• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENTUK SUBJUNGTIF

Dalam dokumen FUNDAMENTAL TATABAHASA ARAB (Halaman 44-0)

BAB 6 KATA KERJA

6.5 BENTUK KONDISIONAL

6.5.1 BENTUK SUBJUNGTIF

Bentuk subjungtif merupakan modifikasi dari kata kerja kini, dimana pada bentuk tunggal, vokal akhir berupa a , sedangkan pada bentuk jamak, abjad

[nun] pada akhiran

ﻦﻮ

~

diganti menjadi

ا

:

اﻮ ~

. Bentuk subjungtif dikenal sebagai bentuk nashab dari kata kerja. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat perbandingan kata kerja kini dan bentuk subjungtif-nya pada tabel 6.7.

jenis pelaku kata kerja kini bentuk subjungtif

ﺎﻥا

[ana]

بﺘﻜأ ُ

[aktubu]

بﺘﻜأ َ

[aktuba]

ﺖﻥا

َ

[anta]

بﺘﻜﺕ ُ

[taktubu]

بﺘﻜﺘ َ

[taktuba]

ﺖﻥا

ِ

[anti]

ﻦﻴﺑﺘﻜﺘ

[taktubīna]

ﻰﺑﺘﻜﺘ

[taktubī]

ﻢﺘﻥا

[antum]

ﻦﻮﺑﺘﻜﺘ

[taktubūna]

اﻮﺑﺘﻜﺘ

[taktubū]

ﻦﺘﻥا

[antunna]

ﻦﺑﺘﻜﺘ

[taktubna]

ﻦﺑﺘﻜﺘ

[taktubna]

ﻦﺤﻥ

[nahnu]

بﺘﻜﻨ ُ

[naktubu]

بﺘﻜﻨ َ

[naktuba]

ﻮه

[Huwa]

بﺘﻜﻴ ُ

[yaktubu]

بﺘﻜﻴ َ

[yaktuba]

ﻲه

[Hiya]

بﺘﻜﺘ ُ

[taktubu]

بﺘﻜﺘ َ

[taktuba]

ﻢه

[Hum]

ﻦﻮﺑﺘﻜﻴ

[yaktubūna]

اﻮﺑﺘﻜﻴ

[yaktubū]

ﻦه

[Hunna]

ﻦﺑﺘﻜﻴ

[yaktubna]

ﻦﺑﺘﻜﻴ

[yaktubna]

Tabel 6.7 Kata kerja kini dan bentuk subjungtifnya

Dilihat posisinya dalam kalimat, bentuk subjungtif ini memiliki beberapa fungsi berikut:

1. subyek Contoh:

ƒ

ﺎﻂﺥ ﻞآ ﻰﻝﻋ ﻪﺒﻗﺎﻌﺕ نأ لﺪﻌﻝا ﻦﻡ ﻰﺴﻴﻝ

[laysa min

al-‘ad-li an tu’āqibaHu ‘ala kulli khathā] Tidak adil menimpakan semua kesalahan kepadanya 2. obyek dari kata kerja

Contoh:

ƒ

بﺎﺘآﻝا ﻰﻨﻴﻄﺌی نأ ﺾﻓر

[rafadla an yu’thiyani al-kitāba] Dia lk. menolak memberikan kitab kepadaku

3. anak kalimat Contoh:

ƒ

مﺮﺠﻤﻝا درﺎﻄﻥ نأ ﺎﻨﺒﺝاو ﻦﻡ ﻰﺴﻴﻝ

[laysa min wājibinā an nuthārida al-mujrima] Bukan kewajiban kita menghukum orang bersalah 4. kata kerja setelah kata kerja bantu

Contoh:

ƒ

مﻮﻴﻝا ﻢﻜﻌﻡ ىﺮﺝأ نأ ﻊﻴﻄﺘﺴأﻻ

[lā astathī’u an ajriya ma’akum al-yauma] Saya tidak bisa lari dengan Anda hari ini

ƒ

نﺎﺤﺘﻡﻹا ﻰﻓ ﻰﺤﺠﻨﺘﻝ ىﺮآﺬﺕ نأ ﻚﻴﻠﻋ

[‘alaiki an tudzakirī li tanjahî fî al-imtihân] Anda pr.

seharusnya belajar agar lulus ujian 6.5.2 BENTUK JUSSIF

Sebagaimana subjungtif, bentuk jussif (jazm) merupakan kata kerja kini yang telah dimodifikasi, pada bentuk tunggal, vokal

akhir menjadi tanpa vokal (sukun), pada bentuk jamak abjad ﻦ [nun] pada imbuhan ﻦﻮ - dihilangkan.

jenis pelaku kata kerja kini bentuk subjungtif

ﺎﻥا

[ana]

بﺘﻜأ ُ

[aktubu]

بﺘﻜأ ْ

[aktub]

ﺖﻥا

َ

[anta]

بﺘﻜﺕ ُ

[taktubu]

بﺘﻜﺘ ْ

[taktub]

ﺖﻥا

ِ

[anti]

ﻦﻴﺑﺘﻜﺘ

[taktubīna]

ﻰﺑﺘﻜﺘ

[taktubī]

ﻢﺘﻥا

[antum]

ﻦﻮﺑﺘﻜﺘ

[taktubūna]

اﻮﺑﺘﻜﺘ

[taktubū]

ﻦﺘﻥا

[antunna]

ﻦﺑﺘﻜﺘ

[taktubna]

ﻦﺑﺘﻜﺘ

[taktubna]

ﻦﺤﻥ

[nahnu]

بﺘﻜﻨ ُ

[naktubu]

بﺘﻜﻨ ْ

[naktub]

ﻮه

[Huwa]

بﺘﻜﻴ ُ

[yaktubu]

بﺘﻜﻴ ْ

[yaktub]

ﻲه

[Hiya]

بﺘﻜﺘ ُ

[taktubu]

بﺘﻜﺘ ْ

[taktub]

ﻢه

[Hum]

ﻦﻮﺑﺘﻜﻴ

[yaktubūna]

اﻮﺑﺘﻜﻴ

[yaktubū]

ﻦه

[Hunna]

ﻦﺑﺘﻜﻴ

[yaktubna]

ﻦﺑﺘﻜﻴ

[yaktubna]

Tabel 6.8 Kata kerja kini dan bentuk jussif-nya

Bentuk jussif biasanya digunakan dalam beberapa kasus berikut ini:

1. larangan

Jussif diletakkan setelah partikel negatif ﻻ [lā] (jangan) untuk membentuk kalimat larangan

Contoh:

ƒ

ﺔﻴﻝﺎﻌﻝا ةﺮﺠﺴﻝا ﻩﺬه اﻮﻘﻠﺴﺘﺕنأ اﻮﻝوﺎﺡﺕ ﻻ

[lā tuhāwilū an tatasallaqū HādziHi asy-syajarata al-‘āliyati]

Jangan mencoba memanjat pohon tinggi ini 2. ajakan

Jussif diletakkan setelah partikel ~

ﻝﻓ

[fal] atau ~

[li]

yang berarti marilah!

Contoh:

ƒ

لﻮﺒﻄﻝا عﺮﻗ ﻦﻋ اﻮﻌﻨﺘﻤی نأ ﺎﻨﻥاﺮﻴﺝ ﻰﻠإ ﺐهﺬﻨﻠﻓ

[falnadzhab ilā jīrāninā an namtani’ū ‘an qar’i ath-thubūli]. Marilah kita pergi ke tetangga kita untuk melarang memukul drum

3. menegatifkan kata kerja lampau

Jussif diletakkan setelah partikel negatif

ﻢﻝ

[lam] untuk menegasikan kata kerja lampau (bahasa Inggris: didn’t) Contoh:

ƒ

ﻰﺴآﺎﺕ ﻰﻠﻋﺮﺜﻌﺕ ﻢﻝ ﺎﻬﻥﻷ ﻰﺘﻤﻋ تﺮﺥﺄﺕ

[taākhkharat

‘ammatī li annahā lam ta’atstsar ‘alā tākuysī].

Bibiku telah terlambat karena dia <telah>

tidak menemukan taksi 4. perintah

Jussif juga digunakan untuk membuat bentuk perintah dengan sedikit perubahan pada awalannya.

Ada dua kasus dalam hal ini, yakni:

a. Apabila jussif memiliki ُ

-

[sukun] pada abjad pertama kata akarnya, maka awalan ~

[ta-]

digantikan oleh abjad

ا

. Pada contoh pertama berikut, abjad pertama

ش

pada

بﺮﺸﺕ

[tasyrab]

dalam keadaan sukun.

Contoh:

ƒ

بﺮﺸﺕ

[tasyrab] (Anda lk. minum) menjadi

بﺮﺷإ

[isyrab] (Minumlah!)

ƒ

ﻰﺒهﺬﺕ

[tadzHabī] (Anda pr. pergi) menjadi

ﻰﺒهذإ

[idzhabī] (Pergilah!)

b. Apabila jussif memiliki vokal pada abjad pertama kata akarnya, maka awalan ~

[ta-] dihilangkan.

Pada contoh pertama berikut, abjad pertama ذ [dza] pada

ﺮآﺬﺘﺕ

[tatadzakkara] bervokal a.

Contoh:

ƒ

ﺮآﺬﺘﺕ

[tatadzakkara] (Anda ingat) menjadi

ﺮآﺬﺕ

[tadzakkar] (Ingat!)

ƒ

نوﺎﻌﺘﺕ

[tata’āwanū] (Kalian bekerjasama) menjadi

نوﺎﻌﺕ

[ta’āwanū] (Bekerjasamalah!) 5. Kalimat kondisional, didahului oleh

نإ

[in] (jika)

Contoh:

ƒ

اﻮﺒﻴﺠﻴ ﻢهﻮﻠﺄﺴﺘ نإ

[in tas’alūHum yujībū]

Apabila kalian bertanya, maka mereka akan menjawab

Pola pembentukan bentuk dual kata kerja, termasuk bentuk subjungtif dan jussif dapat dilihat pada tabel 6.9.

dual bentuk

lampau bentuk kini subjungtif jussif

ﺎﻤﺘﻥا

kanadā ba’da al-harbi] Dua keluarga telah pindah ke Kanada setelah perang

6.7 MERUBAH KATA KERJA MENJADI KATA BENDA Pada bagian sebelumnya kita telah membahas berbagai bentuk turunan dari kata akar. Pada bagian ini kita akan mempelajari proses perubahan kata kerja menjadi kata benda. Kata benda tersebut berupa kata benda abstrak (verbal noun), kata benda pelaku (verbal person), kata benda tempat (verbal place) dan kata benda alat (verbal tool)

6.7.1 KATA BENDA ABSTRAK

Dalam bahasa Inggris, kita membentuk kata benda abstrak dari kata kerja dengan menambahkan imbuhan akhir, seperti -tion, -ing, atau -ment (misal: informa-tion, swimming, treatment), atau dalam bahasa Indonesia, kita menggunakan imbuhan pe-an (misal: penerappe-an, perlakupe-an). Bahasa Arab memiliki fenomena serupa dengan menerapkan beberapa pola baku yang merubah kata akar (kata kerja) menjadi kata benda.

Kata benda abstrak bisa diperoleh dengan sekitar 44 pola pembentukan. Lima diantaranya yang paling sering dipakai adalah [Wright88]:

1.

ﻞﻌﻓ

[fa’lun]: untuk kata kerja transitif (yang berobyek) berpola

ﻞﻌﻓ

[fa’ala] dan

ﻞﻌﻓ

[fa’ila]

2.

ﻞﻌﻓ

[fa’alun]: untuk kata kerja intransitif (yang tidak perlu obyek) berpola

ﻞﻌﻓ

[fa’ila]

Contoh:

ƒ

ﻞﻤﻋ

[’amalun] (pekerjaan) dari

ﻞﻤﻋ

[’amila]

(bekerja)

ƒ

حﺮﻓ

[farahun] (kebahagiaan) dari

حﺮﻓ

[fariha]

(merasa bahagia)

3.

ﺔﻠﺎﻌﻓ

[fa’ālatun]: untuk kata kerja kerja intransitif berpola

ﻞﻌﻓ

[fa’ula]

Contoh:

ƒ

ةﻮاﺮﺴ

[sarāwatun] (keramahan) dari

ﻮﺮﺱ

[saruwa] (berprilaku ramah)

4.

ﻞﻮﻌﻓ

[fu’ūlun]: untuk kata kerja intransitif berpola

ﻞﻌﻓ

Beberapa pola pembentukan kata benda lainnya bisa dilihat pada tabel 6.10.

bepergian

ﻞﺡﺮ

[rahala]

pergi Tabel 6.10 Pembentukan kata benda abstrak dari kata akar Selain itu kita bisa memperoleh kata benda dari bentuk turunan, seperti yang terlihat pada tabel 6.11 berikut.

bentuk

turunan kata kerja

turunan kata benda

abstrak

(menghormati)

ماﺮﺘﺡإ

[ihtirāmun]

(penghormatan) X

ﻦﺴﺡﺘﺱا

[istahsana]

(mengagumi)

نﺎﺴﺤﺘﺱإ

[istihsānun]

(kekaguman) Tabel 6.11 Pembentukan kata benda abstrak dari bentuk

turunan

6.7.2 KATA BENDA PELAKU

Kata benda pelaku bisa dibentuk dengan memakai pola-pola berikut.

Apabila pelakunya bergender pr., maka kita tinggal menambahkan akhiran

ة

.

Contoh:

ƒ

ﺔﺒﺕﺎآ

[kātibatun] penulis pr.

Kata benda pelaku bisa juga diperoleh dari bentuk turunan, baik yang pasif maupun yang aktif. Keduanya memiliki pola yang hampir sama. Perbedaannya terletak pada vokal tengah, dimana pelaku aktif bervokal tengah i, sedangkan pelaku pasif bervokal tengah a, seperti yang terlihat pada tabel 6.12 berikut ini.

bentuk turunan

bentuk aktif bentuk pasif II

ﺶ ﺘﻔﻡ ﱢ

[mufattisyu] Tabel 6.12 Pembentukan kata benda pelaku aktif dan pasif

dari bentuk turunan

Contoh kalimat:

ƒ

ﻦﻴﻓﺮﺘﺤﻤﻝا ﻦﻡ اﻮﻥﺎآ ﻚﻨﺒﻝا اﻮﻗرﺎﺱ

[sāriqū bank kānū min al-muhtarifīni] Para pencuri bank itu termasuk

profesional)

Pola

ﻞﻋﺎﻓ

[fā’ilun] dan

ﻞﻌﻔﻡ

[maf’ulun] sering dipakai juga untuk membentuk kata benda lainnya atau kata sifat.

Contoh:

ƒ kata benda:

ﺐﺕار

[rātibun] (gaji),

بﻮﺮﺸﻡ

[masyrūbun]

(minuman)

ƒ kata sifat:

ﻞﻐﺸﻡ

[masygulun] (sibuk) 6.7.3 KATA BENDA TEMPAT DAN ALAT

Kita bisa membentuk kata benda tempat dan alat dari kata kerja dengan pola tertentu. Kata benda tempat adalah kata yang menunjukkan lokasi, tempat dilakukannya pekerjaan yang disebutkan dalam kata akarnya, sedangkan kata benda alat menunjukkan peralatan yang dipakai untuk pekerjaan yang disebutkan kata akarnya.

Kata benda tempat memiliki pola-pola berikut:

ﻞ ﻌﻔﻡ َ

[maf’alun],

ﻌﻔﻡ

ِ

[maf’ilun] dan

ﺔﻝﻌﻔﻡ

[maf’alatun]

Contoh:

ƒ

ﺔﺱرﺪﻡ

[madrasatun] (sekolah, tempat belajar) dari

سرد

[darasa] (belajar)

Kata benda alat memiliki pola-pola berikut:

ﻞﻌﻔﻡ

[mif’alun],

لﺎﻌﻔﻡ

[mif’ālun] dan

ﺔﻝﻌﻔﻡ

[mif’alatun].

Contoh:

ƒ

ﺢﺘﻔﻡ

[miftahun] (kunci, alat untuk membuka) dari

ﺢﺘﻓ

[fataha] (membuka)

6.8 KATA KERJA BANTU

Kata kerja bantu merupakan kata kerja yang digunakan memberikan nuansa tertentu pada kalimat berupa:

1. waktu, dengan pola kata kerja bantu berikut diikuti kata kerja bentuk kini

رﺎﺹ

[shāra],

ﺢﺒﺹا

[ashbaha],

ﻰﺱﻡا

[amsā],

دﺎﻏ

[ghadā],

حار

[rāha],

مﺎﻗ

[qāma] (mulai/menjadi)

ﺬﺥأ

[akhadza],

أﺪﺑ

[badā],

عﺮﺷ

[syara’a] (mulai)

ﻞﺽ

ّ [dhalla],

ﻰﻘﺑ

[baqiya],

تﺎﺑ

[bāta] (masih)

لزﺎﻡ

[māzāla],

لاﺰیﻻ

[lā yazālu],

لﺰی ﻢﻝ

[lam yazal]

(masih/selalu)

مادﺎﻡ

[mādāma] (selama)

دﺎآ

[kāda] (hampir) Contoh:

ƒ

نﻮﻝدﺎﺠﺘی اوﺬﺥا ﺲﻠﺠﻡ ﻰﻓ

[fī majlisi akhadzū yatajādalūn] Dalam pertemuan mereka mulai berdebat

2. kemampuan, dengan pola-pola berikut:

عﺎﻄﺘﺱا

[istathā’u] +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

ﺎﻄﺥ نوﺪﺑ ﺔﺒﻌﺼﻝا ﺔﻠﻤﺠﻝا ﺐﺘﻜی نأ ﺐﻝﺎﻄﻝا عﺎﻄﺘﺱا

[istathā’u ath-thālibu an yaktuba al-jumlata ash-shu’bati bi dūna khathā] Pelajar itu telah berhasil menulis kalimat sulit tanpa kesalahan

عﺎﻄﺘﺱا

[istathā’u] + mashdar Contoh:

ƒ

؟ﻰﺴﻡ ةﺮﺷﺎﻌﻝا ﻞﺒﻗ ﺎﻨﻴﻝإ ةﺪﻮﻌﻝا ﻦﻴﻌﻴﻄﺘﺴﺕ ﻞه

[Hal tastathī’īnu al-‘audatu ilainā qabla al-‘āsyirah masā?] Apakah kalian pr. bisa kembali ke sini sebelum jam sepuluh malam?

3. keinginan, dengan pola-pola berikut

ﺐﺡا

[ahabb] +

نأ

[an ] Contoh:

ƒ

؟ ةﻮﻬﻗ ﻦﻡ نﺎﺠﻨﻓ بﺮﺸﺕ نأ ﺐﺤﺕ ﻞه

[hal tuhibbu an tasyraba finjānā minal qaHwah?] Apakah Anda ingin minum secangkir kopi?

ﺐﺡا

[ahabb] + mashdar Contoh:

ƒ

؟ ةﻮﻬﻗ ﻦﻡ نﺎﺠﻨﻓ بﺮﺸ ﺐﺤﺕ ﻞه

[Hal tuhibbu syurb finjāni min al-qaHwah?] Apakah Anda ingin minum secangkir kopi?

ﺐﺠﻌی

[yu’jibu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

ﻰﺘﺱرﺪﻡ ﻰﻝإ ﺐهﺬﺕ نأ ﻚﺒﺠﻌی

[yu’jibuka an tadzHaba ilā madrasātī] Anda ingin pergi ke sekolahku

4. keharusan

ﺐﺝو

[wajab] +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

نﻵا ةرﺎﻴﺴﻝا ﺐآﺮﺕ نأ ﺐﺠی

[yajib an tarkabū as-sayyārata al-ān] Anda harus

mengendarai mobil sekarang

ﻰﻠﻋ

[‘alā] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

اﺪﻴﺝ ﺲﺉاﺮﻝا بﺎﻄﺥ اﻮﻤﻬﻔﺕ نأ ﻢﻜﻴﻠﻋ

[’alaikum an tafHamū khithāba ar-rāis jayyidan] Anda harus memahami wakil presiden sebaik-baiknya

ﻰﻐﺒﻥا

[inbagha] +

نأ

[an], tingkat keharusannya lebih lemah daripada

ﺐﺝو

[wajaba]

Contoh:

ƒ

ﺾیﺮﻡ ﻪﻥﻷ ﺐﺘﻜﻤﻝا ﻰﻝإ ﺐهﺬی ﻻ نأ ﻰﻐﺒﻨی

[yanbagī an lā yadzHaba ilā al-maktabi li-annaHu marīdl] Dia lk. tidak harus pergi ke kantor dikarenakan sakit

5. kebolehan

زﺎﺝ

[jāz] + partikel

[li] + kata benda +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

ﻞﻤﻌﻤﻝا سﺉار ﺐﺘﻜﻡ ﻰﻝإ اﻮﻠﺥﺪی نأ ﻦﻴﺱﺪﻨﻬﻤﻝ زﻮﺠی ﻰﺘﻗو ىا ﻰﻓ

[yajūzu li al-muHandisīna an yadkhulū ilā maktabi rāisi al-ma’mali fī ayyi waqtī] Para insinyur lk. boleh memasuki kantor direktur perusahaan setiap saat 6. pengharapan

ﻰﻨﻤﺕ

[tamannā] + partikel ﻞ [li] + kata ganti kepunyaan

Contoh:

ƒ

زﺎﻬﺝﻝﺎﺑ اروﺮﺴﻡ نﻮﻜی نأ ﻪﻝ ﻰﻨﻤﺕأ

[atamannā laHu an yakūnu masrūran bil jiHāz] Saya berharap dia lk. menjadi gembira dengan peralatan itu

7. kemungkinan

ﻦﻜﻤی

[yumkinu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

ﻞﻤﺘﺤی

[yuhtamalu] +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

اﺪﻨآ ﻰﻝإ ﺎﺒیﺮﻗ ﺮﻓﺎﺴﻥ نأ ﻞﻤﺘﺤی

[yuhtamalu an nusāfira qarīban ilā kanadā] Kemungkinan kami akan segera berangkat ke Kanada 8. penting

ﻢﻬی

[yuHimmu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

كﺎﻨهﺮﻀﺡأ نأ ﻲﻨﻤﻬی

[yuHimmunī an ahdhura Hunāka] Adalah penting bagi saya untuk hadir di sana)

9. kehormatan

فﺮﺴی

[yusyarrifu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an] , berarti merasa terhormat

Contoh:

ƒ

ﺎﻨه ﺮﺽﺡأ نأ ﻰﻨﻓﺮﺸی

[yusyarrifunī an ahdlura Hunā] Sebuah kehormatan bagi saya untuk hadir di sini

10. Senang

ﺮﺴی

[yasurru] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

(senang) Contoh:

ƒ

سﻮﻡﺎﻘﻝا اﺬه ﻚﻝ مﺪﻗأ نأ ﻲﻥﺮﺴی

[yasurrunī an uqaddima laka Hādzā al-qāmūsa] Saya senang bisa menawarkan kamus ini kepada Anda

11. Kemaafan

ﻒﺴﻌی

[yu’sifu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

(mohon maaf)

ﺆﺴی

[yasūu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

(turut bersimpati)

نﺰﺤی

[yuhzinu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

(turut berduka cita) Contoh:

ƒ

ﺎﻨﺘﺱرﺪﻡ ﻰﻓﺮﻀﺡأ ﻻ نأ ﻲﻨﻔﺴﻌی

[yu’sifunī an lā ahdlura fī madrasatinā] Saya mohon maaf tidak bisa hadir di sekolah kita

12. Berkelanjutan/kontinyu

ﻞﺽ

[dlalla],

ﻲﻘﺑ

[baqiya]

Contoh:

ƒ

ﻲﻜﺒی ﻞﻔﻄﻝا ﻲﻘﺑ

[baqiya ath-thiflu yabkiy]

Anak itu menangis terus 6.9 KATA KERJA BERABJAD EMPAT

Sebagian besar kata akar Arab memiliki tiga abjad, dan sedikit yang memiliki empat abjad akar. Meskipun demikian beberapa bentuk kata akar berabjad empat ini perlu diketahui karena sering digunakan dalam keseharian.

6.9.1 BENTUK DASAR

Pada dasarnya kata akar berabjad empat hanya memiliki satu bentuk dasar, yakni

ﻞﻝﻌﻓ

[fa’lala] -

ﻞﻝﻌﻔﻴ

[yufa’lilu]. Dari bentuk ini dikembangkan enam bentuk lainnya, yakni

ﻞﻋﻮﻓ

[fau’ala],

ﻓﻴ

ﻞﻌﺌ

[fai’ala],

لﻮﻌﻓ

[fa’wal],

ﻞﻴﻌﻓ

[fa’yal],

ﻼﻌﻓ

[fa’lā] dan

لﻨﻌﻓ

[fa’nala]. Untuk lebih memahami bentuk-bentuk di atas, kita bisa melihat tabel 6.13 berikut ini

modifikasi contoh

ﻞﻝﻌﻓ

[fa’lala]

ﺮﺙﻌﺑ

[ba’tsara] membangkitkan

ﻞﻋﻮﻓ

[fau’ala]

ﻞﻗﻮﺤ

[hauqala] membaca lā haulā

ﻞﻌﻴﻓ

[fai’ala]

ﺮﻄﻴﺹ

[shaithara] menguasai

لﻮﻌﻓ

[fa’wala]

ﺮﻮﻬﺠ

[jahwara] mengeraskan suara

ﻞﻴﻌﻓ

[fa’yala]

ﻒﻴﺮﺸ

[syaryafa] memuliakan

ﻼﻌﻓ

[fa’lā]

ﺎﻗﻝﺴ

[salqā] melukai

لﻨﻌﻓ

[fa’nala]

ﺲﻨﻠﻗ

[qalnasa] memuntahkan Tabel 6.13 Pola kata akar berabjad empat

Semua abjad kata kerja berabjad empat bentuk lampau bervokal a, sedangkan abjad kata kerja bentuk kini memiliki susunan vokal u-a-i.

Contoh:

ƒ bentuk lampau :

جرﺤد

[dahraja] telah menggulung

ƒ bentuk kini :

جﺮﺤﺪﻴ

[yudahrij] menggulung Sementara itu, bentuk pelakunya memiliki pola bentuk aktif dan pasif berikut.

Contoh:

ƒ bentuk aktif :

ج ﺮﺤ ِ ﺪﻤ

[mudahrij] yang menggulung

ƒ bentuk pasif :

ج ﺮﺤ َ ﺪﻤ

[mudahraj] yang digulung Selain itu, banyak kata akar berabjad empat terbentuk dengan mengulang dua abjadnya yang digunakan untuk meniru bunyi sesuatu. Bentuk ini terkenal sebagai onomatopoeic.

Contoh:

ƒ

ﺮﺜﺮﺜﻴ

[yutsartsir] mengobrol, bla..bla..

ƒ

ﻖﻄﻘﻄﻴ

[yuthaqtiq] meretih, krak..krak...

Berdasarkan penelitian para ulama, pola dasar

ﻞﻝﻌﻓ

[fa’lala]

banyak ditemui dalam Al-Quran, misal:

ﺮﺙﻌﺑ

[ba’tsara] (bangkit, QS. Al-‘Adiyat: 9),

لﺰﻠز

[zalzala] (guncang, QS. Al-Zalzalah: 1),

ﺲﻌﺴﻋ

[‘as’asa] (pergi, QS. At-Takwir: 17),

ﺲوﺴو

[waswasa]

(bisik, An-Naas: 5),

ﻢﺪﻤﺪ

[damdama] (binasa, QS. Asy-Syams:

14), sedangkan dari bentuk modifikasinya hanya pola

ﻞﻌﺌ ﻓﻴ

[fai’ala] yang ada dalam Al-Quran, yakni:

ﺮﻄیﺼﻤ

[mushaithiru]

(penguasa, QS. 88:22, QS. 52:37) dan

ﻦﻄیﺸ

[syaithan] (setan, QS. 2:36; 3:36; 4:38) [Wightwick98]

6.9.2 BENTUK TURUNAN

Dalam teori tatabahasa Arab terdapat tiga bentuk turunan bagi kata kerja berabjad empat, namun pada kenyataannya, hanya ada dua bentuk turunan yang sering dipakai, yakni bentuk II dan bentuk IV.

1. Bentuk II :

ﻞﻝﻌﻔﺘ

[tafa’lala] -

ﻞﻝﻌﻔﺘﻴ

[yatafa’lala]

2. Bentuk IV :

ﻞﻌﺘﻓا

ّ [ifta’alla] -

ﻞﻌﺘﻔﻴ

ّ [yafta’illa]

bentuk turunan bentuk lampau bentuk kini II

ﻞﻝﻌﻔﺘ

[tafa’lala]

ﻞﻝﻌﻔﺘﻴ

[ yatafa’lala]

IV

ﻞﻌﺘﻓا ّ

[ifta’alla]

ﻞﻌﺘﻔﻴ ّ

[yafta’illa]

Tabel 6.14 Bentuk turunan kata akar berabjad empat Contoh kalimat:

ƒ

حﺎﺒﺼﻝا ﺬﻨﻤ نﻮﻔﻝﺘﻝا ﻰﻝﻋ ﻦیﺮﺜﺮﺜﺘ ﺖﻨا

[anti tutsartsirīna ‘alā at-tilifūni mundzu ash-shabāha]. Anda pr. telah mengobrol di telepon sejak pagi

ƒ

تﺎﻓﺪﻤﻝا ﻰﻓ ﻖﻄﻘﻄﻴ ﺐﻄﺮﻝا ﺐﺸﺨﻝا

[al-khasyabu ar-rathibi yuthaqthiqu fī al-madfāti] Kayu bakar meretih di perapian

Kedua bentuk turunan di atas memiliki bentuk modifikasi seperti yang terlihat pada tabel berikut.

Bentuk Turunan

Bentuk Lampau

Modifikasi II

لﻝﻌﻔﺘ

[tafa’lala ]

لﻝﻌﻔﺘ

[tafa’alala]

ﻞﻋﻮﻔﺘ

[tafau’ala]

لﻌﺌﻔﺘ

[tafai’ala]

ﻞﻮﻌﻔﺘ

[ tafa’wala]

ﻞﻴﻌﻔﺘ

[tafa’yala]

ﻼﻌﻔﺘ

[tafa’lā]

لﻨﻌﻔﺘ

[tafa’nala]

IV

ﻞﻌﺘﻓا ْ

[ifta’alla]

ﻞﻝﻌﻓا

ْ [if’alalla]

ﻞﻝﻨﻌﻓا

[if’anlala]

ﻼﻨﻌﻓا

[if’anlā]

Tabel 6.15 Bentuk modifikasi dari bentuk turunan kata kerja berabjad empat

Berdasarkan penelitian para ulama, dari semua bentuk di atas ternyata hanya pola

ﻞﻝﻌﻓا ْ

[if’alalla] yang ditemui dalam Al-Quran, yakni

ﺰﺌﻤﺸا ّ

[isyma-azza] (kesal, QS. 39:45),

ﺮﻌﺷﻗا ّ

[iqsya’arra] (gemetar, QS. 39:23) dan

ﻦﺌﻤﻄا ّ

[ithma-anna] (aman, QS. 4:103) [Wightwick98]

6.10 BENTUK PASIF

Pada subbab 3.2, sekilas kita telah mempelajari bentuk pasif untuk kata kerja berabjad tiga. Pada kata akar berabjad tiga, perubahan kata kerja aktif menjadi pasif dilakukan cukup dengan mengubah vokal dari abjad akar, yakni dari susunan vokal a-a-a atau a-i-a atau a-u-a menjadi u-i-a.

Contoh:

ƒ

ﻞ ﻌَ ﻓَ

[fa’ala] (mengerjakan) menjadi

ﻞ ﻌِ ﻓُ

[fu’ila]

(dikerjakan)

ƒ

ﺐ ﺮِ ﺸَ

[syariba] (meminum) menjadi

ﺐ ﺮِ ﺸُ

[syuriba]

(diminum) Contoh kalimat:

ƒ

ىداﺮﻝا ﻰﻓ ﺮﺎﺒﺨﻝا اﺬه ﺮﻜذ

[dzukira hādza al-khabāru fî ar-rādiyu] Informasi ini telah diberitakan oleh radio Dalam bentuk pasif sang pelaku jarang disebutkan. Apabila ia disebutkan, maka ditandai dengan partikel

ﻦﻤ

[min].

Contoh:

ƒ

ﺪﻤﺤﻤ ﻦﻤ ﺔﻝﺎﺴﺮﻝا ﺖﺒﺘﻜ

[kutibat ar-risālatu min muhammad]

Surat telah ditulis oleh Muhammad

Bentuk turunan memiliki kesamaan dengan kata akar dalam bentuknya yang pasif, yakni memulai semua kata, baik bentuk lampau maupun kini, dengan vokal awal u, seperti terlihat pada tabel 6.16.

bentuk

turunan bentuk lampau

pasif bentuk kini pasif II

ﻞ ﻌِّ ﻓُ

[fu’’ila]

ﻞ ﻌﱠ ﻴُﻔَ

[yufa’’alu]

III

ﻞﻋ ﻮﻓ ْ

[fū’ila]

ﻞ ﻋﺎ َ ﻴُﻔَ

[yufā’alu]

IV

أُ ﻞ ﻌﻓ ِ

[uf’ila]

ﻞ ﻌﻔ َ ﻴُ

[yuf’alu]

V

ﻞ ﻌِّ ﺕُﻔُ

[tufu’’ila]

ﻞ ﻌﻔﺕ ﱠ ﻴُ

[yutafa‘’alu]

VI

ﻞﻋﻮ ﺕُﻔُ

[tufū’ila]

ﻞﻋﺎ ﻔﺕَ ﻴُ

[yutafā’alu]

VII jarang muncul

VIII

ﻞ ﻌِ ﺘﻓُ أُ

[uftu’ila]

ﻞ ﻌﺘﻔ َ ﻴُ

[yufta’alu]

X

ﻞ ﻌﻔ ِ ﺘﺴ ُ أُ

[ustuf’ila]

ﻞ ﻌﻔﺘﺴ َ ﻴُ

[yustaf’alu]

Tabel 6.16 Bentuk Pasif Turunan Contoh kalimat:

ƒ

ﻦﻴﻤﻮﻴ ﺪﻌﺑ ﺮﻄﻤﻝا ﻄﻘﺴﻴ ﻦأ ﻊﻗﻮﺘﻴ

[yutawaqqa’u an yasqutha al-matharu ba’da yaumaini] Hujan diharapkan turun dalam dua hari

ƒ

ﻢﺠﺎﻨﻤﻝا ﻦﻤ ﺐهﺬﻝا جﺮﺨﺘﺴﻴ

[yustakhraju adz-dzaHabu min al-manājimi] Emas dihasilkan dari pertambangan

Beberapa bentuk pasif berikut ini sering digunakan sebagai ungkapan untuk mengawali sebuah pernyataan

ﻦإ ﻞﺎﻘﻴ

[yuqālu inna] ... dikatakan sesungguhnya …

عﺎﻄﺘﺴﻴ

[yustathā’u] ... dimungkinkan …

ﻪﺒ ﺪاﺮﻴ

[yurādu bihi] ... maksudnya …

ﻪﺒ ﻞﻤﻌﻴ

[yu’malu bihi ]... adalah berlaku …

ﻪﻨﻤ ﻢﻬﻔﻴ

[yufhamu minhu]

...

dapat dipahami …

Bentuk pasif bisa juga digantikan dengan kalimat yang didahului kata kerja

ﻢﺘ

[tamma] atau

ﺀاﺮﺠ

[jarāi] (terjadi, ada) dan kemudian diikuti oleh mashdar.

Contoh:

ƒ

ﺔﻝﺎﺴﺮﻝا ﺖﺒﺘﻜ

[kutibat ar-risālatu] (Surat itu telah ditulis) menjadi

ﺔﻝﺎﺴﺮﻝا ﺔﺒﺎﺘآ ﺖﻤﺘ

[tammat kitābatu ar-risālati]

ƒ

ﺔﻝﺎﺴﺮﻝا ﺐﻝﻄﻝا ﻰﺘﺌأ

[utiya ath-thalibu ar-risālata] (Surat itu telah diberikan kepada pelajar) menjadi

ﺔﻝﺎﺴﺮﻝا ﺐﻝﻄﻝا ﺀﺎﻄإ ﺀاﺮﺠ

[jarā i’thāu ath-thālibi ar-risālata]

6.11 BENTUK NEGATIF

Pada bagian ini kita akan mempelajari pembentukan kalimat negatif dengan menegatifkan kata kerja. Setiap bentuk waktu memiliki partikel negatif tertentu yang diletakkan sebelum kata kerja yang dinegatifkannya.

1. Untuk bentuk kini digunakan partikel negatif

[lā]

dan

ﺎﻤ

[mā].

Contoh:

ƒ

ﺐﺘﻜﺘ ﻻ

[lā taktubu] Anda lk. tidak menulis 2. Untuk bentuk lampau (perfect/past) digunakan partikel

negatif

ﺎﻤ

[mā], sedangkan untuk bentuk lampau sekali (plusquam perfect) digunakan pola

ﺪﻗ ﻦﻜی ﻢﻝ

[lam yakun qad] .

Contoh:

ƒ

ﺐﺘآ ﺎﻡ

[mā kataba] Anda lk. telah tidak menulis

ƒ

ﺐﺘآ ﺪﻗ نﺎﻜی ﻢﻝ

[lam yakun qad kataba] Anda lk.

<dahulu> telah tidak menulis

Untuk menunjukkan arti belum digunakan partikel negatif

ﻢﻝ

[lam] atau

ﺎﻤﻝ

[lammā] yang diletakkan sebelum jussif.

Contoh:

ƒ

ﺐﺘﻜﺘ ﻢﻝ

[lam taktub] Anda lk. belum menulis 3. Untuk bentuk waktu yang akan datang, partikel

negatif

ﻦﻝ

[lan] diletakkan sebelum subjungtif.

Contoh:

ƒ

ﺐﺘﻜﺘ ﻦﻠ

[lan taktuba] Anda lk. tidak akan pernah menulis)

4. Untuk bentuk larangan digunakan partikel negatif

[lā] diletakkan sebelum jussif.

Contoh:

ƒ

ﺐﺘﻜﺘ ﻻ

[lā taktub] Jangan menulis!

Partikel negatif

ﻢﻝ

[lam] apabila dirangkaikan dengan

ﻻﻮ

[wa lā]

akan memberikan arti, baik ... maupun ... tidak Contoh:

ƒ

ﺐﻝﺎﻄﻝا ﻻﻮ ﻢﻠﻌﻤﻝا ﺐﺘﻜﻴ ﻢﻝ

[lam yaktub al-mu’allimu wa lā ath-thālibu] Baik pengajar maupun pelajar telah tidak menulis

Contoh kalimat:

ƒ

درﺎﺒﻝا ﺀﺎﻤﻝاب ﻢﺎﻤﺤﺘﺴﻹا ﺐﺤأ ﻻ

[lā uhibbu aistihmāma bi l-māi al-bāridi] Saya tidak suka mandi air dingin

ƒ

مﻜﻴأﺮ و ﺎﻥﻴأﺮ ﻦیﺒ ﻖﺮﻓ ﻚﺎﻨه نﺎﻜ ﻪﻨﻷ قﻔﺘﻨ ﻢﻝ

[lam nattafiq li annaHu kāna Hunāka farqun baina ra’yunā wa ra’yukum]

Kami belum sepakat karena telah ada perbedaan sudut pandang antara kami dan kalian

ƒ

ﻰﺥأﺎی نﻐﺕ ﻻ

[lā taghunna ‘yā Akīî’] (Jangan menyanyikan <lagu> ‘Oh Saudaraku’)

ƒ

ﺮﻄﻤﻝا لﺰﻨیﻢﻝ نإ فﺎﻔﺝﻝا ةﺮﺘﻓ ﻰﺤﺕﻨﺕ ﻦﻝ

[lan tantahiya fatiratu al-jafāfi in lam yanzil al-matharu] (Musim kemarau tidak akan berakhir bila hujan tidak turun)

6.12 BENTUK TIDAK BERATURAN

Sejauh ini kita telah mempelajari pola kata kerja yang beraturan. Bahasa Arab juga memiliki kata kerja yang tidak beraturan yang jumlahnya sangat banyak. Kata kerja tidak beraturan ini bisa dibagi dalam tiga kategori, yakni:

1. Kata akar yang mengandung abjad lemah

أ

,

و

atau/dan

ي

yang dibagi lagi menjadi:

a. Mitsāl : kata kerja dengan abjad lemah sebagai abjad akar pertama, contoh:

ﻞﺼو

[washala]

(tiba,menyambung)

Pada bentuk kini dan bentuk perintah, abjad akar و dihilangkan, contoh:

ﻞﺹو

[washala] menjadi

ﻞﺼی

[yashilu] pada bentuk kini dan

ﻞﺹ

[shil] pada bentuk perintah. Pada bentuk VIII, abjad akar lemah luluh pada imbuhan tengah

ت

, contoh:

ﻞﺼﺕإ

[ittashala] berasal dari

ﻞ ﺼﺕوإ

[iwtashala].

b. Ajwaf : kata kerja dengan abjad lemah sebagai abjad akar kedua, contoh:

لﻮﻗ

[qawala] (berkata) Pada bentuk pasif

ﻞﻌﻓ

[fu’ila] abjad akar lemah berubah menjadi ي dan vokal abjad pertama berubah menjadi i, contoh:

مﻮﻗ

[quwima] menjadi

ﻢﻴﻗ

[qīma] (didirikan),

ﻊﻴﺑ

[buyi’a] menjadi

ﻊﻴﺑ

[bī’a]

(dibeli). Abjad akar lemah akan hilang apabila abjad akar ketiga tidak bervokal, misal:

مﺎﻗ

[qāma]

menjadi

ﺖﻤﻗ

[qumtu] (saya telah berdiri).

c. Naqish : kata kerja dengan abjad lemah sebagai abjad akar ketiga, contoh:

ﻰﻤر

[ramā] (melempar).

Pada bentuk perintah, abjad akar lemah dihilangkan, misal:

ﻰﻘﻝ

[laqiya] menjadi

ﻖﻝإ

[ilqa]

d. Multawi : kata kerja dengan abjad lemah sebagai abjad akar pertama dan ketiga, contoh: ﻰﻝو [waliya]

(memerintah)

e. Lafīf : kata kerja dengan abjad lemah sebagai abjad akar kedua dan ketiga, contoh:

ﻰﻴﺡ

[hayiya]

(menghidupkan)

2. Mahmuz : kata akar yang memiliki

atau

أ

sebagai salah satu abjad akarnya, contoh:

ﺪﺥأ

[ākhada]

(mengambil),

لﺄﺱ

[sa-ala] (bertanya),

أﺮﻗ

[qara-a]

(membaca)

Dua hamza tidak boleh bergandengan. Sebagai penggantinya digunakan vokal panjang, contoh:

ﺬﺥأأ

[a-akhudzu] menjadi

ﺬﺥﺁ

[ākhudu]. Pada bentuk perintah,

sebagai abjad pertama dihilangkan, contoh:

ﻞآأ

[akala] menjadi

ﻞآ

[kul].

3. Mudha’af : kata akar dengan abjad akar kedua dan ketiga yang sama, contoh: ّ

در

[radda] (kembali) Pada jenis kata ini kedua abjad akar yang sama menjadi satu dan digandakan dengan tasydid. Vokal pendek pada abjad akar kedua hilang, contoh:

رﺮﺱ

[sarara] menjadi

ﺮﺱ

[sarra] (gembira). Apabila abjad pertama tanpa vokal, maka perubahannya seperti berikut:

رﺮﺴی

[yasruru] menjadi

ﺮﺴی

[yasurru]

6.13 PRILAKU KATA KERJA DALAM KALIMAT

Pada bagian ini kita akan mempelajari prilaku kata kerja berdasarkan posisinya dalam kalimat. Beberapa aturan perubahan kata kerja dalam kaitannya dengan gender subyeknya sebagai berikut:

1. Kata kerja berubah menurut gender subyeknya Contoh:

ƒ

ﺮیزوﻝﻻ ﺔﻝﺎﺱر ﺪﻝﺎﺥ ﺐﺘآ

[kataba Khālidu risālata lil wazīri] Khalid telah menulis surat untuk Menteri

ƒ

ﺮیزوﻝﻻ ﺔﻝﺎﺱر ﺔﻤﻃﻓ ﺖﺒﺘآ

[katabat Fāthimatu risālata lil wazīri] Fatimah telah menulis surat untuk Menteri

2. Jika subyeknya merupakan jamak gabungan gender laki-laki dan perempuan, maka kata kerja memiliki gender laki-laki.

Contoh:

ƒ

ﺔﺱرﺪﻤﻝا اﻮﻝﺨد تﺎﻨﺒﻝا و ﺪﻻوﻻا

[aulādu wa al-banātu dakhalū al-madrasati]. Anak lk. dan anak pr. telah masuk sekolah

3. Kata kerja memiliki imbuhan awal dan akhir yang menunjukkan jenis kata ganti orang sebagai subyeknya sehingga subyeknya tidak perlu disebutkan lagi secara eksplisit. Apabila subyeknya disebutkan, itu menunjukkan adanya penekanan terhadap subyek.

Contoh:

ƒ

مﺪﻘﻝا مﺎﻋ ﻰﻓ ةﺮﻬﻘﻝا ﺔﻌﻡﺎﺝ ﻰﺥأ ﻞﺥد

[dakhalu akhī jāmi’atu al-qāhirah fî ‘āmi al-qadim]. Kakak lk.

saya telah masuk Universitas Kairo tahun lalu 4. Apabila subyek berupa jamak bukan orang, maka kata

kerjanya selalu berbentuk tunggal pr., baik pada kalimat verbal maupun nominal .

Contoh:

ƒ

ﺖﺮﺴﻜﻥإ و ضرﻷا ﻰﻝﻋ نﻮﺤﺼﻝا ﺖﻌﻗو

[waqa’at ash-shuhūn ‘alā al-ardli wa inkasarat]. Piring-piring telah jatuh ke lantai dan pecah

ƒ

مﻼﺱﻹا ﻞﺝا ﻦﻡ نوﺎﻌﺘﺕ ﺔﻴﻡﻼﺱﻹا لوﺪﻝا نإ

[inna ad-duwalu islāmiyyati tata’āwanu min ajli al-islāmi] Negara-negara Islam telah bekerja sama demi perdamaian

5. Apabila subyek berupa jamak orang, pada susunan kalimat verbal kata kerja akan tetap berbentuk tunggal, tetapi gendernya menyesuaikan dengan subyek.

Contoh:

ƒ

عﺎﻨﺼﻤﻝا ﻰﻝإ لﺎﺝﺮﻝا ﻞﺹو

[washala rijālu ilā al-mashnā’i] Para lelaki telah tiba di pabrik

ƒ

ﻦﻬﻨﻋ ﺎﻤﺘﺝإ تاﺪﻴﺴﻝا تأﺪﺑ

[bada-at as-sayyidāti ijtimā’anahunna] Para wanita telah memulai pertemuan mereka

B AB 7 P ARTIKEL

Partikel adalah kata yang tidak dapat berdiri sendiri dan baru bermakna apabila digandengkan dengan kata lainnya, misal:

kata depan

ﻰﻓ

[fī], kata sambung

[fa], dan sebagainya. Bab in menguraikan berbagai jenis partikel.

7.1 PARTIKEL PENUNJUK

Partikel penunjuk adalah kata untuk menunjukkan letak benda.

Partikel penunjuk terbagi atas dua kelompok berdasarkan jarak benda terhadap penunjuk, yakni dekat (lil qarīb) dan jauh (lil ba’īd). Partikel ini berubah terhadap gender kata bendanya seperti terlihat pada tabel 7.1.

kata penunjuk dekat jauh

tunggal lk.

اﺬه

[Hādzā]

ﻚﻝذ

[dzalika]

tunggal pr.

ﻩﺬه

[HādziHi]

ﻚﻠﺕ

[tilka]

jamak lk./pr.

ﺀﻼﺉﺂه

[Hāulā-i]

ﻚﺌﻝأ

[ulā-ika]

dual lk.

ناﺬه

[Hadzāni]

ﻚﻥ ﺬ

[dzānika]

dual pr.

ﻦ ﺎ ﺘه

[Hātāni]

ﻚﻥﺕ

[tānika]

Tabel 7.1 Kata penunjuk letak kata benda Contoh kalimat:

ƒ

بﺎﺘآ اﺬه

[Hādzā kitāb] Ini adalah buku

ƒ

ﻰﺘﺥأ ﻩﺬه

[HadziHi ukhti] Ini adalah adik pr saya

Selanjutnya, kata penunjuk letak benda bisa menjadi bagian dari sebuah kalimat sempurna atau frase, seperti contoh berikut.

Contoh:

ƒ

بﺎﺘآ اﺬه

[Hādzā kitāb] Ini adalah kitab

ƒ

بﺎﺘآﻝا اﺬه

[Hādzā al-kitāb] Kitab ini

Pada contoh di atas, susunan pertama merupakan kalimat lengkap yang ditandai dengan kata benda tak tentu, sedangkan yang kedua merupakan frase dengan kata benda tertentu. Untuk membuat frase tersebut menjadi bagian dari kalimat lengkap, maka ditambahkan kata ganti orang, misal:

ﻮه

[Huwa].

Contoh:

ƒ

بﺎﺘآﻠا ﻮه اﺬه

[Hādza Huwa al-kitābu] Ini adalah kitab tersebut

7.2 PARTIKEL KATA DEPAN

Partikel kata depan berupa kata penunjuk tempat mengakibatkan perubahan vokal akhir kata tempatnya menjadi i. Tabel 7.2 menyajikan kata-kata penunjuk tempat.

ﻰﻠﻋ

[‘ala] atas/terhadap

قﻮﻓ

[fauqa] di atas

ﻰﻓ

[fī] dalam, di

ﺖﺤﺕ

[tahta] di bawah

ﻰﻝإ

[ilā] menuju/ke

ﻞﻮﺡ

[haula] sekitar

كﺎﻨه

[Hunāka] di sana

ﺎﻨه

[Hunā] di sini

ﺐﻴﻨﺠﺑ

[bijanīb] di samping

ﻊﻡ

[ma’a] dengan

ﻒﻠﺥ

[khalfa] di belakang

ماﺪﻗ

[qudām] di depan

ﻮﺤﻨ

[nahwa] menuju, mendekati

دﻀ

[dlidda] terhadap

أرو

[warā-a] di belakang

ﺪﻨﻋ

[‘inda] dekat

ﻦﻴﺑ

[baina] di antara

ﻰدﻝ

[ladā] dengan, di

مﺎﻡأ

[amāma] di depan

نﻮد

[dūna] di bawah

مﺙ

[tsamma] di sana

[bi] dengan

[li] untuk

Tabel 7.2 Kata depan

Contoh kalimat:

ƒ

ِﺐﺘﻜﻤﻝا ﺖﺤﺕ ﻒﻠﻤﻝا

[al-malaffu tahta al-maktabi] File berada di bawah meja

ƒ

مﻮﻴﻝا ِﻞﻴﻤﻋ ﺪﻨﻋ مﺎﻌﻝا ﺮیﺪﻤﻝا

[al-mudīru al-‘ām ‘inda ’amīli al’yauma] Manajer umum sedang bersama pelanggan hari ini

Kata depan digunakan tidak harus selalu berarti menunjukkan tempat. Banyak kata kerja yang memiliki kata depan tertentu.

Berikut beberapa contoh penggunaan khusus dari kata depan:

ب

[bi]:

ﺐ أﺪﺘﺑإ

[ibtadā bi] (memulai dengan),

ﺐ ﻰﺘأ

[atā bi] (mengikuti, membawa),

ﺐ ﺐهذ

[dzaHaba bi]

(membawa pergi).

[li]:

ل ﺰﺎﺠأ

[ajaza li] (boleh),

ىﺮﺨﺒﻝﻠ ﻰﺒﺮ ﺂﻴ

[yā rabbiy li l-bukhari] (‘Ya Rabbi’ oleh al-Bukhari)

ﻰﻠإ

[ilā]:

ﷲا ﻰﻠإ ﺐﺤأ

[ahabbu ilā llāHi] (lebih mencintai Allah).

ﻰﻠﻋ

[‘alā]:

ﺐهﺬﺕ نأ كﻴﻠﻋ

[’alaika an tadzhabu] (Anda harus pergi)

ﻦﻋ

[‘an]:

ﻦﻋ ﻊﻔاﺪ

[dāfa’a ‘an] (mempertahankan),

ﻦﻋ ﻊﻨﻤ

[mana’a ‘an] (melarang)

• ﻰﻔ [fī]:

ﻰﻔ ﺮﻜﻔﺕ

[tafakkara fī] (berfikir tentang),

ﺐیﻃﻠا ﻰﻔ ﺐﺎﺕﻜ

[kitābun fī ath-thibb] (buku tentang kedokteran),

عﺎﺘﻤ ﻻإ ةﺮﺨﻵا ﻰﻓ ﺎﻴﻨﺪﻠا ةﺎیﺤ ﺎﻤ

[mā hayātu ad-dunyā fī al-ākhirati illa matā’un] (Tidakkah kehidupan dunia itu dibandingkan akhirat kecuali permainan)

ﻊﻤ

[ma’a]:

ﺲﻤﺸﻠا عﻮﻠﻃ ﻊﻤ

[ma’a thuluu’i asy-syamsi] (saat terbitnya matahari),

كﻠاذ ﻊﻤ

[ma’a dzaalika] (meskipun),

ﻦأ ﻊﻤ

[ma’a anna] (sama seperti)

نﻤ

[min]:

ﺮﻴﻤﺤﻠا ﻮ ﻞیﺨﻠا نﻤ ﻢﻬﺒاﻮﺪ

[dawaabuHum min al-khayli wa al-hamiir .. ] (binatang mereka, yakni kuda dan keledai …)

Dengan kata depan yang berbeda sebuah kata kerja bisa memiliki makna berbeda, misal:

مﻗ

[qāma] (berdiri), tapi bisa juga memiliki makna sama, misal:

ﻞﻤﻋ

[’amala] (bekerja)

Contoh:

ƒ makna berbeda:

ﺐ مﻗ

[qāma bi] (melaksanakan),

ﻰﻠﻋ مﻗ

[qāma ’ala] (bangkit),

ﻰﻝإ مﻗ

[qāma ilā] (berangkat)

ƒ makna sama:

ﻰﻠﻋ ﻞﻤﻋ

[’amala ’ala] dan

ﻞ ﻞﻤﻋ

[’amala li] (bekerja keras)

Proses memilih kata depan yang tepat untuk kata kerja adalah sesuatu yang sulit. Kalaupun ada orang asing yang mampu menguasainya dengan baik, maka itu suatu hal yang luar biasa.

7.3 PARTIKEL SAMBUNG

Partikel sambung adalah kata untuk merangkaikan satu kata atau kalimat dengan kata atau kalimat lainnya, seperti yang terlihat pada tabel 7.3 berikut ini.

و

[wawu] dan

ﻦﻜﻝ

[lakin] tetapi

ف

[fa] lalu

ﻰﺘﺡ

[hatta] sampai

ﻢﺙ

[tsumma] lalu

[lā] tidak

اذإ

[idzā] ketika

ﺎﻡإ

[immā] apakah

ﺎﻡأ

[ammā] adapun

ﻻإو

[wa illā] kalau tidak

ﻮﻠﻮ

[walaw] meskipun

ﺎﻤﻨﻴﺒ

[bainamā] sementara

ذإ

[idz] ketika, karena, sejak

نأ ﺮﻴﻏ

[ghaira anna] tanpa

نﺄآ

[ka anna] seolah-olah

ﺎﻤﻠﺒﻗ

[qablamā] sebelum

ﺎﻤﺪﻌﺒ

[ba’damā] sesudah

ﺎﻤﻠ

[lammā] ketika

ما

[am] atau

وا

[au] atau

نﻷ

[li-anna] karena

ﻞﺑ

[bal] bahkan

نإو

[wa in] meski

نأ ﻻإ

[illā anna] tanpa

ىأ

[ai] yakni

Tabel 7.3 Partikel sambung Contoh kalimat:

ƒ

ﻪﻤﺪﺎﺥ ﻦﻜﻝ ﺪﻴﺴﻝا ﺀﺎﺝ ﺎﻡ

[mā jā-a’ as-sayyidu lakin

khādimuHu]. Bukan tuannya yang datang, melainkan pelayannya

ƒ

ﺢﺤﻠﻃ ﻞﺑ ﺪﻤﺡأ فﺮﻋأ ﻻ

[lā a’rifu ahmad bal thalhah]. Saya tidak mengenal Ahmad, apalagi Thalhah)

ƒ

ﺔﻠﻴﻠﻗ ﺖﻨﺎآ نإو اذه ﻰﻠﻋ ﻦﻴهاﺮﺒﻠا ﺎﻨﻌﻥﻘﺕ

(tuqni’nā al-barāHīnu

‘alā Hādzā wa in kānat qalīlatun) Bukti-bukti atasnya telah meyakinkan saya, meskipun sedikit

7.4 PARTIKEL TANYA

Partikel tanya adalah kata untuk menanyakan sesuatu, seperti yang terlihat pada tabel 7.4 berikut ini.

أ

[a] apakah

ﻒﻴآ

[kaifa] bagaimanakah

ﻞه

[Hal] apakah

ﻰﺘﻡ

[matā] kapankah

ﺎﻡ

[mā] apakah

ﻦیا

[ayna] di manakah

ﻦﻡ

[man] siapakah

مآ

[kam] berapakah

يا

[ayyu] manakah

ﻢﻝا

[alam] bukankah

ذﺎﻤﻝ

[limādza] mengapa

ﺲﻴﻝا

[alaysa] bukankah Tabel 7.4 Kata Tanya

Apabila kalimat pertanyaan diawali partikel

ﻞه

[Hal] atau

أ

[a]

, maka jawabannya adalah ya (

ﻢﻌﻥ

[na’am],

ﺮﺌﺝ

[jair],

ﻞﺝا

[ajal]

) atau tidak (

[lā] ). Namun jika kalimat pertanyaan negatif

yang diawali partikel

ﻢﻝأ

[alam] atau

ﻰﺴﻴﻝأ

[alaysa] , maka jawabannya ya (

ﻼﺑ

[balā] ) atau tidak (

ﻢﻌﻥ

[na’am] )

Contoh kalimat:

ƒ Tanya:

؟ ﻦﺒآار ﺖﺌﺝ ﻞه

[Hal ji’ta rākiban?] Apakah Anda telah datang dengan kendaraan ? Jawab:

ﻦﺒآار ﺖﺌﺝ , ﻢﻌﻥ

[na’am, ji’tu rakiban] Ya, saya

datang dengan kendaraan

ƒ Tanya: ؟

ﺎﻨﺘﻘیﺪﺡ اﺮﺕ ﻢﻝأ

[alam tarā hadīqatanā ?] Bukankah Anda tidak melihat kebun kami ?

Jawab:

ﻢﻜﺘﻘیﺪﺡ ارأ , ﻼﺑ

[balā, arā hadīqatakum] Ya, saya telah melihat kebun kalian

Partikel

ﺎﻡ

[mā] diikuti oleh kata sifat dengan pola

ﻞﻌﻓا

[af’ala]

mengandung makna kagum.

Contoh:

ƒ

! ﺖﻴﺒﻝا اﺬه ﺮﺒآا ﺎﻡ

[mā akbara Hādzā al-baita!] Betapa besar rumah ini!

7.5 PARTIKEL SYARAT

Partikel syarat adalah kata yang menetapkan syarat suatu kejadian, baik yang mungkin terjadi maupun yang tidak mungkin terjadi. Partikel

اذإ

[idzā] ,

ﻦﻡ

[man] , dan

نإ

[in] selalu diikuti oleh bentuk subjungtif, sedangkan partikel

ﻦﻝ

[lan] dan

ﻦﺌﻠ

[lain] diikuti oleh bentuk jussif.

اذإ

[idzā] apabila

ﻦﻡ

[man] barangsiapa

ﻦﻝ

[lau] seandainya

نإ

[in] jika

ﻦﺌﻠ

[lain] seandainya

Tabel 7.5 Partikel syarat

Contoh kalimat:

ƒ

ﻦﻜﻴﻓ ﻦآ ﻪﻝ لﻮﻘی نأ ﺀﻰﺷ ﷲا دار ا نإ

[in arāda allahu syaia’n an yaqūla laHu kun fa yakun]. Jika Allah berkehendak terhadap sesuatu, maka Dia berkata padanya jadilah maka jadi)

Dilihat dari mungkin atau tidaknya kejadian yang disyaratkannya, partikel syarat terbagi atas dua kategori, yakni:

1. nyata atau mungkin terjadi, dengan pola-pola berikut

اذإ

[idzā] + subjungtif,

اذإ

[idzā] +

ﻢﻝ

[lam] + jussif (pada kalimat negatif)

نإ

[in] + subjungtif

نإ

[in] +

[lā] + jussif (pada kalimat negatif)

Antara kalimat syarat dan kalimat akibat biasanya disisipi kata

[fa] (maka). Bentuk waktu kata kerja pada kalimat akibatnya mengikuti kata kerja pada

Antara kalimat syarat dan kalimat akibat biasanya disisipi kata

[fa] (maka). Bentuk waktu kata kerja pada kalimat akibatnya mengikuti kata kerja pada

Dalam dokumen FUNDAMENTAL TATABAHASA ARAB (Halaman 44-0)