman Melalui Media Sosial ... 96 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 102 B. Saran ... 103 DAFTAR PUSTAKA ... 105

(11)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kebutuhan primer manusia terdiri dari kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Kebutuhan pangan merupakan kebutuhan yang sangat penting karena pangan berkaitan dengan upaya manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Pangan berupa makanan dan minuman merupakan sumber energi bagi tubuh manusia sehingga tanpa makan dan minum yang cukup jumlah dan mutunya, manusia tidak akan produktif dalam melakukan aktivitasnya.1 Untuk memenuhi kebutuhannya tersebut manusia yang pada dasarnya merupakan makhluk sosial tidak akan bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa melakukan interaksi dengan manusia lainnya, maka dari itu setiap manusia melakukan interaksi dengan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhan mereka, tetapi pada saat yang bersamaan mereka tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh Tuhan-Nya, sebagaimana dapat diketahui secara maknawi dalam norma filosofis negara, yaitu Pancasila.

Indonesia merupakan salah satu negara di kawasan Asia Tenggara, dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, tentunya dalam melaksanakan kehidupan bernegara di Indonesia sudah pasti banyak dipengaruhi oleh dogma Islam yang diaktualialisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, tanpa mengeyampingkan kepentingan masyarakat non muslim. Salah satu sisi kehidupan masyarakat yang diatur oleh dogma Hukum Islam adalah berlakunya Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan produk halal (UU JPH). Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014

1 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta: Sinar Grafika,

2009, hal, 169.

(12)

ini sebagai landasan hukum untuk memberi perlindungan hukum konsumen muslim terhadap ketidakpastian penggunaan berbagai produk makanan dan minumam halal, baik dalam bentuk barang dan jasa sesuai dengan kewajiban hukum Islam.2 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 29 ayat (2) mengamanatkan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Untuk menjamin setiap pemeluk agama beribadah dan menjalankan ajaran agamanya, Negara berkewajiban memberikan perlindungan dan jaminan tentang kehalalan produk yang dikonsumsi dan digunakan konsumen muslim.

Jaminan mengenai produk halal dilakukan sesuai dengan asas perlindungan, keadilan, kepastian hukum, akuntabilitas dan trasparansi, efektifitas dan efisiensi, serta profesionalitas. Jaminan penyelenggaraan produk halal bertujuan memberikan kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian ketersediaan produk halal bagi masyarakat dalam mengkonsumsi dan menggunakan produk halal, serta meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha untuk memproduksi dan menjual produk halal.3 Adapun yang dimaksud dengan pangan halal adalah pangan yang memenuhi syariat agama Islam baik dari segi bahan baku, bahan tambahan yang digunakan maupun cara produksinya sehingga pangan tersebut dapat dikonsumsi oleh orang Islam tanpa berdosa.4 Oleh karenanya pada bahan pangan yang dikonsumsi tidak boleh terkontaminasi dengan bahan yang meragukan sedikit pun,

2 Aal Lukmanul Hakim, Dissecting the contents of law of Indonesia on Halal Product Assurance, Indonesia Law Review (January-April 2015), hal. 89.

3 Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014 tentang Produk Jaminan Halal.

4 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 34

(13)

apalagi dengan yang haram sehingga menyebabkan produk pangan menjadi syubhat atau diragukan kehalalannya.5

Perkembangan zaman yang semakin modern saat ini telah mendorong perubahan gaya hidup masyarakat khususnya di Indonesia yang menuntut segala sesuatunya menjadi lebih cepat dan praktis, tidak terkecuali dalam memenuhi kebutuhan makanan dan minuman. Dengan adanya internet kini telah memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk memperdagangkan produknya secara online.

Adapun media online yang paling sering digunakan oleh pelaku usaha untuk memperdagangkan produknya adalah instagram dan ada juga yang menjual produk mereka melalui aplikasi digital seperti gofood karena dapat memudahkan pelaku usaha untuk mencapai konsumen yang jumlahnya tidak terbatas. Kehadiran media online yang memudahkan akses konsumen dan pelaku usaha dalam melakukan transaksi jual-beli pada kenyataannya tidak terlepas dari berbagai permasalahan.

Transaksi online pada umumnya menempatkan konsumen pada posisi yang lemah sebab konsumen dan pelaku usaha tidak bertemu secara langsung sehingga potensi konsumen menderita kerugian semakin tinggi. Salah satu perbuatan pelaku usaha yang dapat merugikan konsumen yaitu dengan memperdagangkan produk makanan yang tidak memenuhi persyaratan keamanan.6 Persyaratan keamanan yang dimaksud disini adalah jaminan produk halal serta tidak melampirkan komposisi dari produk makanan dan atau minuman yang diperdagangkan oleh pelaku usaha.

Untuk menanggulangi permasalahan tersebut pemerintah telah menunjuk beberapa institusi terkait yaitu Berdasarkan keputusan Menteri Agama (KMA) No

5 Az Nasution, Tinjauan Sosial, Ekonomi dan Hukum pada Perlindungan Konsumen Indonesia, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000), hal. 55

6 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Loc, cit.

(14)

982 tahun 2019 Tentang Layanan Sertifikasi Halal, ada 3 institusi yang saling bersangkutan dalam proses pembuatan sertifikat halal, yaitu:

1. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) yang berwenang dalam pengajuan permohonan sertifikasi halal dan penerbitan sertifikat halal.

2. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berwenang dalam pengkajian ilmiah terhadap hasil pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan produk.

Selain itu juga, MUI berwenang dalam pelaksanaan sidang fatwa halal.

3. Lembaga Pengkajian Pangan Obat dan Makanan Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) yang berwenang dalam pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan produk.7

Dengan adanya 3 institusi terkait diatas diharapkan dapat meningkatkan standar produk makanan dan atau minuman yang beredar di tengah-tengah masyrakat, karna standar jaminan dalam makanan sepenuhnya ditanggung oleh produsen atau media perantara yang mendistribusikan produk tersebut hal ini sesuai dengan UU pangan yaitu “badan usaha yang memproduksi pangan olahan untuk diedarkan dan atau orang perorangan dalam badan usaha diberi tanggung jawab terhadap jalannya usaha tersebut dan bertanggungjawab atas keamanan pangan yang diproduksinya juga terhadap kesehatan orang lain yang mengkonsumsi makanan tersebut”.8

Pelaku usaha yang memasarkan produknya baik itu secara langsung ataupun melalui media online seperti Instagram ataupun melalui aplikasi digital seperti go

7 Penjelasan Atas Keputusan Menteri Agama No 982 Tahun 2019 tentang Layanan Sertifikasi Halal.

8 Pasal 41 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan

(15)

food, tanpa melampirkan penjelasan komposisi dari produknya dapat berakibat fatal terhadap konsumen tertentu. Pemesanan makanan melalui aplikasi digital ataupun media sosial mempunyai tantangannya sendiri, karna konsumen tidak dapat mengobservasi keamanan secara langsung. Pada akhirnya konsumen harus menyerahkan kewajiban tersebut pada penjual, pengantar ataupun operator.9 Hal ini tentunya menempatkan konsumen pada posisi yang sangat rentan untuk dirugikan.

Berdasarkan pertimbangan dan pemaparan di atas, maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam terkait peranan pemerintah dalam mengawasi produk makanan dan atau minuman yang dipasarkan oleh pelaku usaha baik yang dijual secara langsung ataupun melalui media sosial agar terjamin keamanan dan kehalalannya terhadap konsumen. Oleh karena itu, penulis memilih judul penulisan hukum ini yaitu “PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN USAHA RUMAHAN TANPA SERTIFIKASI HALAL YANG DIJUAL MELALUI MEDIA SOSIAL”.

9 https://www.validnews.id/CIPS--Ada-Risiko-Mengintai-Pemesanan-Makanan-Online- FCP (diakses pada 12 Oktober 2020, Pukul 23.30).

(16)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan adalah:

1. Apa saja bentuk pelanggaran hak yang dialami oleh konsumen produk makanan dan minuman usaha rumahan tanpa sertifikasi halal yang dijual melalui media sosial?

2. Bagaimanakah peranan pemerintah dalam mengawasi kehalalan produk makanan dan minuman usaha rumahan tanpa sertifikasi halal yang beredar di masyarakat?

3. Bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap konsumen produk makanan dan minuman usaha rumahan tanpa sertifikasi halal yang dijual melalui media sosial?

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apa saja bentuk-bentuk pelanggaran hak yang biasanya dialami oleh konsumen produk makanan dan minuman usaha rumahan tanpa sertifikasi halal yang dijual melalui media sosial.

2. Untuk mengetahui dan memberikan informasi terkait peranan pemerintah dalam mengawasi kehalalan produk makanan dan minuman usaha rumahan yang beredar di masyarakat yang dijual melalui media sosial.

(17)

3. Untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum yang di dapat konsumen terhadap produk makanan dan minuman usaha rumahan tanpa sertifikasi halal yang dijual melalui media sosial.

D. Manfaat Penelitian

Di samping tujuan yang hendak dicapai sebagaimana yang dikemukakan di atas, maka penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.

1. Secara Teoritis:

a. Sebagai bahan referensi dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan secara umum dan di bidang hukum keperdataan secara khusus terutama mengenai perlindungan konsumen.

b. Menambah literatur atau bahan-bahan informasi ilmiah yang dapat digunakan untuk melakukan kajian dan penelitian selanjutnya.

2. Secara Praktis

a. Hasil penelitian ini sebagai bahan ilmu pengetahuan dan wawasan bagi penulis.

b. Untuk memberikan masukan dan informasi bagi masyarakat luas tentang sertifikasi halal sesuai hukum yang berlaku.

c. Untuk memberikan informasi mengenai bagaimana pengaturan sertifikasi halal sebagai bentuk legitimasi kehalalan produk pangan di Indonesia.

d. Untuk memberikan informasi mengenai bagaimana perlindungan hukum terhadap produk pangan yang tidak bersertifikat halal.

e. Untuk memberikan informasi mengenai tanggung jawab dan sanksi terhadap pelaku usaha produk pangan yang tidak bersertifikasi halal.

(18)

f. Untuk memberikan informasi kepada masyarakat agar lebih teliti dalam memilih ataupun membeli produk pangan usaha rumahan yang dijual melalui media sosial.

E. Metode Penelitian

Metode Penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Tipe Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Normatif. Tipe penelitian adalah penelitian hukum Normatif dengan pendekatan Yuridis Normatif. Dikatakan demikian karena dalam penelitian ini digunakan cara-cara pendekatan terhadap masalah yang diteliti dengan cara meninjau dari segi peraturan perundangan- undangan yang berlaku atau meneliti bahan pustaka.10

2. Pendekatan Masalah

Penelitian normatif yakni suatu penelitian yang meneliti suatu masalah dengan cara meninjau dari segi peraturan perundang- undangan yang berlaku.11 Dalam studi hukum, pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual, pendekatan perundang-undangan digunakan untuk meneliti aturan-aturan yang berikatan dengan pengaturan perlindungan konsumen, yakni Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang

10 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, cetakan keenam, (Jakarta : Kencana, 2010), hal. 11.

11 Nico Ngani, Metodologi Penelitian Hukum dan Penulisan Hukum, ( Jakarta: Pustaka Yustitia, 2012), hal. 22.

(19)

Perlindungan Konsumen, Undang- Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dalam hal ini, konsep yang digunakan adalah konsep dasar perlindungan konsumen, hak serta kewajiban atas konsumen serta pelaku usaha yang melanggar hak-hak konsumen dan lain- lain.

3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Maka data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi ketiga bahan sebagai berikut:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif, artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim.12 Dalam hal ini Penulis mengambil dari beberapa peraturan perundang- undangan yang berlaku di Indonesia seperti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Poduk Halal, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11

12 Peter Mahmud, Op.Cit, hal. 140

(20)

Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Undang- Undang lainnya.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan hukum primer.13 Bahan hukum sekunder terdiri dari rancangan undang-undang, buku, teks, maupun tulisan-tulisan tentang hukum baik dalam bentuk buku ataupun jurnal-jurnal serta artikel yang berhubungan dengan skripsi ini.

c. Bahan Hukum Tertier

Bahan hukum tertier yaitu bahan-bahan yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Bahan hukum ini akan sangat mendukung untuk memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder. Seperti kamus hukum, kamus besar bahasa indonesia, ensiklopedia dan sebagainya.

4. Metode Analisis

Adapun metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif yaitu menyajikan kajian pada data-data yang diperoleh dari objek penelitian. Suatu penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data yang diteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya.14 Maksudnya adalah bahan hukum yang diperoleh dalam

13 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodolgi Penelitian Hukum dan Jurimetri (Jakarta, 1990), hal. 12.

14 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta, 2007), hal. 10.

(21)

penelitian diuraikan dan dihubungkan antara satu sama lain dengan sedemikian rupa, sehingga dapat disajikan dalam penulisan yang lebih sistematis guna menjawab permasalahan yang telah dirumuskan.

F. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang peneliti lakukan, penelitian terhadap judul “Perlindungan Konsumen Terhadap Produk Makanan Dan Minuman Usaha Rumahan Tanpa Sertifikasi Halal Yang Dijual Melalui Media Sosial” belum pernah dilakukan. Adapun peneliti sebelumnya yang telah melakukan penelitian terkait perlindungan konsumen terhadap produk makanan dan minuman tanpa sertifikasi halal, yaitu:

1. Balqis Siagian (130200133/HK) pada tahun 2017 dengan judul

“Perlindungan Konsumen Terhadap Peredaran Makanan/Minuman Yang Tidak Berlabel Halal Di Kota Medan” yang rumusan masalahnya adalah:

a. Bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap konsumen di Indonesia terhadap makanan dan minuman yang berlabel halal?

b. Bagaimana bentuk kepastian hukum perlindungan konsumen setelah lahirnya UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal?

c. Bagaimana peranan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Kota Medan dan berbagai instansi terkait dalam memberikan kepastian hukum perlindungan konsumen terhadap makanan/minuman halal di Kota Medan?

2. Arsyad Subhan Purba (130200094/HK) pada tahun 2017 dengan judul

“Tinjauan Yuridis Terhadap Keabsahan Produk Makanan Tanpa Label

(22)

Halal Bagi Konsumen Muslim” yang rumusan masalahnya adalah:

a. Bagaimana kajian yuridis tentang label halal pada Majelis Ulama Indonesia (MUI)?

b. Bagaimana kajian yuridis tentang perlindungan konsumen?

c. Bagaimana keabsahan produk makanan tanpa label halal bagi konsumen muslim?

3. Rifany Arbita Lubis (160200563/HK) pada tahun 2017 dengan judul

“Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Produk Makanan Dan Minuman Kaki Lima Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Studi Pada Pasar Kaget Binjai)”

yang rumusan masalahnya adalah:

a. Bagaimana pengolahan produk makanan dan minuman kaki lima di Pasar Kaget Kota Binjai?

b. Bagaimana pengawasan yang dilakukan terkait produk makanan dan minuman kaki lima di Indonesia?

c. Bagaimana perlindungan hukum bagi konsumen terhadap produk makanan dan minuman kaki lima di Pasar Kaget Binjai ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen?

Dengan demikian, dilihat dari perumusan masalah yang berbeda, maka penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian yang baru dan keasliannya dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian ini juga telah melewati pengujian kesamaan dan keaslian judul skripsi oleh Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang semakin menguatkan keaslian penulisan skripsi ini.

(23)

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini dimaksudkan untuk mempermudah penjabaran dan pemahaman tentang permasalahan yang dikaji serta untuk memberikan gambaran garis besar mengenai tiap-tiap bab yang dapat diuraikan sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini berisikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, keaslian penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II : BENTUK-BENTUK PELANGGARAN HAK YANG DIALAMI OLEH KONSUMEN PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN USAHA RUMAHAN TANPA SERTIFIKASI HALAL YANG DIJUAL MELALUI MEDIA SOSIAL

Dalam bab ini mengajak pembaca untuk lebih mengerti dan memahami tentang tinjauan umum perlindungan konsumen yaitu perngertian konsumen, hak dan kewajiban konsumen, hak dan kewajiban pelaku usaha dalam jual beli melalui media sosial, , serta bentuk-bentuk pelanggaran yang dialami oleh konsumen produk makanan dan minuman usaha rumahan yang dijual melalui media sosial.

BAB III : PERANAN PEMERINTAH DALAM MENGAWASI PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN USAHA RUMAHAN TANPA SERTIFIKASI HALAL YANG BEREDAR DI MASYARAKAT Dalam bab ini menguraikan tentang urgensi pengawasan keamanan produk makanan dan minuman sebagai wujud perlindungan konsumen serta peranan pemerintah dan berbagai instansi terkait

(24)

dalam mengawasi kehalalan produk makanan dan minuman usaha rumahan yang dijual melalui media sosial yang beredar di masyarakat.

BAB IV : BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN USAHA RUMAHAN TANPA SERTIFIKASI HALAL YANG DIJUAL MELALUI MEDIA SOSIAL

Dalam bab ini menguraikan hal yang terkait dengan perkembangan transaksi jual beli melalui media sosial dan pengaturan hukum untuk melindungi masyarakat dari produk makanan dan minuman yang aman dan sehat dalam transaksi jual beli melalui media sosial berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, bentuk perlindungan hukum terhadap konsumen yang melakukan transaksi jual beli makanan dan minuman melalui media sosial, serta upaya hukum yang dapat dilakukan konsumen apabila terjadi kerugian dalam transaki jual beli makanan dan minuman melalui media sosial.

BAB V : PENUTUP

Bab ini adalah bab terakhir dari skiripsi ini yang berisi kesimpulan dan saran dari bab-bab sebelumnya.

(25)

BAB II

BENTUK-BENTUK PELANGGARAN HAK YANG DIALAMI OLEH KONSUMEN PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN USAHA

RUMAHAN TANPA SERTIFIKASI HALAL YANG DIJUAL MELALUI MEDIA SOSIAL

A. Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Konsumen 1. Pengertian Konsumen dan Pelaku Usaha

Hukum perlindungan konsumen selalu berhubungan dan berinteraksi dengan berbagai bidang dan cabang hukum lainnya, karena pada tiap bidang dan cabang hukum itu senantiasa terdapat pihak yang berpredikat sebagai konsumen15. Istilah konsumen berasal dan alih bahasa dari kata consumen, secara harfiah arti kata consumen adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang. Begitu pula Kamus Bahasa Inggris-Indonesia yang memberi kata consumen sebagai pemakai atau konsumen. Kamus Umum Bahasa Indonesia mendefinisikan konsumen sebagai lawan produsen, yakni pemakai barang dan jasa.16

Pakar masalah konsumen di Belanda, Hondius dan para ahli hukum pada umumnya sepakat mengartikan konsumen sebagai, pemakai produk terakhir dari benda dan jasa.17 Dengan rumusan itu, Hondius ingin membedakan antara konsumen bukan pemakai terakhir (konsumen antara) dan konsumen pemakai terakhir. Konsumen dalam arti luas mencakup kedua kriteria itu, sedangkan konsumen dalam arti sempit hanya mengacu pada konsumen pemakai terakhir.

15 Edward Cahn, “Law in The Consumer Perspektif “, University of Pennylvania Law Review, No 112 (1963), hal. 1-27.

16 Zulham, “Hukum Perlindungan Konsumen”, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group 2013), hal. 1.

17 E.H. Hondius, “Konsumentenrecht”, Shidarta, Hukum Perlindungan konsumen Indonesia (Jakarta: Grasindo, 2004), hal. 2.

(26)

Dalam UUPK, pengertian konsumen diatur dalam ketentuan Pasal 1 butir 2 yang berbunyi; “konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”. Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan Pasal 1 angka 2 tersebut bahwa di dalam kepustakaan ekonomi dikenal konsumen akhir dan konsumen antara. Konsumen akhir adalah pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk, sedangkan konsumen antara adalah konsumen yang menggunakan suatu produk sebagai bagian dari proses produksi suatu produk lainnya. Maka yang dimaksud dari pengertian konsumen menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen adalah konsumen akhir.18

Pengertian konsumen dalam Pasal 1 angka 2 UUPK mengandung unsur- unsur sebagai berikut:19

a. Konsumen adalah setiap orang

Maksudnya adalah orang perorangan dan termasuk juga badan usaha (badan hukum atau non badan hukum).

b. Konsumen sebagai pemakai

Pasal 1 angka 2 UUPK hendak menegaskan bahwa UUPK menggunakan kata “pemakai” untuk pengertian konsumen sebagai konsumen akhir (end user). Hal ini disebabkan karena pengertian pemakai yang lebih luas.

c. Barang dan/atau jasa

Barang yaitu segala macam benda (berdasarkan sifatnya untuk

18 Celina, 2008, “Hukum Perlindungan konsumen” ( Jakarta: Sinar Grafika) hal. 22.

19 Abdul Hakim Siagian, “Pertanggung Jawaban Pelaku Usaha Terhadap Konsumen Dalam Perjanjian Baku”, (Medan: Jabal Rahmat 2012), hal. 13.

(27)

diperdagangkan) dan dipergunakan oleh konsumen. Jasa yaitu layanan berupa pekerjaan atau prestasi yang tersedia untuk digunakan oleh konsumen.

d. Barang dan/atau jasa tersebut tersedia dalam masyarakat

Barang dan/atau jasa yang akan diperdagangkan telah tersedia dipasaran, sehingga masyarakat tidak mengalami kesulitan untuk mengkonsumsinya.

e. Barang dan/atau jasa digunakan

untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain atau makhluk hidup lain. Dalam hal ini tampak adanya teori kepentingan pribadi terhadap pemakaian suatu barang dan/atau jasa.

f. Barang dan/atau jasa tidak untuk diperdagangkan

Pengertian konsumen dalam UUPK dipertegas, yaitu hanya konsumen akhir, sehingga maksud dari pengertian ini adalah konsumen tidak memperdagangkan barang dan/atau jasa yang telah diperolehnya, namun untuk dikonsumsi sendiri.

Untuk menghindari kerancuan pemakaian istilah konsumen yang mengaburkan dari maksud yang sesungguhnya, pengertian konsumen dapat terdiri dari 3 pengertian, yaitu:20

a. Konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu.

20 Susanti Adi Nugroho, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau Dari Hukum Acara Serta Kendala Implementasinya, (Jakarta: Kencana Premedia Group, 2008), hal. 62.

(28)

b. Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa untuk dipergunakan dengan tujuan membuat barang dan/atau jasa lain atau untuk diperdagangkan (tujuan komersil).

c. Konsumen akhir adalah setiap orang alami yang mendapat dan menggunakan barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi, keluarga dan/atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali (nonkomersial).

Bagi konsumen antara barang dan/atau jasa itu adalah barang atau jasa kapital, berupa bahan baku, bahan penolong atau komponen dari produk lain yang akan diproduksinya (produsen). Sedangkan distributor atau pedagang merupakan penjual menjual produk yang setengah jadi atau produk jadi yang dijadikan sebagai mata dagangannya. Konsumen antara ini mendapatkan barang atau jasa tersebut di pasar industri ataupun pasar produsen.21

Sedangkan bagi konsumen akhir, barang dan/atau jasa itu adalah barang atau jasa konsumen, yaitu barang atau jasa yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga atau rumah tangganya (produk konsumen).

Barang atau jasa konsumen ini umumnya diperoleh di pasar-pasar konsumen, dan terdiri dari barang atau jasa yang umumnya digunakan di dalam rumah tangga masyarakat.22

Istilah pelaku usaha umumnya lebih dikenal dengan sebutan pengusaha.

Pengusaha adalah “setiap orang atau badan usaha yang menjalankan usaha memproduksi, menawarkan, menyampaikan atau mendistribusikan suatu produk

21 Az.Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen Suatu Pengantar (Jakarta : Diadit Media, 2002), hal 14.

22 Ibid. hal. 16.

(29)

kepada masyarakat luas selaku konsumen”. Pengusaha memiliki arti yang luas, tidak semata-mata membicarakan pelaku usaha, tetapi juga pedagang perantara atau pengusaha.23

Berdasarkan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, memberikan pengertian Pelaku Usaha, sebagai berikut:24

“Pelaku Usaha adalah setiap perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian penyelenggaraan kegiatan usaha dalam bidang ekonomi”.

Penjelasan mengenai Pelaku Usaha yang termasuk dalam pengertian ini adalah perusahaan, korporasi, BUMN, koperasi, importir, pedagang dan distributor.25 Mengenai pengertian pelaku usaha dalam Pasal 1 angka 3 Undang- Undang Perlindungan Konsumen cukup luas karena meliputi grosir, leveransir, dan pengecer. Cakupan luasnya mengenai pengertian pelaku usaha dalam UUPK tersebut memiliki persamaan dengan pengertian pelaku usaha dalam Masyarakat Eropa terutama negara Belanda, bahwa yang dapat dikualifikasi sebagai produsen adalah pembuat produk jadi (finished product), penghasilan bahan baku, pembuat suku cadang adalah setiap orang yang menunjukkan dirinya sebagai produsen dengan cara mencantumkan namanya ataupun tanda pengenal tertentu yang dapat membedakan produk miliknya dengan produk lainnya, importir suatu produk

23 Mariam Darus, Perlindungan Konsumen dilihat dari Perjanjian Baku (Standar, Kertas Kerja pada Simposium Aspek-Aspek Hukum Masalah Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 1988), hal. 57.

24 Pasal 1 Angka 3 Undang- Undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

25 Az. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen Suatu Pengantar ,Op.cit. 2002, hal. 17.

(30)

dengan maksud untuk diperjualbelikan, disewakan, disewagunakan (leasing), ataupun bentuk ditribusi lain dalam transaksi perdagangan.26

Dalam hubungan perlindungan konsumen, produsen tidak hanya diartikan sebagai pihak pembuat ataupun pabrik yang menghasilkan produk saja, tetapi juga mereka yang terkait dengan penyampaian atau perederan produk hingga sampai ke tangan konsumen. Mereka yang terkait di dalamnya itu adalah pabrik atau pembuat, distributor, eksportir atau importir dan pengecer baik yang berbentuk badan hukum maupun yang bukan badan hukum. Sebagai penyelenggara kegiatan usaha, pelaku usaha adalah pihak yang bertanggung jawab atas akibat- akibat negatif akibat kerugian yang ditimbulkan oleh usahanya terhadap pihak ketiga yaitu konsumen.

2. Hak Dan Kewajiban Konsumen a. Hak Konsumen

Undang-Undang Perlindungan Konsumen merumuskan sejumlah hak penting konsumen menurut Pasal 4, ada sembilan hak dari hak konsumen, delapan di antaranya hak yang secara eksplisit diatur di dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan satu hak lainnya diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang lainya.

Hak-hak tersebut adalah:27

1) Hak atas kenyamanan, keamanan dan eselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa. Hak ini dimaksudkan untuk menjamin keamanan dan keselamatan konsumen dalam penggunaan barang dan/atau jasa yang diperolehnya sehingga konsumen dapat

26 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Op.Cit, hal. 9.

27 Az. Nasution, Op.Cit, hal. 13.

(31)

terhindat dari kerugian (fisik maupun psikis) apabila mengkonsumsi suatu produk.28

2) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa. Hak untuk memilih dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada konsumen untuk memilih produk-produk tertentu sesuai dengan kebutuhannya, tanpa adanya tekanan dari pihak luar. Berdasarkan hak untuk memilih ini konsumen berhak untuk memutuskan untuk membeli atau tidal terhadap suatu produk, demikian pula keputusan untuk memilih baik kualitas maupun kuantitas jenis produk yang dipilihnya.29 Hak memilih hanya ada jika ada alternatif pilihan dari jenis produk tertentu. Apabila suatu produk dikuasai secara monopoli oleh suatu produsen maka dengan sendirinya hak untuk memilih ini tidak akan berfungsi.30

3) Hak untuk mendapatkan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. Hak atas informasi ini sangatlah penting sebab tidak memadainya informasi yang disampaikan kepada konsumen ini dapat juga merupakan salah satu bentuk cacat produk. Hak ini dimaksudkan agar konsumen dapat memperoleh gambaran yang benar tentang suatu produk, karena dengan informasi tersebut, konsumen dapat memilih produk yang diinginkan/sesuai dengan kebutuhannya serta terhindar dari

28 Republik Indonesia, Pasal 4 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dikutip dalam buku Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, hal. 175.

29 Ahmad Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, (Ed. I; Cet. II;

Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 41.

30 Ibid. hal. 43.

(32)

kerugian akibat kesalahan dalam penggunaan produk.31 Informasi tersebut dapat pula disampaikan secara lisan maupun tertulis, baik yang dilakukan dengan mencantumkan pada label yang melekat pada kemasan produk, maupun melalui iklan-iklan yang disampaikan oleh produsen, baik melalui media cetak maupun melalui media elektronik.32 Informasi ini dapat memberikan dampak yang signifikan untuk meningkatkan efisiensi dari konsumen untuk memilih produk serta meningkatkan kesetiannya terhadap produk tertentu, sehingga akan member ikan keuntungan bagi perusahaan yang memiliki kebutuhannya. Dengan demikian, pemenuhan hak ini akan menguntungkan baik konsumen maupun produsen.33

4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya. Hak untuk didengar ini merupakan hak dari konsumen agar tidak dirugikan lebih lanjut, atau hak untuk menghindarkan diri dari kerugian. Hak ini dapat berupa pertanyaan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan produk-produk tertentu apabila informasi tersebut kurang memadai, ataukah berupa pengaduan atas adanya kerugi an yang telah dialami akibat penggunaan seuatu produk, atau yang berupa penyataan/pendapat tentang suatu kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan konsumen. Hak ini dapat disampaikan baik secara peseorangan, mauun secara kolektif, baik disampaikan secara langsung maupun diwakili oleh suatu lembaga

31 Ibid. hal. 44.

32 Ibid. hal. 45.

33 Ibid. hal. 47.

(33)

tertentu, misalnya melalui Yayasan Perlindungan Konsumen Indonesia (YLKI).34

5) Hak untuk mendapatkan bantuan hukum (advokasi), perlindungan, dan penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Hak ini tentu saja dimaksudkan untuk memulihkan keadaan konsumen yang telah dirugikan akibat penggunaan produkm dengan melalui jalur hukum.35

6) Hak untuk memperoleh pembinaan dan pendidikan konsumen. Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen ini dimaksudkan agar konsumen memperoleh pengetahuan maupun keterampilan yang diperlukan agar dapat terhindar dari kerugian akibat penggunaan produk, karena dengan pendidikan konsumen tersebut, konsumen akan menjadi lebih kritis dan teliti dalam memilih suatu produk yang dibutuhkan.36

7) hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak deskriminatif.

8) Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Hak atas ganti kerugian ini dimaksudkan untuk memulihkan keadaan yang telah menjadi rusak (tidak seimbang) akibat adanya penggunaan barang atau jasa yang tidak memenuhi harapan konsumen. Hak ini sangat

34 Ibid., hal. 48-50.

35 Ibid., hal. 51-53.

36 Ibid., hal. 55.

(34)

terkait dengan penggunaan produk yang telah merugikan konsumen, baik yang berupa kerugian materi, maupun kerugian yang menyangkut diri (sakit, cacat, bahkan kematian) konsumen. Untuk merealisasikan hak ini tentu saja harus melalui prosedur tertentu, baik yang diselesaikan secara damai (di luar pengadilan) maupun yang diselesaikan melalui pengadilan.37

9) Hak-hak yang ditentukan dalam perundang-undangan lain. Seperti Hak atas lingkungan yang bersih dan sehat sangat penting bagi konsumen dan lingkungan. Hak untuk memperoleh lingkungan bersih dan sehat serta hak untuk mem peroleh informasi tentang lingkungan ini diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997.38

b. Kewajiban Konsumen

Adapun mnegenai kewajiban konsumen dijelaskan dalam Pasal 5 Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang konsumen, yakni:

1) Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan jasa, demi keamanan dan kesalamatan;

2) Beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan jasa;

3) Membayar sesuai dengan nilai tukar rupiah yang disepakati;

4) Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.39

37 Ibid.

38 Ibid., hal. 57.

39 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen, (Ed. 1; Cet. IV: Jakarta:

Sinaar Grafika, 2014), hal 41.

(35)

3. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha Serta Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha

a. Hak Pelaku Usaha

Dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen diatur tentang hak pelaku usaha yaitu:40

1) Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

2) Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik;

3) Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen;

4) Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

5) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

b. Kewajiban Pelaku Usaha

Kewajiban dan hak sesungguhnya merupakan antonomi dalam hukum, sehingga kewajiban pelaku usaha merupakan bagian dari hak konsumen. Adapun kewajiban pelaku usaha diantara lain adalah:41

1) Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

40 Undang-Undang Republik Indonesia, Pasal 6 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

41 Republik Indonesia, Pasal 7 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

(36)

2) Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

3) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

4) Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;

5) Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;

6) Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

7) Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang dterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

c. Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha

Tujuan perlindungan konsumen adalah untuk mengangkat harkat kehidupan konsumen untuk maksud meningkatkan tersebut berbagai hal yang membawa akibat negatif dari pemakaian barang dan/atau jasa harus dihindarkan dari aktivitas perdagangan pelaku usaha.42

Upaya untuk menghindarkan akibat negatif pemakian barang dan/atau

42Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Op.Cit, hal. 54.

(37)

jasa tersebut, maka Undang-Undang menentukan berbagai larangan yang terdapat dalam Pasal 8 sampai Pasal 17 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, mengatur perbuatan hukum yang dilarang bagi pelaku usaha, larangan dalam memproduksi atau memperdagangkan, larangan dalam menawarkan larangan dalam penjualan secara obral atau lelang dan dimanfaatkan dalam ketentuan periklanan.43

Perundang-undangan memberikan larangan-larangan tertentu bagi pelaku usaha dalam hubungan dengan kegiatan. Untuk perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha yang tidak berhubungan langsung dengan penelitian hanya akan diulas sekilas bagi penulis, larangan-larangan bagi pelaku usaha diatur dalam pasal 8 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Ketentuan pada pasal 8 merupakan satu-satunya ketentuan umum, yang berlaku secara general bagi kegiatan usaha dari para pelaku usaha di negara Republik Indonesia. Inti dari pasal 8 sendiri terkait dengan larangan memproduksi barang dan/atau jasa, dan larangan memperdagangkan barang dan/atau jasa yang dimaksud.44

Secara garis besar larangan yang dikenakan dalam pasal 8 UUPK tersebut dapat kita bagi dalam 2 larangan pokok, yaitu:

1) Larangan mengenai produk itu sendiri, yaitu produk yang tidak memenuhi syarat dan standart yang layak untuk dipergunakan atau untuk dimanfaatkan oleh konsumen.

2) Larangan mengenai ketersedian informasi yang tidak benar, dan tidak

43 Abdul Halim Berkatullah, 2010, Hak-Hak Konsumen, Nusa Media, Bandung, hal. 45.

44 Ahmadi Miru dan Sutarman Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, loc.cit, hal. 65.

(38)

akurat, yang menyesatkan konsumen.

B. Bentuk-Bentuk Pelanggaran Hak Yang Dialami Oleh Konsumen Produk Makanan Dan Minuman Usaha Rumahan Tanpa Sertifikasi Halal yang Dijual Melalui Media Sosial

Pesatnya perkembangan internet berdampak pada terbentuknya suatu sistem perdagangan di dunia maya atau disebut sebagai E-commerce (perniagaan elektronik) sebagai suatu basis segala macam bentuk transaksi jual beli.45 Hal ini dapat mempermudah transaksi antara pelaku usaha dan konsumen.

Konsumen mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan dan membandingkan informasi seperti barang dan jasa secara lebih luas tanpa dibatasi oleh wilayah. Pada penerapannya, perniagaan elektronik atau e-commerce tidak harus bertatap muka atau bertemu pada saat melakukan transaksi tersebut.

Perniagaan elektronik memiliki syarat dan ketentuan yang lebih rumit dibandingkan dengan perdagangan biasanya.46

Transaksi dalam perniagaan elektronik rentan terhadap kejahatan, seperti penipuan dalam melakukan transaksi yang kemudian diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dalam perniagaan elektronik juga dapat merugikan konsumen seperti ketidaksesuaian barang yang dipesan dengan yang tertera pada media promosi, kesalahan ukuran, dan berbagai macam bentuk kerugian yang diderita oleh konsumen.47

Pada sebuah sistem perniagaan elektronik, terdapat empat komponen yang

45 Putu Dina Marta Ratna Sari, “Perlindungan Hukum Kepada Konsumen Terhadap Penggunaan Klausula Baku Yang Tercatum Pada Toko Online”. Kertha Semaya. Vol. 18 No. 1, 2016, hal. 2.

46 Mutia Rahma Wardani, Joko Priyono, Fifiana Wisnaeni, “Perlindungan Konsumen Dalam Transaksi Elektronik Melalui Instagram”. Notarius. Vol. 13 No. 2, 2020, hal. 849.

47 Putu Dina Marta Ratna Sari, Op. Cit., hal. 2.

(39)

diperlukan dalam transaksi perniagaan elektronik, yakni pada toko, penjual dan pembeli, serta jasa pengiriman. Dalam transaksi perniagaan elektronik terdapat pihak- pihak yang menjadi subyek hukum dan memiliki hubungan hukum antara pelaku usaha atau penjual (toko online) dengan konsumen, serta ditambah dengan pihak penyedia jasa aplikasi belanja online.48

Masalah perlindungan konsumen dalam e-commerce merupakan aspek cukup penting diperhatikan, karena beberapa karakteristik khas e-commerce akan menempatkan pihak konsumen pada posisi yang lemah atau bahkan dirugikan seperti:49

1. “The internet merchant” tidak memiliki alamat secara fisik di suatu negara tertentu, sehingga hal ini akan menyulitkan konsumen untuk mengembalikan produk yang tidak sesuai dengan pesananan;

2. Konsumen kesulitan mendapatkan jaminan dalam hal kerusakan produk yang diterima “local follow up service as repair”;

3. Produk yang dibeli konsumen ada kemungkinan tidak sesuai dengan apa yang ditawarkan “local reqruitments”.

Dari beberapa pernyataan diatas dapat kita simpulkan bahwasanya kedudukan konsumen dan pelaku usaha tidak seimbang, dimana konsumen memiliki kedudukan yang lebih lemah sehingga rentan terjadi pelanggaran hak terhadap konsumen, Adapun bentuk-bentuk pelanggaran hak yang sering terjadi terhadap konsumen jual beli makanan melalui media sosial adalah :

48 Firman Tumantara, Hukum Perlindungan Konsumen, Setara Press, Malang, 2016, hal. 5.

49 Gunawan Widjaja, A. Y., “Hukum Tentang Perlindungan Konsumen”. (Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama, 2001), hal. 18

(40)

1. Makanan yang diterima tidak sesuai dengan makanan yang ditawarkan/

diiklankan.

2. Kondisi makanan yang diterima dalam keadaan basi.

3. Keterlambatan pengiriman makanan dan minuman oleh pelaku usaha.

4. Adanya kontrak atau klausula baku yang ditetapkan oleh beberapa pelaku usaha bahwasanya makanan yang telah di beli tidak dapat dikembalikan ataupun ditukarkan. Isi klausula baku tersebut merugikan pihak yang menerima klausula baku karena dibuat secara sepihak.

5. Informasi bohong terkait kualitas makanan/minuman yang diperjualbelikan oleh pelaku usaha.

Pada prakteknya, banyak konsumen yang tidak terlalu merespon kerugian yang dialaminya terkait produk makanan atau minuman yang diterimanya. Padahal seharusnya konsumen bisa lebih berani untuk meminta ganti kerugian atas produk makanan dan minuman yang diterimanya bahwa tidak sesuai dengan apa yang ditawarkan. Banyak hal yang membuat konsumen jual beli online ini tidak menuntut kerugian atas apa yang dialaminya sehingga ini membuat pelaku usaha tidak akan intropeksi diri terhadap pelaksanaan usaha jual beli makanan melalui media sosial yang dilakukannya. Dengan dibahasnya permasalahan ini diharapkan kosumen jual beli peoduk makanan dan minuman usaha rumahan melalui media sosial dapat lebih mengerti akan kedudukan, hak dan kewajibannya sebagai pelaku usaha agar tidak merugikan konsumen.

(41)

BAB III

PERANAN PEMERINTAH DALAM MENGAWASI PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN USAHA RUMAHAN TANPA SERTIFIKASI HALAL

YANG BEREDAR DI MASYARAKAT

A. Pentingnya Pengawasan Keamanan Produk Makanan Dan Minuman Sebagai Wujud Perlindungan Konsumen

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya juga merupakan bagian dari hak asasi manusia. Hak dasar manusia ini juga sudah dijamin dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 27 ayat (2) yang intinya menyatakan setiap warga negara mempunyai hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak sebagai manusia, salah satunya adalah mengonsumsi pangan yang aman dikonsumsi. Perlindungan masyarakat dari peredaran pangan yang tidak aman merupakan jaminan yang harus didapat masyarakat sebagai konsumen. Hal ini sejalan dengan amanat Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Kondisi ini mengisyaratkan betapa pentingnya penanganan terkait masalah pangan agar pangan yang dikonsumsi masyarakat aman. Keamanan pangan merupakan persyaratan mutlak untuk suatu produk pangan.

Pangan merupakan makanan dan minuman yang mengandung sumber energi bagi tubuh agar dapat beraktivitas. Jika tubuh kekurangan energi, maka tubuh akan lemas dan mudah lelah. Selain itu, makanan dan minuman juga berfungsi untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh, pemeliharaan, dan perbaikan sel-sel tubuh yang telah rusak atau tua, pengaturan metabolisme tubuh, pemeliharaan keseimbangan cairan tubuh, serta pertahanan tubuh terhadap penyakit. Makanan dan minuman yang baik bagi tubuh adalah makanan dan

(42)

minuman yang baik bagi tubuh adalah makanan dan minuman yang bersih/higienis, sehat dan bergizi seimbang (mengandung karbohidrat, lemak protein, vitamin, mineral, dan air), serta tidak mengandung bahan-bahan yang membahayakan kesehatan tubuh.50

Keamanan pangan merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan sistem pangan. Pada ketentuan umum Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan, penyelenggaraan keamanan pangan ditujukan agar negara dapat memberikan perlindungan kepada rakyat untuk mengonsumsi pangan yang aman bagi kesehatan dan keselamatan jiwa. Untuk menjamin pangan yang tersedia di masyarakat aman dikonsumsi, maka diperlukan penyelenggaraan keamanan pangan di sepanjang rantai pangan, mulai dari tahap produksi sampai ke tangan konsumen. Pada penyelenggaraan keamanan pangan, semua kegiatan atau proses produksi di dalam negeri maupun yang berasal dari impor untuk menghasilkan pangan yang aman dikonsumsi harus melalui penerapan persyaratan keamanan pangan.

Berbagai upaya penyelenggaraan keamanan pangan sudah dilakukan, di antaranya melalui penyelenggaraan pengawasan makanan dan minuman baik yang diproduksi di dalam negeri maupun produk impor. Namun demikian, masih saja kedapatan pangan yang beredar di masyarakat tidak memenuhi kriteria aman dikonsumsi. Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sampai dengan tanggal 10 Mei 2019, telah ditemukan dari 796 sarana gudang distributor, 170.119 kemasan produk pangan rusak, kadaluarsa, dan ilegal. Pada

50 Nugraheni, Dkk, Kesehatan Masyarakat dalam Determinan Sosial Budaya, Penerbit Deepublish, Yogyakarta, 2018, hlm. 129.

(43)

tahun 2018, dari 1.726 sarana ritel pangan yang diperiksa, didapat 591 sarana ritel yang tidak memenuhi ketentuan yaitu 110.555 kemasan dengan nilai keekonomian Rp. 2,2 miliar. Data BPOM tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus makanan tidak layak konsumsi, yaitu sebanyak 10% dibanding tahun 2018.

Kejadian ini hanya sebagian kecil yang tercatat dari kasus yang sebenarnya ada di masyarakat.51

Menurut Suratmono, Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Pangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tanggal 16 Juli 2012 saat acara media gathering bertema “Pegawasan Keamanan Pangan” permasalahan utama menyangkut keamanan produk pangan di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia adalah belum terjaminnya keamanan, mutu dan kualitas. Produk pangan yang beredar di pasaran masih banyak ditemukan tidak aman dikonsumsi karena tercemar mikroba, cemaran kimiawi, serta mengandung bahan kimia berbahaya Seperti formalin, boraks, rhodamin B, metil yellow dan lain lain serta penggunaan bahan tambahan pangan berlebih.52

Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan masih lemahnya kedudukan masyarakat sebagai konsumen. Hal ini dikarenakan faktor kurangnya informasi dan pengetahuan tentang pangan yang aman dikonsumsi dan dampak yang dapat terjadi jika mengonsumsi pangan yang tidak aman. Untuk itu, masyarakat perlu mendapat jaminan perlindungan setiap kali membeli produk pangan. Jaminan perlindungan pada masyarakat sebagai konsumen tersebut merupakan bagian yang tidak

51 Badan POM, “Laporan Data Tahunan Badan Pengawas Obat Dan Makanan (BPOM)”, https://www.pom.go.id/new/browse/more/laporan_tahunan/18-02-2020/18-02- 2021/1 Diakses pada tanggal 18 Februari 2021

52 Berita Harian Kompas, “Teliti 7 Hal ini Saat Baca Label Makanan”, https://lifestyle.kompas.com/read/2012/07/17/0718222//Teliti%20Ini.saat.Baca.Label.Makanan.

Diakses pada tanggal 25 November 2020

(44)

terpisahkan dalam setiap kegiatan bisnis. Setiap kegiatan bisnis yang baik harus ada upaya perlindungan hukum kepada konsumen dan produsen secara seimbang. Jika upaya perlindungan hukum tersebut tidak seimbang, akan merugikan salah satu pihak (biasanya pihak konsumen). Ketidakseimbangan perlindungan hukum tersebut rawan terjadi pada jenis produk yang terbatas. Produsen dapat menyalahgunakan posisinya yang monopolistik dan pada akhirnya konsumenlah yang banyak dirugikan. Untuk itu, perlu adanya peningkatan upaya perlindungan pada konsumen sehingga hak-hak konsumen dapat ditegakkan.53

Dapat dilihat, keamanan pangan penting bagi kelangsungan hidup suatu bangsa dan merupakan bagian dari hak asasi manusia. Namun, kita masih dihadapkan dengan permasalahan seputar peredaran pangan yang tidak aman dikonsumsi di masyarakat walaupun secara legal formal sudah ada pengaturannya.

Kondisi ini sebagai indikasi perlunya perhatian lebih dari semua pihak terkait dalam penyelenggaraan keamanan pangan sehingga masyarakat sebagai konsumen dapat terlindungi dari pangan yang tidak aman, mengingat efek yang ditimbulkan dapat berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia Indonesia dimasa datang.54

Pengawasan produk sebelum beredar bertujuan untuk menjamin produk obat dan makanan terjamin aman, bermanfaat dan bermutu sebelum diedarkan.

Selanjutnya setelah produk obat dan makanan beredar BPOM melakukan pengawasan dengan melakukan sampling terhadap produk obat dan makanan yang

53 Hura, D. Dkk, Perlindungan Bagi Konsumen Terhadap Makanan Olahan Mengandung Bahan Berbahaya Di Jawa Tengah, Dipenogoro Law Jurnal, 2016, 5(4), 1-18

54 Haryadi, P Dkk, Peningkatan Penjaminan Keamanan dan Mutu Pangan untuk Pencegahan Stunting dan Peningkatan Mutu SDM Bangsa dalam Rangka Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Makalah Utama Kelompok Kerja 3 Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi XI 2018, Jakarta, 2018 July 3-4

Referensi

Dokumen terkait

Perlindungan hukum pada jual beli secara transaksi elektronik menjadi perhatian penting khususnya perlindungan terhadap konsumen karena banyak kasus kerugian yang

Maraknya pengguna Internet dan sosial media di Indonesia ini membuat bisnis e-commerce transaksi (online) semakin berkembang.Meningkatnya angka jual beli secara

Maka hipotesis yang menyatakan “kepercayaan konsumen, persepsi risiko dan keamanan transaksi berpengaruh secara simultan terhadap minat beli konsumen pada situs jual

Pada praktik transaksi jual beli online kosmetik di cosmeticsworldwide ditemukan beberapa permasalahan yang menyebabkan kerugian pada pembeli seperti kosmetik yang

Perlindungan hukum pada jual beli secara transaksi elektronik menjadi perhatian penting khususnya perlindungan terhadap konsumen karena banyak kasus kerugian yang

BAB IV : PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PENGEMBALIAN DANA (REFUND) KONSUMEN DALAM TRANSAKSI JUAL BELI MEDIA INTERNET OLEH LAMIDO WEB PORTAL INDONESIA. Prosedur Jual Beli Internet

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlindungan hukum bagi konsumen akibat penipuan jual beli online, menimbulkan tanggung jawab atas kerugian konsumen dalam transaksi

“PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN YANG DIRUGIKAN AKIBAT MELAKUKAN TRANSAKSI JUAL BELI ONLINE MELALUI MEDIA SOSIAL” PENULISAN HUKUM Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan