BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN JUAL-BELI DALAM KUHPERDATA
C. Asas-Asas Perjanjian Jual Beli
3. F.O.B (Free On Boat) / bebas diatas kapal
Maksudnya : penyerahan barang bebas diatas kapal yang disediakan oleh pembeli dipelabuhan Embarkasi, hak milik atau risiko atas barang dilakukan oleh pembeli sejak barang diatas kapal, semua biaya pengangkutan dan biaya muat sampai diatas kapal menjadi tanggung jawab penjual, sebaliknya biaya angkutan sampai ditempat pembeli menjadi tanggungan pembeli.
4. C.I.F (Cost Insurance and Freight)
Ongkos premi asuransi dan biaya angkutan dimaksudkan bahwa semua ongkos dan biaya angkut serta premi asuransi di pelabuhan barang pelabuhan pembongkaran ditanggung oleh penjual, penjual harus mengantarkan barang sampai dipelabuhan pembeli, tetapi peralihan risiko dari penjual kepada pembeli sejak barang diatas kapal, pelabuhan Embarkasi, beralihnya hak milik ada dua kemungkinan :
a. Jika terjadi penjualan barang setelah pemuatan, maka hak milik beralih pada saat penyerahan konosemen (Bill of Lading merupakan surat bukti pengangkutan barang yang berisi daftar barang yang dikirim penjual dan pembeli)
b. Jika tidak terjadi penjualan setelah pemuatan barang diatas kapal, maka hak milik beralih pada saat serah terima barang.
5. C.F (Cost and Freight)
Atau dengan kata lain Ongkos dan biaya angkutan, dimaksudkan : sama dengan CIF, bedanya hanya terletak pada premi asuransi pada saat CF (premi asuransi menjadi tanggung jawab pembeli) pada saat CIF (premi menjadi tanggung jawab penjual).
6. FRANCO (bebas) :
Dimaksudkan : penjual harus menyerahkan barang di gudang pembeli.32 D. Pelaksanaan Suatu Perjanjian Jual Beli
Pelaksanaan suatu perjanjian jual beli dilakukan dengan adanya penyerahan hak milik dari penjual kepada pembeli. Cara penyerahan dan berpindahnya hak milik tergantung pada macam atua jenis benda yang akan diserahkan. Macam-macam benda
32 Hasnil Basri Siregar, Kapita Selekta Hukum Laut Dagang, Kelompok studi Hukum dan Masyarakat, Fak Hukum USU, 1993, hal 82-83s
atau barang yang dimaksud sesuai dengan pengaturan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Kebendaan menurut undang-undang, adalah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasai sebagai hak milik. Di dalam Buku II KUHPerdata tentang kebendaan, diatur tentang cara membedakan kebendaah, yang dapat digolongkan ke dalam tiga macam, yaitu33 :
a. benda bergerak b. benda tidak bergerak c. benda tidak bertubuh.
Cara penyerahan ketiga macam benda tersebut diatur secara berbeda oleh undang-undang sehingga dikenal tiga macam cara penyerahan hak milik sesuai dengan jenis atau macam benda yang diserahkan, yaitu :
1. Apabila itu adalah benda atau barang bergerak, penyerahannya cukup dengan cara menyerahkan kekuasaan atas barang tersebut. Artinya, menyerahkan barang tersebut secara nyata sehingga kepemilikan atas benda itu juga beralih, kecuali penyerahan benda-benda tidak bertubuh.
Menurut undang-undang (Pasal 612 BW), penyerahan kebendaan bergerak kecuali yang tidak bertubuh dilakukan dengan penyerahan yang nyata akan kebendaan itu oleh atau atas nama pemilik, atau dengan penyerahan kunci-kunci dari bangunan, tempat kebendaan itu berada. Dalam hal ini, penyerahan hanya dilakukan secara simbolik yang disebut traditio clavium, yaitu penyerahan kunci karena kepemilikan barang dalam gudang atau warehouse yang harus ditransfer kepada pembeli. Traditio (Latin) artinya penyerahan, yang dalam civil law artinya delivery yaitu transfer of possession.
33Wirjono Prodjodikoro, Op.cit, hal. 51.
Penyerahan tidak perlu dilakukan apabila kebendaan yang harus diserahkan, dengan alasan hak lain, sudah dikuasi oleh orang yang hendak menerimanya. Ini disebut traditio brevi manu, yaitu penyerahan tidak langsung apabila dia yang sudah memegang kepemilikan akan suatu barang atas nama orang lain dan menyetujui sejak itu dia akan memilikinya atas nama sendiri. Dalam hal ini, penyerahan-penyerahan tidak diperlukan.
2. Apabila benda tidak bergerak, pengalihannya dilakukan dengan balik nama berdasarkan ketentuan baru, yaitu UU No. 5 tahun 1960 tentang Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), yang mencabut berlakunya peraturan lama mengenai PP No. 10 tahun 1961 yang merupakan peraturan pelaksana dari UUPA menentukan bahwa jual beli tanah harus dibuktikan dengan suatu akta yang dibuat oleh dan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah atau disingkat PPAT.
3. Apabila barang tidak bertubuh, penyerahkan dilakukan dengan cara cessie yang diatur dalam Pasal 613 BW yang berbunyi sebagai berikut : “ penyerahan piutang-piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya dilakukan dengan jalan membuat sebuah akta otentik atau di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain”.
Penyerahan yang demikian bagi si berutang tiada akibatnya, melainkan setelah penyerahan itu diberitahukan kepadanya, atau secara tertulis disetujui dan diakuinya.
Penyerahan tiap-tiap pituang karena surat bawa dilakukan dengan penyerahan surat itu, penyerahan tiap-tiap piutang karena surat tunjuk dilakukan dengan penyerahan surat disertai dengan endosemen.
Mengenai cara perolehan hak milik tersebut, KUHPerdata atau BW antara lain Pasal 584 menyatakan bahwa : “hak milik atas sesuatu kebendaan tak dapat
diperoleh dengan cara lain, melainkan dengan pemilikan karena perlekatan, karena kadaluarsa, karena pewarisan baik menurut undang-undang maupun menurut surat wasiat, dan karena penunjukan atau penyerahan berdasarkan atas suatu peristiwa perdata untuk memindahkan hak milik, dilakukan oleh seseorang yang berhak berbuat bebas terhadap kebendaan itu”.
Kembali pada perjanjian yang sifatnya obligatoir tadi, yaitu yang baru meletakkan hak dan kewajiban kepada para pihak perlu diikuti dengan melakukan levering atau penyerahan atas barang sehingga hak milik berpindah dari pembeli ke penjual. Dan untuk melakukan levering ini, harus dilakukan oleh orang yang “berhak berbuat bebas atas barang tersebut”. Siapakah orang yang berhak itu. Tidak lain adalah si pemilik barang atau orang yang secara khusus diberi kuasa olehnya. Dengan demikian, dalam setiap pemindahan hak milik yang telah memenuhi ketentuan undang-undang, pengalihannya adalah sah. Namun apabila yang terjadi adalah sebaliknya atau terdapat “cacat hukum” dalam pelaksanaan hak dan kewajibannya, misalnya, orang yang memindahkan hak milik itu ternyata orang yang tidak berhak, penyerahannya pun menjadi batal. Dengan demikian, pemindahan hak milik dianggap tidak pernah terjadi.
Dalam hal ini, terdapat hubungan kausal atau hubungan sebab-akibat antara perjanjian yang sifatnya obligatoir dan levering serta berpindahnya hak milik atas barang.
Contoh permasalahan adalah : A pergi ke toko Xera di Kota yang menjual barang-barang elektronik. Setelah melihat secara seksama, A menetapkan pilihannya untuk membeli sebuah TV merek SONY tipe 21 KD buatan Jepang. Akhirnya tercapai kesepakatan antara A selaku pembeli dan B selaku penjual di toko Xera untuk melangsungkan jual-beli dengan harga dan barang yang telah disepakati bersama.
Barang akan langsung diserahkan oleh B bersamaan dengan pembayaran, sebagaimana telah disepakai akan diangkut sendiri oleh A.
Sementara itu, sebelum pembayaran dan penyerahan barang dilaksanakan, A minta waktu untuk pergi meninggalkan toko dan akan kembali beberapa jam lagi, guna mencari peralatan yang kebetulan tidak dijual di toko Xera. Bersamaan dengan itu, datang C ke toko Xera yang juga hendak membeli sebuah TV, dan terjadi transaksi atas TV yang sama, kemudian berlangsung pembayaran dan penyerahan barang.
Begitu A kembali dan mau melaksanakan transaksi pembayaran, TV yang telah dipilihkan sudah tidak ada lagi. Si penjual berjanjian akan memenuhi kewajibannya, namun perlu waktu beberapa jam dengan alasan barangnya harus diambil ke gudang. Namun, A tidak bisa menerima alasan B tersebut. Ia tidak mau menunggu dan tetap menghendaki TV yang telah dipilihnya dan mengatakan bahwa TV tersebut sudah ditawarkan kepada seorang lain (D) dengan harga yang lebih tinggi serta sudah terjadi kata sepakat.
Sekarang timbul pertanyaan dan persoalan, sebagai berikut :
1. Apakah kesepakatan antara A dan B tersebut sudah merupakan perjanjian jual-beli yang sah dan mengikat ? Mengapa ?
2. Apakah A dalam hal itu dapat menggugat B, sedangkan A sama sekali belum membayar harga barang ?
3. Apakah jual-beli antara B dan C sah ?
4. Apakah A dapat menggugat C yang telah mengambil TV yang telah dipilihnya ? 5. Apakah tindakan A yang menawarkan barang orang lain yang bukan miliknya
kepada D dapat dibenarkan ?
6. Apakah mungkin para pihak terutama B, memenuhi transaksi yang disepakati semula ?
7. Seandainya A telah melakukan pembayaran kepada B, apakah A sudah menjadi pemilik TV tersebut ?
8. Bagaimana seandainya yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu B telah menyerahkan barang atau TV kepada A, tetapi A belum melakukan pembayaran ? Apakah A sudah sebagai pemilik atau belum ?
Jawaban untuk pertanyaan serta penjelasan atas persoalan tersebut dapat diambil dari uraian pada bab sebelumnya, namun secara singkat untuk beberapa hal tertentu akan diulas kembali. Bila perlu dengan menunjuk beberapa beberapa pasal yang sifatnya mendasar.
a). Untuk menyatakan bahwa sah dan tidaknya suatu perjanjian, kita harus mengacu kepada Pasal 1320 KUHPerdata yang menentukan bahwa sahnya suatu perjanjian harus memenuhi syarat subjektif dan syarat objektif yang mencakup empat unsur, sebagaimana telah diuraikan dalam bab sebelumnya. Dalam kasus ini, meskipun antara pihak A selaku pembeli dan B selaku penjual tidak membuat perjanjian tertulis, kesepakatan yang dicapai antar pihak tentang harga dan barang telah memenuhi unsur-unsur jual-beli yang sah. Oleh karena itu, apabila salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya berarti yang bersangkutan telah melakukan wanprestasi atau cedera janji, dan dengan sendirinya C dapat digugat.
b). Mengenai perjanjian atau jual beli antara B dan C adalah sah dan mengikat, bahkan sudah tuntas dilangsungkan karena telah terjadi penyerahan barang, yang berarti kepemilikan atas barang sudah pindah dari B kepada C.
Berkenaan dengan kasus tersebut, Pasal 1458 KUHPerdata berbunyi : “jual beli itu dianggap terjadi antara kedua belah pihak, seketika setelahnya orang-orang ini
mencapai kesepakatan tentang kebendaan tersebut dan harganya, meskipun kebendaan itu belum diserahkan, maupun harganya belum dibayar.
c). Jadi, C dalam hal ini tidak dapat digugat karena ia telah menjadi pemilik sah atas barang tersebut. Mengenai barang bergerak, barang siapa yang menguasainya dianggap sebagai pemiliknya menurut Pasal 1977 ayat (1) BW.
d). Yang mungkin dilakukan oleh A dalam hal ini hanyalah menuntut ganti rugi dari B apabila ternyata B tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk menyerahkan barang yang diperjanjikan. Karena B tidak bisa melever barang, ia telah melakukan wanprestasi.
e). Dalam hal A kemudian menawarkan barang tersebut kepada pihak lain atau D, itu merupakan haknya A. Asalkan saja pada saat A harus menyerahkan barang kepada pihak lain itu, ia sudah menjadi pemilik sah dari barang tersebut. Dengan demikian, A merupakan orang yang berhak berbuat bebas terhadap barang yang diserahkannya. Jika diperhatikan isi Pasal 584 KUHPerdata, yaitu tentang cara memperoleh hak milik.
f). B bisa saja tetap melaksanakan atau memenuhi perjanjian yang telah dibuat dengan A, asalkan B dapat mengadakan barang harus dilever kepada A.
g). Meskipun A telah membayar harga barang dan penyerahan belum dilakukan oleh B, A belum menjadi pemilik dari barang tersebut. Perlu diperhatikan disini adalah pembayaran tidak bisa berfungsi sebagai pengalihan atau pemindahan hak milik secara yuridis. Penyerahan harus terjadi di tempat barang yang terjual berada pada waktu penjualan jika tentang itu tidak telah diadakan persetujuan lain.
h). Sebaliknya apabila A telah menerima penyerahan barang dari B, dengan sendirinya A telah menjadi pemilik dari barang itu. Adapun A belum membayar harganya, itu merupakan utang yang harus dibayar oleh A kepada B. Karena
secara yuridis, transfer of ownership terjadi pada saat diserahka atau levering barang. Namun, sebenarnya penjual tidak diwajibkan menyerahkan barangnya jika pembeli belum membayar harganya.
Demikian pula dalam hal B sudah menyerahkan barangnya. Tetapi kalau A tidak membayar harga pembelian, B dapat menuntut pembatalan pembelian, menurut ketentuan-ketentuan Pasal 1266 dan 1267 BW. Karena A tidak memenuhi perjanjian, B dapat memilih apakah ia, bila hal itu masih dapat dilakukan, akan memaksa A untuk memenuhi perjanjian, ataukah ia akan menuntut pembatalan perjanjian, disertai penggantian biaya, kerugian dan bunga.
Masih berkaitan dengan penyerahan barang adalah tentang cara memperoleh hak milik. Berdasarkan Pasal 584 KUHPerdata, cara-cara memperoleh hak milik atas sesuatu benda adalah pemilikan dengan cara perlekatan (toeeigening) karena kadaluarsa (verjaring), pewarisan (erfopvolging), dan penunjukan (opdragt) atau penyerahan (levering) berdasarkan atas suatu peristiwa perdata (regtstitel) untuk memindahkan hak milik, dilakukan oleh seorang yang berhak berbuat bebas terhadap benda itu.
Yang dimaksud dengan penyerahan adalah suatu pemindahan barang yang telah dijual dalam kekuasaan dan milik si pembeli (Pasal 1475 KUHPerdata).
Mengenai biaya penyerahan barang dipikul oleh si penjual, sedangkan biaya pengambilan dipikul oleh si pembeli apabila tidak diperjanjian sebaliknya (Pasal 1476 KUHPerdata).
Demikian pula mengenai penyerahan, harus terjadi di tempat dimana barang yang terjual berada pada waktu penjualan apabila mengenai ha litu tidak diadakan persetujuan lain (Pasal 1477 KUHPerdata).
Kewajiban menyerahkan barang menurut Pasal 1482 KUHPerdata mencakup segala sesuatu yang menjadi kelengkapannya serta dimaksudkan bagi pemakaiannya yang tetap, beserta surat-surat bukti kepemilikan apabila ada. Misalnya dalam hal jual beli tanah, berikut sertifikat tanahnya. Dalam hal kendaraan bermotor, berikut surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan surat buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB).
Dalam hal bangunan, berikut sertifikat hak milik atau surat hak guna bangunan (HGB), izin mendirikan bangunan (IMB), dan izin penggunaan bangunan (IPB).
Selanjutnya kewajiban utama penjual adalah menyerahkan barangnya dan menanggungnya (Pasal 1474 KUHPerdata), seperti yang telah disinggung di atas.
Sedangkan yang dimaksud dengan penanggungan atau vrijwaring adalah keadaan dimana penjual menanggung penguasaan barang yang dijual secara aman dan tentram, serta menanggung cacat tersembunyi atas barang yang dijualnya, agar dapat dipergunakan untuk keperluan yang dimaksudkan, tanpa mengurangi fungsi pemakaiannya. Penjual tidak wajib menanggung terhadap cacat yang kelihatan.
Apabila penjual mengetahui adanya cacat pada barang yang dijual, ia hanya wajib mengembalikan harga yang telah dibayarkan oleh pembeli, atau mengganti pengeluaran pembeli dalam penyelenggaraan pembelian.
Selanjutnya kewajiban pembeli, adalah :
a. Membayar harga barang, pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan dalam perjanjian.
b. Apabila hal itu tidak diperjanjikan, pembayaran dilakukan pada saat penyerahan barang.
Berdasarkan asas yang dianut, yaitu hukum perjanjian sebagai hukum pelengkap atau optional law (aanvullendrecht), para pihak diperbolehkan dengan janji
khusus, memperluas atau mengurangi kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh undang-undang untuk para pihak, penjual dan atau pembeli.
Sebagai contoh, para pihak mengadakan perjanjian bahwa penjual tidak akan diwajibkan untuk menanggung sesuatu apa pun. Bisa saja diperjanjikan seperti itu, namun dengan pembatasan sebagai berikut :
1). Penjual tetap bertanggung jawab terhadap akibat dari suatu perbuatan yang telah dilakukan olehnya.
2). Bila terjadi penghukuman terhadap pembeli untuk menyerahkan barangnya kepada orang lain, penjual diwajibkan mengembalikan harga pembelian. Kecuali saat pembelian dilakukan, pembeli mengetahui adanya putusan hakim untuk menyerahkan barang yang dibelinya itu (Pasal 1495 KUHPerdata).
Selanjutnya pembeli berhak menuntut kembali dari si penjual, sebagai berikut :
(a). pengembalian uang harga pembelian.
(b). pengembalian hasil-hasil.
(c). biaya berkenaan dengan gugatan.
(d). ganti rugi serta biaya perkara.
Selanjutnya masalah yang cukup penting yang perlu disinggung berkenaan dengan jual beli adalah mengenai resiko dalam jual beli. Risiko adalah tanggung jawab untuk memikul kerusakan dan kerugian yang diakibatkan suatu kejadian yang bukan merupakan kesalahan salah satu pihak.
Sebagaimana diketahui, terdapat beberapa kejanggalan atau rasa keadilan terabaikan apabila mencermati bunyi beberapa pasal yang mengatur mengenai risiko dalam jual beli. Misalnya Pasal 1460 BW yang mengatur risiko mengenai barang tertentu, Pasal 1461 mengenai barang yang dijual menurut berat, jumlah, atau ukuran,
dan Pasal 1462 mengenai barang-barang yang dijual menurut tumpukan. Menerapkan atau mengikuti apa yang diatur pasal-pasal tersebut akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan atau protes karena dianggap kurang tepat bahkan dianggap tidak adil dalam pelaksanaannya.
Keadaan yang meragukan seperti itu akhirnya teratasi dan tertanggulangi dengan keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. 3 tahun 1963 tanggal 14 Agustus 1963 antara lain menyatakan beberapa pasal BW tidak berlaku lagi, juga termasuk Pasal 1460 BW yang mengatur bahwa apabila barang yang dijual berupa barang yang sudah ditentukan sejak saat pembelian, menjadi tanggungan pembeli, meskipun barang belum diserahkan, dan penjual berhak menuntut harganya. Apabila hal tersebut dilaksanakan, akan menghasilkan penerapan yang kurang mengindahkan rasa keadilan di masyarakat.
Jadi, selama barang belum diserahkan atau dilever (tanpa membedakan jenis barangnya), risiko masih merupakan beban atau dipikul oleh penjual yang masih sebagai pemilik sah, sampai saat barang tersebut secara sah diserahkan kepada pembeli, yang berarti kepemilikannya pun telah beralih atau pindah kepada pembeli (transfer of ownership). Dengan diserahkannya barang tersebut oleh penjual kepada pembeli, barulah risiko atas barang berpindah atau beralih dari penjual kepada pembeli.
BAB III
TINJAUAN UMUM MENGENAI PRINSIP-PRINSIP PERDAGANGAN