for the International Sale of Goods (CISG) dan KUHPerdata dalam Perdagangan Internasional)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
DISUSUN OLEH:
SHELLY YUSIKA NIM : 040-200-202
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN
Fakultas Hukum
Universitas Sumataera Utara MEDAN
2007
Contract for the International Sale of Goods (CISG) dan KUHPerdata dalam Perdagangan Internasional)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Hukum DISUSUN OLEH:
SHELLY YUSIKA NIM : 040-200-202
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN
DISETUJUI OLEH:
KETUA DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN
Prof.Dr.Tan Kamello,SH.MS NIP.131764556
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Prof.Dr.Tan Kamello,SH.MS Edy Ikhsan, SH. MA
NIP.131764556 NIP.131796147
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2007
pihak yaitu penjual dan pembeli. Kedua belah pihak yang membuat perjanjian jual-beli masing-masing memiliki hak dan kewajiban untuk melaksanakan isi perjanjian yang mereka buat. Sebagaimana umumnya, perjanjian merupakan suatu lembaga hukum yang berdasarkan asas kebebasan berkontrak dimana para pihak bebas untuk menentukan bentuk dan isi jenis perjanjian yang mereka buat. Akan tetapi kebebasan dalam membuat suatu perjanjian itu akan menjadi berbeda bila dilakukan dalam lingkup yang lebih luas yang melibatkan para pihak dari Negara dengan sistem hukum yang berbeda. Masing- masing Negara memiliki ketentuan tersendiri yang bisa jadi berbeda satu dengan lainnya.
Untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dapat timbul dari keanekaragaman system hukum tersebut maka komunitas perdagangan internasional membuat suatu konvensi internasional untuk mengatur perjanjian jual-beli barang internasional, yaitu United Nation Convention on Contract for the International Sale of Goods (CISG) yang terdiri dari 101 pasal.
Penelitian ini berjudul : Upaya Hukum Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Jual- Beli Barang (Studi Komparatif Ketentuan The United NationConvention on Contract for the International Sale of Goods (CISG) dan KUHPerdata dalam Perdagangan Internasional). Permasalahan yang akan dibahas dari penelitian ini adalah: Bagaimana Pengaturan Hak dan Kewajiban para pihak dalam suatu perjanjian jual-beli dalam perdagangan Internasional baik dalam KUHPerdata dan The United Convention On Contract For The Internasional Sale Of Goods (CISG) serta Upaya Hukum yang dapat ditempuh para pihak apabila terjadi sengketa perdagangan Internasional dalam KUHPerdata dan The United Convention On Contract For The Internasional Sale Of Goods (CISG)
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif. Langkah pertama dilakukan penelitian hukum normatif yang didasarkan pada bahan hukum skunder yaitu inventarisasi peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kontrak dan jual- beli barang secara internasional, baik yang dimuat dalam KUHPerdata maupun di dalam The United Convention On Contract For The Internasional Sale Of Goods (CISG). Selain itu dipergunakan juga bahan-bahan tulisan yang berkaitan dengan persoalan ini. Penelitian ini bertujuan menemukan landasan hukum yang jelas dalam meletakan persoalan ini dalam prespektif hukum perdata khususnya yang terkait dengan upaya-upaya hukum yang dapat ditempuh oleh para pihak dalam jual-beli barang secara Internasional.
Dalam CISG upaya hukum bagi penjual dan pembeli dalam hal terjadi sengketa pada pelaksanaan perjanjian dibagi dalam tiga kategori yaitu dalam hal breach of contract, fundamental contract, dan anticipatori breach. Dalam KUHPerdata upaya hukum bagi para pihak dalam perjanjian jual-beli diatur dalam Pasal 1236-1243 KUHPerdata dalam hal terjadi wanprestasi dan wanprestasi khusus yang masing-masing memiliki konsekuensi dan durasi pengajuan gugatan yang berbeda. Sedangkan gugatan ganti kerugian diatur dalam Pasal 1243- 1252 KUHPerdata
Pertama-tama penulis panjatkan Puji dan Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang atas segala berkat dan karunia Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan. Adapun judul skripsi ini adalah “Upaya Hukum Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Jual-Beli Barang (Studi Komparatif Ketentuan The United Conventions on Contract for the International Sale of Goods (CISG) dan dalam KUHPerdata dalam perdagangan Internasional)”.
Penulis telah berusaha mengarahkan segala kemampuan yang dimiliki dalam penulisan skripsi ini. Tetapi penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari segala kekurangan dan mungkin jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mohon saran dan kritikan yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Penulis sadar sejak awal hingga akhir penulisan ini banyak menerima bimbingan, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, untuk itu dengan tulus ikhlas penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
2. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH, selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
3. Bapak Syafruddin Hasibuan, SH, MH, DFM, selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
5. Bapak Prof. Dr. Tan Kamello, SH.MS, selaku Ketua Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, sekaligus Pembimbing I dan juga selaku dosen wali penulis telah banyak meluangkan waktu selama menjalani kuliah dan membimbing, mengarahkan serta masukan yang berguna bagi penulis sehingga skripsi ini selesai.
6. Bapak Edy Ikhsan, SH.MA, selaku Pembimbing II yang dengan tulus meluangkan waktu untuk membimbing, mengarahkan, dan memberi masukan serta pandangan dan nasehat yang berguna bagi penulis sehingga skripsi ini selesai;
7. T.Darwini,SH.M.Hum, selaku seketaris Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
8. seluruh Dosen dan staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan membimbing penulis selama menempuh pendidikan di almamater tercinta ini;
9. Khusus kepada kedua orang tua penulis yang penulis cintai dan kasihi Ayahanda Ramli dan Ibunda Leni Novita yang tidak putus-putusnya memberikan dukungan, perhatian doa serta cinta kasih kepada penulis dan terutama kepada Ayahanda penulis, penulis mengucapkan banyak terima kasih karena telah banyak membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini;
10. Abang tersayang Efendy, Agus Susanto yang telah memberikan dukungan, motifasi dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi;
dukungan dalam hal mengerjakan tugasssss..
12. Semua orang yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Terima kasih atas buku data dan bantuan yang tidak putus-putusnya kepada penulis.
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi kita semua.
Serta dapat memberikan gambaran dan menambah wawasan tentang permasalahan yang penulis bahas seta dapat menambah referensi bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Medan, Desember 2007 Penulis
Shelly Yusika
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Perjanjian jual-beli merupakan jenis perjanjian timbal balik yang melibatkan dua pihak yaitu penjual dan pembeli. Kedua belah pihak yang membuat perjanjian jual-beli masing-masing memiliki hak dan kewajiban untuk melaksanakan isi perjanjian yang mereka buat. Sebagaimana umumnya, perjanjian merupakan suatu lembaga hukum yang berdasarkan asas kebebasan berkontrak dimana para pihak bebas untuk menentukan bentuk dan isi jenis perjanjian yang mereka buat. Akan tetapi kebebasan dalam membuat suatu perjanjian itu akan menjadi berbeda bila dilakukan dalam lingkup yang lebih luas yang melibatkan para pihak dari negara dengan sistem hukum yang berbeda. Masing-masing negara memiliki ketentuan tersendiri yang bisa jadi berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan tersebut tentu saja akan mempengaruhi bentuk dan jenis perjanjian yang dibuat oleh para pihak yang berasal dari dua negara yang berbeda tersebut karena apa yang diperbolehkan oleh suatu sistem hukum negara belum tentu diperbolehkan oleh sistem hukum negara lainnya1.
Untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dapat timbul dari keanekaragaman sistem hukum tersebut maka komunitas perdagangan internasional membuat suatu konvensi internasional untuk mengatur perjanjian jual-beli barang internasional.
Upaya melakukan unifikasi hukum jual beli internasional dimulai pada tahun 1929 oleh UNIDROIT (Internatinal Institute for the Unification of Private Law) yang dilembagakan dalam dokumen-dokumen hukum. Dokumen-dokumen tersebut berupa konvensi internasional, model law, legal guide, prinsip hukum umum, atau standard
1Esther Dwi Magfirah, Perjanjian Jual-Beli Barang dalam Ketentuan CISG, diakses dari situs : http://www.solusihukum.com, tanggal 20 April 2006.
kontrak. Unifikasi ini terjadi atas usulan seorang ahli hukum Jerman yang bernama Ernest Rabel dengan membentuk sebuah panitia persiapan. Setelah bekerja selama lima tahun, panitia tersebut menyampaikan draft awal berjudul The International Law on the Sale of Goods yang mendapat persetujuan dari UNIDROIT dan disampaikan kepada Liga Bangsa-Bangs untuk dimintai komentar dari negara anggota. Atas dasar masukan dari negara anggota, panitia kemudian melakukan revisi, pada tahun 1939 Dewan Pelaksana UNIDROIT mengeluarkan draft versi baru2.
Setelah berdirinya PBB tahun 1945 secara berturut-turut dari tahun 1951, 1956 dan 1963 dilaksanakan Konferensi di Den Haag. Konferensi ini disponsori oleh Pemerintah Belanda, dengan membentuk Komisi Khusus yang bertugas memperbaiki rancangan tersebut, sehingga dihasilkan Final Act of the Conference on a Draft Convention relative to a Uniform Law on the Sale of Goods. Pada konferensi terakhir yang diselenggarakan dari tanggal 2 – 25 April 1964 telah ditetapkan 2 (dua) konvensi baru lagi, yaitu 3:
1. Convention on Uniform Law on the International sale of Goods (ULIS).
2. Convention on Uniform Law on the Formation of Contract for the International Sale of Goods (ULFC).
Selanjutnya pada tahun 1966 PBB mendirikan UNCITRAL (United Nation Commission on International Trade Law). Berdasarkan evaluasi dari berbagai negara, maka pada tahun 1977 komisi memutuskan untuk menggabungkan kedua rancangan konvensi tersebut ke dalam satu teks. Hasilnya disampaikan kepada Majelis Umum PBB, dengan Resolusi No. 33/93 tanggal 16 Desember 1978 diputuskan untuk
2Taryana Soenandar, Prinsip-Prinsip UNINDROIT, Sebagai Sumber Hukum Kntrak dan Penyelesaian Sengketa Bisnis Internasional, Sinar Grafjka, Jakarta, 2004, hal. 12-14.
3Kedua konvensi tersebut berlaku pada tahun 1972, namun hanya sedikit Negara yang meratifikasi, dari 9 negara yang meratifikasi hanya 2 negara dari luar Eropa, yaitu Gambia dan Israel.
Negara peratifikasi yang lain adalah dari Masyarakat Ekonomi Eropa, yaitu Belgia, Republik Federasi Jerman, Italia, Luxembourg, Belgia dan Inggris.
mengadakan konferensi yang membahas Draft Konvensi. Konferensi diselenggarakan pada tanggal 10 Maret s/d 11 April 1980 yang dihadiri oleh 62 negara dan 8 organisasi internasional. Pada akhirnya dihasilkanlah United Nation Convention on Contracts for the International Sale of Goods (CISG) yang terdiri atas 101 pasal.
Walaupun CISG tidak secara formal menyatakan merevisi dua konvensi sebelumnya yaitu konvensi Den Haag tahun 1964, namun jelas dimaksudkan bahwa konvensi ini menggantikan kedua konvensi itu dan merupakan satu-satunya instrumen yang mengatur kontrak jual beli barang internasional yang berlaku. Tentang kapan berlakunya CISG dapat dilihat dalam Pasal 99 ayat (1) yang menyatakan sebagai berikut : “This Convention enters into force on the first day of the month following the expiration of twelve months after the date of deposit of the tenth instrument of ratification, acceptance, approval, or accession”4.
United Nation Convention on Contracts for the International Sale of Goods (CISG) ini pada dasarnya hanya mengatur kontrak jual beli barang yang bersifat internasional. Hal ini berarti kontrak yang murni domestik masih diatur oleh hukum nasional masing-masing. Tujuan tersebut bukan hanya untuk menjamin terciptanya rezim hukum jual beli internasional yang seragam, tetapi juga merupakan suatu upaya membuat peraturan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat bisnis internasional.
Seperti halnya di Negara Uni Eropa yang memiliki dispararitas (campuran) sistem hukum antara common law dan civil law. Agar dalam mengatasi transaksi bisnis tidak terhalangi oleh kendala perbedaan persepsi, telah dibuat Principle of European Contract Law yang disepakati di Stockholm pada bulan Mei 1996. Prinsip hukum kontrak Eropa ini sebenarnya sebagian besar mengadopsi UNIDROIT dan
4 Ibid.
UNCISG Principles of International Commercial Contract (UPICCs) karena pakar yang tergabung dalam Commission on European Contract Law penyusun dari (UPICCs) tersebut5.
Prinsip – prinsip UPICCs ini telah menjadi acuan pembaruan hukum kontrak hampir di seluruh dunia, seperti Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Negara bagian Canada, Quibeck, Kanada dan Rusia. Hal ini merupakan gejala tumbuhnya harmonisasi hukum perdata, terutama hukum kontrak sejalan dengan perdagangan bebas dan globalisasi.
Mengingat Indonesia belum meratifikasi UNCISG sedangkan Indonesia merupakan mitra bisnis negara yang tergabung dalam WTO dan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN, maka sudah saatnya Indonesia mulai memperhatikan upaya ratifikasi UNCISG tersebut untuk menghindari kendala transaksi bisnis internasional6. Optimisme akan adanya harmonisasi dilandasi fakta bahwa terlepasnya Negara dari jajahan metropolitan, telah membangkitkan pembangunan di segala bidang, termasuk pembangunan di bidang hukum kontrak. Sebab hukum kontrak merupakan sistem dan pranata untuk mendukung perdagangan bebas yang sekarang ini berlangsung. Hampir kebanyakan Negara di dunia saat ini tengah atau baru memperbaharui hukum perdata, termasuk hukum kontraknya, sebab harmonisasi hukum akan mengatasi kendala yang disebabkan oleh perbedaan sistem hukum.
Harmonisasi harus dapat menjembatani keanekaragaman sistem hukum di dunia, yang pada gilirannya ternyata ada hal-hal yang merupakan kepentingan bersama. Berikut ini sistem hukum perdata yang berlaku di seluruh dunia7.
5Sunaryati Hartono, Beberapa Masalah Transnasional dalam Penanaman Modal Asing di Indonesia, Binacipta, Jakarta, 1994, hal. 8.
6 Ibid, hal. 9.
7Allan D. Rose A.O, The Challenges for Uniform Law in the Twenty-First Century, Uniform Law Review, NS-Vol. 1, 1996, hal. 25.
GROUP CLASS Group 1 A
Group 1 B
Traditional English American Common Law
Group 2 Mixed Roman / Common Law
Group 3 Germanic and Scandinavian
Group 4 Mixed Franco – Latin / Germanic
Group 5 Traditional Franco – Latin
Group 6 Emerging Jurisdiction
Group 7 Islamic Jurisdiction
Group 8 Unlocated Jurisdiction
Untuk negara-negara ASEAN menurut Allan D. Rose A.O, termasuk sebagai berikut 8:
1. Group 1 A : Brunai Darussalam, Malaysia dan Singapura 2. Group 2 : Sri Lanka.
3. Group 3 : Indonesia 4. Group 4 : Filipina
5. Group 6 : Vietnam
6. Group 8 : Kamboja dan Laos.
Oleh karena itu, Indonesai dan negara-negara ASEAN lainnya perlu memperhatikan prinsip-prinsip yang terdapat di dalam UNCISG. Hal ini dilakukan
8 Ibid
dalam rangka menjembatani kendala perbedaan sistem hokum ketika melaksanakan AFTA. Saat ini terjadi semacam dorongan yang sangat kuat ke arah harmonisasi, karena hamper di setiap Negara tengah melaksanakan pembangunan di segala bidang, termasuk di bidang hokum. Maka dengan mengacu pada prinsip yang sama, secara lambat laun tetapi pasti, akan terjadi harmonisasi hukum.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, penulis merasa tertarik untuk mengangkat masalah ini menjadi sebuah skripsi. Dimana nantinya penulis akan melakukan melakukan kajian komparatif – deskriptif mengenai perlindungan hukum bagi para pihak dalam perjanjian jual beli barang antara ketentuan yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerd) dan The Untited Nations Convention on Contract for the International Sale Goods (CISG).
B. Rumusan Permasalahan
Sejalan dengan hal-hal tersebut di atas, maka rumusan permasalahan yang akan saya bahas di dalam skripsi ini adalah, sebagai berikut :
1. Bagaimana Perbandingan Perjanjian Jual Beli dalam Perdagangan Internasional dalam Persfektif Hukum Perdata Indonesia dan yang diatur di dalam The Untited Nations Convention on Contract for the International Sale Goods (CISG).
2. Bagaimana pengaturan hak dan kewajiban para pihak dalam suatu perjanjian jual beli dalam perdagangan internasional baik dalam KUHPerdata dan The Untited Nations Convention on Contract for the International Sale Goods (CISG).
3. Bagaimana perbandingan upaya hukum yang dapat ditempuh para pihak apabila terjadi sengketa perdagangan internasional dalam KUHPerdata dan The Untited Nations Convention on Contract for the International Sale Goods (CISG).
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka tujuan penulisan skripsi ini secara singkat, adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Perbandingan Perjanjian Jual Beli dalam Perdagangan Internasional dalam Persfektif Hukum Perdata Indonesia dan yang diatur di dalam The Untited Nations Convention on Contract for the International Sale Goods (CISG).
2. Untuk mengetahui pengaturan hak dan kewajiban para pihak dalam suatu perjanjian jual beli dalam perdagangan internasional baik dalam KUHPerdata dan The Untited Nations Convention on Contract for the International Sale Goods (CISG).
3. Untuk mengetahui perbandingan upaya hukum yang dapat ditempuh para pihak apabila terjadi sengketa perdagangan internasional dalam KUHPerdata dan The Untited Nations Convention on Contract for the International Sale Goods (CISG).
Selanjutnya, penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat untuk : 1. Manfaat secara teoritis.
Penulis berharap kiranya penulisan skripsi ini dapat bermanfaat untuk dapat memberikan masukan sekaligus menambah khasanah ilmu pengetahuan dan literatur dalam dunia akademis, khususnya tentang hal-hal yang berhubungan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan perdagangan internasional.
2. Manfaat secara praktis
Secara praktis penulis berharap agar penulisan skripsi ini dapat memberi pengetahuan bagi para pihak yang terlibat di dalam perdagangan dan jual beli barang yang bersifat internasional. Seperti diketahui, bahwa perdagangan internasional melibatkan dua sistem hukum yang berbeda, sehingga dengan
adanya suatu konvensi internasional seperti The United Nations Convention on Contracts for the International Sale Goods (CISG) ini, para pihak dalam suatu transaksi perdagangan internasional, akan lebih memperoleh jaminan dan kepastian hukum.
D. Keaslian Penulisan
Pembahasan skripsi ini dengan judul : “Upaya Hukum Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Jual-Beli Barang (Studi Komparatif Ketentuan The United Nations Convention on Contracts for the International Sale Goods (CISG) dan KUHPerdata dalam Perdagangan Internasional”, adalah masalah yang sebenarnya telah lama didengungkan. Seperti yang diketahui bersama, sebagaimana perjanjian pada umumnya, perjanjian jual-beli internasional dalam The United Nations Convention on Contracts for the International Sale Goods (CISG) maupun perjanjian dalam KUHPerdata menganut sistem terbuka dimana para pihak bebas menentukan bentuk dan isi perjanjian (vide pasal 6 jo pasal 12 CISG dan pasal 1338 KUHPerd).
Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam The United Nations Convention on Contracts for the International Sale Goods (CISG) maupun KUHPerd dapat dipilih sebagai dasar hukum dari perjanjian yang dibuat para pihak atau sebagai pelengkap jika para pihak menentukan sendiri bentuk dan isi perjanjiannya.
Permasalahan yang dibahas di dalam skripsi ini adalah murni hasil pemikiran dari penulis yang dikaitkan dengan teori-teori hukum yang berlaku maupun dengan doktrin-doktrin yang ada, dalam rangka melengkapi tugas dan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, dan apabila ternyata di kemudian hari terdapat judul dan permasalahan yang sama, maka penulis akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap skripsi ini.
E. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian Perjanjian Jual Beli
Untuk mengetahui pengertian perjanjian jual beli ada baiknya kita melihat Pasal 1457 KUHPerdata. Dalam pasal 1457 KUHPerdata disebutkan bahwa jual-beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan,dan pihak yang satu lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.
Wirjono Prodjodikoro menyatakan, bahwa : “jual beli adalah suatu persetujuan dimana suatu pihak mengikat diri untuk berwajib menyerahkan suatu barang, dan pihak lain berwajib membayar harga yang dimufakati mereka berdua”9.
Wolmar sebagaimana dikutip oleh Suryodiningrat menyatakan, bahwa : “jual beli adalah pihak yang satu penjual (verkoper) mengikatkan diri kepada pihak lainnya pembeli (koper) untuk memindahtangankan suatu benda dalam eigendom dengan memperoleh pembayaran dari orang yang disebut terakhir, sejumlah tertentu, berwujud uang”10.
Di dalam sistem obligasi, apabila barang telah dijual tetapi belum ada penyerahan kepada pembeli, tetapi barang yang dijual itu kemudian dijual kembali untuk yang kedua kalinya oleh si penjual, dan diserahkan kepada pembeli kedua, maka barang itu tidak menjadi milik pembeli kedua, tegasnya apabila A selaku penjual, menjualkan barangnya kepada B, selaku pembeli yang pertama sebelum barang diserahkan kepada B, A menjualkan kembali kepada C, selaku pembeli yang kedua, di dalam sistem obligatoir, perbuatan A tidak dibenarkan. Hal ini seperti yang termuat dalam Putusan Mahkamah Agung tanggal 19 Juni 1983, No. 101/K/Sip/63.
9Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perdata tentang Persetujuan-Persetujuan Tertentu, Sumur, Bandung, 1991, hal. 17.
10R.M. Suryodiningrat, Perikatan-Perikatan Bersumber Perjanjian, Tarsito, Bandung, 1996, hal. 14.
Sifat obligatoir ini sangat berlainan dengan Code Civil Prancis, yang menyatakan bahwa hak milik atas barang-barang yang dijual adalah sudah berpindah ke tengah pembeli pada waktu persetujuan jual beli diadakan. Di dalam hukum adat di Indonesia, perincian-perincian pengertian obligatoir dan sifatnya sama sekali tidak diperlukan.
Menurut hukum adat Indonesia, yang dinamakan jual beli bukanlah persetujuan belaka, yang berada diantara kedua belah pihak, tetapi adalah suatu penyerahan barang oleh si penjual kepada si pembeli dengan maksud memindahkan hak milik, atas barang itu dengan syarat pembayaran harga tertentu, berupa uang oleh pembeli kepada penjual. Dengan demikian, dalam hukum adat, setiap hubungan jual beli tidak mengikat kepada asas atau sistem obligatoir, atau sistem lainnya.
Selanjutnya Wirjono Prodjodikoro mengemukakan, bahwa : “ dalam hukum adat juga ada persetujuan antara kedua belah pihak yang berupa mufakat tentang maksud untuk memindahkan hak milik dari tangan penjual ke tangan pembeli dan pembayaran harga pembeli oleh pembeli kepada penjual, tetapi persetujuan itu hanya bersifat pendahuluan untuk suatu perbuatan hukum tertentu, yaitu berupa mufakat tentang maksud untuk memindahkan hak milik dari tangan penjual ke tangan pembeli dan pembayaran harga pembeli oleh pembeli kepada penjual, tetapi peersetujuan itu hanya pendahuluan untuk suatu perbuatan hukum tertentu yaitu berupa penyerahan tadi. Selama penyerahan barang belum terjadi, maka belum ada jual beli, dan pada hakekatnya belum ada mengingat apa-apa bagi kedua belah pihak.11
Tentang perjanjian jual beli, diangap sudah berlangsung antara pihak penjual dan pembeli, apabila mereka menyetujui dan bersepakat tentang keadaan benda dan harga barang tersebut, sekalipun barangnya belum diserahkan dan harganya belum
11 Wirjono prodjodikoro,op.cot,hal 19
dibayarkan (Pasal 1458 KUHPerdata). Jual beli tiada lain dari persesuaian kehendak (wis overeensteming) antara penjual dan pembeli mengenai barang dan harga. Barang dan hargalah yang menjadi essensial perjanjian jual beli. Tanpa ada barang yang hendak dijual, tidak mungkin terjadi jual beli. Sebaliknya jika barang objek jual beli tidak dibayar dengan sesuatu harga, jual beli dianggap tidak ada.
Cara dan terbentuknya perjanjian jual beli, bisa terjadi secara openbaar/terbuka, seperti yang terjadi pada penjualan atas dasar eksekutorial atau yang disebut excutoriale verkoop. Penjualan eksekutorial mesti dilakukan melalui lelang di muka umum oleh pejabat lelang. Akan tetapi cara dan bentuk penjualan eksekutorial yang bersifat umum ini, jarang sekali terjadi. Penjualan demikian harus memerlukan keputusan pengadilan.
Karena itu, jual beli yang terjadi dalam lalu lintas kehidupan masyarakat sehari-hari, adalah jual beli antara tangan ke tangan, yakni jual beli yang dilakukan antara penjual dan pembeli tanpa campur tangan pihak resmi, dan tidak perlu dimuka umum. Bentuk jual belinya pun, terutama jika objeknya barang-barang bergerak, cukup dilakukan dengan lisan. Kecuali mengenai benda-benda tertentu, terutama mengenai obejk benda-benda tidak bergerak pada umumnya, selalu memerlukan bentuk akta jual beli. Tujuan akta ini hanya sekedar mempelajari jual beli itu dengan keperluan penyerahan yang kadang-kadang memerlukan penyerahan yuridis di samping penyerahan nyata.
2. Pengertian The Untited Nations Convention on Contract for the International Sale Goods (CISG).
Seperti telah disebutkan di atas, walaupun CISG tidak secara formal menyatakan merevisi dua konvensi sebelumnya yaitu konvensi Den Haag tahun 1964,
namun jelas dimaksudkan bahwa konvensi ini menggantikan kedua konvensi itu dan merupakan satu-satunya instrumen yang mengatur kontrak jual beli barang internasional yang berlaku. Tentang kapan berlakunya CISG dapat dilihat dalam Pasal 99 ayat (1) yang menyatakan sebagai berikut : “This Convention enters into force on the first day of the month following the expiration of twelve months after the date of deposit of the tenth instrument of ratification, acceptance, approval, or accession”12.
United Nation Convention on Contracts for the International Sale of Goods (CISG) ini pada dasarnya hanya mengatur kontrak jual beli barang yang bersifat internasional. Hal ini berarti kontrak yang murni domestik masih diatur oleh hukum nasional masing-masing. Tujuan tersebut bukan hanya untuk menjamin terciptanya rezim hukum jual beli internasional yang seragam, tetapi juga merupakan suatu upaya membuat peraturan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat bisnis internasional.
Instrumen hukum yang terdapat di dalam UNCISG ini merupakan instrument Lex Mercatoria dalam rangka menyeragamkan hukum kontrak jual beli internasional.
Adapun Lex Mercatoria diambil dari bahasa Latin, yaitu Lex yang dalam bahasa Inggris mengandung arti Law atau dalam bahasa Indonesia yang berarti hukum, dan Mercatoria yang dalam bahasa Inggris dipadangkan dengan kata Merchant yang artinya perniagaan atau komersial. Di dalam kepustakaan hukum Indonesia dikenal dengan hukum dagang atau hukum komersial sebagai terjemahan bahasa Inggris the law of merchant13.
Pada umumnya istilah Lex Mercatoria diberikan pengertian sebagai hukum yang seragam (Uniform Law) yang keberadaannya diterima oleh komunitas komersial
12 Taryana Soenandar,Op.cit,hal 14
13 Ibid, hal 15
di berbagai Negara. Namun kata “seragam” (uniform) dikritik bahwa tidak mungkin terwujud suatu hukum perdata yang seragam yang berlaku di berbagai negara14.
UNCISG ini berlaku terhadap kontrak jual beli barang yang dilakukan antara para pihak yang memiliki tempat usaha di negara yang berbeda, apabila :
a. negara tersebut merupakan negara peserta konvensi.
b. aturan dari hukum perdata internasionalnya menunjuk pada penerapan huum dari negara peserta.
Mengenai tempat usaha dapat ditentukan dengan cara apapun jika kontrak transaksi atau informasi yang ada tidak menunjukkan tempat yang pasti. Selanjutnya Konvensi ini tidak berlaku terhadap barang yang dijual secara lelang, dalam rangka pelaksanaan putusan lembaga yang berwenang, terhadap saham, sekuritas investasi, kapal layar, kapal mesin, hovecraft, atau pesawat udara serta listrik.
Selanjutnya kontrak pemasokan barang setengah jadi dianggap masuk dalam kategori peraturan ini, kecuali pihak pemesan hanya memesan bagian terpenting dari bahan yang diperlukan untuk manufaktur atau produksi. Konvensi tidak berlaku terhadap kontrak jual beli barang yang dikaitkan dengan pengiriman tenaga kerja atau jasa lainnya. Konvensi ini hanya mengatur pembuatan kontrak (formation of the contract) jual beli, hak dan kewajiban penjual dan pembeli yang timbul dari kontrak.
Kecuali secara tegas diatur, konvensi tidak mengatur hal-hal yang berkaitan dengan15 :
a. syarat sahnya kontrak atau kebiasaan tentang itu.
b. akibat yang ditimbulkan kontrak, yang terkandung oleh barang yang dijual.
14 Allan D. Rose, A.O, op.cit. hal. 21.
15Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal. 20.
Konvensi ini tidak berlaku terhadap tanggung jawab penjual atas mati atau lukanya seseorang yang diakibatkan oleh barang yang diperjualbelikan. Menurut Pasal 6 UNCISG, para pihak dapat mengesampingkan penerapan Konvensi ini, atau sesuai dengan Pasal 12, menyimpang (derogate) dari atau membuat variasi dalam penerapan berbagai ketentuannya. Permasalahan yang tidak secara tegas diselesaikan di dalam Konvensi ini diselesaikan sesuai dengan “Prinsip Umum” (The General Principle). Jika tidak ada aturan tersebut di dalam prinsip umum itu didasarkan pada hukum Perdata internasional. Pernyataan atau sikap tindak lainnya dari salah satu pihak harus ditafsirkan menurut maksudnya, jika pihak lain mengetahui atau patut mengetahui bahwa maksudnya demikian16.
Apabila dari salah satu pihak tidak dapat ditafsirkan maka pernyataan atau sikap tindak salah satu pihak yang lain harus ditafsirkan menurut pemahaman orang yang wajar ( a reasonable person). Pemahaman itu memiliki kedudukan yang sama seperti pihak lainnya yang mengalami keadaan yang sama. Dalam menentukan maksud salah satu pihak atu pemahaman dari orang yang wajar, dengan memperhatikan segala keadaan yang relevan termasuk ketika bernegosiasi, haruslah mempertimbangkan praktik yang sudah biasa dilakukan mereka, kepatutan dan setiap perilaku lainnya diantara para pihak.
Para pihak yang terikat pada kebiasaan yang disepakati dan setiap praktik yang ada diantara mereka. Kecuali disepakati lain, para pihak dianggap secara diam-diam menerapkan kebiasaan yang berlaku diantara para pihak yang telah diketahui secara internasional, terutama mengenai bidang perdagangan yang mereka lakukan.
Jika para pihak memiliki lebih dari dua tempat usaha, maka tempat usahanya adalah tempat yang memiliki hubungan paling erat dengan kontrak dan
16Ibid.
pelaksanaannya. Hal itu dilakukan dengan tetap memperhatikan keadaan yang diketahui atau yang disebutkan oleh para pihak pada saat atau pada setiap saat sebelum penutupan kontrak. Jika salah satu pihak tidak memiliki tempat tinggal maka digunakan tempat kediaman yang biasa ia tempati (his habitual residence).
Selanjutnya UNCISG menegaskan di dalam Pasal 11, bahwa : “A contract of sale need not be concluded in or evidence by writing and is not subject to any other requirement as to form. It may be proved by any means, including witnesses”.
Dengan demikian kontrak jual beli tidak harus dibuat dalam bentuk tertulis, tetapi dapat dibuktikan dengan cara apapun. Hal ini dipertegas oleh Pasal 13 UNCISG bahwa pengertian tertulis termasuk “telegram” atau “telex”.
F. Metode Penelitian 1. Sifat/Bentuk Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif. Langkah pertama dilakukan penelitian hukum normatif yang didasarkan pada bahan hukum skunder yaitu inventarisasi peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kontrak dan jual beli barang secara internasional, baik yang dimuat di dalam KUHPerdata maupun di dalam United Nation Convention on Contracts for the International Sale of Goods (CISG). Selain itu dipergunakan juga bahan-bahan tulisan yang berkaitan dengan persoalan ini. Penelitian bertujuan menemukan landasan hukum yang jelas dalam meletakkan persoalan ini dalam perspektif hukum perdata khususnya yang terkait dengan upaya-upaya hukum yang dapat ditempuh oleh para pihak dalam jual beli barang secara internasional.
2. D a t a
Bahan atau data yang diteliti berupa data skunder yang terdiri dari :
a. Bahan/sumber primer berupa peraturan perundang-undangan, buku, kertas kerja.
b. Bahan/sumber skunder berupa bahan acuan lainnya yang berisikan informasi yang mendukung penulisan skripsi ini.
3. Tehnik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh suatu kebenaran ilmiah dalam penulisan skripsi, maka penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan cara studi kepustakaan (Library Research), yaitu mempelajari dan menganalisa secara sistematis buku-buku, majalah-majalah, surat kabar, internet, peraturan perundang-undangan dan bahan- bahan lain yang berhubungan dengan materi yang dibahas dalam skripsi ini.
Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah analisis kualitatif, yaitu data yang diperoleh kemudian disusun secara sistematis dan selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas.
4. Jangka Waktu Penelitian
Pada waktu penelian, ada beberapa tahap yang dilakukan penulis dalam melakukan penelian skunder awal yaitu: Tahap pertama adalah Tahap persiapan, dimana penulis melakukan persiapan selama 1 (satu) bulan dengan menyesuaikan outline dengan judul yang akan diteliti.
Tahap kedua adalah tahap pengumpulan data, dimana penulis mengumpulakan data yang berkaitan dengan judul yang akan diteliti selama 1 (satu) bulan, baik data primer maupun data skunder yang berisikan informasi yang mendukung penulisan skripsi ini.
Tahap ketiga adalah tahap penulisan, dimana penulis telah melakukan penulisan skripsi ini selama 4 (empat) bulan.
G. Sistematika Penulisan
Untuk lebih mempertegas penguraian isi dari skripsi ini, serta untuk lebih mengarahkan pembaca, maka berikut di bawah ini penulis membuat sistematika penulisan/gambaran isi skripsi ini sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini merupakan bab pendahuluan yang menguraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Latar Belakang, Perumusan Masalah, Keaslian Penulisan, Tujuan dan Manfaat Penulisan, sedikit Tinjauan Kepustakaan dan diakhiri dengan Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN DALAM KUHPERDATA
Pada bab ini dibahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Pengertian Perjanjian, Jenis-Jenis Perjanjian, Asas-Asas Perjanjian, Syarat-Syarat Perjanjian dan Pelaksanaan Suatu Perjanjian
BAB III TINJAUAN UMUM MENGENAI PRINSIP-PRINSIP THE UNITED NATIONS CONVENTION ON CONTRACTS FOR THE INTERNATIONAL SALE GOODS (CISG)
Pada bagian ini dibahas mengenai Pembentukan Convention On Contracts For The International Sale Goods (CISG), Perjanjian Jual Beli Barang menurut Convention On Contracts For The International Sale Goods (CIS)G, Prinsip Hukum dalam Convention On Contracts For The International Sale Goods (CISG) dan Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Perjanjian Jual Beli Menurut The United Nations Convention On Contracts For The International Sale Goods (CISG).
BAB IV UPAYA HUKUM BAGI PARA PIHAK DALAM PERJANJIAN JUAL-BELI BARANG (STUDI KOMPARATIF KETENTUAN THE UNITED NATIONS CONVENTION ON CONTRACTS FOR THE INTERNATIONAL SALE GOODS (CISG) DAN KUHPERDATA DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL.
Pada bab ini dibahas mengenai Upaya Hukum Menurut KUHPerdata yang terdiri dari Gugatan tentang Wan Prestasi (Pasal 1236-1243 KUHPerdata) dan Gugatan tentang Ganti Rugi (pasal 1243-1252 KUHPerdata) dan Gugatan Melalui Internet. Kemudian dibahas mengenai Upaya Hukum Menurut The United Nations Convention On Contracts For The International Sale Goods (CISG), yang terdiri dari Upaya Hukum dalam Breach of Contract, Upaya Hukum dalam dalam Fundamental Breach dan Upaya Hukum dalam Anticipatory Breach.
Dan yang terakhir dibahas mengenai Upaya Hukum Melalui Internet.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada Bab ini dibahas mengenai kesimpulan dan saran sebagai hasil dari pembahasan dan penguraian skripsi ini secara keseluruhan.
BAB II
TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN JUAL-BELI DALAM KUHPERDATA
A. Pengertian Perjanjian Jual Beli
Perjanjian jual-beli merupakan jenis perjanjian timbal balik yang melibatkan dua pihak yaitu penjual dan pembeli. Kedua belah pihak yang membuat perjanjian jual-beli masing-masing memiliki hak dan kewajiban untuk melaksanakan isi perjanjian yang mereka buat. Sebagaimana umumnya, perjanjian merupakan suatu lembaga hukum yang berdasarkan asas kebebasan berkontrak dimana para pihak bebas untuk menentukan bentuk dan isi perjanjian yang mereka buat.
Sudikno Mertokusumo mendefinisikan perjanjian sebagai hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Suatu perjanjian didefinisikan sebagai hubungan hukum karena didalam perjanjian itu terdapat dua perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yaitu perbuatan penawaran (offer, aanbod) dan perbuatan penerimaan (acceptance, aanvaarding).
Dalam pasal 1457 KUHPerdata disebutkan bahwa jual-beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan,dan pihak yang satu lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan. Jadi pengertian jual-beli menurut KUHPerdata adalah suatu perjanjian bertimbal balik dalam mana pihak yang satu (penjual) berjanji untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang, sedang pihak yang lainnya (pembeli) untuk membayar harga yang terdiri atas sejumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak milik tersebut. Perjanjian jual-beli dalam KUHPerdata menentukan bahwa obyek perjanjian
harus tertentu, atau setidaknya dapat ditentukan wujud dan jumlahnya pada saat akan diserahkan hak milik atas atas barang tersebut kepada pembeli17.
Dengan demikian, perjanjian jual beli dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak, seketika setelah para pihak yang bersangkutan mencapai kata sepakat tentang barang dan harganya, meskipun barang itu belum diserahkan dan harganya belum dibayar (Pasal 1458 BW). Artinya, setelah kesepakatan mengenai barang dan harga telah tercapai, lahirlah jual beli.
Namun yang perlu diperhatikan juga adalah apa yang tertera di dalam Pasal 1459 BW yang menyatakan hak milik atas barang yang dijual tidaklah berpindah kepada si pembeli, selama penyerahannya (levering) belum dilakukan menurut Pasal 612, Pasal 613, dan Pasal 616. Apabila definisi tersebut diuraikan lebih lanjut, penyerahan yang dimaksudkan adalah penyerahan dalam dua hal, yaitu penyerahan penguasaan atas barang dan penyerahan hak milik atas barang. Harga yang dimaksud berupa sejumlah uang yang merupakan imbalan atas barang yang telah diterima dan diserahkan oleh penjual kepada pembeli18. Disini terdapat pengikatan diri, yaitu baik penjual maupun pembeli saling setuju atau sepakat mengikatkan diri untuk melakukan sesuatu (secara timbal balik) terhadap pihak lainnya. Berdasarkan pada definisi yang diberikan oleh undang-undang, perjanjian adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih (Pasal 1313 BW).
B. Jenis-Jenis Perjanjian Jual Beli
Salah satu perjanjian jual beli yang sangat dikenal di dalam KUHPerdata, adalah jual beli dengan hak membeli kembali. Keukuasan untuk membeli kembali barang yang telah dijual diterbitkan dari suatu janji, dimana penjual diberikan hak
17Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cetakan XXVIII, Intermasa, Jakarta, 1996, hal. 90.
18 M. Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1982, hal. 23.
untuk mengambil kembali barangnya yang dijual setelah memenuhi kewajiban- kewajiban, sebagai berikut 19:
1). Mengembalikan harga pembelian asal, dengan disertai
2). Penggantian semua biaya menurut hukum yang telah dikeluarkan untuk menyelenggarakan pembelian serta penyerahannya, begitu pula
3). Biaya yang perlu untuk pembetulan-pembetulan, dan
4). Biaya yang menyebabkan barang yang dijual bertambah harganya, sejumlah pertambahan itu.
Penguasaan atas barang yang dibeli kembali diperoleh hanya setelah memenuhi segala kewajiban-kewajiban tersebut.
Apabila penjual sebagai akibat janji membeli kembali, memperoleh kembali barangnya, barang itu harus diserahkan kepadanya bebas dari semua beban dan hipotek yang diletakkan oleh pembeli di atasnya. Namun, ia diwajibkan untuk menepati perjanjian sewa yang dengan itikad baik telah dibuat oleh pembeli.
Batas waktu hak membeli kembali itu tidak bisa diperjanjian lebih lama dari lima tahun. Apabila telah diperjanjian untuk waktu lebih dari lima tahun, yang berlaku adalah lima tahun. Batas waktu ini mutlak sehingga hakim pun tidak boleh memperpanjang. Apabila penjual lalai mengajukan tuntutannya untuk membeli kembali barangnya dalam tenggang waktu yang telah ditetapkan, pembeli tetap menjadi pemilik atas barang yang dibeli tersebut dan akan menjadi pemilik tetap20.
Hak untuk membeli kembali yang diperjanjian atas barang tak bergerak, boleh menggunakan haknya terhadap seorang pembeli kedua, meskipun dalam perjanjian kedua itu tidak disebutkan tentang janji tersebut (Pasal 1523 KUHPerdata).
19L.G. Ray Widjaya, Merancang suatu Kontrak (Contract Drafting), Teori dan Praktek, Edisi Revisi, Megapoint, Kesaint Blanc, Bekasi Timur, 2003, 160-161
20Ibid.
Jadi, dalam hal barnag tidak bergerak, pihak ketiga atau pembeli kedua tersebut harus mematuhi ketentuan undang-undang untuk mengembalika nbarang kepada penjual pertama, untuk dibeli kembali olehnya.
Apabila dalam suatu perjanjian jual beli dengan hak untuk membeli kembali yang diperjanjikan atas barang bergerak, pembeli pertama terikat untuk sewaktu- waktu menyerahkan kembali barang yang dibelinya itu kepada penjual untuk dibeli kembali. Jika pembeli pertama, meskipun sudah terikat (untuk sewaktu-waktu dalam waktu yang telah ditentukan) harus menyerahkan barang itu kembali, ternyata menjual kepada pihak ketiga atau pembeli kedua, secara a contrario dapat diartikan bahwa penjual pertama tidak boleh menggunakan haknya terhadap pihak ketiga utnuk meminta kembali barangnya. Dengan perkataan lain, pembeli kedua bebas dari tuntutan untuk menyerahkan barang. Dalam hal ini, penjual pertama hanya bisa menggunakan haknya terhadap pembeli pertama karena dia telah melanggar hukum.
Setiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut (onrechtsmatigdaad). Jadi, menuntut pembeli pertama untuk membayar ganti urig karena ia telah melakukan wanprestasi21.
C. Asas-Asas Perjanjian Jual Beli
Dalam Burgerlijk Wetboek (BW) yang kemudian diterjemahkan oleh Prof. R.
Subekti, SH dan R. Tjitrosudibio menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) bahwa mengenai hukum perjanjian diatur dalam Buku III tentang Perikatan, dimana hal tersebut mengatur dan memuat tentang hukum kekayaan yang
21Wirjono Prodjodikoro, Perbuatan Melanggar Hukum. Cetakan V, Sumur, Bandung. 1987, hal. 34.
mengenai hak-hak dan kewajiban yang berlaku terhadap orang-orang atau pihak-pihak tertentu22. Sedangkan menurut teori ilmu hukum, hukum perjanjian digolongkan kedalam Hukum tentang Diri Seseorang dan Hukum Kekayaan karena hal ini merupakan perpaduan antara kecakapan seseorang untuk bertindak serta berhubungan dengan hal-hal yang diatur dalam suatu perjanjian yang dapat berupa sesuatu yang dinilai dengan uang. Keberadaan suatu perjanjian atau yang saat ini lazim dikenal sebagai kontrak, tidak terlepas dari terpenuhinya syarat-syarat mengenai sahnya suatu perjanjian/kontrak seperti yang tercantum dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu :
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. Suatu hal tertentu;
4. Suatu sebab yang halal.
Dengan dipenuhinya empat syarat sahnya perjanjian tersebut, maka suatu perjanjian menjadi sah dan mengikat secara hukum bagi para pihak yang membuatnya.
Istilah hukum perjanjian atau kontrak merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu contract law, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut dengan istilah overeenskomsrecht23. Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal24. Dari peristiwa ini, timbullah suatu hubungan anatara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. Dengan demikian perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya. Dalam bentuknya,
22R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata-Burgelijk Wetboek (terjemahan), cetakan 28, Pradnya Paramitha, Jakarta, 1996, hal. 323.
23Salim, H.S, Hukum Kontrak : Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Cetaakan II, Sinar Grafika Jakarta, 2004, hal. 3.
24Subekti, Hukum Perjanjian, Cet. XII, Intermasa, Jakarta, 1990, hal. 1.
perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis.
Perikatan adalah suatu perhubungan hukum anatara dua orang atau dua pihak, berdasarkan yang mana pihak yang satu berhak menunutut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Maka hubungan hukum antara perikatan dan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu menerbitkan perikatan. Perjanjian adalah sumber perikatan. Hubungan hukum adalah hubungan yang menimbulkan akibat hukum. Akibat hukum disebabkan karena timbulnya hak dan kewajiban, dimana hak merupakan suatu kenikmatan, sedangkan kewajiban merupakan beban. Adapun unsur-unsur yang tercantum dalam hukum perjanjian/kontrak dapat dikemukakan sebagai berikut25:
1. Adanya kaidah hukum
Kaidah dalam hukum perjanjian dapat terbagi menjadi dua macam, yakni tertulis dan tidak tertulis. Kaidah hukum perjanjian tertulis adalah kaidah-kaidah hukum yang terdapat di dalam peraturan perundang-undangan, traktat, dan yurisprudensi. Sedangkan kaidah hukum perjanjian tidak tertulis adalah kaidah-kaidah hukum yang timbul, tumbuh, dan hidup dalam masyarakat, seperti: jual beli lepas, jual beli tahunan, dan lain sebagainya. Konsep-konsep hukum ini berasal dari hukum adat.
2. Subyek hukum
Istilah lain dari subjek hukum adalah rechtperson. Rechtperson diartikan sebagai pendukung hak dan kewajiban. Dalam hal ini yang menjadi subjek hukum dalam hukum kontrak adalah kreditur dan debitur. Kreditur adalah orang yang berpiutang, sedangkan debitur adalah orang yang berutang.
25Salim, H.S, Op.cit, hal. 4.
3. Adanya Prestasi
Prestasi adalah apa yang menjadi hak kreditur dan kewajiban debitur. Suatu prestasi umumnya terdiri dari beberapa hal sebagai berikut:
a) memberikan sesuatu;
b) berbuat sesuatu;
c) tidak berbuat sesuatu.
d) Kata sepakat
Di dalam Pasal 1320 KUHPer ditentukan empat syarat sahnya perjanjian seperti dimaksud diatas, dimana salah satunya adalah kata sepakat (konsensus).
Kesepakatan ialah persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak.
5. Akibat hukum
Setiap Perjanjian yang dibuat oleh para pihak akan menimbulkan akibat hukum. Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban.
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa hukum kontrak/perjanjian diatur dalam Buku III KUHPerdata, yang terdiri atas 18 bab dan 631 pasal. Dimulai dari Pasal 1233 sampai dengan Pasal 1864 KUHPerdata. Secara garis besar, perjanjian yang diatur/dikenal di dalam KUHPerdata adalah sebagai berikut: Perjanjian jual beli, tukar-menukar, sewa-menyewa, kerja, persekutuan perdata, perkumpulan, hibah, penitipan barang, pinjam pakai, bunga tetap dan abadi, untung-untungan, pemberian kuasa, penanggung utang dan perdamaian. Dalam teori ilmu hukum, perjanjian- perjanjian diatas disebut dengan perjanjian nominaat. Di luar KUHPer dikenal pula perjanjian lainnya, seperti kontrak joint venture, kontrak production sharing, leasing, franchise, kontrak karya, beli sewa, kontrak rahim, dan lain sebaginya. Perjanjian jenis ini disebut perjanjian innominaat, yakni perjanjian yang timbul, tumbuh, hidup, dan berkembang dalam praktik kehidupan masyarakat. Keberadaan perjanjian baik
nominaat maupun innominaat tidak terlepas dari adanya sistem yang berlaku dalam hukum perjanjian itu sendiri.
1. Sistem Pengaturan Hukum Kontrak.
Sistem pengaturan hukum kontrak adalah sistem terbuka (open system), yang mengandung maksud bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian, baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur di dalam undang-undang. Dalam pasal 1338 ayat (1) secara tegas menegaskan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Jika dianalisa lebih lanjut maka ketentuan pasal tersebut memberikan kebebasan kepada para pihak untuk :
1. membuat atau tidak membuat perjanjian;
2. mengadakan perjanjian dengan siapa pun;
3. menentukan isis perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya, serta 4. menentukan bentuk perjanjiannya apakah tertulis atau lisan.
Ditinjau dalam sejarah perkembangannya, hukum kontrak pada awalnya menganut sistem tertutup. Artinya para pihak terikat pada pengertian yang tercantum dalam undang-undang. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari ajaran legisme yang memandang bahwa tidak ada hukum di luar undang-undang. Hal serupa dapat ditemui dan dibaca dalam berbagai putusan Hoge Raad dari tahun 1910 sampai dengan tahun 191926. Untuk diketahui bahwa putusan Hoge Raad (HR) 1919 tanggal 31 Januari 1919 merupakan putusan yang terpenting. Putusan ini tentang penafsiran perbuatan melawan hukum, yang diatur dalam Pasal 1365 KUHPer. Dalam putusan tersebut, definisi perbuatan melawan hukum, tidak hanya melawan undang-undang saja, tetapi
26Ibid, hal. 8
juga melanggar hak-hak subyektif orang lain, kesusilaan dan ketertiban umum.Menurut HR 1919 yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum adalah berbuat atau tidak berbuat yang :
1. Melanggar hak orang lain; yang diartikan melanggar sebagian hak-hak pribadi seperti integritas tubuh, kebebasan, kehormatan, dan lain-lain. Termasuk dalam hal ini hak-hak absolut sperti hak kebendaan, HKI, dan sebagainya.
2. Bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku; yakni hanya kewajiban yang dirumuskan dalam aturan undang-undang.
3. bertentangan dengan kesusilaan; artinya perbuatan yang dilakukan oleh seseorang itu bertentangan dengan sopan santun yang tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
4. Bertentangan dengan kecermatan yang harus diindahkan dalam masyarakat;
Aturan tentang kecermatan terdiri atas dua kelompok, yakni : a. aturan-aturan yang mencegah orang lain terjerumus dalam bahaya, dan
b. aturan-aturan yang melarang merugikan orang lain ketika hendak menyelenggarakan kepentingannya sendiri.
Putusan HR 1919 tidak lagi terikat kepada ajaran legisme, namun telah secara bebas merumuskan pengertian perbuatan melawan hukum, sebagaimana yang dikemukakan diatas. Dengan demikian, sejak terbitnya putusan HR 1919 maka sistem pengaturan hukum kontrak berubah menjadi sistem terbuka.Jika ditelaah lebih lanjut maka definisi perbuatan melawan hukum yang dimaksud dalam HR 1919 serupa dengan salah satu syarat sahnya perjanjian yang keempat, yaitu suatu sebab yang halal, yang kemudian dikaitkan dengan Pasal 1337 KUHPerdata. Dengan demikian, penafsiran HR terhadap perbuatan melawan hukum itu mengacu kepada Pasal 1337
diatas mengenai suatu sebab yang terlarang, antara lain dilarang UU, berlawanan dengan kesusilaan atau ketertiban umum.
2. Karakteristik Kontrak
Seperti diketahui bersama bahwa Hukum kontrak adalah bagian hukum perdata (privat). Hukum ini memusatkan perhatian pada kewajiban untuk melaksanakan kewajiban sendiri (self imposed obligation). Disebut sebagai bagian dari hukum perdata disebabkan karena pelanggaran terhadap kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam kontrak, murni menjadi urusan pihak-pihak yang berkontrak.
Kontrak, dalam bentuk yang paling klasik, dipandang sebagai ekspresi kebebasan manusia untuk memilih dan mengadakan perjanjian. Kontrak merupakan wujud dari kebebasan (freedom of contract) dan kehendak bebas untuk memilih (freedom of choice)27.
Sejak abad ke-19 prinsip-prinsip itu mengalami perkembangan dan berbagai pergeseran penting. Pergeseran demikian disebabkan oleh: pertama, tumbuhnya bentuk-bentuk kontrak standar; kedua, berkurangnya makna kebebasan memilih dan kehendak para pihak, sebagai akibat meluasnya campur tangan pemerintah dalam kehidupan rakyat; ketiga, masuknya konsumen sebagai pihak dalam berkontrak.
Ketiga faktor ini berhubungan satu sama lain28. Tetapi, prinsip kebebasan berkontrak dan kebebasan untuk memilih tetap dipandang sebagai prinsip dasar pembentukan kontrak.
27Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, cetakan kedua, Liberty, Yogyakarta, 1999, hal. 28.
28Hardijan Rusli, Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law, Cetakan kedua, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996, hal. 16.
3. Asas-asas Hukum Kontrak
Berdasarkan teori, di dalam suatu hukum kontrak terdapat 5 (lima) asas yang dikenal menurut ilmu hukum perdata. Kelima asas itu antara lain adalah: asas kebebasan berkontrak (freedom of contract), asas konsensualisme (concsensualism), asas kepastian hukum (pacta sunt servanda), asas itikad baik (good faith) dan asas kepribadian (personality). Berikut ini adalah penjelasan mengenai asas-asas dimaksud29 :
a. Asas Kebebasan Berkontrak (freedom of contract)
Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPer, yang berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.” Asas ini merupakan suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk 30 :
a. membuat atau tidak membuat perjanjian;
b. mengadakan perjanjian dengan siapa pun;
c. menentukan isis perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya, serta d. menentukan bentuk perjanjiannya apakah tertulis atau lisan.
Pada akhir abad ke-19, akibat desakan paham etis dan sosialis, paham individualisme mulai pudar, terlebih-lebih sejak berakhirnya Perang Dunia II. Paham ini kemudian tidak mencerminkan keadilan. Masyarakat menginginkan pihak yang lemah lebih banyak mendapat perlindungan. Oleh karena itu, kehendak bebas tidak lagi diberi arti mutlak, akan tetapi diberi arti relatif dikaitkan selalu dengan kepentingan umum. Pengaturan substansi kontrak tidak semata-mata dibiarkan kepada para pihak namun perlu juga diawasi. Pemerintah sebagai pengemban kepentingan umum menjaga keseimbangan kepentingan individu dan kepentingan masyarakat.
29 Sudikno Mertokusumo, Op.cit, hal. 12
30Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cet. XXVI, Intermasa, Jakarta, 1994, hal. 11.
Melalui penerobosan hukum kontrak oleh pemerintah maka terjadi pergeseran hukum kontrak ke bidang hukum publik. Oleh karena itu, melalui intervensi pemerintah inilah terjadi pemasyarakatan (vermastchappelijking) hukum kontrak/perjanjian.
b. Asas Konsensualisme (concensualism)
Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUHPer.
Pada pasal tersebut ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian adalah adanya kata kesepakatan antara kedua belah pihak. Asas ini merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, melainkan cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan adalah persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak.Asas konsensualisme muncul diilhami dari hukum Romawi dan hukum Jerman. Didalam hukum Jerman tidak dikenal istilah asas konsensualisme, tetapi lebih dikenal dengan sebutan perjanjian riil dan perjanjian formal. Perjanjian riil adalah suatu perjanjian yang dibuat dan dilaksanakan secara nyata (dalam hukum adat disebut secara kontan).
Sedangkan perjanjian formal adalah suatu perjanjian yang telah ditentukan bentuknya, yaitu tertulis (baik berupa akta otentik maupun akta bawah tangan). Dalam hukum Romawi dikenal istilah contractus verbis literis dan contractus innominat. Yang artinya bahwa terjadinya perjanjian apabila memenuhi bentuk yang telah ditetapkan.
Asas konsensualisme yang dikenal dalam KUHPer adalah berkaitan dengan bentuk perjanjian.
c. Asas Kepastian Hukum (pacta sunt servanda)
Asas kepastian hukum atau disebut juga dengan asas pacta sunt servanda merupakan asas yang berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas pacta sunt servanda merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-
undang. Mereka tidak boleh melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak. Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata. Asas ini pada mulanya dikenal dalam hukum gereja.
Dalam hukum gereja itu disebutkan bahwa terjadinya suatu perjanjian bila ada kesepakatan antar pihak yang melakukannya dan dikuatkan dengan sumpah. Hal ini mengandung makna bahwa setiap perjanjian yang diadakan oleh kedua pihak merupakan perbuatan yang sakral dan dikaitkan dengan unsur keagamaan. Namun, dalam perkembangan selanjutnya asas pacta sunt servanda diberi arti sebagao pactum, yang berarti sepakat yang tidak perlu dikuatkan dengan sumpah dan tindakan formalitas lainnya. Sedangkan istilah nudus pactum sudah cukup dengan kata sepakat saja.
d. Asas Itikad Baik (good faith)
Asas itikad baik tercantum dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata yang berbunyi: “Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.” Asas ini merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh maupun kemauan baik dari para pihak. Asas itikad baik terbagi menjadi dua macam, yakni itikad baik nisbi dan itikad baik mutlak. Pada itikad yang pertama, seseorang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subjek. Pada itikad yang kedua, penilaian terletak pada akal sehat dan keadilan serta dibuat ukuran yang obyektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang objektif.
Sebagai contoh kondisi di Indonesia pada tahun 1997 dimana kondisi negara pada saat itu mengalami krisis moneter dan ekonomi. Pihak perbankan telah mengadakan perubahan suku bunga bank secara sepihak tanpa diberitahu kepada nasabah. Pada saat perjanjian kredit dibuat, disepakati suku bunga bank sebesar 16 %
per tahun, akan tetapi setelah terjadi krisis moneter, suku bunga bank naik menjadi 21-24 % per tahun. Hal ini menandakan bahwa pihak nasabah berada pada pihak yang dirugikan karena kedudukan nasabah berada pada posisi yang lemah (low bargaining posistion). Oleh karena itu, pada masa-masa yang akan datang pihak kreditur harus melaksanakan isi kontrak sesuai dengan yang telah disepakatinya, yang dilandasi pada asas itikad baik.
e. Asas Kepribadian (personality)
Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan/atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUHPerdata. Pasal 1315 KUHPerdata menegaskan: “Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri.” Inti ketentuan ini sudah jelas bahwa untuk mengadakan suatu perjanjian, orang tersebut harus untuk kepentingan dirinya sendiri. Pasal 1340 KUHPerdata berbunyi: “Perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya.” Hal ini mengandung maksud bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya. Namun demikian, ketentuan itu terdapat pengecualiannya sebagaimana diintridusir dalam Pasal 1317 KUHPerdata yang menyatakan: “Dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung suatu syarat semacam itu.” Pasal ini mengkonstruksikan bahwa seseorang dapat mengadakan perjanjian/kontrak untuk kepentingan pihak ketiga, dengan adanya suatu syarat yang ditentukan. Sedangkan di dalam Pasal 1318 KUHPerdata, tidak hanya mengatur perjanjian untuk diri sendiri, melainkan juga untuk kepentingan ahli warisnya dan untuk orang-orang yang memperoleh hak daripadanya. Jika dibandingkan kedua pasal itu maka Pasal 1317
KUHPerdata mengatur tentang perjanjian untuk pihak ketiga, sedangkan dalam Pasal 1318 KUHPerdata untuk kepentingan dirinya sendiri, ahli warisnya dan orang-orang yang memperoleh hak dari yang membuatnya. Dengan demikian, Pasal 1317 KUHPerdata mengatur tentang pengecualiannya, sedangkan Pasal 1318 KUHPer memiliki ruang lingkup yang luas.
4). Asas-asas Hukum Perikatan Nasional
Disamping kelima asas yang telah diuraikan diatas, dalam Lokakarya Hukum Perikatan yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), Departemen Kehakiman RI pada tanggal 17 – 19 Desember 1985 telah berhasil dirumuskannya delapan asas hukum perikatan nasional Kedelapan asas tersebut adalah sebagai berikut 31 :
a. Asas Kepercayaan
Asas kepercayaan mengandung pengertian bahwa setiap orang yang akan mengadakan perjanjian akan memenuhi setiap prestasi yang diadakan diantara mereka dibelakang hari.
b. Asas Persamaan Hukum
Asas persamaan hukum mengandung maksud bahwa subjek hukum yang mengadakan perjanjian mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dalam hukum. Mereka tidak boleh dibeda-bedakan antara satu sama lainnya, walaupun subjek hukum itu berbeda warna kulit, agama, dan ras.
c. Asas Kesimbangan
Asas keseimbangan adalah asas yang menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian. Kreditur mempunyai kekuatan untuk menuntut
31Tim Naskah Akademik BPHN, Lokakarya Hukum Perikatan, Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman RI, Jakarta, 1985, hal. 4.