• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pemberian Serum Darah Sapi Dan Ayam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L.) Pada Tanah Ultisol

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Pemberian Serum Darah Sapi Dan Ayam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L.) Pada Tanah Ultisol"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBERIAN SERUM DARAH SAPI DAN AYAM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.)

PADA TANAH ULTISOL

SKRIPSI

Oleh :

RAHMAT WIBOWO 060303036 ILMU TANAH

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana (S1) di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

DEPARTEMEN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENGARUH PEMBERIAN SERUM DARAH SAPI DAN AYAM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.)

PADA TANAH ULTISOL

SKRIPSI

Oleh :

RAHMAT WIBOWO 060303036 ILMU TANAH

DEPARTEMEN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Skripsi : Pengaruh Pemberian Serum Darah Sapi dan Ayam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Pada Tanah Ultisol

Nama : Rahmat Wibowo NIM : 060303036 Departemen : Ilmu Tanah

Minat Studi : Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

( Ir. Sarifuddin, MP) (Ir. Purba Marpaung, SU) Ketua Anggota

Mengetahui

(4)

ABSTRACT

This research aims to determine the effect of blood serum of cows and chickens on the growth of cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) in Ultisol. This research was done at home screen as well as laboratory chemical and soil fertility the Faculty of Agriculture, University of North Sumatera. The design in this study use were prepared in non factorial random, The designn consisting of 6 treatments with 4 replication. The treatments were Blanko (without the provision of basic fertilizer and blood cerum), KO (0 % as a control as 100 cc aquades), KS5 (5 % as 5 cc blood cerum of cows + 95 cc aquades), KS10 (10 % as 10 cc blood cerum of cows + 90 cc aquades), KA5 (5 % as 5 cc blood cerum of chickens + 95 cc aquades), KA10 (10 % as 10 cc blood cerum of chickens + 90 cc aquades). Where the result is that the granting of blood cerum of cows and chickens significant effect to improve the N-total soil, P-available Ultisol, but there was not significant effect to K-dd soil, C-organic Ultisol.

Keywords : blood cerum of cows, blood cerum of chickens, Ultisol

(5)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian serum darah sapi dan ayam terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) pada tanah Ultisol. Penelitian ini dilakukan

dirumah kasa serta dilaboratorium kimia dan keseburan tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini disusun dalam Rancangan acak kelompok Non Faktorial yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuannya adalah Blanko (tanpa pemberian pupuk dasar dan serum darah), K0 (0 % sebagai kontrol yaitu 100 cc aquades), KS5 (5 % yaitu 5 cc serum darah sapi + 95 cc aquades), KS10 (10 % yaitu 10 cc serum darah sapi + 90 cc aquades), KA5 (5 % yaitu 5 cc serum darah ayam + 95 cc aquades), dan KA10 (10 % yaitu 10 cc serum darah ayam + 90 cc aquades). Dimana hasilnya adalah bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh nyata meningkatkan N-total tanah, P-tersedia tanah ultisol, dan bobot kering tanaman, tetapi tidak berpengaruh nyata meningkatkan K-dapat tukar (K-dd) dan C-organik tanah Ultisol.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukajadi pada tanggal 28 April 1989 dari bapak Parlan dan ibu Parni. Penulis merupakan anak ketiga dari enam bersaudara.

Riwayat Pendidikan :

- SD Negeri 117493 Sungai Kanan lulus tahun 2000. - MTs Negeri Sungai Kanan lulus tahun 2003.

- SMA Negeri 1 Rantau Utara lulus tahun 2006.

- Lulus seleksi masuk Universitas Sumatera Utara (USU) Medan melalui

jalur SPMB pada tahun 2006 dan memilih program studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian.

Aktifitas Selama Perkuliahan :

- Asisten di Laboratorium untuk mata kuliah Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman 2008-2009.

- Asisten di Laboratorium untuk mata kuliah Evaluasi Kesesuaian Lahan 2009-2010.

- Pengurus Ikatan Mahasiswa Ilmu Tanah (IMILTA) FP USU - Pengurus Pengajian Al-bayan Ilmu Tanah 2009-2010

- Melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PTPN IV Kebun Laras Kabupaten Simalungun

- Peserta Seminar dan Loka Karya ”Membudayakan Tindakan Konservasi SDA pada Setiap Aspek Kehidupan” di FP USU Medan, 31 Januari 2009.

(7)
(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Aadapun judul dari skripsi ini adalah “Pengaruh Pemberian Serum Darah Sapi dan Ayam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Pada Tanah Ultisol“ yang merupakan sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ir. Sarifuddin, MP, dan Ir, Purba Marpaung, SU, selaku ketua dan anggota komisi pembimbing, dan seluruh pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan skripsi ini di masa yang akan datang.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, November 2010

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

Hipotesa Penelitan ... 2

Kegunaan Penelitian... 3

TINJAUAN PUSTAKA Serum Darah Hewan ... 4

Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Rawit ... 14

Karakteristik Ultisol ... 15

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 18

Bahan dan Alat ... 18

Metode Penelitian... 18

Pelaksanaan Penelitian ... 19

Persiapan Tanah ... 19

Analisis Awal ... 20

Pembuatan Serum Darah ... 20

Pembuatan Konsentrasi Serum ... 20

Pemupukan ... 20

Aplikasi Perlakuan ... 21

Pemeliharaan ... 21

Pemanenan ... 21

Peubah Amatan Yang di Ukur ... 21

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Tabel 1. Rataan Nilai N-Total Tanah, P-Tersedia Tanah, K-Dapat Tukar (K-dd), C-Organik Tanah oleh Pengaruh Pemberian Serum Darah Sapi dan Ayam... 22 2. Tabel 2. Rataan Nilai Bobot Kering Tanaman oleh Pengaruh

Pemberian Serum Darah Sapi dan Ayam. ... 25

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Analisis Awal Tanah Sebelum Perlakuan ... 33

2. Tabel Analisis N-Total Tanah ... 34

3. Tabel Sidik Ragam N-Total Tanah ... 34

4. Tabel Analisis P-Tersedia Tanah ... 35

5. Tabel Sidik Ragam P-Tersedia Tanah...35

6. Tabel Analisis K-dd Tanah ... 36

7. Tabel Sidik Ragam K-dd Tanah ... 36

8. Tabel Analisis C-Organik Tanah ... 37

9. Tabel Sidik Ragam C-Organik Tanah ... 37

10. Tabel Analisis Bobot Kering Tanaman ... 38

11. Tabel Sidik Ragam Bobot Kering Tanaman ... 38

12. Kriteria Sifat Kimia Tanah ... 39

(12)

ABSTRACT

This research aims to determine the effect of blood serum of cows and chickens on the growth of cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) in Ultisol. This research was done at home screen as well as laboratory chemical and soil fertility the Faculty of Agriculture, University of North Sumatera. The design in this study use were prepared in non factorial random, The designn consisting of 6 treatments with 4 replication. The treatments were Blanko (without the provision of basic fertilizer and blood cerum), KO (0 % as a control as 100 cc aquades), KS5 (5 % as 5 cc blood cerum of cows + 95 cc aquades), KS10 (10 % as 10 cc blood cerum of cows + 90 cc aquades), KA5 (5 % as 5 cc blood cerum of chickens + 95 cc aquades), KA10 (10 % as 10 cc blood cerum of chickens + 90 cc aquades). Where the result is that the granting of blood cerum of cows and chickens significant effect to improve the N-total soil, P-available Ultisol, but there was not significant effect to K-dd soil, C-organic Ultisol.

Keywords : blood cerum of cows, blood cerum of chickens, Ultisol

(13)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian serum darah sapi dan ayam terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) pada tanah Ultisol. Penelitian ini dilakukan

dirumah kasa serta dilaboratorium kimia dan keseburan tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini disusun dalam Rancangan acak kelompok Non Faktorial yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuannya adalah Blanko (tanpa pemberian pupuk dasar dan serum darah), K0 (0 % sebagai kontrol yaitu 100 cc aquades), KS5 (5 % yaitu 5 cc serum darah sapi + 95 cc aquades), KS10 (10 % yaitu 10 cc serum darah sapi + 90 cc aquades), KA5 (5 % yaitu 5 cc serum darah ayam + 95 cc aquades), dan KA10 (10 % yaitu 10 cc serum darah ayam + 90 cc aquades). Dimana hasilnya adalah bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh nyata meningkatkan N-total tanah, P-tersedia tanah ultisol, dan bobot kering tanaman, tetapi tidak berpengaruh nyata meningkatkan K-dapat tukar (K-dd) dan C-organik tanah Ultisol.

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Berdasarkan rata-rata produksinya, ternyata cabai rawit di Indonesia masih rendah, yaitu 2,4 ton/ha jika dibandingkan dengan negara-negara Cina, Thailand dan Turki yang berturut-turut 13,9 ton/ha, 10 ton/ha dan 14 ton/ha (Setiadi, 2004). Salah satu cara meningkatkan produksinya adalah dengan pemupukan.

Saat ini harga pupuk kimia melambung hingga tidak terjangkau sebagian masyarakat dan penggunaannya berdampak negatif terhadap lingkungan maupun kehidupan manusia. Serum darah hewan dari darah limbah Rumah Potong Hewan (RPH) mengandung hormon auksin untuk pertumbuhan dan unsur hara yang berguna dalam proses fisiologi tanaman. Serum darah hewan memiliki manfaat yakni teknologi terjangkau, pupuk efisien, ramah lingkungan, mengatasi pencemaran lingkungan, serta meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

Tanah Ultisol mempunyai sebaran yang cukup luas 29,7 % dari total daratan di Indonesia (Subagyo, dkk, 2000). Namun, tanah Ultisol memiliki permasalahan yaitu ketersediaan unsur hara dan kandungan bahan organik yang rendah sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu maka harus diberikan pemupukan atau penambahan bahan organik untuk memperbaiki kesuburan tanah antara lain menggunakan serum darah.

(15)

proses sentrifuge, dengan jumlah kira-kira 35-50% dari volume darah keseluruhan.

Komponen serum darah sapi (mg/100gr) yaitu N = 0,0084; P = 0,1000; K = 0,0098; C-Organik = 3,2760; Bahan Organik = 56,4800; Kadar Air = 93,9590

dan komponen serum darah ayam yaitu N = 0,0058; P = 0,2000; K = 0,014; C-Organik = 5,3040; Bahan Organik = 9,1400, dan Kadar Air = 89,9300 (Dukes dalam Rahayu, 2002).

Pada penelitian serum darah yang telah dilakukan Sasongko (1995) antara lain penggunaan serum darah kambing yang disiramkan pada tanaman tomat seminggu sekali dengan konsentrasi 5% dapat meningkatkan hasil produksi sebesar 82%.

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk meneliti bagaimana pengaruh pemberian serum darah sapi dan ayam terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) pada tanah Ultisol.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian serum darah sapi dan ayam terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) pada tanah Ultisol.

Hipotesis Penelitian

(16)

Kegunaan Penelitian

1. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan dapat dimanfaatkan pula bagi para petani untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik.

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

Serum Darah Hewan

Apabila darah menggumpal di dalam suatu tabung reaksi, terbentuklah suatu massa padat yang berwarna merah. Akan tetapi bila di biarkan agak lama, gumpalan itu akan berkontraksi dan menghasilkan cairan kuning supernatan yang dinamakan serum. Pada intinya serum adalah plasma dikurangi fibrinogen dan faktor-faktor penggumpalan darah, serum darah hewan terdiri dari air sebanyak 92% dan zat-zat lain sebanyak 8% (Frandson, 1981).

Plasma adalah bagian dari darah, merupakan suatu larutan yang luar biasa mengandung banyak sekali ion, molekul anorganik dan molekul organik yang sedang diangkut ke berbagai bagian tubuh atau membantu transport zat-zat lain. Plasma adalah darah di tambah fibrinogen, plasma mengandung gas, glukosa, lemak, subtansi non protein, nitrogen, enzim, hormon, vitamin, dan pigmen. Protein plasma terdiri dari 90% air dan 10% zat padat. Bahan padat ini terdiri dari 7% protein yang meliputi antibodi, phospolipida cholesterol, glukosa, enzim sedangkan bahan anorganik bukan protein terdiri dari P, Na, Ca, K, Mg, Fe, dan HC03 (Ganong, 2003).

(18)

oleh jantung, menyerap sari-sari makanan dari dinding usus halus, beredar ke seluruh tubuh kemudian masuk ke dalam ginjal dan akhirnya kembali ke jantung lagi. Zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh hewan akan di saring oleh ginjal, salah satu filtrat adalah urine. Pada serum juga terdapat bermacam-macam protein dan mineral yang merupakan sumber unsur hara makro dan mikro untuk tanaman. Kandungan protein

atau mineral di dalam serum darah dari berbagai hewan berlainan baik kualitas dan kuantitasnya, karena hal ini di pengaruhi oleh macam pakan hewannya. Adapun

kandungan unsur hara yang dimiliki dalam komponen serum darah sapi antara lain (mg/100gr) yaitu N = 0,0084; P = 0,1000; K = 0,0098; C-Organik = 3,2760; Bahan Organik = 56,4800; Kadar Air = 93,9590 dan komponen serum darah ayam antara lain yaitu N = 0,0058; P = 0,2000; K = 0,0145; C-Organik = 5,3040; Bahan Organik = 9,1400, dan Kadar Air = 89,930% (Dukes dalam Rahayu, 2002).

(19)

selulosa, dan bahan organik lambat sekali didekomposisikan adalah ; hemi selulosa, selulosa, lignin, lemak, waks, dan lain-lain (Hakim, dkk, 1986).

Serum darah juga merupakan zat pengatur tumbuh yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman adenium. Karena dalam kandungan serum, salah satu hara yang terkandung di dalam serum adalah terdapat protein. Menurut Guyton (1997), bahwa di dalam protein serum darah hewan terdapat 3 kandungan protein utama yaitu albumin, globulin dan fibrinogen. Prinsip dasar albumin memberikan tekanan osmotik larutan, mencegah tekanan osmotik plasma berkurang dari pembuluh kapiler. Unsur globulin di dalamnya terdapat enzim plasma yang berperan terhadap kekebalan dan menghadapi serangan organisme pengganggu (Guyton,1997).

Evaluasi mineral pakan pada ternak atas dasar kandungan mineral dalam darah. Darah sebagai jaringan pengangkut terbesar, kadang-kadang digunakan pada sejumlah eksperimen. Ketentuannya, Ca dan P anorganik ditentukan dalam serum darah; Mg, Na, dan unsur mikro ditentukan dalam darah keseluruhan maupun serumnya (Abun, 2007).

Pupuk organik cair yang diperoleh dari urine mengandung hormon auksin cukup tinggi sehingga baik untuk pupuk sumber zat tumbuh. Serum darah ternak dari tempat-tempat pemotongan hewan dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman (Anonim, 2009).

(20)

penelitian berjalan terus dan terbukalah tabir, bahwa manusia dan hewan memiliki kelenjar-kelenjar yang fungsinya sama. Akhirnya ditemukan pula, bahwa tumbuhan pun mempunyai hormon sendiri, dalam perkembangan selanjutnya lalu dikenal hormon hewani dan hormon nabati (Rismunandar, 1999).

Plasma dan serum menurut Marshall, dan Halnan (1946) bagian darah yang merupakan cairan yang berwarna kekuningan yang jelas terlihat sewaktu sel-sel darah mengendap di dasar tabung. Selanjutnya dijelaskan bahwa volume serum darah dan plasma darah hewan berkisar 35 % - 50 % dari volume darah keseluruhan, tergantung dari jenis hewannya. Tetapi volume serum darah hewan lebih dari 50 % dari volume darah keseluruhan. Untuk memperoleh serum darah dan plasma darah dapat dilakukan dengan cara darah hewan segar dipusingkan dengan kecepatan 3000 kali per menit, selama 30 menit, kemudian serum darah dan plasma darah dapat dipisahkan dari endapan darahnya. darah bila disentrifus akan terpisah menjadi dua fraksi yang berbeda, yaitu elemen-elemen seluler, yang terdiri dari eritrosit, leukosit, trombosit atau keping darah, plasma dan serum yang mengandung air 91 % - 92 %, protein 7 %, elektrolit, glukosa, enzim, dan hormon. Plasma dan serum darah hewan mengandung 92 % air dan 8 protein, lemak, karbohidrat, garam-garam, minyak, dan bermacam-macam hasil metabolisme (Marshall, dan Halnan, 1946).

(21)

hormon dalam darah pada hewan atau pun tanaman belum dapat diberikan suatu penjelasan yang gamblang. Perlu disadari bahwa suatu hormon dapat bekerja melalui beberapa mekanisme yang berbeda, oleh karena itu tidak ada satu mekanisme yang dapat menerangkan semua kegiatan suatu hormon. Beberapa mekanisme kegiatan hormon telah dikemukakan. Ditemukan bahwa sejumlah hormon yang berbeda-beda bekerja pada pengangkutan aktif melalui dinding sel dalam darah. Hal ini telah diperlihatkan misalnya untuk insulin dalam hal pengangkutan glukosa kedalam sel dalam darah dan untuk hormon STH (somatotropik) dalam pengangkutan asam-asam amino. Hormon ini adalah suatu hormon penting dilihat dari kerja morfogenetiknya dimana pertumbuhan organisme secara keseluruhan mencerminkan kerja hormon ini (Toelihere, 1981).

Apabila darah menggumpal di dalam suatu tabung reaksi, terbentuklah suatu massa padat yang berwarna merah. Akan tetapi bila dibiarkan agak lama, gumpalan itu akan berkontraksi dan menghasilkan cairan kuning supernatan yang dinamakan serum. Pada intinya, serum adalah plasma darah dikurangi fibrinogen dan faktor-faktor penggumpalan darah (Frandson, 1981).

(22)

dalam tubuh tanaman khususnya dalam titik tumbuh, merupakan suatu proses bikimiawi. Dengan kata lain hormon auksin adalah sejenis bahan organik yang dapat mengatur segala bentuk gejala pertumbuhan tanaman dan dapat aktif di luar titik tumbuhnya dalam jumlah yang sedikit. Namun sudah lama diketehui, bahwa hormon auksin merupakan sejenis zat protein berbahan baku asam amino (Rismunandar,1999).

Perkataan hormon, yang berarti penggerak atau perangsang, meliputi pengertian setiap jenis hormon pada hakikatnya mempunyai daya membangun, merangsang, menstimulasi bagian-bagian tubuh tertentu, hormon berfungsi pila sebagai unsur dalam metabolisme zat karbohidrat dan lainnya. Hormon adalah sejenis bahan organik, dan dapat pula digolongkan dalam jenis-jenis zat protein (Rismunandar, 1999).

(23)

terlarut. Total serum protein dalam darah sekitar 7,2 - 8 g/dl atau sekitar 7% dari volume darah keseluruhan dengan berbagai kegunaan: Sirkulasi moleku kinin precursor; dan regulasi aktivitas, fungsional non seluler dalam (Wales, 2010).

Menurut Suyono, dkk (1994) plasma mengandung beberapa senyawa kimia, yaitu air, gas, protein, glukosa, lemak, substansi non protein, nitrogen, enzim, hormon, vitamin, dan pigmen. Protein plasma terdiri dari 90 % air dan 10 % zat padat. Bahan padat ini terdiri dari 7 % berbagai macam protein dan 0,9 % bahan organik, selebihnya adalah bahan anorganik bukan protein. Bahan padat organik terdiri dari 7 % protein yang meliputi antibodi, fosfolipid kolesterol glukosa, enzim dan hormon, sedangkan bahan anorganik bukan protein terdiri dari Na, Ca, K, Mg, P, J, Fe, Cu, dan HCO3. Komposisi pada plasma dan serum darah hewan adalah sangat kompleks. Komposisi plasma dan serum darah hewan menjadi 8 bagian, yaitu : air, gas (oksigen, karbondioksida, nitrogen), protein (albumin, globulin, fibrinogen), glukosa, laktosa, piruvat, lipida (lemak, lecitin, kolesterol), substansi nitrogen non protein, substansi anorganik (natrium, potasium, kalsium, magnesium, besi, Cl, sulfat, mangan, kobalt, seng, iodin, dan lain-lain), enzim, hormon, vitamin-vitamin, pigmen, dan lain-lain (Suyono, dkk, 1994).

(24)

hewan akan disaring oleh ginjal. Salah satu filtrat oleh ginjal adalah urin. Urin ternyata merupakan suatu substansi yang mengandung auksin yang merupakan hormon pertumbuhan pada tanaman. Menurut Supriyadi, dan Gatot ( 1985 ) urin mengandung senyawa-senyawa auksin, sitokinin, dan gibberellin, yang merupakan filtrat dari darah oleh ginjal. Urin hewan, terutama sehabis makan makanan yang berasal dari tumbuhan, mengandung zat pengatur tumbuh. Karena urin mengandung hormon pertumbuhan, sedangkan urin itu sendiri merupakan filtrat dari darah oleh ginjal, maka dapat disimpulkan bahwa dalam serum darah hewan juga mengandung hormon pertumbuhan (Supriyadi, dan Gatot, 1985).

Zat-zat selain air yang menyusun komponen 8% dari plasma dalam serum darah dapat dibagi berdasarkan berat molekulnya. Yang berat molekulnya melebihi 50.000 gram/molekul adalah protein, yang merupakan 7/8 dari fraksi plasma (7 gram/100 ml). yang berat molekulnya kurang dari 50.000 meliputi glukosa, lipid, asam amino, hormon, NaCl dan elektrolit lainnya, garam-garam mineral anorganik, produk buangan metabolik, seperti urea, asam urat dan kretinin. Ini semua sebanyak 1/8 bagian plasma (Frandson, 1981).

(25)

dibekukan, protein dalam plasma memiliki konsentrasi sekitar 1 mmol/L dengan bantuan elektroforesis dapat dipisahkan menjadi fraksi albumin serta fraksi globulin. Sekitar 56% protein plasma merupakan fraksi albumin, 4% adalah 1-globulin, 2-globulin sebanyak 10%, 2-globulin 12%, dan 18% dari jumlah protein plasma merupakan globulin yang diperlukan untuk berbagai fungsi biologik dan mempunyai fungsi transpor khusus untuk kelompok 1- globulin yaitu transkobalamin yang mengangkut vitamin B12 dan transkortin yang mengangkut kortisol dan bertanggung jawab untuk transpor besi bervalensi tiga dalam plasma. Sementara itu, globulin merupakan glikoprotein yang pada pemisahan elektroforesis bergerak paling lambat karena peran sertanya pada reaksi imun, maka globulin disebut juga imunoglobin (IgG). Protein plasma juga mempunyai peran yang penting dalam pengaturan distribusi air antara plasma dan ruang interstisial, karena sebagai protein ia tidak dapat melewati dinding kapiler. Dengan demikian, tekanan osmotik koloidnya akan menahan air dalam sirkulasi darah dan peran yang terbesar dilakukan albumin (± 80%) juga mempunyai arti yang besar untuk ikatan protein (Anonim, 2010).

Darah hewan setelah dipisahkan dengan sentriuge terdapat bagian atas merupakan serum berwarna kekunung-kuningan (30-50%), dan bagian bawah merupakan sel darah merah. Komponen serum darah terdiri atas protein, fibrinogen, albumin, alfa-globulin, beta-globulin, gamma-globulin, lemak, gula, asam amino, urea, dan garam (Rahayu, 2002).

(26)

plasma dan limfosit pada saat sel-sel ini dirangsang oleh antigen. Fibrinogen adalah suatu beta-1 globulin yang disintesis di dalam hati. Albumin adalah protein yang melimpah di dalam plasma, yang merupakan protein utama yang dihasilkan oleh hati. Fungsi protein plasma dalam serum darah hewan yaitu pertama sebagai fungsi angkutan yakni banyaknya zat-zat plasma yang tidak larut di dalam air, tetapi apabila terikat dalam protein plasma menjadi terlarut dan karenanya mudah diangkut di dalam plasma, fungsi kedua imunitas yakni fraksi gamma globulin dari protein plasma terkait dengan imunitas dan resistensi terhadap penyakit. Ketiga fungsi sebagai bufer, protein plasma membantu mencegah terjadinya perubahan-perubahan besar dalam pH (derajat keasaman atau kebasaan) darah, dan yang terakhir yaitu fungsi mempertahankan tekanan osmotik, hal ini terjadi karena tekanan osmotik tergantung pada jumlah partikel-partikel yang aktif secara osmotis di dalam larutan, dan bukannya massa dari partikel dan jumlah protein dengan berat molekul rendah sangat banyak dibandingkan dengan jumlah protein dengan berat molekul yang tinggi (Frandson, 1981).

(27)

yang berbeda. Enzim umumnya sangat spesifik, mengkatalis suatu reaksi tunggal atau jenis reaksi tunggal. Hormon memiliki jaringan-jaringan yang berbeda dalam organisme yang sama. Hal itu biasanya tidak terjadi pada enzim. Hormon memainkan peranan kunci dalam mempertahankan kadarnya sendirin melalui umpan balik negatif yang melibatkan hormon-hormon tropik dan faktor-faktor pelepas dari hipotalamus, hal ini tidak terjadi pada enzim (Fried, dan Hademenos, 2009).

Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Rawit

Tanaman cabai rawit mempunyai daya adaptasi luas terhadap lingkungan tumbuh di daerah subtropis dan tropis. Di Indonesia, tanaman cabai rawit dapat dibudidayakan di dataran rendah (0-200 m dpl) sampai dataran tinggi (> 700 m dpl). Tanaman cabai rawit dapat tumbuh optimal pada daerah yang mempunyai kisaran suhu udara antara 180 C-270 C. Tanaman cabai rawit tidak menghendaki kelembapan dan curah hujan yang tinggi serta iklim yang basah, karena pada keadaan tersebut tanaman akan mudah terserang penyakit. Kelembapan udara yang baik bagi pertumbuhan tanaman cabai rawit adalah berkisar antara 50%-80% dengan curah hujan 600 mm- 1.250 mm (Rukmana, 2002).

(28)

Karakteristik Ultisol

Dari semua jenis tanah yang ada di Indonesia, tanah podsolik merah kuning atau Ultisol merupakan yang terluas penyebarannya, kira-kira 30% dari luas daratan Indonesia. Luas penyebaran jenis tanah ini (dari luas masing-masing pulau), Sumatera (43,5%), Kalimantan (29,9%), Sulawesi (10,3%), dan Irian Jaya (23,0%) (Hakim, dkk, 1986).

Tingkat pelapukan dan pembentukan Ultisol berjalan lebih cepat pada daerah-daerah yang beriklim humid dengan suhu tinggi dan curah hujan tinggi (seperti halnya Indonesia). Ini berarti Ultisol merupakan tanah yang telah mengalami pencucian sangat intensif. Hal ini menyebabkan tanah Ultisol mempunyai kejenuhan basa-basa rendah (kurang dari 355 pada standar pH 8,2) dan kadar mineral lapuknya sangat rendah. Karena itu Ultisol ini miskin secara kimia dan secara fisik dengan adanya horison B argilik membatasi pertumbuhan dan penetrasi akar tanaman. Selain itu Ultisol juga mempunyai kendala kemasaman tanah, kejenuhan Al tinggi, kapasitas tukar kation rendah (kurang dari 24 me. Per 100 gram tanah), kandungan nitrogen rendah, kandungan fosfor dan kalium rendah serta sangat peka terhadap erosi (Munir, 1995).

(29)

berjalan sangat lanjut sehingga tanah bereaksi masam dan kejenuhan basa rendah sampai lapisan bawah tanah (Hardjowigeno, 1985).

Tanah Ultisol memiliki ciri reaksi tanah sangat masam (pH 4,1-4,8). Kandungan bahan organik lapisan atas yang tipis (8-12 cm) umumnya rendah sampai sedang. Rasio C/N tergolong rendah (5-10). Kandungan P-potensial yang rendah dan K-potensial yang bervariasi sangat rendah sampai rendah, baik lapisan atas maupun lapisan bawah. Jumlah basa-basa tukar yang rendah, kandungan K-dd hanya berkisar 0-0,1 me/100g tanah di semua lapisan termasuk rendah, dapat disimpulkan potensi kesuburan alami tanah Ultisol sangat rendah sampai rendah (Subagyo, dkk, 2000).

Kandungan hara pada tanah Ultisol umumnya rendah karena pencucian basa

berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena proses

dekomposisi berjalan cepat dan sebagian terbawa erosi. Pada tanah Ultisol yang

mempunyai horizon kandik, kesuburan alaminya hanya bergantung pada bahan

organik di lapisan atas. Dominasi kaolinit pada tanah ini tidak memberi kontribusi

pada kapasitas tukar kation tanah, sehingga kapasitas tukar kation hanya bergantung

pada kandungan bahan organik dan fraksi liat. Oleh karena itu, peningkatan

produktivitas tanah Ultisol dapat dilakukan melalui perbaikan tanah (ameliorasi),

pemupukan, dan pemberian bahan organik (Prasetyo, dan Suriadikarta, 2006).

(30)
(31)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di rumah kasa dan Laboratorium Kesuburan/Kimia Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat 25 meter di atas permukaan laut dimulai pada Juni 2010 s/d September 2010.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan tanah Ultisol, benih cabai rawit, aquades, dan serum darah sapi dan ayam serta bahan – bahan kimia untuk keperluan analisis.

Alat yang digunakan adalah cangkul, Polibag, meteran, sentrifuge, dan timbangan serta alat-alat yang digunakan di laboratorium untuk keperluan analisis.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan faktor perlakuan konsentrasi serum darah sapi dan ayam dengan 6 taraf dan 4 ulangan, sehingga diperoleh jumlah unit percobaan 6 x 4 = 24 unit percobaan.

Perlakuannya adalah :

Blanko = Tanpa pemberian pupuk dasar dan serum darah K0 = Konsentrasi 0 % (kontrol, 100 cc aquades)/ aplikasi

(32)

KS10 = Konsentrasi 10 % (10 cc serum darah sapi + 90 cc aquades)/aplikasi KA5 = Konsentrasi 5 % (5 cc serum darah ayam + 95 cc aquades)/aplikasi KA10 = Konsentrasi 10 % (10 cc serum darah ayam + 90 cc aquades)/aplikasi Model linear Rancangan Acak Kelompok :

Yij = µ + Ti+ βj + Eij Dimana :

Yij = Pengaruh karena perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = Nilai tengah umum

Ti = Pengaruh taraf ke-i dari faktor K

βj = Pengaruh blok atau ulangan

Eij = Pengaruh galat pada taraf ke-i dan ulangan ke-j

Untuk pengujian lebih lanjut terhadap masing-masing perlakuan diuji dengan uji DMRT pada taraf 5 %

Pelaksanaan Penelitian

Persiapan Tanah

(33)

Analisis Awal

Analisis awal yang dilakukan antara lain adalah N-Total (Metode Kjeldhal), P-Tersdia (Bray II), K-dd me/100gr (NH4Oac pH 7), % C-Organik tanah (Walkley & Black), pH H2O (1:2,5), Basa-basa tukar, dan KTK tanah metode NH4Oac pH 7. Pembuatan Serum Darah

Darah segar dari sapi dan ayam diambil dari rumah potong hewan Mabar, selanjutnya darah segar diputar dalam sentrifuge dengan kecepatan 3000 kali/menit selama 30 menit, kemudian diambil bagian atas yang berupa cairan berwarna merah kekuning-kuningan, selanjutnya disimpan dalam lemari pendingin sebelum diaplikasikan pada tanaman.

Pembuatan Konsentrasi Serum

Dibuat berbagai konsentrasi serum darah ternak di mulai dari: K0 = 0 % sebagai kontrol yaitu 100 cc aquades.

KS5 = 5 % yaitu 5 cc serum darah sapi ditambah 95 cc aquades. KS10 = 10 % yaitu 10 cc serum darah sapi ditambah 90 cc aquades. KA5 = 5 % yaitu 5 cc serum darah ayam ditambah 95 cc aquades. KA10 = 10 % yaitu 10 cc serum darah ayam ditambah 90 cc aquades. Pemupukan

(34)

Aplikasi Perlakuan

Sebelum aplikasi, dilakukan penyemaian terlebih dahulu dan baru dipindahkan ke polibag setelah tanaman berumur 3 Minggu dan kemudian polibag tersebut diberi label perlakuan.

Aplikasi perlakuan dilakukan dengan menyiramkan serum darah sapi dan ayam sesuai perlakuan diberikan seminggu sekali untuk masing-masing perlakuan, selama 1 bulan.

Pemeliharaan

Dilakukan penyiraman setiap hari sampai kapasitas lapang, dan penyemprotan pestisida sesuai kebutuhan.

Pemanenan

Setelah masa akhir vegetatif tanaman berumur ±12 Minggu tanaman dipanen dan dikering ovenkan selanjutnya ditimbang bobot kering tanaman.

Peubah Amatan yang Diamati

Analisis Akhir

- N-Total (Metode Kjeldhal) - P-Tersedia tanah (Bray II) - K-dd me/100gr (NH4Oac pH 7), - C-Organik tanah (Walkley & Black) Tanaman

(35)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil analisis sidik ragam pada lampiran 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 menunjukkan adanya pengaruh pemberian serum darah sapi dan ayam terhadap meningkatnya kadar hara tanah Utisol. Hal ini terlihat dengan adanya perbedaan yang nyata pada beberapa parameter tanah meliputi N-total tanah, P-tesedia tanah, serta parameter tanaman yang meliputi bobot kering tanaman, sedangkan K-dapat tukar (K-dd) dan C-organik tanah tidak berpengaruh nyata.

1. N-Total Tanah, P-Tersedia Tanah, K-Dapat Tukar, C-Organik Tanah

Pengaruh pemberian serum darah sapi dan ayam pada tanah Ultisol tersebut terhadap N-total tanah, P-tersedia tanah, K-dapat tukar, C-organik tanah disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan Nilai N-Total Tanah, P-Tersedia Tanah, K-Dapat Tukar (K-dd), C-Organik Tanah oleh Pengaruh Pemberian Serum Darah Sapi dan Ayam

Konsentrasi Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5%

(36)

Dari Tabel 1 dan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 2) diperoleh bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh sangat nyata terhadap nitrogen total tanah. Berdasarkan kriteria BPT (2005) nitrogen total tanah Ultisol tersebut masih tergolong sangat rendah sampai rendah, dengan nilai nitrogen total tanah berkisar 0,05 – 0,10%. Pemberian serum darah sapi 10% memiliki nilai N-total tanah yang berbeda sangat nyata terhadap perlakuan blanko, kontrol, dan serum darah ayam 5%, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan serum darah sapi 5% dan serum darah ayam 10%. Sedangkan N-total tanah terendah terdapat pada perlakuan blanko yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol dan pemberian serum darah ayam 5%.

Dari Tabel 1 dan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 4) diperoleh bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh nyata terhadap P-tersedia tanah. Berdasarkan kriteria BPT (2005) P-tersedia tanah Ultisol tersebut masih tergolong sangat rendah sampai rendah, dengan nilai P-tersedia tanah berkisar 6,33 – 10,13 ppm. Pemberian serum darah ayam 5% memiliki nilai P-tersedia tanah yang berbeda nyata terhadap perlakuan blanko dan serum darah sapi 5%, tetapi tidak berbeda nyata dengan kontrol, perlakuan serum darah ayam 10% dan serum darah sapi 10%. Sedangkan P-tersedia tanah terendah terdapat pada perlakuan serum darah sapi yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan blanko, kontrol dan pemberian serum darah ayam 10%.

(37)

Ultisol tersebut tergolong sangat rendah, dengan nilai K-dapat tukar tanah berkisar 0,47 – 0,73 me/100. Perlakuan tertinggi pemberian serum darah sapi 10% dan serum darah ayam 5% sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan kontrol.

Dari Tabel 1 dan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 8) memperlihatkan bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam tidak berpengaruh nyata terhadap C-organik tanah. Berdasarkan kriteria BPT (2005) nilai C-organik tanah Ultisol tersebut tergolong sangat rendah, dengan nilai C-organik tanah berkisar 0,31 – 0,66 %. Perlakuan tertinggi pemberian serum darah sapi 10% sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan blanko.

2. Berat Kering Tanaman

Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 10) menunjukkan bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh nyata terhadap bobot kering tanaman seperti terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan Nilai Bobot Kering Tanaman oleh Pengaruh Pemberian Serum Darah Sapi dan Ayam

(38)
(39)

Pembahasan

Dari hasil penelitian pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh sangat nyata meningkatkan N-total tanah (dari rataan 0,06% menjadi rataan 0,09%) akan tetapi berdasarkan kriteria BPT (2005) nitrogen total tanah Ultisol tersebut masih tergolong sangat rendah sampai rendah, dengan nilai nitrogen total tanah berkisar 0,05 – 0,10%. Bahan organik yang diberikan kedalam tanah dalam bentuk serum darah hewan meningkatkan ketersediaan nitrogen dalam larutan tanah, karena nitrogen di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh bentuk dan sifat bahan organik tersebut dalam mendekomposisikannya. Sesuai dengan Rahayu (2002) yang menyatakan pada serum juga terdapat bermacam-macam protein dan mineral yang merupakan sumber unsur hara makro dan mikro untuk tanaman. Kandungan protein atau mineral di dalam serum darah dari berbagai hewan ini berlainan baik kualitas dan kuantitasnya.

(40)

oleh logam-logam tersebut dapat terlepas dan tersedia dalam tanah. Sesuai dengan pernyataan Ganong (2003) yang menyatakan Plasma adalah bagian dari darah, merupakan suatu larutan yang luar biasa mengandung banyak sekali ion, molekul anorganik dan molekul organik. Abun (2007) yang menyatakan darah sebagai jaringan pengangkut terbesar, kadang-kadang digunakan pada sejumlah eksperimen. Ketentuannya, Ca dan P anorganik ditentukan dalam serum darah; Mg, Na, dan unsur mikro ditentukan dalam darah keseluruhan maupun serumnya.

(41)

serum darah sapi dan ayam (mg/100gr) masing-masing 0,0098 dan 0,0145 (Dukes dalam Rahayu, 2002).

(42)

Dari Tabel 2 memperlihatkan bahwa pemberian serum darah sapi dan ayam berpengaruh nyata terhadap bobot kering tanaman (dari rataan 0,13 gr menjadi rataan 0,85 gr). Dengan bobot kering tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan serum darah ayam 5% yang berbeda nyata dengan perlakuan blanko, kontrol dan serum darah sapi 5%. Sedangkan bobot kering tanaman terendah terdapat pada perlakuan blanko yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, serum darah sapi 5% dan 10%. Pemberian serum darah hewan nyata mempengaruhi bobot kering tanaman menunjukkan serum darah hewan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan unsur hara tertentu meskipun kriterianya masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan pada serum juga terdapat bermacam-macam protein dan mineral yang merupakan sumber unsur hara makro dan mikro untuk tanaman (Rahayu, 2002) dan di dalam serum darah hewan juga mengandung hormon auksin untuk meningkatkan

(43)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pemberian serum darah sapi 10% meningkatkan N-total dan P-tersedia tanah Ultisol.

2. Pemberian serum darah sapi dan ayam 5% dan 10% tidak nyata meningkatkan K-dapat tukar (K-dd) dan C-organik tanah Ultisol.

3. Pemberian serum darah ayam 5% meningkatkan P-tersedia tanah dan bobot kering tanaman.

4. Pemberian serum darah ayam 5% lebih baik dibandingkan dengan serum darah sapi 5%.

Saran

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2009. Teknologinya Tepat Guna, Kotoran Ternak Jadi Energi. Pos Metro, Kendari. Tgl 18-04-2009 hal 1.

_______., 2010. Info Fisioterapi Desember 2010.

Abun., 2007. Metode Pengaturan Kecukupan Mineral dan Metabolismenya Dalam Tubuh Ternak, Universitas Padjadjaran, Bandung.

Frandson, R. D., 1981. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Penerjemah B. Srigandono dan Sudarsono. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Fried, G. H., dan Hademenos, G. J., 2009. Biologi. Penerbit Erlangga, Jakarta. Ganong, W. F., 2003. Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta.

Guyton, AC. MD., 1997. Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta.

Hakim, N., M. Y. Nyakpa., A.M. Lubis., S. G. Nugroho., A. M. Diha., G. B. Hong, dan H. H. Bailey., 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung, Lampung.

Hardjowigeno, S., 1985. Genesis dan Klasifiksi Tanah. Penerbit Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Madjid, A. R., 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang.

Marshall, F. H. and E. T. Halnan., 1948, Physiology of Farm Animal. Cambridge at The University Press, New York.

Munir, M., 1995. Tanah-Tanah Utama Indonesia. Pustaka Jaya, Jakarta.

(45)

Rahayu. E., 2002. Pemanfaatan Serum Darah Hewan di Bidang Pertanian Sebagai Alternatif Penanganan Limbah Rumah Potong Hewan (RPH). Institut Pertanian Yogyakarta, Yogyakarta.

Rismunandar., 1999. Hormon Tanaman dan Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta. Rukmana, R. H., 2002. Usaha Tani Cabai Rawit. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Setiadi., 2004. Bertanam Cabai. Penebar Swadaya, Jakarta.

Supriyadi dan Gatot, 1985, Analisa Kualitatif IAA, Kinetin, Gibberellin pada Urine Babi, Kambing, Sapi. BPP, Jember.

Suyono, E. A., Wardhana, S. T., dan Surono, A., 1994

.

Pemanfaatan Serum Darah Hewan Sebagai Media Dasar Alternatif Kultur Jaringan Anggrek. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Subagyo, H., S. Nata., dan A. B. Siswanto., 2000. Tanah-Tanah Pertanian di Indonesia dalam Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Bogor.

Toelihere, M. R., 1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Angkasa Bandung, Bandung.

(46)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Analisis Awal Tanah Sebelum Perlakuan*

No. Keterangan Parameter Hasil Analisis Keterangan**

1 pH H2O 4,47 Sangat Masam

2 K-dd (me/100 g) 0,338 Sangat Rendah 3 Na-dd (me/100 g) 0,270 Sangat Rendah 4 Ca-dd (me/100 g) 0,339 Sangat Rendah

5 Mg-dd (me/100 g) 0,438 Rendah

6 KTK (me/100 g) 10,5 Rendah

7 C-Organik (%) 0,585 Sangat Rendah

8 N-Total (%) 0,06 Sangat Rendah

9 P-Tersedia Tanah (ppm) 6,33 Sangat Rendah * Dianalisis di Laboratorium Kimia Kesuburan Tanah dan di Laboratorium Riset dan

(47)

Data Analisis Setelah Pemberian Serum Darah Sapi dan Ayam Lampiran 2. Tabel analisis N-Total Tanah

Perlakuan

BLOK

total rataan

I II III IV

---%---

BLANKO 0,05 0,06 0,06 0,05 0,22 0,06

KO 0,07 0,06 0,07 0,06 0,26 0,07

KA5 0,06 0,08 0,07 0,07 0,28 0,07

KA10 0,08 0,07 0,08 0,08 0,31 0,08

KS5 0,08 0,08 0,07 0,07 0,30 0,08

KS10 0,08 0,10 0,09 0,10 0,37 0,09

Total 0,42 0,45 0,44 0,43 1,74 0,44

Lampiran 3. Tabel sidik ragam N-Total Tanah

SK Db JK KT Fhit F 5 % F 1 %

Blok 3 0,000083 0,0000278 0,543478tn 3,29 5,42

Perlakuan 5 0,0032 0,00064 12,52174** 2,90 4,56

Galat 15 0,000767 0,0000511

Total 23 0,004050 0,000176

(48)

Lampiran 4. Tabel analisis P-Tersedia Tanah

Perlakuan

BLOK

total rataan

I II III IV

---ppm---

BLANKO 6,33 7,82 7,16 7,82 29,13 7,28

KO 7,16 5,67 10,13 9,47 32,43 8,11

KA5 8,65 9,47 10,13 10,13 38,38 9,60

KA10 9,47 7,82 7,16 9,47 33,92 8,48

KS5 6,33 7,16 6,33 6,33 26,15 6,54

KS10 10,13 8,65 9,47 7,82 36,07 9,02

Total 48,07 46,59 50,38 51,04 196,08 49,02

Lampiran 5. Tabel sidik ragam P-Tersedia Tanah

SK db JK KT Fhit F 5 % F 1 %

Blok 3 2,1229 0,707633 0,498083tn 3,29 5,42

Perlakuan 5 25,2064 5,04128 3,548415* 2,90 4,56

Galat 15 21,310700 1,420713

Total 23 48,640000 2,114783

(49)

Lampiran 6. Tabel analisis K-dd Tanah

Perlakuan

BLOK

total rataan

I II III IV

---me/100g---

BLANKO 0,622308 0,470821 0,592615 0,551385 2,24 0,56

KO 0,471795 0,584359 0,660821 0,483128 2,20 0,55

KA5 0,550718 0,616359 0,710513 0,613179 2,49 0,62

KA10 0,567333 0,496256 0,62841 0,568308 2,26 0,57

KS5 0,537026 0,591282 0,512615 0,585641 2,23 0,56

KS10 0,644615 0,530154 0,73441 0,584103 2,49 0,62

Total 3,39 3,29 3,84 3,39 13,91 3,48

Lampiran 7. Tabel sidik ragam K-dd Tanah

SK Db JK KT Fhit F 5 % F 1 %

Blok 3 0,030305 0,010102 2,7117tn 3,29 5,42

Perlakuan 5 0,023175 0,004635 1,244245tn 2,90 4,56

Galat 15 0,055878 0,003725

Total 23 0,109359 0,004755

(50)

Lampiran 8. Tabel analisis C-Organik Tanah

Perlakuan

BLOK

total rataan

I II III IV

---%---

BLANKO 0,546 0,312 0,312 0,117 1,29 0,32

KO 0,507 0,234 0,390 0,390 1,52 0,38

KA5 0,234 0,625 0,468 0,468 1,80 0,45

KA10 0,390 0,429 0,390 0,468 1,68 0,42

KS5 0,624 0,351 0,429 0,507 1,91 0,48

KS10 0,585 0,663 0,507 0,429 2,18 0,55

Total 2,89 2,61 2,50 2,38 10,38 2,59

Lampiran 9. Tabel sidik ragam C-Organik Tanah

SK Db JK KT Fhit F 5 % F 1 %

Blok 3 0,023582125 0,00786071 0,4540689tn 3,29 5,42

Perlakuan 5 0,121459208 0,02429184 1,40320303tn 2,90 4,56

Galat 15 0,259676 0,01731171

Total 23 0,404717 0,01759639

(51)

Lampiran 10. Tabel analisis Bobot Kering Tanaman

Perlakuan

BLOK

total rataan

I II III IV

---gr---

BLANKO 0,1 0,2 0,1 0,1 0,50 0,13

KO 0,2 0,1 0,1 0,2 0,60 0,15

KA5 0,8 0,7 0,4 1,5 3,40 0,85

KA10 0,4 0,6 0,6 1,5 3,10 0,78

KS5 0,3 0,2 0,1 0,6 1,20 0,30

KS10 0,4 0,2 1,3 0,6 2,50 0,63

Total 2,20 2,00 2,60 4,50 11,30 2,83

Lampiran 11. Tabel sidik ragam Bobot Kering Tanaman

SK Db JK KT Fhit F 5 % F 1 %

Blok 3 0,654583 0,218194 2,08743tn 3,29 5,42

Perlakuan 5 2,047083 0,409417 3,916822* 2,90 4,56

Galat 15 1,567917 0,104528

Total 23 4,269583 0,185634

(52)

Lampiran 12. Kriteria Sifat Kimia Tanah

(53)

Blanko I Blanko II Blanko III Blanko IV

KO I KO II KO III KO IV

KA 5 I KA 5 II KA 5 III KA5 IV

(54)

KS 5 I KS 5 II KS 5 III KS 5 IV

KS 10 I KS 10 II KS 10 III KS 10 IV

Lampiran 13. Foto-Foto Tanaman

Gambar

Tabel 1. Rataan Nilai N-Total Tanah, P-Tersedia Tanah, K-Dapat Tukar (K-dd),         C-Organik Tanah oleh Pengaruh Pemberian Serum Darah Sapi dan Ayam Parameter
Tabel 2. Rataan Nilai Bobot Kering Tanaman oleh Pengaruh Pemberian Serum Darah Sapi dan Ayam Parameter

Referensi

Dokumen terkait

JUDUL TESIS KETERSEDIAAN DAN SERAPAN HARA N PADA TANAMAN KEDELAI DAN JAGUNG AKIBAT PEMBERIAN PUPUK BIOLOGI NDAN BAHAN ORGANIK PADA TANAH ULTISOL.. NAMA

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kotoran sapi dan pupuk KCl secara nyata meningkatkan, C-organik tanah, K-dd (K tukar) tanah, tinggi tanaman, bobot kering akar, dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kotoran sapi dan pupuk KCl secara nyata meningkatkan, C-organik tanah, K- dd (K tukar) tanah, tinggi tanaman, bobot kering akar,

partikel density berbanding lurus dengan bulk density , namun apabila tanah memiliki tingkat kadar air yang tinggi maka partikel density dan bulk density akan

Sutedjo dan Masriah (2007) menyatakan penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan kandungan unsur hara serta memperbaiki struktur tanah karena dapat merangsang

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Menguji efektivitas pupuk Organonitrofos maupun kombinasinya dengan pupuk kimia secara agronomis (RAE) dan ekonomis pada tanaman

Sutedjo dan Masriah (2007) menyatakan penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan kan- dungan unsur hara serta memperbaiki struktur tanah karena dapat me- rangsang

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KANDANG SAPI DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KACANG TANAH Arachis hypogaea L PADA TANAH ULTISOL SIMALINGKAR SKRIPSI Sebagai