• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

10. Bentuk Strategi Kepemimpinan Kepala Madrasah

Dalam suatu kelompok atau organisasi terdapat tujuan yang ingin di capai secara bersama. Bagi seorang pimpinan dalam memimpin dan mencapai tujuan sebuah organisasi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena pada intinya kepemimpinan adalah proses memengaruhi, mendorong, mengajak, dan menggerakan serta menuntun orang lain dalam proses kerja agar berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku dalam mencapai tujuan yang telah ditatapkan (Andang, 2014:39). Seorang pemimpin harus mampu mempengaruhi, mendorong, mengajak dan menggerakkan serta menuntun orang lain agar mau bekerja, berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku agar tujuan yang diinginkan tercapai secara efektif tentu harus ada caranya. Cara ini sering juga diistilahkan orang dengan strategi.

Strategi merupakan kunci kesuksesan sebuah organisasi dalam mencapai tujuan. Tanpa adanya strategi maka program tidak akan berjalan. Strategi merupakan langkah awal yang harus dimiliki oleh seorang peminpin dalam mencapai tujuan. Sehebat apapun seorang pimpinan jika tidak memiliki strategi yang tepat maka program tidak ada artinya dan tujuan tidak akan terwujud. Kepemimpinan tidak hanya mengandalkan kemampuannya sendiri tetapi dia juga harus punya strategi dalam memimpin.

Rochaety (2010) mengemukakan strategi adalah satu kesatuan rencana organisasi yang komprehensif dan terpadu yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan adanya strategi, maka suatu organisasi akan dapat memperoleh kedudukan atau posisi yang kuat dalam wilayah kerjanya. Hal ini disebabkan karena organisasi tersebut mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik dalam melakukan pendekatan bagi pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan dalam wilayah kerja yang dilayaninya. Lebih lanjut menurut

Mulyasa (2012: 66) strategi berkaitan dengan pengambilan keputusan untuk menetapkan arah organisasi yang ingin dicapai.

Strategi adalah sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan akhir dari suatu organisasi, namun strategi bukanlah sekedar suatu rencana, melainkan adalah rencana yang menyatukan. Strategi mengikat semua bagian yang ada dalam organisasi menjadi satu, sehingga strategi meliputi semua aspek penting dalam suatu organisasi, strategi itu terpadu dari semua bagian rencana yang harus serasi satu sama lain dan berkesesuaian. Oleh karena itu penentuan strategi membutuhkan tingkatan komitmen dari suatu organisasi, di mana tim organisasi tersebut bertanggung jawab dalam memajukan strategi yang mengacu pada hasil atau tujuan akhir. Dengan demikian dapat dipahami bahwa strategi kepemimpinan pendidikan merupakan kegiatan mengambil keputusan atau merancangkan tindakantindakan strategis untuk mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Seorang kepala Madrasah adalah pimpinan pengajar. Tugasnya adalah melaksanakan dan mengawasi aktivitas madrasah dengan menyusun tujuan, memelihara disiplin dan mengevaluasi hasil pembelajaran dan pengajaran yang dicapai. Pada saat ini kepala madrasah di dorong untuk menjadi pimpinan yang memudahkan personil madrasah dengan membangun kerjasama, menciptakan jaringan kerja dan mengatur semua komponen dengan komunikasi yang baik. Ada sebagian pendapat menyebutkan bahwa hal tersebut adalah gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan ada tiga, yaitu: karismatik, transaksional dan transformasioanl.

Sebagian ahli menggunakan istilah strategi kepemimpinan. Intinya adalah pilihan terhadap pemikiran dan perilaku kepala madrasah dalam mempengaruhi staf, para guru, personil dan murid-murid sekolahnya. Saat ini kepala sekolah meiliki sekurang-kurangnya tiga strategi luas, yaitu:

a. Strategi Hirarki

Strategi hirarki memberikan cara pandang luas, cara penerimaan luas dalam mengelola organisasi, menyampaikan janji efesiensi, pengawasan dan rutinitas yang direncanakan. Bagaimana strategi hirarki cenderung untuk menghambat kreativitas dan komitmen, mengembalikan hubungan pegawai madrasah ke dalam suatu keteraturan yang ketat.

b. Strategi Transformasional

Strategi Transformasional memiliki kapasitas untuk memotivasi dan memberikan informasi kepada anggota. Khususnya bila organisasi menghadapi dan melakuakan perubahan utama. Mereka memberikan suatu pengertian akan tujuan dan makna bahwa pimpinan dapat menyatukan personilnya dalam suatu tindakan bersama untuk kemajuan. Di sisi lain strategi transformasional sukar, karena itu sejak awal mereka memerlukan pengembangan keterampilan intelektual yang tinggi.

Bass dan Avolio (1994) yang mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai “the four I’s”

1) Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati dan sekaligus mempercayainya. 2) Dimensi yang kedua disebut sebagai insiparisonal motivation

(motivasi inspirasi). Dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan, mendemostrasikan komitmennya terhadao seluruh tujuan organisasi, dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimism.

3) Dimensi yang ketiga disebut intellectual stimulation (stimulasi intelektual). Pemimpin transfomasikan harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan, dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatan-pendakatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi.

4) Dimensi yang terakhir disebut sebagai invidualized consideration (konsiderasi individu). Dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatiakan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan. (Yulmawati, Jurnal MKSP, 2, Juli 2016: 111-112)

c. Strategi Fasilitatif

Strategi Fasilitas sebagai suatu perilaku yang menggunakan kemampuan kebersamaan dari madrasah untuk beradaptasi, memecahkan masalah dan peningakatan kinerja. Tindakan kepala madrasah menggunakan strategi fasilitatif bila mereka menangani hambatan sumber daya, membangun tim kerja memberikan umpan balik, koordinasi, manajemen konflik, menciptakan jaringan komunikasi melaksanakan kerjasama politik dan sebagai model dalam visi madrasah. Strategi fasilitas menciptakan suatu peran baru kepemimpinan untuk memudahkan pegawai dalam menjalankan pekerjaannya, terutama melalui hubungan kerjasama baik fasilitatif mengambil waktu untuk mencapai kepuasan kerja administrative dan menciptakan sumber daya yang ada. (Syafaruddin dan Asrul, 2013:145-149)

Strategi fasilitatif ini akan dapat dilaksanakan dengan tepat jika di perhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Strategi fasilitatif ini dapat digunakan dengan tepat jika sasaran perubahan:

a) Mengenal masalah yang dihadapi serta menyadari perlunya mencari target perubahan (tujuan).

b) Merasa perlu adanya perubahan atau perbaikan. c) Bersedia menerima bantuan dari dalam dirinya.

d) Memiliki keamuan untuk berpastisipasi dalam usaha merubah atau memperbaiki dirinya.

2) Sebaiknya strategi fasilitatif dilaksanakan dengan disertai program menimbulkan kesadaran pada diri pemimpin atas tersedianya fasilitas atau tenaga bantuan yang diperlukan. 3) Startegi fasilitatif tepat juga digunakan sebagai kompensasi

motivasi yang rendah terhadap perubahan sosial.

4) Menyediakan berabagai fasilitas akan sangat bermanfaat bagi usaha perbaikan sosial jika pemimpin menghendaki berbagai macam kebutuhan untuk memenuhi tuntutan perubahan sesuai yang diharapkan.

5) Penggunaan strategi fasilitatif dapat juga dengan cara menciptakan peran yang baru dalam masyarakat jika ternyata peran yang sudah ada di masyarakat tidak sesuai dengan penggunaan sumber atau fasilitas yang diperlukan.

Dokumen terkait