• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di saat manusia telah disibukkan dengan suatu hal yang bersifat keduniawian dan materi, maka timbul kerinduan dan kebutuhan

LANDASAN TEORI A. Ulama, Fungsi dan Perannya

D. Hakikat Beragama

2. Beragama dalam Islam

Manusia dalam pandangan ibn al-Qasyyim, diciptakan dari satu gumpalan yang Allah gumpalkan dari segala unsur tanah, yang tanah itu terdapat segala unsur yang baik, yang kotor, yang mudah, yang sedih, yang mulia dan hina. Manusia pada hakekat penciptaannya yang terlihat berbagai potensi ada pada diri

78

Darajat, Ilmu Jiwa..., h. 17.

79

manusia. Potensi baik, buruk, hina, mulia, termasuk angel tendention yang ada pada manusia.80

Manusia yang merupakan salah satu atom yang mengisi dunia ini dengan kemampuan dirinya semata-mata tidak mungkin mengetahui sebab keberadaan dan tujuan hidupnya serta apa yang baik bagi dirinya. Karena itu Allah tidak membiarkannya tersia-sia, melainkan Ia membekalinya dengan akal yang menunjukkan jalan kebaikan.81

Dengan akal tersebutlah, seperti yang ditulis oleh Tuhuleley:

Manusia memiliki sifat-sifat tertentu yang bertanggung jawab atas watak revolusinya dalam kehidupan masyarakat. Sifat itu misalnya dalam kemampuan mengumpulkan dan menyimpan pengalaman hidup, kemampuan untuk belajar mengetahui lisan dan tulisan, kemampuan bernalar dan menicipta, dan seterusnya kecenderungan itu untuk memperbaharui segala sesuatunya dalam tindakannya.82

Itulah segala potensi yang telah diberikan oleh Allah swt kepada semua makhluknya, dan potensi ini Allah swt anugerahkan kepada setiap makhluknya dari berbagai agamapun, bahkan mereka yang tidak beriman kepada Allah swt sekalipun. Inilah bukti rahman Allah swt tidak dibatasi oleh sesuatu apapun. Selain akal yang dianugerahkan Allah swt kepada manusia, Allah menurunkan Alquran83 sebagai panduan/ petunjuk dan acuan hidup yang benar untuk bisa dipahami dengan akal yang dianugerahkan Allah untuk bisa diamalkan di kehidupan nyata di permukaan bumi. Seperti yang terdapat dalam ayat Alquran:

















Artinya: Kitab (Alquran) Ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS. Al-Baqarah/2:2)84

80

Anas Abdul Malik al-Quz, Ibnu Qayyim Berbicara Tentang Manusia dan Semesta (Jakarta: Pustaka Azzam, 2001), h. 21.

81

Muhammad Yusuf Musa, Islam; Suatu Kajian Komprehensif (Jakarta: Rajawali Pers, 1988), h. 8.

82

Said Tuhuleley, Permasalahan Abad ke XXI; Sebuah Agenda (Yogyakarta: S1 Press, 1993), h. vii.

83

Alquran pada pokoknya merupakan agama dan etika yang menitikberatkan pada tujuan praktis penciptaan kebaikan moral dan membangun masyarakat manusia yang benar dan beragama dengan kesadaran ber-Tuhan secara tegas dan bersemangat, yang memerintahkan berbuat baik dan melarang berbuat dosa. Fazlur Rachman, Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h. 133.

84

Islam sebagai sumber kepercayaan bagi manusia tidak diragukan lagi eksistensinya sebagai suatu sumber kepercayaan dan mengandung nilai-nilai. Di samping berdimensi berpikir, maka manusia juga berdimensi percaya. Kepercayaan ialah untuk 1). Anggapan dan sikap bahwa sesuatu itu benar, 2). Sesuatu yang diakui sebagai benar.85

Agama dalam Islam dikenal dengan beberapa istilah di antaranya dien, dan

fithrah.86 Istilah fithrah dalam Alquran, ayatnya sebagai berikut:















































Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. tidak ada perubahan pada fithrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum/30:30)87

Fithrah pada ayat tersebut menurut Jalaluddin dalam tafsirnya adalah

agamanya, makna yang dimaksud ialah tetaplah atas fitrah atau agama Allah.88 Imam ath-Thabary menafsirkan ayat di atas:

نمؤم لىإ سانلا هناحبس للها ينب الد

،ةدحاو ةلم ىلع اونوك :لاق قفانمو رفاكو

.ملاسلإا نىعبم انه ملسلاف .هيلع اوتبثاو ملاسلإا ىلع اوعمتجاو

89

Artinya: Manakala Allah swt telah menjelaskan kepada manusia perihal tentang orang beriman, orang kafir dan orang munafiq. Allah swt kemudian mengarahkan kepada manusia untuk beragama yang satu, dan berkumpul kepada agama Islam dan berpegang teguh di dalamnya. Maka kata “silmi” dalam ayat tersebut adalah bermakna Islam.

Konsep yang terkandung dalam istilah din, yang secara umum dimaknai dengan agama, sesungguhnya tidak sama dengan konsep agama yang dipahami dan ditafsirkan dalam konteks sejarah keagamaan di Barat. Apabila kita berbicara tentang Islam dan merujuknya dalam Bahasa Inggris sebagai religion, maka yang

85

Endang Saifuddin Anshari, Kuliah al-Islām (Jakarta: Rajawali Pers, 1992), h. 23.

86

Departeman Agama RI, Alquran..., h. 496-499

87

Ibid., h. 645.

88

Jalaluddin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat (Jakarta: Sinar Baru Algesindo, t.th), h. 1724

89

Abi Ja`far Muhammad ibn Jarir ath-Thabary, Tafsir ath-Thaary; jami` al-Bayan `an

Ta’wil Ay Alquran, Juz III (Kairo: Markaz al-Buhuts wa Addirasat al-Arabiyah wa al-Islamiyah,

kita maksud dan mengerti tentang agama tersebut adalah din, di mana seluruh makna dasar yang terkandung di dalam kata din itu dipahami dan membentuk kesatuan makna yang berpadu, seperti tergambar dalam Alquran dan berasal dari bahasa Arab.90

Terkhusus bagi agama Islam ini, Allah swt menjadikannya sebagai agama yang terakhir yang dipenuhi dengan kekhususan dan keidentikan tersendiri, yang pastinya berbeda dengan agama sebelumnya, bukan ini berarti Allah swt berbeda dengan setiap wahyu yang disampaikan kepada Nabi-nabi sebelumnya, tapi ini hanya sebagai bukti bahwa Islam yang dibawa oleh Muhammad saw adalah agama yang paripurna dan sebagai agama terakhir yang menjadi penyempurna agama sebelumnya. Menarik memang, apa yang ditulis oleh Salim mengomentari tentang kekhasan (baca: keistimewaan) Islam, paling tidak di dalam bukunya tersebut ada 6 (enam) hal yakni: 91

1) Pertama: bahwa Islam itu adalah agama yang umum untuk sekalian alam dan akan terus kekal sampai hari kiamat;

2) Kedua: Islam adalah agama yang menyeluruh dan sempurna;

3) Ketiga: Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri;

4) Keempat: Islam berkesesuaian dengan akal (tiada pertentangan antara ajaran Islam dengan akal);

5) Kelima: Islam adalah agama yang mudah;

6) Keenam: Islam adalah agama yang paling sempurna, yang telah Allah swt sempurnakan di antara agama sebelumnya.

Begitu mulianya agama Islam, maka sebagai seorang muslim hendaklah menselaraskan diri dengan ajaran-ajaran agama Islam, karena pada hakikatnya konsep beriman itu bukanlah keimanan yang hanya diucapkan dengan lidah, akan tetapi meliputi seluruh aspek dalam pribadi seorang manusia, yakni: hati/ pikiran, lidah/ ucapan, yang kemudian dengan jelas tampak dalam setiap amal perbuatan manusia itu sendiri. Hal inilah yang ditegaskan oleh Allah swt di dalam Alquran sebagai berikut:

90

Nata, Metodologi..., h. 9.

91

Muhammad Rosyad Salim, al-Madkhal ila Tsaqafah al-Islamiyah (Kuwait: Dar al- Qalam, 1984), cet. 8, h. 210-211.

































Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah/2: 208)92

Islam telah mulia, maka janganlah dihinakan dengan perbuatan kita yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandunga dalam ajaran Islam itu sendiri. Karena sedikit banyaknya apa yang tampak di dalam kehidupan nyata adalah merupakan barometer tinggi atau rendahnya keimanan seorang muslim kepada Allah swt, lebih dari itu saat banyak muslim yang sedikitpun tidak bisa dibedakan dengan perilaku umat/ manusia lain yang tidak beragama Islam.

Abdullah menjelaskan, penampilan Islam yang ramah, simpatik, santun, murah senyum adalah proses yang harus dilalui dalam pembudayaan nilai-nilai Islami yang ditunjukkan dengan performance manusia muslim yang pantas dirujuk sebagai contoh.93