• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Berat Kering Tanaman

Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 10) menunjukkan bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh nyata terhadap bobot kering tanaman seperti terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan Nilai Bobot Kering Tanaman oleh Pengaruh Pemberian Serum Darah Sapi dan Ayam

Konsentrasi Serum Darah (%)

Parameter

Bobot Kering Tanaman (gr) Blanko 0,13c Kontrol 0,15c Ayam 5 0,85a 10 0,78ab Sapi 5 0,3bc 10 0,63abc

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji DMRT.

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa bobot kering tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan serum darah ayam 5% yang berbeda nyata dengan perlakuan blanko, kontrol dan serum darah sapi 5%. Sedangkan bobot kering tanaman terendah terdapat pada perlakuan blanko yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, serum darah sapi 5% dan 10%.

Pembahasan

Dari hasil penelitian pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh sangat nyata meningkatkan N-total tanah (dari rataan 0,06% menjadi rataan 0,09%) akan tetapi berdasarkan kriteria BPT (2005) nitrogen total tanah Ultisol tersebut masih tergolong sangat rendah sampai rendah, dengan nilai nitrogen total tanah berkisar 0,05 – 0,10%. Bahan organik yang diberikan kedalam tanah dalam bentuk serum darah hewan meningkatkan ketersediaan nitrogen dalam larutan tanah, karena nitrogen di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh bentuk dan sifat bahan organik tersebut dalam mendekomposisikannya. Sesuai dengan Rahayu (2002) yang menyatakan pada serum juga terdapat bermacam-macam protein dan mineral yang merupakan sumber unsur hara makro dan mikro untuk tanaman. Kandungan protein atau mineral di dalam serum darah dari berbagai hewan ini berlainan baik kualitas dan kuantitasnya.

Dari hasil penelitian Tabel 1 diperoleh bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh nyata terhadap P-tersedia tanah (dari rataan 6,54 ppm menjadi rataan 9,6 ppm). Berdasarkan kriteria BPT (2005) P-tersedia tanah Ultisol tersebut masih tergolong sangat rendah sampai rendah, dengan nilai P-tersedia tanah berkisar 6,33 – 10,13 ppm. Peningkatan kandungan P-tersedia dalam tanah sangat dipengaruhi oleh adanya kandungan unsur hara tersebut dalam bahan organik yang diberikan dan terjadinya proses pelapukan bahan organik yang dihasilkan dari serum darah hewan yang dapat menghasilkan asam-asam organik kedalam larutan tanah. Dengan adanya asam organik ini mampu mengikat logam-logam Al atau Fe, sehingga P yang terikat

oleh logam-logam tersebut dapat terlepas dan tersedia dalam tanah. Sesuai dengan pernyataan Ganong (2003) yang menyatakan Plasma adalah bagian dari darah, merupakan suatu larutan yang luar biasa mengandung banyak sekali ion, molekul anorganik dan molekul organik. Abun (2007) yang menyatakan darah sebagai jaringan pengangkut terbesar, kadang-kadang digunakan pada sejumlah eksperimen. Ketentuannya, Ca dan P anorganik ditentukan dalam serum darah; Mg, Na, dan unsur mikro ditentukan dalam darah keseluruhan maupun serumnya.

Dari hasil hasil penelitian Tabel 1 memperlihatkan bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam tidak berpengaruh nyata terhadap K-dapat tukar (K-dd) tanah. Berdasarkan kriteria BPT (2005) nilai K-dapat tukar tanah Ultisol tersebut tergolong sangat rendah, dengan nilai K-dapat tukar tanah berkisar 0,47 – 0,73 me/100gr. Dengan nilai K-dapat tukar (K-dd) tertinggi terdapat pada perlakuan serum darah sapi 10% dan serum darah ayam 5%, sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan kontrol. Ketersediaan K dalam tanah sangat dipengaruhi adanya ketersediaan mineral atau batuan yang mengandung K, dengan basa-basa tukar di tanah Ultisol yang rendah, kandungan K-dd di tanah Ultisol hanya berkisar 0-0,1 me/100g tanah di semua lapisan yang tergolong sangat rendah (Subagyo, dkk, 2000) dan ketersediaannya juga dipengaruhi besarnya jumlah bahan yang mengandung K yang diberikan ke dalam tanah, sehingga pemberiaan serum darah hewan tidak berpengaruh nyata terhadap K-dd karena serum darah mengandung K yang sangat kecil dengan protein plasma terdiri dari 90 % air dan 10% zat padat. Bahan padat ini terdiri dari 7% berbagai macam protein dan 0,9% bahan organik, selebihnya adalah bahan anorganik bukan protein yaitu K (Suyono, dkk, 1994), dengan nilai K dalam

serum darah sapi dan ayam (mg/100gr) masing-masing 0,0098 dan 0,0145 (Dukes dalam Rahayu, 2002).

Hasil penelitian pada Tabel 1 memperlihatkan bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam tidak berpengaruh nyata terhadap C-organik tanah. Berdasarkan kriteria BPT (2005) nilai C-organik tanah Ultisol tersebut tergolong sangat rendah, dengan nilai C-organik tanah berkisar 0,31 – 0,66%. Perlakuan tertinggi pemberian serum darah sapi 10% sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan blanko. Bahan organik adalah bahan yang terdiri dari sisa-sisa tumbuhan dan hewan dari semua tahapan dekomposisi, bermacam-macam senyawa organik yang terdapat dalam bentuk sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang tersusun dari karbohidrat yang kompleks, gula sederhana, selulosa, hemiselulosa, protein, lemak, dan asam-asam organik, dan di dalam darah hewan terdapat senyawa-senyawa organik tersebut. Pemberian serum darah hewan tidak berpengaruh nyata terhadap C-organik tanah karena serum darah hewan yang tersusun atas senyawa protein yang sifatnya cepat mengalami dekomposisi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Guyton (1997), karena dalam kandungan serum, salah satu hara yang terkandung di dalam serum adalah terdapat protein. Terdapat 3 kandungan protein utama yaitu albumin, globulin dan fibrinogen. Hakim, dkk (1986) menyatakan sumber dan komposisi bahan organik sangat menentukan kecepatan dekomposisi dan senyawa yang dihasilkannya. Berdasarkan kecepatan reaksi dekomposisi, bahan organik dapat dikelompokkan menjadi senyawa yang cepat dan yang lambat sekali didekomposisikan, bahan organik yang cepat didekomposisikan adalah ; Gula, zat pati, dan protein sederhana, protein kasar, dan hemi selulosa.

Dari Tabel 2 memperlihatkan bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh nyata terhadap bobot kering tanaman (dari rataan 0,13 gr menjadi rataan 0,85 gr). Dengan bobot kering tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan serum darah ayam 5% yang berbeda nyata dengan perlakuan blanko, kontrol dan serum darah sapi 5%. Sedangkan bobot kering tanaman terendah terdapat pada perlakuan blanko yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, serum darah sapi 5% dan 10%. Pemberian serum darah hewan nyata mempengaruhi bobot kering tanaman menunjukkan serum darah hewan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan unsur hara tertentu meskipun kriterianya masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan pada serum juga terdapat bermacam-macam protein dan mineral yang merupakan sumber unsur hara makro dan mikro untuk tanaman (Rahayu, 2002) dan di dalam serum darah hewan juga mengandung hormon auksin untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Menurut Supriyadi, dan Gatot ( 1985 ) urin mengandung senyawa-senyawa auksin yang merupakan filtrat dari darah oleh ginjal, maka dapat disimpulkan bahwa dalam serum darah hewan juga mengandung hormon pertumbuhan. Hormon auksin merupakan sejenis zat protein berbahan baku asam amino, hormon adalah sejenis bahan organik, dan dapat pula digolongkan dalam jenis-jenis zat protein (Rismunandar, 1999).

Dokumen terkait