BAB III GAMBARAN DATA
F. Berakhirnya Utang Pajak
Setiap peristiwa perikatan, termasuk utang pajak, pada akhirnya akan jatuh tempo dan harus berakhir. Umumnya berakhirnya utang pajak karena dibayar atau dilunasi. Dalam hubungannya dengan hukum pajak yang dimaksudkan dengan pembayaran atau pelunasan pajak adalah pembayaran dengan uang, bahkan lebih tegas lagi adalah dengan mata uang Negara yang memungut pajak tersebut. Di Indonesia pembayaran pajak terutang harus dilakukan dengan mata uang Rupiah. Walaupun demikian Wajib Pajak tetap dimungkinkan membayar pajak terutang dengan menggunakan mata uang selain Rupiah asalkan telah mendapat persetujuan dari fiskus. Dengan demikian apabila Wajib Pajak melakukan pembayaran pajak dengan mata uang asing, maka harus ditafsirkan bahwa fiskus telah mengizinkannya. Pembayaran pajak terutang harus dilakukan
pad akas Negara, baik atas rekening pemerintah pusat maupun rekening pemerintah daerah, yang ditunjuk oleh pemerintah.
Berakhirnya utang pajak merupakan salah satu tujuan dalam pelaksanaan pemungutan pajak. Dalam hukum pajak ada beberapa cara berakhirnya utang pajak, yaitu : adanya pembayaran oleh Wajib Pajak ke kas Negara, kompensasi, pengurangan / penghapusan pajak yang terutang, kadaluarsa atau lewat waktu, dan pembebasan. Berikut ini akan dibahas masing – masing cara berakhirnya utang pajak tersebut. (Marihot, 2010 : 132)
1. Pelunasan / Pembayaran Pajak
Umumnya utang pajak berakhir dengan pembayaran ke kas Negara atau tempat lain yang ditunjuk oleh Negara seperti bank – bank pemerintah, kantor pos dan giro, dan lain – lain. Pembayaran pajak yang mengakibatkan berakhirnya utang pajak adalah pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak atas semua pajak yang terutang dan biaya penagihan pajak yang timbul dalam pelaksanaan pemungutan pajak dimaksud. Apabila Wajib Pajak mengajukan permohonan untuk mengangsur pembayaran pajak dan kepadanya diberikan izin untuk hal tersebut maka apabila Wajib Pajak melakukan pembayaran angsuran pajak tetapi belum melunasi seluruh pajak yang terutang maka belum dapat dianggap bahwa ia telah membayar (lunas) utang pajaknya. Baru setelah seluruh angsuran pajak yang terutang telah dibayar maka dapat dikatakan bahwa Wajib Pajak tersebut telah membayar (lunas) pajaknya dan secara otomatis berakhirlah utang pajak tersebut.
2. Kompensasi (Pengimbangan)
Kompensasi dapat dilakukan atas pembayaran dan atas kerugian yang dimungkinkan jika pada awal pendiriannya Wajib Pajak badan menderita kerugian. Kompensasi karena pembayaran dilakukan apabila salah satu pihak mempunyai utang dan mempunyai tagihan kepada pihak lain. Dalam hukum pajak kompensasi pembayaran dapat dilakukan jika Wajib Pajak untuk satu jenis pajak mempunyai kelebihan pembayaran pajak sedangkan untuk lain jenis terdapat kekurangan pembayaran pajak. Kelebihan pembayaran pajak untuk satu jenis pajak tersebut dapat digunakan untuk membayar kekurangan pembayaran atas jenis pajak lain (utang pajak lainnya) yang juga terutang olehnya. Hal ini disebut sebagai kompensasi pembayaran.
3. Penghapusan Utang
Dalam hukum pajak dimungkinkan pula berakhirnya pajak melalui penghapusan terhadap kewajiban pajak karena Wajib Pajak mengalami kebangkrutan sehingga mengalami kesulitan keuangan. Untuk menentukan apakah seorang Wajib Pajak pailit atau tidak, diperlukan penyelidikan yang seksama oleh fiskus, dengan tujuan nantinya tindakan fiskus dapat dipertanggungjawabkan.
4. Kadaluwarsa
Berakhirnya utang pajak karena kadaluwarsa atau lewat waktu terjadi jika dalam jangka waktu tertentu terhadap suatu utang pajak tidak dilakukan penagihan pajak, sehingga utang pajak tersebut dianggap lunas dan tidak dapat ditagih lagi. Dengan demikian utang pajak akan berakhir jika telah melewati
waktu kadaluwarsa. Berakhirnya utang pajak karena kadaluwarsa diatur secara jelas dalam undang – undang pajak Indonesia.
Ketentuan tentang kadaluwarsa penagihan pajak untuk jenis pajak pusat diatur dalam Undang – Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Menurut Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang KUP sebagaimana diubah dengan Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2009 pada pasal 22, yang berbunyi pada ayat (1) yaitu, hak Negara untuk melakukan penagihan pajak, termasuk bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak, daluwarsa setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak Surat Tagihan Pajak dan Surat Ketetapan Pajak diterbitkan. Saat daluwarsa penagihan pajak ini perlu ditetapkan untuk memberi kepastian hukum kapan utang pajak tersebut tidak dapat ditagih lagi. Dengan demikian petugas pajak harus melakukan tindakan penagihan pajak sebelum berakhirnya jangka waktu kadaluarsa penagihan pajak, karena kalau tidak maka tidak dapat ditagih lagi karena ketentuan hukum. Hal ini berarti apabila setelah lewat waktu lima tahun sejak pajak terutang, Wajib Pajak belum membayar lunas utang pajaknya dan fiskus tidak melakukan tindakan penagihan pajak maka secara hukum utang pajak tersebut telah berakhir dengan sendirinya.
Walaupun demikian undang – undang pajak juga mengatur adanya pengecualian terhadap jangka waktu kadaluwarsa penagihan pajak dalam keadaan tertentu. Pada ayat (2) dijelaskan bahwa daluwarsa penagihan pajak dapat melampaui 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila : a. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan dan memberitahukan Surat Paksa kepada
dengan tanggal jatuh tempo pembayaran. Dalam hal seperti itu, daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal pemberitahuan Surat Paksa tersebut. b. Wajib Pajak menyatakan pengakuan utang pajak dengan cara mengajukan
permohonan angsuran atau penundaan pembayaran utang pajak sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran. Dalam hal seperti itu, daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal surat permohonan angsuran atau penundaan pembayaran utang pajak diterima oleh Direktur Jenderal Pajak.
c. Terapat Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang diterbitkan terhadap Wajib Pajak karena Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dan tindak pidana lain yang dapat merugikan pendapatan Negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dalam hal seperti itu, daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal penerbitan Surat Ketetapan Pajak tersebut.
5. Pembebasan
Pembebasan pajak merupakan pengakhiran utang pajak yang dilakukan oleh fiskus tanpa persetujuan pihak Wajib Pajak. Hal ini dilakukan jika ada permohonan atau keadaan ekonomi Wajib Pajak yang mengalami kemunduran keuangan. Pembebasan pajak menurut undang – undang pajak umumnya hanya diberikan terhadap sanksi administrasinya saja.
6. Penundaan Penagihan
Dengan cara ini penagihan pajak terutang dapat ditunda dalam jangka waktu tertentu. Jika kemudian Wajib Pajak ternyata mampu lagi untuk melunasi utang
pajaknya, maka barulah ditagih. Jika tidak dapat juga ditagih maka barulah dihapuskan pajaknya.
7. Pembatalan
Pajak terutang yang timbul berdasarkan ajaran material dengan terbitnya Surat Ketetapan Pajak oleh fiskus maupun Surat Ketetapan Pajak yang merupakan koreksi atas penetapan pajak oleh Wajib Pajak (dalam ajaran formal) pada dasarnya harus dilunasi oleh Wajib Pajak. Tanpa pelunasan maka utang pajak tersebut tidak akan berakhir. Dalam beberapa hal fiskus dimungkinkan untuk membatalkan Surat Ketetapan Pajak yang diterbitkannya, misalnya karena ternyata Surat Ketetapan Pajak tersebut ternyata tidak benar. Apabila fiskus membatalkan Surat Ketetapan Pajak maka pada dasarnya utang pajak yang semula ada menjadi berakhir.