• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENTUK WAKTU LAINNYA

Dalam dokumen FUNDAMENTAL TATABAHASA ARAB (Halaman 36-0)

BAB 6 KATA KERJA

6.2 BENTUK WAKTU

6.2.3 BENTUK WAKTU LAINNYA

Selain bentuk waktu yang telah baku di atas, terdapat juga bentuk waktu lainnya yang merupakan kombinasi dari bentuk waktu baku di atas dengan bantuan partikel

نﺎآ

[kāna]

[Sabuni87].

1.

نﺎآ

[kāna] + bentuk lampau, menyatakan pekerjaan yang telah selesai di masa lampau (plusquam perfect).

Contoh:

ƒ

ﺔﻝﺎﺱﺮﻝا ﺐﺘآ ﺪﻗ ﻢﻠﻌﻤﻝا نﺎآ

[kāna al-mu’allimu qad kataba ar-risālata] Pengajar <saat itu> telah selesai menulis surat

2.

نﺎآ

[kāna] + bentuk kini, menyatakan pekerjaan yang sedang dilakukan atau berulang di masa lampau.

Biasanya diawali oleh partikel

ﺪﻘﻝ

[laqad]

Contoh:

ƒ

ﺔﻝﺎﺱﺮﻝا ﺐﺘﻜی ﻢﻠﻤﻝا نﺎآ ﺪﻘﻝ

[laqad kāna al-mu’allimu yaktubu ar-risālata] Pengajar <saat itu> sedang menulis surat.

3.

نﻮﻜی

[yakūnu] + bentuk lampau, menyatakan pekerjaan yang diharapkan selesai di masa yang akan datang (future perfect)

Contoh:

ƒ

ﺔﺎﺱﺮﻝا ﺐﺘآ ﺪﻗ ﻢﻌﻤﻝا نﻮﻜی

[yakūnu al-mu’allimu qad kataba ar-risālata] Pengajar <nanti> akan telah selesai menulis surat.

4.

نﺎآ

[kāna], dalam fungsinya sebagai kata kerja, memperkuat arti keberadaan sesuatu atau kejadian di masa lampau

Contoh:

ƒ

ﺔیرﺎﺝ ﻪﻝ ﺮﺝﺎﺕ ﺪاﺪﻐﺑ ﻰﻓ نﺎآ

[kāna fī baghdādi tājirun laHu jāriyah] (Adalah <dahulu> di Bagdad ada seorang pedagang yang memiliki pelayan pr.) 6.3 BENTUK TURUNAN

Pola-pola pembentukan dalam sistem akar memungkinkan bahasa Arab memiliki perbendaharaan kata yang kaya akan makna. Proses perubahan makna tersebut dilakukan dengan menerapkan pola pembentukan, yang bisa berupa kombinasi

imbuhan atau menggandakan abjad akar, sebagaimana contoh berikut ini.

اﻮﻠﺘﻗ

[qatalū] mereka lk. telah membunuh

ﻞﺘﻗ

[qattalu] mereka lk. telah membantai

اﻮﻠﺕﺎﻗ

[qātalū] mereka lk. telah berperang

اﻮﻠﺕﺎﻘﺕ

[taqātalū] mereka lk. telah berkelahi Semua kata kerja di atas berasal dari kata akar

ﻞﺘﻗ

[qatala] yang berarti membunuh. Terhadap kata akar ini dilakukan proses perubahan makna dengan cara menggandakan abjad tengah

ﺘّ

[tā] (memberikan makna intensif: membantai), memanjangkan vokal pada abjad pertama

[qa] (bermakna saling: berperang), menambahkan awalan

[ta] dengan memanjangkan vokal abjad awal (bermakna dikerjakan bersama: berkelahi).

Saat ini terdapat lima belas bentuk turunan, diantaranya tercatat delapan bentuk turunan yang paling sering dipergunakan dalam suasana resmi, seperti dalam literatur, pidato, dan lain-lain [Wightwick98]. Para orientalis menggunakan sistem klasifikasi karya Ahmad bin Ali Mas’ud dengan memberikan penomoran Romawi untuk setiap bentuk turunan, yang diawali oleh bentuk II, dan seterusnya [Akesson01]. Hans Wehr menggunakan penomoran ini dalam kamus Arabnya yang terkenal [Wehr80]. Kata akar sendiri bisa dikategorikan sebagai bentuk I.

Setiap bentuk turunan memberikan makna tertentu, seperti makna intensif, saling, dikerjakan bersama dan sebagainya.

Namun terkadang ada bentuk turunan yang memiliki makna hampir mirip dengan makna dasarnya. Perlu diketahui bahwa tidak semua kata akar memiliki kedelapan bentuk turunan tersebut.

6.3.1 BENTUK TURUNAN II – IV

Kelompok pertama dari bentuk turunan dari kata akar

ﻞﻌﻓ

[fa’ala], terdiri atas:

1. bentuk II :

ﻞ ﻌﻓ ّ

[fa’’ala] –

ﻞ ﻌﻓﻴ ّ

[yufa’’ilu]

2. bentuk III :

ﻞﻋﺎﻓ

[fā’ala] –

ﻞﻋﺎﻔﻴ

[yufā’ilu]

3. bentuk IV :

ﻞﻌﻓا

[af’ala] –

ﻞﻌﻓﻴ

[yuf’ilu]

Pembentukan kata kerja turunan pada kelompok pertama ini ditandai oleh beberapa proses terhadap kata akarnya: pada bentuk II terjadi penggandaan kata akar kedua, bentuk III pemanjangan vokal kata akar pertama, bentuk IV penambahan imbuhan awal

ا

[alif] dengan kata akar pertama tanpa vokal.

bentuk turunan kata kerja lampau kata kerja kini II

ﻞ ﻌﻓ ّ

[fa’’ala]

ﻞ ﻌﻓﻴ ّ

[yufa’’ilu]

III

ﻞﻋﺎﻓ

[fā’ala]

ﻞﻋﺎﻔﻴ

[yufā’ilu]

IV

ﻞﻌﻓا

[af’ala]

ﻞﻌﻓﻴ

[yuf’ilu]

Tabel 6.3 Bentuk turunan II ~ IV

Perlu diperhatikan bahwa pada kata kerja bentuk kini, imbuhan awal

[ya] selalu bervokal u dan abjad tengah

[ain]

bervokal i, seperti terlihat pada kata-kata berikut:

ﻞّﻌﻓﻴ

[yufa’’ilu] ,

ﻞﻋﺎﻔﻴ

[yufā’ilu] dan

ﻞﻌﻓﻴ

[yuf’ilu].

Kelompok pertama bentuk turunan ini memiliki pola makna sebagai berikut [Akesson01, Fahmi95/97, Wightwick98, Wright88].

BENTUK II mengandung makna sebagai berikut:

1. pekerjaan bersifat intensif dari segi waktu, jumlah, frekuensi

Contoh:

ƒ

ﺐﺮﻀ

[dlaraba] (memukul) menjadi

ﺐّﺮﻀ

[dlarraba] (memukul berkali-kali)

ƒ

ﻊﻄﻗ

[qatha’a] (memotong) menjadi

ﻊّﻄﻗ

[qaththa’a] (memotong kecil-kecil)

2. mengubah intransitif (lazim) menjadi transitif (muta’addy)

Contoh:

ƒ

ﺪﺤو

[wahada] (esa) menjadi

ﺪّﺤو

[wahhada]

(mengesakan)

3. mengintensifkan makna dasar Contoh:

ƒ

ﻢﻌﺸ

[sya’ama] (salah) menjadi

ﻢّﻌﺸ

[sya’’ama]

(banyak salah)

4. menganggap sesuatu bersifat Contoh:

ƒ

ﻞﻬﺠ

[jaHula] (bodoh) menjadi

ﻞّﻬﺠ

[jaHHala]

(menganggap seseorang bodoh) 5. menjadi memiliki sifat

Contoh:

ƒ

زﻮﺠﻋ

[‘ajūzun] (tua) menjadi

ز ﺠﻋ ّ

[’ajjaza ] (menjadi tua)

6. menghilangkan suatu sifat Contoh:

ƒ

عﺰﻓ

[fazi’a] (takut) menjadi

ع زﻓ ّ

[fazza’a]

(menghilangkan takut)

7. memiliki makna sama dengan kata dasar I atau bentuk V

Contoh:

ƒ

ﻪﺘﻝّﻴز

[zayyaltuhu] dari

ﻪﺘﻝز

[zaltuhu] (I) (saya memisahkannya)

ƒ

لّﺪﺒ

[baddala] dari

لّﺪﺒﺘ

[tabaddala] (V) (menukar)

8. menyebabkan orang melakukan sesuatu Contoh:

ƒ

ﺐﺘآ

[kataba] (menulis) menjadi

ﺐّﺘآ

[kattaba]

(menyebabkan orang menulis) 9. mengungkapkan makna dari kata benda asal

Contoh:

ƒ

ﺰﺒﺨ

[khubzun] (roti) menjadi

ﺰ ﺒﺨ ّ

[khubbaza]

(membuat roti)

10. menunjukkan perpindahan posisi Contoh:

ƒ

قّﺮﺸ

[syarraqa] (pergi ke Timur),

ﺐّﺮﻏ

[gharraba] (pergi ke Barat)

BENTUK III mengandung makna sebagai berikut:

1. mengerjakan bersama Contoh:

ƒ

ﻖﺒﺴ

[sabaqa] (mengalahkan) menjadi

ﻖﺒﺎﺴ

[sābaqa] (kompetisi)

2. menunjukkan usaha untuk mengerjakan sesuatu Contoh:

ƒ

ﻞﺘﻗ

[qatala] (membunuh) menjadi

ﻞﺘﺎﻗ

[qātala]

(berusaha membunuh)

3. berprilaku dengan kondisi yg ditunjukkan kata dasar Contoh

ƒ

ﻦﺴﺤ

[hasuna] (baik) menjadi

ﺔﻨﺴﺎﺤ

[haasanaH]

memperlakukannya dng baik 4. menunjukkan intensitas

Contoh:

ƒ ﻢﺡر [rahima] (sayang) menjadi ﻢﺡار [rāhima]

(menyayangi sekali)

5. mengubah intransitif (lazim) menjadi transitif (muta’addy)

Contoh:

ƒ

يود

[dawiya] (sakit) menjadi

ىواد

[dāwā]

(mengobati)

6. maknanya mirip dengan makna dasar, bentuk II, dan IV

Contoh:

ƒ

كﺮﺒ

[baraka] (I) menjadi

كﺮﺎﺒ

[bāraka]

(memberkahi)

ƒ

ﻒّﻌﺽ

[dha’’afa] (II) menjadi

ﻒﻋﺎﺽ

[dlā’afa]

(melipatgandakan)

ƒ

ﺎﻥﻋرا

[ar’inā] (IV) menjadi

ﺎﻥﻋار

[rā’inā]

(menjadikan sensitif) 7. mencakup arti kata depan

Contoh:

ƒ

ﺪﻥﻋﺲﻝﺠ

[jalasa ‘inda] menjadi

ﺲﻝﺎﺠ

[jālasa]

(duduk dekat)

BENTUK IV mengandung makna sebagai berikut:

1. memiliki makna sama dengan kata dasarnya atau bentuk II

Contoh:

ƒ

ﻞﻐﺷ

[syaghala] (I) menjadi

ﻞﻐﺷا

[asyghala]

(mempekerjakan)

ƒ

ﺐّﺘآ

[kattaba] (II) menjadi

ﺐﺘآا

[aktaba]

(menyebabkan orang menulis) 2. proses menjadikan sesuatu

Contoh:

ƒ

ﺮﻔﻗ

[qafrun] (gurun) menjadi

ﺮﻔﻗا

[aqfara]

(menjadi gurun)

3. mengubah intransitif (lazim) menjadi transitif (muta’addy)

Contoh:

ƒ

ﻢﺄﻗ

[qāma] (berdiri) menjadi

ﻢﺂﻗا

[aqāma]

(mendirikan) 4. menjadikan suatu kondisi

Contoh:

ƒ

ﺮﺴﻴ

[yasara] (mudah) menjadi

ﺮﺴﻴا

[aisara]

(menjadi mudah)

5. mengajukan sesuatu untuk mendapat perlakuan tertentu

Contoh:

ƒ

ﻞﺘﻗ

[qatala] (bunuh) menjadi

ﻞﺘﻗا

[aqtala]

(membiarkan terbunuh)

6. masuk ke dalam suatu kondisi atau tempat Contoh:

ƒ

ﻢﻝﺴ

[salima] (selamat) menjadi

ﻢﻝﺴا

[aslama]

(masuk Islam)

ƒ

ﻞﺒﺠ

[jabal] (gunung) menjadi

ﻞﺒﺠا

[ajbala]

(masuk gunung) 7. membuat intensif

Contoh:

ƒ

ﺐﺒﺡ

[hababa] (mencintai) menjadi

ﺐﺒﺡا

[ahbaba] (sangat mencintai)

8. sesuatu bersifat Contoh:

ƒ

ﺪﻤﺤ

[hamida] (memuji) menjadi

ﺪﻤﺡا

[ahmada]

(orang terpuji) 9. ditemukan sesuatu bersifat

Contoh:

ƒ

ﺮﻤﺙ

[tsamara] (sifat berbuah) menjadi

ﺮﻤﺙا

[atsmara] (ditemukan buah) Contoh kalimat:

ƒ

ﺮﻬﻨﻝا ﻰﻝإ ﺐهﺬﻨ ﻦأ ﻢﻮﻴﻝا لوﺎﺤﻨﺴ

[sanuhāwilu al-yauma an nadzHaba ilā an-naHri] Kami akan mencoba bersama pergi hari ini ke sungai

ƒ

؟ ﺔﻴﻨﺎﺒﻴﻝا ﺔﻐﻝا ﺎﻨﻝ ﺲّرﺪﻨﺴ ﻦﻤ

[man sanudarrisu lanā al-lughata al-yabāniyyāti? ] Siapa yang akan

mengajarkan kita bahasa Jepang?

6.3.2 BENTUK TURUNAN V – VI

Kelompok kedua dari bentuk turunan dari kata akar

ﻞﻌﻓ

[fa’ala] terdiri atas:

1. Bentuk V :

ﻞ ﻌﻓﺘ ّ

[tafa’’ala] –

ﻞ ﻌﻓﺘﻴ ّ

[yatafa’’ilu]

2. Bentuk VI :

ﻞﻋﺎﻓﺘ

[tafā’ala] –

ﻞﻋﺎﻓﺘﻴ

[yatafā’ilu]

bentuk turunan kata kerja lampau kata kerja kini V

ﻞ ﻌﻓﺘ ّ

[tafa’’ala]

ﻞ ﻌﻓﺘﻴ ّ

[yatafa’’ilu]

VI

ﻞﻋﺎﻓﺘ

[tafā’ala]

ﻞﻋﺎﻓﺘﻴ

[yatafā’ilu]

Tabel 6.4 Bentuk turunan V - VI

Pada dasarnya bentuk turunan V dan VI merupakan hasil perubahan dari bentuk turunan II dan III dengan menambahkan imbuhan awal

~ﺘ

[ta-] pada bentuk lampau.

Perlu diperhatikan bahwa pada bentuk kerja kini terjadi perubahan vokal imbuhan

~ ﻴ

[ya-] dari u menjadi a.

Kelompok kedua bentuk turunan ini memiliki pola makna sebagai berikut:

BENTUK V mengandung makna sebagai berikut:

1. menjadi Contoh:

ƒ

ﻞﻬﺠ

[jaHula] (bodoh) menjadi

ﻞّﻬﺠﺘ

[tajaHHala] (menjadi bodoh) 2. meminta

Contoh:

ƒ

ﻢﻝﻋ

[‘alima] (mengetahui) menjadi

ﻢّﻝﻌﺘ

[ta’allama] (menuntut ilmu) 3. akibat dari bentuk II

Contoh:

ƒ

ل ﺰﻨ ّ

[nazzala] (menurunkan) menjadi

ل ﺰﻨﺘ ّ

[tanazzala] (telah turun)

4. mencoba / berharap mendapatkan sesuatu Contoh:

ƒ

ﻚﺮﺒ

[baraka] (memberkahi) menjadi

ﻚ ﺮﺒﺘ ّ

[tabarraka] (berharap mendapat berkah) 5. terjadinya sesuatu secara berurutan

Contoh:

ƒ

ﻞﺰﻨ

[nazala] (turun) menjadi

ﻞ ﺰﻨﺘ ّ

[tanazzala]

(turun secara bertahap)

6. mempengaruhi/berusaha memperoleh Contoh:

ƒ

ﻊﺠﺸ

[syaja’a] (berani) menjadi

ﻊ ﺠﺸ ّ

[tasyajja’a]

(memberanikan diri)

7. memiliki makna sama dengan bentuk II dengan arti tambahan percaya atau mencari

Contoh:

ƒ

ﺮﺒﻜ

[kabir] (besar) menjadi

ﺮ ﺒﻜﺘ ّ

[takabbara]

(percaya dirinya besar)

ƒ

ﻦﻴﺒ

[bayana] (menjelaskan) menjadi

ﻦ ﻴﺒﺘ ّ

[tabayyana] (mencari kejelasan) 8. berubah status agama, suku, bangsa

Contoh:

ƒ

ﺮﺼﻨ

[nashara] (kristen) menjadi

ﺮّﺼﻨﺘ

[tanashshara] (menjadi kristiani) 9. berusaha melakukan dengan serius

Contoh:

ƒ

ﺐﻠﻂ

[thalaba] (mencari) menjadi

ﺐّﻠﻄﺕ

[tathallaba] (mencari dengan serius) BENTUK VI mengandung makna sebagai berikut:

1. mengerjakan bersama Contoh:

ƒ

ﻰﺼو

[washā] (menasihati) menjadi

ﻰﺼاوﺘ

[tawāsha] (saling menasihati)

2. dalam bahasa Tuhan berarti reflektif (untuk diri sendiri)

Contoh:

ƒ

ﻚﺮﺑ

[baraka] (berkah) menjadi

ﻚﺮﺎﺑﺕ

[tabāraka]

(membuat diri-Nya berkah) 3. berpura-pura

Contoh:

ƒ

ﺾﺮﻤ

[maridho] (sakit) menjadi

ﺾﺮﺎﻤﺘ

[tamāridho] (pura-pura sakit) 4. terjadinya sesuatu secara bertahap Contoh:

ƒ

ﻊﺠر

[raja’a] (pulang) menjadi

ﻊﺠاﺮﺘ

[tarāja’a]

(pulang secara bertahap) 5. akibat dari bentuk II dan III

Contoh:

ƒ

ىوﺪ

[dawā] (II/mengobati) menjadi

ىواﺪﺘ

[tadāwā] (terobati)

ƒ

ﺪﻋﺎﺒ

[bā’ada] (III/menjauhkan) menjadi

ﺪﻋﺎﺒﺘ

[tabā’ada] (jauh) Contoh kalimat:

ƒ

ﻚﻤﺴا ﺮّآﺬﺘأ ﻻ ﺎﻨأ

[ana lā atadzakkaru ismuka]. Saya tidak ingat namamu

ƒ

رﺎﻄﻘﻝا ﻰﻥﺘﻔﻓ حﺎﺑﺼﻝا ﻰﻓ ﺖﻝﺴﺎﻜﺘ

[takāsaltu fī ash-shabāhi fa fatanī al-qithāru] Saya malas di pagi ini sehingga saya tertinggal kereta api

6.3.3 BENTUK TURUNAN VII – X

Kelompok ketiga dari bentuk turunan dari kata akar

ﻞﻌﻓ

[fa’ala] terdiri atas:

1. Bentuk VII :

ﻞﻌﻓﻨا

[infa’ala] -

ﻞﻌﻓﻥﻴ

[yanfa’ilu]

2. Bentuk VIII :

ﻞﻌﺘﻓا

[ifta’ala] -

ﻞﻌﺘﻓﻴ

[yafta’ilu]

3. Bentuk IX :

ﻞﻌﻓا

[if’alla] -

ﻞﻌﻓﻴ

[yaf’allu]

4. Bentuk X :

ﻞﻌﻓﺘﺴا

[istaf’ala] -

ﻞﻌﻓ ﺘ ﺴﻴ

[yastaf’ilu]

Bentuk turunan IX telah dianggap punah dalam bahasa Arab modern, meskipun terkadang masih dipakai dalam syair [Wightwick98]

bentuk kata kerja lampau kata kerja kini VII

ﻞﻌﻓﻨا

[infa’ala]

ﻞﻌﻓﻥﻴ

[yanfa’ilu]

VIII

ﻞﻌﺘﻓا

[ifta’ala]

ﻞﻌﺘﻓﻴ

[yafta’ilu]

IX

ﻞﻌﻓا

[if’alla]

ﻞﻌﻓﻴ

[yaf’allu]

X

ﻞﻌﻓﺘﺴا

[istaf’ala]

ﻞﻌﻓﺘﺴﻴ

[yastaf’ilu]

Tabel 6.5 Bentuk Turunan VII ~ X

Pada bentuk turunan VII terjadi penambahan awalan

~ ﻥا

[in-]

pada kata akar, kemudian penambahan

ا

[alif] dengan menyisipkan imbuhan

~ ﺘ ~

[–ta-] pada bentuk VIII, penambahan

ا

[alif] dengan menggandaan abjad akar

ل

pada bentuk IX, penambahan imbuhan awal

~ ﺘﺴا

[ista-] pada bentuk X.

Kelompok ketiga dari bentuk turunan ini memiliki pola makna sebagai berikut:

BENTUK VII mengandung makna sebagai berikut:

1. bentuk dasar atau akibat dari bentuk dasar Contoh:

ƒ

ﺮﻂﻓ

[fathara] (membelah) menjadi

ﺮﻂﻓﻥا

[infathara ] (menjadi terbelah) 2. akibat dari bentuk IV

Contoh:

ƒ

ﻊﻓﻂا

[athfa’a] (memadamkan) menjadi

ﻊﻓﻂﻥا

[inthafa’a] (menjadi padam)

BENTUK VIII mengandung makna sebagai berikut:

1. akibat dari bentuk dasar Contoh:

ƒ

ﻊﻓﺮ

[rafa’a] (meninggikan) menjadi

ﻊﻔﺘﺮا

[irtafa’a] (menjadi tinggi) 2. mengerjakan bersama

Contoh:

ƒ

ﻒﻝﺨ

[khalafa] (berbeda) menjadi

ﻒﻝﺘﺨا

[ikhtalafa] (saling berbeda) 3. sangat

Contoh:

ƒ

ﺪﻬﺠ

[jaHada] (berusaha keras) menjadi

ﺪﻬﺘﺠا

[ijtaHada] (berusaha sangat keras)

4. bermakna sama dengan kata dasar, bentuk VI dan VII Contoh:

ƒ

ﺐﺴﻜ

[kasaba] (I) menjadi

ﺐﺴﺘﻜا

[iktasaba]

(memperoleh)

ƒ

ﻞﺘﺎﻘﺘ

[taqātalu] (VI) menjadi

ﻞﺘﺘﻗا

[iqtatalu]

(saling bunuh)

ƒ

ﻢﺘﻏا

[ightamma] (VII) menjadi

ﻢﺘﺘﻏا

[ightatamma]

(saling menjaga)

BENTUK IX sering dipakai untuk menunjukkan perubahan kondisi yang terkait dengan warna

Contoh:

ƒ

ﺮﻤﺤ

[hamira] (merah) menjadi ّ

ﺮﻤﺤا

[ihmarra]

(menjadi merah)

BENTUK X mengandung makna sebagai berikut:

1. meminta sesuatu Contoh:

ƒ

ﺮﻔﻏ

[ghafara] (mengampuni) menjadi

ﺮﻔﻐﺘﺴا

[istaghfara] (meminta ampunan)

2. akibat bentuk IV Contoh:

ƒ

ﻰﻨﻏا

[aghnā] (mencukupi) menjadi

ﻰﻨﺘﺴا

[istaghnā] (berkecukupan) 3. menilai penting sesuatu

Contoh:

ƒ

ﻢه

[hamma] (menginginkan) menjadi

ﻢﻬﺕﺴا

[istahamma] (menilai penting) 4. berubah

Contoh:

ƒ

ﺢﻝﻤ

[maluha] (asin) menjadi

ﺢﻝﻤﺘﺴا

[istamlaha (berubah menjadi garam)

5. artinya sama dengan makna dasarnya Contoh:

ƒ

ﺮﻗ

[qarra] (menetap) menjadi

ﺮﺮﻗﺘﺴا

[istaqrar]

(menetap)

6. menempatkan seseorang pada sebuah posisi Contoh:

ƒ

ﺮﺰﻮ

[wazira] (menteri) menjadi

ﺮﺰﻮﺘﺴا

[istawzara] (menunjuk jadi menteri) Contoh kalimat:

ƒ

ﺔﻔﺼﺎﻌﻝا ﻰﻓ ﺔﻨﻔﺴﻝا ﺖﺑﻝﻘﻨا

[inqalabat as-safînatu fî

al-‘âshifati] Kapal laut telah terbalik dalam badai

ƒ

ﻢﺮﺤﻷا ﻦﺎﻜﻤ ﻦﻋ ﻞﻴﻝﺪﻝا ﻦﻤ ﺢﺌﺎﺴﻝا ﻢﻝﻌﺘﺴﻴ

[yasta’limu as-sāihu min ad-dalīli ‘an makāni al-ahrami] Seorang turis minta diberitahu tentang lokasi piramid 6.4 BENTUK PERINTAH

Kata kerja bentuk perintah digunakan untuk meminta orang lain mengerjakan suatu perbuatan yang kita inginkan. Ditinjau dari aspek waktu, bentuk ini termasuk bentuk mendatang.

Oleh karena itu bentuk perintah diperoleh dari bentuk kini dengan mengganti awalan

~ ﻴ

[ya-] dengan

ا

, sebagaimana diperlihatkan pada tabel 6.6 berikut.

bentuk

lampau bentuk kini bentuk

perintah contoh

bentuk kini bentuk perintah

Tabel 6.6 Bentuk Perintah

*) Kata kerja berabjad empat dibahas pada bagian 6.8

Selain pola di atas, kita juga bisa menerapkan pola

[li] + jussif (lihat subbab 6.5.2) untuk bentuk perintah

Contoh:

ƒ

فﺎﻌﺴﻹا ةﺮﺎﻴﺴﺮﻀﺘﻨﻨﻝ

[linantadlir sayyārata al-is’āfi] Mari kita membawa mobil ambulans

Pada dasarnya terdapat dua macam bentuk perintah, yakni 1. orang kedua melakukan suatu aksi. Bentuk ini yang

paling lazim dikenal sebagai bentuk perintah Contoh:

ƒ

! بﺮﺽإ

[idhrib] (pukullah!).

2. orang kedua membiarkan orang ketiga melakukan aksi, yang ditandai oleh partikel

[li]

Contoh:

ƒ

ﺐﺮﻀﻴﻝ

[liyadhrib] (Biarkan dia memukul!) Imbuhan akhir

نّ

~ kadang ditambahkan untuk memperkuat makna perintah. Contoh:

ƒ

ﻦﺒﺮﺽإ

ّ [idhribinna] (pukullah!) 6.5 BENTUK KONDISIONAL

Kata kerja bentuk kondisional merupakan kata kerja bentuk kini yang dipakai untuk mengungkapkan kondisi atau keadaan yang terdiri atas dua bentuk, yakni: subjungtif (nashab) dan jussif (jazm). Kedua bentuk ini digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pengharapan, pengandaian, perintah, kalimat relatif, anak kalimat, dan sebagainya.

6.5.1 BENTUK SUBJUNGTIF

Bentuk subjungtif merupakan modifikasi dari kata kerja kini, dimana pada bentuk tunggal, vokal akhir berupa a , sedangkan pada bentuk jamak, abjad

[nun] pada akhiran

ﻦﻮ

~

diganti menjadi

ا

:

اﻮ ~

. Bentuk subjungtif dikenal sebagai bentuk nashab dari kata kerja. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat perbandingan kata kerja kini dan bentuk subjungtif-nya pada tabel 6.7.

jenis pelaku kata kerja kini bentuk subjungtif

ﺎﻥا

[ana]

بﺘﻜأ ُ

[aktubu]

بﺘﻜأ َ

[aktuba]

ﺖﻥا

َ

[anta]

بﺘﻜﺕ ُ

[taktubu]

بﺘﻜﺘ َ

[taktuba]

ﺖﻥا

ِ

[anti]

ﻦﻴﺑﺘﻜﺘ

[taktubīna]

ﻰﺑﺘﻜﺘ

[taktubī]

ﻢﺘﻥا

[antum]

ﻦﻮﺑﺘﻜﺘ

[taktubūna]

اﻮﺑﺘﻜﺘ

[taktubū]

ﻦﺘﻥا

[antunna]

ﻦﺑﺘﻜﺘ

[taktubna]

ﻦﺑﺘﻜﺘ

[taktubna]

ﻦﺤﻥ

[nahnu]

بﺘﻜﻨ ُ

[naktubu]

بﺘﻜﻨ َ

[naktuba]

ﻮه

[Huwa]

بﺘﻜﻴ ُ

[yaktubu]

بﺘﻜﻴ َ

[yaktuba]

ﻲه

[Hiya]

بﺘﻜﺘ ُ

[taktubu]

بﺘﻜﺘ َ

[taktuba]

ﻢه

[Hum]

ﻦﻮﺑﺘﻜﻴ

[yaktubūna]

اﻮﺑﺘﻜﻴ

[yaktubū]

ﻦه

[Hunna]

ﻦﺑﺘﻜﻴ

[yaktubna]

ﻦﺑﺘﻜﻴ

[yaktubna]

Tabel 6.7 Kata kerja kini dan bentuk subjungtifnya

Dilihat posisinya dalam kalimat, bentuk subjungtif ini memiliki beberapa fungsi berikut:

1. subyek Contoh:

ƒ

ﺎﻂﺥ ﻞآ ﻰﻝﻋ ﻪﺒﻗﺎﻌﺕ نأ لﺪﻌﻝا ﻦﻡ ﻰﺴﻴﻝ

[laysa min

al-‘ad-li an tu’āqibaHu ‘ala kulli khathā] Tidak adil menimpakan semua kesalahan kepadanya 2. obyek dari kata kerja

Contoh:

ƒ

بﺎﺘآﻝا ﻰﻨﻴﻄﺌی نأ ﺾﻓر

[rafadla an yu’thiyani al-kitāba] Dia lk. menolak memberikan kitab kepadaku

3. anak kalimat Contoh:

ƒ

مﺮﺠﻤﻝا درﺎﻄﻥ نأ ﺎﻨﺒﺝاو ﻦﻡ ﻰﺴﻴﻝ

[laysa min wājibinā an nuthārida al-mujrima] Bukan kewajiban kita menghukum orang bersalah 4. kata kerja setelah kata kerja bantu

Contoh:

ƒ

مﻮﻴﻝا ﻢﻜﻌﻡ ىﺮﺝأ نأ ﻊﻴﻄﺘﺴأﻻ

[lā astathī’u an ajriya ma’akum al-yauma] Saya tidak bisa lari dengan Anda hari ini

ƒ

نﺎﺤﺘﻡﻹا ﻰﻓ ﻰﺤﺠﻨﺘﻝ ىﺮآﺬﺕ نأ ﻚﻴﻠﻋ

[‘alaiki an tudzakirī li tanjahî fî al-imtihân] Anda pr.

seharusnya belajar agar lulus ujian 6.5.2 BENTUK JUSSIF

Sebagaimana subjungtif, bentuk jussif (jazm) merupakan kata kerja kini yang telah dimodifikasi, pada bentuk tunggal, vokal

akhir menjadi tanpa vokal (sukun), pada bentuk jamak abjad ﻦ [nun] pada imbuhan ﻦﻮ - dihilangkan.

jenis pelaku kata kerja kini bentuk subjungtif

ﺎﻥا

[ana]

بﺘﻜأ ُ

[aktubu]

بﺘﻜأ ْ

[aktub]

ﺖﻥا

َ

[anta]

بﺘﻜﺕ ُ

[taktubu]

بﺘﻜﺘ ْ

[taktub]

ﺖﻥا

ِ

[anti]

ﻦﻴﺑﺘﻜﺘ

[taktubīna]

ﻰﺑﺘﻜﺘ

[taktubī]

ﻢﺘﻥا

[antum]

ﻦﻮﺑﺘﻜﺘ

[taktubūna]

اﻮﺑﺘﻜﺘ

[taktubū]

ﻦﺘﻥا

[antunna]

ﻦﺑﺘﻜﺘ

[taktubna]

ﻦﺑﺘﻜﺘ

[taktubna]

ﻦﺤﻥ

[nahnu]

بﺘﻜﻨ ُ

[naktubu]

بﺘﻜﻨ ْ

[naktub]

ﻮه

[Huwa]

بﺘﻜﻴ ُ

[yaktubu]

بﺘﻜﻴ ْ

[yaktub]

ﻲه

[Hiya]

بﺘﻜﺘ ُ

[taktubu]

بﺘﻜﺘ ْ

[taktub]

ﻢه

[Hum]

ﻦﻮﺑﺘﻜﻴ

[yaktubūna]

اﻮﺑﺘﻜﻴ

[yaktubū]

ﻦه

[Hunna]

ﻦﺑﺘﻜﻴ

[yaktubna]

ﻦﺑﺘﻜﻴ

[yaktubna]

Tabel 6.8 Kata kerja kini dan bentuk jussif-nya

Bentuk jussif biasanya digunakan dalam beberapa kasus berikut ini:

1. larangan

Jussif diletakkan setelah partikel negatif ﻻ [lā] (jangan) untuk membentuk kalimat larangan

Contoh:

ƒ

ﺔﻴﻝﺎﻌﻝا ةﺮﺠﺴﻝا ﻩﺬه اﻮﻘﻠﺴﺘﺕنأ اﻮﻝوﺎﺡﺕ ﻻ

[lā tuhāwilū an tatasallaqū HādziHi asy-syajarata al-‘āliyati]

Jangan mencoba memanjat pohon tinggi ini 2. ajakan

Jussif diletakkan setelah partikel ~

ﻝﻓ

[fal] atau ~

[li]

yang berarti marilah!

Contoh:

ƒ

لﻮﺒﻄﻝا عﺮﻗ ﻦﻋ اﻮﻌﻨﺘﻤی نأ ﺎﻨﻥاﺮﻴﺝ ﻰﻠإ ﺐهﺬﻨﻠﻓ

[falnadzhab ilā jīrāninā an namtani’ū ‘an qar’i ath-thubūli]. Marilah kita pergi ke tetangga kita untuk melarang memukul drum

3. menegatifkan kata kerja lampau

Jussif diletakkan setelah partikel negatif

ﻢﻝ

[lam] untuk menegasikan kata kerja lampau (bahasa Inggris: didn’t) Contoh:

ƒ

ﻰﺴآﺎﺕ ﻰﻠﻋﺮﺜﻌﺕ ﻢﻝ ﺎﻬﻥﻷ ﻰﺘﻤﻋ تﺮﺥﺄﺕ

[taākhkharat

‘ammatī li annahā lam ta’atstsar ‘alā tākuysī].

Bibiku telah terlambat karena dia <telah>

tidak menemukan taksi 4. perintah

Jussif juga digunakan untuk membuat bentuk perintah dengan sedikit perubahan pada awalannya.

Ada dua kasus dalam hal ini, yakni:

a. Apabila jussif memiliki ُ

-

[sukun] pada abjad pertama kata akarnya, maka awalan ~

[ta-]

digantikan oleh abjad

ا

. Pada contoh pertama berikut, abjad pertama

ش

pada

بﺮﺸﺕ

[tasyrab]

dalam keadaan sukun.

Contoh:

ƒ

بﺮﺸﺕ

[tasyrab] (Anda lk. minum) menjadi

بﺮﺷإ

[isyrab] (Minumlah!)

ƒ

ﻰﺒهﺬﺕ

[tadzHabī] (Anda pr. pergi) menjadi

ﻰﺒهذإ

[idzhabī] (Pergilah!)

b. Apabila jussif memiliki vokal pada abjad pertama kata akarnya, maka awalan ~

[ta-] dihilangkan.

Pada contoh pertama berikut, abjad pertama ذ [dza] pada

ﺮآﺬﺘﺕ

[tatadzakkara] bervokal a.

Contoh:

ƒ

ﺮآﺬﺘﺕ

[tatadzakkara] (Anda ingat) menjadi

ﺮآﺬﺕ

[tadzakkar] (Ingat!)

ƒ

نوﺎﻌﺘﺕ

[tata’āwanū] (Kalian bekerjasama) menjadi

نوﺎﻌﺕ

[ta’āwanū] (Bekerjasamalah!) 5. Kalimat kondisional, didahului oleh

نإ

[in] (jika)

Contoh:

ƒ

اﻮﺒﻴﺠﻴ ﻢهﻮﻠﺄﺴﺘ نإ

[in tas’alūHum yujībū]

Apabila kalian bertanya, maka mereka akan menjawab

Pola pembentukan bentuk dual kata kerja, termasuk bentuk subjungtif dan jussif dapat dilihat pada tabel 6.9.

dual bentuk

lampau bentuk kini subjungtif jussif

ﺎﻤﺘﻥا

kanadā ba’da al-harbi] Dua keluarga telah pindah ke Kanada setelah perang

6.7 MERUBAH KATA KERJA MENJADI KATA BENDA Pada bagian sebelumnya kita telah membahas berbagai bentuk turunan dari kata akar. Pada bagian ini kita akan mempelajari proses perubahan kata kerja menjadi kata benda. Kata benda tersebut berupa kata benda abstrak (verbal noun), kata benda pelaku (verbal person), kata benda tempat (verbal place) dan kata benda alat (verbal tool)

6.7.1 KATA BENDA ABSTRAK

Dalam bahasa Inggris, kita membentuk kata benda abstrak dari kata kerja dengan menambahkan imbuhan akhir, seperti -tion, -ing, atau -ment (misal: informa-tion, swimming, treatment), atau dalam bahasa Indonesia, kita menggunakan imbuhan pe-an (misal: penerappe-an, perlakupe-an). Bahasa Arab memiliki fenomena serupa dengan menerapkan beberapa pola baku yang merubah kata akar (kata kerja) menjadi kata benda.

Kata benda abstrak bisa diperoleh dengan sekitar 44 pola pembentukan. Lima diantaranya yang paling sering dipakai adalah [Wright88]:

1.

ﻞﻌﻓ

[fa’lun]: untuk kata kerja transitif (yang berobyek) berpola

ﻞﻌﻓ

[fa’ala] dan

ﻞﻌﻓ

[fa’ila]

2.

ﻞﻌﻓ

[fa’alun]: untuk kata kerja intransitif (yang tidak perlu obyek) berpola

ﻞﻌﻓ

[fa’ila]

Contoh:

ƒ

ﻞﻤﻋ

[’amalun] (pekerjaan) dari

ﻞﻤﻋ

[’amila]

(bekerja)

ƒ

حﺮﻓ

[farahun] (kebahagiaan) dari

حﺮﻓ

[fariha]

(merasa bahagia)

3.

ﺔﻠﺎﻌﻓ

[fa’ālatun]: untuk kata kerja kerja intransitif berpola

ﻞﻌﻓ

[fa’ula]

Contoh:

ƒ

ةﻮاﺮﺴ

[sarāwatun] (keramahan) dari

ﻮﺮﺱ

[saruwa] (berprilaku ramah)

4.

ﻞﻮﻌﻓ

[fu’ūlun]: untuk kata kerja intransitif berpola

ﻞﻌﻓ

Beberapa pola pembentukan kata benda lainnya bisa dilihat pada tabel 6.10.

bepergian

ﻞﺡﺮ

[rahala]

pergi Tabel 6.10 Pembentukan kata benda abstrak dari kata akar Selain itu kita bisa memperoleh kata benda dari bentuk turunan, seperti yang terlihat pada tabel 6.11 berikut.

bentuk

turunan kata kerja

turunan kata benda

abstrak

(menghormati)

ماﺮﺘﺡإ

[ihtirāmun]

(penghormatan) X

ﻦﺴﺡﺘﺱا

[istahsana]

(mengagumi)

نﺎﺴﺤﺘﺱإ

[istihsānun]

(kekaguman) Tabel 6.11 Pembentukan kata benda abstrak dari bentuk

turunan

6.7.2 KATA BENDA PELAKU

Kata benda pelaku bisa dibentuk dengan memakai pola-pola berikut.

Apabila pelakunya bergender pr., maka kita tinggal menambahkan akhiran

ة

.

Contoh:

ƒ

ﺔﺒﺕﺎآ

[kātibatun] penulis pr.

Kata benda pelaku bisa juga diperoleh dari bentuk turunan, baik yang pasif maupun yang aktif. Keduanya memiliki pola yang hampir sama. Perbedaannya terletak pada vokal tengah, dimana pelaku aktif bervokal tengah i, sedangkan pelaku pasif bervokal tengah a, seperti yang terlihat pada tabel 6.12 berikut ini.

bentuk turunan

bentuk aktif bentuk pasif II

ﺶ ﺘﻔﻡ ﱢ

[mufattisyu] Tabel 6.12 Pembentukan kata benda pelaku aktif dan pasif

dari bentuk turunan

Contoh kalimat:

ƒ

ﻦﻴﻓﺮﺘﺤﻤﻝا ﻦﻡ اﻮﻥﺎآ ﻚﻨﺒﻝا اﻮﻗرﺎﺱ

[sāriqū bank kānū min al-muhtarifīni] Para pencuri bank itu termasuk

profesional)

Pola

ﻞﻋﺎﻓ

[fā’ilun] dan

ﻞﻌﻔﻡ

[maf’ulun] sering dipakai juga untuk membentuk kata benda lainnya atau kata sifat.

Contoh:

ƒ kata benda:

ﺐﺕار

[rātibun] (gaji),

بﻮﺮﺸﻡ

[masyrūbun]

(minuman)

ƒ kata sifat:

ﻞﻐﺸﻡ

[masygulun] (sibuk) 6.7.3 KATA BENDA TEMPAT DAN ALAT

Kita bisa membentuk kata benda tempat dan alat dari kata kerja dengan pola tertentu. Kata benda tempat adalah kata yang menunjukkan lokasi, tempat dilakukannya pekerjaan yang disebutkan dalam kata akarnya, sedangkan kata benda alat menunjukkan peralatan yang dipakai untuk pekerjaan yang disebutkan kata akarnya.

Kata benda tempat memiliki pola-pola berikut:

ﻞ ﻌﻔﻡ َ

[maf’alun],

ﻌﻔﻡ

ِ

[maf’ilun] dan

ﺔﻝﻌﻔﻡ

[maf’alatun]

Contoh:

ƒ

ﺔﺱرﺪﻡ

[madrasatun] (sekolah, tempat belajar) dari

سرد

[darasa] (belajar)

Kata benda alat memiliki pola-pola berikut:

ﻞﻌﻔﻡ

[mif’alun],

لﺎﻌﻔﻡ

[mif’ālun] dan

ﺔﻝﻌﻔﻡ

[mif’alatun].

Contoh:

ƒ

ﺢﺘﻔﻡ

[miftahun] (kunci, alat untuk membuka) dari

ﺢﺘﻓ

[fataha] (membuka)

6.8 KATA KERJA BANTU

Kata kerja bantu merupakan kata kerja yang digunakan memberikan nuansa tertentu pada kalimat berupa:

1. waktu, dengan pola kata kerja bantu berikut diikuti kata kerja bentuk kini

رﺎﺹ

[shāra],

ﺢﺒﺹا

[ashbaha],

ﻰﺱﻡا

[amsā],

دﺎﻏ

[ghadā],

حار

[rāha],

مﺎﻗ

[qāma] (mulai/menjadi)

ﺬﺥأ

[akhadza],

أﺪﺑ

[badā],

عﺮﺷ

[syara’a] (mulai)

ﻞﺽ

ّ [dhalla],

ﻰﻘﺑ

[baqiya],

تﺎﺑ

[bāta] (masih)

لزﺎﻡ

[māzāla],

لاﺰیﻻ

[lā yazālu],

لﺰی ﻢﻝ

[lam yazal]

(masih/selalu)

مادﺎﻡ

[mādāma] (selama)

دﺎآ

[kāda] (hampir) Contoh:

ƒ

نﻮﻝدﺎﺠﺘی اوﺬﺥا ﺲﻠﺠﻡ ﻰﻓ

[fī majlisi akhadzū yatajādalūn] Dalam pertemuan mereka mulai berdebat

2. kemampuan, dengan pola-pola berikut:

عﺎﻄﺘﺱا

[istathā’u] +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

ﺎﻄﺥ نوﺪﺑ ﺔﺒﻌﺼﻝا ﺔﻠﻤﺠﻝا ﺐﺘﻜی نأ ﺐﻝﺎﻄﻝا عﺎﻄﺘﺱا

[istathā’u ath-thālibu an yaktuba al-jumlata ash-shu’bati bi dūna khathā] Pelajar itu telah berhasil menulis kalimat sulit tanpa kesalahan

عﺎﻄﺘﺱا

[istathā’u] + mashdar Contoh:

ƒ

؟ﻰﺴﻡ ةﺮﺷﺎﻌﻝا ﻞﺒﻗ ﺎﻨﻴﻝإ ةﺪﻮﻌﻝا ﻦﻴﻌﻴﻄﺘﺴﺕ ﻞه

[Hal tastathī’īnu al-‘audatu ilainā qabla al-‘āsyirah masā?] Apakah kalian pr. bisa kembali ke sini sebelum jam sepuluh malam?

3. keinginan, dengan pola-pola berikut

ﺐﺡا

[ahabb] +

نأ

[an ] Contoh:

ƒ

؟ ةﻮﻬﻗ ﻦﻡ نﺎﺠﻨﻓ بﺮﺸﺕ نأ ﺐﺤﺕ ﻞه

[hal tuhibbu an tasyraba finjānā minal qaHwah?] Apakah Anda ingin minum secangkir kopi?

ﺐﺡا

[ahabb] + mashdar Contoh:

ƒ

؟ ةﻮﻬﻗ ﻦﻡ نﺎﺠﻨﻓ بﺮﺸ ﺐﺤﺕ ﻞه

[Hal tuhibbu syurb finjāni min al-qaHwah?] Apakah Anda ingin minum secangkir kopi?

ﺐﺠﻌی

[yu’jibu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

ﻰﺘﺱرﺪﻡ ﻰﻝإ ﺐهﺬﺕ نأ ﻚﺒﺠﻌی

[yu’jibuka an tadzHaba ilā madrasātī] Anda ingin pergi ke sekolahku

4. keharusan

ﺐﺝو

[wajab] +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

نﻵا ةرﺎﻴﺴﻝا ﺐآﺮﺕ نأ ﺐﺠی

[yajib an tarkabū as-sayyārata al-ān] Anda harus

mengendarai mobil sekarang

ﻰﻠﻋ

[‘alā] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

اﺪﻴﺝ ﺲﺉاﺮﻝا بﺎﻄﺥ اﻮﻤﻬﻔﺕ نأ ﻢﻜﻴﻠﻋ

[’alaikum an tafHamū khithāba ar-rāis jayyidan] Anda harus memahami wakil presiden sebaik-baiknya

ﻰﻐﺒﻥا

[inbagha] +

نأ

[an], tingkat keharusannya lebih lemah daripada

ﺐﺝو

[wajaba]

Contoh:

ƒ

ﺾیﺮﻡ ﻪﻥﻷ ﺐﺘﻜﻤﻝا ﻰﻝإ ﺐهﺬی ﻻ نأ ﻰﻐﺒﻨی

[yanbagī an lā yadzHaba ilā al-maktabi li-annaHu marīdl] Dia lk. tidak harus pergi ke kantor dikarenakan sakit

5. kebolehan

زﺎﺝ

[jāz] + partikel

[li] + kata benda +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

ﻞﻤﻌﻤﻝا سﺉار ﺐﺘﻜﻡ ﻰﻝإ اﻮﻠﺥﺪی نأ ﻦﻴﺱﺪﻨﻬﻤﻝ زﻮﺠی ﻰﺘﻗو ىا ﻰﻓ

[yajūzu li al-muHandisīna an yadkhulū ilā maktabi rāisi al-ma’mali fī ayyi waqtī] Para insinyur lk. boleh memasuki kantor direktur perusahaan setiap saat 6. pengharapan

ﻰﻨﻤﺕ

[tamannā] + partikel ﻞ [li] + kata ganti kepunyaan

Contoh:

ƒ

زﺎﻬﺝﻝﺎﺑ اروﺮﺴﻡ نﻮﻜی نأ ﻪﻝ ﻰﻨﻤﺕأ

[atamannā laHu an yakūnu masrūran bil jiHāz] Saya berharap dia lk. menjadi gembira dengan peralatan itu

7. kemungkinan

ﻦﻜﻤی

[yumkinu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

ﻞﻤﺘﺤی

[yuhtamalu] +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

اﺪﻨآ ﻰﻝإ ﺎﺒیﺮﻗ ﺮﻓﺎﺴﻥ نأ ﻞﻤﺘﺤی

[yuhtamalu an nusāfira qarīban ilā kanadā] Kemungkinan kami akan segera berangkat ke Kanada 8. penting

ﻢﻬی

[yuHimmu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

Contoh:

ƒ

كﺎﻨهﺮﻀﺡأ نأ ﻲﻨﻤﻬی

[yuHimmunī an ahdhura Hunāka] Adalah penting bagi saya untuk hadir di sana)

9. kehormatan

فﺮﺴی

[yusyarrifu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an] , berarti merasa terhormat

Contoh:

ƒ

ﺎﻨه ﺮﺽﺡأ نأ ﻰﻨﻓﺮﺸی

[yusyarrifunī an ahdlura Hunā] Sebuah kehormatan bagi saya untuk hadir di sini

10. Senang

ﺮﺴی

[yasurru] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

(senang) Contoh:

ƒ

سﻮﻡﺎﻘﻝا اﺬه ﻚﻝ مﺪﻗأ نأ ﻲﻥﺮﺴی

[yasurrunī an uqaddima laka Hādzā al-qāmūsa] Saya senang bisa menawarkan kamus ini kepada Anda

11. Kemaafan

ﻒﺴﻌی

[yu’sifu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

(mohon maaf)

ﺆﺴی

[yasūu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

(turut bersimpati)

نﺰﺤی

[yuhzinu] + kata ganti kepunyaan +

نأ

[an]

(turut berduka cita) Contoh:

ƒ

ﺎﻨﺘﺱرﺪﻡ ﻰﻓﺮﻀﺡأ ﻻ نأ ﻲﻨﻔﺴﻌی

[yu’sifunī an lā ahdlura fī madrasatinā] Saya mohon maaf tidak bisa hadir di sekolah kita

12. Berkelanjutan/kontinyu

ﻞﺽ

[dlalla],

ﻲﻘﺑ

[baqiya]

Contoh:

ƒ

ﻲﻜﺒی ﻞﻔﻄﻝا ﻲﻘﺑ

[baqiya ath-thiflu yabkiy]

Anak itu menangis terus 6.9 KATA KERJA BERABJAD EMPAT

Sebagian besar kata akar Arab memiliki tiga abjad, dan sedikit yang memiliki empat abjad akar. Meskipun demikian beberapa bentuk kata akar berabjad empat ini perlu diketahui karena sering digunakan dalam keseharian.

6.9.1 BENTUK DASAR

Pada dasarnya kata akar berabjad empat hanya memiliki satu bentuk dasar, yakni

ﻞﻝﻌﻓ

[fa’lala] -

ﻞﻝﻌﻔﻴ

[yufa’lilu]. Dari bentuk ini dikembangkan enam bentuk lainnya, yakni

ﻞﻋﻮﻓ

[fau’ala],

ﻓﻴ

ﻞﻌﺌ

[fai’ala],

لﻮﻌﻓ

[fa’wal],

ﻞﻴﻌﻓ

[fa’yal],

ﻼﻌﻓ

[fa’lā] dan

لﻨﻌﻓ

[fa’nala]. Untuk lebih memahami bentuk-bentuk di atas, kita bisa melihat tabel 6.13 berikut ini

modifikasi contoh

ﻞﻝﻌﻓ

[fa’lala]

ﺮﺙﻌﺑ

[ba’tsara] membangkitkan

ﻞﻋﻮﻓ

[fau’ala]

ﻞﻗﻮﺤ

[hauqala] membaca lā haulā

ﻞﻌﻴﻓ

[fai’ala]

ﺮﻄﻴﺹ

[shaithara] menguasai

لﻮﻌﻓ

[fa’wala]

ﺮﻮﻬﺠ

[jahwara] mengeraskan suara

ﻞﻴﻌﻓ

[fa’yala]

ﻒﻴﺮﺸ

[syaryafa] memuliakan

ﻼﻌﻓ

[fa’lā]

ﺎﻗﻝﺴ

[salqā] melukai

لﻨﻌﻓ

[fa’nala]

ﺲﻨﻠﻗ

[qalnasa] memuntahkan Tabel 6.13 Pola kata akar berabjad empat

Semua abjad kata kerja berabjad empat bentuk lampau bervokal a, sedangkan abjad kata kerja bentuk kini memiliki susunan vokal u-a-i.

Contoh:

ƒ bentuk lampau :

جرﺤد

[dahraja] telah menggulung

ƒ bentuk kini :

جﺮﺤﺪﻴ

[yudahrij] menggulung Sementara itu, bentuk pelakunya memiliki pola bentuk aktif dan pasif berikut.

Contoh:

ƒ bentuk aktif :

ج ﺮﺤ ِ ﺪﻤ

[mudahrij] yang menggulung

ƒ bentuk pasif :

ج ﺮﺤ َ ﺪﻤ

[mudahraj] yang digulung Selain itu, banyak kata akar berabjad empat terbentuk dengan mengulang dua abjadnya yang digunakan untuk meniru bunyi sesuatu. Bentuk ini terkenal sebagai onomatopoeic.

Contoh:

ƒ

ﺮﺜﺮﺜﻴ

[yutsartsir] mengobrol, bla..bla..

ƒ

ﻖﻄﻘﻄﻴ

[yuthaqtiq] meretih, krak..krak...

Berdasarkan penelitian para ulama, pola dasar

ﻞﻝﻌﻓ

[fa’lala]

banyak ditemui dalam Al-Quran, misal:

ﺮﺙﻌﺑ

[ba’tsara] (bangkit, QS. Al-‘Adiyat: 9),

لﺰﻠز

[zalzala] (guncang, QS. Al-Zalzalah: 1),

ﺲﻌﺴﻋ

[‘as’asa] (pergi, QS. At-Takwir: 17),

ﺲوﺴو

[waswasa]

(bisik, An-Naas: 5),

ﻢﺪﻤﺪ

[damdama] (binasa, QS. Asy-Syams:

14), sedangkan dari bentuk modifikasinya hanya pola

ﻞﻌﺌ ﻓﻴ

[fai’ala] yang ada dalam Al-Quran, yakni:

ﺮﻄیﺼﻤ

[mushaithiru]

(penguasa, QS. 88:22, QS. 52:37) dan

ﻦﻄیﺸ

[syaithan] (setan, QS. 2:36; 3:36; 4:38) [Wightwick98]

6.9.2 BENTUK TURUNAN

Dalam teori tatabahasa Arab terdapat tiga bentuk turunan bagi kata kerja berabjad empat, namun pada kenyataannya, hanya ada dua bentuk turunan yang sering dipakai, yakni bentuk II dan bentuk IV.

1. Bentuk II :

ﻞﻝﻌﻔﺘ

[tafa’lala] -

ﻞﻝﻌﻔﺘﻴ

[yatafa’lala]

2. Bentuk IV :

ﻞﻌﺘﻓا

ّ [ifta’alla] -

ﻞﻌﺘﻔﻴ

ّ [yafta’illa]

bentuk turunan bentuk lampau bentuk kini II

ﻞﻝﻌﻔﺘ

[tafa’lala]

ﻞﻝﻌﻔﺘﻴ

[ yatafa’lala]

IV

ﻞﻌﺘﻓا ّ

[ifta’alla]

ﻞﻌﺘﻔﻴ ّ

[yafta’illa]

Tabel 6.14 Bentuk turunan kata akar berabjad empat Contoh kalimat:

ƒ

حﺎﺒﺼﻝا ﺬﻨﻤ نﻮﻔﻝﺘﻝا ﻰﻝﻋ ﻦیﺮﺜﺮﺜﺘ ﺖﻨا

[anti tutsartsirīna ‘alā at-tilifūni mundzu ash-shabāha]. Anda pr. telah mengobrol di telepon sejak pagi

ƒ

تﺎﻓﺪﻤﻝا ﻰﻓ ﻖﻄﻘﻄﻴ ﺐﻄﺮﻝا ﺐﺸﺨﻝا

[al-khasyabu ar-rathibi yuthaqthiqu fī al-madfāti] Kayu bakar meretih di perapian

Kedua bentuk turunan di atas memiliki bentuk modifikasi seperti yang terlihat pada tabel berikut.

Bentuk Turunan

Bentuk Lampau

Modifikasi II

لﻝﻌﻔﺘ

[tafa’lala ]

لﻝﻌﻔﺘ

[tafa’alala]

ﻞﻋﻮﻔﺘ

[tafau’ala]

لﻌﺌﻔﺘ

[tafai’ala]

ﻞﻮﻌﻔﺘ

[ tafa’wala]

ﻞﻴﻌﻔﺘ

[tafa’yala]

ﻼﻌﻔﺘ

[tafa’lā]

لﻨﻌﻔﺘ

[tafa’nala]

IV

ﻞﻌﺘﻓا ْ

[ifta’alla]

ﻞﻝﻌﻓا

ْ [if’alalla]

ﻞﻝﻨﻌﻓا

[if’anlala]

ﻼﻨﻌﻓا

[if’anlā]

Tabel 6.15 Bentuk modifikasi dari bentuk turunan kata kerja berabjad empat

Berdasarkan penelitian para ulama, dari semua bentuk di atas ternyata hanya pola

ﻞﻝﻌﻓا ْ

[if’alalla] yang ditemui dalam Al-Quran, yakni

ﺰﺌﻤﺸا ّ

[isyma-azza] (kesal, QS. 39:45),

ﺮﻌﺷﻗا ّ

[iqsya’arra] (gemetar, QS. 39:23) dan

ﻦﺌﻤﻄا ّ

[ithma-anna] (aman, QS. 4:103) [Wightwick98]

6.10 BENTUK PASIF

Pada subbab 3.2, sekilas kita telah mempelajari bentuk pasif untuk kata kerja berabjad tiga. Pada kata akar berabjad tiga, perubahan kata kerja aktif menjadi pasif dilakukan cukup dengan mengubah vokal dari abjad akar, yakni dari susunan vokal a-a-a atau a-i-a atau a-u-a menjadi u-i-a.

Contoh:

ƒ

ﻞ ﻌَ ﻓَ

[fa’ala] (mengerjakan) menjadi

ﻞ ﻌِ ﻓُ

[fu’ila]

(dikerjakan)

ƒ

ﺐ ﺮِ ﺸَ

[syariba] (meminum) menjadi

ﺐ ﺮِ ﺸُ

[syuriba]

(diminum) Contoh kalimat:

ƒ

ىداﺮﻝا ﻰﻓ ﺮﺎﺒﺨﻝا اﺬه ﺮﻜذ

[dzukira hādza al-khabāru fî ar-rādiyu] Informasi ini telah diberitakan oleh radio Dalam bentuk pasif sang pelaku jarang disebutkan. Apabila ia disebutkan, maka ditandai dengan partikel

ﻦﻤ

[min].

Contoh:

ƒ

ﺪﻤﺤﻤ ﻦﻤ ﺔﻝﺎﺴﺮﻝا ﺖﺒﺘﻜ

[kutibat ar-risālatu min muhammad]

Surat telah ditulis oleh Muhammad

Bentuk turunan memiliki kesamaan dengan kata akar dalam bentuknya yang pasif, yakni memulai semua kata, baik bentuk lampau maupun kini, dengan vokal awal u, seperti terlihat pada tabel 6.16.

bentuk

turunan bentuk lampau

pasif bentuk kini pasif II

ﻞ ﻌِّ ﻓُ

[fu’’ila]

ﻞ ﻌﱠ ﻴُﻔَ

[yufa’’alu]

III

ﻞﻋ ﻮﻓ ْ

[fū’ila]

ﻞ ﻋﺎ َ ﻴُﻔَ

[yufā’alu]

IV

أُ ﻞ ﻌﻓ ِ

[uf’ila]

ﻞ ﻌﻔ َ ﻴُ

[yuf’alu]

V

ﻞ ﻌِّ ﺕُﻔُ

[tufu’’ila]

ﻞ ﻌﻔﺕ ﱠ ﻴُ

[yutafa‘’alu]

VI

ﻞﻋﻮ ﺕُﻔُ

[tufū’ila]

ﻞﻋﺎ ﻔﺕَ ﻴُ

[yutafā’alu]

VII jarang muncul

VIII

ﻞ ﻌِ ﺘﻓُ أُ

[uftu’ila]

ﻞ ﻌﺘﻔ َ ﻴُ

[yufta’alu]

X

ﻞ ﻌﻔ ِ ﺘﺴ ُ أُ

[ustuf’ila]

ﻞ ﻌﻔﺘﺴ َ ﻴُ

[yustaf’alu]

Tabel 6.16 Bentuk Pasif Turunan Contoh kalimat:

ƒ

ﻦﻴﻤﻮﻴ ﺪﻌﺑ ﺮﻄﻤﻝا ﻄﻘﺴﻴ ﻦأ ﻊﻗﻮﺘﻴ

[yutawaqqa’u an yasqutha al-matharu ba’da yaumaini] Hujan diharapkan turun dalam dua hari

ƒ

ﻢﺠﺎﻨﻤﻝا ﻦﻤ ﺐهﺬﻝا جﺮﺨﺘﺴﻴ

[yustakhraju adz-dzaHabu min al-manājimi] Emas dihasilkan dari pertambangan

Beberapa bentuk pasif berikut ini sering digunakan sebagai ungkapan untuk mengawali sebuah pernyataan

ﻦإ ﻞﺎﻘﻴ

[yuqālu inna] ... dikatakan sesungguhnya …

عﺎﻄﺘﺴﻴ

[yustathā’u] ... dimungkinkan …

ﻪﺒ ﺪاﺮﻴ

[yurādu bihi] ... maksudnya …

ﻪﺒ ﻞﻤﻌﻴ

[yu’malu bihi ]... adalah berlaku …

ﻪﻨﻤ ﻢﻬﻔﻴ

[yufhamu minhu]

...

dapat dipahami …

Bentuk pasif bisa juga digantikan dengan kalimat yang didahului kata kerja

ﻢﺘ

[tamma] atau

ﺀاﺮﺠ

[jarāi] (terjadi, ada) dan kemudian diikuti oleh mashdar.

Contoh:

ƒ

ﺔﻝﺎﺴﺮﻝا ﺖﺒﺘﻜ

[kutibat ar-risālatu] (Surat itu telah ditulis) menjadi

ﺔﻝﺎﺴﺮﻝا ﺔﺒﺎﺘآ ﺖﻤﺘ

[tammat kitābatu ar-risālati]

ƒ

ﺔﻝﺎﺴﺮﻝا ﺐﻝﻄﻝا ﻰﺘﺌأ

[utiya ath-thalibu ar-risālata] (Surat itu telah diberikan kepada pelajar) menjadi

ﺔﻝﺎﺴﺮﻝا ﺐﻝﻄﻝا ﺀﺎﻄإ ﺀاﺮﺠ

[jarā i’thāu ath-thālibi ar-risālata]

6.11 BENTUK NEGATIF

Pada bagian ini kita akan mempelajari pembentukan kalimat negatif dengan menegatifkan kata kerja. Setiap bentuk waktu memiliki partikel negatif tertentu yang diletakkan sebelum kata kerja yang dinegatifkannya.

1. Untuk bentuk kini digunakan partikel negatif

[lā]

dan

ﺎﻤ

[mā].

Contoh:

ƒ

ﺐﺘﻜﺘ ﻻ

[lā taktubu] Anda lk. tidak menulis 2. Untuk bentuk lampau (perfect/past) digunakan partikel

negatif

ﺎﻤ

[mā], sedangkan untuk bentuk lampau sekali (plusquam perfect) digunakan pola

ﺪﻗ ﻦﻜی ﻢﻝ

[lam yakun qad] .

Contoh:

ƒ

ﺐﺘآ ﺎﻡ

[mā kataba] Anda lk. telah tidak menulis

ƒ

ﺐﺘآ ﺪﻗ نﺎﻜی ﻢﻝ

[lam yakun qad kataba] Anda lk.

<dahulu> telah tidak menulis

Untuk menunjukkan arti belum digunakan partikel negatif

ﻢﻝ

[lam] atau

ﺎﻤﻝ

[lammā] yang diletakkan

Untuk menunjukkan arti belum digunakan partikel negatif

ﻢﻝ

[lam] atau

ﺎﻤﻝ

[lammā] yang diletakkan

Dalam dokumen FUNDAMENTAL TATABAHASA ARAB (Halaman 36-0)